
Maitreya Maha Bodhisattva

Bab VIII
Maitreya ParivartahPada saat itu, sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, di dalam Mahayana, ketika Bodhisattva mempraktekkan meditasi ketenangan yang sunyi (śamatha) dan wawasan kedalam sifat alami dari kenyataan (vipaśyanā), apa dukungnnya? Apa pangkalannya?"
Sang Bhagavan menjawab: "Maitreya, Kulaputra, Anda harus memahami bahwa di dalam Mahayana, ketika Bodhisattva mempraktekkan śamatha dan vipaśyanā, dukungan dan pangkalannya adalah penjelasan terperinci dari Dharma dan tekad yang teguh untuk tidak menjauh dari Anuttarāh Samyaksambodhi."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Sang Bhagavan telah mengajarkan empat jenis objek pengamatan dari śamatha dan vipaśyanā, yang pertama adalah objek yang disertai dengan gambaran untuk perenungan, yang kedua adalah objek yang tidak disertai dengan gambaran untuk perenungan, yang ketiga adalah objek yang meluas hingga ke batas dari gejala kejadian, dan yang keempat adalah objek yang menyelesaikan tugas. di antara keempat ini, mana yang merupakan objek dari śamatha? mana yang merupakan objek dari vipaśyanā? dan mana yang merupakan objek dari keduanya bersama-sama?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Kulaputra, objek tunggal dari śamatha adalah yang tidak disertai dengan gambaran untuk perenungan. Objek tunggal dari vipaśyanā adalah yang disertai dengan gambaran untuk perenungan. Objek bersama dari keduanya adalah batas dari kenyataan gejala kejadian dan penyelesaian tugas."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, bagaimanakah sang Bodhisattva mampu mencari śamatha dan menjadi terlatih dengan baik di dalam vipaśyanā dengan menyokong dirinya sendiri pada empat jenis objek dari śamatha dan vipaśyanā ini?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Kulaputra,penjelasan terperinci dari Dharma seperti yang Saya telah umumkan untuk para Bodhisattva tersusun dalam 'Sūtra (percakapan ajaran dalam prosa)', 'Geya (Nyanyian yang mengulangi ajaran)', 'Vyākarana (ramalan)', 'Gāthā (syair)', 'Udāna (Ungkapan yang dimulai diri sendiri)', 'Nidāna (Sebab dari percakapan ajaran)', 'Avadāna (cerita perumpamaan)', 'Itivrttaka (Sutra yang dimulai dengan 'Jadi telah dikatakan')', 'Jātaka (Kehidupan masa lampau dari sang Buddha)', 'Vaipulya (Ajaran yang luas panjang)', 'Adbhuta-dharma (Peristiwa keajaiban yang menakjubkan)', 'Upadeśa (Pertunjukkan dari pengajaran)'. Para Bodhisattva mendengar dengan penuh perhatian dan menerimanya dengan patuh. Dengan kata-kata Mereka yang dipahami dengan baik, ide-ide Mereka yang dipertimbangkan dengan baik, pandangan Mereka yang terjernihkan dengan baik, sendirian di hutan terpencil, Mereka memusatkan pikiran pada Dharma yang Mereka telah dengar dan renungkan, karena Mereka sekarang telah mampu merenungkan Dharma itu. Dalam kelangsungan pikiran batin mereka fokus dan merenungkan, dan berulang kali tinggal berdiam di dalam praktek yang benar ini. Mereka menempatkan tubuh dan pikiran pada ketenangan. Inilah yang disebut śamatha, dan ini adalah bagaimana Bodhisattva mencari śamatha."
"Dengan tubuh dan pikiran yang tenang, dan setelah meninggalkan pikiran yang menduga-duga, Mereka sepenuhnya memeriksa dan memahami Dharma itu yang mana mereka telah renungkan dengan sangat baik dalam gambaran yang dihasilkan melalui pemusatan pikiran (samadhi). Dalam makna-makna itu yang diketahui melalui gambaran yang dihasilkan melalui samadhi, Mereka dapat secara benar menyelidiki dan memeriksa, untuk merenungkan dan mencari segala sesuatu, apakah kesabaran, kebahagiaan, kebijaksanaan, pandangan, atau kebangkitan. Inilah yang disebut vipaśyanā, dan ini adalah bagaimana Bodhisattva dapat menjadi terlatih di dalam vipaśyanā."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, jika para Bodhisattva merenungkan dan memeriksa 'pikiran (citta)' tanpa telah mencapai ketenangan tubuh dan pikiran, apa yang Anda sebut untuk jenis dari perenungan itu?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Kulaputra, itu bukanlah perenungan śamatha. Namun itu adalah perenungan yang seiring dengan penerapan untuk śamatha."
"Bhagavan, jika para Bodhisattva yang masih belum mencapai ketenangan tubuh dan pikiran, dengan penuh perhatian merenungkan gambaran sebagai objek konsentrasi batin dalam kesesuaian dengan Dharma yang Mereka telah renungkan, disebut apakah jenis dari perenungan itu?"
[Sang Bhagavan menjawab :] "Kulaputra, itu bukanlah perenungan dari vipaśyanā! Namun itu adalah perenungan yang seiring dengan penerapan yang mengarah ke vipaśyanā."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, apakah jalan dari śamatha dan jalan dari vipaśyanā dikatakan sebagai yang berbeda atau yang sama?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Mereka, Kulaputra, harus dikatakan sebagai yang tidak berbeda maupun yang tidak sama. Mereka tidak berbeda karena tujuan mereka adalah objek yang diketahui di dalam vipaśyanā. Mereka tidak sama karena gambaran untuk perenungan bukanlah objek tujuan dari śamatha."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, apakah gambaran yang dihasilkan melalui semua konsentrasi dan penglihatan dikatakan sebagai yang berbeda atau yang tidak berbeda dengan pikiran?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Mereka, Kulaputra, harus dikatakan sebagai yang tidak berbeda dengan pikiran. Ini demikian karena gambaran itu hanyalah ide gagasan. Kulaputra, Saya telah mengajarkan bahwa objek kesadaran hanyalah perwujudan dari bentukan kesadaran saja."
"Bhagavan," [Maitreya bertanya,] "jika gambaran-gambaran itu yang dihasilkan dengan cara ini adalah yang sama dengan pikiran, maka bagaimanakah pikiran dapat merenungkan kembali dan melihat dirinya sendiri?"
"Kulaputra," [Sang Bhagavan menjawab,] "tidak ada apapun yang pernah melihat apapun. Sebaliknya, ketika pikiran terjadi seperti begini atau begitu, maka gambaran yang begini dan begitu membuat kemunculan. Kulaputra, ketika permukaan cermin yang dipoles dengan baik dan yang bersih bertemu bentuk kebendaan, ia mencerminkan bentuk kebendaan itu yang mendasari dan orang berpikir 'saya melihat gambaran itu', dan berpikir ada gambaran lain yang terpisah dari objek itu. Dalam cara yang sama ini, ketika pikiran muncul, ia tampak seolah-olah berbeda dari gambaran yang muncul di dalam konsentrasi."
"Bhagavan, semua gambaran yang para makhluk hidup miliki, yang terjadi karena pikiran mereka menjumpai bentuk kebendaan, dan seterusnya, menampilkan diri sebagai intisari yang berbeda. Apakah ini tidak berbeda dengan pikiran?"
"Kulaputra, mereka tidak berbeda, walaupun begitu, dengan kesadaran yang keliru, para makhluk yang kekanak-kanakan tidak mampu sungguh memahami bahwa gambar-gambar ini tidak lain hanyalah bentukan kesadaran dan akibatnya salah memahaminya."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, bagaimanakah Kita bisa menjelaskan praktek pemusatan pikiran dari vipaśyanā dari para Bodhisattva?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Kulaputra, dengan terus-menerus fokus, Mereka merenungkan hanya pada gambaran dari pikiran."
"Lalu bagaimanakah," [Maitreya bertanya,] "Bhagavan, Kita bisa menjelaskan praktek pemusatan pikiran dari śamatha dari para Bodhisattva?"
"Kulaputra," [Sang Buddha menjawab,] "dengan terus-menerus fokus, Mereka merenungkan hanya pada pikiran yang tidak terganggu."
