Recent Posts

Pages: 1 ... 8 9 [10]
91
Sang Buddha yang mengetahui Pikiran dalam Batin Mereka itu, kemudian menyapa Sang Maha Kasyapa dan bersabda:"Dihadapan Kedua belas Arahat ini, biarlah sekarang Aku mengantarkan-Nya ke dalam Penerangan Agung. Diantara Persidangan ini, Pengikut Agung-Ku Bhiksu Kaundinya, setelah mengabdi pada 62 ribu kotis Para Buddha akan menjadi Seorang Buddha yang bergelar Samantaprabhasa, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan manusia, Yang Telah Bangun, Yang Maha Agung. Kelima Ratus Para Arahat Yang Lain, yaitu Uruvilva Kasyapa, Gaya Kasyapa, Nadi Kasyapa, Kalodayin, Udayin, Aniruddha, Revata, Kapphina, Vakkhula, Cunda, Svagata, dan lain-lain-Nya, semuanya akan mencapai Penerangan Agung dan semua-Nya akan bergelar sama, yaitu Samantaprabhasa.

Pada saat itu, Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, bersabdalah Beliau dalam Syair:

"Bhiksu Kaundinya,
Akan melihat Para Buddha yang tak terhitung,
Dan sesudah berkalpa-kalpa asamkhyeya lewat
Mencapai Penerangan Agung.
Senantiasa memancarkan Cahaya Agung,
Sempurna dalam Kekuatan Ghaib,

Kemasyhuran-Nya tersebar diseluruh alam semesta,
Dipuja oleh semua umat,
Selalu mengkhotbahkan Jalan Agung,
Gelar-Nya akan menjadi Samantaprabhasa.
Kawasan-Nya akan menjadi suci,

Para Bodhisattva semuanya pemberani;
Semua-Nya menaiki Kendaraan-Kendaraan Yang Menakjubkan,
Siap akan melanglang ke semua negeri,
Dengan Persembahan yang tiada duanya,
Menyajikan kepada Para Buddha.

Sesudah membuat persembahan ini,
Hati Mereka akan merasa sangat bergembira
Semuanya segera kembali ke Kawasan-Nya Sendiri;
Demikianlah Daya Ghaib Mereka.

Masa Hidup Buddha itu akan selama 6 ribu kalpa,
Hukum-Nya yang Benar akan bergema dua kali masa Hidup-Nya,
Tiruan Hukum-Nya akan menggelora dua kali lipat masa-Nya.
Jika Hukum-Nya berakhir, maka Dewa dan manusia akan bersedih.

Ke 500 Bhiksu yang lain,
Satu persatu akan menjadi Buddha,
Dengan Gelar yang sama yaitu
Samantaprabhasa,
Secara bergantian masing-masing akan berkhotbah,

"Sesudah Kemusnahan-Ku
Si Dia akan menjadi Buddha,
Dunia yang Ia ajari
Akan seperti Dunia-Ku hari ini."
Kemegahan dari Kesucian Kawasan-Nya
Dan Kekuatan Ghaib-Nya,
Para Bodhisattva dan Sravaka-Nya,

Hukum-Nya yang Benar dan tiruan Hukum-Nya,
Masa lama kalpa-Nya,
Semuanya akan terjadi seperti apa yang telah dinyatakan tadi.
Kasyapa! Sekarang Engkau mengetahui

Kelima Ratus Orang yang percaya pada diri sendiri ini.
Kelompok Para Sravaka yang lain
Juga akan menjadi seperti Mereka.
Kepada Mereka yang tidak berada dalam Pesamuan ini
Engkaulah yang memaklumkan Titah-Ku."

Kemudian Kelima Ratus Arahat yang dimuka Sang Buddha itu, setelah menerima Penetapan ini, Semua-Nya diliputi perasaan gembira yang meluap-luap dan seketika Mereka bangkit dari tempat duduk-Nya serta pergi kehadapan Sang Buddha dan bersujud diKaki-Nya. Mereka menyesali perbuatan-perbuatan tercelanya dan memarahi diri Mereka sendiri dengan berkata :"Yang Maha Agung ! Tiada henti-hentinya Kami telah berpikir bahwa Kami telah mencapai Nirwana. Tetapi sekarang Kami sadar bahwa Kami semua hanyalah orang-orang bodoh. Karena betapapun juga Kami masih harus memperoleh Kebijaksanaan SangTathagata, dan tidak seharusnya merasa puas dengan Pengetahuan yang rendah.

"Yang Maha Agung ! Hal ini seakan-akan seperti seseorang yang pergi kerumah Teman akrabnya dan disitu Ia mabuk dan tertidur. Sementara itu Temannya yang harus menjalankan tugas kantornya, mengikatkan sebuah permata yang tak ternilai harganya didalam pakaian orang itu sebagai hadiah dan sesudah itu berangkatlah Ia. Orang yang sedang mabuk dan tertidur itu tidak mengetahui sedikitpun akan hal ini. Sesudah terbangun, kemudian Ia meneruskan perjalanannya sampai Ia tiba di beberapa negeri lain dimana untuk sandang dan pangan Ia mengeluarkan banyak tenaga dan usaha serta mengalami banyak kerja keras yang berlebih-lebihan, dan Ia merasa puas dengan apa yang Ia peroleh meskipun itu cuma sedikit. Akhirnya, secara kebetulan sang Teman menjumpainya dan berkata:"Hai Tuan ! Bagaimana engkau bisa berbuat hal demikian ini hanya untuk sandang dan pangan saja ? Karena menginginkan engkau berbahagia dan dapat memuaskan kelima keinginanmu, maka dahulu pada tahun itu, bulan dan hari itu, Aku ikatkan sebuah permata yang tak ternilai harganya didalam pakaianmu.

Sekarang sudah begitu lamanya benda itu tinggal disitu dan engkau karena tidak mengetahuinya maka engkau memperbudak dan bercemas diri untuk menjaga kelangsungan hidupmu. Betapa bodohnya ! Sekarang pergilah dan tukarkan permata itu dengan apa yang engkau perlukan dan berbuatlah sesukamu, bebas dari segala kemiskinan dan kekurangan."

"Sang Buddha juga seperti ini. Ketika Beliau Seorang Bodhisattva, Beliau mengajar Kami untuk memahami makna dari Kebijaksanaan Agung tetapi Kami segera melupakan-Nya tanpa memahami ataupun meresapi-Nya. Setelah mencapai Jalan Arahat, Kami merasa bahwa Kami telah mencapai Nirwana. Didalam usaha yang keras untuk hidup, maka kami telah memuaskan Diri Kami sendiri dengan kehinaan belaka, tetapi cita-cita untuk mencapai Kebijaksanaan Agung masih tetap ada dan tidak pernah hilang, dan sekarang Yang Maha Agung membangunkan Kami dan bersabda begini:"Para Bhiksu sekalian ! Apa yang telah Kalian capai bukanlah Nirwana yang sejati. Telah sekian lama Aku menyebabkan Kalian untuk memelihara Akar-Akar Kebaikan Buddha dan dengan Alasan-Alasan Yang Bijaksana, Aku telah menunjukkan suatu bentuk dari Nirwana. Tetapi Kalian malahan menganggapnya sebagai Nirwana sejati yang telah Kalian capai. Yang Maha Agung ! Sekarang Kita mengetahui bahwa Kita semua nyata-nyata Bodhisattva yang telah ditetapkan akan mencapai Penerangan Agung. Karenanya Kita sangat bergembira atas Pencapaian yang belum pernah Kita dapatkan itu."

Kemudian Ajnata-Kaundinya dan lain-lain-Nya menginginkan untuk memaklumkan maksud ini lagi, maka berkatalah Ia dalam Syair:

"Kami, demi mendengar Sabda-Nya
Yang menetapkan Kami dalam kesenangan yang tiada tara,
Berbahagia atas nasib Kita yang tak diharap-harapkan itu.
Dan dengan tulus menghormat Sang Buddha Yang Maha Bijaksana.

Sekarang dihadapan Yang Maha Agung,
Kita menyesali Diri Sendiri atas kesalahan-kesalahan Kita;
Meskipun Harta Sang Buddha yang berlimpah sedang menunggu

Dengan sekelumit KeNirwanaan
Kita, seperti orang yang dungu dan bodoh,
Segera menjadi puas.
Seperti halnya seorang yang miskin
Yang pergi kerumah seorang Temannya
Teman itu adalah seorang yang kaya raya
Menjamunya makanan-makanan yang istimewa dihadapannya.

Sebutir mutiara yang tak ternilai harganya
Ia ikatkan dipakaiannya sebelah dalam,
Pada waktu ia tidur dan tidak sadar.
Dengan diam-diam memberikannya dan berangkatlah ia

Orang itu ketika terbangun
Melanjutkan perjalanannya ke lain negeri
Untuk mencari sandang dan pangan agar tetap hidup,
Menderita banyak kesukaran demi hidupnya,
Merasa puas meskipun begitu sedikit,
Tiada berhasrat memperbaiki,

Tiada menyadari di dalam pakaiannya sebelah dalam
Terdapat sebutir permata yang tiada ternilai harganya.
Teman yang memberikan permata itu kepadanya
Pada akhirnya menjumpai orang miskin ini
Dan dengan pahitnya mencelanya,
Menunjukkan dimana permata itu terikatkan.

Orang yang miskin itu ketika melihat permata ini,
Dihinggapi kegembiraan yang besar;
Kaya dalam harta bendanya
Ia dapat memenuhi kelima keinginannya.

Begitu juga Kita.
Sekian lamanya Sang Buddha
Selalu mengasihi dan mengajar Kita
Untuk memelihara Cita-Cita Yang Paling Agung;
Tetapi karena ketidak-tahuan Kita,
Kita tidak meresapi ataupun memahami-Nya;
Memperoleh sedikit sekali tentang Nirwana,

Karena sudah merasa puas maka Kami tidak mencari apapun lagi.
Sekarang Sang Buddha telah menyadarkan Kami,
Dengan bersabda bahwa ini bukan Nirwana yang sejati
Hanya setelah mencapai Kebijaksanaan Buddha Yang Agung
Disitulah Nirwana yang sejati.

Sekarang setelah Kami mendengar dari Sang Buddha
Tentang Penetapan Kami dan Kemegahannya,
Serta menerima perintah sebagai imbalannya,
Jiwa dan Raga penuh rasa kebahagiaan."

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Penetapan Pencapaian Penerangan Sempurna 500 Orang Bhikku , Bab 8.
92
SUTTA BUNGA TERATAI DARI KEGAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB VIII


Namo Sarva Tathagatanam Maha Sukha Anuttara Parinirvana
Penetapan Pencapaian Penerangan Sempurna 500 Orang Bhiksu
Pada saat itu Purna, Putera dari Sang Maitreyani, setelah mendengar Khotbah Sang Buddha yang sedemikian Bijaksana, Sempurna dan Mengena; setelah mendengar Penetapan Para Penganut Terkemuka yang akan mencapai Penerangan Agung, dan setelah mendengar tentang nasib Mereka yang dahulu dan juga setelah mendengar tentang Kekuasaan dari Para Buddha yang tak terbayangkan, serta setelah menerima Ajaran Yang Tiada Duanya, maka hati-Nya merasa tersucikan dan merasa begitu bergembira. Seketika itu, Ia bangkit dari tempat duduk-Nya dan pergi kehadapan Sang Buddha serta bersujud di Kaki-Nya, kemudian menarik Diri-Nya ke samping sambil memandang Sang Buddha tanpa sedetikpun mengejapkan Mata-Nya dan berpikir demikian:"Yang Maha Agung sungguh sangat menakjubkan. Begitu ghaib Perbuatan-Nya sebagaimana Pernyataan Beliau untuk dunia ini yang banyak sekali. Dengan penuh Kebijaksanaan Beliau mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada seluruh mahluk dan mengangkat mereka keluar dari segala keadaan agar mereka bebas dari kemelekatan pada keakuan. Tiada Kata-Kata yang dapat menyatakan Jasa-Jasa Sang Buddha. Hanyalah Sang Buddha Yang Maha Agung yang mampu mengetahui segala kecenderungan sampai yang sekecil-kecilnya dari isi hati Kita yang paling dalam."

Kemudian Sang Buddha menyapa Para Bhiksu dengan bersabda:"Apakah Kalian mengenal Purna, Putera dari Sang Maitreyani ini? Aku selalu menganggap-Nya sebagai Orang yang paling terkemuka diantara Para Pengkhotbah Hukum Kesunyataan dan Aku selalu tiada henti-hentinya memuji Jasa-Jasa-Nya yang beranekaragam itu. Ia senantiasa bersemangat dalam memelihara dan membantu memaklumkan Hukum-Ku Kesunyataan ini. Diantara Keempat Golongan, Dialah yang telah mampu menunjukkan dan mengajarkan Hukum Kesunyataan ini dengan baik dan menyenangkan. Karena begitu sempurnanya Ia menafsirkan Hukum yang Benar dari Sang Buddha, maka Ia telah berjasa besar terhadap Para Kawan-Kawan Pengikut-Nya dari aliran Brahma. Kecuali Sang Tathagata, maka tiada seorangpun yang mampu menyamai kejelasan ceramah-Nya. Jangan mengira bahwa hanya Hukum-Ku sajalah yang Sang Purna dapat memelihara dan membantu memaklumkan-Nya. Tetapi Ia juga termasuk salah satu dari 90 kotis dari Para Buddha yang dulu, yang menjaga dan membantu memaklumkan Hukum Yang Besar dari Buddha. Diantara Para Pengkhotbah Hukum Kesunyataan itu, Dia jugalah yang paling terkemuka. Dan mengenai Hukum Kehampaan (Sunya) yang dikhotbahkan oleh Para Buddha, Ia juga memahami dan meresapi-Nya. Ia telah mencapai Keempat Tingkat dari Kebijaksanaan yang tak terhalangi dan selalu mampu mengkhotbahkan Hukum dengan adil dan benar tanpa merasa ragu ataupun bimbang.

