Author Topic: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisamaya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Loka L  (Read 1178 times)

  • Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 350
    • View Profile
Vajra Mudra : "Jari jempol, jari tengah dan jari kelingking diacungkan ke atas, bergabung keujug, dan jari telunjuk dan jari manis menyilang."

Dia harus 'memberdayakan (adhisthana = memberi kuasa)' dirinya sendiri pada hati, tenggorokan, jidat, urna diantara alis mata, pada hidung, telinga, pangkal paha, lutut, kaki, betis, mata dan bagian rahasia.

Kemudian ada muncul lingkaran bulan dari huruf 'A' di dalam tubuh Samaya miliknya sendiri. Dia mewujudkan kepercayaan diri dari penguasaan Mantra dari semua tanda yang muncul dari huruf Bija itu.

OM SARVAVID DRSYA JAH HUM VAM HOH, SAMAYAS TVAM SAMAYA HOH (OM Maha Tahu Semua, Lihat JAH HUM VAM HOH, Janji adalah Anda, Sang Ikrar HOH).

OM MUNI MUNI MAHA MUNAYE SVAHA (OM Sang Bijaksana, Sang Bijaksana, Sang Bijaksana Besar, Serukanlah!).

Dia harus membacanya tiga kali atau apapun yang biasanya.

Membuat Vajrasamaja Mudra pada tubuhnya sendiri dia harus mengucapkan : JAH HUM VAM HOH.

Memanggil (para dewata) ke tempat mereka yang tepat, dia memimpin mereka di dalam, mengikat Mereka dan menundukkan mereka.


OM AMI DEWA HRIH

Nara Simha Gatha (Syair Singa Laki-Laki)

Empat Mudra
1. Samaya Mudra


(Ada muncul) Vajra berujung lima di dalam hatinya dengan menerapkan huruf 'HUM'. Dengan demikian Saya akan menjelaskan Mudra Samaya dari 'Singa Sakya (Sakya Simha)'.

Samaya Mudra dijelaskan sebagai berikut :

Dia duduk di tengah pusat di dalam sikap meditasi (Mudra dari Sakyamuni).
Vajrosnisa Mudra terdiri dalam membuat ikatan Vajra dengan jari-jari tengah dibuat menjadi ujung.
(Ratnosnisa : ) sama dengan jari tengah dibuat menjadi permata.
(Padmosnisa : ) dengan jari tengah dibuat menjadi teratai.
(visvosnisa : ) dengan jari tengah membentuk Vajra dan sisa jari dibuat menjadi jari yang berkobar api.
Tejosnisa Mudra : dengan jari telunjuk menunjukkan api yang berkobar.
(Dhvajosnisa : ) sama dengan jari-jari kelingking dan jari-jari manis diulurkan keluar bersama-sama.
(Tiksnosnisa : ) jari telunjuk dibuat seperti daun bunga teratai dan jari tengah diangkat naik seperti Vajra.
(Chatrosnisa : ) sama dengan (kedua tangan) di tempatkan di depan dalam bentuk dari jaring Vajra.
(Lasya : ) jari jempol di tempatkan dihati, dan kemudian (Mala : ) di ulurkan keluar.
(Gita : ) Dia bergerak isyarat dengan sikap anjali jauh dari mulutnya, dan (nrtya : ) tempatkan itu pada kepalanya.
(Puspa : ) Dia membuat ikatan Vajra, dan (Dhupa : ) angkat naiik itu seperti anjali yang terbentuk dengan bagus.
(Dipa : ) jari-jari jempol ditempatkan bersama-sama, dan (Gandha : ) diulurkan keluar.
'Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra (Vajramusti, kata-kata "Mengikat" disini artinya membuat simbol Mudra dengan jari)' , dia harus mempertahankan jari-jari telunjuk, jari-jari jempol, dan jari-jari tengah masing-masing di depan satu sama lain.
(Vajramkusa : ) dia membuat satu jari telunjuk menjadi Pengait, dan (Vajrapasa : ) ikat jari-jari jempol menjadi ikatan simpul.
(Vajrasphota : ) jari-jari jempol dan jari-jari telunjuk dikunci bersama-sama, dan (Vajravesa : ) kepalan tangan berbentuk tinju Vajra dibuat menjadi ujung.


Bhagavan Kasyapa Tathagata Sambodhi Maha Muni Sarira
(Relik Buddha Kasyapa, Buddha yang datang sebelum kalpa Sakyamuni Buddha)

2. dharma Mudra

Pada tingkat dari hatinya, dia harus membayangkan dharma-Mudra di atas lingkaran bulan di atas bunga teratai. dharma Mudra (dari masing-masing dewata) itu dihasilkan oleh Mantra yang dipancarkan sebelumnya.

3. Karma Mudra

Demikian ini adalah Karma Mudra : Vajra menyilang pada hati (hrdaye visvavajram).

Sikap dari Sakya Raja Mudra, sama seperti itu dijelaskan, terdiri dalam memutar Roda Dharma (Mudra dari empat Usnisa pertama) adalah berikut ini :

"Menyentuh permukaan lantai tanah, memberi, bermeditasi, dan tiada rasa takut (abhayadya), masing-masing berturutan.
Tejosnisa Mudra adalah demikian ini : Dia duduk di dalam meditasi yang mendalam.
(Tiksnosnisa : ) Dia mempertahankan lengan kanan (seperti) tongkat pemukul (gadha), dan lengan kiri (seperti) pedang pada hati.
(Dhvajosnisa : ) Dia harus menonjolkan jari telunjuk kiri dan mengulurkan keluar yang kanan.
(Chatrosnisa : ) Dia meletakkan tangan-tangannya bersama-sama dan mempertahankannya seperti sebuah payung."

Yang demikian itu adalah ritual dari Karma Mudra dari sembilan Buddha Pelindung.

"(Lasya : ) Dengan angkuh dia membungkuk dengan gerakan bergoyang.
Ikatan Mala (malabandha) bergerak pergi dari wajah, kemudian membengkok dalam lingkaran - ini milik Nrtya.
Dengan menerapkan kepalan tangan tinju vajra (vajramustiprayogena), dia harus membuat (Mudra dari) Dhupa dan yang lainnya dengan sesuai.
Dia membuat pengait (milik Vajramkusa) dengan jari telunjuk, dan rantai (milik Vajrapasa) dengan jari kelingking.
Membuat jari-jari telunjuk menjadi ikatan simpul (milik Vajrasphota), dia menekan dengan dua di belakang (milik Vajravesa)."

Sekarang saya akan menjelaskan dalam urutan yang sesuai tanda-tanda dari Diri Besar Bodhisattva (bodhisattvamahatmanam), dengan menerapkan ikatan dari Karma Mudra.

Membuat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra, dia harus menempatkannya bersama-sama. Membuat jari telunjuk dan jari tengah menjadi pengait, dia harus mempertahankannya seperti bunga - yang demikian itu adalah Maitreya Mudra.

