Recent Posts

Pages: 1 ... 6 7 [8] 9 10
71
SUTTA BUNGA TERATAI DARI KEGHAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB XVIII


Namo  Bhagavate Bhaisajya Guru Vaidurya Prabha Raja Tathagata Arhate SamyakSamBuddha
PAHALA BAGI PENGKHOTBAH HUKUM KESUNYATAAN BUNGA TERATAI

Kemudian Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva Mahasattva Satatasamitabhiyukta :"Jika terdapat Seorang Putera maupun Puteri Yang Baik Yang
Mendengar dan Memelihara Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini atau membaca, atau meresapi-Nya, atau mengajarkan-Nya atau menurun-Nya, maka Orang itu akan memperoleh 800 Pahala Mata, 1200 Pahala Telinga, 800 Pahala Hidung, 1200 Pahala Lidah, 800 Pahala Tubuh dan 1200 Pahala Pikiran sehingga dengan seluruh Pahala-Pahala ini Ia akan dapat mendaya gunakan Keenam Sadindriyanya yang semuanya menjadi sempurna. Putera maunpun Puteri dengan Kesempurnaan Mata dagingnya yang terlahir dari Ibu Bapanya itu, akan melihat apapun yang ada di dalam dan diluar satu miliar sistem dunia dengan empat benua pada tiap-tiap alamnya (Trisahasra Mahasahasra Lokadhatu), pegunungan, hutan, sungai dan lautan, ke bawah sampai pada neraka avici ke atas sampai pada puncak asal mula perwujudan, dan Ia pun akan melihat seluruh mahluk yang berada di dalamnya serta Ia akan melihat dan mengetahui pula segala sebab-sebab karma mereka dan pahala penitisannya nanti secara terperinci."

Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, bersabdalah Beliau dalam Syair :

"Jika Seseorang di dalam Persidangan Agung,
Dengan jiwa yang tiada gentar,
Mengkhotbahkan Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini, maka
Dengarkanlah Pahala-Pahalanya.
Orang itu akan memperoleh 800
Pahala Penglihatan Yang Tiada Tara;
Karena Karunia-Karunia ini
Matanya akan benar-benar menjadi sempurna.
Dengan mata yang terlahir dari Ibu Bapanya,
Ia akan melihat seluruh miliaran sistem dunia,
Di dalam dan diluarnya, Gunung Meru,
Sumeru dan Lingkaran Besinya,
Dan pegunungan serta hutan-hutan yang lain,
Samudra-samudra luas, sungai dan air,
Menurun sampai pada neraka avici,
Keatas sampai pada Puncak Asal Mula Perwujudan;
Para mahluk yang berada ditengah-tengahnya
Semuanya terlihat olehnya;
Meskipun belum mencapai daya penglihatan yang sempurna,
Mata dagingnya telah memiliki Kekuatan seperti ini."

"Dan lagi, Wahai Satatasamitabhiyukta ! Jika terdapat Seorang Putera maupun Seorang Puteri Yang Baik yang menerima dan memelihara Sutta Dharmaparyaya ini, membaca atau meresapi-Nya, menurun atau mengajarkan-Nya, maka Ia akan memperoleh Karunia 1200 Pahala Telinga. Dengan Telinga yang sempurna ini, Ia akan mampu mendengar apapun juga yang ada di dalam miliaran sistem dunia, kebawah sampai ke neraka avici dan keatas sampai pada Puncak Asal Mula Perwujudan, di dalam dan diluarnya, dan Ia pun akan mendengar segala suara dan perkataan, suara-suara gajah, kuda, lembu, kereta, ratapan, kesedihan, nafiri, genderang, gong, gentha, suara-suara tawa, khotbah, manusia, wanita, anak laki-laki, anak perempuan, Suara Suara Yang Penuh Hukum Kesunyataan (Dharma) dan yang tidak berHukum Kesunyataan, suara-suara penderitaan, kesukariaan, suara-suara orang awam, Orang-Orang suci, suara-suara yang senang dan yang tidak senang, suara-suara para dewa, naga, yaksa, raksasa, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia, yang bukan manusia, suara-suara api, air, angin, neraka, hewan, jiwa-jiwa yang lapar, Suara Para Bhiksu, Bhiksuni, Sravaka, PratyekaBuddha, Para Bodhisattva dan Suara Para Buddha. Pada Hakekatnya, suara apapun yang ada baik di dalam maupun diluar miliaran sistem dunia, meskipun Ia belum memperoleh Telinga Surga dan hanya menggunakan Telinga Sempurna biasa yang di dapatkan sejak kelahirannya dari Ibu Bapanya, namun Ia dapat memperbedakan segala ragam suara tanpa merugikan organ pendengarannya."

Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, bersabdalah Beliau dalam Syair :

"Telinganya, yang dilahirkan oleh ayah bundanya,
Semuanya sempurna dan tiada cela.
Dengan telinga-telinga biasa ini Ia mendengar
Suara-Suara di dalam miliaran sistem dunia,
Suara-suara gajah, kuda, kereta dan lembu,
Suara-suara Gong, gentha, nafiri, dan genderang,
Suara-suara kecapi dan harpa,
Suara-suara seruling dan peluit,
Suara-suara lagu yang suci dan merdu,
Ia dapat mendengarnya tanpa mahluk-mahluk itu menyadari,
Ia mendengar suara-suara dari semua jenis manusia yang tanpa hitungan,
Dan Ia dapat memahami segala apa yang Ia dengar;
Ia juga mendengar suara-suara para dewa,
Dan suara-suara lagu yang penuh mistik,
Ia mendengar suara orang laki-laki dan perempuan,
Dan suara-suara para pemuda dan gadis-gadis.
Di pegunungan, sungai serta ngarai,
Suara-suara Burung Kalavinka,
Burung ming-ming dan suara-suara burung lainnya.
Suara-suara penderitaan yang amat sangat dari para umat di neraka
Dan suara-suara kesengsaraan mereka;
Suara-suara jiwa lapar yang dikendalikan oleh ketidakpuasan
Dan suara-suara dari permohonan mereka;
Para asura dan yang lain-lainnya,
Yang mendiami pantai-pantai samudra,
Ketika mereka berbincang bersama-sama,
Meneriakkan jeritan mereka.
Seorang Pengkhotbah seperti ini,
Dengan damai tinggal ditengah-tengahnya,
Mendengar suara-suara ini dari kejahuan
Tanpa mengubah alat pendengarannya.
Di dalam dunia di segala penjuru,
Burung-burung dan binatang saling bersahutan,
Dan Sang Pengkhotbah berdiam disini
Mendengarkannya dengan terperinci.
Seluruh surga-surga Brahma diatas sana,
Dari Dhyana Surga Tingkat II dan Tingkat III
Sampai ke Surga, Puncak Dari Asal Mula Perwujudan,
Suara-suara percakapan Mereka,
Sang Pengkhotbah yang berada disini,
Mendengarkannya dengan terperinci.
Seluruh kelompok Para Bhiksu dan Bhiksuni
Yang sedang membaca maupun menghafal Sutta ini,
Atau sedang mengkhotbahkan-Nya kepada orang-orang lainnya,
Sang Pengkhotbah yang berada disini,
Mendengar semuanya secara terperinci.
Lalu terdapat Para Bodhisattva
Yang membaca dan menghafalkan Hukum Kesunyataan Sutta ini,
Atau mengkhotbahkan-Nya kepada orang lain,
Menyusun dan memaparkan makna-Nya, maka
Segala suara semacam ini,
Ia mendengarnya secara terperinci.
Para Buddha, Yang Maha Agung,
Perubah semua umat,
Yang di dalam Persidangan Agung-Nya,
Memaklumkan Hukum Kesunyataan Agung,
Ia Yang Memelihara Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini
Mendengar-Nya secara terperinci.
Di dalam miliaran sistem dunia,
Suara-suaranya yang berada di dalam maupun diluar,
Ke bawah sampai pada neraka avici,
ke atas sampai pada puncak surga,
Semua suara-suara ini akan didengarnya
Tanpa merubah indera pendengarannya.
Dan karena telinga-telinga sangat sempurna,
Ia dapat membeda-bedakannya dan mengetahui seluruhnya.
Ia yang memelihara Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini,
Meskipun belum memiliki Telinga-Telinga Surga
Dan hanya mempergunakan telinga-telinga alaminya saja,
Telah memiliki karunia-karunia seperti ini."

"Lebih-lebih lagi Wahai Satatasamitabhiyukta ! Seandainya terdapat Seorang Putera maupun Seorang Puteri Yang Baik Yang Menerima dan Memelihara Sutta Dharmaparyaya ini, membaca atau menghafalkan-Nya, mengajarkan atau menurun-Nya, maka Ia akan memperoleh karunia 800 Pahala hidung. Dengan indera yang sempurna ini, di dalam maupun diluarnya, Ia akan mencium segala macam bebauan, harumnya Bunga-Bunga Samana, Bunga-Bunga Jatika, Bunga-Bunga Mallika, Bunga-Bunga Campaka, Bunga-Bunga Patala, Teratai Merah, Teratai Biru, Teratai Putih, pepohonan yang sedang berkembang dan pepohonan yang sedang berbuah, kayu cendana dan kayu gaharu, Bunga-Bunga Tamalapattra, Tagara, dan ribuan paduan wewangian, bubuk, butiran kecil ataupun di dalam salep. Ia yang memelihara Sutta Dharmaparyaya meskipun sedang berada di tempat ini, dapat mencium semuanya ini. Lagi, Ia akan dapat mencium segala bebauan dari seluruh mahluk hidup, bebauan gajah, kuda, ternak, kambing dan sebagainya, ia juga dapat mencium bau orang laki-laki, perempuan, pemuda, gadis, bebauan rumput, pohon, semak dan kekayuan, baik jauh maupun dekat, dan berupa bau apapun juga, Ia mampu mengenali semuanya serta merasakannya tanpa salah sedikitpun. Ia yang memelihara Sutta Dharmaparyaya ini meskipun sedang berada disini, akan mampu pula mengenal bau dari para dewa surga, bau parijata dan kovidara, bau Bunga Mandarawa, Maha Mandarawa, manyusaka dan Bunga Maha Manyusaka, Ia pun mengenal bebauan dari segala serbuk kayu cendana dan kayu gaharu serta bebauan dari banyak paduan bunga-bunga. Segala bau yang tertebar dari paduan wewangian surga semacam itu, semuanya dapat diresapi dan dikenalnya tanpa salah sedikitpun. Dan Iapun akan mengenal bebauan dari tubuh para dewa, bebauan dari Sang Sakra Dewa Indra di dalam Istana-Nya Yang Megah yang sedang memanjakan kelima nafsunya serta menghibur Diri dengan riang-Nya; baik Ia sedang berada di dalam Ruang Dharmasula-Nya dan sedang mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada para dewa dari Tavatimsa, maupun Ia sedang berjalan-jalan menikmati teman-Nya. Juga bebauan dari tubuh para dewa pria dan wanita yang lain, semuanya ini Ia mengenalnya dari kejahuan. Ia pun mencium segala bebauan dari Tubuh para dewa, dari dunia Brahma sampai puncak asal mula perwujudan. Disamping itu, Ia juga mencium bebauan harumnya dupa yang sedang dibakar oleh para dewa, dan mencium pula bebauan dari Para Sravaka, PratyekaBuddha, Bodhisattva, dan Tubuh Para Buddha. Semuanya ini Ia dapat menciumnya dari kejahuan serta mengetahui letak dimana mereka berada. Meskipun Ia mencium segala bebauan ini, tetapi indera penciumannya tidaklah dirubah atau diganti dan seandainya Ia ingin menegaskannya kepada orang lain, ingatannya tidak bakal keliru."

Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, bersabdalah Beliau dalam Syair :
72
SUTRA BUNGA TERATAI DARI KEGHAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB XVII


Namo Ta Pei Kwan Shi Yin Chien Re Zig Pusa Mohosa
PAHALA BAGI PARA PENGANUT HUKUM KESUNYATAAN BUNGA TERATAI

Pada saat itu Sang Bodhisattva-Mahasattva Maitreya berkata kepada Sang Buddha: “Yang Maha Agung ! Seandainya terdapat seorang putera ataupun seorang puteri yang baik yang setelah mendengar Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini kemudian menerima-Nya dengan penuh kegembiraan, maka berapakah besarnya kebahagiaan yang akan ia peroleh ?“

Lalu Sang  Bodhisattva-Mahasattva Maitreya kembali berkata kepada Sang Buddha dalam syair:
“Sesudah kemokshaan Yang Maha Agung nanti, Seandainya ada seseorang yang setelah mendengar Sutra Dharmaparyaya ini, Dapat menerima-Nya dengan penuh kegembiraan, Maka berapa besarnya kebahagiaan yang akan ia peroleh ?”

