
Arya Avalokitesvara
Menggambar THAN-KHA
Kemudian sang Bhagavan menjelaskan Ritual pembangkitan demi manfaat keuntungan dan kebahagiaan dari dewa Indra dan dunia bersama dengan para dewanya.
Orang harus sepatutnya menggambar
Bhagavantam Sarvavidam di kain. Di kanan-Nya orang harus menggambar
Sarva-durgati-parisodhana-raja Tathagata; Di kiri
Sakyamuni; Dibawah Sarva-durgati-parisodhana-raja Tathagata (orang menggambar)
Arya Avalokitesvara, tubuh-Nya memiliki warna dari matahari dan bulan, dan memegang bunga teratai di tangan-Nya; Dibawah Sakyamuni orang menggambar (orang menggambar)
Vajrapani dan diantara Mereka
Bhaisajyaraja, berwarna biru, sedang memegang 'buah mirobalan (haritakiphalam)' di satu tangan dan membuat 'sikap memberi (varada)' dengan tangan lainnya.
Hayagriva dan
Trailokyavijaya, ganas dan siap menyerang (dustadamanatatparau), digambarkan menghadap masing-masing kedewataan Mereka (svadevatabhimukhau likhet); Diantara mereka adalah
Locana, Mamaki, Pandaravasini dan
Tara, sedang memegang dalam tangan Mereka simbol-simbol Mereka yang sesuai. Lebih lanjut dibawah, orang menggambar kolam yang terisi dengan sangat banyak tumbuhan air bersama dengan hewan air (makara), ikan (matsya), kodok putih (sveta manduka) dan sejenisnya. Orang juga menggambar bunga-bunga, buah-buahan, makanan untuk para dewata itu, karangan bunga, wewangian, lampu dan dupa. Dibawah itu, orang harus menggambar pemuja duduk dan membungkuk dengan tangan-nya diangkat keatas dalam sikap Anjali.
Kemudian orang mulai 'memberdayakan (adhisthana)' Lukisan itu sehingga itu menjadi nyata. Setelah melaksanakan ritual dari pembukaan mata, dia harus menyembahnya. Jika dia melihat tanda, dia berhasil dengan cepat. Jika dia tidak melihatnya, dia berhasil secara bertahap. Saat mendengar suara tertawa, gendang atau lonceng, dan saat melihat Bhiksu, Brahmana atau 'perempuan dengan buah-buahan (kanya ca phalani)', dia berhasil dengan cepat dalam pencapaian Siddhi yang lebih tinggi, yang menengah, atau yang lebih rendah.
Dia mensucikan Lukisan itu dengan Mantra dan Mudra. Duduk di depan itu, dia harus menyembah sesuai dengan keadaan. Dia melaksanakan ritual itu untuk perlindungannya dan seterusnya dengan cara dari Trailokyavijaya. Dia merenungkan sifat alami sejatinya, melaksanakan pembacaan tiga ratus ribu kali atau enam ratus ribu kali, hingga tanda dari pencapaian terjadi. Lalu di dalam tempat yang sunyi, dia membaca seratus delapan kali Mantra dari seluruh kumpulan itu. Pada akhir dari pembacaan itu dia membayangkan dalam pikiran Mandala itu seperti sebelumnya. Dia mempersembahkan banyak sekali penyembahan dan melaksanakan pembacaan itu selama satu malam. Jika dia melihat Bhagavan atau Bodhisattva atau Dewa, sejauh dia layaknya, dia harus meminta kesempurnaan Siddhi tertinggi yang dia cita-citakan. Para Dewata itu, menjadi selalu gembira, akan menganugerahkan kepada dia buah Siddhi yang sempurna. Membungkukkan diri, dia harus menerima anugerahnya dan sisanya. Dia mempersembahkan persembahan yang sesuai kepada Guru-nya dan kepada Tiga Permata (gururatnatrayasvabhagam datva). Dia harus selalu melakukan ini. Dalam ketidakhadiran mereka, orang yang bijaksana itu harus mengambilnya dan menikmatinya sendiri. Bertindak demi manfaat keuntungan semua makhluk hidup, dia tinggal berdiam di seluruh banyak kalpa.
Dalam kasus dia tidak memperoleh kesempurnaan Siddhi, dia (masih) bisa melaksanakan semua ritual. Dengan hanya perintah ucapan, para Yaksa, Naksatra, Graha, dan sisanya melaksanakan seperti pelayan semua ritual, ritual untuk menentramkan dan yang lainnya.

