51
Arya Mahayana / Re: Maha Govinda Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:27:13 am »Lalu Maha Govinda berpikir:"Kesempatan yang baik telah diberikan pada-Ku oleh Dewa Brahma Sanamkumara! Apakah yang akan Saya minta kepada-Nya? Sesuatu yang berguna pada kehidupan ini atau sesuatu untuk kehidupan yang akan datang?" Selanjutnya pikiran ini pun muncul:"Saya ahli dalam hal yang berguna pada kehidupan sekarang ini. Karena orang lainpun datang untuk meminta nasehat-Ku. Bukankah lebih baik Saya meminta sesuatu yang berguna dari Dewa Brahma Sanamkumara untuk kehidupan yang akan datang? Maka Ia berkata kepada Dewa Brahma Sanamkumara dengan Syair ini:"O, Brahma Sanamkumara, Saya meminta kepada-Mu, untuk melenyapkan keragu-raguan-Ku, Saya menanyakan hal-hal yang orang lain pun ingin sekali ketahui: Dengan melaksanakan cara apakah maka orang yang tidak kekal dapat mencapai kekekalan Alam Brahma?" "O, Brahmana, orang yang membuang rasa 'Ke-akuan' dan 'Milikku' dia yang batinnya berada dalam ketenangan, penuh dengan kasih sayang, bebas dari bau busuk manusia, hidup dalam kesucian. Inilah cara yang dilaksanakan oleh orang yang tidak kekal untuk mencapai kekekalan di Alam Brahma."
"Apa yang dimaksud dengan meninggalkan rasa 'Ke-akuan' dan 'Milikku', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah meninggalkan semua harta, apakah itu besar maupun kecil, meninggalkan hidup berkeluarga apakah itu besar maupun kecil, dan dengan mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa, demikianlah yang Saya mengerti. Apa yang dimaksud dengan batin yang berada dalam ketenangan', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah bila seseorang tinggal di tempat yang tenang di Hutan, di bawah pohon, di lereng gunung, dalam gua, di lekukan tebing, di kuburan, atau di atas timbunan rumput yang berada di lapangan terbuka. Demikianlah yang Saya mengerti. Apa yang dimaksud dengan 'penuh kasih sayang', Saya mengerti. Itu maksudnya, adalah bila seseorang menyebarkan kasih sayangnya ke sebuah arah , ke dua arah, ke tiga arah, ke empat arah dari alam sekelilingnya. Lebih lanjut, dengan hati yang penuh kasih sayang yang mendalam, yang luas sekali, tanpa batas, tanpa kebencian dan tanpa permusuhan, ia memancarkan kasih sayangnya ke seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana
pun juga. Demikianlah yang saya mengerti. Tetapi, hanya dimaksud dengan 'bebas dari bau busuk manusia' yang Saya tidak mengerti. "O Brahma, apakah yang dimaksud dengan 'bau busuk manusia'? Hal ini Saya tidak mengerti.`Katakanlah apa maksudnya, O Maha tahu, karena diliputi dan dipengaruhi oleh 'bau busuk manusia.' Maka neraka menjadi pahalanya, dan tertutup dari surga alam Brahma."
"Kemarahan, bohong, menipu, berkhianat, egois, sombong, iri, loba, ragu-ragu, mengancam, penuh nafsu inderia, benci, membanggakan diri, dan dungu. Dan oleh karena diliputi oleh hal-hal ini maka manusia berbau busuk sehingga neraka yang menjadi pahalanya, dan Alam Brahma tertutup baginya."
Saya mengerti maksud dari kata-kata yang berkenaan dengan 'bau busuk manusia', tetapi hal itu tidak mudah dilenyapkan bila Saya hidup berumah tangga, maka Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa." "Laksanakanlah apa yang Kau inginkan Govinda."
