Recent Posts

Pages: 1 ... 4 5 [6] 7 8 ... 10
51
Arya Mahayana / Re: Maha Govinda Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:27:13 am »
Lalu Maha Govinda berpikir:"Kesempatan yang baik telah diberikan pada-Ku oleh Dewa Brahma Sanamkumara! Apakah yang akan Saya minta kepada-Nya? Sesuatu yang berguna pada kehidupan ini atau sesuatu untuk kehidupan yang akan datang?" Selanjutnya pikiran ini pun muncul:"Saya ahli dalam hal yang berguna pada kehidupan sekarang ini. Karena orang lainpun datang untuk meminta nasehat-Ku. Bukankah lebih baik Saya meminta sesuatu yang berguna dari Dewa Brahma Sanamkumara untuk kehidupan yang akan datang? Maka Ia berkata kepada Dewa Brahma Sanamkumara dengan Syair ini:"O, Brahma Sanamkumara, Saya meminta kepada-Mu, untuk melenyapkan keragu-raguan-Ku, Saya menanyakan hal-hal yang orang lain pun ingin sekali ketahui: Dengan melaksanakan cara apakah maka orang yang tidak kekal dapat mencapai kekekalan Alam Brahma?" "O, Brahmana, orang yang membuang rasa 'Ke-akuan' dan 'Milikku' dia yang batinnya berada dalam ketenangan, penuh dengan kasih sayang, bebas dari bau busuk manusia, hidup dalam kesucian. Inilah cara yang dilaksanakan oleh orang yang tidak kekal untuk mencapai kekekalan di Alam Brahma."

"Apa yang dimaksud dengan meninggalkan rasa 'Ke-akuan' dan 'Milikku', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah meninggalkan semua harta, apakah itu besar maupun kecil, meninggalkan hidup berkeluarga apakah itu besar maupun kecil, dan dengan mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa, demikianlah yang Saya mengerti. Apa yang dimaksud dengan batin yang berada dalam ketenangan', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah bila seseorang tinggal di tempat yang tenang di Hutan, di bawah pohon, di lereng gunung, dalam gua, di lekukan tebing, di kuburan, atau di atas timbunan rumput yang berada di lapangan terbuka. Demikianlah yang Saya mengerti. Apa yang dimaksud dengan 'penuh kasih sayang', Saya mengerti. Itu maksudnya, adalah bila seseorang menyebarkan kasih sayangnya ke sebuah arah , ke dua arah, ke tiga arah, ke empat arah dari alam sekelilingnya. Lebih lanjut, dengan hati yang penuh kasih sayang yang mendalam, yang luas sekali, tanpa batas, tanpa kebencian dan tanpa permusuhan, ia memancarkan kasih sayangnya ke seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana
pun juga. Demikianlah yang saya mengerti. Tetapi, hanya dimaksud dengan 'bebas dari bau busuk manusia' yang Saya tidak mengerti. "O Brahma, apakah yang dimaksud dengan 'bau busuk manusia'? Hal ini Saya tidak mengerti.`Katakanlah apa maksudnya, O Maha tahu, karena diliputi dan dipengaruhi oleh 'bau busuk manusia.' Maka neraka menjadi pahalanya, dan tertutup dari surga alam Brahma."
"Kemarahan, bohong, menipu, berkhianat, egois, sombong, iri, loba, ragu-ragu, mengancam, penuh nafsu inderia, benci, membanggakan diri, dan dungu. Dan oleh karena diliputi oleh hal-hal ini maka manusia berbau busuk sehingga neraka yang menjadi pahalanya, dan Alam Brahma tertutup baginya."
Saya mengerti maksud dari kata-kata yang berkenaan dengan 'bau busuk manusia', tetapi hal itu tidak mudah dilenyapkan bila Saya hidup berumah tangga, maka Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa." "Laksanakanlah apa yang Kau inginkan Govinda."