Bhagavan Sarva Vidya Vairocana Tathagata
Ritual Yang Berbeda Untuk Yang Meninggal Dunia
Kemudian Dewa Indra menyapa sang Bhagavantam : "Bhagavan, bagaimana harusnya orang mulai melenyapkan kesedihan dari neraka dan sebagainya dari para makhluk hidup yang melakukan dosa pelanggaran dan yang berada di dalam kekuasaan neraka dan keadaan lainnya yang seperti itu?"
Sang Bhagavan berkata : "Dewa Indra, tiada kesulitan dalam membebaskan dari kesedihan neraka dan tempat-tempat yang seperti itu para makhluk hidup itu yang melakukan dosa pelanggaran besar dan yang berada di dalam kekuasaan neraka. Dengarlah ! Gambar Mandala itu dalam urutan yang benar, orang harus menyucikannya seperti sebelumnya dengan 'vas (kalasa)' yang diberkati seratus delapan kali. Dengan semua dosa kesalahan mereka termurnikan, mereka secara cepat terbebas dari kesedihan neraka dan sebagainya. Para makhluk besar itu menjadi terbebaskan dari dosa kesalahan mereka, dilahirkan di alam dewa Suddhavasa dan selalu mendapatkan jalan masuk ke 'Pengumuman dari ajaran Buddha (Buddhadharmasamgitim)'. Mereka terdirikan di dalam keadaan yang tanpa kemunduran (avaivartikabhumipratisthita) dan memperoleh pencerahan Bodhi pada waktunya."
Mantrin yang bergembira dalam bertindak demi memberi manfaat keuntungan kepada orang lain, menggambar dengan kunyit berwarna kuning jingga 'gambar mereka' atau 'nama mereka'. Berbelas kasih, dia harus menyucikannya agar untuk membebaskan para makhluk hidup itu dari ketakutan besar pada tiga takdir jahat. Selanjutnya sang Yogin harus menyucikannya dengan cara dari Mantra dan Mudra. Menghasilkan gambar rupa dewata yang mereka pilih, dia harus menempatkannya di dalam Caitya. Atau menulis di hati (dari gambar mereka) Hrdaya dari dewata mereka sendiri atau yang lainnya, dan memikirkan mereka sama sebanding dengan dewata itu, dia harus menempatkannya di dalam rumah.
Memanggil nama (dari yang meninggal dunia itu) itu dan menulis Mantra itu dengan kunyit berwarna kuning jingga, dia harus melaksanakan ritual Caitya hingga seratus ribu kali. Agar untuk menentramkan dosa pelanggaran dari pendosa besar, dia harus melakukannya sepuluh juta kali. Dengan perbuatan ini, mereka pasti terbebas dari neraka. Demikian juga dalam cara yang sama mereka terbebas dari keadaan binatang dan dilahirkan diantara perkumpulan para dewa.
Memanggil nama itu, dia harus membaca Mantra itu seperti yang dijelaskan seribu kali. Kadang-kadang dia akan harus membacanya sebanyak seratus ribu kali atau bahkan sepuluh juta kali. Mereka dilahirkan diantara perkumpulan para dewa.
Memanggil nama itu, orang yang menguntungkan itu harus mempersembahkan ritual HOMA sepuluh ribu kali atau sebanyak seratus ribu kali. Mereka dibebaskan dari kemalangan Maha Naraka.
Hingga ada tanda dalam Api yang sekarang, selama itu dia harus mempersembahkan pengorbanan HOMA sesuai dengan ritual itu, menggunakan wijen, benih sesawi putih dan butiran gandum bersama dengan susu kambing dan kayu bakar yang wangi. Mereka pasti dilahirkan di dalam perkumpulan para dewa dan memperlihatkan tanda dengan sesuai. Kapan pun mereka demikian dilahirkan sebagai dewa tertinggi, dia melihat di tengah pusat dari tanda-tanda hati seperti ini : Api putih yang berputar mengelilingi dari arah kanan, Api murni yang naik keatas, terus-menerus, tetap kukuh dan terang seperti kilatan petir, atau dia akan melihat dewata api sendiri (Agni), murni seperti bulan dengan wajahnya yang bersinar putih. Saat melihat tanda-tanda ini, dia harus tahu bahwa mereka telah dibebaskan dari neraka dan keadaan yang tidak menyenangkan lainnya, bahwa dosa kesalahan mereka telah dilenyapkan, dan bahwa mereka telah dilahirkan di surga.