Sempurna dalam menguasai Kekuatan Bodhisattva yang tak terbayangkan, maka sempurnalah hidupnya dengan selalu memelihara KeBrahmaan-Nya. Dalam masa-masa Buddha itu, semua orang menyebut-Nya sebagai Siswa Yang Sejati (Sravaka). Dengan Kebijaksanaan yang sedemikian itu, maka Sang Purna telah berjasa terhadap ratusan dan ribuan mahluk hidup yang tak terhitung serta mentahbiskan orang sebanyak asamkhyeya yang tanpa hitungan untuk mencapai Penerangan Agung. Demi untuk mensucikan Tanah Buddha-Nya, maka secara terus menerus Ia telah melaksanakan Tugas Seorang Buddha dan terus mengajar para mahluk hidup. Para Bhiksu sekalian ! Sang Purna juga merupakan Orang yang terkemuka diantara Para Pengkhotbah Hukum Kesunyataan pada waktu 7 Buddha dan sekarang ini Ia juga menjadi Orang yang terkemuka diantara Para Pengkhotbah Hukum Kesunyataan dibawah Aku.

"Diantara Para Pengkhotbah Hukum Kesunyataan yang dibawah Para Buddha yang mendatang dalam Kalpa Yang Arif ini, Iapun akan menjadi Orang yang paling terkemuka dan akan menjaga serta membantu untuk memaklumkan Hukum Kesunyataan dari Para Buddha yang tak terhitung dan tak terbatas, dengan mengajarkan dan menyelamatkan para mahluk hidup yang tak terbilang jumlahnya agar mereka mencapai Penerangan Agung. Demi untuk mensucikan Kawasan Buddha-Nya Ia akan selalu tekun dan bersemangat didalam mengajar para mahluk, sehingga sesudah berkalpa-kalpa asamkhyeya yang terbatas nanti, lama kelamaan akan memahiri jalan KeBodhisattvaan. Di dalam Lapangan itu, Ia akan mencapai Penerangan Agung dan akan bergelar Dharmaprabhasa, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan manusia, Yang Telah Sadar, Yang Maha Agung.

Buddha itu akan membuat tanah Buddha-Nya dari selaksa juta semesta dunia sebanyak pasir-pasir Sungai Gangga dengan 7 benda berharga untuk Bumi-Nya, dan tanah-Nya akan datar seperti telapak tangan yang tiada satupun tanah perbukitan ataupun lembah, selokan serta pasir, dan ditengah-tengahnya terisi dengan teras-teras dari 7 benda berharga. Istana-Istana dari Para Dewa-Nya akan terletak berdekatan di atas langit, dimana para manusia dan para dewa akan dapat saling bertemu dan saling melihat. Disana tidak akan ada jalan kejahatan ataupun jenis wanita, karena seluruh mahluk hidup akan dilahirkan dalam bentuk badan halus sehingga tidak ada hawa nafsu birahi lagi. Mereka akan mempunyai kekuatan yang tak terbayangkan dan tubuhnya akan memancarkan sinar cahaya serta mereka akan dapat terbang kemana saja sesukanya; kemauan dan ingatan mereka akan menjadi teguh serta mereka akan bersemangat dan berbudi luhur, semuanya serba berlapis emas dan terhiasi dengan 32 Tanda. Seluruh umat dalam kawasan-Nya akan senantiasa menggemari 2 macam santapan yaitu, yang pertama adalah santapan kebahagiaan didalam Hukum Kesunyataan sedang yang lain adalah santapan kegemaran dalam meditasi. Akan terdapat juga sekelompok asamkhyeya yang tak terbatas dan beribu-ribu koti nayuta Bodhisattva yang semua-Nya telah mencapai Kemampuan Agung Yang Tak Terbayangkan dan telah mencapai 4 tingkatan Kebijaksanaan Arahat yang tak terintangi serta telah memiliki kecakapan yang sempurna didalam mengajar segala jenis mahluk hidup. Para Sravaka-Nya tidak dapat diutarakan dengan hitungan maupun jumlahan dan semuanya akan mencapai Kesempurnaan dalam 6 Kemampuan yang tak tergambarkan, 3 Kesunyataan dan 8 Jalan Utama. Kawasan Buddha itu akan dihiasi dan disempurnakan dengan Keistimewaan-Keistimewaan Yang Tak Terbatas seperti tersebut diatas. Kalpa-Nya dinamakan Ratnavabhasa dan Kawasan-Nya akan dinamakan Suvisuddha. Masa hidup dari Buddha itu ialah berkalpa-kalpa asamkhyeya yang tak terbatas dan Hukum Kesunyataan ini akan tinggal selama itu. Sesudah Buddha itu moksha, Stupa-Stupa akan didirikan diseluruh Kawasan tersebut."

Pada saat itu Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali maka bersabdalah Beliau dalam Syair:

Wahai Para Bhiksu sekalian
Dengarkanlah dengan penuh perhatian
Bahwa Jalan yang telah dilalui Putra Buddha
Adalah Jalan Kebijaksanaan Sempurna
Yang Tiada terjangkau oleh daya pikiran

Mengetahui adanya mereka yang takut
Terhadap Kebijaksanaan Yang Agung ini
Dan mereka semua menikmati kehinaannya
Menyebabkan Para Bodhisattva menjadi
Sravaka dan PratyekaBuddha

Dengan penuh tanggung jawab dan berbagai cara
Mereka mentahbiskan berbagai macam mahluk
Dengan berkata: "Kita hanyalah Sravaka yang telah jauh tergeser dari Jalan Buddha."

Mereka telah membebaskan beribu-ribu mahluk
Semuanya telah menyempurnakan Jalan Mereka
Bahkan Mereka yang tidak mempunyai hasrat
dan bersikap acuh tak acuh akan menjadi Buddha

Didalam bathin Mereka tersembunyi
Prilaku dan tindak tanduk Bodhisattva
Meskipun diluarnya nampaknya sebagai Sravaka
Dengan sedikit keinginan pada hidup duniawi
Mereka benar-benar mensucikan Kawasan Buddha-Nya

Mereka menunjukkan seolah diri Mereka
Masih dihinggapi oleh lobha, dosa dan moha
Seolah-olah berpandangan seperti tak beragama
Demikianlah yang dilakukan oleh Pengikut-Ku
Dengan penuh Keyakinan menyelamatkan para umat

Jika Aku jelaskan seluruhnya tentang mahluk
Yang akan tumimbal lahir nanti
Maka para mahluk yang mendengarnya
Menjadi ternganga dan penuh kebimbangan

Sekarang Sang Purna ini
Dibawah ribuan koti dari Para Buddha
Yang terdahulu telah menyelamatkan dengan rajin
Dan telah memaklumkan dan melindungi
Hukum Kesunyataan dari Sang Buddha ini

Ia telah mencapai Kebijaksanaan Agung
Dan diantara Para Buddha Ia telah membuktikan
Bahwa Diri-Nya adalah Pengikut Yang Sejati
Yang dalam Pemahaman dan Pengetahuan

Di dalam berkhotbah Ia tidak pernah gentar
Ia mampu membuat hati semua mahluk gembira
Ia tidak pernah merasa letih di dalam membantu
Dan melaksanakan tugas-tugas Sang Buddha.

Setelah memperoleh Kemampuan Agung
Yang tidak dapat dibayangkan dengan pikiran
Mendapatkan Empat Kebijaksanaan Arahat
Yang mampu mengetahui kecerdasan orang lain
Demikian pula kebodohannya orang lain

Ia senantiasa mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan
Dengan menguraikan prinsip-prinsip dari Hukum ini
Ia telah mengajarkan-Nya kepada ribuan koti umat
Untuk memimpin mereka dalam perenungan
Dalam Kendaraan Hukum Kesunyataan Yang Agung ini
Dan mensucikan Tanah Buddha-Nya.

Dimasa mendatang Iapun akan memuliakan pula
Para Buddha yang tak terbatas jumlah-Nya
Melindungi dan membantu memaklumkan Hukum

Dimasa mendatang Iapun akan memuliakan pula
Para Buddha yang tak terbatas jumlah-Nya
Membantu memaklumkan Hukum Yang Benar ini
Dan Ia sendiri mensucikan Tanah Buddha-Nya
Dengan cara yang bijaksana tanpa gentar
Ia terus mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan ini
Dan membimbing para umat yang tiada terhitung
Untuk mencapai Pengetahuan Yang Agung ini
Memuliakan Para Tathagata dan menjaga
Kelangsungan dari Hukum Kesunyataan itu

Kemudian Ia menjadi Seorang Buddha
Dengan bergelar Dharmaprabhasa
Kawasan-Nya disebut Ratnavabhasa
Yang akan terbentuk dari 7 benda berharga
Dan Kalpa-Nya disebut Suvisuddha
Dengan Para Bodhisattva sekelompok besar
Yang jumlah-Nya berkoti-koti banyak-Nya

Seluruh-Nya mencapai Kemampuan Yang Agung
Yang Sempurna dan menakjubkan Kekuatan-Nya
Para Sravaka-Nya yang tak terhitung jumlah-Nya
Memenuhi Kawasan-Nya itu dengan Tiga Kesunyataan
Dan Delapan Jalan Utama, Yang Telah mencapai
Keempat Kebijaksanaan Arahat yang tak terhalangi

Demikian pula halnya dengan Para Wiharawan-Nya
Yang menghuni Kawasan itu akan bebas dari
segala nafsu yang menimbulkan birahi
Suci dan terlahir dalam penjelmaan
Terhiasi dengan segala tanda-tanda
Bahagia dalam Kebenaran Hukum Kesunyataan
Dan selalu Bergembira dalam Meditasi

Menghayati Hukum Kesunyataan dan Meditasi
Telah menjadi santapan rohani Mereka itu
Tanpa memikirkan lagi hal-hal yang lain
Tiada seorang jenis wanitapun berada disana
Tidak lagi ada jalan kejahatan disitu

Purna Sang Bhiksu telah Sempurna Jasa-Nya
Akan memperoleh Tanah Suci ini
Yang dihuni oleh Para Arif Bijaksana
Demikianlah hal yang luar biasa ini
Telah Kunyatakan secara singkat pada Kalian."

Kemudian Kedua Belas Arahat yang percaya pada Diri-Nya sendiri, berpikir demikian :"Betapa bahagianya Kami memperoleh Pengalaman yang belum pernah Kami dapatkan. Seandainya Yang Maha Agung berkenan meramalkan masing-masing Diri Kita tentang takdir yang mendatang nanti, betapa sangat gembira-Nya Hati Kami !"
93
Pada saat itu, Sang Buddha yang menginginkan memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam Syair:

"Sang Buddha Abhijnajnanabhibhu Yang Maha Bijaksana
Selama 10 kalpa duduk diatas Tahta Kebijaksanaan
Hukum Buddha belum juga diwahyukan
Masih belum mencapai jalan Buddha.

Dewa-dewa Kasurgan dan Raja-Raja Naga
Para Asura dan mahluk-mahluk lain
Tiada henti-hentinya menaburkan bunga-bunga surga
Untuk memuliakan Sang Buddha.

Para Dewa menabuh genderang-genderang surga Mereka
Dan membuat berbagai macam dendang.
Angin lembut yang harum meniup bunga-bunga yang layu
Sambil menghembus bunga-bunga lain yang indah segar.

Ketika 10 Kalpa kecil telah berlalu,

Beliau mencapai Jalan Buddha.
Para Dewa dan manusia di dunia
Semuanya diliputi perasaan sangat gembira.
Keenam Belas Putera dari Buddha itu,
Semua-Nya bersama Pengikut-Pengikut Mereka,
Beribu-ribu kotis mengelilingi Mereka,

Seluruhnya pergi kepada Sang Buddha.
Membungkuk rendah diKaki Sang Buddha,
Mereka memohon-Nya untuk memutar Roda Hukum Kesunyataan,
"Pahlawan Yang Suci ! Bersama hujan Hukum Kesunyataan, Isilah Kami dan yang lainnya!"
Betapa sulitnya menemui Yang Maha Agung:
Hanya sekali Beliau muncul dalam masa yang lama,
Dan kemudian membangunkan para mahluk
Beliau menggoncangkan semua benda.
Di dunia Kawasan Timur,
500 ribu kotis daerah wewenang,

Istana-Istana Brahma bergemerlapan dengan cahaya
Yang belum pernah ada sebelumnya.
Seluruh Para Brahma, demi melihat hal ini,
Mencari sampai Mereka mencapai Sang Buddha
Mereka memuliakan-Nya dengan menaburkan bebungaan
Dan mempersembahkan kepada-Nya Istana-Istana Mereka,
Memohon-Nya untuk memutar Roda Hukum Kesunyataan
Dan memuja-Nya dalam Syair.

Sang Buddha yang mengetahui bahwa saatnya belum tiba,
Menerima Permohonan Mereka, tetapi masih duduk dengan tenang.
Dari tiga Kawasan dan empat penjuru yang lain,
Yang diatas maupun yang dibawah, Mereka datang pula
Menaburkan bunga-bunga dan mempersembahkan Istana-Istana
Dan memohon Sang Buddha untuk memutar Roda Dharma,
"Betapa sulitnya menemui Yang Maha Agung;
Bersuka-citalah dalam Kasih-Mu Yang Agung,
Membuka lebar pintu-pintu dari indahnya embun,
Dan memutar Roda Hukum Kesunyataan!"

Sang Buddha Yang Maha Bijaksana
Menerima Permohonan Kelompok itu,
Memaklumkan kepada Mereka tentang Hukum-Hukum dari
Empat Kesunyataan dan 12 Nidana;
Ketidak-tahuan tentang usia dan kematian
Semuanya ada karena Kelahiran.
Semua kesengsaraan seperti ini,
Kalian semua harus tahu."