Maka Maha Govinda pergi menghadap Raja Ranu dan berkata:"Baginda, dapatkah baginda mencari pembantu yang lain untuk mengurus administrasi
kerajaan? Saya mau jadi pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Raja Ranu penguasa kerajaan, dengan ini Saya menyatakan:'Urusilah kerajaan-Mu ini, Saya tidak dapat mengurusinya lagi." "Bila Kau merasa inderia-Mu tidak terpuaskan, Saya akan memenuhinya, bila Kau merasa terluka, Saya sebagai penglima perang dan penakluk akan menyembuhkannya. Govinda, Engkau Ayahku, Saya Anak-Mu, tinggallah dengan Kami, jangan pergi!"
"Saya tidak merasa kekurangan dan tidak ada seorang pun yang melukai-Ku, tetapi karena Saya telah mendengar suara dari 'Yang Bukan Manusia' maka hidup berkeluarga tidak dapat menahan-Ku lagi." "Seperti apakah yang dimaksud dengan 'Yang Bukan Manusia' itu? Apakah yang telah Ia katakan kepada-Mu sehingga Kau mau meninggalkan kehidupan duniawi, keluarga dan Kami?" "Karena Saya telah menyelesaikan masa musim Hujan , Saya melaksanakan kehidupan sepiritual dengan meyalakan api-suci dan menebarkan rumput kusa, dan Saya telah melihat Brahma, Dewa yang kekal, dari alam Brahma. Saya bertanya, Ia menjawab, dan Saya mendengar. Dan sekarang kebosanan meliputi diri-Ku."
"Govinda, Saya percaya dengan apa yang Kau katakan. Karena telah mendengar suara 'Yang Bukan Manusia' maka tidak mungkin Kau tidak menuruti-Nya. Kami akan mengikuti-Mu. Jadilah pembimbing Kami, Jadilah Guru Kami. Bagaikan intan yang bersinar cemerlang, bersih dari kotoran, tanpa noda, dan tanpa cacad. Bagaikan intan cemerlang itulah, Kami akan patuh pada apa yang Kau katakan."
"Jika, Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi menjadi Pertapa, Saya juga akan melakukannya, karena ke mana saja Kau pergi, Saya akan mengikuti-Mu."
Kemudian, Brahmana Maha Govinda menemui keenam Kesatria kawannya dan berkata:"Dapatkah anda sekalian mencari pembantu lain untuk mengurus administrasi kerajaan? Saya mau meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." Lalu Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama berpendapat:"Brahmana ini mata duitan. Sebaiknya Kita bujuk Dia dengan memberikan uang." Maka Mereka menemui Maha Govinda dan berkata : "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak harta, ambillah sebanyak yang Kau sukai." "Cukup, kawan-kawan! Saya memiliki banyak harta, terima kasih atas perhatian anda sekalian. Kemewahan itulah yang menyebabkan Saya ingin meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti apa yang telah Saya katakan itu."
Lalu Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama berpendapat:"Brahmana ini senang wanita. Sebaiknya Kita bujuk Dia dengan wanita." Maka mereka menemui Maha Govinda dan berkata: "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak wanita. Ambillah sebanyak wanita yang Kamu sukai." "Cukup, kawan-kawan! Saya telah memiliki empat puluh istri yang sama hak mereka. Mereka semua Saya biarkan karena mau meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti yang telah Saya katakan itu."
"Jika Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, Kami juga akan melakukannya, karena kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu." "Jika Kau meninggalkan pemuasan nafsu inderia yang mengikat hati manusia duniawi. Pertahankanlah dengan teguh kehendak-Mu itu, kuat dalam kesabaran. Inilah Jalan, Jalan yang lurus, Jalan ke pantai seberang, Jalan Kebenaran yang diikuti oleh orang yang baik, menuju ke kehidupan Brahma."