Sesuai dengan ritual itu, dia harus menggali tungku perapian berukuran empat hasta. Di tengah pusat dia harus menggambar lingkaran dengan pinggiran dikelilingi oleh Vajra. Dia harus menggambar dalam urutan yang benar Mudra dari Lima Keluarga (pancakulamudrah) di dalam tempat Mereka yang tepat, dan yang milik para Bodhisattva, para pelindung dunia (lokadhipan) dan sisanya. Dia harus menempatkan di dalamnya vas-vas dan wadah-wadah yang terisi dengan persembahan, delapan atau enam belas jumlahnya, makanan dan minuman untuk para dewata itu, kalung karangan dari bunga dan benda-benda lainnya yang sama. Dia harus menghiasinya dengan kanopi, bendera kemenangan, untaian sutera, payung-payung dari kualitas yang unggul, dan perhiasan-perhiasan yang lainnya. Dia harus melaksanakan pengorbanan HOMA secara benar di dalam tungku perapian HOMA yang unggul ini. Setelah menggambar (simbol-simbol mereka), orang yang mengetahui ritual ini memanggil perkumpulan dewa, dan yang mengetahui Mantra itu, dia harus menyajikan persembahan itu dengan Mudra dan Mantra. Singkatnya, setelah menyembah dan setelah melaksanakan penyucian dengan cari dari yoga dewata, dia harus meletakkan di dalam tungku perapian itu : wewangian kapur barus (karpura), candana, kunyit (kumkuma), mentega dan susu yang dicampur dengan wijen, wijen dan benih sesawi dicampur bersama-sama, air wangi, banyak beras dan padi yang dipanggang, madu dan gula, kayu persembahan yang diberkati banyak ratusan kali, dan kayu bakar yang telah di sucikan dengan Mantra mereka.
Dalam kasus dari mayat, dia mengucapkan Mantra itu, memandikannya dengan air yang murni, mengolesinya dengan minyak wangi yang tersucikan, menutupnya dengan kain dan perhiasan, dan menghormatinya dengan kalung karangan dari bunga dan seterusnya. Setelah menulis Mantra itu, dia memasangnya ke mahkota dari kepala dan di bahu. Dengan cara dari Sarvavidya dia menyucikannya di hati, di tenggorokan dan mulut. Selanjutnya dia menggunakan huruf-huruf Mantra yang menguntungkan di dahi, diantara mata, di telinga, di mahkota dari kepala, di bahu, hidung, pangkal paha, lutut, kaki, pergelangan kaki, kelamin dan tempat-tempat lainnya. Agar untuk melenyapkan kelahiran kembali yang malang, dia harus menempatkannya di tikar di dalam tengah pusat dari tungku perapian itu. Kemudian sang Mantrin harus menutupnya dengan kain yang diberkati dengan Mantra. Menyalakan sang pemakan persembahan (api) dan memanggil Agni yang tubuhnya menyala berkobar dengan ribuan lidah api dan yang mirip seperti bulan putih, hening-tenang dan tanpa batas, dia harus mengatur persembahan-persembahan itu.
Kemudian dia yang bijaksana harus menempatkan di depan dia gambar rupa itu dan benda-benda yang lainnya. Memanggil kumpulan Tathagata, dia mengatur persembahan itu dan sebagainya, dan melaksanakan penyembahan seperti yang telah dijelaskan.
Setelah menyediakan benda-benda persembahan dan setelah mengaturnya untuk pembakaran, dia harus membagikannya seratus delapan kali kepada para Jina dan yang lainnya. Kemudian dia harus mengatur persembahan yang dibakar untuk
Sodhana Mantra Raja (Raja Mantra Yang Memurnikan) dua puluh satu kali.
Kemudian setelah memanggil Dia yang berwajah putih (Agni), dia harus menyembahnya dengan pelaksanaan itu atau dengan penyajian tiga kali lipat dari persembahan itu.
Dia harus membayangkan atau menggambar
Vajrapani, berbentuk
Trailokyavijaya, sedang memegang bunga teratai dan tali jerat, sedang menekan dengan kaki bunga teratai-Nya di atas pendosa itu (mayat itu), terhiasi dengan semua perhiasan dan sedang memakai mahkota dari Buddha yang sempurna (sambuddhakiritinam). Dengan menggunakan Hrdaya-Nya dia harus mempersembahkan pergorbanan HOMA seratus ribu kali atau sebanyak sepuluh juta kali. Saat tanda muncul, dia harus mengetahui bahwa aliran arus yang tanpa gangguan dari dosa kesalahan telah dilenyapkan.