Kemudian Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva-Mahasattva Maitreya, “Wahai Ajita ! Seandainya nanti sesudah kemokshaan Sang Tathagata terdapat seorang bhiksu, bhiksuni, upasaka, upasika ataupun orang-orang bijak lainnya baik tua maupun muda, yang ketika mendengar Sutra Dharmaparyaya ini ia menerima-Nya dengan penuh kegembiraan dan setelah ia keluar dari Persidangan Agung kemudian pergi ke tempat lain untuk berdiam baik didalam sebuah vihara atau di tempat yang terpencil, atau berdiam di sebuah kota, jalan, pedusunan kecil maupun di pedesaan untuk berkhotbah menurut kemampuannya tentang apa yang telah ia dengar kepada ayahnya, ibunya, anak-anaknya, teman-teman baiknya dan kenalan-kenalannya. Setelah mendengar khotbahnya itu, semua orang-orang ini menerima-Nya dengan penuh kegembiraan dan melanjutkan ajaran-Nya tadi kepada orang-orang lain dan begitulah seterusnya sampai pada orang yang kelima puluh.

Wahai Ajita ! Sekarang akan Aku katakan kepadamu tentang pahala dari putera maupun puteri yang kelima puluh tadi yang telah menerima kebenaran dengan penuh kegembiraan, maka dengarkanlah baik-baik, “Pahala orang itu adalah seperti sejumlah mahluk hidup dengan 6 perwujudan yang ada didalam 400 ribu koti asam-khyeya dunia yang terlahir dalam 4 cara, lahir melalui telur, melalui rahim, melalui kelembaban ataupun lahir melalui perubahan bentuk, baik mereka berbentuk maupun tidak berbentuk, sadar maupun tidak sadar, ataupun tidak yang ‘sadar’ maupun tidak yang ‘tidak sadar’ baik yang tidak berkaki, berkaki dua, berkaki empat ataupun berkaki banyak, maka benar-benar seperti jumlah mahluk-mahluk hidup inilah pahala orang itu.

Seandainya saja terdapat seseorang yang karena mencari kebahagiaan, telah memperlengkapi diri dengan segala macam benda-benda berharga yang ia sukai, kemudian memberi setiap mahluk dari satu jambudvipa penuh, emas, perak, lapis lazuli, batu-batu bulan, batu-batu mulia, coral, amber, dan segala jenis permata-permata indah, memberinya pula gajah-gajah, kuda, kereta, dan istana-istana serta menara-menara yang dibangun dari 7 benda berharga dan sebagainya. Dermawan agung ini memberi derma-derma yang sedemikian itu selama 80 tahun penuh dan kemudian berpikir begini “Aku telah mernberi seluruh mahluk-mahluk ini dengan benda-benda berharga yang mereka inginkan, tetapi mereka sekarang telah lanjut usia dan telah usang, mereka telah berusia 80 tahun lebih, telah berambut putih dan berwajah keriput dan kematianpun menjadi tidak jauh lagi, maka sebaiknya aku tunjukkan dan aku bimbing mereka ke dalam Hukum Kesunyataan Sang Buddha.”

Kemudian dengan mengumpulkan umat itu bersama-sama, ia memaklumkan petunjuk Hukum Kesunyataan kepada mereka dan dengan pemaparannya, ajarannya, penyelamatannya dan kebahagiaannya, maka seketika itu juga mereka semua mencapai Srota-apannas, Sakrdagamin, Anagamin, dan Arhat. Mereka semua telah terbebaskan dari segala ketidak sempurnaan, dan telah menguasai meditasi yang mendalam, serta telah menyempurnakan 8 Jalan Utama. Kemudian bagaimanakah pendapatmu? Dapatkah jasa yang telah diperoleh sang dermawan agung ini dianggap besar ataukah tidak ?“

Sang Maitreya berkata pada Sang Buddha: “Yang Maha Agung ! Jasa orang ini sangatlah banyak, begitu tak terhingga dan tak terbatas. Meskipun sang dermawan agung ini hanya mendermakan benda-benda berharganya saja kepada para mahluk hidup itu, jasa-jasanya sudah tak terbatas dan betapa akan lebih banyak lagi ketika ia membuat para mahluk itu mencapai ke-Arhatan ?“

Kemudian Sang Buddha bersabda kepada Sang Maitreya : “Sekarang akan Aku bentangkan dengan jelas kepada kalian. Jasa yang telah diperoleh orang ini dengan jalan mengamalkan sarana-sarana kebahagiaan tadi kepada semua umat dalam 6 perwujudan dan 400 ribu koti asamkhyeya dunia serta menyebabkan mereka mencapai ke-Arhatan, tidak dapat menyamai jasa-jasa dari orang yang kelima puluh tadi yang setelah mendengar sebait Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan (Saddharma Pundarika Dharmaparyaya Suttram) ini kemudian menerimanya dengan penuh kegembiraan. Mereka tidak sampai satu perseratus atau perseribu, atau pun satu bagian dari 100 ribu koti, bahkan daya guna angka maupun perbandingan tidak sedikitpun mampu mengutarakannya.

Wahal Ajita ! Jika pahala dari orang yang kelima puluh yang mendapatkan kesempatannya mendengar Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan (Saddharma Pundarika Dharmaparyaya Suttram) ini serta menerima-Nya dengan penuh kegembiraan hatinya sudah sedemikian besar dan tak terhingga, maka alangkah lebih besarnya kebahagiaan dari orang yang diantara para pendengar utama didalam Persidangan Agung menerima-Nya pula dengan penuh kegembiraan hati, maka kebahagiaannya akan menjadi lebih tak terhingga dan tiada taranya sehingga tiada satupun angka maupun perbandingan yang mampu mengutarakannya.

“Lagi, wahai Ajita ! Seandainya terdapat seseorang yang demi Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan (Saddharma Pundarika Dharmaparyaya Suttram) ini telah pergi ke Vihara untuk mendengarkan-Nya baik dengan duduk maupun berdiri, dan menerima-Nya meskipun semua ini hanya dalam waktu yang singkat saja, maka karena alasan ini, didalam penitisannya yang mendatang ia akan memperoleh gajah-gajah, kuda-kuda dan kereta, tandu-tandu dan usungan-usungan yang bertatah permata dan ia akan mengendarai kereta-kereta kasurgan yang seluruhnya ini dari jenis yang paling sempurna.

Lagi, jika terdapat seseorang yang duduk di suatu tempat dimana Hukum Kesunyataan ini dikhotbahkan dan ketika orang-orang lain berdatangan kemudian ia mengajak mereka agar duduk dan mendengarkan Hukum Kesunyataan itu ataupun membagi tempat duduknya dengan orang-orang lain, maka pada penitisannya nanti, jasa-jasa itu akan memberinya sebuah tempat duduk Sakra, atau Brahma ataupun sebuah tempat duduk dari seorang raja pemutar roda suci.

Wahai Ajita ! Lebih-lebih lagi, jika terdapat seseorang yang berkata kepada orang lain demikian : “Disana ada sebuah Sutra yang bernama Hukum Kesunyataan Bunga Teratai Yang Menakjubkan, marilah kita pergi bersama untuk mendengarkan-Nya.” Dan jika orang yang ia ajak itu juga mendengar-Nya meskipun hanya sejenak saja, maka setelah penitisannya nanti, jasa-jasa itu akan menyebabkannya terlahir di tempat yang sama dengan para Bodhisattva yang telah mencapai Dharani. Ia akan menjadi cerdik dan bijak serta selama ratusan ribu koti masa, ia tidak akan pernah tuli, ataupun mempunyai bau nafas yang busuk, ia akan selalu terhindar dari kekhilapan-kekhulapan lidah ataupun mulut. Giginya akan senantiasa tidak kotor, hitam ataupun kuning, tidak jarang ataupun ompong, tidak pula berlekuk atau tidak teratur.
Bibirnya tidak akan menggantung, tidak juga terpintal ataupun berkerut, tidak kasar dan tidak berbenjol-benjol, tidak sakit dan tidak berbintik-bintik, tidak pecah dan tidak terputus-putus, tidak peyot ataupun cacad, tidak pula tebal ataupun besar, tidak pucat ataupun hitam dan tidak terdapat sesuatupun yang memuakkan. Hidungnya tidak pesek, melengkung ataupun mencong. Raut wajahnya tidak berwarna hitam ataupun berbentuk ciut atau panjang, disamping itu tidak berlubang dan berliku sehingga tidak terdapat sesuatupun juga yang tidak menyenangkan. Bibirnya, lidah dan giginya, semuanya indah. Hidungnya mancung, tinggi dan lurus. Wajahnya bulat dan berisi. Alis matanya melengkung tinggi. Keningnya lebar, rata dan tegak. Tanda kejantanannya sangat sempurna. Dalam masa apapun ia dilahirkan, maka ia akan selalu melihat Sang Buddha dan selalu mendengar Hukum Kesunyataan serta rnenerima-Nya dengan Penuh Keyakinan.

Wahai Ajita ! ingat-ingatlah saja hal ini, jika pahala yang diperoleh dengan mengajak seseorang untuk pergi dan mendengarkan Hukum Kesunyataan saja sudah sedemikian ini, lalu betapa akan lebih besar lagi jasa dari mereka yang dengan sepenuh hatinya mendengar dan membaca-Nya serta menafsir-Nya kepada semua umat didalam Persidangan dan melaksanakan apa yang telah ia khotbahkan itu.”

Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam syair:

“Jika seseorang didalam suatu Persidangan
Mendengar Sutra Dharmaparyaya ini,
Meskipun hanya seuntai bait saja,
Dan dengan penuh kegembiraan memaklumkan-Nya kepada orang lain
Dan demikianlah seterusnya Ajaran itu berlangsung,
Hingga mencapai orang yang kelimapuluh,
Kebahagiaan yang diperoleh orang terakhir ini
Sekarang akan Aku bentangkan
Bayangkanlah seandainya ada seorang dermawan besar,
Yang berdana kepada kelompok yang tak terhitung jumlahnya
Selama 80 tahun penuh,
Menurut keinginan mereka semua.
Kemudian ia melihat mereka telah menjadi tua dan usang,
Berambut putih dan berwajah keriput,
Bergigi jarang dan buruk,
Dan berpikir bahwa saat kematian mereka sudah mendekat;
“Sekarang” katanya, “Aku harus mengajar mereka Agar memperoleh Buah dari Jalan Yang Benar.”

Kemudian dengan Cara Yang Bijaksana ia
Mengajar mereka Hukum Kesunyataan Nirvana
“Semua dunia tidaklah kekal
Seperti busa air atau gulungan asap.
Kalian semua segeralah memiliki
Perubahan jiwa yang jijik terhadap semua itu.

Mereka semua ketika mendengar Kebenaran ini
Mencapai ke-Arhatan,
Sempurna dalam Keenam Paramita,
Tiga Kesunyataan dan Delapan Jalan Utama.
Orang yang terakhir tadi, yaitu pendengar yang kelima puluh,
Yang meskipun mendengar seuntai bait dan telah bersuka cita.
Kebahagiaan orang ini melampaui kebahagiaan sang dermawan tadi

Diluar daya guna perbandingan lagi;
Jika seorang pendengar yang kesempatannya sangat jauh
Mempunyai kebahagiaan yang tiada tara seperti itu;
Betapa besar kebahagiaan orang yang didalam
Mendengar pertama kali dengan penuh kegembiraan
Biarlah seseorang menasehati yang lainnya meskipun hanya seorang,
Dan mengajaknya mendengarkan Saddharma Pundarika Dharmaparyaya Suttram,
Seraya berkata “Sutra Dharmaparyaya ini sangat begitu dalam dan menakjubkan;
Sulit menjumpai-Nya dalam ribuan kalpa.”
Orang yang diajak tadi pergi mendengarkan
Dan mendengar-Nya meskipun hanya sejenak;
Pahala bagi si pengajak seperti itu
Sekarang biarlah Aku tetapkan.
Masa demi masa mulutnya tidak akan pernah menderita,
Giginya tidak bercelah, kuning ataupun hitam;
Bibirnyapun tidak tebal, jelek maupun pecah-pecah,
Tanpa adanya sesuatu yang memuakkan;
Lidahnya tidak pernah kering, hitam atau berkerut;
Hidungnya tinggi, panjang dan lurus;
Keningnya rata, lebar dan tegak;
Semua orang akan senang memandangnya.
Tidak ada bau busuk dari mulutnya, tetapi
Harumnya bunga utpala
Senantiasa tertebar dari bibirnya.

Atau seandainya seseorang dengan sengaja
mengunjungi sanggar pemujaan,
Untuk mendengarkan Sutra Bunga Teratai Dharmaparyaya ini,
Dan bergembira meskipun mendengar-Nya hanya sekejap;
Baiklah sekarang Aku katakan kebahagiaannya.
Dia nantinya akan terlahir diantara para dewa dan manusia,
Memiliki gajah-gajah, kuda-kuda, dan kereta-kereta,
Tandu-tandu dan usungan-usungan yang bertatah manikam,
Dan mengendarai kendaraan surga, yang semuanya sangat sempurna.
Seandainya di tempat khotbah,
Ia memohon orang-orang untuk duduk dan mendengarkan Sutra,
Karena kebahagiaan ini, maka ia akan memperoleh
Tempat duduk seorang Sakra, Brahma, Cakravartin
Betapa lebih banyaknya lagi bagi dia yang dengan sepenuh hati
Mendengar dan memaparkan makna-Nya, maka Kebahagiaannya tiada berbatas lagi.”