Dia menempatkan kepalan tangan kiri berbentuk tinju pada pangkal paha dan yang kiri di dekat bahu. Menonjolkan jari telunjuk dan jari tengah dia harus mempertahankannya membentuk mata - yang demikian itu adalah Amoghadarsin Mudra.

Membuat kepalan tinju Vajra, dia harus mengulurkan keluar jari-jari telunjuk membuat pengait dengan yang kanan - yang demikian ini adalah Sarvapayajaha Mudra.

Menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha, dia harus angkat naik yang kanan seperti tongkat - yang demikian ini adalah Sarvasokatamonirgathanamati Mudra.

Menempatkan kepalan tinju kiri pada pusar, dia harus mempertahankan yang kanan seperti belalai gajah - yang demikian ini adalah Gandhahastin Mudra.

Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan mempertahankan yang kanan seolah-olah sedang mencengkram pedang - yang demikian ini adalah Suramgama Mudra.

Menempatkan kepalan tinju kiri pada hati, dia harus mengayunkan yang kanan di atas - yang demikian ini adalah Jnanaketu Mudra.

Dia harus mengatur tangannya seolah-olah sedang memegang vas (pot bunga) - yang demikian ini adalah Amrtaprabha Mudra.

Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada paha dan yang kanan ke pinggir membentuk sabit dari bulan dengan jari jempol dan jari kelingking - yang demikian ini adalah Candraprabha Mudra.

Menempatkan tangan-tangan pada hati, dia harus membukanya seperti bunga teratai dan kemudian gabungkan bersama-sama ujung-ujung itu - yang demikian ini adalah Bhadrapala Mudra.

Mengikat bersama-sama kepalan-kepalan tinju Vajra, dia harus mengaturnya seolah-olah sedang memegang tameng-perisai, menempatkannya pada buah dada - yang demikian ini adalah Jaliniprabha Mudra.

Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan yang kanan pada hati menonjolkan jari tengah - yang demikian ini adalah Vajragarbha Mudra.

Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada dada dan mempertahankan yang kanan dalam sikap dari memberi - yang demikian ini adalah Aksayamati Mudra.

Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pusar dan membunyikan jari-jarinya dengan yang kanan - yang demikian ini adalah Pratibhanakuta Mudra.

Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan membentuk kepalan tinju permata dengan yang kanan - yang demikian ini adalah 'Samantabhadra Mudra (Mudra dari Samantabhadra)'.

Karma Mudra diungkapkan melalui ritual tanpa simbol-simbol.


OM RATNA SAMBHAVA TRAM

TAKKI MAHA BALA MAHA KRODHA ANUTTARA VIDYA RAJA
NAMAH SAMANTA KAYA VAK CITTA VAJRANAM OM TAKKI HUM JAH

4. Maha Mudra


Dia mempertahankan pada hatinya sebuah Vajra berujung lima, memegangnya sesuai perwujudan (dari berbagai macam dewata) dengan Mudra dan peralatan Mereka. Menjadi pemegang Vajra dan lonceng, dia harus memegang Vajra pada hatinya. Ini dikenal sebagai Maha Mudra dari Diri Besar Bodhisattva di dalam perwujudan dari Mudra dan peralatan Mereka sesuai dengan cara dari pemegangannya. Dari yang manapun 'Diri Besar (mahamanam)' yang dia membuat Mudra itu, dia harus membayangkan sifat alami sejatinya sementara sedang membaca secara penuh makna dari Hrdaya yang sesuai.

Empat Mudra dibuat dalam urutan untuk menetapkan semua dewata. Dengan membuat mereka demi manfaat semua makhluk, orang menghasilkan kualitas-kualitas yang baik dari Maha Tahu Semua (sarvajnagunasampannah). Setelah demikian terbebas dari semua takdir jahat, para makhluk memperoleh Pencerahan Bodhi.

Sekarang Saya akan menjelaskan Mantra itu.

Dengan menerapkan Mudra dan Mantra itu dia harus mampu melaksanakan setiap perbuatan di dalam Sarva Durgati Mandala.
Membuat tarian Vajra terhadap (setiap dewata ) dia membaca Mantra itu.

OM NAMO BHAGAVATE SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA (OM Menyembah Hormat Kepada Bhagavan Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni)

OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA VISODHANE SUDDHE VISUDDHE SARVA KARMA AVARANA VISUDDHE SVAHA (OM Pelenyap Pelenyap, Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan Penghalang Semua Perbuatan Svaha).

Mengambil lonceng dengan kepalan tinju kirinya dan mengayunkan secara penuh semangat Vajra itu dengan yang kanan ("yang kanan" disini maksudnya adalah kepalan berbentuk tinju dari tangan kanan), dia harus mengucapkan : VAJRAVACATAKKI HUM JAH JAH JAH Dia harus mempertahankannya pada hatinya agar mendatangkan (para dewata itu). Dia harus mengucapkan : TAKKI JAH HOH. Selanjutnya dia membuat mereka kokoh dengan seratus kali huruf. Melalui bertindak dalam cara ini dia menjadi sebanding dengan para Bodhisattva penguasa dasa-bhumi. Saat melihat mereka dia harus mempersembahkan semua pemujaan.

Kemudian dia harus menyembah dengan semua pujian ini :
"Menyembah hormat kepada sang Singa Sakya yang memutar Roda Dharma memurnikan semua takdir jahat dalam seluruh dunia dengan tiga bidangnya. (namas te sakyasimhaya dharmacakrapravartakah traidhatukam jagatsarvan sodhayet sarvadurgatim)

Menyembah hormat kepada Anda, Vajrosnisa, yang (oleh kebijaksanaan dari) kemurnian mutlak menjelaskan secara terperinci kebenaran tentang diri demi manfaat semua makhluk hidup. (namas ste vajrosnisaya dharmadhatusvabhavatah sarvasattvahitarhatmatattvapradarsakah)

Menyembah hormat kepada Anda, Ratnosnisa, yang melalui mewujudkan kebenaran (dari kebijaksanaan) dari kesamaan menyucikan semua yang hidup di dalam tiga bidang. (namas te ratnosnisaya samatattvabhavanaih traidhatukam sthitam sarvam abhisekapradayakah)"

Menyembah hormat kepada Anda, Padmosnisa, yang melalui perbedaan dari sifat alami diri menghidupkan kembali para makhluk hidup, menurunkan hujan nektar dari Dharma. (namas te padmosnisaya svabhavapratyaveksakah asvasayati sattvesu dharmamrtapravarsanaih)

Menyembah hormat kepada Anda, Visvosnisa, yang dengan sifat alami diri Anda berniat pada kegiatan melaksanakan semua tindakan demi peredaan duka dari makhluk hidup. (namas te visvosnisaya svabhavakrtyanusthitah visvakarmakaro hy esam sattvanam duhkhasantaya)