Dia harus mengumpulkan bersama-sama abu itu sesuai dengan ritual itu dengan membaca Mantra dari perkumpulan Vajra ini. Dia membuat menjadi gumpalan abu-abu itu dan butiran-butiran dari tulang bersama dengan air wangi dan lima hasil dari sapi, memberkatinya sratus ribu kali dengan Mantra pemurnian. Mencampurnya dengan wewangian kapur barus (karpura), wewangian (gandha) dan tanah liat (mrdbhir), dia harus membuat 'gambar (pratima)' atau Caitya.
Setelah menyucikannya sekali, dua kali, tiga kali, empat atau lima kali, atau sebanyak seratus delapan kali dengan menerapkan Mantra dan Mudra, dia harus melaksanakan pembacaan dua ratus ribu kali. Kemudian Caitya itu menyala dengan terang atau gambar pratima itu tersenyum atau wewangian dan dupa tercium atau cahaya bersinar atau kelompok-kelompok yang berbeda dari para dewa menampakkan diri mereka sendiri atau peristiwa magis terjadi; Bunga-bunga berhujanan turun dan suara dari kulit keong, seruling, gendang, vina, dan alat musik lainnya terdengar.
Jika dia tidak melihat tanda-tanda surga itu dikarenakan oleh jumlah besar dari dosa pelanggaran (dari mayat itu), dia harus mengejar pembacaan itu seratus ribu kali atau delapan ratus ribu kali, dan hingga tanda muncul, dia harus menyembah para Tathagata, membaca dengan perhatian. Akhirnya dia yang mengetahui ritual itu harus melaksanakan pembacaan selama satu malam. Kemudian dia pasti melihat mereka terbebas dari dosa pelanggaran dan dia tahu bahwa rangkaian kehidupan mereka telah mengambil bentuk rupa dari dewa. Saat melihat tanda-tanda itu, dia harus melaksanakan semua ritual itu tanpa keragu-raguan, dengan penuh kebajikan dan belas kasih.
Jika masih itu tidak terjadi, dia harus melanjutkan dengan cara dari pembacaan dan meditasi. Dia menulis nama (dari mayat itu) dan membuat rangkaian dari Caitya atau dia membuat 'gambaran rupa (Pratima)'. Dia melaksanakan penyucian itu dan mempersembahkan pengorbanan HOMA. Orang pasti dilahirkan di surga.
Memanggil nama dan membaca Mantra-Mantra itu, dia menyucikan abu itu, benih sesawi putih, tanah dan benda-benda lainnya, yang dia lempar kedalam sungai yang mengalir ke lautan.
Ketika ini selesai, bahkan para pendosa yang paling jahat terbebas dari takdir-takdir jahat yang malang; Apalagi pelenyapan takdir jahat dalam kasus dari orang yang memiliki jasa kebajikan di dunia ini, yang memperoleh benih-benih dari kebajikan-kebajikan yang unggul, yang diberkati dengan buah dari keadaan Buddha, dan yang didorong oleh keinginan hati dari kesempurnaan memberi (dana), moralitas (sila), kesabaran kendali diri (ksanti), semangat (virya), penyerapan (dhyana) dan kebijaksanaan (prajna) - Tiada keraguan tentang itu.
Telah dikatakan oleh para Sugata Jina bahwa dalam ketiadaan dari 'Kebijaksanaan (Prajna)' dan 'Cara Bijaksana (Upaya)' tidak ada pembebasan untuk para pendosa besar yang tidak menghasilkan akar-akar kebajikan, yang menggenggam pandangan ketiadaan, yang berpaling dari 'Jalan Kebangkitan (Bodhi marga)', yang menghina Ajaran itu, yang melakukan hal-hal yang membahayakan, yang tidak mengetahui sifat alami dari dosa/kesalahan, yang tidak mencintai orang tua mereka, yang membunuh mereka yang berbelas kasih dan yang berniat pada Pencerahan Bodhi, dan yang menggenggam pandangan ketiadaan sehubungan dengan para dewata, Buddha, Dharma, Sangha, Mantra, Mudra dan sisanya.
