91
Arya SriSaddharma Pundarika Nama Dharmaparyaya Mahayana Suttram / Re: Pancabhiksusatavyakarana Parivartah Dharmaparyaya Suttram
« Last post by ajita on June 03, 2017, 10:33:29 am »Sang Buddha yang mengetahui Pikiran dalam Batin Mereka itu, kemudian menyapa Sang Maha Kasyapa dan bersabda:"Dihadapan Kedua belas Arahat ini, biarlah sekarang Aku mengantarkan-Nya ke dalam Penerangan Agung. Diantara Persidangan ini, Pengikut Agung-Ku Bhiksu Kaundinya, setelah mengabdi pada 62 ribu kotis Para Buddha akan menjadi Seorang Buddha yang bergelar Samantaprabhasa, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan manusia, Yang Telah Bangun, Yang Maha Agung. Kelima Ratus Para Arahat Yang Lain, yaitu Uruvilva Kasyapa, Gaya Kasyapa, Nadi Kasyapa, Kalodayin, Udayin, Aniruddha, Revata, Kapphina, Vakkhula, Cunda, Svagata, dan lain-lain-Nya, semuanya akan mencapai Penerangan Agung dan semua-Nya akan bergelar sama, yaitu Samantaprabhasa.
Pada saat itu, Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, bersabdalah Beliau dalam Syair:
"Bhiksu Kaundinya,
Akan melihat Para Buddha yang tak terhitung,
Dan sesudah berkalpa-kalpa asamkhyeya lewat
Mencapai Penerangan Agung.
Senantiasa memancarkan Cahaya Agung,
Sempurna dalam Kekuatan Ghaib,
Kemasyhuran-Nya tersebar diseluruh alam semesta,
Dipuja oleh semua umat,
Selalu mengkhotbahkan Jalan Agung,
Gelar-Nya akan menjadi Samantaprabhasa.
Kawasan-Nya akan menjadi suci,
Para Bodhisattva semuanya pemberani;
Semua-Nya menaiki Kendaraan-Kendaraan Yang Menakjubkan,
Siap akan melanglang ke semua negeri,
Dengan Persembahan yang tiada duanya,
Menyajikan kepada Para Buddha.
Sesudah membuat persembahan ini,
Hati Mereka akan merasa sangat bergembira
Semuanya segera kembali ke Kawasan-Nya Sendiri;
Demikianlah Daya Ghaib Mereka.
Masa Hidup Buddha itu akan selama 6 ribu kalpa,
Hukum-Nya yang Benar akan bergema dua kali masa Hidup-Nya,
Tiruan Hukum-Nya akan menggelora dua kali lipat masa-Nya.
Jika Hukum-Nya berakhir, maka Dewa dan manusia akan bersedih.
Ke 500 Bhiksu yang lain,
Satu persatu akan menjadi Buddha,
Dengan Gelar yang sama yaitu
Samantaprabhasa,
Secara bergantian masing-masing akan berkhotbah,
"Sesudah Kemusnahan-Ku
Si Dia akan menjadi Buddha,
Dunia yang Ia ajari
Akan seperti Dunia-Ku hari ini."
Kemegahan dari Kesucian Kawasan-Nya
Dan Kekuatan Ghaib-Nya,
Para Bodhisattva dan Sravaka-Nya,
Hukum-Nya yang Benar dan tiruan Hukum-Nya,
Masa lama kalpa-Nya,
Semuanya akan terjadi seperti apa yang telah dinyatakan tadi.
Kasyapa! Sekarang Engkau mengetahui
Kelima Ratus Orang yang percaya pada diri sendiri ini.
Kelompok Para Sravaka yang lain
Juga akan menjadi seperti Mereka.
Kepada Mereka yang tidak berada dalam Pesamuan ini
Engkaulah yang memaklumkan Titah-Ku."