Demikianlah Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Pahala Bagi Para Penganut, Bab 17
73
Atau ia yang selalu rajin dan bersemangat,
Senantiasa teguh kemauan dan ingatannya,
Dan selama ribuan koti kalpa yang tanpa batas
Dengan seluruh jiwa yang tidak pernah menyerah,
Dan selama kalpa-kalpa yang tanpa hitungan,
Berdiam di tempat yang terpencil,
Baik tinggal maupun berkelana,
Mencegah tidur dan senantiasa memusatkan jiwanya;
Dialah yang dengan sarana ini
Mampu menguasai meditasi
Dan selama 80 ribu koti kalpa
Dengan tenang tinggal disitu dengan jiwa yang teguh;

Dia yang memelihara kebahagiaan rasa tunggal ini,
Dengan rela hati rnencari Jalan Agung seraya berkata:
“Aku akan mencapai segala pengetahuan.
Dan maju terus sampai titik meditasi yang tertinggi.”

Orang seperti inilah yang selama ratusan ribu Koti kalpa,
Menjalankan perbuatan-perbuatan mulia
Seperti yang telah dijelaskan diatas;
Seandainya terdapat putera-puteri yang baik
Yang mendengarkan Aku menyatakan keabadian hidup-Ku,
Mempercayai-Nya meskipun dengan secuil keyakinan saja,

Pahala orang ini melampauinya
Jika seseorang bebas sepenuhnya
Dari segala bimbang dan kekhawatiran
Dan didalam relung hatinya mempercayai-Nya
meskipun hanya sekejap,
Sedemikian jugalah pahalanya.

Jika terdapat para Bodhisattva yang
Telah mengikuti Jalan Mulia selama banyak kalpa yang tak terhitung
Dan mendengar permakluman-Ku tentang Keabadian hidup-Ku,
Mereka akan mampu mempercayai-Nya dengan penuh keyakinan;
Orang-orang semacam ini
Akan menundukkan kepala-Nya untuk menerima Sutra Dharmaparyaya ini
Dan berkata “Semoga Kita di masa mendatang, Berusia panjang untuk
menyelamatkan semua mahluk.”

Seperti Sang Buddha sekarang ini
Yang menjadi Raja dari para Sakya,
Diatas teras kebijaksanaan-Nya mengangkat suara nyaring,
Mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan tanpa merasa gentar,

Semoga demikianlah juga Kita dimasa yang mendatang,
Dimuliakan dan dipuja oleh semua umat,
Bila duduk diatas teras kebijaksanaan,
Dengan cara yang serupa Kita nyatakan lamanya masa hidup !“

Seandainya terdapat seseorang yang berjiwa mulia,
Suci dan luhur,
Terpelajar dan mampu memelihara Kebenaran,
Yang memahami makna Ajaran-Ajaran Sang Buddha,
Orang-orang seperti ini
Tidak akan memiliki keraguan tentang Ajaran ini”

“Lagi, wahai Ajita ! Seandainya seseorang mendengar tentang lamanya masa hidup Sang Buddha dan mengetahui makna-Nya, maka Pahala yang diperoleh orang ini sangat tak terbatas dan ia akan mencapai Kebijaksanaan Agung dari Para Tathagata, betapa akan lebih banyak lagi orang yang mencurahkan diri untuk mendengarkan Sutra Dharmaparyaya ini, atau membuat orang lain mendengar-Nya, atau ia sendiri memeliharanya, ataupun membuat orang lain memelihara-Nya, atau ia sendiri menurun-Nya, ataupun membuat orang lain menurun-Nya, ataupun dengan bebungaan, dedupaan, karangan-karangan bunga, panji-panji, bendera, tirai-tirai sutera dan lampu berminyak harum serta berminyak susu lembu, ia menghormati Sutra Dharmaparyaya ini, maka Pahala orang ini akan menjadi tak terhingga dan tak terbatas dan ia akan mampu mencapai Pengetahuan Yang Sempurna. Wahai Ajita ! Jika terdapat seorang putera maupun puteri yang baik yang ketika mendengar pernyataan-Ku tentang lamanya masa hidupKu, kemudian ia mempercayai dan meyakini-Nya dengan perasaan hatinya yang paling dalam, maka orang seperti ini akan selalu melihat Sang Buddha berada diatas Gunung Grdhrakuta dikelilingi oleh para Bodhisattva Agung dan para Sravaka, sedang mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan. Dan ia akan melihat dunia saha ini yang buminya terdiri dari lapis lazuli, rata dan datar dengan 8 jalannya yang ditandai emas jambunada, dibatasi dengan pepohonan permata. Dunia saha ini mempunyai menara-menara, aula-aula dan serambi-serambi yang seluruhnya terdiri dari permata-permata dimana kelompok para Bodhisattva tinggal bersama-sama didalamnya. Jika seseorang dapat melihat demikian itu, maka ketahuilah bahwa inilah tanda-tanda Kepercayaan dan Keyakinan Yang Mendalam.

“Dan lagi, jika terdapat seseorang yang sesudah kemokshaan Sang Tathagata nanti mendengar Sutra Dharmaparyaya ini dan tidak merusak-Nya tetapi bahkan bergembira, maka ketahuilah bahwa ia telah memiliki tanda-tanda Kepercayaan dan Keyakinan Yang Dalam. Betapa lebih banyak lagi orang-orang yang membaca dan menghafalkan. menerima dan memelihara-Nya, maka orang ini menjunjung Sang Tathagata diatas kepalanya. Wahai Ajita, putera-puteri yang baik seperti itu tidak perlu lagi mendirikan stupa-stupa, candi-candi, maupun vihara-vihara untuk-Ku, ataupun membuat persembahan kepada para biarawan dengan keempat kebutuhan. Karena betapapun juga putera-puteri yang baik yang menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan Sutra ini, telah mendirikan stupa-stupa, membangun sanggar-sanggar parmujan dan membuat persembahan-persembahan kepada para biarawan. Katakanlah saja bahwa ia telah mendirikan stupa-stupa dari 7 benda berharga bagi peninggalan suci Sang Buddha, tinggi dan lebar serta menjulang sarnpai ke Brahmaloka, digantungi bendera-bendera dan tirai-tirai, genta-genta Indah dan bebungaan, wewangian, karangan-karangan bunga, bubuk cendana, salep-salep harum, dedupaan, genderang-genderang, alat-alat musik, seruling, peluit, harpa, dan segala jenis tarian serta sandiwara, yaitu nyanyian dan sanjungan dengan nada yang sempurna. Ia telah membuat persembahan-persembahan ini selama beribu koti kalpa yang tak terhitung.

Wahai Ajita ! Sesudah kemokshaan-Ku nanti, jika terdapat seseorang yang mendengar Sutra Dharmaparyaya ini dan dapat menerima serta memelihara-Nya atau ia sendiri menurun, atau membuat orang lain menurun-Nya, maka ia telah mendirikan Vhiara-Vihara dan membangun candi-candi kayu cendana merah dari 32 candi kecil, setinggi 8 pohon tala, menjulang, besar dan megah dimana didalamnya tinggal ratusan dan ribuan bhiksu. Stupa-stupa dan Vihara-Vihara itu juga terhiasi dengan petamanan, sesemakan, kolam-kolam mandi, tempat berjalan-jalan, ruang-ruang meditasi, dan perangkat-perangkat pakaian, makanan, tempat-tempat tidur, obat-obatan serta segala macam hiburan terdapat didalamnya. Sejumlah sanggar-sanggar pemujaan dan candi-candi itu yang jumlahnya sangat tak terhingga, telah berada disini dihadapan-Ku dan dipersembahkan kepada-Ku dan kepada semua Viharawan-Viharawan bhiksu. Oleh karenanya Aku sabdakan bahwa, seandainya terdapat seseorang yang sesudah kemokshaan-Ku nanti menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan Sutra Dharmaparyaya ini, mengkhotbahkan-Nya kepada umat yang lain, menurun-Nya sendiri atau membuat orang lain menurun-Nya, dan memuliakan Sutra Dharmaparyaya ini maka ia tidak perlu lagi mendirikan stupa-stupa dan candi-candi, atau membangun vihara-vihara maupun membuat persembahan-persembahan kepada para Viharawan. Betapa sedikitnya orang yang mampu memelihara Sutra Dharmaparyaya ini, memperbesar pemberian derma, moral, kesabaran, semangat, konsentrasi dan kebijaksanaan. Pahalanya akan menjadi sangat sempurna, tak terhingga dan tak terbatas bahkan seperti angkasa sebelah timur, barat, selatan dan utara, keempat penjuru antara, sebelah atas dan bawah, yang tak terhingga dan tanpa batasan. Begitu jugalah Pahala orang ini yang akan menjadi tak terhingga dan tak terbatas, serta ia akan mencapai Pengetahuan Sempurna dengan segera.
Jika seseorang membaca dan menghafalkan, menerima dan memelihara Sutra Dharmaparyaya ini, mengkhotbahkan-Nya kepada orang lain, atau dia sendiri menurun-Nya, atau membuat orang lain menurun-Nya, lebih-lebih lagi kalau ia mampu mendirikan caitya-caitya dan membangun vihara-vihara, melayani dan memuliakan para Viharawan-Viharawan, Sravaka, serta dengan ratusan ribu koti cara pemujaan memuji jasa-jasa dari para Bodhisattva; pun pula jika ia mampu mengkhotbahkan Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini kepada orang lain dengan berbagai dasar sesuai dengan maksudnya, lagi jika Ia mampu memelihara Titah-Titah dengan ketulusan, dengan damai tinggal secara tenang, menahan hinaan tanpa marah, berteguh hati dan pikiran, selalu mengindahkan meditasi, mencapai konsentrasi yang dalam, menegakkan kebajikan dengan penuh semangat dan dengan berani, cerdik dan bijaksana didalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit;

Lagi wahai Ajita, jika terdapat putera-puteri yang baik yang setelah kemokshaan-Ku nanti menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan Sutra Dharmaparyaya ini, dan mereka yang memiliki. jasa-jasa seperti ini, maka ketahuilah bahwa orang-orang itu telah melangkah maju kearah Teras Kebijaksanaan dan dekat dengan Penerangan Agung ketika duduk dibawah Pohon Penerangan Bodhi.

Wahai Ajita! Dimanapun juga putera-puteri itu duduk, berdiri ataupun berjalan di tempat itu, maka engkau haruslah mendirikan sebuah caitya dan seluruh para dewa serta manusia harus pula memuliakannya seperti Stupa peninggalan-peninggalan suci Sang Buddha.”

Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam syair:

“Seandainya terdapat seseorang yang setelah kemokshaan-Ku nanti,
Mampu memelihara Sutra Dharmaparyaya ini dengan penuh rasa hormat,
Kebahagiaan orang ini akan menjadi tak terhingga seperti yang dijelaskan diatas.
Orang seperti ini akan membuat Segala macam persembahan yang sempurna,
Dan mendirikan stupa-stupa bagi peninggalan-peninggalan suci,
Dihiasi dengan 7 benda berharga,
Dengan menara panji-panji, tinggi dan lebar,
Menjulang sampai ke surga kabrahman,
Dengan ratusan ribu koti genta-genta permata,
Tergoyang angin melagukan irama-irama mistik.
Selama ribuan kalpa yang tak terhitung
Ia telah memuliakan Stupa-Stupa ini
Dengan bebungaan, dedupaan dan permainan musik,
Dengan lampu-lampu berminyak wangi yang sedang menyala,
Dan menerangi sekelilingnya.

Didalam masa jahat dari sirnanya Hukum Kesunyataan,
Dia yang mampu memelihara Sutra Dharmaparyaya ini,
Akan seperti apa yang telah dijelaskan diatas,
Membuat segala macam persembahan dengan sempurna.
Jika seseorang dapat memelihara Sutra Dharmaparyaya ini,
Maka Sang Buddha seakan-akan hadir
Dan dia, dengan kayu cendana kepala lembu,
Membangun vihara untuk memuliakan-Nya,
Terdiri dari 32 ruangan, Setinggi 8 pohon tala,
Dengan makanan-makanan lezat dan pakaian-pakaian yang istimewa,
Tempat-tempat tidur dan segalanya,
Dengan tempat tinggal untuk ratusan dan ribuan orang;
Dengan petamanan, sesemakan dan kolam-kolam mandi,
Dengan lapang untuk berjalan-jalan dan kamar-kamar meditasi,
Semuanya dihias dengan indahnya.