Kemudian Sakra dan para dewa lainnya, mata mereka terbuka lebar seperti bunga teratai, merasa riang-gembira dengan berkata 'Sadhu'. Setelah bersukacita mereka menyembah (sang Tathagata). Sakra mulai bertindak demi manfaat keuntungan orang lain (menyelesaikan ritual ini) sesuai dengan kata-kata (sang Tathagata) itu dan memperoleh dengan sesuai buah-buah mereka.
Kumpulan Dari Dewata Yang Ada Di Mandala Sarva Durgati Parisodhana
Nilakantha digambar di arah timur laut. Dia dipakaikan dengan ular, duduk di atas gajah, berwarna putih dan memiliki empat lengan. Dia memegang Vajra tiga ujung di tangan kanan pertamanya dan dengan tangan kanan kedua dia membuat sikap dari memberi (varada). Di tangan kiri pertamanya dia memegang trisula dan di tangan kiri kedua sebuah pedang.
OM PASUPATI NILAKANTHA UMAPRIYA SVAHA (OM Raja Binatang Buas, Yang Berleher Biru, Yang Mencintai Uma SVAHA)
Mengenai Mudra-nya, dia menggenggam kepalan tinju tangan kirinya dengan tangan kanannya; Menekan jari kelingking dengan jari jempol dan membuat tanda dari Vajra dengan sisa dari jari-jarinya, dia harus menekan sedikit jari telunjuk dan jari manis seolah-olah melambangkan Vajra. Ini adalah Mudra dari Pasupati.
Visnu duduk di atas garuda. Dia berwarna hitam dan memiliki empat tangan. Di tangan kanannya dia memegang Vajra dan tongkat Gada. Di tangan kirinya dia memegang 'kulit keong (samkha)' dan 'roda (cakra)'.
Vajrahema berwarna emas. Kendaraan dan Peralatannya adalah sama seperti punya Visnu.
Vajraghanta duduk diatas burung merak. Dia berwarna merah dan memiliki enam lengan. Di tangan kanan dia memegang Vajra dan Sakti, dan di tangan kiri 'ayam (kukkuta)' dan 'lonceng Vajra (ganthavajra)'
Vajrakaumari adalah sama seperti Vajraghanta.
Maunavajra (Brahma) duduk di atas angsa. Dia berwarna keemasan dan memiliki empat wajah. Dia memegang Vajra dan 'Japamala (Aksasutra = untaian kalung biji yang dipakai Bhiksu)' di tangan kanannya, tongkat danda dan 'kendi (kamandalu)' di tangan kirinya.
Vajrasanti adalah sama seperti Brahma.
Vajrayudha duduk diatas gajah putih dan berwarna kekuning-kuningan. Dia memegang 'Vajra menyilang (visvavajra)' di tangan kiri dan 'Vajra yang melampaui (lokottaravajra)' di tangan kanan.
Vajramusti adalah sama seperti Vajrayudha.
Vajrakundali, sang 'penuh murka (Krodha)' duduk diatas kereta tempur. Dia berwarna merah dan memegang Vajra bersama dengan 'bunga teratai (padma)' di tangan kanan, dan 'lingkaran matahari (adityamandala)' bersama dengan bunga teratai di tangan kiri.
Vajramrta adalah sama seperti Vajrakundali sang penuh murka.
Vajraprabha, sang Krodha duduk diatas angsa dan berwarna putih. Dia memegang Vajra di tangan kanannya, bunga teratai dan bulan di tangan kiri.
Vajrakanti adalah sama seperti Vajraprabha sang penuh murka.
Vajradanda, sang Krodha duduk diatas kura-kura dan berwarna biru. Dia memegang Vajra di tangan kanan dan tongkat danda di tangan kiri.
Dandavajragri adalah sama seperti Vajradanda sang Krodha.
Vajrapingala, sang Krodha duduk diatas biri-biri jantan. Dia berwarna merah, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sedang menelan lelaki yang dia genggam dengan tangan kirinya.
Vajramekhala adalah sama seperti Vajrapingala sang Krodha.
Vajrasaunda, sang penguasa tentara (ganapati) duduk diatas gajah. Dia berwarna putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sedang memegang bajak/tenggala di tangan kiri.
Vajravinaya adalah sama seperti Vajrasaunda, kecuali pada memegang 'tongkat tengkorak (khatvamga)' di tangan kiri.
Vajramala, sang ganapati, duduk diatas 'burung elang malam (kaukila)'. Dia berwarna hijau dan memegang Vajra di tangan kanan dan kalung karangan yang terbuat dari bunga di tangan kiri.
Vajrasana adalah sama seperti Vajramala, kecuali pada memegang Sakti di tangan kiri.
