Author Topic: Maha Vairocana Abhisambodhi Vikurvit Adhisthana Vaipulya Sutrendraraja Nama Mahayana Suttram  (Read 2425 times)

  • Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 350
    • View Profile


Bab XIII
Tempat Masuk ke Pangkalan dari Mandala Rahasia

Kemudian sang Bhagavan Maha Vairocana memasuki samādhi 'pencapaian yang sama-setara (samapatti)', dan agar untuk mengamati para makhluk di masa depan Dia tinggal berdiam di dalam dhyana. Seketika itu juga 'tanah Buddha (Buddha-ksetra)' menjadi datar seperti telapak tangan, bertaburan dengan lima benda berharga, digantung dengan kanopi permata besar, dan dihiasi dengan gapura, yang memiliki bendera panji warna-warni, panjang dan luas dalam penampilan, dan lonceng permata, jerami putih, pakaian yang halus, dan spanduk perhiasan digantung indah sebagai hiasannya; di sudut-sudut dalam delapan penjuru arah bendera mani berdiri tegak, dan ada berbagai-macam kolam renang mandi yang penuh dengan air yang memiliki delapan kualitas khusus dan wangi, di mana burung yang jumlahnya tak terhitung seperti bebek mandarin, angsa, dan angsa leher panjang mengeluarkan suara yang cantik dan di mana bunga musiman dan bermacam-macam pohon tumbuh subur berkembang dan berdiri pada jarak di barisan, rimbun dan indah mengagumkan; dalam delapan arah untaian dari lima benda berharga dihubungkan bersama-sama; tanahnya lembut, seperti kapas, dan mereka yang menyentuh dan menginjaknya semuanya merasakan kesenangan; alat musik yang tak terhitung jumlahnya dimainkan secara alami selaras, suara mereka sangat indah dan sehingga orang akan ingin mendengar; dan ada istana, ruang besar, dan kursi yang secara batin dihasilkan diciptakan dalam menanggapi jasa pahala kebaikan para Bodhisattva yang tidak terhitung jumlahnya. Ada muncul sebuah raja besar bunga teratai, sang lambang dharmadhatu, yang dilahirkan oleh kebajikan dari sumpah Tathagata pada keyakinan-dan-pemahaman, dan tubuh Tathagata, yang memiliki sifat alami dharmadhatu, beristirahat di tengah-tengah itu dan membawa sukacita untuk para makhluk sesuai dengan berbagai-macam kesukaan mereka.

Kemudian, dari semua anggota tubuh sang Tathagata, yang kekuatannya tidak bisa dihalangi, ada seketika itu juga muncul tanda-tanda penghiasan dengan bentuk-bentuk dan warna yang tidak terhitung yang terlahir dari keyakinan dan pemahaman dalam sepuluh kekuatan kebijaksanaan, tubuh yang telah dipelihara oleh jasa pahala kebaikan dari 'kesempurnaan memberi (dana paramita)', 'kesempurnaan moralitas (sila paramita)', 'kesempurnaan kesabaran (ksanti paramita)', 'kesempurnaan kekuatan semangat (virya paramita)', 'kesempurnaan penyerapan meditasi (dhyana paramita)', dan 'kesempurnaan kebijaksanaan (prajna paramita)' pada yang tidak terhitung dari ratusan dari ribuan koti nayuta kalpa. Ketika Mereka telah muncul, didalam perkumpulan majelis besar di seluruh 'sistem dunia (lokadhatu)' Mereka mengucapkan syair-gatha ini dengan suara nyaring:

Buddha adalah yang paling luar biasa, dan cara bijaksana dan pengetahuan Mereka adalah yang tidak terbayangkan;

Kebijaksanaan Mereka tanpa 'Alaya (dasar kesadaran)' menggabungkan pertunjukan dharma.

Jika yogin memahami tahap tanda dharma dari 'dharma yang tidak bisa dipahami (sunyata dharma)',

Dia akan memahami apa yang tidak bisa dipahami dan mendapatkan [tingkat dari] Buddha dan Guru pembimging.