Kemudian Kelima Ratus Arahat yang dimuka Sang Buddha itu, setelah menerima Penetapan ini, Semua-Nya diliputi perasaan gembira yang meluap-luap dan seketika Mereka bangkit dari tempat duduk-Nya serta pergi kehadapan Sang Buddha dan bersujud diKaki-Nya. Mereka menyesali perbuatan-perbuatan tercelanya dan memarahi diri Mereka sendiri dengan berkata :"Yang Maha Agung ! Tiada henti-hentinya Kami telah berpikir bahwa Kami telah mencapai Nirwana. Tetapi sekarang Kami sadar bahwa Kami semua hanyalah orang-orang bodoh. Karena betapapun juga Kami masih harus memperoleh Kebijaksanaan SangTathagata, dan tidak seharusnya merasa puas dengan Pengetahuan yang rendah.
"Yang Maha Agung ! Hal ini seakan-akan seperti seseorang yang pergi kerumah Teman akrabnya dan disitu Ia mabuk dan tertidur. Sementara itu Temannya yang harus menjalankan tugas kantornya, mengikatkan sebuah permata yang tak ternilai harganya didalam pakaian orang itu sebagai hadiah dan sesudah itu berangkatlah Ia. Orang yang sedang mabuk dan tertidur itu tidak mengetahui sedikitpun akan hal ini. Sesudah terbangun, kemudian Ia meneruskan perjalanannya sampai Ia tiba di beberapa negeri lain dimana untuk sandang dan pangan Ia mengeluarkan banyak tenaga dan usaha serta mengalami banyak kerja keras yang berlebih-lebihan, dan Ia merasa puas dengan apa yang Ia peroleh meskipun itu cuma sedikit. Akhirnya, secara kebetulan sang Teman menjumpainya dan berkata:"Hai Tuan ! Bagaimana engkau bisa berbuat hal demikian ini hanya untuk sandang dan pangan saja ? Karena menginginkan engkau berbahagia dan dapat memuaskan kelima keinginanmu, maka dahulu pada tahun itu, bulan dan hari itu, Aku ikatkan sebuah permata yang tak ternilai harganya didalam pakaianmu.
Sekarang sudah begitu lamanya benda itu tinggal disitu dan engkau karena tidak mengetahuinya maka engkau memperbudak dan bercemas diri untuk menjaga kelangsungan hidupmu. Betapa bodohnya ! Sekarang pergilah dan tukarkan permata itu dengan apa yang engkau perlukan dan berbuatlah sesukamu, bebas dari segala kemiskinan dan kekurangan."
"Sang Buddha juga seperti ini. Ketika Beliau Seorang Bodhisattva, Beliau mengajar Kami untuk memahami makna dari Kebijaksanaan Agung tetapi Kami segera melupakan-Nya tanpa memahami ataupun meresapi-Nya. Setelah mencapai Jalan Arahat, Kami merasa bahwa Kami telah mencapai Nirwana. Didalam usaha yang keras untuk hidup, maka kami telah memuaskan Diri Kami sendiri dengan kehinaan belaka, tetapi cita-cita untuk mencapai Kebijaksanaan Agung masih tetap ada dan tidak pernah hilang, dan sekarang Yang Maha Agung membangunkan Kami dan bersabda begini:"Para Bhiksu sekalian ! Apa yang telah Kalian capai bukanlah Nirwana yang sejati. Telah sekian lama Aku menyebabkan Kalian untuk memelihara Akar-Akar Kebaikan Buddha dan dengan Alasan-Alasan Yang Bijaksana, Aku telah menunjukkan suatu bentuk dari Nirwana. Tetapi Kalian malahan menganggapnya sebagai Nirwana sejati yang telah Kalian capai. Yang Maha Agung ! Sekarang Kita mengetahui bahwa Kita semua nyata-nyata Bodhisattva yang telah ditetapkan akan mencapai Penerangan Agung. Karenanya Kita sangat bergembira atas Pencapaian yang belum pernah Kita dapatkan itu."
Kemudian Ajnata-Kaundinya dan lain-lain-Nya menginginkan untuk memaklumkan maksud ini lagi, maka berkatalah Ia dalam Syair:
"Kami, demi mendengar Sabda-Nya
Yang menetapkan Kami dalam kesenangan yang tiada tara,
Berbahagia atas nasib Kita yang tak diharap-harapkan itu.