"Bhagavan, lalu bagaimanakah Kita bisa menjelaskan praktek gabungan dari 'śamatha (praktek keheningan-tenang)' dan 'vipaśyanā (praktek penglihatan)' dari para Bodhisattva?"
"Kulaputra, mereka secara benar merenungkan pada pemusatan pikiran di satu titik."
"Bhagavan, lalu apa itu gambaran dari pikiran?"
"Kulaputra, mereka adalah gambar-gambar untuk perenungan yang dihasilkan oleh 'samādhi (konsentrasi)', objek pengamatan dari 'vipaśyanā (penglihatan)'."
"Bhagavan, apa itu pikiran yang tidak terganggu?"
"Kulaputra, itu adalah tujuan dari śamatha, pikiran yang bertemu gambar-gambar itu."
"Bhagavan, apa itu pikiran yang fokus berpikir pada satu titik?"
"Kulaputra, itu adalah pemahaman bahwa semua gambar di dalam samādhi hanyalah bentukan kesadaran, atau, karena telah memahami ini, merenungkan 'Tathatā (Kenyataan apa adanya yang sesungguhnya)'."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, berapa banyak jenis dari vipaśyanā?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Totalnya, Kulaputra, ada tiga jenis. Yang pertama adalah vipaśyanā dari gambar. Yang kedua adalah vipaśyanā dari penyelidikan. Yang ketiga adalah vipaśyanā dari penembusan. Vipaśyanā dari gambar adalah vipaśyanā yang merenungkan hanya pada gambar-gambar untuk perenungan yang dihasilkan oleh samādhi. Vipaśyanā dari penyelidikan adalah vipaśyanā yang melalui kebijaksanaan dengan penuh perhatian merenung pada gejala kejadian yang belum dipahami dengan baik agar untuk memahaminya dengan baik. Vipaśyanā dari penembusan adalah vipaśyanā yang dengan penuh perhatian merenung pada gejala kejadian yang sudah dipahami dengan baik dengan meliputinya di dalam kebijaksanaan agar untuk menyadarinya dan mencapai pembebasan."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, berapa banyak jenis dari śamatha?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, karena mengikuti pikiran itu dengan tidak terganggu [oleh gambar], Anda harus memahami bahwa ini juga ada tiga jenis. Juga, Maitreya, ada delapan jenis śamatha, karena setiap 'Dhyāna (meditasi)' adalah jenis dari śamatha, dari Dhyāna pertama, Dhyāna kedua, Dhyāna ketiga, Dhyāna keempat, Wilayah dari ruang angkasa yang tidak terbatas (Ākāsānañtāyasthana), Wilayah dari kesadaran yang tidak terbatas (Vijñānanantayasthana), Wilayah dari yang tiada apapun (Akimcanantayasthana), dan Wilayah dari tiada tanggapan penglihatan maupun tiada yang tanpa tanggapan penglihatan (Naivasamjñānāsamjñāyanantayasthana). Lagi, ada empat jenis, karena setiap empat kegiatan dari Cinta kebaikan yang tidak terbatas (Apramāna maitrī), Belas kasih yang tidak terbatas (Apramāna karunā), turut bersukacita yang tidak terbatas (Apramāna muditā), dan keseimbangan batin yang tidak terbatas (Apramāna upeksā) adalah jenis dari śamatha."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang śamatha dan vipaśyanā yang didukung oleh Dharma dan yang tidak didukung oleh Dharma. Apa arti dari yang didukung oleh Dharma dan yang tidak didukung oleh Dharma?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, śamatha dan vipaśyanā yang didukung oleh Dharma [dari Mahayana] adalah śamatha dan vipaśyanā yang dicapai melalui Dharma dan maknanya pertama kali diterima dan direnungkan oleh para Bodhisattva. Samatha dan vipaśyanā yang tidak didukung oleh Dharma [dari Bodhisattva] adalah śamatha dan vipaśyanā yang dicapai tidak melalui gambar-gambar dari Dharma yang para Bodhisattva telah terima dan renungkan, tetapi melalui petunjuk dan makna dari ajaran lainnya, seperti bermeditasi pada mayat yang berubah warna dan membusuk atau pada ketidakkekalan dari gejala kejadian yang berkondisi, pada penderitaan dari semua keadaan yang berkondisi dari makhluk, pada ketiadaan diri dari semua gejala kejadian, atau pada ketenangan tertinggi dari Nirvana. Samatha dan vipaśyanā yang seperti itu Saya tetapkan sebagai yang tidak didukung oleh Dharma. Namun, jika Mereka telah mencapai śamatha dan vipaśyanā yang didukung oleh Dharma [dari Bodhisattva], para Bodhisattva itu Saya telah tetapkan sebagai pengikut Dharma, dan Mereka memiliki indera yang tajam, sementara, jika Mereka mencapai śamatha dan vipaśyanā yang tidak didukung oleh Dharma, para Bodhisattva itu Saya telah tetapkan sebagai pengikut Sraddha (keyakinan), dan Mereka memiliki indera yang tumpul."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari ajaran yang lainnya, dan tentang śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma yang terpadu. Apa arti dari yang mengambil objeknya dari ajaran yang lainnya dan yang mengambil objeknya dari Dharma yang terpadu?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, ketika Bodhisattva mengambil sebagai objek pemahamannya setiap Dharma dari Sutra tertentu, dan seterusnya mempraktekkan śamatha dan vipaśyanā sehubungan dengan Dharma itu yang dia telah terima dan renungkan, itu disebut śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari ajaran yang lainnya. Ketika Bodhisattva mengambil sebagai objek pemahamannya Dharma dari semua Sutra, dan seterusnya dengan penuh perhatian merenung pada semua Dharma ini sebagai satu kesatuan, satu himpunan, satu kelengkapan, satu kumpulan, semuanya mendekati Tathatā, mengarah ke Tathatā, memasuki Tathatā, mendekati Bodhi, mengarah ke Bodhi, memasuki Bodhi, mendekati Nirvāna, mengarah ke Nirvāna, memasuki Nirvāna, mendekati perubahan landasan indera (Āyatana), mengarah ke perubahan landasan indera, memasuki perubahan landasan indera, menuju kesini, jika, dalam mendekati Dharma-Dharma ini, dia mengumumkan Dharma yang tidak terbatas, tidak terhitung dan dengan ini mempraktekkan perenungan śamatha dan vipaśyanā, itu disebut śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma yang terpadu."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang sedikit, tentang śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang besar, dan śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang tidak terbatas. Apa arti dari yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang sedikit? Apa arti dari yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang besar? Apa arti dari yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang tidak terbatas?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, jika orang mengambil sebagai obyek pemahamannya arti dari masing-masing Sutra, Geya, Vyākarana, Gāthā, Udāna, Nidāna, Avadāna, Itivrttaka, Jātaka, Vaipulya, Adbhuta-dharma, Upadeśa, dan dengan penuh perhatian merenungkannya sebagai satu kesatuan, satu himpunan, satu kelengkapan, satu kumpulan, dan seterusnya, ini dikenal sebagai śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang sedikit."
"Tetapi jika orang mengambil sebagai objek pemahamannya Dharma dari Sutra, Geya, Vyākarana, Gāthā, Udāna, Nidāna, Avadāna, Itivrttaka, Jātaka, Vaipulya, Adbhuta-dharma, Upadeśa, menerimanya dan merenungkannya, dan dengan penuh perhatian merenungkannya sebagai satu kesatuan, satu himpunan, satu kelengkapan, satu kumpulan, dan seterusnya, tanpa mempertimbangkannya secara terpisah, maka ini dikenal sebagai śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang besar."