Menyembah hormat kepada Anda, Tejosnisa, yang menyinari tiga bidang menyebabkan semua makhluk hidup untuk melihat kebenaran mulia. (namas te tejosnisaya traidhatukam avabhasayet sarvasattvesu apayesu satyadrstva karisyati)

Menyembah hormat kepada Anda, Dhvajosnisa, yang memegang bendera dari permata pengabul keinginan, mengabulkan semua harapan dari makhluk hidup. (namas te dhvajosnisaya cintamanidhvajadharah danena sarvasattvanam sarvasa paripurayet)

Menyembah hormat kepada Anda, Tiksnosnisa, yang melalui memotong putus kekotoran yang utama dan yang kecil dan melalui menghancurkan empat iblis mara, mendatangkan Pencerahan Bodhi pada para makhluk hidup. (namas te tiksnosnisaya klesopaklesachedakah caturmarabalabhagnam sattvanam bodhih prapyate)

Menyembah hormat kepada Anda, Chatrosnisa, yang menyebabkan seluruh dunia dari tiga bidang memperoleh pangkat raja Dharma yang terhiasi dengan payung putih. (namas te chotrosnisaya sitatapatrasobhanam traidhatukam jagatsarvam dharmarajatvam prapyate)

Empat dewi, Lasya, Mala, dan Gita, Nrtya, dan kepada anda, dewi Puspa, Dhupa, serta Dipa dan Gandha, menyembah hormat kepada Anda. (lasya, mala tatha gita nrtya devyas catustayah pupa dhupa ca dipa ca gandha devi namo'stu te)

Avesa, Amkusa, Pasa, dan Sphota, para Pelindung pintu gerbang, lahir dari keyakinan dan seterusnya, berdiri di dalam pintu keluar masuk, menyembah hormat kepada Anda. (dvaramadhye sthita aveso'mkusah pasas sphotakah sraddhadyabhavanirjata dvarapalam namo'stu te)

Para Bodhisattva yang tinggal berdiam pada sisi dari empat pintu gerbang di tepi (dari Mandala), menempati (dua belas) tingkat dari kegembiraan dan sisanya, menyembah hormat kepada Anda. (vedikadau sthita ye ca satvaradvaraparsvatah muditadau dase sthitva bodhisattva namo'stu te)

Brahma dan Indra, Rudra, Candra, Arka, para pelindung dunia dalam empat penjuru arah, dan kepada anda Agni, Raksasa, Vayu, dan Penguasa Bhuta, menyembah hormat kepada anda. (brahmedrau rudracandradyair lokapalacaturdisam agniraksasavayu ca bhutadipam namo'stu te)

Mengucapkan nyanyian pujian raja ini didepan Mandala itu, sang Mantrin harus membacanya sambil memegang Vajra dan lonceng. (anena stotrarajena samstutya mandalagratah vajraganthadharo mantri idam stotram udaharet)


PANCA DHYANI BUDDHA JINA

Vajra Acarya

Sekarang saya akan menjelaskan Mandala yang bernama Raja Tertinggi.

OM A KARO MUKHAM SARVA DHARMANAM ADYANUTPANNATVAT (OM Huruf A, Sumber Dari Semua Dharma Karena Tiada Asal Mereka Dari Awalnya)

Dari penerapan artinya dan berniat pada enam belas kali kekosongan dari seluruh alam semesta dalam sepuluh penjuru arah, dia harus melihat dirinya sendiri seperti kekosongan dalam keadaan dirinya sendiri.

Kemudian dengan cara dari Vajra yang dihasilkan dari huruf 'HUM', (ada muncul) 'Vayu Mandala (Mandala Angin)' diatasnya Air Dadih Besar dari huruf 'VAM' : Diatas mereka ada Mandala Emas dari huruf KAM; Di dalam tengah pusat itu, dia mengucapkan : HUM SUM HUM. Dengan menucapkan itu, dia menghasilkan gunung Sumeru yang terbuat dari permata, persegi, dan terhiasi dengan semua jenis dari batu mutiara. Dia harus memberdayakannya dengan cara dari sikap ikatan Vajra dan melalui mengucapkan : OM VAJRA DRDHA (Om Vajra Jadilah Kokoh) dan seterusnya. Diatas puncak (Sumeru), dengan cara dari Karma Mudra dari Penyebab Vajra (ada muncul) istana yang dihasilkan dari huruf 'BHUM'. Ia memiliki tingkat atas yang terbuat dari Vajra, batu mutiara, dan permata. Ia berbentuk persegi, memiliki empat pintu gerbang dihiasi dengan empat genderang. Di atas empat sudut, di atas pintu, dan diatas puncak ia memiliki lambang dari matahari dan bulan. Ia terhiasi dengan untaian mutiara dan kalung, dengan bendera dan kalung karangan bunga, dan dengan empat benang yang melekat. Mandala bagian dalam mempunyai roda berjari-jari delapan diliputi oleh kalung karangan bunga yang terbuat dari Vajra. Pada tengah pusatnya ada kursi Singa dengan lingkaran bulan pada puncaknya. Di dalam delapan jari-jari itu ada lingkaran bulan, wilayah dari para dewata. Mengenai tempat dari para dewata itu, dia harus melihat pada dua puluh delapan lingkaran bulan (yang tergambar) di atas kain tenun.

Memasuki yang demikian kedalam keadaan dari konsentrasi yang bernama "menyerap-meliputi langit (asthanakasamadhi)", dimana (dia membayangkan) sebuah lingkaran bulan terletak di kursi Singa (simhasanopari candramandale), dan di lingkaran bulan itu huruf vokal dan huruf konsonan yang mewakili kebijaksanaan dan cara bijaksana melebur ke satu sama lain (akaradikakaradyaksaraprajnopayasvarupam dravibhutam). Dikarenakan oleh sifat alaminya sendiri sebagai Bodhicitta, yang demikian itu adalah bentuk dari Mantra sempurna sebagai penyebab untuk memberikan manfaat kepada para makhluk hidup : OM MUNI MUNI MAHA MUNAYE SVAHA. Dengan cara dari Mantra ini dia menjadi sepenuhnya tersempurnakan sebagai "Singa Sakya (sakyasimha)". Dia didudukkan di dalam keadaan dari konsentrasi yang bernama "Pelenyap Semua Ketidaksempurnaan" (sarvanivaranam nama samadhisamapannah).

Mengikat kepalan tangan membentuk tinju Vajra dia harus membukanya dengan berhasil. Ini adalah Mudra dari Pemutaran Roda Dharma yang menghancurkan seluruh samsara. Contohnya adalah seperti berikut :

Sama seperti lebah dan (serangga) lainnya yang sedang beristirahat di bunga teratai tertahan,
Dan melalui membuka bunga teratai itu terbebas dari kurungan yang menyakitkan,
Dalam cara yang sama mereka yang terpenjara di dalam tiga takdir jahat melalui samsara yang menyakitkan,
Terbebaskan dari belenggunya melalui belas-kasih dari Sakya Simha.