Dan dengan tulus menghormat Sang Buddha Yang Maha Bijaksana.
Sekarang dihadapan Yang Maha Agung,
Kita menyesali Diri Sendiri atas kesalahan-kesalahan Kita;
Meskipun Harta Sang Buddha yang berlimpah sedang menunggu
Dengan sekelumit KeNirwanaan
Kita, seperti orang yang dungu dan bodoh,
Segera menjadi puas.
Seperti halnya seorang yang miskin
Yang pergi kerumah seorang Temannya
Teman itu adalah seorang yang kaya raya
Menjamunya makanan-makanan yang istimewa dihadapannya.
Sebutir mutiara yang tak ternilai harganya
Ia ikatkan dipakaiannya sebelah dalam,
Pada waktu ia tidur dan tidak sadar.
Dengan diam-diam memberikannya dan berangkatlah ia
Orang itu ketika terbangun
Melanjutkan perjalanannya ke lain negeri
Untuk mencari sandang dan pangan agar tetap hidup,
Menderita banyak kesukaran demi hidupnya,
Merasa puas meskipun begitu sedikit,
Tiada berhasrat memperbaiki,
Tiada menyadari di dalam pakaiannya sebelah dalam
Terdapat sebutir permata yang tiada ternilai harganya.
Teman yang memberikan permata itu kepadanya
Pada akhirnya menjumpai orang miskin ini
Dan dengan pahitnya mencelanya,
Menunjukkan dimana permata itu terikatkan.
Orang yang miskin itu ketika melihat permata ini,
Dihinggapi kegembiraan yang besar;
Kaya dalam harta bendanya
Ia dapat memenuhi kelima keinginannya.
Begitu juga Kita.
Sekian lamanya Sang Buddha
Selalu mengasihi dan mengajar Kita
Untuk memelihara Cita-Cita Yang Paling Agung;
Tetapi karena ketidak-tahuan Kita,
Kita tidak meresapi ataupun memahami-Nya;
Memperoleh sedikit sekali tentang Nirwana,
Karena sudah merasa puas maka Kami tidak mencari apapun lagi.
Sekarang Sang Buddha telah menyadarkan Kami,
Dengan bersabda bahwa ini bukan Nirwana yang sejati
Hanya setelah mencapai Kebijaksanaan Buddha Yang Agung
Disitulah Nirwana yang sejati.
Sekarang setelah Kami mendengar dari Sang Buddha
Tentang Penetapan Kami dan Kemegahannya,
Serta menerima perintah sebagai imbalannya,
Jiwa dan Raga penuh rasa kebahagiaan."
Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Penetapan Pencapaian Penerangan Sempurna 500 Orang Bhikku , Bab 8.
Pada saat itu, Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, bersabdalah Beliau dalam Syair:
"Bhiksu Kaundinya,
Akan melihat Para Buddha yang tak terhitung,
Dan sesudah berkalpa-kalpa asamkhyeya lewat
Mencapai Penerangan Agung.
Senantiasa memancarkan Cahaya Agung,
Sempurna dalam Kekuatan Ghaib,
Kemasyhuran-Nya tersebar diseluruh alam semesta,
Dipuja oleh semua umat,
Selalu mengkhotbahkan Jalan Agung,
Gelar-Nya akan menjadi Samantaprabhasa.
Kawasan-Nya akan menjadi suci,
Para Bodhisattva semuanya pemberani;
Semua-Nya menaiki Kendaraan-Kendaraan Yang Menakjubkan,
Siap akan melanglang ke semua negeri,
Dengan Persembahan yang tiada duanya,
Menyajikan kepada Para Buddha.
Sesudah membuat persembahan ini,
Hati Mereka akan merasa sangat bergembira
Semuanya segera kembali ke Kawasan-Nya Sendiri;
Demikianlah Daya Ghaib Mereka.
Masa Hidup Buddha itu akan selama 6 ribu kalpa,
Hukum-Nya yang Benar akan bergema dua kali masa Hidup-Nya,
Tiruan Hukum-Nya akan menggelora dua kali lipat masa-Nya.
Jika Hukum-Nya berakhir, maka Dewa dan manusia akan bersedih.