"Govinda, kalau begitu, tunggu tujuh tahun lagi, dan bila masa itu telah berlalu, Kami juga akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu." "Kawan-kawan, tujuh tahun itu terlalu lama! Saya tidak dapat menunggu sampai tujuh tahun, karena hidup ini tidak pasti. Kita mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan menggunakan Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti mengikuti Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak dapat terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Govinda, baiklah bila demikian tunggu enam tahun.... tunggu lima tahun.... tunggu empat tahun.... tiga tahun.... dua tahun.... satu tahun...., bila masa setahun telah berlalu, Kami juga akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Para Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
"Kawan-kawan, setahun itu terlalu lama. Saya tidak dapat menunggu sampai setahun, karena hidup ini tidak pasti. Kita mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan menggunakan Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti mengikuti Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak dapat terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Govinda, bila demikian tunggu tujuh bulan.... enam bulan.... lima.... empat.... tiga.... dua.... satu bulan...."
"Govinda, bila demikian tunggu setengah bulan.... tujuh hari hingga Kami telah menyerahkan tahta Kerajaan kepada Putera-Putera dan saudara-saudara Kami. Dan bila tujuh hari telah berlalu, Kami akan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa, dan ke mana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
Selanjutnya Brahmana Maha Govinda menemui tujuh orang Brahma kaya dan tujuh ratus siswa, dan berkata: "Sekarang, sebaiknya kamu sekalian mencari Guru lain yang mengajarkan Mantra-Mantra. Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa. Saya mau menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Maha Govinda, sebaiknya jangan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa. Karena hidup sebagai Pertapa hanya memiliki kekuasaan sedikit dan berpenghasilan sedikit saja, tetapi hidup sebagai Brahmana memiliki kekuasaan yang besar dan berpenghasilan banyak."
"Saudara-saudara, jangan berkata begitu mengenai kehidupan Pertapa ataupun kehidupan mengenai sebagai Brahmana. Siapakah yang lebih berkuasa dan kaya dari pada Saya? Saya telah pernah menjadi Raja dari Para Raja, menjadi Brahma dari Para Brahmana, dan menjadi Dewa dari keluarga. Dalam hal ini, semua itu saya tinggalkan untuk menjadi Pertapa. Saya mau menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Jika, Maha Govinda menjadi pertapa, Kami juga akan melakukannya, dan kemana saja Kau pergi Saya akan mengikuti-Mu."
Sesudah itu, Brahmana Maha Govinda menemui ke empat puluh istri-Nya yang semuanya mempunyai Hak yang sama, dan berkata:"Bila di antara kamu ada yang mau, maka Ia dapat kembali ke keluarganya dan kawin lagi. Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Walaupun Kami mencintai keluarga Kami, tetapi Kau adalah suami yang kami cintai. Jika Kau menjadi Pertapa, Kami juga akan melakukannya, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
"Apa yang dimaksud dengan meninggalkan rasa 'Ke-akuan' dan 'Milikku', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah meninggalkan semua harta, apakah itu besar maupun kecil, meninggalkan hidup berkeluarga apakah itu besar maupun kecil, dan dengan mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa, demikianlah yang Saya mengerti. Apa yang dimaksud dengan batin yang berada dalam ketenangan', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah bila seseorang tinggal di tempat yang tenang di Hutan, di bawah pohon, di lereng gunung, dalam gua, di lekukan tebing, di kuburan, atau di atas timbunan rumput yang berada di lapangan terbuka. Demikianlah yang Saya mengerti. Apa yang dimaksud dengan 'penuh kasih sayang', Saya mengerti. Itu maksudnya, adalah bila seseorang menyebarkan kasih sayangnya ke sebuah arah , ke dua arah, ke tiga arah, ke empat arah dari alam sekelilingnya. Lebih lanjut, dengan hati yang penuh kasih sayang yang mendalam, yang luas sekali, tanpa batas, tanpa kebencian dan tanpa permusuhan, ia memancarkan kasih sayangnya ke seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana
pun juga. Demikianlah yang saya mengerti. Tetapi, hanya dimaksud dengan 'bebas dari bau busuk manusia' yang Saya tidak mengerti. "O Brahma, apakah yang dimaksud dengan 'bau busuk manusia'? Hal ini Saya tidak mengerti.`Katakanlah apa maksudnya, O Maha tahu, karena diliputi dan dipengaruhi oleh 'bau busuk manusia.' Maka neraka menjadi pahalanya, dan tertutup dari surga alam Brahma."