Tatkala Hukum Kesunyataan ini sedang dikhotbahkan,
600 ribu kotis nayuta mahluk
Mengakhiri kesengsaraan Mereka.
Seluruh-Nya menjadi Arahat.

Mulai saat itu Pencapai-Pencapai Jalan
Sudah tak terhitung lagi;
Menghitung Mereka selama ribuan kotis kalpa
Tidak akan mencapai ujungnya.

Kemudian Keenam Belas Putera-Putera Agung itu
Yang meninggalkan rumah-Nya sebagai Sramanera
Dengan serempak memohon Pada Sang Buddha:

"Khotbahkanlah Hukum Tentang Kendaraan Agung !
Kami dan Rombongan Pengikut-Pengikut Kami
Ingin mencapai Jalan Buddha semua-Nya.
Kami ingin menjadi seperti Yang Maha Agung,
Dengan Kebijaksanaan dan Mata Hati Yang Suci."

Sang Buddha yang mengetahui Pikiran Putera-Nya
dan Dharma dari kehidupan Mereka yang lampau,
Dengan alasan yang tak terhitung
Dan berbagai Perumpamaan,
Mengkhotbahkan Ke Enam Paramita
Dan hal-hal yang ghaib,
Membedakan Hukum yang nyata dari
Jalan Para Bodhisattva Mahasattva bertindak,
Dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan Sutta Bunga Teratai Yang Menakjubkan ini
Dalam Syair-Syair yang bagaikan pasir-pasir Sungai Gangga.
Ketika Sang Buddha telah selesai mengkhotbahkan Sutta itu,
Beliau memasuki sebuah ruangan yang sunyi untuk Bersamadhi,
Dengan pikiran yang terpusat Beliau duduk di satu tempat
Selama 84 ribu kalpa.
Seluruh Sramanera-Sramanera itu
Mengetahui bahwa Beliau belum akan muncul dari Samadhi-Nya,
Kepada para koti mahluk yang tak terhitung,
Mengajarkan Kebijaksanaan Agung Sang Buddha,

Masing-masing duduk diatas sebuah Tahta Hukum Kesunyataan,
Mengkhotbahkan Sutta Kendaraan Besar
Dan, sesudah beristirahat-Nya Sang Buddha,
Memaklumkan dan membantu Ajaran-Nya tentang Hukum itu.

Jumlah mahluk yang diselamatkan oleh
Setiap Sramanera-Sramanera itu ialah
600 ribu kotis umat
Sebanyak pasir-pasir Sungai Gangga.

Sesudah itu, Sang Buddha sirna,
Para Pendengar Hukum itu,
Didalam setiap tanah-tanah Sang Buddha,
Akan terlahir kembali bersama Sang Guru.
Keenam Belas Sramanera-Sramanera ini,
Dengan Sempurna melaksanakan Jalan Buddha,
Sekarang berdiam di 10 penjuru,
Masing-masing telah mencapai Penerangan Agung.
Kemudian yang mendengar Hukum Kesunyataan ini,
Masing-masing akan tinggal bersama Para Buddha.
Mereka yang masih tinggal dalam Sravaka
Lambat laun akan diajar Jalan Buddha.
Aku adalah salah satu dari Keenam Belas itu,
Dan telah Berkhotbah kepada-Mu dari semula.
Oleh karenanya, dengan Kebijaksanaan-Ku,
Aku bimbing Kalian menuju Kebijaksanaan Sang Buddha.

Karena Hubungan yang dulu ini,
Sekarang Aku khotbahkan Hukum Kesunyataan Sutta Bunga Teratai Yang Menakjubkan itu
Agar Kalian masuk ke Jalan Buddha,
Waspadalah jangan sampai menaruh rasa takut!
Bayangkanlah seandainya ada sebuah jalan yang berbahaya,
Terputus-putus dan penuh binatang-binatang berbisa,
Tanpa adanya air maupun rerumputan,
Suatu daerah yang mengerikan bagi manusia.

Beribu-ribu jumlah yang tak terhitung,
Ingin lewat sepanjang jalan yang berbahaya ini,
Suatu jalanan yang betul-betul jauh untuk dicapai
Sepanjang 500 yojana.

Kemudian muncullah seorang Pemimpin,
Yang berkepribadian Kuat dan Bijaksana, Cerdas dan Arif,
Yang di dalam bahaya menyelamatkan semuanya itu dari ancaman.
Tetapi semua orang-orang itu menjadi letih
Dan berbicara kepada Pimpinan sambil berkata:
"Kita sekarang sangat lelah dan payah
Dan ingin kembali dari sini."

Sang Pemimpin berpikir begini,
"Orang-orang ini sangat patut dikasihani.
Bagaimana bisa Mereka ingin kembali
Dan melepaskan Harta Yang Sedemikian Besar itu?"
Pada saat itu, Ia memikirkan suatu daya upaya
"Baiklah saya jalankan Tenaga Ghaib
Dan membuat sebuah Kota ghaib yang besar,
Dengan megah terhiasi rumah-rumah,
Dikelilingi oleh petamanan dan semak-semak
Saluran-saluran air dan kolam-kolam mandi,
Pintu-Pintu gerbang yang besar dan menara-menara yang menjulang,
Yang penuh dengan orang-orang laki-laki dan perempuan."

Setelah membuat penjelmaan ini,
Dia menentramkan Mereka sambil berkata, 'Janganlah Kalian takut !
Masuklah Kalian kedalam kota ini,
Dan biarlah masing-masing bersuka ria semuanya.'
Ketika orang-orang telah masuk dalam kota itu,
Hati Mereka penuh dengan kegembiraan,
Semuanya hanya berpikir tentang istirahat dan ketenangan
Dan mengira bahwa Mereka telah selamat.

Ketika Sang Pemimpin tahu bahwa Mereka telah beristirahat,

Dia mengumpulkan dan menyapa Mereka dengan berkata,
"Kalian Semua lanjutkanlah !
Ini hanyalah sebuah kota khayalan.
Karena melihat Kalian Semua kepayahan,
Dan ingin kembali ditengah-tengah jalan,
Maka Aku, dengan suatu akal,
Membuat kota ini untuk sementara waktu.

Sekarang majulah Kalian dengan tekun
Bersama-sama ke Tempat Permata itu."
Akupun juga begitu,
Menjadi pemimpin seluruh mahluk.
Karena melihat para pencari-pencari Jalan itu,
Ditengah jalan menjadi letih,
Dan tidak dapat melewati jalanan-jalanan yang berbahaya itu,
Tentang maut dan perkara-perkara duniawi,
Maka Aku dengan Kuasa Kebijaksanaan-Ku
Demi keselamatan mereka Aku khotbahkan Nirvana,
dengan berkata,

"Penderitaan Kalian telah berakhir,
Kalian telah menyelesaikan pekerjaan Kalian."
Ketika Aku tahu bahwa Kalian telah mencapai Nirvana.
Dan semuanya menjadi Arahat
Kemudian Aku kumpulkan Kalian Semua,
Dan Ku Khotbahkan Hukum Kesunyataan Yang Sebenarnya kepada Kalian.
Para Buddha dengan Kuasa Kebijaksanaan, Mereka
Secara terpisah mengkhotbahkan keTiga Kendaraan itu;
Tetapi hanya ada Satu Kendaraan Buddha.
Hanyalah untuk tempat peristirahatan saja bahwa
Ke Dua Kendaraan itu dikhotbahkan.

Sekarang Aku khotbahkan Kebenaran kepada Kalian;
Apa yang telah Kalian capai bukanlah Kesirnaan yang nyata.
Demi untuk mencapai Pengetahuan Yang Sempurna dari Sang Buddha,
Bekerjalah dengan penuh semangat !
Jika telah Kalian buktikan tentang Pengetahuan Sempurna,
Kesepuluh kuasa dan lain-lainnya dari Hukum-Hukum Kesunyataan Sang Buddha,
Dan menyempurnakan ke 32 Tanda,
Kemudian itulah Kemusnahan Yang Nyata.
Para Buddha, Para Pemimpin,
Demi untuk memberi peristirahatan, Mereka menyebutnya Nirvana,
Tetapi menyadari bahwa istirahat ini akan berakhir,
Mereka membimbing-Nya menuju ke Kebijaksanaan Sang Buddha."

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Rasa Taat Dan Bakti Di Jaman Dahulu , Bab 7.
94
"Kemudian Keenam Belas Sramanera Bodhisattva Mahasattva yang mengetahui bahwa Sang Buddha telah memasuki ruangan itu dan sedang asyik Bersamadhi, maka masing-masing menduduki Tahta Hukum Kesunyataan dan selama 84 ribu kalpa pula, Mereka berkhotbah secara panjang lebar tentang Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan kepada Keempat Golongan itu. Masing-masing dari Mereka itu menyelamatkan 600 ribu kotis nayuta dari para umat yang jumlahnya seperti pasir-pasir Sungai Gangga itu; menunjukkan, mengajarkan, menguntungkan dan menggembirakan mereka serta memimpinnya mengembangkan Hakekat Dari Penerangan Agung.

"Setelah 84 ribu kalpa berlalu, Sang Buddha Yang Maha Bijak bangkit dari Samadhi-Nya dan pergi menuju ke Singasana Hukum Kesunyataan serta dengan tenang duduk diatasnya."Sambil menyapa seluruh Pertemuan Agung itu, Beliau bersabda:
Jarang sekali terdapat Sramanera Bodhisattva Mahasattva yang seperti Keenam Belas Orang ini, yang berwatak Luhur dan Bijaksana dan yang telah mengabdi ribuan kotis dari jumlah Para Umat Buddha yang tak terhitung banyaknya, dan yang terus menerus menjalankan Dharma Brahma kepada Para Buddha itu, dan yang telah menerima dan memelihara Kebijaksanaan Sang Buddha serta menurunkan-Nya kepada seluruh mahluk dan memimpinnya. Apakah Kalian semua telah memuja dan memuliakan Mereka berulang kali ? Karena betapapun juga jika Para Sravaka, PratyekaBuddha dan Para Bodhisattva Mahasattva dapat mempercayai Hukum Kesunyataan dari Sutta yang telah dikhotbahkan oleh Keenam Belas Bodhisattva Mahasattva, menerima dan memelihara-Nya tanpa merusak-Nya, maka seluruh Orang-Orang itu akan mencapai Kebijaksanaan Sang Tathagata dari Penerangan Agung."
,
Sang Buddha menyapa Para Bhiksu dan bersabda:"Keenam Belas Bodhisattva Mahasattva ini selalu bergembira dalam mengkhotbahkan Sutta dari Bunga Teratai Hukum Yang Maha Ghaib ini. Keenam ratus ribu kotis nayuta dari Para umat yang seperti pasir-pasir Sungai Gangga itu, yang Para Bodhisattva Mahasattva ini mentasbihkan dan melahirkan generasi demi generasi yang semuanya ini mengikuti Para Bodhisattva Mahasattva, mendengar tentang Hukum Kesunyataan itu dari Mereka dan seluruhnya mempercayai serta meresapi-Nya. Karena alasan-alasan inilah Mereka berhasil menemui 4000 kotis Para Buddha, Yang Maha Agung dan sampai saat ini Mereka tidak henti-hentinya melakukan hal itu.

"Para Bhiksu sekalian! Aku katakan kepada-Mu sekarang bahwa Pengikut-Pengikut Buddha yaitu Sramanera, semuanya telah mencapai Penerangan Agung. Diseluruh negeri dan disegala penjuru, pada saat ini Mereka sedang mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan itu dan telah mempunyai beratus ribu koti dari Bodhisattva Mahasattva dan Para Sravaka yang tak terhitung banyak-Nya sebagai pengikut Mereka. Dua Orang dari Sramanera-Sramanera itu menjadi Buddha didaerah Timur, Seorang bernama Aksobhya (Tiada benci dan marah) di kawasan Abhirati (Kegembiraan yang terwarnai oleh Ketakjuban), yang satunya lagi bernama Merukuta; Buddha yang dua lagi dikawasan Tenggara, yang Seorang bernama Simhaghosa, yang satunya lagi bernama Simhadhvaja; sementara Buddha yang dua lagi dikawasan selatan, yang Seorang bernama Akasapratisthita, yang satunya lagi bernama Nityaparinirvrita; Buddha yang dua lagi dikawasan barat daya, yang Seorang bernama Indradhvaja, sedang yang satunya lagi bernama Brahmadhvaja; Dua Buddha lagi dikawasan Barat, yang Seorang bernama Amitayus (Cahaya Tanpa Batas), sedang yang satunya lagi bernama Sarvalokadhatupadravodvegapratyuttirna; Dua Buddha lagi berada dikawasan Barat Laut, yang Seorang bernama Tamalapatracandanagandhabhijna, sedang yang satunya lagi bernama Merukalpa;Dua Buddha lagi berada dikawasan Utara, yang Seorang bernama Meghasvarapradipa, sedang yang lain bernama Meghasvararaja; Buddha yang berada dikawasan Timur Laut bernama sarvalokabhayacchambhitatvavidhvamsanarakara, Dan yang terakhir ialah Aku sendiri, Sakyamuni Buddha yang telah mencapai Penerangan Agung di dalam kawasan alam semesta (Saha Loka dhatu).