Vajravasin duduk diatas burung beo. Dia berwarna kekuning-kuningan, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan bendera Makara di tangan kiri.
Vajravasa adalah sama seperti Vajravasin, kecuali berwarna merah.
Vijayavajra sang ganapati, duduk diatas kodok. Dia berwarna putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan pedang di tangan kiri.
Vajrasena adalah sama seperti Vijayavajra.
Vajramusala sang 'kurir (duta)' duduk diatas kereta tempur surga yang terbuat dari bunga. Dia berwarna kekuning-kuningan, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan alu penumbuk di tangan kiri.
Vajraduti adalah sama seperti Vajramusala kecuali pada memegang 'tongkat tengkorak (khatvamga)' di tangan kiri.
Vajranila sang duta duduk diatas rusa. Dia berwarna biru, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan panji sutera di tangan kiri.
Vegavajrini adalah sama seperti Vajranila sang duta.
Vajranala sang duta duduk diatas kambing. Dia berwarna merah, bersinar berseri-seri dengan nyala api naik keatas dalam api tiga cabang, sedang memegang Vajra dan perisai di tangan kanan, tongkat danda dan kendi di tangan kiri.
Vajrajvala adalah sama seperti Vajranala.
Vajrabhairava sang duta duduk diatas mayat yang dibangkitkan. Dia berwarna biru, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan tongkat gada di tangan kiri.
Vajravikata sang duta adalah sama seperti Vajrabhairava kecuali pada memegang tali jerat di tangan kiri.
Vajrankusa sang 'pelayan (cetah)' duduk diatas ular sesa. Dia berwarna biru dan memiliki kepala babi jantan. Dia memegang Vajra di tangan kanan dan buku di tangan kiri.
Vajramukhi sang pelayan, duduk diatas laki-laki. Dia (perempuan) berwarna biru dan memiliki kepala babi jantan. Dia memegang Vajra di tangan kanan dan pedang di tangan kiri.
Vajrakala sang pelayan, duduk diatas banteng. Dia berwarna biru, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan tongkat Yama di tangan kiri.
Vajrakali sang pelayan, sedang duduk mengendarai mayat yang dibangkitkan. Dia (perempuan) berwarna hitam, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan 'tongkat tengkorak (khatvamga)' di tangan kiri.
Vajravinayaka sang pelayan, duduk diatas tikus. Dia berwarna putih dan memiliki wajah dari gajah. Dia memegang Vajra dan kapak di tangan kanan, trisula dan tongkat danda di tangan kiri. Dia memakai untaian ular.
Vajraputana sang pelayan, duduk diatas tikus. Dia berwarna biru, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sapu di tangan kiri.
Nagavajra sang pelayan, duduk diatas Makara. Dia berwarna putih, memiliki delapan tudung ular, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan jerat ular di tangan kiri.
Vajramakara sang pelayan, duduk diatas Makara. Dia (perempuan) berwarna putih. memiliki delapan tudung ular, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan Makara yang ditandai dengan Vajra di tangan lainnya.
Bhima berwarna hijau, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri.
Sri berwarna kekuning-kuningan, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan bunga teratai di tangan kiri.
Sarasvati berwarna putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan 'vina (sejenis alat musik gitar)' di tangan kiri.
Durga duduk diatas singa. Dia (perempuan) berwarna hijau, sedang memegang Vajra dan roda di tangan kanan, tombak dan kulit keong di tangan kiri.
Vajra yang dipegang di tangan kanan oleh Ibu para dewi (Matrnam), oleh Rudra dan yang lainnya, diakhiri dengan Varuna, dikenal sebagai yang berujung tiga. Semua dewata dari dunia ini dan dunia diatas yang melampaui adalah digambarkan menghadap Vairocana (vairocanasanmukhalekhya).
OM SARVA VIDAM VAIROCANA HUM
NAMAH SAMANTA KAYA VAK CITTA VAJRA OM AH HUMRitual Di dalam Mandala Itu
Kemudian pada saat senja, dia membuat ikatan sikap Vajra Terintiri dan membawa kalung karangan terbuat dari bunga berwarna biru, dia harus memasuki Mandala itu. Berputar mengelilingi
Vajravairocana, dia membaca 'empat huruf HUM (caturhumkara)' sementara membunyikan 'lonceng Vajra (Vajraghanta)' dan 'kulit keong (samkha)'.Dia mengarahkan pandangannya di seluruh Mandala itu agar untuk melenyapkan cacat yang tersisa. Dia mempersembahkan kepada sang Bhagavan kalung karangan bunga dan melaksanakan tarian Vajra. Membawa kalung karangan bunga, dia harus mengikatnya diatas kepalanya sambil membaca empat huruf HUM. Dia harus menebus kecacatan dalam cara yang telah dijelaskan, dan agar untuk melenyapkan sisa apapun, orang yang bijaksana itu harus menggerakkan dengan penuh semangat 'Vajra' dan 'Gantha (lonceng)' sehingga dia berhasil melakukan tanpa kesalahan.