"Kemarahan, bohong, menipu, berkhianat, egois, sombong, iri, loba, ragu-ragu, mengancam, penuh nafsu inderia, benci, membanggakan diri, dan dungu. Dan oleh karena diliputi oleh hal-hal ini maka manusia berbau busuk sehingga neraka yang menjadi pahalanya, dan Alam Brahma tertutup baginya."
Saya mengerti maksud dari kata-kata yang berkenaan dengan 'bau busuk manusia', tetapi hal itu tidak mudah dilenyapkan bila Saya hidup berumah tangga, maka Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa." "Laksanakanlah apa yang Kau inginkan Govinda."
Maka Maha Govinda pergi menghadap Raja Ranu dan berkata:"Baginda, dapatkah baginda mencari pembantu yang lain untuk mengurus administrasi
kerajaan? Saya mau jadi pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Raja Ranu penguasa kerajaan, dengan ini Saya menyatakan:'Urusilah kerajaan-Mu ini, Saya tidak dapat mengurusinya lagi." "Bila Kau merasa inderia-Mu tidak terpuaskan, Saya akan memenuhinya, bila Kau merasa terluka, Saya sebagai penglima perang dan penakluk akan menyembuhkannya. Govinda, Engkau Ayahku, Saya Anak-Mu, tinggallah dengan Kami, jangan pergi!"
"Saya tidak merasa kekurangan dan tidak ada seorang pun yang melukai-Ku, tetapi karena Saya telah mendengar suara dari 'Yang Bukan Manusia' maka hidup berkeluarga tidak dapat menahan-Ku lagi." "Seperti apakah yang dimaksud dengan 'Yang Bukan Manusia' itu? Apakah yang telah Ia katakan kepada-Mu sehingga Kau mau meninggalkan kehidupan duniawi, keluarga dan Kami?" "Karena Saya telah menyelesaikan masa musim Hujan , Saya melaksanakan kehidupan sepiritual dengan meyalakan api-suci dan menebarkan rumput kusa, dan Saya telah melihat Brahma, Dewa yang kekal, dari alam Brahma. Saya bertanya, Ia menjawab, dan Saya mendengar. Dan sekarang kebosanan meliputi diri-Ku."
"Govinda, Saya percaya dengan apa yang Kau katakan. Karena telah mendengar suara 'Yang Bukan Manusia' maka tidak mungkin Kau tidak menuruti-Nya. Kami akan mengikuti-Mu. Jadilah pembimbing Kami, Jadilah Guru Kami. Bagaikan intan yang bersinar cemerlang, bersih dari kotoran, tanpa noda, dan tanpa cacad. Bagaikan intan cemerlang itulah, Kami akan patuh pada apa yang Kau katakan."
"Jika, Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi menjadi Pertapa, Saya juga akan melakukannya, karena ke mana saja Kau pergi, Saya akan mengikuti-Mu."
Kemudian, Brahmana Maha Govinda menemui keenam Kesatria kawannya dan berkata:"Dapatkah anda sekalian mencari pembantu lain untuk mengurus administrasi kerajaan? Saya mau meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." Lalu Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama berpendapat:"Brahmana ini mata duitan. Sebaiknya Kita bujuk Dia dengan memberikan uang." Maka Mereka menemui Maha Govinda dan berkata : "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak harta, ambillah sebanyak yang Kau sukai." "Cukup, kawan-kawan! Saya memiliki banyak harta, terima kasih atas perhatian anda sekalian. Kemewahan itulah yang menyebabkan Saya ingin meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti apa yang telah Saya katakan itu."