"Para bhiksu sekalian ! Jika Kita menjadi Sramanera, maka masing-masing mengajar dan mentasbihkan beratus ribu kotis mahluk yang seperti pasir-pasir Sungai Gangga, dan mereka yang mendengar Hukum Kesunyataan dari Aku akan mencapai Penerangan Agung. Diantara mahluk-mahluk ini sampai saat sekarang terdapat beberapa yang masih tetap pada tingkatan Sravaka. Terus menerus Aku perintahkan Mereka dalam Penerangan Agung agar supaya Orang-Orang ini akan masuk ke dalam Jalan KeBuddhaan lewat Hukum Kesunyataan ini. Karena betapapun juga Kebijaksanaan Sang Tathagata sangat sulit dipercaya dan dipahami. Seluruh mahluk-mahluk itu yang banyaknya seperti pasir-pasir Sungai Gangga yang Aku tasbihkan pada waktu itu hanya Kalian, Para Bhiksu, dan mereka akan menjadi pengikut-pengikut Sravaka-Ku pada dunia yang mendatang nanti sesudah kesirnaan-Ku.

"Sesudah kesirnaan-Ku akan terdapat pengikut-pengikut-Ku yang tidak mendengarkan Sutta ini ataupun mengetahui maupun memahami Ajaran yang dianut Para Bodhisattva Mahasattva, dan dengan usahanya sendiri akan menemukan makna tentang kesirnaan dan memasuki apa yang mereka sebut Nirvana. Tetapi dikawasan yang lain kemanapun Mereka pergi, Aku akan tetap menjadi Buddha meskipun dibawah nama-nama yang berbeda-beda. Orang-orang ini, meskipun Mereka memahami tentang kesirnaan dan memasuki apa yang mereka sebut Nirvana, namun masih tetap juga mencari Kebijaksanaan Sang Buddha dan berhasil juga mendengar Sutta ini. Hanya dengan Kendaraan Sang Buddha Mereka akan mencapai Kesirnaan Yang Sempurna. Tidak ada Kendaraan lain kecuali Ajaran Yang Bijaksana dari Sang Tathagata. Para Bhiksu sekalian ! Jika Sang Tathagata sendiri mengetahui bahwa saatnya Nirvana telah tiba dan perkumpulan itu suci, teguh dalam Kepercayaan serta Kemantapannya, dan setelah tertembusi oleh Hukum Kehampaan, asyik dalam meditasi, kemudian Beliau akan mengumpulkan seluruh Bodhisattva Mahasattva dan Sravaka untuk mengkhotbahkan Sutta ini kepada mereka. Di dunia tidak ada Kendaraan kedua untuk mencapai Kemokshaan, hanyalah ada satu Kendaraan Buddha untuk mencapai Kemokshaan. Ketahuilah Para Bhiksu sekalian ! Kebijaksanaan Sang Tathagata meresap dalam-dalam ke seluruh sanubari mahluk dan Beliau mengetahui juga bahwa mereka terikat oleh kesenangan akan hal-hal yang hina dan sangat terbelenggu oleh 5 keinginan. Demi hal-hal ini, Beliau mengkhotbahkan Nirvana. Jika mereka mendengar-Nya, mereka akan menerima-Nya dengan penuh keyakinan.

"Bayangkanlah seandainya ada suatu daerah yang penuh mara bahaya seluas 500 yojana dan disitu terletak satu jalanan yang sulit dan berbahaya serta jauh dari tempat tinggal manusia. Kemudian ada satu Rombongan Besar yang ingin melalui jalanan itu menuju ke Tempat Permata. Mereka mempunyai Seorang Penuntun Jalan Yang Bijaksana dan Cerdas yang mengetahui Jalanan itu dengan baik, dimana yang dapat dilalui dan dimana yang tidak, dan Dialah yang memimpin rombongan yang ingin melewati daerah yang penuh bahaya ini. Bayangkanlah seandainya Rombongan yang Ia pimpin itu menjadi letih ditengah jalan dan berkata:"Kami benar-benar kepayahan dan lagi pula merasa takut, Kami tidak dapat pergi lebih jauh lagi. Jalanan yang membentang di depan Kita begitu jauhnya, oleh karenanya marilah Kita kembali saja." Sang Pemimpin, Seorang yang sangat Bijaksana, berpikir demikian:"Orang-orang ini patut dikasihani. Bagaimana mungkin mereka dapat membuang Harta Yang Sedemikian Besar itu dan malahan ingin kembali ?" Karena berpikir demikian itu, maka dengan suatu akal, Ia secara ghaib menciptakan sebuah kota seluas 300 yojana ditengah-tengah jalanan yang berbahaya itu, kemudian berkata kepada rombongan tadi:"Janganlah Kalian takut dan jangan lupa kembali. Inilah sebuah kota yang besar
dimana Kalian dapat mengumbar segala keinginan Kalian. Jika Kalian masuk ke kota ini, Kalian akan cepat segar kembali. Dan jika Kalian sudah mampu melanjutkan Perjalanan ke Tempat Permata, maka lanjutkanlah."

"Kemudian Rombongan yang letih itu sangatlah bergembira dalam hati-Nya dan memuji-muji keuntungan Mereka yang tiada tara itu:"Sekarang Kita telah benar-benar terlolos dari jalanan yang berbahaya ini, dan marilah Kita segera beristirahat." Kemudian rombongan itu melangkah ke dalam kota ghaib tadi dan membayangkan bahwa mereka telah tiba ditempat tujuannya, maka tinggallah mereka dengan senang. Ketika Sang Pemimpin mengetahui bahwa rombongan itu telah beristirahat dan tidak lagi merasa letih, maka Ia memusnahkan kota ghaib tadi dan berkata kepada Rombongan itu:"Hai, cepatlah kalian Semua. Tempat Permata itu sudah ditangan. Aku menciptakan kota besar tadi hanya untuk beristirahat Kalian saja."

"Para Bhiksu sekalian! Demikian jugalah halnya dengan Sang Tathagata. Pada saat ini Beliau adalah Pemimpin Agung Kalian yang mengetahui segala kedukaan, keangkaraan, dan proses penjelmaan yang panjang, dan kalian semua akan terbebaskan dan terselamatkan dari hal-hal itu. Jika para mahluk hidup hanya mendengar tentang satu Kendaraan Buddha saja dan mereka tidak berkeinginan untuk melihat Sang Buddha maupun berkehendak mendekati-Nya, tetapi berpikiran demikian:"Jalan Buddha sangat begitu jauh dan panjang-Nya, hanya sesudah penderitaan yang lama dari kerja keras sajalah ujung Jalan itu dapat tercapai." Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran mereka lemah dan rendah maka dengan Kebijaksanaan Beliau, ketika mereka sedang dalam perjalanan, memberi tempat peristirahatan dan mengkhotbahkan 2 tingkatan Nirvana. Jika para mahluk itu telah tinggal dalam dua tingkatan ini, kemudian Sang Tathagata melanjutkan untuk memberitahukan mereka:"Kalian belum menyempurnakan Tugas Kalian. Tempat yang sedang Kalian diami adalah dekat dengan Kebijaksanaan Sang Buddha. Perhatikan dan renungkanlah bahwa Nirvana yang telah Kalian capai bukanlah Nirvana yang sesungguhnya! Hanyalah tentang hal itu yang Sang Tathagata, melalui Kebijaksanaan-Nya, didalam Satu Kendaraan Buddha memperbedakan dan membicarakan Ketiga-Nya. Seperti halnya dengan Sang Pemimpin tadi yang ingin memberikan Peristirahatan kepada Rombongan-Nya, dengan ghaib Ia mencipta sebuah kota yang besar dan sesudah Mereka beristirahat, kemudian Ia memberitahukan Mereka dengan berkata:"Tempat Permata sudah di tangan, dan kota ini bukanlah kota sesungguhnya tetapi kota ciptaan ghaib-Ku."
95
Tidak mendengarkan Hukum Kesunyataan dari Para Buddha
Selalu mengikuti jalan yang tidak benar
Tubuh, Kekuatan dan Kebijaksanaan Mereka,
Semuanya ini telah hilang;
Karena Karma yang penuh dosa,

Mereka kehilangan pikiran-pikiran Mereka.
Yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan
Terpancang pada pandangan-pandangan kolot
Tidak menyadari prilaku susila
Tidak menerima pembetulan dari Para Buddha,
Mereka selamanya terjatuh dalam jalan angkara.

Sang Buddha adalah pemimpin dunia
Datang sesudah jangka waktu yang lama.
Karena kasihan pada mahluk hidup,
Beliau turun di dunia,
Sempurna dalam Penerangan Agung-Nya.
Betapa besarnya kebahagiaan Kita
Dan seluruh mahluk -mahluk hidup yang lain
Berbahagia tidak seperti sebelumnya.

Seluruh Istana-Istana Kita
Menjadi indah karena sinar ini
Sekarang Kita persembahkan pada Yang Maha Agung
Sudilah kiranya menerima.
Semoga Amal Bakti ini
Meluas ke mahluk-mahluk lain
Sehingga Kita dengan seluruh umat
Dapat bersama-sama mencapai Jalan Buddha."

"Kemudian setelah ke 500 ribu koti dari Raja-Raja Maha Brahma memuja Sang Buddha dalam Syair itu, masing-masing berkata kepada-Nya:"Bergembiralah Yang Maha Agung dalam memutar Roda Hukum Kesunyataan; membahagiakan dan menyelamatkan begitu banyak umat." "Kemudian seluruh Raja Surga Maha Brahma itu berkata dengan Syair:

"Yang Maha Agung, putarlah Roda Hukum Kesunyataan
Tabuhlah genderang Hukum Kesunyataan seindah embun,
Selamatkanlah mahluk-mahluk sengsara
Bukalah jalan Nirvana !

Berbahagialah menerima permohonan Kami
Dan dengan getaran Ghaib-Mu Yang Agung
Kasih sayang menyebar kemana-mana
Hukum Kesunyataan yang telah Engkau jalankan selama banyak Kalpa."

"Pada saat itu Sang Tathagata Mahabhijnajnanabhibhu menerima Permohonan Para Raja Surga Maha Brahma dari 10 kawasan dan dari 16 Putera-Putera Agung-Nya. Kemudian dengan segera memutar Roda Hukum Kesunyataan sebanyak tiga kali dari 12 Bagian, yang tidak seorangpun dari Para Sramana, Brahmana, Dewa, mara, dan Para Brahma maupun mahluk dunia yang mampu memutar-Nya. Ceramah-Nya ialah:"Inilah penderitaan; Inilah sebab musabab penderitaan; Inilah kemusnahan penderitaan; Inilah jalan untuk melenyapkan penderitaan; dan secara panjang lebar Beliau mengajarkan Hukum dari 12 Nidana, yaitu:

Kegelapan Batin atau Ketidaktahuan menimbulkan Bentuk-Bentuk Karma
Bentuk-Bentuk Karma menimbulkan Kesadaran
Kesadaran menimbulkan Nama Rupa
Nama Rupa menimbulkan Enam Indriya
Enam Indriya menimbulkan Kontak
Kontak menimbulkan Perasaan
Perasaan menimbulkan Kehausan,Kegemaran,Kegiuran
Kehausan,Kegemaran,Kegiuran menimbulkan Kemelekatan
Kemelekatan menimbulkan Proses Penjelmaan
Proses Penjelmaan menimbulkan Kelahiran
Kelahiran menimbulkan Kelapukan, Kematian, Keluh Kesah, Sakit
Kelapukan, Kematian, Keluh Kesah, Sakit adalah akibat dari Kelahiran

Kelalaian dihancurkan maka Bentuk-Bentuk Karma menjadi hancur
Bentuk-Bentuk Karma dihancurkan Kesadaran menjadi hancur
Kesadaran dihancurkan Nama Rupa menjadi hancur
Nama Rupa dihancurkan Enam Indriya menjadi hancur
Enam Indriya dihancurkan Kontak menjadi hancur
Kontak dihancurkan Perasaan menjadi hancur
Perasaan dihancurkan Kehausan,Kegemaran,Kegiuran menjadi hancur
Kehausan,Kegemaran,Kegiuran dihancurkan Kemelekatan menjadi hancur
Kemelekatan dihancurkan Proses Penjelmaan menjadi hancur
Proses Penjelmaan dihancurkan Kelahiran menjadi hancur
Kelahiran dihancurkan maka Kelapukan, Kematian, Keluh Kesah, dan Sakit menjadi lenyap.

"Ketika Sang Buddha mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan ini ditengah-tengah para Dewa, manusia dalam pertemuan besar, 600 ribu kotis nayuta rakyat, tanpa terpengaruh Hukum-Hukum sementara, perasaan Mereka terbebas dari rasa salah dan seluruhnya mencapai Meditasi Pandangan Terang yang mendalam, 3 Kesunyataan dan 8 Jalan Utama. Begitu juga pada saat itu, sesudah tiga empat kali mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan itu, beribu-ribu kotis nayuta dari segala mahluk yang seperti pasir-pasir Sungai Gangga itu, dan tanpa terpengaruh oleh Hukum-Hukum sementara, perasaan Mereka terbebaskan dari ikatan kesalahan. Mulai saat ini kelompok Para Sravaka-Nya sudah tak terbatas dan tak terhitung lagi sehingga tidak mungkin lagi diutarakan dalam jumlah angka.

"Sementara itu keenam belas Yang Dikasihi Putera-Putera Agung-Nya yang semua masih muda belia itu meninggalkan rumah dan menjadi Sramana yang memiliki Keluhuran, Kebijaksanaan dan Kecerdasan. Mereka telah mengabdi beratus ribu koti dari Para Buddha dan Mereka selalu menjalankan Dharma Brahma dengan tulus serta mencari Penerangan Agung. Dengan serempak Mereka menyapa Sang Buddha dan berkata:"Yang Maha Agung! Seluruh ribuan koti dari Para Sravaka Agung dan Berbudi yang tak terhitung jumlah-Nya ini, Semua-Nya telah Sempurna. Yang Maha Agung ! Ajarkanlah juga kepada Kami tentang Hukum Penerangan Agung ! Dan jika Kami telah mendengar-Nya, pasti akan Kami laksanakan Ajaran itu."Yang Maha Agung ! Kami merindukan Pengetahuan Sang Tathagata. Segala uneg-uneg dalam dasar hati Kami yang paling dalam telah Engkau nyatakan dan Engkau ketahui."