Kemudian sang Vajra Acarya berdiri di tengah pusat dan berkonsentrasi, dai harus membuka empat pintu gerbang Vajra dengan menerapkan pikirannya dan mengucapkan :
OM VAJRA UDGHATAYA SAMAYE PRAVESAYA HUM (OM Vajra Buka, Memimpin Kedalam Janji HUM).
Mudra untuk perbuatan ini adalah begini : mempertahankan bersama-sama dua jari telunjuk Vajra di posisi tegak lurus, dia harus memisahkannya dalam cara sikap yang ganas. Ini adalah cara terbaik membuka pintu gerbang itu.
Setelah menyelesaikan ritual itu dengan cara dari Ankusa dan yang lainnya (tiga Penjaga pintu gerbang), dia membuat vas dari tujuh permata atau dari tanah liat, yang memiliki leher yang panjang, tepi bibir vas yang bulat, tubuh besat yang lonjong, tidak hitam di dasar, berisi air yang sangat wangi, berisi dengan semua jenis permata, tumbuhan herba, dan gandum bersama dengan ranting yang memikul buah, terikat di sekitar leher itu dengan kain suci, terlindungi secara ritual, terolesi dengan wewangian yang unggul dimana-mana di bagian luar, diselimuti dengan kalung karangan bunga, disucikan dan ditandai diatas puncak dengan Vajra besar, di percikkan dan diberkati seratus delapan ribu kali dengan Mantra
OM VAJRA UDAKA HUM (OM Tuan Vajra HUM), pelaksanaan itu menjadi cabang dari bunga mekar dan Vajra yang di pegang dengan sikap sang Krodha Terintiri, dan akhirnya diberkati seratus delapan kali dengan empat huruf HUM. Dia menempatkannya dihadapan sang
Bhagavato Vajrahumkara.
Di bagian luar dan di depan pintu gerbang masuk (timur), dia harus menempatkan vas yang lainnya yang diberkati seratus delapan kali dengan empat huruf HUM. Dia harus menyucikan dirinya sendiri dan murid-muridnya dengan air itu (dari vas ini).
Mengikat Mudra untuk masuk (Mandala itu), atau bahkan tidak mengikat itu, dia harus menunjuk secara lisan 'batu karang' dan 'emas', 'kulit keong' dan 'mutiara', dan semua jenis dari batu permata, semua jenis dari tumbhan herba obat-obatan seperti simhi, vyaghri, girikarna dan sahadeva, juga lima jenis dari butiran gandum, yakni wijen, kacang-kacangan, jagung, padi, dan gandum.
Selanjutnya dia membuat murid-muridnya untuk melakukan sumpah pendahuluan dari empat persembahan dan seterusnya. Dia memberkati pakaian berwarna biru dengan (membaca Mantra dari) Vajrayaksa, pakaian dengan (Mantra dari) Sattvosnisa, kain penyeka muka dengan (Mantra dari) para Penjaga pintu gerbang, dan pakaian bagian atas dengan (Mantra dari) 'perisai Vajra (vajrakavaca)'.
Sang Acarya memakai hiasan penutup kepala dan sisanya mengambil kalung karangan bunga dari bunga-bunga berwarna biru (dengan sikap dari) sang Krodha Terintiri dan mengucapkan :
OM VAJRA SAMAYAM PRAVISYAMITY (OM Saya Memasuki Janji Vajra). Dia masuk, menyapa semua Tathagata dengan kata-kata ini :
AHAM BHAGAVAN (Saya,....., Bhagavan) dan seterusnya.