Lalu Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama berpendapat:"Brahmana ini senang wanita. Sebaiknya Kita bujuk Dia dengan wanita." Maka mereka menemui Maha Govinda dan berkata: "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak wanita. Ambillah sebanyak wanita yang Kamu sukai." "Cukup, kawan-kawan! Saya telah memiliki empat puluh istri yang sama hak mereka. Mereka semua Saya biarkan karena mau meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti yang telah Saya katakan itu."
"Jika Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, Kami juga akan melakukannya, karena kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu." "Jika Kau meninggalkan pemuasan nafsu inderia yang mengikat hati manusia duniawi. Pertahankanlah dengan teguh kehendak-Mu itu, kuat dalam kesabaran. Inilah Jalan, Jalan yang lurus, Jalan ke pantai seberang, Jalan Kebenaran yang diikuti oleh orang yang baik, menuju ke kehidupan Brahma."
"Govinda, kalau begitu, tunggu tujuh tahun lagi, dan bila masa itu telah berlalu, Kami juga akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu." "Kawan-kawan, tujuh tahun itu terlalu lama! Saya tidak dapat menunggu sampai tujuh tahun, karena hidup ini tidak pasti. Kita mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan menggunakan Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti mengikuti Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak dapat terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Govinda, baiklah bila demikian tunggu enam tahun.... tunggu lima tahun.... tunggu empat tahun.... tiga tahun.... dua tahun.... satu tahun...., bila masa setahun telah berlalu, Kami juga akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Para Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
"Kawan-kawan, setahun itu terlalu lama. Saya tidak dapat menunggu sampai setahun, karena hidup ini tidak pasti. Kita mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan menggunakan Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti mengikuti Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak dapat terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Govinda, bila demikian tunggu tujuh bulan.... enam bulan.... lima.... empat.... tiga.... dua.... satu bulan...."
"Govinda, bila demikian tunggu setengah bulan.... tujuh hari hingga Kami telah menyerahkan tahta Kerajaan kepada Putera-Putera dan saudara-saudara Kami. Dan bila tujuh hari telah berlalu, Kami akan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa, dan ke mana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
Selanjutnya Brahmana Maha Govinda menemui tujuh orang Brahma kaya dan tujuh ratus siswa, dan berkata: "Sekarang, sebaiknya kamu sekalian mencari Guru lain yang mengajarkan Mantra-Mantra. Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa. Saya mau menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Maha Govinda, sebaiknya jangan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa. Karena hidup sebagai Pertapa hanya memiliki kekuasaan sedikit dan berpenghasilan sedikit saja, tetapi hidup sebagai Brahmana memiliki kekuasaan yang besar dan berpenghasilan banyak."
"Saudara-saudara, jangan berkata begitu mengenai kehidupan Pertapa ataupun kehidupan mengenai sebagai Brahmana. Siapakah yang lebih berkuasa dan kaya dari pada Saya? Saya telah pernah menjadi Raja dari Para Raja, menjadi Brahma dari Para Brahmana, dan menjadi Dewa dari keluarga. Dalam hal ini, semua itu saya tinggalkan untuk menjadi Pertapa. Saya mau menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Jika, Maha Govinda menjadi pertapa, Kami juga akan melakukannya, dan kemana saja Kau pergi Saya akan mengikuti-Mu."
Sesudah itu, Brahmana Maha Govinda menemui ke empat puluh istri-Nya yang semuanya mempunyai Hak yang sama, dan berkata:"Bila di antara kamu ada yang mau, maka Ia dapat kembali ke keluarganya dan kawin lagi. Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Walaupun Kami mencintai keluarga Kami, tetapi Kau adalah suami yang kami cintai. Jika Kau menjadi Pertapa, Kami juga akan melakukannya, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
Recent Posts