"Kemudian Sang Buddha, atas permohonan Para Sramana ketika 2 ribu kalpa telah berlalu, berkhotbah dihadapan Keempat Golongan itu tentang Sutta Kendaraan Besar ini yang bernama, 'Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan'. Dengan Hukum Kesunyataan itulah Para Bodhisattva diutus dan Hukum Kesunyataan itu jugalah yang selalu terpelihara dan tersimpan dalam hati sanubari Para Buddha. Setelah Beliau selesai mengkhotbahkan Sutta ini, maka Keenam belas Sramanera yang demi Penerangan Agung itu semua-Nya telah menerima, memelihara dan mengajarkan serta meresapi-Nya.

"Ketika Sutta ini sedang dikhotbahkan, Keenam Belas Sramana Bodhisattva Mahasattva itu menerima-Nya dengan penuh Keyakinan, dan diantara Para Kelompok itu terdapat juga yang mempercayai dan meresapi-Nya, tetapi umat-umat yang lain dari beribu-ribu macam kotis semuanya menaruh rasa ragu dan bimbang."Sang Buddha mengkhotbahkan Sutta ini selama 8000 kalpa tanpa berhenti. Dan setelah Beliau selesai mengkhotbahkan Sutta ini, kemudian Beliau memasuki sebuah ruangan yang sunyi dan disitu Beliau bersamadhi selama 84 ribu kalpa.
96
"Kemudian seluruh Raja-Raja Surga Maha Brahma dengan berbareng memuji Sang Buddha didepan-Nya dalam Syair Yang berbunyi demikian:

"Begitu anehnya Yang Maha Agung,
Begitu sulit menemui-Nya,
Sempurna dalam segalanya
Mampu menyelamatkan semua.
Maha Guru dari para Dewa dan manusia
Beliau mengasihi dunia
Dimanapun menerima pertolongan-Nya.

Jarak yang telah Kita datangi
Ialah 500 ribu kotis daerah wewenang,
Meninggalkan kegembiraan yang mendalam
Demi Pengabdian Pada Sang Buddha.
Sebagai Pahala dari kehidupan Kita yang silam
Istana-Istana Kita terhiasi dengan indahnya;
Sekarang Kita mempersembahkannya Pada Sang Buddha
Dan memohon-Nya dengan tulus untuk sudi menerimanya."

"Kemudian setelah Para Raja Surga KeBrahman itu selesai memuja Sang Buddha dalam Syair tadi, kemudian masing-masing berkata:"Bersuka citalah Yang Maha Agung, untuk memutar Roda Hukum Kesunyataan, menyelamatkan seluruh umat dan membukakan Pintu Nirvana!"

"Kemudian Para Raja Surga KeBrahman itu dengan serempak berkata dalam Syair:

"O Pahlawan Dunia! Manusia Yang Mulia!
Bergembiralah memaklumkan Hukum Kesunyataan
Dengan Kekuasaan Kasih Sayang-Mu Yang Agung,
Selamatkanlah mahluk-mahluk hidup yang celaka!

"Kemudian Sang Tathagata Yang Maha Bijaksana dengan tenang memberikan persetujuan.

"Lagi, Para Bhiksu sekalian! Raja-Raja Agung Maha Brahma dikawasan tenggara dari 500 ribu koti daerah wewenang, masing-masing melihat istana-Nya berkilau bermandi cahaya yang belum pernah ada sebelumnya sehingga Mereka diliputi perasaan gembira yang meluap-luap dan kagum. Dan dengan segera Mereka saling mengunjungi untuk membicarakan hal ini. Sementara itu diantara Raja-Raja yang berkumpul itu, terdapat seorang Raja Surga Maha Brahma Agung yang bernama Dhimatrakarunika, Yang menyapa Para kelompok Para Maha Brahma itu dengan Syair:

"Apakah yang menyebabkan hal ini,
Sehingga tanda itu timbul?
Didalam seluruh Istana Kita
Belum pernah ada cahaya semacam itu.
Apakah Dewa Agung Yang Arif dilahirkan?

Apakah seorang Buddha datang di dunia?
Marilah Kita berlalu lewat ribuan tanah
Mencari sinar itu dan bersama-sama menjelaskannya.
Tentunya Sang Buddha telah datang didunia
Untuk menyelamatkan umat manusia yang sengsara."

"Kemudian ke 500 ribu dari kotis-kotis Raja Dewa Maha Brahma itu dengan seluruh kereta Istana Mereka yang masing-masing membawa sebuah karung yang berisi Bunga -Bunga Surga, pergi bersama-sama mengunjungi daerah tenggara untuk menyelidiki Tanda ini. Disana Mereka melihat Sang Tathagata Mahabhijnajnanabhibhu diatas Teras Kebijaksanaan dibawah Pohon Bodhi, sedang duduk diatas Tahta Singa dikelilingi dan dipuja oleh Para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, manusia dan yang bukan manusia. Dan Mereka melihat pula Keenam Belas Putera Agung Sang Buddha sedang memohon pada Sang buddha untuk memutar Roda Hukum Kesunyataan. Kemudian seluruh Raja-Raja Maha brahma itu menunduk dalam-dalam di depan Sang Buddha dan kemudian berpawai mengelilingi-Nya ratusan ribu kali serta menaburkan bunga-bunga surga itu diatas-Nya. Bunga-Bunga yang Mereka taburkan itu menjulang bagaikan gunung Sumeru yang Bunga-Bunga itu juga Mereka persembahkan pada Pohon Bodhi Sang Buddha. Setelah Mereka mempersembahkan bunga-bungaan itu, kemudian masing-masing mempersembahkan Istana-Nya kepada Sang Buddha dan berkata:"Kasihanilah Kami dan demi Kebaikan Kami, sudilah kiranya berkenan menerima Istana-Istana yang Kami persembahkan."

"Kemudian semua Raja Dewa-Dewa Maha Brahma itu dengan serempak memuji dimuka Sang Buddha dengan Syair berikut:

"Yang Maha Suci, Raja diantara Para Dewa,
Dengan suara semerdu suara Kalavinka,
Pengasih semua umat !
Kita sekarang sangat menghormati-Mu,

Jarang sekali Sang Buddha datang,
Hanya sekali dalam masa yang panjang,
Seratus delapan puluh kalpa
Telah mati kosong tanpa Seorang Buddhapun.
Ketiga dunia nafsupun menjadi penuh,
Sedang penghuni Surga kian berkurang.

Sekarang Sang Buddha telah datang di dunia
Menjadi pemimpin dari seluruh umat,
Peristirahatan seluruh dunia
Juru selamat dari semuanya.
Ayah dari seluruh mahluk
Yang menyayangi dan mengasihi semuanya.
Bahagia sepanjang karuna Kita yang terdahulu
Sekarang Kita berjumpa dengan Yang Maha Agung."

"Kemudian setelah Para Raja Surga Maha Brahma memuja dalam Syair, masing-masing berkata: Bersuka citalah Yang Maha Agung, mengasihi seluruh umat dan memutar Roda Hukum Kesunyataan serta menyelamatkan para mahluk!" "Kemudian Raja-Raja Surga Maha brahma itu dengan serempak berkata dengan Syair:

"Yang Maha Suci! Putarlah Roda Hukum Kesunyataan
Ajarkanlah Hakekat Hukum Kesunyataan
Selamatkanlah umat-umat yang sengsara
Sehingga mereka memperoleh kegembiraan yang besar .

Seluruh mahluk yang mendengar Hukum Kesunyataan ini
Memperoleh Jalan seakan-akan terlahir dalam Surga
Proses Karma yang kejam berkurang
Sedangkan pelaksana-pelaksana kebaikan meningkat.

"Kemudian Sang Tathagata dengan tenang memberikan Persetujuan.
"Lagi, para Bhiksu! Raja-Raja Maha Brahma Yang Agung dikawasan selatan dari 500 ribu koti daerah wewenang yang masing-masing melihat Istana-Nya berkilauan dengan cahaya yang belum pernah ada sebelumnya, Semua-Nya dihinggapi rasa gembira yang meluap-luap dan kagum. Dan serta merta Mereka saling mengunjungi untuk membicarakan masalah ini dengan bertanya-tanya:"Apakah gerangan sebabnya Istana Kita bercahaya berkilauan? Diantara para Raja yang berkumpul itu terdapat seorang Raja Surga Maha Brahma yang bernama Sudharma yang menyapa para Maha Brahma dengan Syair:

"Bahwa semua Istana Kita
Berkilau dengan cahaya yang gemerlapan
Tidak mungkin tanpa suatu sebab.
Marilah Kita selidiki tanda ini !
Melalui beratus ribu kalpa,
Belum pernah terlihat tanda yang seperti itu.
Apakah seorang Dewa Agung Yang Arif dilahirkan?
Apakah Seorang Buddha muncul didunia?

"Kemudian ke 500 koti dari Para Raja Maha Brahma itu dengan seluruh Kereta Istana Mereka yang masing-masing membawa sebuah karung yang berisi bunga-bunga surga, pergi bersama-sama kekawasan utara untuk menyelidiki Tanda ini. Disana Mereka melihat Sang Tathagata Mahabhijnajnanabhibhu duduk diatas Tahta Singa sedang dikelilingi dan dipuja oleh Para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, manusia dan yang bukan manusia. Dan Mereka juga melihat Keenam Belas Putera Agung Sang Buddha sedang memohon pada Sang Buddha untuk memutar Roda Dharma. Kemudian seluruh Raja-Raja Maha Brahma itu bersujud dalam-dalam di depan Sang Buddha dan kemudian berpawai mengelilingi-Nya ratusan ribu kali serta sesudahnya Mereka menaburkan Bunga-Bunga Surga diatas-Nya. Bunga-Bunga yang Mereka taburkan itu menjulang bagaikan gunung Semeru. Bunga-Bunga itu juga dipersembahkan kepada Pohon Bodhi Sang Buddha. Setelah Mereka mempersembahkan bunga-bunga itu, kemudian masing-masing mempersembahkan Istana-Nya sambil berkata:"Kasihanilah Kami dan demi Kebaikan Kami, sudilah kiranya menerima Istana yang Kami persembahkan!"

"Kemudian Raja-Raja Surga Maha Brahma itu dengan berbareng memuji di depan Sang Buddha, dengan Syair:

"Betapa sulitnya menemui Yang Maha Agung,
Yang memusnahkan segala penderitaan dunia!
Sesudah 130 kalpa,
Selama itu Kita sekarang baru menemui-Nya.
Kepada mahluk-mahluk yang lapar dan haus,
Beliau mencurahkan hujan Hukum Kesunyataan
Beliaulah Orang yang belum pernah Kita lihat sebelumnya,
Pemilik Kebijaksanaan Yang Maha Besar,
Jarang seperti Bunga Udumbara;
Hari ini telah Kita temui.
Seluruh Istana-Istana Kita
Menjadi indah karena sinar-Nya,
Yang Maha Agung! Dalam KasihMu Yang Besar
Kita berdoa semoga Engkau berkenan menerimanya."

"Kemudian setelah Para Raja Surga Maha Brahma itu memuja Sang Buddha dalam Syair tadi, kemudian masing-masing berkata: Bergembiralah Yang Maha Agung untuk memutar Roda Dharma dan membuat seluruh dunia para Dewa, mara dan Brahma menjadi terhibur dan terbebas !" "Kemudian Raja-Raja Surga Maha Brahma itu serempak memuja-Nya dalam Syair:

"Bersuka-citalah Yang Dimuliakan Para Dewa dan manusia,
Memutar Roda Hukum Kesunyataan Yang Maha Besar
Menabuh genderang dari Hukum Yang Agung,
Meniup terompet dari Hukum Kesunyataan,
Mencurahkan hujan yang menyeluruh dari Hukum Yang Agung,
Dan menyelamatkan umat yang tak terhitung banyaknya !
Kita semua mempersembahkan Diri kepada-Mu.
Ajarkanlah/Maklumkanlah berita yang berkumandang itu."

"Kemudian Sang Tathagata Mahabhijnajnanabhibhu dengan tenang memberikan Persetujuan.

"Kawasan barat daya sampai kekawasan yang rendah juga mengimbangi dalam cara yang sama.

"Kemudian dikawasan atas, Raja-Raja Agung KeBrahman dari 500 ribu koti daerah wewenang, yang melihat Istana-Istana dimana Mereka beristirahat menjadi berkilauan dengan cahaya yang belum pernah ada sebelumnya, maka Mereka diliputi perasaan gembira yang meluap-luap dan kagum. Dengan segera Mereka saling mengunjungi untuk memperbincangkan masalah ini sambil bertanya-tanya:"Apakah kiranya yang menjadi sebab dari cahaya ini dalam Istana Kita?" Diantara Para Raja yang berkumpul ini terdapat Seorang Raja Agung Surga Maha Brahma yang bernama Sikhi yang menyapa Para Maha Brahma itu dengan Syair:

"Sekarang apakah sebabnya
Sehingga seluruh Istana-Istana Kita
Berkilau dengan cahaya gemerlap semacam ini
Jauh lebih indah tidak seperti sebelumnya ?

Tanda yang indah seperti ini,
Sejak dulu belum pernah Kita dengar dan Kita lihat.
Apakah Seorang Dewa Agung Yang Arif dilahirkan?
Apakah Seorang Buddha muncul di dunia?