Dari huruf 'A' dihasilkan lingkaran bulan di dalam hati dari Sakyamuni. Kemudian di lingkaran bulan itu Mantra dari semua (dewata) menjadi matang. Dia harus membayangkan (Mereka semua satu demi satu) dimulai dengan Vajrosnisa dan diakhiri dengan Vajravesa.

Sekarang Mantra itu : OM NAMO BHAGAVATE SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA VISODHANE SUDDHE VISUDDHE SARVA KARMA AVARANA VISUDDHE SVAHA (OM Menyembah Hormat Kepada Bhagavan Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni : OM Pelenyap Pelenyap, Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan Penghalang Semua Perbuatan Svaha).

Dia harus membaca Mantra ini.

Sekarang Saya akan menjelaskan pengaturan itu di dalam urutan yang sesuai.

OM VAJRA HUM PHAT - dia menghasilkan ini melalui ucapan dan itu datang keluar sebagai lima sinar. Menyinari semua sepuluh penjuru arah, itu mengakhiri penderitaan dari semua makhluk hidup. (Sinar ini) berkumpul memasuki hatinya. Percampuran dari Mantra itu dan Sinar itu menghasilkan rupa tubuh yang sempurna.

Pada jari-jari ruji dari penjuru timur dari Mandala sebelah dalam ada muncul dari hatinya, demi memberikan manfaat kepada para makhluk hidup, Vajrosnisa Tathagata duduk di lingkaran bulan sedang bersandar diatas bunga teratai. Dia berwarna putih, cemerlang dan berkilau. Dia membuat sikap menyentuh permukaan tanah/lantai (mudrabhusparsasamsthitah).

Dalam cara yang sama seperti yang dijelaskan tadi, yang berhubungan dengan pemancaran dan menuju ke satu titik dari sinar dalam semua penjuru arah melalui cara dari penggabungan dari Mantra itu dan sinar itu yang memancar dan menuju ke satu titik, dia menghasilkan dari hatinya bentuk-gambar (selanjutnya) yang sempurna. Satu ini harus didudukkan di dalam tempatnya yang benar di jari-jari ke kanan (arah selatan). Dia harus dihasilkan dengan (Mantra) ini : OM RATNOTTAMA TRAM. Ratnosnisa Tathagata, muncul dari hatinya, duduk di lingkaran bulan sedang bersandar diatas bunga teratai. Dia terhiasi dengan semua tanda-tanda Buddha. Dia berwarna biru dan membuat sikap memberi (varada mudra). Dia 'menyucikan (abhiseka)' semua makhluk hidup dari 'tiga bidang/wilayah (traidhatuka)'.

Seperti sebelumnya melalui cara dari memancarkan dan menuju ke satu tempat (dari sinar itu), dan dalam urutan yang benar dari penampilan dari bentuk-bentuk gambar itu, dia harus menghasilkan (Satu ini) dengan mengucapkan : OM PADMOTTAMA HRIH. Padmosnisa Tathagata, dihasilkan dari huruf Bija itu dan sinar itu, muncul dari hatinya, harus duduk di jari-jari arah barat di lingkaran bulan sedang bersandar diatas bunga teratai, sedang memberikan pengajaran. Dia indah, berwarna bunga teratai merah, dan membuat sikap dari meditasi (dhyana mudra).

Dia harus menghasilkan (bentuk-gambar berikutnya) dengan mengucapkan : OM VISVOTTAMA AH. Visvosnisa Tathagata, sang Buddha, muncul dari hatinya di lingkaran bulan sedang bersandar diatas bunga teratai ditempatkan di jari-jari arah utara. Dia penuh dengan kemegahan, tubuh-Nya berwarna hijau, dan dia membuat sikap tiada rasa takut (abhaya mudra). Melaksanakan semua perbuatan (dari Buddha) Dia membebaskan para makhluk hidup dari samsara.

Dari huruf 'OM' dia harus menghasilkan Tejosnisa Tathagata. Dia duduk di lingkaran bulan sedang bersandar diatas bunga teratai di jari-jari arah tenggara. Dia memegang lingkaran matahari dengan tangan kanan-Nya dan tangan kirinya bersandar di pangkal paha. Dia menyinari tiga wilayah dengan cahaya berwarna putih (dari tubuh-Nya).

Dari huruf 'HUM' dilahirkan Dhvajosnisa Tathagata. Dia juga harus muncul dari hati. Dia duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai di jari-jari arah barat daya. Dia berwarna merah hitam. Sedang memegang bendera dari permata pengabul keinginan, dia melenyapkan kecemburuan di antara para makhluk hidup.

Tiksnosnisa Tathagata dilahirkan dari huruf 'DHIH'. Menghancurkan kekotoran utama dan kecil, Dia muncul di jari-jari arah barat laut. Dia harus didudukkan di lingkaran bulan sedang bersandar di bunga teratai. Warna dari tubuh-Nya adalah indah seperti langit. Di tangan kanan-Nya Dia memegang pedang dan buku di tangan kiri-Nya.

Chatrosnisa Tathagata dilahirkan dari huruf Bija 'KRIM'. Dia muncul di jari-jari arah timur laut. Dia adalah Penguasa Dharma dari semua makhluk. Warna-Nya seperti bunga melati, mengenai sikap-Nya Dia memegang payung (mudreyam chatradharinah).

Semua (Buddha) didudukkan di lingkaran bulan sedang bersandar dengan duduk bersila dalam sikap bunga teratai.

HUM TRAM HRIH AH - melalui membaca Mantra ini empat Dewi, Lasya dan yang lain-Nya muncul dari hati. Mereka didudukkan di lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai di dalam empat sudut (tengah). Mereka memiliki warna dari keluarga Mereka (masing-masing) : putih, kuning, merah, dan beraneka-ragam. Mengenai sikap Mereka, Mereka adalah sama seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Dengan membaca Mantra yang sama dia harus menghasilkan dari hatinya empat Dewi, Dhupa dan yang lainnya. Mereka didudukkan di lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai di dalam empat sudut (luar), memiliki warna dari keluarga Mereka masing-masing.

OM SARVA SAMSKARA PARISUDDHE DHARMATE GAGANASAMUDGATE SVABHAVAVISUDDHE MAHANAYAPARIVARE SVAHA (OM Intisari Dharma Sepenuhnya Termurnikan Dari Semua Kumpulan, Muncul Dari Langit, Paling Murni Dalam Sifat Alaminya, Mencakup Cara Yang Besar, Serukanlah!) - Dengan Mantra ini dia harus menghasilkan Maitreya Bodhisattva dan yang lain-Nya, kumpulan dari Empat, yang berada di dua sisi dari pintu gerbang timur (dan tiga yang lainnya). Mereka semua duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai, di dalam sikap dari Sattvaparyamka. Mengenai sikap dan warna dari tubuh Mereka adalah sebagai berikut :

Maitreya, Makhluk dari hati yang berbudi luhur, adalah berwarna emas, gemerlapan dan indah. Di tangan kanan-Nya Dia memegang bunga naga dan tangan kiri-Nya pot berisi air.