Ke 500 Bhiksu yang lain,
Satu persatu akan menjadi Buddha,
Dengan Gelar yang sama yaitu
Samantaprabhasa,
Secara bergantian masing-masing akan berkhotbah,
"Sesudah Kemusnahan-Ku
Si Dia akan menjadi Buddha,
Dunia yang Ia ajari
Akan seperti Dunia-Ku hari ini."
Kemegahan dari Kesucian Kawasan-Nya
Dan Kekuatan Ghaib-Nya,
Para Bodhisattva dan Sravaka-Nya,
Hukum-Nya yang Benar dan tiruan Hukum-Nya,
Masa lama kalpa-Nya,
Semuanya akan terjadi seperti apa yang telah dinyatakan tadi.
Kasyapa! Sekarang Engkau mengetahui
Kelima Ratus Orang yang percaya pada diri sendiri ini.
Kelompok Para Sravaka yang lain
Juga akan menjadi seperti Mereka.
Kepada Mereka yang tidak berada dalam Pesamuan ini
Engkaulah yang memaklumkan Titah-Ku."
Kemudian Kelima Ratus Arahat yang dimuka Sang Buddha itu, setelah menerima Penetapan ini, Semua-Nya diliputi perasaan gembira yang meluap-luap dan seketika Mereka bangkit dari tempat duduk-Nya serta pergi kehadapan Sang Buddha dan bersujud diKaki-Nya. Mereka menyesali perbuatan-perbuatan tercelanya dan memarahi diri Mereka sendiri dengan berkata :"Yang Maha Agung ! Tiada henti-hentinya Kami telah berpikir bahwa Kami telah mencapai Nirwana. Tetapi sekarang Kami sadar bahwa Kami semua hanyalah orang-orang bodoh. Karena betapapun juga Kami masih harus memperoleh Kebijaksanaan SangTathagata, dan tidak seharusnya merasa puas dengan Pengetahuan yang rendah.
"Yang Maha Agung ! Hal ini seakan-akan seperti seseorang yang pergi kerumah Teman akrabnya dan disitu Ia mabuk dan tertidur. Sementara itu Temannya yang harus menjalankan tugas kantornya, mengikatkan sebuah permata yang tak ternilai harganya didalam pakaian orang itu sebagai hadiah dan sesudah itu berangkatlah Ia. Orang yang sedang mabuk dan tertidur itu tidak mengetahui sedikitpun akan hal ini. Sesudah terbangun, kemudian Ia meneruskan perjalanannya sampai Ia tiba di beberapa negeri lain dimana untuk sandang dan pangan Ia mengeluarkan banyak tenaga dan usaha serta mengalami banyak kerja keras yang berlebih-lebihan, dan Ia merasa puas dengan apa yang Ia peroleh meskipun itu cuma sedikit. Akhirnya, secara kebetulan sang Teman menjumpainya dan berkata:"Hai Tuan ! Bagaimana engkau bisa berbuat hal demikian ini hanya untuk sandang dan pangan saja ? Karena menginginkan engkau berbahagia dan dapat memuaskan kelima keinginanmu, maka dahulu pada tahun itu, bulan dan hari itu, Aku ikatkan sebuah permata yang tak ternilai harganya didalam pakaianmu.
Sekarang sudah begitu lamanya benda itu tinggal disitu dan engkau karena tidak mengetahuinya maka engkau memperbudak dan bercemas diri untuk menjaga kelangsungan hidupmu. Betapa bodohnya ! Sekarang pergilah dan tukarkan permata itu dengan apa yang engkau perlukan dan berbuatlah sesukamu, bebas dari segala kemiskinan dan kekurangan."