"Kemudian ke 500 kotis Raja-Raja Surga Maha Brahma itu, dengan seluruh Kereta Mereka yang masing-masing membawa sekarung bunga-bunga surga, pergi bersama-sama mengunjungi kawasan bawah untuk menyelidiki Tanda ini. Disana Mereka melihat Sang Tathagata Mahabhijnajnanabhibhu diatas Teras Kebijaksanaan dibawah pohon Bodhi sedang duduk diatas Tahta Singa dikelilingi dan dipuja oleh Para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, manusia dan yang bukan manusia. Pun pula Mereka melihat Keenam Belas Putera-Putera Agung Sang Buddha sedang memohon pada Sang buddha untuk memutar Roda Dharma. Kemudian Para Raja Surga Maha Brahma itu dengan serempak memuji Sang Buddha, di depan-Nya, dalam Syair:

"Alangkah untungnya melihat Sang Buddha,
Yang Maha Suci, Yang menyelamatkan dunia,
Yang dapat memerintah neraka tribuana
Untuk membebaskan mahluk hidup.
Yang Maha Bijaksana, yang dimuliakan Para Dewa dan manusia

Yang mengasihi para tunas-tunas muda
Yang dapat membuka pintu-pintu dari embun yang indah.
Untuk kebebasan semuanya.
Berkalpa-kalpa yang tak terhitung dimasa silam
Telah mati kosong tanpa Para Buddha;
Sementara Yang Maha Agung belum muncul,
Kegelapan menyengkeram dimana-mana

Timbullah ke tiga keadaan angkara
Tumbuh juga asura,
Sedangkan penghuni-penghuni Surga berkurang
Dan jatuh mati ke dalam kerajaan angkara;
97
NAMO BAHGAVATE ARYA TANDA SUMERU BUDDHAYA

Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan

BAB VII


Om Ratna Sambhava Tram
Rasa Taat Dan Bakti Di Jaman Dahulu
Sang Buddha menyapa Para Bhiksu dan bersabda:"Dahulu kala, pada asam khyeya kalpa yang tak terhitung, tak terbatas dan tak dapat di pastikan, adalah Seorang Buddha yang bernama Mahabhijnajnanabhibhu, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mancapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagiah, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Sang Bhagava yang kawasan-Nya disebut Sambhawa dan Kalpa-Nya dinamakan Maha Rupa. Para Bhiksu sekalian! Masa yang panjang berlalulah sudah, sejak Sang Buddha moksha. Seandainya saja unsur-unsur Bumi dalam sejuta sistem dunia dihancurkan oleh seseorang menjadi tinta dan kemudian ia harus melewatinya melalui seribu negeri dan meneteskannya setitik sebesar butiran debu, dan dengan melalui seribu negeri yang lain pula, ia meneteskannya setitik lagi. Begitu seterusnya sampai tinta yang terbuat dari unsur-unsur bumi itu habis. Kemudian bagaimanakah pendapat Anda sekalian? Mungkinkah bagi para ahli matematika atau pengikut-pengikutnya mencari ujung dari seluruh negeri-negeri ini atau memberikan suatu batasan sehingga dapat mengetahui jumlahnya? "Tidak mungkin Yang Maha Agung!" "Para Bhiksu sekalian! Bayangkanlah jika negeri-negeri yang telah dilewati oleh orang itu, baik yang sudah ditetesi tinta maupun yang belum itu seluruhnya dihancurkan menjadi debu dan kemudian membiarkan debu itu menjadi satu kalpa, maka masa sejak Sang Buddha itu moksha sampai sekarang masih melebihi jumlah-jumlah tadi dengan ratusan ribu koti dari asamkhyeya kalpa yang tak terhitung bilangannya dan tak terbatas banyaknya. Dengan kekuasaan Kebijaksanaan Tathagata, Aku mengetahui bahwa jangka waktu itu seolah-seolah hanyalah hari ini."

Pada saat itu Sang Buddha yang ingin menerangkan Ajaran ini kembali, dengan Syair:
"Aku ingat dalam dunia yang telah silam
Berkalpa-kalpa yang tak terbatas yang telah lalu,
Seorang Buddha, Manusia Yang Maha Agung,
Bernama Yang Maha Bijaksana Abhijnajnabhibhu.

Seandainya seseorang dengan kekuasaannya
Menghancurkan sejuta sistem dunia
Beserta unsur-unsurnya,
Menjadi tinta seluruhnya,
Dan dengan melewati seribu negeri

Kemudian ia meneteskannya setitik;
Dan melanjutkannya dengan cara yang serupa
Ia meneteskan seluruh tinta yang dibutirkan ini;
Andaikan seluruh negeri-negeri itu seperti ini,
Yang sudah ditetesi tinta maupun yang belum,
Dihancurkan pula menjadi debu,
Dan setiap butirnya menjadi satu kalpa
Jumlah butiran-butiran itu
Terlampaui oleh kalpa-Nya

Sejak Buddha itu moksha
Seperti itulah kalpa-kalpa yang tak terhitung itu.
Aku, Sang Tathagata, dengan Kebijaksanaan yang tak terintangi
Mengetahui Kemokshaan Buddha itu
Dan Para Sravaka serta Para Bodhisattva-Nya,
Seakan-akan hal itu sedang terjadi sekarang.

Ketahuilah Para Bhiksu!
Kebijaksanaan Sang Buddha adalah suci dan sejati
Tiada cela dan tak terintangi
Menembusi kalpa-kalpa yang tak terhingga jumlahnya.

"Kemudian Sang Buddha memandang Para Bhiksu dan bersabda:"Masa hidupnya Sang Buddha Mahabhijnajnanabhibhu ialah 540 ribu kotis nayuta kalpa. Pada mulanya ketika Buddha itu duduk diatas Tahta Kebijaksanaan telah menghancurkan tentara mara dan meskipun Ia sedang mencapai Penerangan Agung, Hukum-Hukum Sang Buddha belum diturunkan kepada-Nya. Jadi selama satu kalpa kecil sampai sepuluh kalpa kecil, Ia duduk bersila dengan jasmani dan rohani tiada bergerak akan tetapi Hukum-Hukum Sang Buddha belum juga diturunkan kepada-Nya.

"Kemudian para dewa dari Surga Kaindraan membentangkan Singgasana Singa bagi Buddha itu setinggi satu yojana dibawah Pohon Bodhi sehingga Buddha duduk diatas Singgasana ini akan dapat mencapai Penerangan Agung. Tidak lama sesudah Beliau duduk diatas Singgasana itu, Para Raja Surga KeBrahman menaburkan bunga-bunga diatas suatu tempat dari ratusan yojana tingginya. Angin lembut yang harum, sayup sampai menghembus bunga-bunga layu dan meniup bunga-bunga yang segar. Begitu terus tak putus-putusnya selama 10 kalpa kecil penuh mereka memuliakan Buddha itu, dan bahkan sampai kesirnaannya mereka masih terus menaburkan bunga-bunga itu, sedangkan para dewa yang termasuk 4 Raja Surga tiada henti-hentinya pula menabuh genderang kedewaan untuk menghormat Buddha itu, dan dewa-dewa yang lain juga memainkan irama dendang surga selama sepuluh kalpa kecil penuh dan terus berlangsung sampai mokshanya Buddha itu."

"Para Bhiksu sekalian! Sesudah sepuluh kalpa kecil berlalu, Sang Buddha Mahabhijnajnanabhibhu memperoleh Hukum-Hukum Ke-Buddhaan dan Penerangan Agungpun diturunkan kepada-Nya. Sebelum Buddha itu meninggalkan kediaman-Nya, Beliau mempunyai 16 putera yang tertua bernama
Jnanakara. Masing-masing Puteranya mempunyai bermacam-macam hiburan yang bernilai, tetapi ketika mendengar bahwa Sang Ayah telah memperoleh Penerangan Agung, maka Mereka semua membuang jauh-jauh segala jenis benda yang mereka hargai itu dan kemudian pergi untuk memuliakan Sang Buddha, sementara ibunya yang sedang menangis mengantarkan Mereka. Kakek Mereka, Raja Kakrairmn, bersama dengan 100 menterinya dan 100 ribu kotis rakyatNya, semua-Nya mengelilingi dan mengikuti Mereka ke Teras Penerangan serta ingin mendekat pada Sang Tathagata Yang Maha Bijaksana untuk mengabdi, memuja, memuliakan dan mengagungkan-Nya. Sesudah Mereka tiba, Mereka bersujud dengan kepala Mereka di depan kaki-Nya dan sesudah berpawai mengelilingi-Nya, Mereka memandang Sang Buddha sambil mengatupkan tangan dan memuji-Nya dengan Syair:

"Yang Dihormat Dunia",
Menyelamatkan seluruh mahluk hidup,
Sesudah berkotis-kotis tahun yang tak terhitung,
Sekarang Engkau telah menjadi Seorang Buddha
Dan sempurnalah sudah Ikrar-Ikrar-Mu
Baik benar pahala Kita yang tak terhingga,

Karena begitu jarangnya Sang Buddha muncul.
Pada satu tempat duduk 10 kalpa kecil telah berlalu,
Tubuh dan Anggota Badan-Mu
Tenang, penuh damai serta diam,
Dan dengan jiwa yang selalu hening,
Tiada pernah tergoda;

Engkau telah menyempurnakan Nirvarna yang kekal,
Dan dengan tenang tinggal dalam Hukum Yang Paripurna.
Sekarang dengan memandang Yang Maha Agung
Yang dengan tenang telah mencapai Jalan Buddha,
Kita telah memperoleh pahala yang baik
Dan mengucapkan selamat pada diri Kita sendiri
Dengan Kegembiraan besar.

Semua umat pernah menderita,
Buta dan tanpa pimpinan,
Tidak menyadari cara menindas derita,
Tidak juga cara mencari kebebasan,

Lewat malam yang panjang jalan kemurkaan telah meningkat,
Mengurangi Penghuni Surga,
Dunia telah berlalu dari kegelapan ke kegelapan,
Tanpa pernah sekalipun mendengar Nama Buddha.

Sekarang Buddha telah mencapai KeAgungan,
Kedamaian, Hukum Kesunyataan yang tiada cela,
Dan Kita semua begitu juga dewa dan manusia,
Mendapat keuntungan yang Maha Besar
Oleh karenanya Kita Semua memasrahkan Diri
Dan mempersembahkan hidup Kita pada Yang Maha Agung".

"Kemudian keenam belas Putera-Putera Agung ini setelah Mereka memuja Sang Buddha dalam Syair, kemudian memohon Sang Buddha untuk memutar Roda Dhamma sambil berkata:"Yang Maha Agung! Ajarkanlah Hukum Kesunyataan itu, dan berkahilah Kami, sayangilah dan rahmatilah Dewa-Dewa serta manusia!" Dengan mengulanginya dengan Syair Mereka berkata:

"Pahlawan Dunia! Tiada Bandingannya!
Diperindah dengan seratus tanda-tanda mulia,
Yang telah mencapai Kebijaksanaan Yang Agung;
Untuk Keselamatan Kita,
Dan seluruh lapisan mahluk;
Memperbedakan dan mengajarkanNya,
Sehingga Kita dapat memperoleh Kebijaksanaan ini !
Jika Kita telah mencapai Dunia Buddha,
Seluruh umat lainpun juga akan mencapai-Nya.
Yang Maha Agung ! Engkau Maha Tahu tentang kehidupan
Yang terkandung dalam batin mereka yang paling dalam
Jalan yang mereka lampaui.

Kemampuan mereka tentang Kebijaksanaan,
Kesenangan dan Amal baik mereka yang telah lalu
Karma timbul dari kehidupan mereka yang silam.
Yang Maha Agung! Engkau Maha Tahu tentang semua ini,
Berdoalah sepanjang putaran Roda Yang Maha Besar".

"Kemudian Sang Buddha bersabda pada Para Bhiksu:"Jika Sang Buddha Mahabhijnajnanabhibhu Yang Maha Bijaksana Mencapai Penerangan Agung, maka ke 500 ribu koti Dunia Buddha disegala penjuru, masing-masing akan tergoncang dengan cara yang berbeda-beda; bahkan tempat-tempat yang gelap diantara batas-batas itu dimana cahaya gemerlapnya matahari dan rembulan tidak dapat bersinar benderang, maka semuanya akan bermandi cahaya cemerlang. Mahluk-mahluk yang berada ditengah-tengahnya semuanya akan dapat melihat satu sama lainnya dan serempak mereka berseru:"Dari manakah seluruh mahluk-mahluk hidup yang tiba-tiba datang ini ?" Lagi pula istana-istana Para Dewa di kawasan-kawasan itu, bahkan istana Sang Brahmapun tergoncang dalam enam jurusan yang berbeda dan cahaya yang benderang memancar kesegala penjuru mengisi semua dunia melebihi terangnya sinar Surga.

"Kemudian diarah timur, istana-istana surga KeBrahman dari 500 ribu koti daerah wewenang seluruhnya tertempa gemerlapnya cahaya yang dua kali lipat dari Kecemerlangannya yang biasa. Dan masing-masing Raja dari Surga KeBrahman itu berpikir:"Karena apakah tanda-tanda ini muncul, sehingga istana-istana Kita sekarang ini terterangi tidak seperti dulu ?" Kemudian para Raja Surga KeBrahman itu saling mengunjungi untuk membicarakan masalah ini. Sementara itu diantara mereka yang berkumpul, terdapat seorang Raja Surga Maha Brahma Yang Agung bernama Sarvasattvatrata (Juru Selamat Untuk Semua) yang menyapa Para Maha Brahma dengan Syair:

"Didalam seluruh istana Kita semua
Belum pernah ada sinar seperti ini
Apakah kiranya yang menyebabkan?

Marilah Kita bersama-sama menyelidiki-Nya
Apakah seorang Dewa Yang Arif dilahirkan?
Apakah seorang Buddha muncul didunia,
Sehingga sinar yang benderang ini
Dimanapun menerangi semesta?"