Ketika Mereka telah mengucapkan suara ini, 'Mereka (Para Buddha Nirmana-kaya)' masuk kembali kedalam 'Tubuh Dharma (Dharma-kaya)' Yang Tidak Terbayangkan dari sang Tathagata.

Kemudian sang Bhagavan kembali menyapa sang Vajradhara Guhyakadipati, dengan mengatakan, "Tuan yang baik, dengarkan dengan penuh perhatian pada [pertunjukan] Mandala dalam. Guhyakadipati, tempat tubuh (yaitu, tubuh orang) diberdayakan oleh pemberdayaan Mantra dan Guhya Mudra yang memiliki 'sifat alami (svabhāva)' dari dharmadhatu, karena sifat alami asli mereka adalah murni. Melalui perlindungan dari Karma-Vajra[sattva] semua kekotoran batin dibersihkan sepenuhnya, [yaitu,] kesalahan yang membingungkan seperti [keyakinan pada] diri, orang, mahluk, kehidupan, dilahirkan oleh pikiran, anak, dan pencipta.

"Sebuah 'mandala (altar)' persegi, memiliki empat pintu masuk, diakses dari arah barat, dan dikelilingi oleh jalan batas. Di dalamnya ada muncul sebuah raja besar bunga teratai, yang lahir dari pikiran dan delapan daun bunga: ia memiliki tangkai dan tersebar dengan benang sari, berwarna cerah, dan cantik. Di tengahnya adalah sang Tathagata, tubuh yang paling dihormati di seluruh dunia, yang telah melampaui tubuh, ucapan, pikiran dan 'bhumi (tingkat)', mencapai 'citta-bhumi (tingkat pikiran)', dan mencapai hasil yang khusus dan menyenangkan pikiran. Pada arah timur nya adalah Ratna-Ketu Tathagata, di selatan adalah Samkusumita-rāja Tathagata, di utara adalah Dundubhi-svara-nirghosa Tathagata, di barat adalah Amitayus Tathagata, di tenggara adalah Samantabhadra Bodhisattva, di timur laut adalah Avalokitesvara Bodhisattva, di barat daya adalah Mañjuśrīkumārabhūta Bodhisattva, dan di barat laut adalah Maitreya Bodhisattva. Di antara semua benang sari adalah Ibu dari para Buddha dan para Bodhisattva, dihiasi dengan Parivara-nya, Sadparamita, dan Samadhi. Di bawah disusun jumlah besar dari Vidyādhara dan yang penuh murka. Bodhisattva Raja dari para Vajradhara (yaitu, Vajrapani) bertindak sebagai tangkainya, dan Dia ditempatkan di samudra lautan yang tak habis-habisnya, dikelilingi oleh semua dewa dunia seperti dewa dari Suddhavasa dan seterusnya, tidak terhitung dalam jumlah mereka.

"Kemudian sang 'yogin (sang praktisi)', agar untuk mencapai Samaya, harus, dengan 'dupa, bunga, lampu, salep bubuk wangi, dan berbagai macam hidangan' yang 'dilahirkan/diciptakan' dari pikiran, buat itu untuk persembahan kepada para Mahluk Suci itu semua. Sebuah Udana mengatakan:

Mantra Yogin harus bersungguh-sungguh menggambar Mandala;

Menganggap dirinya sendiri sebagai 'Mahatman (Diri besar)', Dia memurnikan kotoran dengan huruf Ra.

Beristirahat di dalam sikap Yoga, Dia bermeditasi berpikir tentang para Tathagata,

Dan menganugerahkan di atas kepala para murid huruf A dengan 'Maha-anusvara (titik besar kekosongan)' (yaitu, AM).

'Orang bijak (asisten sang Acarya Mantra Yogin)' memberikan bunga yang indah [untuk para murid] dan menyuruh mereka menaburkannya di atas tubuh sang Acarya, sang guru.

Dia menjelaskan kepada mereka tempat [di dalam Mandala] untuk dipuja oleh para 'yogin (praktisi)' yang Dia lihat di dalam [dirinya sendiri].

Karena ini adalah Mandala yang tertinggi, Dia harus memberi [kepada mereka] Samaya. "