Yang kedua adalah Amoghadarsin. Dia gemerlapan dan berkilau dengan warna emas. Mengenai sikap-Nya, Dia memegang tangkai bunga teratai di tangan kanan-Nya dan tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha.

Bodhisattva yang ketiga adalah Apayajaha. Dia gemerlapan dan berkilau dengan warna putih. Mengenai sikap-Nya, dia memegang Pengait.

Yang keempat adalah Sarvasokatamanirghatanamati. Dia memancarkan dengan warna putih dan kuning yang bercampur. Dia didudukkan di dalam sikap Sattvaparyamka sedang memegang tongkat gada di tangan kanan-Nya dan menyandarkan tangan kiri-Nya di pangkal paha.

Empat Bodhisattva didudukkan di sisi dari pintu gerbang selatan : Yang pertama adalah Gandhastin. Dia berwarna biru pucat. Di tangan kanan-Nya dia memegang tempurung kerang besar yang dipenuhi dengan wewangian dan tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha. Dia menghapuskan semua rintangan.

Yang kedua bernama Suramgama. Dia membebaskan dari semua kekotoran. Dia gemerlapan dan berkilauan dengan warna dari kristal. Mengenai sikap-Nya, Dia menyandarkan tangan kiri-Nya di pangkal paha dan memegang pedang di tangan kanan-Nya. Dia menenangkan duka dari para makhluk hidup.

Yang ketiga adalah Gaganaganja. Dia terhiasi dengan semua penghiasan. Dia indah dengan warna putih dan warna kuning yang bercampur. Dia mengusir semua rintangan. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha. Di tangan kanan-Nya Dia memegang bunga teratai dengan harta Dharma diatas puncaknya. Dia memahami semua harta ruang angkasa.

Yang keempat adalah Jnanaketu. Dia mengabulkan semua harapan. Dia muncul berwarna biru. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha dan di tangan kanan-Nya Dia memegang bendera dari permata pengabul keinginan (cintamanidhvajadharah). Dia melenyapkan kesengsaraan dari kemiskinan.

Mereka yang duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di bunga teratai di sisi dari pintu gerbang arah barat : Yang pertama adalah Amrtaprabha. Dia indah dengan warna dari bulan. Dia memegang bejana dari nektar (amrtakalasam) dengan tangan (kanan) (membentuk seperti) 'jambul dari permata (mukutam ratnapanina)'. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha. Dia menganugerahkan umur panjang dalam keadaan yang berlimpah-limpah.

Yang kedua bernama Candraprabha. Dia melenyapkan ketidakjelasan dari ketidaktahuan. Tubuh-Nya adalah indah dan putih. Di tangan kanan-Nya Dia memegang bunga teratai dengan lingkaran bulan diatasnya. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha.

Yang ketiga adalah Bhadrapala. Dia berwarna putih merah. Dia menjelaskan keseluruhan dari Dharma. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha dan di tangan kanan-Nya Dia memegang permata yang bernyala api.

Bodhisattva yang keempat dikenal sebagai Jaliniprabha. Dia indah dan berwarna merah. Dia memegang jaring Vajra (vajrapanjaradharinah).

Mereka yang duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di bunga teratai di sisi dari pintu gerbang arah utara : Buddhaputra yang pertama bernama Vajragarbha. Dia berwarna putih biru. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha dan tangan kanan-Nya Dia memegang bunga teratai dengan Vajra.

Yang kedua bernama Aksayamati. Dia terdirikan pada batas dari tiada cacat. Dia gemerlapan dengan warna dari bunga melati. Memegang dengan kedua tangan-Nya bejana/vas dari pengetahuan Dia memuaskan semua makhluk hidup.

Buddhaputra yang ketiga dikenal sebagai Pratibhanakuta. Dia berwarna merah, penuh kagungan dan berkilauan. Dia menyandarkan tangan kiri-Nya di pangkal paha dan di tangan kanan-Nya Dia memegang tumpukan dari permata.

Bodhisattva yang keempat bernama Samantabhadra. Dia berwarna biru, indah dan berkilauan. Di tangan kanan-Nya Dia memegang kelompok dari permata dan tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha.

Terberkahi dengan bentuk rupa yang demikian adalah para Bodhisattva yang penyayang itu.

Ini adalah keadaan dari konsentrasi yang bernama Raja Mandala Tertinggi (mandalarajagri nama samadhih)

OM MUNI MUNI MAHA MUNAYE SVAHA
OM NAMAH SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA-ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA VISODHANI SUDDHE VISUDDHE SARVA KARMA-AVARANA VISUDDHE SVAHA - Dengan Mantra ini dia harus membayangkan penciptaan dari tiga puluh tujuh dewata yang dimulai dengan yang penuh kemuliaan sang Raja Singa Sakya (anena mantrena srisakyasimharajapramukha saptatrimsad-devataparipurnam bhavayet).

Selanjutnya dia harus membangkitkan Mandala Pengetahuan (jnanamandalam). Dia membuka pintu gerbang dengan Mantra dan Mudra.

Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra, dia harus merentangkan jari-jari telunjuk dan membuat rantai dengan jari-jari kelingkingnya - yang demikian itu adalah 'sikap dari Membuka Pintu Gerbang (dvaredghatanamudraya)'.
OM SARVAVID DVARAM UDGATHAYA HUM (OM Yang Maha Tahu Semua, Bukalah Pintu, HUM). Dia harus membukan pintu gerbang itu dengan Mantra dan Mudra itu.

Dia harus menghasilkan Mandala itu dengan sikap Mudra dari Vajracakra : OM SARVAVID VAJRACAKRA HUM (OM Yang Maha Tahu Semua, Lingkaran Vajra, HUM). Dengan cara dari membuat Vajra dengan lengan-lengannya dan membuat suara dengan jari, Raja Sakya yang mulia, sang Tuan dari Yoga, akan memanggil semua Buddha untuk berkumpul.

Dengan tangan kiri-nya dia membunyikan jarinya dalam cara yang mantap dan bertindak dalam cara yang sama dengan tangan kanan-nya. Melakukannya bersama-sama, dia mengucapkan : OM VAJRA SAMAJA JAH HUM VAM HOH (OM Penyatuan Vajra JAH HUM VAM HOH). Dengan hanya membunyikan jari-jari dan mengucapkan Perintah itu, perkumpulan majelis itu dan rombongan penggiring berkumpul bersama-sama. Semua Buddha datang bersama-sama, apalagi yang lainnya.