"Jika orang mengambil sebagai objek pemahamannya Dharma yang tidak terbatas dari sang Tathagata, kata-kata dan ungkapan yang tidak terbatas dari Dharma itu, dan penjelasan yang tidak terbatas dari kebijaksanaan yang unggul, dan dengan penuh perhatian merenungkannya sebagai satu kesatuan, satu himpunan, satu kelengkapan, satu kumpulan, dan seterusnya, tanpa mempertimbangkannya secara terpisah, maka ini dikenal sebagai śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang tidak terbatas."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, mengapa Anda mengatakan bahwa para Bodhisattva mencapai śamatha dan vipaśyanā yang mengambil sebagai objek pemahamannya dari Dharma terpadu?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, ada lima alasan yang harus dipahami. Yang pertama adalah bahwa ketika Mereka merenungkan, dari waktu ke waktu Mereka melenyapkan landasan untuk semua Kelemahan. Kedua, adalah bahwa Mereka memotong putus semua berbagai jenis gagasan dan mengambil sukacita di dalam Dharma. Yang ketiga adalah bahwa Mereka memahami cahaya tanpa batas dari Dharma yang tidak memiliki ciri-ciri yang membedakan dimanapun. Yang keempat adalah bahwa Mereka menghasilkan 'gambar termurnikan yang tidak dibayangkan' demi penyelesaian tugas. Kelima adalah bahwa, dalam rangka untuk mencapai kesempurnaan Tubuh Dharma (Dharmakāya), Mereka meliputi penyebab-penyebab yang unggul dan menakjubkan demi perkembangan yang terus meningkat."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, kapan śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu dikatakan dipahami? Pada titik manakah mereka tercapai?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, mereka dikatakan dipahami dari tahap pertama dari Sukacita Tertinggi, dan dikatakan tercapai dari tahap ketiga dari Cahaya Yang Meluas. Kulaputra, para Bodhisattva yang baru mulai mempraktekkannya juga harus belajar dan fokus pada ini tanpa lalai, meskipun Mereka belum dapat dipuji [untuk mencapainya]."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, kapankah śamatha dan vipaśyanā dikatakan menjadi 'konsentrasi (samādhi)' yang memiliki pertimbangan dan penyelidikan? Kapankah menjadi konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan tetapi hanya penyelidikan? Kapankah menjadi konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan maupun penyelidikan?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, śamatha dan vipaśyanā dikatakan menjadi konsentrasi yang memiliki pertimbangan dan penyelidikan ketika mereka mengalami dan menyadari ciri-ciri Dharma seperti yang diterima, diselidiki, dan diperiksa, walaupun itu sangat jelas. Samatha dan vipaśyanā dikatakan menjadi konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan tetapi hanya penyelidikan ketika mereka mengalami dan menyadari ciri-ciri Dharma seperti yang diingat di dalam cahayanya yang halus, walaupun tidak mengalami atau menyadari apa yang sangat jelas. Samatha dan vipaśyanā dikatakan menjadi konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan maupun penyelidikan ketika mereka mengalami dan menyadari ciri-ciri Dharma itu tanpa usaha untuk merenungkan sama sekali."
"Selanjutnya, Kulaputra, śamatha dan vipaśyanā yang disertai dengan pemeriksaan disebut konsentrasi yang memiliki pertimbangan dan penyelidikan. Samatha dan vipaśyanā yang disertai dengan penyelidikan disebut konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan tetapi hanya penyelidikan. Samatha dan vipaśyanā yang mengambil sebagai objek pemahamannya dari Dharma terpadu disebut konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan maupun penyelidikan."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, apa tanda-tanda dari ketenangan (śamatha)? Apa tanda-tanda dari pembangkitan? Apa tanda-tanda dari peninggalan?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, saat pikiran menjadi tidak terkendali atau akan mulai menjadi tidak terkendali, Ketenangan ditandai sebagai memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat menimbulkan kemuakkan, atau dengan memusatkan perhatian pada pikiran yang tidak terganggu [oleh gambaran]. Saat pikiran menjadi lesu atau akan mulai menjadi lesu, Pembangkitan [untuk penglihatan] ditandai sebagai memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat membawa sukacita, atau dengan memusatkan perhatian pada gambar-gambar dari pikiran itu. Saat orang menjadi tercemar oleh dua kecenderungan yang bergairah ini, apakah dalam praktek śamatha, praktek vipaśyanā, atau praktek dua-duanya yang saling berpengaruh, Peninggalan ditandai sebagai pemusatan perhatian yang tanpa usaha dan pikiran yang spontan."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, seluruh perkumpulan besar dari para Bodhisattva itu yang berlatih śamatha dan vipaśyanā memahami Dharma dan maknanya. Apa itu memahami Dharma? Apa itu memahami maknanya?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Kulaputra, semua Bodhisattva itu memahami dan mengetahui Dharma dalam lima aspek, yaitu, Mereka mengetahui namanya, katanya, hurufnya, pemisahannya, dan kesatuannya. Pemahaman nama-namanya terdiri dalam penamaan secara gagasan, yang menggambarkan intisari di dalam semua gejala kejadian yang kotor dan yang murni. Pemahaman katanya terdiri dalam kemampuan untuk mempertahankan dan mendirikan di dalam wacana, semua gejala kejadian yang kotor dan yang murni di antara kumpulan nama-nama itu. Pemahaman hurufnya terdiri dalam ucapan yang didasarkan pada dua dukungan ini [nama dan kata]. Pemahaman pemisahannya terdiri dalam pemusatan perhatian, yang mengungkapkan setiap perbedaannya. Pemahaman kesatuannya terdiri dalam pemusatan perhatian, yang mengungkapkan kesatuannya. Ketika semua ini datang bersama-sama menjadi satu, itu adalah memahami Dharma. Inilah sebabnya mengapa dikatakan bahwa para Bodhisattva itu memahami Dharma."
"Kulaputra, para Bodhisattva itu memahami makna di dalam sepuluh aspek, karena Mereka memahami batas dari keberadaan, Tathatā dari keberadaan, makna dari penerima, makna dari objek yang diterima, makna dari lingkungan, makna dari makanan, makna dari kesalahan, makna dari ketiadaan kesalahan, makna dari kekotoran, dan makna dari kemurnian.
"Kulaputra, batas dari keberadaan mengacu pada batas untuk pemeriksaan dari semua yang ada di antara semua gejala kejadian yang kotor dan yang murni. Ini termasuk semua yang ada, seperti Lima Kumpulan (pañca-skandha), Enam bidang bagian dalam (enam indriya), dan Enam bidang bagian luar (enam objek tujuan indera).
"Tathatā dari semua dharma mengacu pada Tathatā yang ada di dalam semua gejala kejadian yang kotor dan yang murni. Istilah ini mencakup Tathatā dari segala sesuatu. Ada tujuh macam. Yang pertama adalah Tathatā dari arus perpindahan, karena semua keadaan yang berkondisi dari gejala kejadian tidak memiliki awal maupun akhir. Yang kedua adalah Tathatā dari ciri-ciri, karena di dalam semua gejala kejadian, pudgala dan gejala kejadian adalah yang tanpa diri. Yang ketiga adalah Tathatā dari pembentukan kesadaran, karena semua keadaan yang berkondisi dari gejala kejadian tidak lain hanyalah pembentukan kesadaran. Yang keempat adalah Tathatā dari apa yang telah diberikan, yaitu, kebenaran dari penderitaan yang Saya telah ajarkan. Yang kelima adalah Tathatā dari perilaku yang salah, yaitu, kebenaran dari asal-mula penderitaan yang Saya telah ajarkan. Yang keenam adalah Tathatā dari pemurnian, yaitu, kebenaran dari berhentinya penderitaan yang Saya telah ajarkan. Dan ketujuh adalah Tathatā dari praktek yang benar, yaitu, kebenaran dari Jalan yang saya telah ajarkan."
"Pahamilah, Kulaputra, bahwa dikarenakan oleh Tathatā dari arus perpindahan, oleh Tathatā dari apa yang telah diberikan, dan oleh Tathatā dari perilaku yang salah, semua makhluk hidup adalah sepenuhnya sama."
"Dikarenakan oleh Tathatā dari ciri-ciri dan oleh Tathatā dari pembentukan kesadaran, semua gejala kejadian adalah sepenuhnya sama."
"Dikarenakan oleh Tathatā dari pemurnian, Bodhi dari semua Śrāvaka, dari semua Pratyekabuddha, dan dari semua Bodhisattva adalah sepenuhnya sama."
"Dikarenakan oleh Tathatā dari praktek yang benar, kebijaksanaan yang dicakup di dalam mendengar Dharma dan di dalam śamatha dan vipaśyanā yang mengambil sebagai objek mereka dari Dharma terpadu adalah sepenuhnya sama."
"Makna dari penerima terdiri dalam lima organ indera, pikiran, kecerdasan, kesadaran, dan keadaan batin yang megikuti."