Jika seseorang mempunyai rasa kepercayaan dan keyakinan,
Menerima, memelihara, membaca, menghafalkan dan menurun,
Ataupun membuat orang lain menurun,
Dan memuliakan Sutra Dharmaparyaya ini,
Dengan menaburkan bebungaan, dedupaan, dan bubuk cendana,
Serta memakai minyak wangi bunga sumana
Dan campaka serta atimuktaka
Agar dapat menyala terus;
Dia yang memuliakan-Nya seperti itu,
Akan mendapatkan Pahala yang tak terhingga;
Seperti angkasa yang tak terbatas, Begitulah pahalanya;
Betapa banyaknya orang yang memelihara Sutra Dharmaparyaya ini,
Memberi derma dan menjaga sabda-sabda,
Tahan penderitaan dan menguasai meditasi,
Tidak lekas marah dan tidak mengucap kata-kata hina,
Menghormati caitya dan sanggar-sanggar pemujaan,
Berendah hati pada para bhiksu,
Jauh dari kesombongan,
Selalu merenungkan Kebijaksanaan,
Tidak marah jika ditanya mengenai kesulitan-kesulitan,
Tetapi dengan ikhlas menjelaskannya;
Jika ia mampu melaksanakan perbuatan ini semua,
Maka pahalanya tak dapat dilukiskan.

Jika seseorang menjumpai seorang guru Hukum Kesunyataan seperti itu
Yang telah mencapai Keluhuran tadi,
Biarlah ia menaburkan bunga-bunga indah kepadanya,
Menyelimutinya dengan pakaian-pakaian yang indah,
Dan menghormatinya dengan menunduk dalam-dalam.
Menganggapnya seolah-olah Sang Buddha sendiri.
Lebilh-lebih lagi, biarlah ia berpikir begini “Dengan segera ia akan menuju Pohon Bodhi
Dan mencapai Kesempurnaan serta Kemudahan,
Tanpa rintangan menyelamatkan para dewa dan manusia.”
Dimanapun jua ia tinggal dan berdiam, Berjalan, duduk ataupun berbaring,
Dan berkhotbah meskipun hanya sebait Sutra Dharmaparyaya ini,
Di tempat itu dirikanlah stupa, Hiasilah dan buatlah indah.
Dan muliakanlah dengan segala cara.
Jika seorang putera Buddha berdiam di tempat yang demikian itu.
Ini berarti bahwa Sang Buddha sendirilah yang menggunakannya,
Dan senantiasa berdiam didalamnya, Sedang berjalan, ataupun duduk, maupun sedang merebahkan diri.”

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Kesucian, Bab 16
74
SUTTA BUNGA TERATAI DARI KEGHAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

 BAB XVI


Namo Bhagavate Amogha Siddhi Buddhaya
KESUCIAN

Pada saat itu, ketika persidangan agung mendengar sabda Sang Buddha bahwa sampai sedeimikianlah jumlah kalpa dan panjang masa hidup-Nya, maka asamkhyeya mahluk hidup yang tanpa hitungan jumlahnya memperoleh manfaat yang besar.

Kemudian Yang Maha Agung bersabda kepada Sang Bodhisattva-Mahasattva Maitreya “Wahai Ajita, ketika Aku maklumkan jangka hidup Sang Tathagata itu, maka 68 ratus ribu koti nayuta urnat yang banyaknya seperti pasir sungai-sungai Gangga, mendapatkan penetapan untuk tidak terlahir kembali. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seribu kali lebih banyak, telah mencapai kekuatan dharani dari pendengaran dan pemeliharaan Hukum Kesunyataan. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlahn-Nya seperti atom-atom dari sebuah dunia telah mencapai kemampuan diskusi yang fasih dan tidak meragukan lagi. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom dari sebuah dunia telah mencapai ratusan ribu koti dharani perubahan yang tak terhingga. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti jutaan dunia telah mampu memutar Roda Hukum Kesunyataan yang tidak pernah surut. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom dari jutaan dunia sedang telah mampu memutar Roda Hukum Kesunyataan Yang Suci. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom dari jutaan dunia kecil, setelah kelahiran yang kedelapan akan mencapai Penerangan Agung. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom empat dunia dari empat benua, sesudah kelahiran yang keempat akan mencapai Penerangan Agung. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom tiga dunia dari empat benua, sesudah kelahiran yang ketiga akan mencapai Penerangan Agung. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom dua dunia dari empat benua, sesudah kelahiran yang kedua akan mencapai Penerangan Agung. Lagi, para Bodhisattva-Mahasattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom sebuah dunia dari empat benua, sesudah satu kelahiran akan mencapai Penerangan Agung. Lagi, para umat yang jumlahnya seperti atom-atom dari delapan dunia, telah terberkahi untuk mencapai Penerangan Agung.”

Setelah Sang Buddha selesai mengisahkan tentang para Bodhisattva-Mahasattva yang telah memperoleh kemanfaatan yang besar dari Hukum Kesunyataan itu, kemudian dari atas langit bertaburan bunga-bunga mandarava dan maha mandarava yang tersebar diatas ratusan ribu koti para Buddha yang tanpa bilangan yang sedang duduk diatas tahta-tahta singa dibawah pohon-pohon permata. Bebungaan itu juga tersebar diatas Sang Sakyamuni Tathagata Arahat SamyakSamBuddha dan Sang Prabhutaratna Tathagata Arahat SamyakSamBuddha yang telah lama moksha dimana pada saat itu Beliau duduk didalam stupa dari 7 Benda Berharga, dan bebungaan itu juga tertabur diatas seluruh Bodhisattva-Bodhisattva Agung serta diatas kelompok dari keempat kumpulan. Tertabur juga dedupaan dari kayu cendana yang baik, kayu gaharu dan lain-lainnya. Diatas angkasa genderang-genderang kasurgan bertabuhan sendiri dengan gaung yang nyaring dan merdu dan dari sana bertaburan pula ribuan ragam pakaian-pakaian surga, dan di segala penjuru bergelantungan kalung-kalung, kalung-kalung permata, kalung-kalung manik, dan kalung-kalung mutiara indah. Anglo-anglo pedupaan dari aneka permata yang sedang membakar dupa yang tiada tara, bergerak kemana saja semaunya sendiri, untuk menghormati persidangan agung itu.

Diatas masing-masing Buddha, para Bodhisatva memegang tirai-tirai dengan susunan yang satu diatas yang lainnya, menjulang keatas sampai mencapai Brahmaloka. Semua para Bodhisattva ini menyanyikan lagu-lagu pujian dengan suara yang indah untuk memuja para Buddha.
Kemudian Sang Bodhisatva Maitreya bangkit dari tempat duduk-Nya dan menutup pundak kanan-Nya dengan sopan, mengatupkan kedua tangan-Nya kearah Sang Buddha dan berkata dalam syair :

“Sang Buddha telah mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan yang aneh
Yang belum pernah Kita dengar sebelumnya.
Betapa besar-Nya kekuasaan Yang Maha Agung
Dan masa hidup-Nya tak dapat dibayangkan.

Putera-putera Buddha yang tak terhitung jumlah-Nya,
Mendengarkan Yang Maha Agung secara terperinci
Mengisahkan mereka yang telah memperoleh manfaat Hukum Kesunyataan,
Semuanya terpenuhi rasa suka cita.

Sementara orang bertabah hati didalam tingkatan yang tidak pernah surut,
Sementara ada yang telah mencapai dharani,
Beberapa telah mencapai kefasihan yang tidak meragukan,
Atau menguasai ribuan koti perubahan,

Terdapat para Bodhisattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom
Dari jutaan dunia besar,
Masing-masing dari Mereka mampu memutar
Roda Hukum Kesunyataan yang tidak pernah surut.

Dan para Bodhisattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom
Dari jutaan dunia sedang,
Masing-masing dari Mereka mampu memutar
Roda Hukum Kesunyataan yang tidak pernah surut,

Dan para Bodhisattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom
Dari jutaan dunia kecil,
Masing-masing dan Mereka, sesudah delapan kelahiran kembali,
Akan mencapai jalan KeBuddhaan.

Lagi terdapat para Bodhisattva,
Yang jumlah-Nya seperti atom-atom dari 4, 3, 2
Dunia dari empat benua semacam ini.
Akan menjadi para Buddha setelah junlah-jumlah kelahiran itu.

Ataupun para Bodhisattva yang jumlah-Nya seperti atom-atom
Dari satu dunia dari 4 benua,
Yang sesudah satu kelahiran lagi,
Akan mencapai pengetahuan sempurna.

Mahluk-mahluk hidup seperti ini,
Setelah mendengar masa hidup Sang Buddha,
Akan memperoleh Pahala yang tak terhingga
Sempurna dan suci.

Terdapat juga para mahluk yang jumlah-Nya
Seperti atom-atom dari 8 dunia, yang
Sesudah mendengar permakluman Sang Buddha mengenai masa hidupNya,
Semuanya telah diilhami untuk mencapai Penerangan Agung.
Yang Maha Agung dengan jalan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan
Yang tak terhingga dan tak terbatas jumlah-Nya,
Tiada batasnya seperti angkasa dan
Berlimpah ruah manfaat-Nya.

Bunga-bunga mandarava yang indah bertaburan turun
Dan bunga-bunga maha-mandarava,

Para Sakra dan Brahma sejumlah pasir sungai Gangga
Telah berdatangan dari seluruh tanah-tanah Buddha yang tak terbilang,
Menaburkan cendana dan gaharu, yang
Jatuh terpadu dan tercampur

Seperti burung yang terbang rendah di angkasa
Dengan takzimnya mereka menaburi para Buddha.
Genderang-genderang surga di angkasa
Mengumandang sendiri suaranya yang menakjubkan.

Ribuan ragam jubah-jubah yang indah
Bertebaran turun.
Anglo-anglo yang bertatah manikam asli,
Membakar dupa yang tiada tara,
Seluruhnya bergerak berputaran
Didalam menghormati para Buddha.

Kelompok-kelompok para Bodhisattva Agung,
Memegang tirai-tirai dari 7 benda berharga,
Dengan ketinggian yang mengagumkan dan dengan beribu koti warna,
Yang satu diatas lainnya sampai mencapai puncak Surga Brahma.

Dihadapan masing-masing Buddha,
Pita-pita berhias permata tergantung berkibaran;
Juga dengan ribuan untaian bait
Mereka memuja para Tathagata dalam dendang.

Beraneka ragam hal yang seperti ini,
Belum pernah Kita ketahui sebelumnya.
Ketika mendengar bahwa masa hidup Sang Buddha sangat tak terhingga,
Semua umat menjadi gembira.

Kemasjhuran Sang Buddha diseluruh alam semesta,
Secara luas menyegarkan akar-akar kebajikan.
Dan semua mahluk hidup,
Mendorong hasrat mereka untuk mencapai Kebenaran Agung.”

Kemudian Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva Mahasattva Maitreya, “Wahai Ajita ! Para umat yang telah mendengar bahwa masa hidup Sang Buddha sangat begitu panjang dan mereka yang dapat menerima-Nya meskipun hanya dengan sekelumit kepercayaan dan keyakinan, maka Pahala yang akan mereka peroleh adalah tak terhingga dan tak terbatas. Bayangkanlah seandainya terdapat putera-puteri yang baik yang demi Penerangan Agung, selama 800 ribu koti nayuta kalpa telah melaksanakan ke 5 Paramita yaitu, Dana-Paramita, Sila-Paramita, Kshanti-Paramita, Virya-Paramita, Dhyana Paramita, semua ini kecuali Prajna-Paramita. Jika jasa-jasa ini dibandingkan dengan jasa-jasa yang telah disebutkan diatas, maka kedua-Nya tidak akan seimbang bahkan sampai keseratus bagian, keseribu bagian ataupun satu bagian dari seratus ribu koti daripada-Nya. Sesungguhnyalah tidak ada angka ataupun perbandingan yang dapat menunjukkan-Nya. Jika terdapat putera-puteri yang baik yang memiliki jasa-jasa seperti ini, maka tiada sesuatupun lagi yang dapat merintangi pencapaian Penerangan Agung.” Kemudian Yang Maha Agung yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam syair :

“Meskipun seseorang yang sedang mencari kebijaksanaan Sang Buddha,
Selama 80 ribu koti
Nayuta kalpa, Melaksanakan kelima Paramita,
Dan selama kalpa itu
Memberikan dana dan persembahan kepada para Buddha,
Pratyekabuddha dan para pengikut,
Begitu juga kepada berkoti-koti Para Bodhisattva.

Dengan makanan dan minuman yang jarang dan lezat,
Pakaian-pakaian yang indah dan perabot-perabot tidur,
Vihara-vihara yang dibangun dari kayu cendana dan
Terhiasi petamanan serta sesemakan;

Pemberian-pemberian dana semacam ini,
Ragamnya sangat mengagumkan,
Dia yang melaksanakannya selama kalpa-kalpa itu,
Merupakan persembahan yang berharga pada jalan KeBuddhaan;

Lagi pula, meskipun ia harus rnemelihara sabda-sabda
Dengan tulus hati tanpa cela dan tanpa kekeliruan,
Dan mencari Jalan Agung
Yang selalu dipuja oleh para Buddha;
Atau dengan sabar ia menahan hinaan,
Teguh berdiri didalam tingkatan kewelas-asihan,

Dan meskipun kedurhakaan datang kepadanya,
Untuk menjaga pikirannya jangan sampai tergoda;
Dia yang oleh penganut-penganut kepercayaan lain
Yang terpenuhi kecongkakan yang sangat
Dicemooh dan disakiti,
Namun mampu menahannya meskipun semacam ini;
75
Aku tinggal di dunia ini selama-lamanya,
Dengan menggunakan segala Kekuatan-Kekuatan Ghaib-Ku
Agar mahluk-mahluk yang menyeleweng,
Meskipun Aku di dekatnya, mereka tidak melihat-Ku.