Melihat dihadapan dia, perkumpulan majelis dari Mandala itu di ruang angkasa, dia mengambil air dari hidangan yang diberkati dengan Mantra dari Vajrayaksa dan mempersembahkannya untuk minuman. Kemudian dia harus menyajikan persembahan itu dengan sikap yang sesuai. Kemudian dia harus mempersembahkan air untuk kaki.

(Dia mengucapkan : )
OM VAJRA PUSPA HUM (OM Bunga Vajra HUM)
OM VAJRA DHUPE HUM (OM Dupa Vajra HUM)
OM VAJRA DIPE HUM (OM Lampu Vajra HUM)
OM VAJRA GANDHE HUM (OM Wewangian Vajra HUM)

Setelah melenyapkan semua rintangan dengan cara dari Mantra dari Vajrayaksa, dia harus memimpin (para dewata itu) kedalam Mandala.

Selanjutnya dia melaksanakan empat Mudra. Pertama harus melaksanakan Samaya Mudra dengan mengikuti cara yang dijelaskan sebelumnya. Dharma Mudra dilaksanakan dengan cara dari Mantra yang dijelaskan sebelumnya. Karma Mudra dilaksanakan dengan Mantra dari Karma Mudra. Akhirnya Maha Mudra dilaksanakan dengan Mantra dari Maha Mudra.

Mengungkapkan (sikap dari) Sattvavajri, Ratnavajri, Dharmavajri, dan Karmavajri melalui (menerapkan yang dari) Vajrosnisa Tathagata dan yang lainnya, dia harus menyucikan Mandala itu dan anggota dewata dimulai dengan Raja Sakya dan berakhir dengan Vajravesa. Dia harus melaksanakan Tuan dari Lima Penyucian menyimpulkan dengan yang kesepuluh (pancabhisekadhipatidasaparyantam dadyat). Penyucian sedang disempurnakan.

(Dia mengucapkan : )

OM SARVA TATHAGATA DHUPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dupa Dari Semua Tathagata HUM).
OM SARVA TATHAGATA PUSPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Bunga Dari Semua Tathagata HUM).
OM SARVA TATHAGATA DIPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Lampu Dari Semua Tathagata HUM).
OM SARVA TATHAGATA GANDHA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Wewangian Dari Semua Tathagata HUM).

Kemudian dia harus menyembah dengan Lasya dan yang lainnya.

Mengacungkan Vajra, dia harus memuji Mereka seperti sebelumnya dengan seratus kali syair Vajra :

Yang tidak ada bandingannya, yang tidak tergoncangkan, yang tiada bandingan di dalam unsur sifat alami Mereka,
Para Penyayang, Pelenyap penderitaan dari Dunia,
Penganugerah dari semua kualitas dan kesempurnaan Siddhi yang baik, yang tanpa batas ini.
Yang tidak ada bandingannya, yang tidak tergoncangkan, yang tiada bandingan di dalam unsur sifat alami Mereka.

Kualitas-kualitas yang unggul ini menyandang tiada bandingan hingga tingkat yang paling tipis,
Sama seperti ruang angkasa Mereka sungguh tanpa bandingan,
Menganugerahkan kesempurnaan Siddhi yang unggul di dalam alam dari makhluk berwujud (sphutasatvadhatuvarasiddhidayisu),
Mereka adalah melampaui diluar dari perbandingan di dalam kesempurnaan yang tanpa bandingan milik Mereka.

Cita-cita yang sempurna dari para Yang Maha Penyayang ini, selamanya murni,
Lahir dari kekuatan dari kasih sayang Mereka, dan tak terhalang oleh sifat alami,
Janji yang sempurna demikian dari Mereka yang Maha Penyayang ini bersinar keluar,
Tidak terbatas berniat pada mencapai kebaikan dalam dunia.

Itu mengusahakan dalam memberikan kesempurnaan Siddhi terbaik pada tiga dunia.
Mencapai hingga kesempurnaan akhirnya di dalam Dia yang sungguh tiada bandingan,
Bahkan Mereka yang telah mencapai keadaan Sugata,
Berseru kepada Dharma yang unggul itu !

Semoga para Sugata yang selalu memberikan yang terbaik dari pemberian,
Yang menganugerahkan yang terbaik dari kesempurnaan Siddhi pada seluruh tiga dunia,
Tak terintangi di dalam keadaan dari keBuddhaan yang abadi,
Semoga Mereka yang demikian memberikan yang terbaik dari kesempurnaan Siddhi, menganugerahkan kepada saya 'janji (Samaya)' Mereka.

Bercita-cita tinggi dengan pembaktian untuk menyampaikan nyanyian pujian ini di dalam seluruh penjuru arah dengan seratus lidah mulut, dia harus mempersembahkannya sambil memegang Vajra dan Lonceng.

Kemudian menyembah dalam segala hal dia harus mempersembahkan kepada semua Buddha di dalam sepuluh penjuru arah, kepada para Bodhisattva, dan para dewata yang berada di bagian luar dari dunia ini dan dunia diatas, persembahan bersama-sama dengan kebutuhan untuk upacara persembahan. Dia harus membaca banyak syair.

Pertama dia harus menggambar banyak tumpukan dari dosa dengan cara dari suara dari membunyikan jari dan sebagainya dan dengan cara dari Mudra milik Trailokyavijaya, bersama-sama dengan Tiga Huruf dan sisanya, dia membawa bersama-sama semua dosa dari seluruh alam semesta. Memanggil, menarik, nengikat, dan menghancurkan - yang demikian ini adalah empat Mantra yang diterapkan secara tepat.

Dia harus memurnikan tulang-tulang dari mayat yang di tempatkan di dalam kain putih dengan membaca Mantra dan melemparkan biji sesawi berwarna putih.

Mengucapkan Mantra OM SODHANA (OM Pemurni) dan lain-lain. Dia harus membersihkan dengan air, ketidakmurnian dari tiga keadaan dari keberadaan.

Mengucapkan Mantra OM KAMKANI dan lain-lain. Dia harus memurnikannya dengan lima hasil dari Sapi.

Mengucapkan Mantra OM RATNA dan lain-lain. Dia harus memurnikannya dengan semua jenis dari wewangian yang bagus.

Mengucapkan Mantra OM AMOGHA dan lain-lain. Dia harus memurnikannya dengan susu sapi.

Mengucapkan Mantra OM AMRTA AMRTA dan lain-lain. Dia harus memurnikannya dengan minuman keras memabukkan yang unggul.

Mengucapkan Mantra OM PUNYE PUNYE dan lain-lain. Dia harus memurnikannya dengan air antaranya dan antara.

Membaca kembali nyanyian pujian dari ucapan syukur itu, dia harus menyucikannya. Dia harus memurnikan jalan pembacaan Mantra dari empat dewi, Dhupa dan yang lain-Nya.