"Makna dari objek yang diterima terdiri dalam Enam bidang bagian luar, juga, makna dari penerima adalah makna dari objek yang diterima [karena objek tidak lain hanyalah pembentukan kesadaran].
"Makna dari lingkungan terdiri dalam lingkungan yang mencakup di mana semua makhluk hidup tinggal berdiam, apakah sebuah kota tunggal, seratus kota, seribu kota, atau seratus ribu kota; apakah sebuah daratan besar tunggal yang berbatasan dengan lautan, seratus ini, seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah satu benua Jambudvipa, seratus ini, seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah satu kelompok dari empat benua, seratus ini, seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah sahasra-culanika tunggal, seratus ini, seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah dvisahasra-madhyama tunggal, seratus ini, seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah trisahasra-maha-sahasra tunggal, seratus ini, seribu ini, seratus ribu ini, atau sepuluh juta ini, satu miliar ini, seratus miliar ini, seribu miliar ini, atau seratus ribu miliar ini; apakah satu triliun ini, seratus triliun ini, seribu triliun ini, atau seratus ribu triliun ini, dalam jumlah yang sama dengan butiran terkecil dari debu yang terkandung di dalam seratus ribu triliun trisahasra-maha-sahasra, di dalam cakupan alam semesta yang tidak terbatas dan tidak terhitung di dalam sepuluh penjuru arah."
"Makna dari makanan terdiri dalam kebutuhan hidup yang Saya telah ajarkan sebagai yang dinikmati oleh para makhluk hidup."
"Makna dari kesalahan terdiri dalam kesalahan dari gagasan, kesalahan dari berpikir, kesalahan dari melihat sehubungan dengan penerima dan objek yang diterima, seperti membayangkan apa yang tidak abadi menjadi yang abadi; kesalahan dari gagasan, kesalahan dari berpikir; kesalahan dari melihat, seperti membayangkan penderitaan menjadi kebahagiaan, atau kotoran menjadi kemurnian, atau membayangkan yang tanpa-diri menjadi diri."
"Makna dari ketiadaan kesalahan terdiri dari kebalikannya, dimana orang dapat menangkalnya. Orang harus, bagaimanapun, mengetahui ciri-cirinya."
"Makna dari kekotoran adalah tiga bagian, karena ada tiga jenis kekotoran di triloka ini: kekotoran dari nafsu keinginan, kekotoran dari tindakan, dan kekotoran dari kelahiran."
"Makna dari kemurnian terdiri dalam faktor-faktor kebangkitan, dimana orang dipisahkan dari perbudakan pada tiga jenis kekotoran itu."
"Anda harus tahu bahwa sepuluh aspek ini mencakup semua makna. Lagi, Kulaputra, para Bodhisattva itu dikatakan mengetahui makna karena Mereka dapat mengetahui dan memahami lima jenis makna. Apa lima jenis makna itu? yaitu, mengetahui semua hal, semua makna, dan semua penyebab, mencapai hasil dari pengetahuan yang sempurna, dan pemahaman yang terbangkitkan."
"Kulaputra, 'mengetahui semua hal' terdiri dalam mengetahui semua yang diketahui, yaitu, semua kumpulan (skandha), semua landasan bagian dalam dan semua landasan bagian luar."
"Dalam cara yang sama, pengetahuan semesta tentang semua makna terdiri dalam mengetahui makna yang harus dibedakan sesuai dengan keanekaragamannya; apakah makna duniawi atau makna tertinggi; apakah kebajikan atau keburukan; apakah tentang kondisi atau jangka waktu; apakah tentang kemunculan, tinggal menghuni, atau kehancuran; apakah tentang penyakit dan seterusnya; apakah tentang penderitaan, asal-usulnya, dan seterusnya; apakah tentang Tathatā, batas kenyataan (bhutakoti), alam gejala kejadian (dharmadhatu), dan seterusnya; apakah yang luas atau yang khusus; apakah jawaban yang merangkul semua, jawaban yang meneliti, menjawab setelah mengembalikan pertanyaan, atau menjawab dengan tidak menjawab; apakah yang tersembunyi atau yang jelas. Pengetahuan tentang semua keanekaragaman itu adalah apa yang disebut sebagai mengetahui semua makna."
"Pengetahuan tentang semua penyebab terdiri dalam faktor-faktor kebangkitan (bodhipaksya-dharma), yang mampu memahami keduanya [makna tertinggi dan makna duniawi], yang termasuk, kesadaran penuh perhatian, usaha yang benar, dan seterusnya."
"Pencapaian hasil dari pengetahuan yang sempurna terdiri dalam disiplin yang melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan; praktek pertapaan yang sepenuhnya memotong putus ketamakan, kebencian, dan kebodohan; dan yang biasa atau yang khusus, kualitas yang baik dari yang duniawi atau yang melampaui duniawi dari para Sravaka dan Tathagata, semua yang Saya telah jelaskan."
"Pemahaman yang terbangkitkan, yaitu, pemberitahuan tentang hal-hal itu, yang terdiri dalam secara luas memberitakan dan mengumumkan kepada orang lain semua kebijaksanaan Dharma yang membebaskan, yang orang telah capai. Kelima makna ini mencakup semua makna."
"Selanjutnya, Kulaputra, para Bodhisattva dikatakan mengetahui makna karena Mereka tahu empat aspek dari makna: makna dari pencengkraman pikiran, makna dari pengalaman, makna dari pembentukan kesadaran, dan makna dari kekotoran dan kemurnian. Kulaputra, keempat aspek dari makna ini mencakup semua makna."
"Selanjutnya, Kulaputra, para Bodhisattva dikatakan mengetahui makna karena Mereka tahu tiga aspek dari makna: makna dari ucapan, makna dari makna, dan makna dari alam. Kulaputra, makna dari ucapan mengacu pada kumpulan kata-kata, dan seterusnya. Makna dari makna ada sepuluh jenis: ciri-ciri dari kenyataan, ciri-ciri dari pengetahuan yang menyeluruh, ciri-ciri dari penghapusan akhir, ciri-ciri dari pencapaian, ciri-ciri dari pengolahan, ciri-ciri dari perbedaan di antara kenyataan dan yang sebelumnya, ciri-ciri dari interaksi di antara dukungan dan yang didukung, ciri-ciri dari hambatan untuk yang pengetahuan yang menyeluruh, ciri-ciri dari keadaan yang selaras dengan itu [pengetahuan yang menyeluruh], dan ciri-ciri dari ketidakberuntungan dari ketiadaan pengetahuan yang menyeluruh. dan keuntungan dari kehadirannya. Makna dari alam ada lima bagian: alam dari dunia, alam dari makhluk hidup, alam dari kualitas, alam dari disiplin, dan alam dari cara dari disiplin. Kulaputra, tiga aspek ini mencakup semua makna."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, apa perbedaan di antara makna yang diketahui melalui kebijaksanaan yang didapat dari mendengar, makna yang diketahui melalui kebijaksanaan yang didapat dari pemikiran, dan makna yang diketahui melalui kebijaksanaan yang didapat dari mengolah śamatha dan vipaśyanā?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, kebijaksanaan yang didapat dari mendengar, para Bodhisattva mengandalkan arti dari kata-kata tanpa sungguh memahami maksudnya atau membuatnya jelas. Mereka bergerak menuju pembebasan tanpa bisa menyadari makna yang menghasilkan pembebasan itu. Kebijaksanaan yang didapat dari pemikiran, juga mengandalkan kata-kata, tetapi tidak hanya pada kata-kata itu, karena Mereka mampu sungguh memahami maksudnya, namun belum mampu membuatnya jelas, dan, meskipun menuju ke arah pembebasan, Mereka belum mampu menyadari makna yang menghasilkan pembebasan itu. Untuk kebijaksanaan yang didapat dari pengolahan, para Bodhisattva mengandalkan kata-kata dan juga tidak mengandalkan kata-kata, Mereka mengikuti kata-kata itu dan juga tidak mengikuti kata-kata itu, karena Mereka mampu sungguh memahami maksudnya. Mereka membuatnya menjadi jelas dengan cara gambar yang dibuat di dalam konsentrasi yang sesuai dengan hal yang diketahui. Mereka menuju ke arah pembebasan dengan baik dan mampu menyadari makna yang menghasilkan pembebasan. Kulaputra, ini adalah apa yang disebut sebagai tiga jenis perbedaan di dalam mengetahui makna. "
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, apa itu kebijaksanaan dan apa itu wawasan dari semua Bodhisattva yang mengetahui Dharma dan maknanya melalui pengolahan śamatha dan vipaśyanā?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, Saya telah beberapa kali mengumumkan dua perbedaan di antara kebijaksanaan dan wawasan, walaupun begitu, sekarang Saya akan menyimpulkan pokok utamanya untuk Anda. Kebijaksanaan adalah kecerdasan menakjubkan yang terjadi melalui pengolahan śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma yang terpadu [dari Mahayana]. Wawasan adalah kecerdasan menakjubkan yang terjadi melalui pengolahan śamatha dan vipaśyanā yang mengambil objeknya dari Dharma yang lain [dari Mahayana]."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, ketika para Bodhisattva mengolah śamatha dan vipaśyanā, gambar apakah yang Mereka hapus? Melalui perenungan apa?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, karena Mereka merenungkan 'Tathatā yang sebenarnya (bhūta-tathatā)', Mereka menghapus gambar dari ajaran dan gambar dari makna. Ketika Mereka tidak memiliki apapun yang untuk dicapai di dalam nama dan intisari nama, maka Mereka tidak lagi melihat pada gambaran itu yang mendukungnya [nama dan intisari nama]. Dalam cara ini, Mereka menghapusnya. Sama seperti dengan nama, demikian juga dengan kata-kata dan semua jenis makna. Bahkan dalam hal alam dan intisari dari alam, Mereka tidak memiliki apapun yang untuk dicapai, sehingga Mereka tidak lagi melihat pada gambar-gambar itu. Dalam cara seperti itu, Mereka menghapusnya."