"Kemudian Para Raja Surga KeBrahman dari 500 ribu koti daerah wewenang dengan seluruh kereta Mereka yang masing-masing membawa rumpun bunga surga, pergi bersama-sama mengunjungi daerah Barat untuk menyelidiki Tanda ini. Disana Mereka melihat Sang Tathagata Mahabhijnajnanabhibhu diatas Teras Kebijaksanaan dibawah Pohon Bodhi, duduk diatas Tahta Singa dan sedang dikelilingi serta dipuja oleh Para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, manusia dan yang bukan manusia. Dan Mereka melihat Keenam Belas Putera-Putera Agung Sang Buddha sedang memohon Pada Sang Buddha untuk memutar Roda Hukum Kesunyataan. Kemudian semua Raja-Raja Surga Maha Brahma itu menunduk dalam-dalam di depan Sang Buddha dan berpawai mengitari-Nya ratusan ribu kali serta menaburkan bunga-bunga surga itu diatas-Nya. Bunga-Bunga yang Mereka taburkan itu menjulang bagai gunung Semeru yang dipersembahkan pula pada Pohon Bodhi Sang Buddha. Pohon Bodhi itu tinggi-Nya 10 yojana. Dan setelah Mereka selesai mempersembahkan Istana-Nya pada Sang Buddha dan berkata:"Kasihanilah Kami dan demi Kebaikan Kami, berkenanlah kiranya menerima Istana-Istana yang Kami persembahkan!"
98
Pada saat itu Sang Buddha menyapa seluruh Persidangan Para Bhiksu dengan bersabda :"Sekarang Aku umumkan kepada Kalian bahwa Sang Maha Katyayana ini, didunia yang mendatang nanti, akan memuliakan dan mengabdi 8 Ribu Koti Para Buddha dengan bermacam-macam persembahan pemujaan dan penghormatan kepada Mereka. Sesudah Para Buddha itu Moksha, maka Mereka itu, akan mendirikan Stupa-Stupa setinggi seribu yojana dengan panjang dan lebar yang sama yaitu 500 yojana. Stupa-Stupa itu tersusun dari 7 benda berharga, emas, perak, Lapis Lazuli, batu-batu bulan, batu-batu mulia, mutiara dan cornelian, serta Ia akan menyajikan Stupa-Stupa itu dengan Karangan-Karangan Bunga, Wangi-Wangian, Bubuk Cendana, Dupa, Tirai Sutera, Bendera dan Panji-Panji. Sesudah ini, Dia dengan cara yang serupa pula akan mengabdi pada 2 Ribu Koti Para Buddha, dan sesudah melayani Para Buddha ini maka Ia akan menyempurnakan Jalan Bodhisattva dan menjadi Seorang Buddha dengan Gelar Jambunadaprabhasa, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia. Negeri-Nya akan datar dan lurus, dengan Kristal untuk lantai-Nya, terhias dengan Pepohonan Permata bersama dengan Pita-Pita Emas untuk membatasi Jalanan-Jalanan, Tanah-Nya diselimuti dengan Bunga-Bunga Indah, dan Kesucian pun meresap dimana-mana sehingga orang-orang yang melihat menjadi senang. Keempat Keadaan jahat tidak akan ada disana yaitu neraka, jiwa-jiwa yang lapar, binatang dan para asura, tetapi dewa-dewa dan manusia akan menjadi banyak dan ribuan koti Para Sravaka dan Bodhisattva yang tak terbatas akan menghiasi Kawasan-Nya. Masa Hidup-Nya Buddha itu ialah 12 Kalpa kecil, Hukum-Hukum-Nya yang benar akan tinggal di dunia selama 20 Kalpa kecil dan tiruan Hukum-Nya akan tinggal juga selama 20 Kalpa kecil".

Pada waktu itu, Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam Syair:

"Kalian Semua Kelompok Bhiksu !
Dengarkanlah Aku dengan penuh Perhatian !
Kata-Kata Yang Aku ucapkan
Adalah Benar dan Sempurna.

Sang Katyayana ini
Akan, dengan bermacam-macam persembahan yang baik sekali,
Menghormat Para Buddha.

Sesudah Para Buddha itu moksha
Ia akan mendirikan Stupa-Stupa dari 7 Benda Berharga
Dan juga dengan bebungaan dan wewangian,
Menghromati Peninggalan-Peninggalan Mereka

Dalam Penitisan-Nya yang terakhir
Ia akan memperoleh Kebijaksanaan Sang Buddha
Dan mencapai Penerangan Agung.

Tanah-Nya yang menjadi suci
Dan Ia akan menyelamatkan
Beribu-ribu koti mahluk yang tak terbilang
Akan dipuja oleh semuanya
Di setiap penjuru.

Keharuman Buddha-Nya
Tiada Seorangpun dapat melampaui,
Dan Gelar Buddha-Nya adalah
Jambunadaprabhasa

Para Bodhisattva dan Para Sravaka
Bebas dari ikatan perwujudan,
Tiada terbilang dan tiada dapat terhitung,
Akan menghiasi Kawasan-Nya."

"Kemudian Sang Buddha menyapa lagi Persidangan Agung itu sambil bersabda:"Sekarang Aku permaklumkan kepada Kalian bahwa Sang Maha Maudgalyayana ini, dengan bermacam-macam persembahan akan mengabdi kepada 8 Ribu Koti Para Buddha, memuja, memuliakan Mereka. Sesudah Para Buddha ini Mencapai Nirwana, maka Mereka masing-masing akan mendirikan Stupa-Stupa setinggi seribu yojana dengan panjang dan lebar yang sama yaitu 500 yojana. Stupa-Stupa itu tersusun dari 7 benda berharga, emas, perak, Lapis Lazuli, batu-batu bulan, batu-batu mulia, mutiara dan cornelian, dan Ia akan menyajikan Stupa-Stupa itu dengan Karangan-Karangan Bunga, Wangi-Wangian, Bubuk Cendana, Asap Dupa, Tirai Sutera, Bendera dan Panji-Panji. Sesudah ini, Dia dengan cara yang serupa akan mengabdi pada 200 Koti Para Buddha, dan kemudian Ia akan menjadi Seorang Buddha dengan Gelar Tamalapatracandanagandha, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia. Kawasan-Nya dinamakan "Kegembiraan Batin"(Manobhirama) dan Kalpa-Nya akan disebut "Penuh Kegembiraan"(Ratiprapurna), Tanah-Nya akan datar dan lurus dengan Kristal sebagai lantainya, terhiasi Pepohonan Permata serta tertaburi Bunga-Bunga indah dan Kesucianpun memerintah dimana-mana, sehingga orang-orang yang melihat menjadi gembira. Disana akan terdapat para dewa dan manusia serta Para Bodhisattva dan Sravaka yang jumlah-Nya sangat tak terhitung. Masa Hidup dari Buddha itu ialah selama 24 Kalpa kecil, Hukum-Nya yang benar akan tinggal didunia selama 40 Kalpa kecil, serta tiruan Hukum-Nya akan tinggal selama 40 Kalpa kecil juga."

Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dengan Syair:

"Pengikut-Ku ini
Sang Maha Maudgalyayana
Sesudah membuang Tubuh ini,
Akan melihat 8 Ribu
200 Ribuan Koti

Dari Para Buddha Yang Maha Agung,
Dan, demi Jalan KeBuddhaan,
Akan mengabdi dan memuja Mereka.

Diantara Para Buddha,
Selalu menjalankan hidup-Brahma
Selama berkalpa-kalpa yang tak terhitung,
Dia akan memelihara Hukum Sang Buddha.

Sesudah Para Buddha Moksha,
Dia akan mendirikan Stupa-Stupa dari 7 Benda Berharga,
Memperlihatkan menara emas-Nya di kejahuan,
Dan dengan Bebungaan, Wewangian, serta Irama Dendang,
Menghormat pada
Stupa-Stupa dari Para Buddha.

Sesudah mencapai sedikit demi sedikit
Jalan KeBodhisattvaan
Didalam Kawasan Kegembiraan Batin
Dia akan menjadi Seorang Buddha,
Bergelar Sang Tamalapatra,
Berkeharuman Cendana.

Masa Hidup Buddha itu
Akan menjadi 24 Kalpa.
Tiada henti-hentinya kepada para dewa dan manusia
Dia akan mengkhotbahkan Jalan Ke KeBuddhaan
Para Sravaka-Nya akan menjadi tak terhitung
Seperti pasir-pasir Sungai Gangga,

Sesudah mencapai 3 Kesunyataan,
6 Kemampuan yang tak terbayangkan
Dan daya ghaib yang dalam
Para Bodhisattva akan menjadi tak terbilang lagi,
Teguh kemauan-Nya dan bersemangat
Dalam Kebijaksanaan Sang Buddha,
Yang tidak pernah melakukan perbuatan tercela.

Sesudah Buddha ini Moksha,
Hukum-Nya yang benar akan tinggal
Selama 40 Kalpa kecil
Dan selama itu pula Hukum yang palsu juga tinggal.

Kalian semua, Para Pengikut-Ku,
Yang memiliki Kekuatan Yang Sempurna,
Sebanyak Lima Ratus,
Semua-Nya akan menerima Penetapan-Nya
Untuk menjadi Buddha

Didunia yang mendatang.
Dari Perkembangan-Ku dan Kalian Semua
Dalam dunia-dunia yang silam
Sekarang akan Aku tegaskan.
Kalian dengarkanlah dengan baik !"

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan, Tentang Penetapan Pencapaian Penerangan Sempurna, Bab 6.
99
SUTTA BUNGA TERATAI DARI KEGAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB VI


Om Vairocana Hum
PENETAPAN PENCAPAIAN PENERANGAN SEMPURNA
Pada saat itu, Sang Buddha setelah mengucapkan Syair ini, kemudian menyapa seluruh Peserta Pesamuan Agung itu sambil bersabda demikian:"Pengikut-Ku, Sang Maha Kasyapa ini, didalam dunia yang mendatang nanti, akan melayani 300 Ribu Koti Para Buddha Yang Maha Agung, mengabdi, memuja, memuliakan dan memuji Mereka serta secara panjang lebar memaklumkan Hukum Kesunyataan Yang Agung dan tak terbatas dari Para Buddha. Dalam Penitisan-Nya yang terakhir, Ia akan menjadi Seorang Buddha yang Bernama Rasmiprabhasa, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia, yang Kawasan-Nya disebut Kebajikan Yang Gemerlap (Avabhasapraptaya Lokadhatu) dan Kalpa-Nya disebut Maha Indah (Maha Vyuha Kalpa). Masa Hidup-Nya Sang Buddha itu akan berjumlah 12 Kalpa kecil, Hukum-Nya yang benar akan bergema didunia selama 20 kalpa kecil, dan tiruan Hukum-Nya akan tinggal pula selama 20 kalpa kecil. Kawasan-Nya akan menjadi indah, tiada kotoran, duri-duri, dan noda-noda yang kotor. Tanah-Nya akan rata dan lurus, tanpa ada tempat-tempat yang tidak rata, dan tidak ada pula tempat-tempat yang berlobang-lobang maupun bergunduk-gunduk, Tanah-Nya dari Lapis Lazuli berderetkan pohon-pohonan intan, tali-tali emas membatasi jalanan-jalanan, ditaburi dengan bunga-bunga indah dan Kesucian menggetar dimana-mana. Didalam Kawasan itu Para Bodhisattva hidup langgeng selama beribu-ribu koti yang tak terbatas, dengan Para Sravaka yang tak terhitung. Perbuatan-perbuatan mara tidak akan terjadi disana dan meskipun terdapat para mara dan orang-orang mara, namun mereka semua akan melindungi Hukum Sang Buddha."

Pada saat itu Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, kemudian bersabdalah Beliau dengan Syair:

Ketahulah O Para Bhiksu
Bahwa dengan Mata Buddha-Ku
Kulihat Sang Kasyapa ini
Dalam dunia yang mendatang
Sesudah berkalpa-kalpa lamanya
Akan menjadi Seorang Buddha

Disitu dalam Dunia yang mendatang
Dia akan mengabdi dan melayani
300 Ribu Para Buddha Yang Maha Agung

Demi Kebijaksanaan-Nya Sang Buddha
Dia akan melaksanakan Dharma-Nya
Seorang Brahma dengan Hati Tulus
Mengabdi kepada Yang Maha Tinggi
Dan Yang Maha Mulia dari umat manusia
Melaksanakan Kebijaksanaan Tertinggi
Dalam Penitisan Yang Terakhir
Dan kemudian menjadi Buddha

Negeri-Nya akan menjadi Suci
Tanah-Nya berlapiskan Lazuli
Pepohonan Permata berjajar
Di sepanjang jalan Negeri itu
Pita-pita emas membatasi jalanan
Menyenangkan hati yang melihatnya

Bebauan harum semerbak wangi
Bunga-bunga yang jarang ada
Bertumbuhan dimana-mana
Dengan tiap jenisnya nampak aneh
Menambah keindahan dan semarak alam

Tanah akan menjadi rata
Tiada satu gundukan dan lubang
Para Bodhisattva yang begitu banyak
Yang jumlah-Nya tidak dapat dinilai
Dengan Kehalusan Perasaan Mereka,
Akan mencapai Kekuatan Agung
Yang tidak dapat dibayangkan

Para Bodhisattva dengan sujud
Memelihara Sutta-Sutta Kendaraan Besar
Yang telah diberikan Oleh Sang Buddha
Para Sravaka Yang Tak Terhitung banyak-Nya
Dari Penitisan-Nya yang paling akhir
Yang sungguh tidak ada noda dan celanya
Putera-Putera dari Sang Raja Hukum
Akan berjumlah yang tiada terbatas banyak-Nya
Bahkan Mata dari Para Dewa
Tiada dapat mengetahui bilangan-Nya

Masa Hidup-Nya Para Buddha itu
Akan menjadi 12 Kalpa kecil
Hukum-Nya yang benar akan bergema
Berkumandang didalam alam semesta
Selama 20 Kalpa kecil lama-Nya
Demikian pula tiruan Hukum-Nya
Akan bertahan 20 Kalpa kecil pula
Demikianlah Kisah-Nya Sang Buddha
Yang Bercahaya Terang Kemilauan