Setelah meminum sedikit air Vajra dan membuat pengenalan dirinya sendiri, dia melemparkan kalung karangan bunga kedalam Mandala itu. Kemudian mengikatnya mengelilingi kepalanya, dia melepas hiasan penutup kepala itu dan melihat dengan sesuai kedalam Mandala itu, dengan mengucapkan
TISTHA VAJRA (Tempat Tinggal Vajra) dan seterusnya. Dia melepaskan 'Mudra masuk (pravesamudra : setelah tadi mengikat sikap mudra untuk masuk sekarang melepaskannya)' dan membungkuk dihadapan sang Bhagavan dia menerima dalam kehadiran-Nya air penyucian, penyucian dari Mahkota Lima Buddha, kain suci, Vajra, kalung karangan bunga, gelar Tuan, nama Vajra, semua sembilan penyucian (udakabhisekam pancabuddhamukutam pattavajramaladhipativajranamabhisekam).
Setelah menerima 'kebenaran (tattvam)', Dharma, 'Janji (samaya)', 'Kesempurnaan Sumpah Vajra (siddhivajravratam)', dia melaksanakan penyembahan diri sendiri dengan bunga-bunga, tarian, dan barang-barang lainnya dari penyembahan. Dengan syair-gatha lima kali lipat dia menerima aturan dan dengan huruf
HUM pemujaan dan pengumuman 'ramalan (vyakarana)'. Sekali lagi dia melaksanakan 'penyucian diri sendiri (svadhisthanadikam)' dan sisanya. Dia mengucapkan pembacaan yang sesuai dengan mengatakan :
AHAM HUM-KARA VAJRA (Saya adalah Vajra dari Huruf HUM).
Mengumumkan namanya, dia mengikat Maha Mudra dari Vairocana, membaca Mantra-Nya yang berakhir dengan huruf
AH. Dia harus memperkenalkan dirinya sendiri sebagai sang
Tathagatavajra di tempat Vairocana (di dalam Mandala itu). Dengan mengatakan :
VAJRA AHAM (Vajra adalah saya), Dia menganggap percaya diri sendiri dari Vajra. Dia membayangkan Vajra itu menjadi Vairocana (dirinya sendiri). Dia mengatakan :
VAJRADHATU AHAM (Vajradhatu adalah saya). Dia mengikat Maha Mudra (dari semua dewata dalam urutan) hingga
Vajravesa. Dia memperkenalkan dirinya sendiri sebagai
Vajraghanta di pintu gerbang utara dengan Mantra-Nya yang berakhir dengan huruf
AH. Dia mengatakan :
VAJRAGHANTA AHAM (Vajraghanta adalah saya) dan Dia menganggap keadaan ini dari percaya diri. Dia harus membayangkan dia mengatakan :
VAJRAVESA KRODHA AHAM (Vajravesa yang penuh murka adalah saya). Demikian itu terselesaikan dengan cara dari Vajra.
Setelah mengikat
Sattva-Vajrankusa (mengikat bentuk jari tangan dalam sikap Mudra dari Sattvavajrankusa), sang guru Vajra (Vajracarya) itu membunyikan jari-jarinya sekali lagi dan mempertemukan semua Buddha dengan mengatakan :
OM VAJRA SAMAJA JAH HUM VAM HOH (OM Penyatuan Vajra JAH HUM VAM HOH). Dia harus mengulanginya dua puluh satu kali. Selanjutnya dia mengucapkan secara tepat Janji Maha Mudra dari Vajrakrodha (mahamudram vajrakrodhasamayam uccarayet), mengulanginya segera seratus delapan kali paling banyak. Dia memanggil (para Dewata itu) melalui pintu gerbang mereka yang sesuai melalui cara dari Vajrankusa dan para penjaga pintu gerbang lainnya, menuntun mereka masuk, mengikat mereka dan menguasai mereka. Dia menyajikan persembahan dalam urutan yang sesuai dengan membaca empat huruf
HUM. Dengan cara dari Samaya Mudra dia harus menggerakkan
Sri Vairocana dan yang para Dewata lainnya diakhiri dengan para Bodhisattva dari 'kalpa yang baik (bhadrakalpika)'. Membaca Mantra Mereka, dia harus mengatakan :
JAH HUM VAM HOH SAMAYAS TVAM SAMAYAS TVAM AHAM (JAH HUM VAM HOH Janji Adalah Anda ! Janji Adalah Anda dan Saya !). Kemudian dia harus membaca Mantra Mereka dan dengan demikian Mereka semua digerakkan.
Oleh karena Mantra diri diucapkan maka keberhasilan tercapai (tatah svamantram uccarayed eva siddhi bhavanti)
Kemudian Mudra Janji tercapai (atah samayamudra bhavanti)