"Bhagavan, makna dari Tathatā yang dilihat itu [dalam perenungan itu] adalah makna dari gambar. Apakah gambar dari Bhūta-tathatā ini juga harus dihapus atau tidak?"
"Kulaputra, di dalam makna dari Bhūta-tathatā yang Mereka sadari, tidak ada gambar apapun dan tidak ada yang untuk dicapai. Lalu bagaimana bisa itu dihapus? Kulaputra, sama seperti yang Saya telah jelaskan, makna dari Bhūta-tathatā yang Mereka sadari itu menyingkirkan setiap jenis dari gambar yang bermakna apapun. Jadi, itu bukanlah kasus bahwa pemahaman ini sendiri dapat diganti dengan apapun yang lain. "
"Bhagavan, Anda telah memberikan contoh baskom berisi air yang keruh, cermin yang kotor, dan kolam yang airnya bergoncangan sebagai permukaan yang tidak mempertahankan setiap gambar untuk dipertimbangkan. Kebalikan dari ini yang akan mempertahankannya [gambaran itu]. Dengan cara seperti itu, jika orang memiliki pikiran yang tidak diolah, maka orang tidak akan mempertahankan pemahaman yang benar dari Tathatā, namun ketika pikiran diolah dengan baik, maka orang akan mempertahankan pemahaman seperti itu. Dalam penjelasan ini, apa itu pikiran yang mampu menembus pemahaman? Apa jenis Tathatā yang Anda bicarakan?"
"Kulaputra," [Sang Bhagavan menjawab,] " di dalam penjelasan itu, ada tiga jenis dari pikiran yang mampu menembus pemahaman: pikiran yang mampu memahami dari apa yang telah didengar, pikiran yang mampu memahami dari apa yang telah dipikirkan, dan pikiran yang mampu memahami dari apa yang telah diolah. Saya memberikan penjelasan itu di dalam cahaya dari Tathatā dari pembentukan kesadaran."
"Bhagavan, para Bodhisattva yang telah melihat dan mengetahui Dharma dan maknanya, dan yang telah sungguh-sungguh di dalam pengolahan untuk melenyapkan semua gambar, Berapa banyakkah jenis dari gambar yang sulit dilenyapkan yang Mereka lenyapkan? Dan bagaimanakah cara melenyapkannya? "
"Kulaputra, ada sepuluh jenis dari gambar itu, dan para Bodhisattva dapat melenyapkannya melalui kekosongan. Yang pertama, karena Mereka melihat dan mengetahui Dharma dan maknanya, ada berbagai macam gambar dari huruf dan kata-kata, yang Mereka dapat lenyapkan melalui kekosongan dari semua gejala kejadian. Yang kedua, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari Tathatā dari yang telah diberikan, Mereka memiliki gambar-gambar dari kemunculan, kehancuran, tinggal menghuni, perbedaan, kelanjutan, dan perkembangan, yang Mereka mampu lenyapkan melalui yang pertama, kekosongan dari gambar, dan kemudian, kekosongan dari awal dan akhir. Yang ketiga, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari penerima, mereka memiliki gambar yang penuh nafsu dari tubuh dan kebanggaan diri, yang Mereka mampu lenyapkan melalui kekosongan dari bagian dalam dan kekosongan dari tiada pencapaian. Keempat, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari objek yang diterima, Mereka memiliki gambar dari harta yang diinginkan, yang mereka mampu lenyapkan melalui kekosongan dari bagian luar. Yang kelima, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari kenikmatan, Mereka telah secara bagian dalam membentuk gambar dari rayuan dan anugerah dari pria dan wanita, yang Mereka mampu lenyapkan melalui kekosongan dari bagian dalam dan bagian luar, dan kekosongan dari asal-mulanya. Yang keenam, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari lingkungan, Mereka memiliki gambar yang tidak terbatas, yang Mereka mampu lenyapkan melalui kebesaran dari kekosongan. Yang ketujuh, karena Mereka melihat dan mengetahui yang tiada bentuk-rupa, Mereka memiliki gambar dari ketenangan bagian dalam dan pembebasan, yang Mereka dapat lenyapkan melalui kekosongan dari yang berkondisi. Yang kedelapan, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari Bhūta-tathatā dari gambar, Mereka memiliki gambar dari ketiadaan diri dari pudgala dan ketiadaan diri dari gejala kejadian, yang, apakah gambar dari yang hanya pembentukan kesadaran atau gambar dari makna tertinggi, yang Mereka mampu lenyapkan melalui kekosongan tertinggi, kekosongan dari yang tiada intisari, kekosongan dari keberadaan yang tiada intisari, dan kekosongan dari makna tertinggi. Yang kesembilan, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari Tathatā dari pemurnian, Mereka memiliki gambar dari yang tidak berkondisi dan gambar dari yang tidak berubah, yang Mereka dapat lenyapkan melalui kekosongan dari yang tidak berkondisi dan kekosongan dari yang tidak berubah. Kesepuluh, karena Mereka secara penuh perhatian merenungkan sifat alami kekosongan dimana Mereka mendisiplinkan apa yang harus di disiplinkan, Mereka memiliki gambar dari sifat alami kekosongan, yang Mereka dapat lenyapkan melalui 'kekosongan dari kekosongan (sunyasūnyatā)'."
"Bhagavan, setelah melenyapkan sepuluh jenis gambaran itu, apa gambar lainnya yang Mereka lenyapkan dan dari gambar apakah Mereka terbebaskan?"
"Mereka, Kulaputra, melenyapkan gambar-gambar yang dibuat di dalam konsentrasi. Mereka meninggalkan dan terbebaskan dari gambar kekotoran yang membelenggu. Kulaputra, Anda harus memahami bahwa, dengan mengatakan masing-masing dari kekosongan ini meniadakan masing-masing gambarnya, tetapi itu tidaklah benar bahwa masing-masing itu tidak meniadakan semua gambar. Ini sama seperti dengan kasus ketidaktahuan, karena itu tidaklah benar bahwa ia tidak dapat menimbulkan hal-hal yang kotor bahkan hingga usia tua dan kematian, namun, dengan mengatakan bahwa ketidaktahuan menimbulkan hanya bentuk-bentuk karma, karena semua pembentukan karma langsung disebabkan oleh ketidaktahuan. Prinsip yang sama ini juga berlaku."
Pada saat itu, sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, apa gambar keseluruhan dari kekosongan itu yang para Bodhisattva lihat tanpa menyingkirkannya dan namun tanpa kebanggaan sehubungan dengan gambar dari kekosongan itu?"