Semua menganggap-Ku telah Moksha,
Di mana pun juga memuja Peninggalan-Peninggalan-Ku,
Semuanya menaruh hati yang penuh rindu,
Dan menaruh hati yang penuh harap.

Jika semua umat telah mempercayai dan mematuhi
Dengan Sifat Yang Jujur dan Berhati Lembut,
Dengan sepenuh Hati ingin melihat Sang Buddha,
Dengan tidak mempedulikan hidupnya sendiri,

Kemudian Aku dengan seluruh Sangha
Muncul bersama-sama di atas Puncak Gunung Gridhrakuta.
Kemudian Aku maklumkan pada semua umat
Bahwa Aku berada di dalam dunia ini selamanya,

Dengan Kekuatan Cara Yang Bijaksana
Mengungkapkan bahwa Diri-Ku ialah ada dan tiada.
Jika di Negeri-Negeri lain terdapat para umat,
Yang rindu dengan penuh hormat dan keyakinan,

Kembalilah Aku di tengah-tengah mereka
Mengkhotbahkan Hukum Agung.
Kalian yang tidak mendengar ini
Hanya berkata bahwa Aku telah Moksha

Aku melihat seluruh mahluk hidup
Tenggelam dalam lautan penderitaan,
Di sini Aku tidak menampakkan Diri-Ku,
Tetapi membuat mereka bercita-cita,

Sampai ketika Hati mereka merasa Rindu,
Aku muncul untuk mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan.
Dengan Kekuatan Ghaib Yang Hebat,
Selama banyak Asamkhyeya kalpa

Aku selalu berada di atas Puncak Gunung Gridhrakuta
Dan di setiap tempat tinggal.
Jika pada akhir kalpa itu mereka melihat,
Kebakaran besar sedang mengamuk,

Tenanglah adanya Dunia-Ku ini,
Senantiasa terhuni oleh Mahluk-Mahluk Surga,
Tetamanan dan banyak Istana-Istana
Terhiasi dengan setiap jenis Permata,

Pepohonan yang indah penuh dengan bunga dan bebuahan,
Di mana semua mahluk hidup bersuka ria;
Seluruh Para Dewa menabuh genderang-genderang Surga.
Dan berdendang lagu selamanya,
Menaburkan Bunga-Bunga Mandarava

Pada Sang Buddha dan Persidangan Agung-Nya.
Negeri Suci-Ku tidak akan pernah rusak,
Meskipun semua orang melihatnya sedang terbakar,
Dan kesedihan, kepanikan dan kesengsaraan
Menimpa mereka seperti ini.

Semua mahluk-mahluk yang penuh dosa itu,
Karena Karma jahat mereka,
Selama banyak Asamkhyeya kalpa,
Tidak mendengar Nama Ke Tiga Kendaraan.

Tetapi Mereka yang menjalankan Perbuatan-Perbuatan Luhur
Dan yang bersifat Welas Asih serta Jujur,
Mereka semua akan melihat bahwa Aku ada
Dan berada di sini memaparkan Hukum Kesunyataan.

Kadang-kadang pada kelompok orang-orang ini
Aku khotbahkan Hidup Sang Buddha Yang Abadi;
Pada Mereka yang sejauh itu melihat Sang Buddha
Aku khotbahkan bahwa Seorang Buddha jarang sekali di temui.

Demikianlah Kekuasaan-Ku Yang Bijaksana,
Sinar Kebijaksanaan-Ku bercahaya tiada tara,
Hidup-Ku adalah selkian Kalpa Yang Tak Terbatas
Dari dahulu membina Karma Yang Di peroleh.

Engkau yang telah memiliki Kebijaksanaan,
Janganlah berbimbang Hati akan Hal ini,
Tetapi laksanakanlah selamanya sampai pada akhir-Nya,
Karena Titah-Titah Sang Buddha semua-Nya Benar dan Tidak Palsu.

Seperti Seorang Tabib yang dengan Akal Yang Cerdik
Untuk menyembuhkan anak-anaknya yang hilang kesadarannya,
Meskipun Ia hidup, Ia mengabarkan kematiannya sendiri,
Namun tidaklah dapat di tuduh sebagai perbuatan palsu.

Begitu juga Aku yang menjadi Bapak dari Dunia ini,
Yang menyembuhkan segala kesengsaraan dan kedukaan,
Demi para manusia yang menyeleweng,
Meskipun sesungguhnya hidup, katakanlah Aku telah Moksha;

Kalau tidak demikian, maka karena selalu melihat-Ku,
Mereka akan mempunyai Jiwa yang congkak,
Menjadi risau dan menuruti ke lima nafsu-Nya
Dan jatuh ke dalam jalanan iblis.

Aku yang senantiasa mengetahui semua umat,
Mereka yang bertindak dan yang tidak bertindak di atas Jalan,
Sesuai dengan pokok-pokok kesanggupan mereka yang benar;
Menerangkan setiap Hukum Kesunyataan mereka;

Selalu membuat pikiran-Ku begini :
"Bagaimana Aku dapat membuat semua mahluk
Memasuki Jalan Agung
Dan dengan segera menyempurnakan KeBuddhaan mereka?"

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Panjang Umur Tathagata, Bab 15.
76
Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan

Bab XV


Panjang Umur Tathagata
Pada saat itu, Sang Buddha bersabda kepada Para Bodhisattva dan kepada seluruh Persidangan Agung :"Wahai Kalian Putera-Putera Yang Baik, yakinilah dan resapilah Ajaran-Ajaran Sang Tathagata Yang Benar." Beliau bersabda lagi kepada Persidangan Agung itu : "Yakinilah dan resapilah Ajaran-Ajaran Sang Tathagata Yang Benar." Dan kembali Beliau bersabda kepada seluruh Persidangan Agung itu : "Yakinilah dan resapilah Ajaran-Ajaran Sang Tathagata Yang Benar." Kemudian seluruh Kelompok Para Bodhisattva dengan Sang Maitreya sebagai Pemimpin-Nya, bersama-sama mengatupkan Tangan dan berkata kepada Sang Buddha :"Yang Maha Agung ! Berkenanlah Engkau kiranya membentangkan Hal itu, dan Kami akan menerima-Nya dengan penuh Keyakinan akan Titah-Titah Sang Buddha." Ketika Sang Buddha mengetahui bahwa Para Bodhisattva-Bodhisattva itu telah mengulangi Permohonan Mereka sebanyak Tiga kali berturut-turut, kemudian Beliau menyapa Mereka seraya bersabda :"Oleh karenanya, Wahai Kalian Semua, dengarkanlah dengan Penuh Perhatian tentang Kekuatan Ghaib Yang Menyeluruh, Pelik dan Rahasia dari Sang Tathagata. Seluruh Dunia-Dunia dari Para Dewa , Manusia dan Asura membayangkan demikian :"Sekarang Sang Sakyamuni Buddha telah benar-benar keluar dari Istana Sakya dan telah duduk di atas Tempat Asuhan Penerangan yang terletak tidak jauh dari Kota Gaya, serta telah pula mencapai Penerangan Agung itu." Akan tetapi, Wahai Putera-Putera-Ku Yang Baik, sejak Aku benar-benar menjadi Buddha, sang waktu telah berlalu ratusan ribu koti nayuta kalpa yang tak terhingga dan tak terbatas. Bayangkanlah seandainya terdapat 500 ribu koti nayuta asamkhyeya jutaan dunia, dan kemudian terdapat juga Seseorang menghancurkannya menjadi butiran-butiran atom. Dengan melintasi 500 ribu koti nayuta asamkhyeya Negeri menuju ke arah timur, Ia menjatuhkan satu butir dari atom-atom itu dan seandainya Ia melanjutkannya kearah timur lagi sampai atom-atom itu habis, maka bagaimanakah pendapat Kalian, Wahai Putera-Putera Yang Baik ? Apakah mungkin untuk membayangkan dan menghitung seluruh dunia-dunia tadi sehingga Kalian dapat mengetahui jumlahnya?" Sang Bodhisattva Maitreya dan Yang Lain-lain-Nya, Semua-Nya berkata pada Sang Buddha :"Yang Maha Agung ! Dunia-Dunia itu jumlahnya sangat tak terhingga dan tak terbatas, di luar jangkauan perhitungan dan di luar kemampuan daya pikir sehingga tidak ada Seorang pun dari Para Sravaka dan PratyekaBuddha yang dengan segala Kesempurnaan Kebijaksanaan-Nya, mampu menjajaki dan mengetahui batas dari jumlah-jumlah itu. Dan begitu juga Kami yang meskipun tinggal di dalam Tingkatan Avaivartika, Hal-Hal seperti ini masih di luar Pengetahuan Kami. Yang Maha Agung ! Jumlah seluruh Dunia-Dunia ini sangat tak terhingga dan tak terbatas."

Kemudian Sang Buddha menyapa Semua Bodhisattva-Bodhisattva itu :"Wahai Putera-Putera-Ku Yang Baik ! Sekarang Aku harus memaparkan dan menyatakan dengan jelas kepada Kalian. Seandainya Kalian mengumpulkan atom-atom dari semua dunia itu, baik yang sudah di tebarkan maupun yang belum, kemudian menghitung setiap butiran atom itu sebagai satu kalpa, maka waktu sejak Aku menjadi Buddha masih juga melampaui semuanya ini dengan ratusan ribu koti nayuta asamkhyeya kalpa. Mulai saat itu dan seterusnya, Aku telah tiada henti-hentinya berkhotbah dan mengajar di dalam Dunia Saha ini serta memimpin dan menyelamatkan semua mahluk hidup di tempat-tempat lain dalam ratusan ribu koti nayuta asamkhyeya kawasan. Putera-Putera Yang Baik ! Selama waktu ini, Aku selalu bersabda mengenai Diri-Ku Sendiri sebagai Sang Buddha Cahaya Menyala, dan juga bersabda mengenai Buddha-Buddha yang lain serta menceritakan pula kepada Mereka tentang masuknya Para Buddha ke Nirvana. Demikianlah telah Aku gambarkan kepada Mereka secara Bijaksana.

Wahai Putera-Putera Yang Baik ! Bilamanapun juga Para Umat datang kepada-Ku, maka Aku akan selalu melihat Mereka dengan sepasang Mata Buddha tentang segala kemampuannya, cerdas ataupun dungu, kemantapan kepercayaannya dan lain-lain. Dan Aku jelaskan pula kepada Mereka setingkat demi setingkat sesuai dengan kemampuan dan derajat kesanggupannya, tentang Nama-Ku yang berbeda-beda dan tentang jangka waktu masa Hidup-Ku serta dengan sederhana pula Aku katakan kepada Mereka bahwa Aku harus masuk Nirvana. Dengan bermacam-macam Cara Yang Bijaksana pula, Akupun mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, yang mampu membuat seluruh Mahluk memiliki Perasaan Hati Yang Penuh Kebahagiaan. Wahai Putera-Putera Yang Baik ! Karena mengetahui setiap kecenderungan semua umat terhadap hal-hal yang nista, sehingga mereka hanya memiliki sedikit Kebijaksanaan dan banyak kehinaan, maka terhadap orang-orang ini Sang Tathagata menyatakan :"Semasa muda-Ku, Aku tinggalkan kampung halaman untuk mencari Penerangan Agung. Semenjak Aku benar-benar menjadi Buddha dan untuk selamanya Akupun akan menjadi Buddha, telah Aku nyatakan bahwa di dalam mengajar dan merubah semua umat, hanya dengan Cara-Cara-Ku Yang Penuh Kebijaksanaan sajalah yang dapat membuat mereka masuk ke dalam Jalan KeBuddhaan. Wahai Putera-Putera-Ku Yang Baik ! Segala Sutta-Sutta Yang Telah dikhotbahkan oleh Sang Tathagata, semua-Nya demi Keselamatan para mahluk. Baik membicarakan Diri-Nya Sendiri ataupun membicarakan diri orang lain, baik menunjuk Diri-Nya Sendiri ataupun diri orang lain dan baik menyatakan masalah-Nya Sendiri ataupun masalah orang lain, maka apapun yang Beliau sabdakan adalah Benar adanya dan bukanlah isapan jempol belaka. Karena betapapun juga Sang Tathagata mengetahui dan melihat Sifat-Sifat Keadaan Triloka seperti apa adanya. Bagi Beliau, tidak ada kelahiran maupun kematian, pergi maupun datang, hidup ataupun mati, yang nyata ataupun yang tidak nyata, dan tidak juga ada yang begini ataupun begitu.