"Sang Buddha juga seperti ini. Ketika Beliau Seorang Bodhisattva, Beliau mengajar Kami untuk memahami makna dari Kebijaksanaan Agung tetapi Kami segera melupakan-Nya tanpa memahami ataupun meresapi-Nya. Setelah mencapai Jalan Arahat, Kami merasa bahwa Kami telah mencapai Nirwana. Didalam usaha yang keras untuk hidup, maka kami telah memuaskan Diri Kami sendiri dengan kehinaan belaka, tetapi cita-cita untuk mencapai Kebijaksanaan Agung masih tetap ada dan tidak pernah hilang, dan sekarang Yang Maha Agung membangunkan Kami dan bersabda begini:"Para Bhiksu sekalian ! Apa yang telah Kalian capai bukanlah Nirwana yang sejati. Telah sekian lama Aku menyebabkan Kalian untuk memelihara Akar-Akar Kebaikan Buddha dan dengan Alasan-Alasan Yang Bijaksana, Aku telah menunjukkan suatu bentuk dari Nirwana. Tetapi Kalian malahan menganggapnya sebagai Nirwana sejati yang telah Kalian capai. Yang Maha Agung ! Sekarang Kita mengetahui bahwa Kita semua nyata-nyata Bodhisattva yang telah ditetapkan akan mencapai Penerangan Agung. Karenanya Kita sangat bergembira atas Pencapaian yang belum pernah Kita dapatkan itu."
Kemudian Ajnata-Kaundinya dan lain-lain-Nya menginginkan untuk memaklumkan maksud ini lagi, maka berkatalah Ia dalam Syair:
"Kami, demi mendengar Sabda-Nya
Yang menetapkan Kami dalam kesenangan yang tiada tara,
Berbahagia atas nasib Kita yang tak diharap-harapkan itu.
Dan dengan tulus menghormat Sang Buddha Yang Maha Bijaksana.
Sekarang dihadapan Yang Maha Agung,
Kita menyesali Diri Sendiri atas kesalahan-kesalahan Kita;
Meskipun Harta Sang Buddha yang berlimpah sedang menunggu
Dengan sekelumit KeNirwanaan
Kita, seperti orang yang dungu dan bodoh,
Segera menjadi puas.
Seperti halnya seorang yang miskin
Yang pergi kerumah seorang Temannya
Teman itu adalah seorang yang kaya raya
Menjamunya makanan-makanan yang istimewa dihadapannya.
Sebutir mutiara yang tak ternilai harganya
Ia ikatkan dipakaiannya sebelah dalam,
Pada waktu ia tidur dan tidak sadar.
Dengan diam-diam memberikannya dan berangkatlah ia
Orang itu ketika terbangun
Melanjutkan perjalanannya ke lain negeri
Untuk mencari sandang dan pangan agar tetap hidup,
Menderita banyak kesukaran demi hidupnya,
Merasa puas meskipun begitu sedikit,
Tiada berhasrat memperbaiki,
Tiada menyadari di dalam pakaiannya sebelah dalam
Terdapat sebutir permata yang tiada ternilai harganya.
Teman yang memberikan permata itu kepadanya
Pada akhirnya menjumpai orang miskin ini
Dan dengan pahitnya mencelanya,
Menunjukkan dimana permata itu terikatkan.
Orang yang miskin itu ketika melihat permata ini,
Dihinggapi kegembiraan yang besar;
Kaya dalam harta bendanya
Ia dapat memenuhi kelima keinginannya.
Begitu juga Kita.
Sekian lamanya Sang Buddha
Selalu mengasihi dan mengajar Kita
Untuk memelihara Cita-Cita Yang Paling Agung;
Tetapi karena ketidak-tahuan Kita,
Kita tidak meresapi ataupun memahami-Nya;
Memperoleh sedikit sekali tentang Nirwana,
Karena sudah merasa puas maka Kami tidak mencari apapun lagi.
Sekarang Sang Buddha telah menyadarkan Kami,
Dengan bersabda bahwa ini bukan Nirwana yang sejati
Hanya setelah mencapai Kebijaksanaan Buddha Yang Agung
Disitulah Nirwana yang sejati.
Sekarang setelah Kami mendengar dari Sang Buddha
Tentang Penetapan Kami dan Kemegahannya,
Serta menerima perintah sebagai imbalannya,
Jiwa dan Raga penuh rasa kebahagiaan."
Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Penetapan Pencapaian Penerangan Sempurna 500 Orang Bhikku , Bab 8.
Recent Posts