Kemudian sang Bhagavan memuji sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Sangat baik, Kulaputra, sangat baik, Anda telah mampu bertanya kepada sang Tathagata pada makna yang mendalam ini untuk menuntun semua Bodhisattva supaya tidak menyingkirkan gambar dari sifat alami kekosongan!. Mengapa begitu, kulaputra? Itu adalah karena jika para Bodhisattva akan menyingkirkan gambar dari sifat alami kekosongan, maka Mereka akan menyingkirkan Mahāyāna. Oleh karena itu, Kulaputra, dengarlah dengan baik, karena Saya akan menjelaskan gambar keseluruhan dari kekosongan untuk Anda. Di dalam Mahāyāna, Kulaputra, gambar keseluruhan dari kekosongan itu mengacu pada pemisahan akhir dari gambar-gambar itu yang melekat melalui imajinasi, dengan semua keanekaragaman dari kekotorannya dan kemurniannya, dari pola yang saling bergantungan lainnya dan pola kesempurnaan penuh: yang adalah sepenuhnya tiada pencapaian di dalamnya."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, berapa banyak 'konsentrasi (samādhi)' yang termasuk di dalam śamatha dan vipaśyanā ini?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, seperti yang Saya telah jelaskan, para Śrāvaka, Bodhisattva, dan Tathāgata yang tidak terbatas jumlah-Nya memiliki keanekaragaman samādhi yang tidak terbatas, yang semua itu termasuk di dalamnya."
"Bhagavan, apa penyebab dari śamatha dan vipaśyanā ini?"
"Itu, Kulaputra, adalah disiplin sila yang dimurnikan dan wawasan yang benar yang dicapai melalui pendengaran yang dimurnikan dan perenungan."
"Bhagavan, apa hasil dari śamatha dan vipaśyanā ini?"
"Hasil darinya, Kulaputra, adalah disiplin sila yang dimurnikan dengan baik, pikiran yang dimurnikan dengan baik, dan pemahaman yang dimurnikan dengan baik. Lagi, Kulaputra, semua kualitas yang baik, baik yang duniawi maupun yang melampaui, dari semua Śrāvaka, Bodhisattva, dan Tathāgata, adalah termasuk sebagai hasil dari śamatha dan vipaśyanā ini. "
"Bhagavan, apa kegiatan yang dikerjakan melalui śamatha dan vipaśyanā?"
"Kegiatannya, Kulaputra, adalah pembebasan dari dua belenggu, belenggu dari gambar dan belenggu dari kelemahan yang kotor."
"Bhagavan, di antara lima jenis dari jeratan yang Anda telah jelaskan, manakah yang merupakan hambatan untuk śamatha? Manakah yang merupakan hambatan untuk vipaśyanā? Manakah yang merupakan hambatan untuk kedua-duanya?"
"Kulaputra, nafsu keinginan untuk tubuh dan harta benda adalah hambatan untuk śamatha. Tidak berminat pada Dharma yang suci adalah hambatan untuk vipaśyanā. Berbagai cara dari tinggal berdiam di dalam hiruk-pikuk dari gambar-gambar kesenangan dan sepenuhnya terpuaskan dengan kedangkalan adalah hambatan untuk kedua-duanya. Dikarena oleh yang pertama, orang tidak dapat melakukan meditasi. Dikarena oleh yang kedua, usaha yang telah diolah itu tidak pernah mencapai penyelesaian."
"Bhagavan, di antara lima pengaburan, manakah yang menghambat śamatha? Manakah yang menghambat vipaśyanā? Manakah yang menghambat kedua-duanya?"
"Kulaputra, gejolak kegelisahan dan tindakan kejahatan adalah hambatan untuk śamatha. Kemurungan, kemalasan, dan keraguan adalah hambatan untuk vipaśyanā. Pendambaan dan kebencian adalah hambatan untuk kedua-duanya."
"Bhagavan, bagaimanakah cara menentukan tingkat dimana jalan dari śamatha telah disempurnakan dan dimurnikan?"
"Kulaputra, pada tingkat dimana kemurungan dan kemalasan telah dilenyapkan, di tingkat itu dikatakan bahwa jalan dari śamatha telah disempurnakan dan dimurnikan."
"Bhagavan, bagaimana cara menentukan tingkat dimana jalan dari vipaśyanā telah disempurnakan dan dimurnikan?"
"Kulaputra, pada tingkat dimana kegelisahan dan tindakan kejahatan telah dilenyapkan, di tingkat itu dikatakan bahwa jalan dari vipaśyanā telah disempurnakan dan dimurnikan."
"Bhagavan, dalam mencapai śamatha dan vipaśyanā, berapa banyak gangguan yang harus Bodhisattva ketahui?"
"Mereka, Kulaputra, harus mengetahui lima ini: gangguan pada perhatian, gangguan pada yang bagian luar, gangguan pada yang bagian dalam, gangguan pada gambar, dan gangguan pada kelemahan yang kotor. Jika, Kulaputra, para Bodhisattva menolak perhatian Mahāyāna dan jatuh ke dalam perhatian dari Śravaka dan Pratyekabuddha, itu adalah gangguan pada perhatian. Jika Mereka membiarkan pikiran menjadi menyebar di antara kecenderungan gairah nafsu yang dirasakan pada semua gambar yang membingungkan dari lima daya pemikat indera bagian luar, itu adalah gangguan pada yang bagian luar. Jika Mereka menjadi tenggelam dalam kemurungan, melekat pada rasa dari Dhyāna melalui kemalasan, atau dikotori oleh nafsu gairah yang menyertai untuk keadaan Dhyāna lainnya, itu adalah gangguan pada yang bagian dalam. Jika, dalam memperhatikan dan berpikir pada gambar yang di buat dengan cara konsentrasi bagian dalam, Mereka mengandalkan gambar dari bagian luar, itu adalah gangguan pada gambar. Jika secara bagian dalam, Mereka memperhatikan perasaan yang timbul secara berkondisi dan namun, dikarenakan oleh kelemahan yang kotor, membayangkan 'diri' dan menimbulkan kebanggaan, itu adalah gangguan pada kelemahan yang kotor."
"Bhagavan, rintangan apa yang śamatha dan vipaśyanā mampu atasi dari tingkat pertama dari Bodhisattva (bodhisattvapratamabhūmi) hingga ke tingkat Tathagata (tathāgatabhūmi)?"
"Kulaputra, pada tingkat pertama, śamatha dan vipaśyanā mengatasi rintangan nafsu yang menyebabkan takdir jahat, dan kekotoran dari karma dan kelahiran. Pada tingkat kedua, mereka mengatasi rintangan dari kemunculan kesalahan yang halus. Pada tingkat ketiga, mereka mengatasi rintangan dari nafsu keinginan. Pada tingkat keempat, mereka mengatasi rintangan dari kemelekatan pada konsentrasi dan Dharma. Pada tingkat kelima, mereka mengatasi rintangan dari menolak samsāra dan rintangan dari menuju nirvāna. Pada tingkat keenam, mereka mengatasi rintangan dari seringnya muncul gambar-gambar. Pada tingkat ketujuh, mereka mengatasi rintangan dari kemunculan gambar-gambar yang halus. Pada tingkat kedelapan, mereka mengatasi rintangan dari mengerahkan usaha dalam hal yang tiada bentuk-rupa dan rintangan dari belum mencapai penguasaan dalam hal yang berbentuk-rupa. Pada tingkat kesembilan, mereka mengatasi rintangan dari belum mencapai penguasaan semua jenis pidato yang terampil. Pada tingkat kesepuluh, mereka mengatasi rintangan dari belum mencapai tubuh Dharma (Dharmakāya) yang sepenuhnya tersempurnakan. Kulaputra, dalam tingkat Tathagata, śamatha dan vipaśyanā mengatasi rintangan dari nafsu yang paling halus dan rintangan dari menuju sarvajñajñānā. Karena mampu sepenuhnya melenyapkan rintangan itu, pada akhirnya, mencapai kebijaksanaan semesta dan wawasan yang tidak melekat dan tanpa rintangan; dan, didukung pada pencapaian tujuan, Mereka terdirikan di dalam Dharmakāya yang sangat murni."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, bagaimanakah para Bodhisattva, yang didukung oleh pengolahan Mereka yang kuat pada śamatha dan vipaśyanā, mencapai Anuttarāh Samyaksambodhi Abhisambuddha?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, karena telah mencapai śamatha dan vipaśyanā, para Bodhisattva mendukung diri Mereka sendiri pada tujuh macam Tathatā itu. Dengan pikiran yang terkonsentrasi dengan baik pada Dharma itu yang telah di dengar dan di renungkan, dalam diri Mereka sendiri bersungguh-sungguh merenungkan pada sifat alami dari Tathatā seperti yang telah dipertimbangkan dengan baik, diperiksa dengan baik, dan didirikan dengan baik. Dikarenakan oleh perenungan mereka pada Tathatā, mereka mampu menyingkirkan kemunculan dari semua gambar yang halus, apalagi gambar yang kotor. Kulaputra, gambar-gambar yang halus ini mengacu pada gambar dari pencengkraman dari pikiran; gambar dari pengalaman; gambar dari pembentukan kesadaran; gambar dari kekotoran dan kemurnian; gambar dari bagian dalam; gambar dari bagian luar; gambar dari bagian dalam dan bagian luar; gambar yang 'orang harus bertindak untuk kepentingan makhluk hidup'; gambar dari kebijaksanaan sejati; gambar dari Tathatā, gambar dari [empat kebenaran dari] penderitaan, asal-mulanya, penghentiannya, dan sang jalan; gambar dari yang berkondisi; gambar dari yang tidak berkondisi; gambar dari yang abadi; gambar dari yang tidak abadi; gambar dari sifat alami dari penderitaan dan perubahan; gambar dari yang tidak berubah; gambar dari ciri-ciri yang berbeda dari yang berkondisi; gambar dari ciri-ciri yang sama dari yang berkondisi; gambar dari segala sesuatu yang berhubungan dengan mengetahui segala sesuatu; gambar dari ketiadaan diri dari pudgala; dan gambar dari ketiadaan diri dari dharma."