Tidak seperti caranya triloka memandang triloka, Sang Tathagata melihat dengan jelas akan hal-hal seperti ini semua tanpa salah sedikitpun. Karena semua mahluk memiliki berbagai ragam sifat, keinginan, kegiatan, ide dan bermacam alasan, maka Sang Tathagata yang berkehendak untuk membuat mereka agar menghasilkan Akar-Akar Kebajikan, telah mengkhotbahkan berbagai Kebenaran-Nya dengan bermacam-macam Gaya, Perumpamaan dan Ceramah. Perbuatan-Perbuatan Buddha Yang Telah Beliau laksanakan, Semua-Nya tidak sedikit pun gagal. Demikianlah, semenjak Aku menjadi Buddha di masa yang telah lama berlalu, Masa Hidup-Ku sebanyak Asamkhyeya Kalpa yang tak terbatas, selamanya akan ada dan kekal abadi. Wahai Putera-Putera-Ku Yang Baik ! Masa hidup yang Aku peroleh dengan melaksanakan Jalan KeBodhisattvaan belumlah tercapai dan masih akan berlangsung selama dua kali lipat dari jumlah kalpa yang terdahulu. Akan tetapi sekarang, di dalam Nirvana yang tidak asli ini, Aku nyatakan bahwa Aku harus masuk Nirvana yang sesungguhnya. Dengan cara yang sedemikian Bijaksana inilah Sang Tathagata mengajar semua umat. Karena betapapun jua jika Sang Buddha tinggal lama di dunia, maka para manusia yang berbudi rendah, dan para manusia yang berjiwa rendah serta hina dan mereka yang tergila-gila untuk memuaskan ke lima nafsu, serta mereka yang terjerat di dalam jaring-jaring pemikiran yang salah serta pandangan yang palsu, maka jika mereka melihat Sang Tathagata selalu ada dan tidak juga moksha, akibatnya mereka akan jemu dan bermalasan dan tidak dapat menyadari bahwa menemui Sang Buddha adalah suatu Hal yang sangat sulit ataupun mereka akan tidak mempunyai perasaan hormat kepada-Nya. Oleh karenanya Sang Tathagata mengajar dengan Bijaksana :"Ketahuilah Wahai Para Bhiksu, bahwa muncul-Nya Para Buddha di dalam Dunia adalah suatu kejadian yang jarang sekali terjadi. Karena selama ratusan ribu koti kalpa yang tak terbatas, beberapa manusia yang berbudi rendah mungkin beruntung melihat-Nya ataupun bahkan tidak seorang pun yang pernah melihat-Nya. Oleh sebab ini, Aku sabdakan :"Wahai Para Bhiksu ! Seorang Tathagata jarang sekali terlihat !" Ketika mendengar Pernyataan itu, seluruh para mahluk sudah barang tentu menyadari bahwa betapa sulitnya bertemu dengan Seorang Buddha, maka mereka menaruh Perasaan Harap dan Rindu Kepada-Nya, dan kemudian mereka akan membina Akar-Akar Kebajikan. Oleh sebab itu, meskipun dalam Kenyataan-Nya Sang Tathagata tidak Moksha, namun Beliau menandaskan Kemokshaan-Nya. Lagi, Wahai Putera-Putera Yang Baik ! Cara dari Seluruh Buddha Tathagata Semua-Nya akan selalu seperti ini demi untuk menyelamatkan semua umat, dan segalanya ini benar-benar Nyata adanya dan tidak merupakan kebohongan semata.

"Sebagai misal, bayangkanlah seandainya ada Seorang Tabib Baik Yang Bijaksana, Cerdas dan Ahli KeTabiban serta pandai mengobati segala macam penyakit. Ia mempunyai banyak putera, katakanlah 10, 20, atau bahkan sampai 100. Karena suatu hal, maka Ia pergi ke sebuah Negeri yang jauh letaknya. Setelah keberangkatan-Nya, anak-anak-Nya meminum ramuan obat lain yang beracun, yang menyebabkan mereka hilang ingatan dan bergulingan di atas tanah. Pada saat ini, Sang Ayah pulang ke rumah. Di antara anak-anak yang meminum ramuan racun tadi, beberapa orang telah hilang ingatan, sedang yang lainnya masih tetap sadar. Ketika melihat Ayahnya datang dari kejauhan, semuanya sangat bersuka cita dan berlutut menghormati-Nya seraya memohon :"Alangkah senangnya kami bahwa Engkau telah pulang dalam keadaan selamat ! Karena kebodohan kami, secara serampangan, kami telah meminum racun dan kami memohon-Mu untuk mengobatinya serta mengembalikan kesehatan kami." Demi melihat anak-anak-Nya dalam penderitaan yang sedemikian itu, maka sesuai dengan Resep-Nya, Sang Ayah mencari Akar Obat-Obatan Yang Baik dan semuanya Sempurna dalam hal Warna, Bau dan Rasanya untuk kemudian menumbuknya, mengayaknya, menyampurnya serta memberikannya pada anak-anaknya agar di minum seraya berkata :"Sekarang kalian minumlah Ramuan yang manjur ini dengan warna, bau dan rasa enak yang semuanya sempurna, dan Ramuan ini akan segera membebaskan kalian dari penderitaan itu sehingga kalian tidak lagi sengsara." Di antara anak-anak yang masih sadar itu, ketika melihat Ramuan istimewa dengan warna dan bau yang enak tadi, maka dengan segera mereka meminumnya dan semuanya sembuh dari sakitnya. Yang lainnya yang telah hilang kesadarannya, merasa bersuka cita pula ketika melihat Sang Ayah datang, menghormati-Nya dan memohon-Nya juga untuk menyembuhkan sakit mereka. Tetapi ketika Sang Ayah memberikan Ramuan tadi, mereka tidak berhasrat meminumnya karena racun telah beredar dalam-dalam sehingga mereka kehilangan kesadarannya, dan bahkan terhadap Ramuan yang berwarna dan berbau istimewa tadi mereka menganggapnya sebagai Ramuan yang tidak berarti. Sang Ayah berpikir :"Sayang sekali ! Anak-anak ini telah terpengaruh oleh racun itu sehingga pikiran mereka semuanya kacau. Meskipun mereka bergembira melihat-Ku dan memohon-Ku menyembuhkan sakitnya, namun mereka tidak berkeinginan untuk meminum Ramuan Obat itu. Sekarang Aku harus mengatur rencana yang baik agar mereka mau meminum Ramuan obat ini." Kemudian Ia berkata kepada mereka:"Kalian seharusnya tahu bahwa Aku saat ini sudah lanjut usia dan saat kematian-Ku pun sudah mendekat. Ramuan Obat Yang Istimewa ini Aku tinggalkan di sini dan kalian boleh meminumnya dan janganlah takut untuk tidak sembuh."

Sesudah menasehati mereka sedemikian itu, kemudian Ia berangkat lagi ke Negeri lain dan mengirim pulang Seorang Utusan untuk memberitahukan mereka, 'Ayah kalian telah meninggal.' Dan sekarang, ketika anak-anak itu mendengar bahwa Sang Ayah telah wafat, mereka di liputi perasaan duka yang besar dan mereka berpikir :"Seandainya Ayah masih hidup, Beliau pasti akan selalu mengasihani kita dan kita semua akan selamat dan terawat. Tetapi sekarang Beliau telah meninggalkan kita di Negeri yang jauh. Kita sekarang menjadi yatim piatu dan tidak ada Seorang pun lagi untuk bersandar."

Kesedihan yang terus menerus ini menyadarkan mereka dan mereka teringat pula akan Ramuan Obat yang berwarna, berbau dan berasa lezat itu dan kemudian mereka meminumnya sehingga racun yang mereka kandung menjadi pudar. Sang Ayah yang mendengar bahwa anak-anak-Nya telah sembuh semuanya, kemudian menanti Kesempatan dan kembali pulang sehingga mereka semua melihat-Nya. Wahai Semua Putera-Putera-Ku Yang Baik ! Bagaimanakah Pendapat kalian ? Apakah terdapat seseorang yang dapat mengatakan Tabib Yang Baik ini telah berdosa karena telah membuat kebohongan ?" "Tidak Seorang pun, Yang Maha Agung !"

Kemudian Sang Buddha bersabda :"Aku juga seperti ini. Sejak Aku menjadi Buddha pada beratus ribu koti nayuta Asamkhyeya Kalpa yang tak terhingga dan tak terbatas yang telah lalu, demi semua umat, dengan Kekuatan-Ku Yang Bijaksana telah Aku nyatakan bahwa Aku harus masuk Nirvana, dan meskipun begitu, tidak ada Seorang pun yang menuduh-Ku secara Hukum bahwa Aku telah berbuat kebohongan."

Pada saat itu, Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam Syair :

"Sejak Aku mencapai KeBuddhaan,
Kalpa-Kalpa yang telah Aku lalui,
Adalah beribu-ribu koti
Asamkhyeya tahun yang tak terbatas.

Tiada henti-hentinya Aku berkhotbah Hukum Kesunyataan dan mengajar
Berkoti-koti mahluk yang tanpa hitungan jumlahnya
Agar mereka memasuki Jalan KeBuddhaan;
Sejak saat itu adalah beribu kalpa yang tak terhitung.

Demi untuk menyelamatkan semua umat,
Dengan Cara Yang Bijaksana Aku bentangkan Nirvana,
Bahkan sesungguhnya Aku tidak Moksha,
Tetapi selamanya berada di sini mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan.
78
Kepada seluruh Para Buddha Yang Agung
Ia harus menganggap-Nya sebagai Ayahnya Yang Sangat Bijaksana,
Dan dengan menghapus jiwa congkaknya,
Harus dapat mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan tanpa halangan.

Itulah Cara Yang Ketiga, Pelaksanaan Penuh Ketenangan.
Seorang Yang Bijaksana hendaknya melaksanakan semua ini,
Seorang Pengkhotbah yang tekun dan penuh rasa pengabdian itu,
Akan di puja oleh kelompok-kelompok yang tak terbatas."

"Lagi, Wahai Manjusri ! Bodhisattva Mahasattva yang memelihara Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini di dalam ujung-ujung masa yang akan datang, waktu Hukum Kesunyataan hampir musnah, maka Ia harus memelihara Jiwa Cinta Kasih Yang Agung terhadap Para Pengikut awam dan Para Bhiksu, dan membina Jiwa Welas Asih Yang Agung kepada mereka yang belum menjadi Bodhisattva. Dan Ia harus membayangkan demikian :"Orang-orang semacam ini telah menderita kerugian yang besar. Ketika ada kesempatan Hukum Kesunyataan ini di khotbahkan dengan Cara Yang Bijaksana dari Sang Tathagata, mereka tidak mendengarkan, maupun mengetahui-Nya, maupun memahami-Nya, maupun menanyakan-Nya, maupun mempercayai-Nya ataupun mengerti Sutta ini. Ketika Aku telah mencapai Penerangan Agung, maka di manapun Aku berada, dengan Kekuatan Ghaib-Ku dan Daya Kebijaksanaan-Ku, Aku akan memimpin Mereka untuk tinggal di dalam Hukum Kesunyataan ini."

"Wahai Manjusri ! Bodhisattva Mahasattva yang sesudah Kemokshaan Sang Tathagata nanti, yang telah menyempurnakan Cara Yang Keempat ini, maka bila Ia berkhotbah tentang Hukum Kesunyataan ini, Ia akan terbebas dari kesalahan-kesalahan. Ia akan selalu di muliakan, di puja, di hormati dan di puji oleh Para Bhiksu, Bhiksuni, Pengikut-Pengikut Priya dan Wanita, Para Raja dan Pangeran, dengan Menteri-Menteri dan Rakyatnya, Para Brahman dan Penduduk serta lain-lainnya. Seluruh Para Dewa yang berada di angkasa akan selalu mengikuti dan menghadiri-Nya agar dapat mendengar Hukum Kesunyataan itu. Jika Ia berada di sebuah dusun, kota ataupun di hutan yang terpencil dan kemudian ada seseorang yang datang hendak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit kepadanya, maka demi Hukum Kesunyataan itu, Para Dewa siang dan malam tiada henti-hentinya akan menjaga dan melindungi-Nya sehingga Ia mampu membuat Para Pendengar-Nya bergembira. Karena betapapun juga Sutta inilah yang pada masa dahulu, masa mendatang dan saat sekarang ini yang selalu di amati oleh Para Buddha dengan Kekuatan Ghaib Mereka."

"Wahai Manjusri ! Di dalam banyak negara yang tak terhitung jumlahnya, di mana bahkan Nama dari 'Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan' tidak dapat terdengar, sangatlah jarang Hukum Kesunyataan ini dapat di ketahui, di terima dan di pelihara, di baca serta di hafalkan.