Kemudian membuat hati berukuran satu hasta, dia harus mempersembahkan persembahan yang dibakar. Mengingat bahwa makhluk hidup menanggung takdir jahat, dia harus melaksanakannya demi kelangsungan bahagianya dan demi pelenyapan dosa dan rintangan. Dengan dua tangannya dia melemparkan kedalam nyala api, 'mentega','susu','madu','gandum kering', dan 'benih biji sesawi berwarna putih' dicampur bersama-sama dengan 'wijen', 'jagung','jahe kering' dan hal yang lainnya.

Mengenai ritual yang lain, dia harus melaksanakan seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dengan melaksanakan dalam cara ini para makhluk hidup secara cepat memperoleh kebahagiaan.

Keadaan dari pemusatan pikiran ini disebut Karmarajagri (Raja Yang Terbaik Dari Perbuatan).

Dengan ini di kerjakan selengkapnya untuk para makhluk hidup itu, mereka terbebas dari kesengsaraan neraka dan berbuat demi memberi manfaat kepada para makhluk hidup di dalam alam Tusita. Mereka dilahirkan seperti para Buddha.

Kemudian Indra bersama-sama dengan para Dewa yang maha termashyur menari dan tampil ke depan agar untuk menyembah dengan kumpulan awan yang tiada akhirnya dari memuji para Tathagata yang dilahirkan dalam hidup ini. Kumpulan dari para Dewa membangkitkan Bodhicitta dan menghias hutan kesenangan itu dengan kumpulan besar dari bunga-bunga surga, dupa, lampu, wewangian, payung, bendera kemenangan, bendera-bendera, dan banyak perghiasan yang lain, dan mengisinya dengan jubah, permata, dan perhiasan yang lain. Itu menjadi keajaiban yang besar (tato mahacaryam bhutam).




BAB II
Sakyamuni Mandala


Kemudian Bhagavan Vajrapani Bodhisattva menjelaskan secara terperinci bagian yang selanjutnya sang  Raja risalah dari Mantra dengan cara dari pemberkatan sang Bhagavato (bhagavato adhisthanena mantrakalparajottarakalpam abhasata).

Sang Pahlawan (Vira) bangkit dari kursi-Nya, bersuka cita dan mengayunkan Vajra. Menggembirakan para Sakya yang terkemuka, membungkuk di hadapan sang Penguasa Bijaksana (munisvaram), Dia masuk kedalam keadaan dari konsentrasi yang bernama [/b]Vajra Pelenyap Semua Rintangan[/b] (Sarva Avarana Visodhana Vajra Nama Samadhim), dan Dia memunculkan keluar dari hati-Nya Hrdaya yang bernama Pemurnian Takdir Jahat (Durgati Parisodhanam Nama Hrdayam).

OM SARVA PAPA DAHANA VAJRA HUM PHAT (OM Vajra Membakar Semua Dosa Hum Phat --> Ini adalah Mantra dari Bhagavan Sakyamuni Vajradhara)

OM SARVA APAYA VISODHANA VAJRA HUM PHAT (OM Vajra Memurnikan Semua Kejahatan Hum Phat --> Ini adalah Mantra dari Vajrapani) 

OM SARVA KARMA AVARANANI BHASMIKURU HUM PHAT (OM Mengecilkan Hingga Menjadi Abu Rintangan-Rintangan Dari Semua Perbuatan HUM PHAT -> Ini adalah Mantra dari Jayosnisa)

OM BHRUM VINASAYA AVARANANI HUM PHAT (OM BHRUM Hancurkan Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Cakravartin)

OM DHRUM VISODHAYA AVARANANI HUM PHAT (OM DHRUM Memurnikan Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Vijaya)

OM JVALA JVALA DHAKA DHAKA HANA HANA AVARANANI HUM PHAT (OM Bakar Bakar Hancurkan Hancurkan Bunuh Bunuh Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Tejorasi)

OM SRUM SARA SARA PRASARA PRASARA AVARANANI HUM PHAT (OM SRUM Kalahkan Kalahkan Kuasai Kuasai Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Sitatapatra)

OM HUM HARA HARA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM HUM Lenyapkan Lenyapkan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Vikirina)

OM HUM PHAT SARVA AVARANANI SPHOTAYA HUM PHAT (OM HUM PHAT Hilangkan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Vidhvamsaka)

OM BHRTA BHRTA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Belah Belah Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Lasya)

OM TRATA TRATA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Hentikan Hentikan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Mala)

OM CHINDA CHINDA VIDRAVA VIDRAVA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Potong-putus Potong-putus Bubarkan Bubarkan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Gita)

OM VIDYAH VIDYAH SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Rusak Rusak Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Nrtya)

OM DAHA DAHA SARVA NARAKA GATI HETUM HUM PHAT (OM Bakar Bakar Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Neraka HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari para penggiring sang Bhagavan Sakyamuni)

OM PACA PACA SARVA PRETA GATI HETUM HUM PHAT (OM Akhiri Akhiri Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Hantu Kelaparan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra untuk melenyapkan semua takdir dari terlahir diantara para hantu kelaparan)

OM MATHA MATHA SARVA TIRYAG GATI HETUM HUM PHAT (OM Hancurkan Hancurkan Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Binatang HUM PHAT --> Ini adalah Mantra untuk memberangus semua takdir dari terlahir diantara binatang)

Kemudian Dia menjelaskan pelayanan Mereka (tatas tesam upakaranany abhasata).

OM SARVA PAPA VISODHANI DHAMA DHAMA DHUPAYA HUM PHAT (OM Pemurni Semua Dosa, Singkirkan Singkirkan, Asapi HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Dhupa)

OM SARVA DURGATI VISODHANI PUSPA VILOKINI HUM PHAT (OM Pemurni Semua Takdir Jahat, Pelihat Bunga HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Puspa)

OM SARVA APAYA VISODHANI JNANA ALOKAKARI HUM PHAT (OM Pemurni Semua Kejahatan, Penghasil Tanggapan Pengetahuan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Dipa)

OM SARVA APAYA GATI GANDHANASANI GANDHAVATI HUM PHAT (OM Wangi Penghancur Semua Takdir Jahat, Menguasai Wewangian HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Gandha)

OM SARVA NARAKA GATI AKARSANI HUM JAH PHAT (OM Penarik Dari Semua Takdir Ke Neraka HUM JAH PHAT --> Ini adalah Mantra dari Amkusa)

OM SARVA NARAKA GATI UDDHARANI HUM PHAT (OM Penyelamat Dari Semua Takdir Ke Neraka HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Pasa)

OM SARVA APAYA BANDHANA VIMOCANI HUM VAM PHAT (OM Pembebas Dari Ikatan Dari Semua Kejahatan HUM VAM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Sphota)

OM SARVA APAYA GATI GAHANA VINASANI HUM HOH PHAT (OM Pelenyap Sakit Dari Semua Takdir Jahat HUM HOH PHAT --> Ini adalah Mantra dari Avesa)

Kemudian Dia menjelaskan Mandala itu (tato mandalam abhasata).