Kemudian Sang Maha Maudgalyayana, Subhuti, Maha Katyayana dan lain-lain-Nya, dengan Hati gemetar Semua-Nya mengatupkan Tangan Mereka dan memandang ke Wajah Sang Buddha serta tidak sekejappun Mereka memandang kebawah, dan dengan serempak berkata dalam Syair:

O, Pahlawan Besar Yang Maha Agung
Raja Hukum Kesunyataan dari Sakya
Sayangi dan Kasihanilah Kami Semua
Berikanlah Kami Wejangan O Sang Buddha

Seandainya Engkau mengetahui
Apa yang tersirat didalam hati Kami
Maka Kau akan memberitahukan pada Kami
Tentang Kejadian-Kejadian yang akan datang

Wejangan Yang Maha Agung
Akan merupakan embun yang indah
Yang akan merubah panas menjadi dingin
Seperti halnya orang dari daerah paceklik
Yang sekonyong-konyong mendapatkan undangan
Untuk menghadiri suatu jamuan besar
Namun dalam hatinya masih ada keragu-raguan
Rasa takut menyebabkan tidak berani makan
Tetapi setelah diperintah oleh Baginda Raja
Barulah Ia dengan berani meyantap makanan itu

Seperti itulah halnya Kami
Sementara Kami sedang menimbang
Kekeliruan dari Hinayana
Kami belum mengetahui bagaimana caranya
Untuk mendapatkan Kebijaksanaan Agung
Dari Sang Buddha Yang Maha Bijaksana

Meskipun Kami mendengar Ajaran Sang Buddha
Yang Menyatakan Kami akan menjadi Buddha
Namun Hati Kami masih juga takut dan cemas
Seperti mereka yang tidak berani makan

Tetapi jika Kami menerima Sabda Sang Buddha
Barulah Kami merasa bahagia dan tenang
Pahlawan Besar Yang Maha Agung
Engkau benar-benar mempunyai tekad selalu
Untuk menentramkan dunia dan semesta ini
Berkenanlah Yang Maha Agung memberikan Wejangan
Seperti menawari orang lapar untuk berpesta

Kemudian Sang Buddha yang mengetahui Pikiran-Pikiran didalam Hati Para Pengikut-Pengikut lama itu, kemudian menyapa seluruh Para Bhiksu:"Sang Subhuti ini, dalam dunia yang mendatang, akan melayani 300 Ribu Koti Nayuta dari Para Buddha, mengabdi, memuja, memuliakan dan memuji Mereka, menjalankan Kehidupan Brahma, dan menyempurnakan Jalan KeBodhisattvaan. Dalam Penitisan-Nya yang terakhir, Ia akan menjadi Seorang Buddha Yang Bergelar Sasiketu, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia, Yang Kawasan-Nya disebut "Penghasil Permata" (Ratnasambhawa) dan Kalpa-Nya disebut "Memiliki Permata" (Ratnavabhasa). Negeri-Nya akan rata dan lurus dengan tanah Kristal, terhiasi dengan Pepohonan Permata, tanpa ada gundukan dan lobang-lobang, batu-batu kerikil, duri-duri, dan noda-noda kotor, bumi terselimuti bunga-bunga berharga, dan Kesucian memerintah dimana-mana. Orang-orang di Negeri itu akan tinggal pada Teras-Teras yang bertahta Manikam dan di Istana yang megah. Para Pengikut Sravaka akan menjadi Tak Terhingga dan Tak Terbilang yang Semua-Nya ini tidak akan dapat diutarakan dalam angka maupun perumpamaan, dan Kelompok Bodhisattva akan menjadi Beribu-Ribu Koti Nayuta Yang Tak Terhitung. Masa Hidup dari Buddha itu akan menjadi 12 Kalpa kecil, Hukum-Nya yang benar akan tinggal dalam dunia selama 20 Kalpa kecil dan tiruan Hukum-Nya akan tinggal juga selama 20 Kalpa kecil. Buddha itu akan tinggal dalam Kasurgan dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada para mahluk hidup serta menyelamatkan Bodhisattva-Bodhisattva dan Para Sravaka yang tak terhitung."

Pada saat itu Sang Buddha yang ingin mengutarakan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam Syair:

Wahai Perhimpunan Para Bhikku semua
Ada suatu yang hendak Kusampaikan
Kepada Kalian dan dengarkan dengan tekun
Renungkanlah apa yang akan Aku katakan

Pengikut-Ku yang lama Sang Subhuti
Ia akan menjadi Seorang Buddha
Yang Bergelar Sasiketu
Ia akan mengabdi kepada Para Buddha
Yang Ribuan Koti Jumlah-Nya
Ia akan mengikuti jejak Para Buddha
Yang menjadi Sempurna di Jalan Agung

Dalam Penitisan-Nya yang terakhir
Dia akan mendapatkan 32 Tanda-Tanda
Tegak dan Indah ibarat Gunung Permata
Kawasan Para Buddha akan menjadi Indah
Dalam Kemegahan dan Keagungan-Nya
Menyenangkan hati orang melihat-Nya

Sang Buddha ditengah-tengah-Nya
Akan menyelamatkan banyak mahluk
Dengan Hukum KeBuddhaan dari Beliau
Banyak Orang akan menjadi Bodhisattva
Yang mempunyai Kemampuan Yang Besar
Yang memutar Roda Dharma tak pernah surut

Kawasan-Nya selalu terhias Para Bodhisattva
Kelompok Sravaka yang jumlah-Nya tak terhitung
Yang Semua-Nya telah menyelami Hakekat Trikaya
Memuja penyempurnaan dalam Sadparamma
Selalu berjalan diatas Hasta Arya Marga
Selalu penuh dengan perasaan Hikmad dan Sadhu

Ketika Sang Buddha membabarkan Hukum Kesunyataan
Diri-Nya berubah menjelma menjadi suatu yang ghaib
Yang tidak dapat dipikirkan dengan daya pikir
Dari para dewa dan umat manusia.
Yang tersebar luas bagaikan pasir di Sungai Gangga

Semua-Nya dengan Tangan terkatub
Mendengarkan Sabda Sang Buddha dengan tekun
Yang akan hidup selama 12 Kalpa kecil
Hukum-Nya yang benar akan bergema didunia
Selama 20 Kalpa kecil lama-Nya
Dan tiruan Hukum-Nya akan bertahan pula
Selama 20 Kalpa kecil lama-Nya.
100
Para dewa dan manusia sepenuh hati
Semuanya mendengarkan Aku
Datanglah Kalian kemari dan saksikanlah
Yang Maha Mulia Yang Tiada Taranya
Akulah Yang Maha Agung Yang Tiada Bandingannya
Untuk memberikan kedamaian pada seluruh mahluk
Aku datang di dunia untuk mengkhotbahkan
Hukum Kesunyataan Yang Suci ini pada Kalian
Yang bagaikan embun yang bening hening
Satu-satunya Hukum Kesunyataan yang menuntun Kita
Untuk mencapai Kebebasan Nirvana

Dengan Suara Yang Tiada Bandingannya
Aku umumkan hakekat dari Hukum Kesunyataan ini
Dengan tiada henti-hentinya mengambil Kendaraan Besar
Sebagai pokok dari Ajaran yang akan Kuberikan
Aku memandang seluruh mahluk hidup
Dimana-mana dengan mata yang sama
Tanpa membeda-bedakan seseorang
Tanpa menyayangi ataupun membencinya

Karena Aku tidak mempunyai kegemaran
Atau watak yang pilih kasih pada siapapun
Aku khotbahkan Hukum Kesunyataan ini dengan Adil
Begitu Aku berkhotbah untuk satu orang
Begitu Aku berkhotbah untuk banyak orang
Dengan terus menerus Aku umumkan kemana-mana
Hukum Kesunyataan ini tanpa dipengaruhi
Oleh perasaan apapun yang tersirat di Hati-Ku

Waktu pergi dan datang, duduk dan berdiri
Aku tidak pernah merasa letih dan lelah
Ibarat curahan hujan menggenangi Bumi
Yang telah menyuburkan jagat raya ini

Mereka yang berwatak Agung
Adalah sebagai Pemelihara Hukum Kesunyataan ini
Dan mereka yang berwatak buruk
Sebagai Perusak Hukum Kesunyataan ini
Demikian pula kepada yang cerdas dan bodoh
Dengan perasaan yang sama Aku mencurahkan
Hujan Hukum Kesunyataan ini tanpa merasa lelah

Seluruh mahluk-mahluk hidup
Setelah mendengar Hukum Kesunyataan-Ku
Sesuai dengan daya pikiran mereka
Menemukan kembali kediamannya dibeberapa tempat
Sebagian hidup merana diantara para dewa
Atau diantara manusia atau para Raja-Raja
Pemutar Roda Dharma atau Sakra, Para Brahma
Dan para Raja-Raja yang lainnya

Semuanya ibarat pohon obat-obatan kecil
Mereka semua memahami Hukum Kesunyataan Yang Sempurna ini
Yang dapat mengantarkannya sampai Nirvana
Yang dapat mengolah dan membina kemampuannya
Yang tidak dapat dilukiskan
Memperoleh Tiga Pandangan Kesunyataan

Mereka yang tinggal di hutan sendirian
Yang selalu tekun melaksanakan Samadhi
Dan memperoleh tingkat Pratyeka Buddha
Semuanya ini ibarat seperti tanaman obat
Yang bentuknya lebih besar
Mereka yang mencari Kesempurnaan Buddha
Dengan ketetapan Hati bertekad :
"Kita akan menjadi Buddha"

Mereka yang melaksanakan kegiatan dan meditasi
Diibaratkan sebagai tanaman obat yang tersebar
Mereka ini adalah Putera-Putera Buddha
Yang dengan tulus berjalan dijalan Sang Buddha
Senantiasa menjalankan Kasih Sayang
Meyakinkan diri bahwa Mereka akan jadi Buddha
Dengan pasti dan yakin tanpa ragu-ragu
Semuanya ini diibaratkan sebagai semak-semak
Mereka yang dengan teguh berdiam di dalam kemampuannya
Yang sama sekali tidak dapat digambarkan

Yang memutar Roda Dharma yang selalu maju
Yang menyelamatkan beratus ribu koti
Mahluk yang tiada terbatas banyaknya
Bodhisattva semacam ini diibaratkan Pepohonan

Khotbah Sang Buddha yang merata tersebar
Diibaratkan sebagai hujan namun para mahluk
Sesuai dengan kemampuannya dan alaminya
Menerima-Nya secara berbeda-beda
Menerima-Nya secara berbeda-beda
Seperti halnya tetanaman dan pepohonan
Masing-masing menerima-Nya berbeda-beda

Sang Buddha dalam perumpamaan ini
Dengan Bijaksana mengajarkan-Nya
Dengan berbagai macam Pernyataan
Memaklumkan Hukum Kesunyataan Itu
Tetap dari Kebijaksanaan Sang Buddha
Bagaikan satu titik di dalam samudra
Aku curahkan hujan Hukum Kesunyataan

Yang mengisi seluruh alam semesta
Satu Hukum Kesunyataan Yang Hakiki dan Mutlak
Hendaknya dilaksanakan sesuai kemampuan

Seperti halnya dengan semak-semak
hutan-hutan, tumbuhan obat dan pepohonan
Menurut ukuran mereka masing-masing
Berkembang dengan suburnya

Hukum Kesunyataan dari Para Buddha senantiasa Esa Hakiki
Menyebabkan seluruh dunia mendapatkan
Kesejahteraan Yang Sempurna yang lambat laun berkat pengetahuannya
Seluruhnya nanti akan mencapai Jalan Kebahagiaan

Para Sravaka dan PratyekaBuddha
Yang berdiam di hutan belantara
Semuanya dalam penitisan terakhir
Karena mendengar Hukum Kesunyataan ini
Akhirnya Mereka mencapai Kebahagiaan

Semuanya ini diibaratkan sebagai tetumbuhan obat
Uang masing-masing mengalami pertumbuhan
Seperti halnya Para Bodhisattva Yang Bijaksana
Telah dapat menembus Tribuana
Mencari Kendaraan Yang Maha Agung
Yang semua-Nya ini diibaratkan sebagai semak-semak
Yang pertumbuhannya semakin baik dan subur

Mereka yang menjalankan Meditasi
Memperoleh Kekuatan yang tak terbayangkan
Mereka yang mendengar Ajaran tentang Kehampaan
Sangat bergembira di dalam hati mereka
Memancarkan cahaya-cahaya yang tak terbatas
Menyelamatkan seluruh mahluk hidup
Semuanya ini diibaratkan sebagai pepohonan
Yang pertumbuhannya semakin meningkat

Seperti inilah O Kasyapa
Hukum Kesunyataan yang telah dikhotbahkan Sang Buddha
Ibarat segumpal awan tebal yang mencurahkan hujan yang mempunyai jenis yang sama
Memperkaya manusia dan bunga-bungaan
Sehingga masing-masing berbuah

Ketahuilah Kasyapa
Dengan berbagai kiasan dan perumpamaan
Aku ajarkan Jalan Sang Buddha
Inilah Cara-Ku yang penuh Kebijaksanaan
Para Buddha pun pada berbuat sama
Seperti apa yang telah Kukatakan pada Kalian
Adalah Kebenaran Yang Sangat Sempurna

Seluruh Sravaka belum mencapai Nirvana
Jalan yang Engkau lalui Jalan Bodhisattva
Dengan mempelajari-Nya dengan terus menerus
Dan mengamalkan-Nya dengan tekun
Kalian Semua akan menjadi Buddha

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Perbandingan Dengan Tanaman, Bab 5.
Pages: 1 ... 8 9 [10]