"Wahai Manjusri ! Aku akan menceritakan kepada-Mu sebuah Perumpamaan. Hal ini seperti Seorang Raja Pemutar Roda Suci yang sangat berkuasa, yang ingin menaklukkan negeri-negeri lain dengan Kekuatan. Ketika raja-raja kecil tidak mematuhi Perintah-Nya, maka Raja Pemutar Roda Suci itu mengerahkan segala Tentara-Nya dan pergi mengalahkan mereka. Demi melihat Tentara-Tentara-Nya yang sangat perkasa di dalam peperangan itu, Sang Raja menjadi senang hati dan memberi mereka hadiah-hadiah menurut jasa-Nya masing-masing, baik berupa bidang-bidang tanah, rumah-rumah, desa-desa, ataupun kota-kota, atau memberi mereka pakaian-pakaian ataupun perhiasan-perhiasan diri, ataupun memberi segala macam harta benda, emas, perak, lapis lazuli, batu-batu bulan, batu-batu mulia, coral, amber, gajah-gajah, kuda-kuda, kereta, tandu, budak laki-laki dan perempuan serta rakyat. Hanyalah Permata Mahkota yang terdapat di atas Kepala-Nya sajalah yang tidak Ia berikan pada siapapun, karena hanya di atas Kepala Seorang Raja sajalah Permata tunggal ini di pakai dan seandainya Ia memberikan Permata itu, maka seluruh pengikut-pengikut Raja itu akan terkejut. Wahai Manjusri ! Sang Tathagata juga seperti ini. Dengan Kekuatan Meditasi Dhyana-Nya dan Kebijaksanaan-Nya, Beliau memperoleh Kuasa atas seluruh negeri itu berdasarkan Dharma dan memerintahnya sebagai Seorang Raja di seluruh Triloka. Tetapi raja-raja mara tidak mau menyerah, namun Jenderal-Jenderal Kebijaksanaan dan Kesucian dari Sang Tathagata memerangi mereka. Kepada mereka yang perkasa, maka Beliau juga bersenang Hati dan di tengah-tengah Keempat Kelompok-Nya, Beliau mengkhotbahkan Sutta-Sutta kepada Mereka, yang membuat Mereka bergembira, serta menghadiahi Mereka dengan Meditasi Dhyana, Pembebasan, Akar-Akar Kebenaran tanpa asrava dan Kekuatan-Kekuatan tanpa asrava, dan semua Kekayaan Hukum Kesunyataan. Sebagai tambahan, Beliau memberi Mereka Kota Nirvana dengan bersabda bahwa Mereka telah mencapai Kemokshaan serta Beliau memikat Pikiran Mereka sehingga semua-Nya bergembira, meskipun demikian, Beliau tidak mengkhotbahkan 'Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan' ini kepada Mereka.

"Wahai Manjusri ! Seperti juga Sang Raja Pemutar Roda Suci yang sangat bergembira melihat Bala Tentara-Nya gagah perkasa sehingga akhirnya Ia memberi Mereka Permata yang tak ternilai harganya, yang di pakai di atas Kepala-Nya selama waktu yang lama, yang tidak boleh di berikan secara sembarangan kepada seseorang. Begitu jugalah Sang Tathagata. Sebagai Raja Hukum Kesunyataan Yang Agung dari Triloka, Beliau mengajarkan dan mentakbiskan semua mahluk hidup dengan Hukum Kesunyataan, ketika Beliau melihat Tentara-Nya Yang Bijak dan Suci berperang melawan mara dari 5 proses mental, mara dari nafsu birahi dan mara dari kematian dengan Keberanian Yang Luar Biasa dan segala Jasa-Jasa, menghapuskan ketiga racun, lolos dari Triloka dan menerobos jaring-jaring mara, Sang Tathagata menjadi sangat bergembira dan sekarang akhirnya mengkhotbahkan Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini, yang belum pernah di khotbahkan sebelumnya dan yang mampu menyebabkan semua umat mencapai Pengetahuan Yang Sempurna. Aku tidak membabarkan Sutta ini sebelumnya karena jika Aku melakukan-Nya, banyak orang dalam dunia ini akan membenci dan hanya sedikit yang mempercayai-Nya. Wahai Manjusri ! Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini merupakan Ajaran Yang Paling Terkemuka dari Para Tathagata serta merupakan Ajaran Yang Paling Halus atau Dalam. Akhirnya Aku berikan pada Kalian Semua, seperti halnya Raja yang sangat berkuasa itu, yang akhirnya memberikan Permata Yang Paling Berharga, Yang Telah Ia Pelihara Sekian Lama-Nya.

"Wahai Manjusri ! Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini merupakan Kekayaan Yang Pelik dari Para Buddha Tathagata yang merupakan Sutta Yang Paling Agung Dari Seluruh Ajaran Sang Tathagata. Begitu lamanya Sutta ini di jaga dan tidak di khotbahkan sebelum Waktu-Nya tiba. Untuk yang pertama kalinya Hari ini Aku Khotbahkan Sutta itu kepada Kalian Semua.

Pada saat itu, Yang Maha Agung menginginkan untuk memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam Syair :

"Senantiasa bertindak dengan sabar
Mengasihi Semua mahluk hidup,
Begitulah Seseorang dapat memaklumkan
Sutta Yang Di Puja Sang Buddha.

Di dalam akhir masa-masa mendatang,
Mereka yang memelihara Sutta ini,
Haruslah memiliki Hati Yang Welas Asih.
Dan kepada mereka yang bukan Bohisattva,
Ia harus berpikir ;
' Bagi Mereka yang tidak mendengar
Ataupun mempercayai Sutta ini
Mengalami kerugian yang besar.
Aku, setelah mencapai Jalan KeBuddhaan,
Dengan Cara Yang Bijaksana,
Akan Mengkhotbahkan Sutta ini kepada Mereka
Agar Mereka tinggal di dalam-Nya. '

Aku akan menceritakan kepada-Mu sebuah Perumpamaan,
Seperti halnya Seorang Raja
Pemutar Roda Suci Yang Sangat Berkuasa
Yang kepada Tentara-Tentara Perang Pilihan-Nya
Menghadiahkan banyak Hadiah-Hadiah,
Gajah-Gajah, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Tandu-Tandu,
Perhiasan-Perhiasan Pribadi,
Begitu juga Bidang-Bidang Tanah dan Rumah-Rumah,
Desa-Desa dan Kota-Kota.

Ataupun memberikan Pakaian-Pakaian,
Bermacam-macam Jenis Permata,
Budak-Budak dan Kekayaan-Kekayaan,
Memberikan seluruhnya dengan gembira

Tetapi hanya bagi Satu Keberanian Perwira,
Dan Keberanian Yang Luar Biasa,
Sang Raja Baru mengambil dari Kepala-Nya,
Intan Mahkota untuk di berikan kepada-Nya.

Begitu jugalah dengan Sang Tathagata.
Beliau adalah Seorang Raja dari Segala Hukum Kesunyataan
Memiliki Kekuatan Kesabaran Yang Agung.
Serta Kekayaan dari Kebijaksanaan;

Beliau, dengan Kebajikan Yang Agung,
Merubah Dunia dengan Hukum Kesunyataan-Nya.
Demi melihat Para Umat
Menderita duka dan sengsara
Mencari Kebebasan,
Berperang melawan mara

Beliau pada semua mahluk hidup ini,
Telah mengkhotbahkan berbagai macam Hukum Kesunyataan,
Dan dengan Kebijaksanaan Yang Agung,
Telah mengkhotbahkan Sutta-Sutta banyak sekali;
Akhirnya mengetahui bahwa para mahluk
Telah memperoleh kekuatan mereka,

Pada akhirnya Beliau mengkhotbahkan
Kepada Mereka Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini,
Seperti Sang Raja yang mengambil dari Kepala-Nya
Permata itu dan memberikan-Nya.

Sutta ini Sangat Unggul
Diantara semua Sutta-Sutta.
Aku selalu memelihara-Nya
Dan tidak mengajarkan-Nya sebelum Waktu-Nya.

Saat ini benar-benar Waktu-Nya
Untuk mengkhotbahkan-Nya kepada Kalian Semua.
Sesudah Kemokshaan-Ku,
Siapa pun yang mencari Jalan KeBuddhaan
Dan menghendaki memaklumkan
Sutta ini dengan tiada terganggu,
Haruslah menghubungkan Dirinya pada
Keempat Pokok-Pokok seperti ini.

Dia yang membaca Sutta ini
Akan selalu terbebas dari kekhawatiran
Dan terbebas dari sakit dan penyakit;
Wajahnya akan menjadi segar dan putih;
Dia tidak akan terlahir dalam kemiskinan,
Sederhana ataupun nista.

Semua mahluk akan senang memandangnya
Sebagai Seorang Suci yang di rindukan;
Para Bidadari Surga
Akan menjadi Pelayannya.
Pedang dan tongkat tidak akan terletak di atasnya,
Racunpun tidak akan membahayakannya.

Jika seseorang menjelekannya,
Mulut orang itu akan di tutup / di bungkam.
Dengan tiada gentar Ia akan mengembara
Seperti Seekor Raja Singa.

Kegermelapan Kebijaksanaannya
Akan bersinar seperti Sang Surya.
Seandainya Ia bermimpi,
Ia akan melihat hal-hal yang indah,
Melihat Para Tathagata
Duduk di atas Tahta-Tahta Singa,
Mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan pada Para Kelompok-Kelompok
Yang mengelilingi Para Bhiksu

Melihat juga Para Naga,
Asura dan yang lain-lainnya,
Dalam jumlah seperti pasir-pasir Sungai Gangga,
Yang memuliakan-Nya dengan tangan terkatup;

Dan Ia melihat Dirinya Sendiri
Mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada Mereka.
Ia juga akan melihat Para Buddha,
Dengan Tanda Tubuh Emas-Nya,
Memancarkan Sinar Yang Luar Biasa,
Menerangi Semua Umat,
Dan dengan Suara Brahma,
Menjelaskan Hukum Kesunyataan itu.

Sedangkan Sang Buddha pada Keempat Kelompok
Mengkhotbahkan Hukum Yang Agung,
Ia akan melihat Dirinya Sendiri di tengah-tengah Kelompok itu
Sedang memuja Sang Buddha dengan Tangan Terkatup;

Ia akan mendengarkan Hukum Kesunyataan dengan Kegembiraan,
Menyembah-Nya,
Mencapai Dharani,
Dan membuktikan Kenyataan dari Kepantang Munduran.

Sang Buddha yang mengetahui pikirannya
Telah masuk dalam Jalan KeBuddhaan,
Kemudian akan menetapkannya untuk memperoleh
Penerangan Agung Yang Sempurna,
Dengan bersabda :"Engkau Putera-Ku Yang Baik,
Dalam masa yang mendatang
Akan mencapai Kebijaksanaan Yang Mutlak,
Jalan Agung dari Sang Buddha;

Sebuah Kawasan Yang Sangat Bersih,
Dengan Luas Yang Tak Terbandingkan,
Dan bersama Keempat Kelompok-Mu
Dengan Tangan Terkatub mendengarkan Hukum Kesunyataan-Mu."

Ia juga akan melihat Dirinya Sendiri
Di dalam hutan pegunungan,
Melatih Dirinya dalam Hukum Kesunyataan Yang Baik,
Membuktikan Kenyataan,
Dan asyik bermeditasi
Melihat Para Buddha Dari Sepuluh Penjuru Alam Semesta;

Para Buddha-Buddha itu berwarna Keemasan
Terhiasi dengan Seratus Tanda-Tanda Jasa Kebajikan;
Ia yang mendengarkan dan mengkhotbahkan kepada yang lain,
Selalu bermimpi baik seperti ini.

Lagi, Ia bermimpi menjadi Seorang Raja
Yang telah mengalahkan kelima hawa nafsu
Dan segala kesenangan yang indah.
Yang meninggalkan Istananya dan Keluarganya
Dan menikmati dengan indahnya bagi perasaan-perasaannya
Untuk pergi ke Singasana Kebijaksanaan;

Dikaki sebuah pohon Bodhi,
Ia duduk di atas Tahta Singa;
Setelah mencari Jalan Agung selama 7 Hari,
Ia mencapai Kebijaksanaan Dari Para Buddha;

Setelah mencapai Penerangan Agung Tiada Tandingan,
Ia bangkit dan memutar Roda Hukum Kesunyataan,
Kepada Keempat Kelompok Mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan
Selama beribu-ribu koti kalpa;

Sesudah mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan
Yang Menakjubkan, Yang Sempurna
Dan menyelamatkan mahluk-mahluk yang tanpa hitungan,
Kemudian Ia akan mencapai Nirvana
Seperti sebuah Pelita Yang Padam Ketika Asapnya Berakhir.

Seandainya Seseorang dalam masa angkara yang mendatang
Mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan Yang Paling Utama ini,
Ia akan memperoleh Karunia Yang Besar
Seperti Pahala-Pahala di atas tadi.

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Hidup Tenang, Bab 13.
79
Ia hendaknya tidak berkeinginan untuk menerima
Pakaian atau tempat tidur,
Makanan dan minuman atau obat-obatan
Dari Mereka.