"Mereka mampu menyingkirkan semua gagasan yang muncul dalam pikiran dan, karena terus-menerus tinggal berdiam di dalam kegiatan seperti ini, selama periode waktu, Mereka mengolah pikiran untuk mengatasi semua jeratan, pengaburan, dan gangguan. Setelah itu, Mereka secara bagian dalam menghasilkan tujuh aspek kecerdasan yang menembus masing-masing tujuh aspek dari Tathatā, ini adalah jalan dari wawasan. Dikarenakan oleh pencapaian ini, Mereka dikatakan yang telah memasuki status terjamin dari Bodhisattva yang terbebaskan dari kelahiran kembali, karena Mereka dilahirkan ke dalam keluarga dari Tathāgata dan, masuk kedalam tingkat pertama, Mereka dapat menikmati kualitas bagus yang unggul dari tingkat ini. Selama periode awal ini, karena telah mencapai śamatha dan vipaśyanā, Mereka telah mencapai dua objek : objek yang disertai dengan gambaran untuk perenungan dan objek yang tidak disertai dengan gambaran untuk perenungan - itu adalah pada saat ini bahwa Mereka mencapai jalan dari wawasan. Mereka juga mencapai sebagai objek pemahaman Mereka batas-batas dari gejala kejadian. Kemudian setelah itu, di dalam semua tingkat, Mereka mengolah jalan dari meditasi sambil dengan penuh perhatian merenungkan tiga jenis objek ini. Sama seperti orang yang mencabut ganjalan yang besar dengan cara menggunakan ganjalan yang kecil, demikian juga para Bodhisattva ini menyingkirkan gambar bagian dalam melalui cara dari mengandalkan ini yang sama seperti ganjalan kecil untuk mencabut ganjalan besar. Semua gambar yang berhubungan dengan kekotoran menjadi terlenyapkan, dan, begitu dilenyapkan, kelemahan juga dilenyapkan. Karena Mereka secara permanen menghancurkan kelemahan-kelemahan itu dalam semua gambar-gambarnya, setelah itu, di dalam semua tingkat, Mereka secara bertahap memurnikan pikiran sama seperti memurnikan emas hingga Mereka mencapai Anuttarāh Samyaksambodhi, mencapai tujuan yang mereka perjuangkan untuk diselesaikan. Kulaputra, itu adalah karena para Bodhisattva ini telah dengan baik mengolah meditasi dalam diri Mereka sendiri, Mereka mencapai Anuttarāh Samyaksambodhi Abhisambuddha."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, bagaimanakah pengolahan ini menghasilkan kekuasaan yang besar dari Bodhisattva?"
"Ketika, Kulaputra, para Bodhisattva menyadari enam pendukung, Mereka mampu menghasilkan kekuasaan yang besar dari Bodhisattva. Yang pertama adalah mengetahui dengan baik kemunculan pikiran. Yang kedua adalah mengetahui dengan baik tinggal berdiamnya pikiran. Yang ketiga adalah mengetahui dengan baik keberangkatan pikiran. Yang keempat adalah mengetahui dengan baik peningkatan pikiran. Yang kelima adalah mengetahui dengan baik penurunan pikiran. Yang keenam adalah mengetahui dengan baik cara bijaksana."
"Mereka mengetahui dengan baik kemunculan pikiran, karena Mereka sungguh mengetahui perbedaan yang menimbulkan pikiran di dalam enam belas kegiatannya; ini adalah apa yang dimaksud dengan mengetahui dengan baik kemunculan pikiran."
"Enam belas Kegiatan dari pikiran ini adalah, yang pertama, munculnya pembentukan kesadaran sebagai yang tidak disadari, wadah yang mendasar, yaitu kesadaran yang mencengkram (ādānavijñāna). Yang kedua adalah munculnya pembentukan kesadaran bersama-sama dengan banyak objeknya yang berbeda, yaitu, kesadaran pikiran berimajinasi yang segera menangkap semua objek alam bentuk-rupa, dan seterusnya; pemahaman yang segera menangkap objek bagian dalam dan bagian luar; atau, sebagai kemungkinan lainnya, kesadaran pikiran berimajinasi yang dalam sekejap, seketika itu juga, masuk ke dalam 'konsentrasi (samādhi)' dan melihat banyak Buddhaksetra dan banyak Tathagata. Yang ketiga adalah munculnya pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek gambar yang kecil, yaitu, pikiran yang terikat pada dunia nafsu keinginan. Yang keempat adalah munculnya pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek gambar yang besar, yaitu, pikiran yang terikat pada dunia bentuk-rupa. Yang kelima adalah munculnya pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek gambar yang tidak terbatas, yaitu, pikiran yang terikat pada ruang angkasa yang tidak terbatas dan kesadaran yang tidak terbatas. Yang keenam adalah munculnya pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek gambar yang halus, yaitu, pikiran yang terikat pada ketiadaan apapun. Yang ketujuh adalah munculnya pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek gambar dari batas terakhir, yaitu, pikiran yang terikat pada tiada tanggapan penglihatan maupun tiada yang tanpa tanggapan penglihatan. Yang kedelapan adalah munculnya pembentukan kesadaran dalam yang tiada gambar, yaitu, pikiran yang melampaui dan pikiran yang tanpa objek tujuan. Yang kesembilan adalah munculnya pembentukan kesadaran yang diaktifkan bersama-sama dengan penderitaan, yaitu, pikiran tentang makhluk di neraka. Yang kesepuluh adalah munculnya pembentukan kesadaran bersama-sama dengan banyak perasaan yang bercampur, yaitu, pikiran yang diaktifkan melalui nafsu keinginan. Yang kesebelas adalah munculnya pembentukan kesadaran yang diaktifkan bersama-sama dengan kegembiraan (prīti), yaitu, pikiran dari dua meditasi pertama. Yang kedua belas adalah munculnya pembentukan kesadaran yang diaktifkan bersama-sama dengan kebahagiaan (sukha), yaitu, pikiran dari meditasi ketiga. Yang ketiga belas adalah munculnya pembentukan kesadaran yang diaktifkan bersama-sama dengan tiada penderitaan maupun tiada kebahagiaan, yaitu, pikiran dari meditasi keempat pada yang tiada tanggapan penglihatan maupun tiada yang tanpa tanggapan penglihatan. Yang keempat belas adalah munculnya pembentukan kesadaran bersama-sama dengan kekotoran, yaitu, pikiran yang berhubungan dengan nafsu dan kecenderungan nafsu. Yang kelima belas adalah munculnya pembentukan kesadaran bersama-sama dengan kebaikan, yaitu, pikiran yang berhubungan dengan keyakinan, dan seterusnya. Yang keenam belas adalah munculnya pembentukan kesadaran bersama-sama dengan keadaan netral, yaitu, pikiran yang tidak terhubung dengan kekotoran atau kebaikan."