Mengenai lingkaran bagian dalam, itu terhiasi dengan delapan jari-jari ruji (cakrantaram tu mandalam astarais ca subhisitam). Itu memiliki tengah pusat dan lingkaran. Setelah demikian membuat bentuk bagian dalam dia harus menggambar di dalam tengah pusat sang Sakyamuni. Di depan sang Pahlawan dia harus menggambar Vajrapani yang maha kuat. Di belakang dia harus menggambar Cakravartin, di kanan dia menggambar Jayosnisa, di kiri Vijaya, di tenggara Tejorasi, di timur laut Sitatapatra, di barat laut Vikirina, dan di barat daya Vidhvamsaka.

Selanjutnya dia harus menggambar bagian luar. Itu adalah persegi, dihiasi dengan empat pintu gerbang dan empat genderang. Amkusa, Pasa, Sphota, dan Ghanta harus ditempatkan oleh sang Pahlawan (di dalam tempat-tempat Mereka yang sesuai). Puspa dan dewi yang lainnya adalah digambar di dalam semua sudut.

Kemudian dia harus meminyaki tubuhnya dengan wewangian dan hal yang lain, dan memakai kalung karangan bunga yang terbuat dari bunga-bunga yang wangi. Selanjutnya sang Guru Vajra (Vajra Acarya) harus masuk dengan mengucapkan : JAH HUM VAM HOH BHAGAVAN EHYEHI MAHA KARUNIKA DRSYA HOH (JAH HUM VAM HOH Bhagawan Datanglah, Yang Maha Penyayang, Lihatlah HOH). Dia harus memanggil semua dewa (sarvadevan akarsayet).

Orang-orang yang telah dipimpin dalam cara ini dan disucikan, mereka menjadi terbebas dari semua takdir jahat. Mereka terlahir di tempat yang lebih tinggi dari alam-alam surga. Mereka mencapai semua keberhasilan Siddhi dan mereka tentu memperoleh Samyaksambodhi. Mereka melaksanakan semua perbuatan seperti sebelumnya dan tetap tanpa rintangan di semua waktu. Mengerjakan apa yang harus dikerjakan, mereka menjadi terbebas dari semua penyakit, para iblis, dan sisanya. Vajrapani melaksanakan semua perbuatan dengan cara dari huruf HUM. Masih dengan mengikuti cara dari risalah (bagian selanjutnya) lainnya, orang menjadi tersempurnakan di dalam segala sesuatu. Semua yang tertaklukkan pada kekuatan dari takdir jahat, para dewa, naga, yaksa, gandharva, asura, raksasa, dan yang lainnya di bebaskan dari semua takdir jahat dengan cara dari pembacaan, upacara Homa, dan abhiseka dari bentuk yang mereka gambar dan hal-hal yang sama.

Kemudian Bhagavan Vajradhara melihat dengan tatapan singa pada wajah sang Bhagavato, membungkukkan diri dan berkata : "Saya akan menjelaskan ciri-ciri yang paling unggul dari Mudra yang terbaik. Semoga semua Jina memberikan pemberkatan dengan pikiran Mereka diliputi oleh perasaan belas kasih."

Tetap tinggal di dalam keadaan dari konsentrasi dan menempatkan sikap anjali di dahi, orang harus membungkukkan diri - yang demikian itu adalah 'sikap dari membuat penyembahan kepada para Buddha (buddhanam pranama mudra)'.

Orang yang mengetahui Yoga membuat sikap anjali pada tingkat/ketinggian dari tenggorokannya, memegangnya seperti tunas bunga teratai - yang demikian itu adalah 'sikap bunga teratai dalam keluarga bunga teratai (padmakule padmamudra)'.

Menempatkan Vajra Anjali di hati, dia menggabungkan jari-jari tengah menjadi satu titik ujung - yang demikian itu adalah 'sikap Janji dalam keluarga Vajra (vajrakule samayamudra)'.

Menempatkan tangan kiri meluas di paha, orang meletakkan tangan kanannya di atas puncak itu. Menggabungkan bersama-sama jari-jari jempol dia harus melihat dengan ketenangan. Sikap dari konsentrasi ini adalah Janji di dalam keluarga Tathagata (iyam tathagatakule samadhi-mudra samayah).

Dia mengubah sikap tadi luar dalam terbalik. Menggabungkan bersama-sama dan mengikat jari-jari kelingking dan jari-jari jempol seperti rantai, dia harus menempatkannya di hati. Ini adalah sikap Janji dalam keluarga Vajra (iyam vajrakule samaya mudra).

Membuat 'anjali penuh (purnamanjalim)' dia membentuk satu titik ujung dengan jari kelingking dan jari jempol, merentangkan keluar jari sisa. Ini adalah sikap Janji dalam keluarga Padma (iyam padmakule padmamudra).

Membuat ikatan Vajra yang kuat dan membentuk ujung Vajra dengan jari-jari tengah, dia harus mengulurkan jari kelingking dan jari jempol. Ini adalah sikap Vajra dari Vajrapani (iyam vajrapaner vajramudra).

Mengatur jari-jari kelingking dan jari-jari jempol dalam cara yang sama dengan yang tadi, dia harus membentuk daun bunga teratai dengan jari telunjuk dan jari manis. Ini adalah sikap dari pemurnian semua dari Sarvadurgatiparisodhanaraja (iyam sarvadurgatiparisodhanarajasya sarvasodhanamudra).

Sama dengan jari-jari telunjuk dan jari-jari manis membentuk seperti permata - yang demikian adalah sikap dari penyucian (abhisekamudra).

Menggabungkan jari-jari kelingking dan jari-jari jempol, dia mengulurkan jari-jari sisa. Ini adalah sikap untuk semua daya tahan (sarvaprasahanamudra).

(Tangan kanan) dirubah dalam cara yang sama seperti tangan kiri. Ini adalah sikap untuk melaksanakan semua perbuatan (sarvakarmikamudra).

Mudra dari Dhupa dibuat dengan memindahkan sikap Anjali naik keatas, dan Mudra dari Puspa dengan menurunkannya.

Sama dengan jari-jari jempol dipertahankan menunjuk ke atas ada sikap dari Dipa.

Sama dengan tangan dibentuk seperti kerang keong besar adalah Mudra dari Gandha.

Mempertahankannya terbuka lebar adalah sikap dari penyembahan (balimudra).

Sama dengan jari-jari tengah ditempatkan di dalam adalah sikap untuk membuat persembahan (arpanamudra).

Dalam ikatan Vajra, jari-jari tengah di tempatkan bersama-sama dan di bengkokkan pada sambungan menengah dan semua jari-jari diulurkan - Vikirina Mudra.

Selanjutnya jari-jari kelingking dan jari-jari jempol ditarik kedalam - Vidhvamsaka Mudra.

Anjali dibentuk seolah-olah memancarkan cahaya - Tejorasi Mudra.

Dia harus mengayunkan Anjali mengelilingi kepalanya - Sitatapatra Mudra.