Ia hendaknya membabarkan Dharma kepada Mereka,
Hanya dengan Dua Keinginan
Untuk mencapai Penerangan Buddha dan
Juga menyebabkan Mereka melakukan Hal Yang Sama.
Ini adalah Persembahan Penuh Kedamaian kepada Mereka
Persembahan ini akan memberikan Mereka sebuah Manfaat Besar.

Seorang Bhiksu yang membabarkan
Saddharma Pundarika Dharmaparyaya Suttram ini
Dengan Kesabaran
Setelah Kemokshaan-Ku,
Akan Terbebas,
Dari iri hati, kemarahan, dan segala ilusi lainnya,
Dengan kata lain, terbebas dari segala rintangan.
Ia tidak akan mempunyai kesedihan.
Ia tidak di jelek-jelekkan.
Ia tidak akan berada dalam ketakutan.
Ia tidak terancam dengan pedang atau tongkat,
Atau terusir keluar.

Seorang Yang Bijaksana
Yang mengendalikan pikirannya
Sebagaimana yang telah di nyatakan,
Akan mencapai Kedamaian.

Jasa Kebajikannya akan tidak terhingga
Kamu tidak akan dapat memberitahukan jumlahnya kepada Mereka
Dengan perumpamaan atau Kiasan apapun juga, bahkan
Jika Kamu mencoba melakukannya
Selama ribuan milyar kalpa.

"Lagi, Wahai Manjusri ! Bodhisattva Mahasattva yang di dalam masa kejahatan yang akan datang dan ketika Hukum Kesunyataan ini akan musnah, Dia yang menerima dan memelihara, membaca serta menghafalkan Sutta ini, maka Dia hendaknya tidak mempunyai rasa iri dan berhati dusta, tidak pula memandang rendah dan menghina mereka yang belajar di Jalan KeBuddhaan ataupun mencari-cari kelebihan dan kekurangan mereka. Jika terdapat Para Bhiksu, Bhiksuni, Pengikut-Pengikut Priya dan Wanita, yang mencari KeSravakaan, ataupun mencari KePratyekaBuddhaan maupun mencari Jalan KeBodhisattvaan, maka Dia hendaknya tidak menyusahkan mereka dengan membuat mereka bimbang dan menyesal seraya berkata : "Kalian semua telah jauh tergeser dari Jalan Agung dan tidak akan pernah dapat mencapai Pengetahuan Yang Sempurna, karena kalian adalah orang-orang yang goyah dan lengah di dalam Jalan Agung." Dia hendaknya tidak mempunyai perasaan mengagalkan di dalam pembicaraan - pembicaraan atau perbantahan-perbantahan tentang ajaran dengan orang lain. Tetapi demi seluruh mahluk, Ia harus memikirkan mereka dengan penuh rasa Welas Asih. Ia harus memikirkan Para Tathagata sebagai Ayah-Nya Yang Bijaksana. Ia harus memikirkan Para Bodhisattva Mahasattva sebagai Guru-Guru-Nya Yang Agung. Ia hendaknya selalu menghormat dan memuliakan Para Bodhisattva Mahasattva Sepuluh Penjuru Semesta dengan Ketulusan Hati-Nya. Demi seluruh mahluk, Ia harus mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan dengan sama tanpa perbedaan sesuai Jalannya Hukum Kesunyataan. Ia hendaknya tidak menambahkan apapun pada Dharma atau menyingkirkan apapun dari Dharma. Dia hendaknya membabarkan Hukum Kesunyataan sebagaimana ada-Nya kepada Mereka yang sangat mencintai Hukum Kesunyataan."

"Wahai Manjusri ! Ketika Bodhisattva Mahasattva ini, di dalam akhir masa ketika Hukum Kesunyataan ini akan musnah, telah dapat menyempurnakan Tingkat Ketiga Dari Pelaksanaan Yang Damai dan mengkhotbahkan Sutta ini, maka tidak akan ada sesuatu pun yang dapat mengganggu-Nya lagi. Dia akan mendapatkan teman-teman belajar yang baik, yang akan membaca dan menghafalkan Sutta ini bersama-Nya. Dia juga akan mendapatkan orang-orang yang sangat banyak, yang berdatangan dan mendengar-Nya, yang setelah mendengar-Nya kemudian menghafalkan-Nya, setelah menghafalkan-Nya kemudian dapat mengkhotbahkan-Nya, setelah mengkhotbahkan-Nya kemudian dapat menyalin-Nya atau membuat orang lain mampu menyalin-Nya dan Mereka yang menghormati Sutta ini, Mereka itu akan memuja, memuliakan dan memuji-Nya."

Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam Syair :

"Jika Seseorang hendak mengkhotbahkan Sutta ini,
Haruslah Ia meninggalkan jiwa yang iri, marah dan sombong,
Bujukan, pikiran yang dusta dan palsu,
Dan selalu melaksanakan perbuatan-perbuatan yang jujur.
Dia tidak boleh meremehkan siapapun,
Dan sekali-sekali tidak boleh membicarakan Hukum Kesunyataan untuk hiburan,
Ataupun menyebabkan orang lain bimbang maupun menyesal,
Dengan berkata :"Kalian tidak akan dapat menjadi Buddha."
Putera Sang Buddha ini di dalam mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan
Akan selalu lemah lembut, sabar,
Serta Welas Asih pada semua
Dengan tidak pernah merasa malas.

Kepada Para Bodhisattva Agung di manapun jua,
Yang melaksanakan Jalan Agung dengan Kasih Sayang pada semua,
Dia harus menaruh rasa hormat
Dengan berpikir :"Inilah Guru-Guru Agung-Ku."
80
Ia hendaknya tidak membabarkan Dharma
Kepada seorang wanita di tempat yang tertutup
Ketika Ia membabarkan Dharma kepadanya,
Ia hendaknya tidak ketawa dengan jenaka.

Ketika Ia pergi ke perkampungan untuk meminta makanan
Ia hendaknya membawa Seorang Bhiksu bersama-Nya.
Jika Ia tidak dapat menemukan Seorang Bhiksu,
Ia harus memikirkan Sang Buddha dengan sepenuh Hati.
Ia harus melakukan 'Pelaksanaan Yang Sesuai'
Dan 'Pendekatan Yang Sesuai' ini.
Hanya dengan melakukan semua ini,
Ia dapat membabarkan Dharma dengan Penuh Ketenangan !

Ia tidak perlu memperhatikan perbedaan
Antara yang unggul, arti dan kendaraan yang lebih rendah,
Antara sesuatu yang bebas dari sebab akibat dan atau hal seperti itu,
Dan antara yang nyata dan tidak nyata.
Ia hendaknya tidak berkata
"Ini seorang laki-laki' atau 'ini seorang wanita.'
Ia mestinya tidak memperoleh apapun
Atau mengetahui apapun atau melihat apapun.
Semua ini adalah 'Pelaksanaan Yang Sesuai'
Yang harus di lakukan oleh Seorang Bodhisattva.

Segala sesuatu adalah tidak berbentuk
Mereka tidak memiliki. Mereka tidak kekal
Mereka tidak naik atau binasa
Dharma ini untuk
Seorang Yang Bijaksana.

Hanya orang-orang yang sesat berkata :
'Segala sesuatu itu ada,' atau 'segala sesuatu itu tidak ada,'
Atau 'segala sesuatu itu nyata,' atau 'segala sesuatu itu tidak nyata,'
Atau 'segala sesuatu itu terlahirkan,' atau 'tidak terlahirkan.'

Seorang Bodhisattva harusnya hidup di tempat pengasingan,
Berkonsentrasi pada Pikiran-Nya.
Ia hendaknya penuh Kedamaian
Dan tidak bergerak bagaikan Gunung Sumeru.

Segala sesuatu itu hampa
Sama bagaikan langit
Mereka itu tidak padat. Mereka tidak terlahirkan.
Mereka tidak muncul atau bergerak atau pergi.
Mereka tidak tetap dalam satu bentuk
Kebenaran ini adalah 'Pendekatan Yang Sesuai'
Yang harus di lakukan oleh Seorang Bodhisattva.

Seorang Bhiksu yang hidup sesudah Kemokshaan-Ku
Akan terbebas dari ketakutan
Jika Ia melakukan 'Pelaksanaan Yang Sesuai'
Dan 'Pendekatan Yang Sesuai' ini
Sebagaimana yang telah di nyatakan sebelumnya,
Dan kemudian membabarkan Sutta ini.

Seorang Bodhisattva akan mendapatkan Ketenangan,
Dan bebas dari segala ketakutan
Jika Ia tinggal dalam sebuah Ruangan Yang Tenang
Selama beberapa waktu,
Mengingat kembali Dharma Yang Benar,
Memahami Dharma (Hukum Kesunyataan) berdasarkan kepada makna sesungguh-Nya,
Dan kemudian muncul
Dari meditasi Dhyana,
Dan membimbing para raja, pangeran,
Orang biasa dan brahmana
Dengan membabarkan Sutta ini kepada mereka.

Manjusri, semua ini adalah langkah pertama
Yang harus di lakukan Seorang Bodhisattva
Sebelum Ia membabarkan Saddharma Pundarika Dharmaparyaya Suttram
Dalam dunia setelah Kemokshaan-Ku.

"Lagi, Wahai Manjusri ! Sesudah kemokshaan Sang Tathagata nanti, maka di dalam jaman kemunduran, Dia yang berhasrat mengkhotbahkan Sutta ini haruslah melakukan 'Pelaksanaan Yang Tenang' berikut ini : Dimanapun juga Ia memaklumkan dan membaca Sutta ini secara lisan, maka janganlah Ia senang membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain ataupun kesalahan-kesalahan Sutta dan jangan pula Ia meremehkan pengkhotbah-pengkhotbah yang lain, atau pun membicarakan hal-hal yang baik dan buruk, membicarakan soal jasa dan cela ataupun membicarakan orang lain. Dan jangan pula Ia menyebut nama Seorang Sravaka pun dan menyiarkan kesalahan serta dosa Mereka. Demikian juga ketika Ia memuji Mereka. Jangan juga Ia mempunyai perasaan yang memusuhi mereka atau berhati iri. Ia hendaknya mempunyai Kedamaian dalam Pikiran sehingga Ia tidak bertindak sesuai dengan keinginan pendengar. Dengan berpegang teguh pada hati yang penuh gembira ini, maka mereka yang mendengar Khotbah-Nya tidak akan menentang-Nya. Pada mereka yang menanyakan persoalan rumit, maka janganlah Ia menjawab-Nya dengan Hukum Kesunyataan dari Kendaraan Kecil, tetapi jawablah hanya dengan Kendaraan Besar dan terangkanlah padanya sehingga mereka memperoleh pengetahuan tentang persamaan dan perbedaan semua hal."

Kemudian, Yang Maha Agung menginginkan untuk memaklumkan Ajaran ini kembali, maka bersabdalah Beliau dalam Syair :

"Bodhisattva hendaknya berkeinginan
Untuk membuat semua mahluk mendapat Kedamaian,
Dan kemudian membabarkan Dharma kepada mereka.
Ia hendaknya membuat sebuah tempat duduk dalam tempat suci
Mengoleskan salep wangi di Kulit-Nya,
Mencuci kotoran dan debu dari Diri-Nya,
Memakai Jubah Baru dan Tanpa Cela,
Membersihkan Diri-Nya dalam dan luar,
Duduk di atas tempat duduk Dharma dengan tenang,
Dan kemudian membabarkan Dharma dalam menjawab pertanyaan.

Ia hendaknya membabarkan Dharma dengan sebuah senyuman
Makna indah dari Dharma
Kepada Para Bhiksu dan Bhiksuni,
Kepada Upasaka dan Upasika,
Kepada Raja dan Pangeran,
Kepada Pejabat Pemerintah,
Dan kepada Orang Biasa.

Ketika Ia menjawab pertanyaan,
Ia hendaknya menjawab
Berdasarkan Makna Dharma Sesungguh-Nya.

Ia hendaknya membabarkan Dharma kepada Mereka
Dengan cerita tentang kehidupan lampau, perumpamaan dan kiasan.
Dengan segala Kebijaksanaan ini, Ia menyebabkan Mereka
Untuk berkeinginan memperoleh Penerangan,
Untuk meningkatkan Pemahaman Mereka selangkah demi selangkah,
Dan pada akhirnya memasuki Jalan KeBuddhaan.

Ia hendaknya tidak menyerah pada kemalasan, kealpaan, duka cita,
Ia hendaknya membabarkan Dharma kepada Mereka
Yang keluar dari Rasa Welas Asih-Nya kepada Mereka.

Ia hendaknya membabarkan kepada Mereka
Ajaran Tentang Penerangan Tak Tertandingi
Dengan cerita kehidupan lampau
Dan dengan Perumpamaan dan Kiasan Tak Terhingga
Siang dan malam,
Dan menyebabkan Mereka memperoleh Kegembiraan.
Pages: 1 ... 6 7 [8] 9 10