"Apa itu mengetahui dengan baik tinggal berdiamnya pikiran? Ini berarti bahwa Mereka sungguh mengetahui Tathatā dari pemahaman."
"Apa itu mengetahui dengan baik keberangkatan pikiran? Ini berarti bahwa Mereka sungguh mengetahui pembebasan dari dua belenggu, oleh gambar dan oleh kelemahan, karena dengan mengetahui ini memungkinkan untuk menjauhkan pikiran darinya."
"Apa itu mengetahui dengan baik peningkatan pikiran? Ini berarti bahwa Mereka sungguh mengetahui pikiran yang mampu mengatasi belenggu dari gambar dan belenggu dari kelemahan, karena pada saat itu, ketika [gambar dan kelemahan] itu meningkat dan berkumpul, Mereka mencapai peningkatan dan pengumpulan [dari pikiran yang mengatasinya]. Ini adalah apa yang dimaksud dengan mengetahui peningkatan pikiran."
"Apa itu mengetahui dengan baik penurunan pikiran? Ini berarti bahwa Mereka sungguh mengetahui gambar yang harus dilenyapkan, pikiran lemah yang kotor, dan, ketika membuangnya atau menguranginya, ini adalah penolakan dan penurunan. Ini adalah apa yang dimaksud dengan mengetahui penurunan pemikiran."
"Apa itu mengetahui dengan baik cara bijaksana? Ini berarti bahwa Mereka sungguh mengetahui pembebasan, penguasaan, dan keseluruhan, ketika sedang mengolahnya atau mengakhirinya. Ini, Kulaputra, adalah bagaimana para Bodhisattva demi kekuasaan yang besar dari Bodhisattva, telah melakukannya, akan melakukannya, atau sedang melakukannya sekarang."
Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, seperti yang Anda telah ajarkan, dalam Nirvanadhatu yang tanpa skandha yang tersisa, semua perasaan sepenuhnya lenyap tanpa sisa. Apa perasaan yang selamanya lenyap itu?"
"Singkatnya, Kulaputra, ada dua jenis perasaan yang dilenyapkan tanpa sisa. Pertama adalah perasaan dari kelemahan tubuh, dan yang kedua adalah perasaan dari objek yang adalah hasil [dari perasaan dari kelemahan tubuh]. Ada empat jenis perasaan dari kelemahan tubuh : perasaan dari tubuh berbentuk, perasaan dari tubuh yang tidak berbentuk, perasaan dari kelemahan yang sudah membuahkan hasil, dan perasaan dari kelemahan yang belum membuahkan hasil. Perasaan yang sudah membuahkan hasil itu mengacu pada perasaan sekarang, sementara perasaan yang belum membuahkan hasil itu mengacu pada objek dari perasaan yang menjadi penyebab di masa depan. Perasaan dari objek yang adalah hasilnya juga ada empat jenis: perasaan dari tempat tinggal, perasaan dari nafkah penghidupan, perasaan dari menggunakan, dan perasaan dari ketergantungan. Dalam Penghentian yang menyisakan skandha, semua perasaan yang belum membuahkan hasil telah dilenyapkan, karena pada umumnya menyajikan pengalaman dari perasaan yang terlahir dari hubungan dengan kebijaksanaan, yang melenyapkan pengalaman dari itu [perasaan yang belum membuahkan hasil], dan dari perasaan yang sudah membuahkan hasil. Kedua jenis perasaan itu sudah terlenyapkan, dan orang hanya mengalami perasaan yang terlahir dari hubungan dengan kebijaksanaan. Namun dalam penghentian yang tanpa menyisakan skandha, pada saat penghentian akhir, bahkan ini [perasaan yang terlahir dari hubungan dengan kebijaksanaan] sepenuhnya terlenyapkan. Dengan demikian dikatakan bahwa di dalam Nirvanadhatu yang tanpa skandha yang tersisa, semua perasaan sepenunnya lenyap tanpa sisa." Dengan begitu, sang Bhagavan menyelesaikan penjelasan-Nya."
Kemudian sang Bhagavan menyapa sang Bodhisattva Maitreya dan berkata:. "Sangat baik, Kulaputra, sangat baik, bahwa Anda telah mampu bertanya kepada sang Tathagata tentang penyelesaian jalan yang paling murni dari guhya yoga. Anda sendiri telah pasti mencapai keterampilan tertinggi di dalam yoga, dan Saya telah mengumumkan kepada Anda jalan dari guhya yoga yang menakjubkan, sempurna dan paling murni. Para Bhagavan Buddha dari masa lalu atau masa depan telah mengajarkan atau akan mengajarkan Dharma seperti ini. Semua kulaputra dan kuladuhitrā harus dengan usaha yang tekun mengolahnya."
Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk menegaskan arti-Nya :
Dalam yoga yang terdirikan di dalam Dharma ini,
Jika orang sembrono, akan kehilangan manfaat yang besar itu.
Jika orang mempraktekkan secara benar berdasarkan Dharma yoga ini,
Akan mencapai Maha Bodhi.
Jika dalam mencari pencapaian, orang menolaknya dan mengkritiknya,
Mengambil pandangannya sendiri menjadi jalan untuk mencapai Dharma ini,
Maka, Maitreya, mereka sedang menjauh dari yoga ini,
Seperti jauhnya langit dari bumi.
Orang yang bandel tidak bekerja demi kepentingan makhluk,
Saat tercerahkan, tidak peduli tentang menguntungkan makhluk hidup,
Namun orang bijak mengerjakannya sampai akhir dari kalpa,
Dan mereka mencapai sukacita tertinggi yang tanpa noda.
Jika orang, dengan nafsu keinginan, mengkhotbahkan Dharma,
Meskipun dikatakan telah menolak nafsu keinginan, orang akan kembali mencengkram nafsu keinginan.
Para orang bodoh itu, yang telah memperoleh permata Dharma yang tidak ternilai,
Berbalik kembali dan berkeliaran dalam kemiskinan.
Menolak pertengkaran dan meninggalkan kemelekatan gagasan,
Timbulkan usaha yang unggul.
Demi menyelamatkan para dewa dan manusia,
Anda harus mempelajari yoga ini.
Pada saat itu, sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, bagaimana kami menamai Dharma dari penjelasan maksud yang mendasari ini? Bagaimana kami menghormatinya?"
Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata: "Itu, Kulaputra, dinamakan Dharma tentang arti yang jelas dari yoga, dan Anda harus menghormatinya seperti itu."
Ketika Dharma tentang arti yang jelas dari yoga ini diberitakan di dalam perkumpulan majelis itu, enam ratus ribu makhluk hidup menghasilkan pikiran yang bertekad untuk Anuttarāh Samyaksambodhi Abhisambuddha; tiga ratus ribu Śrāvaka mencapai pemurnian mata Dharma yang terbebas dari debu dan tanpa noda sehubungan dengan Dharma ini; seratus lima puluh ribu Śrāvaka melenyapkan kekotoran dan pikiran mereka mencapai pembebasan; dan tujuh puluh lima ribu Bodhisattva mencapai meditasi perenungan Maha Yoga.
____________________________________________________________________
Lima Kumpulan (pañca-skandha). Makhluk hidup tersusun dari lima kumpulan: rūpa (bentuk), vedanā (perasaan), saṁjñā (tanggapan penglihatan/gagasan), saṁskāra (pembentukan pikiran), dan vijñāna (kesadaran). Yang pertama adalah benda berwujud dan empat lainnya adalah pikiran. Karena empat ini bukan benda berwujud, hanya ditampilkan dalam bahasa penamaan, pañca-skandha diringkas sebagai Nama dan Rupa. Skandha juga berarti yang menutupi atau menyembunyikan, dan pekerjaan tetap dari pañca-skandha adalah menyembunyikan Tathatā (kenyataan yang sesungguhnya) dari makhluk hidup.