Maka Maha Govinda pergi menghadap Raja Ranu dan berkata:"Baginda, dapatkah baginda mencari pembantu yang lain untuk mengurus administrasi
kerajaan? Saya mau jadi pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Raja Ranu penguasa kerajaan, dengan ini Saya menyatakan:'Urusilah kerajaan-Mu ini, Saya tidak dapat mengurusinya lagi." "Bila Kau merasa inderia-Mu tidak terpuaskan, Saya akan memenuhinya, bila Kau merasa terluka, Saya sebagai penglima perang dan penakluk akan menyembuhkannya. Govinda, Engkau Ayahku, Saya Anak-Mu, tinggallah dengan Kami, jangan pergi!"
"Saya tidak merasa kekurangan dan tidak ada seorang pun yang melukai-Ku, tetapi karena Saya telah mendengar suara dari 'Yang Bukan Manusia' maka hidup berkeluarga tidak dapat menahan-Ku lagi." "Seperti apakah yang dimaksud dengan 'Yang Bukan Manusia' itu? Apakah yang telah Ia katakan kepada-Mu sehingga Kau mau meninggalkan kehidupan duniawi, keluarga dan Kami?" "Karena Saya telah menyelesaikan masa musim Hujan , Saya melaksanakan kehidupan sepiritual dengan meyalakan api-suci dan menebarkan rumput kusa, dan Saya telah melihat Brahma, Dewa yang kekal, dari alam Brahma. Saya bertanya, Ia menjawab, dan Saya mendengar. Dan sekarang kebosanan meliputi diri-Ku."
"Govinda, Saya percaya dengan apa yang Kau katakan. Karena telah mendengar suara 'Yang Bukan Manusia' maka tidak mungkin Kau tidak menuruti-Nya. Kami akan mengikuti-Mu. Jadilah pembimbing Kami, Jadilah Guru Kami. Bagaikan intan yang bersinar cemerlang, bersih dari kotoran, tanpa noda, dan tanpa cacad. Bagaikan intan cemerlang itulah, Kami akan patuh pada apa yang Kau katakan."
"Jika, Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi menjadi Pertapa, Saya juga akan melakukannya, karena ke mana saja Kau pergi, Saya akan mengikuti-Mu."

Kemudian, Brahmana Maha Govinda menemui keenam Kesatria kawannya dan berkata:"Dapatkah anda sekalian mencari pembantu lain untuk mengurus administrasi kerajaan? Saya mau meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." Lalu Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama berpendapat:"Brahmana ini mata duitan. Sebaiknya Kita bujuk Dia dengan memberikan uang." Maka Mereka menemui Maha Govinda dan berkata : "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak harta, ambillah sebanyak yang Kau sukai." "Cukup, kawan-kawan! Saya memiliki banyak harta, terima kasih atas perhatian anda sekalian. Kemewahan itulah yang menyebabkan Saya ingin meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti apa yang telah Saya katakan itu."

Lalu Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama berpendapat:"Brahmana ini senang wanita. Sebaiknya Kita bujuk Dia dengan wanita." Maka mereka menemui Maha Govinda dan berkata: "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak wanita. Ambillah sebanyak wanita yang Kamu sukai." "Cukup, kawan-kawan! Saya telah memiliki empat puluh istri yang sama hak mereka. Mereka semua Saya biarkan karena mau meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti yang telah Saya katakan itu."

"Jika Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, Kami juga akan melakukannya, karena kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu." "Jika Kau meninggalkan pemuasan nafsu inderia yang mengikat hati manusia duniawi. Pertahankanlah dengan teguh kehendak-Mu itu, kuat dalam kesabaran. Inilah Jalan, Jalan yang lurus, Jalan ke pantai seberang, Jalan Kebenaran yang diikuti oleh orang yang baik, menuju ke kehidupan Brahma."

"Govinda, kalau begitu, tunggu tujuh tahun lagi, dan bila masa itu telah berlalu, Kami juga akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu." "Kawan-kawan, tujuh tahun itu terlalu lama! Saya tidak dapat menunggu sampai tujuh tahun, karena hidup ini tidak pasti. Kita mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan menggunakan Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti mengikuti Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak dapat terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."

"Govinda, baiklah bila demikian tunggu enam tahun.... tunggu lima tahun.... tunggu empat tahun.... tiga tahun.... dua tahun.... satu tahun...., bila masa setahun telah berlalu, Kami juga akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Para Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."

"Kawan-kawan, setahun itu terlalu lama. Saya tidak dapat menunggu sampai setahun, karena hidup ini tidak pasti. Kita mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan menggunakan Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti mengikuti Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak dapat terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."

"Govinda, bila demikian tunggu tujuh bulan.... enam bulan.... lima.... empat.... tiga.... dua.... satu bulan...."

"Govinda, bila demikian tunggu setengah bulan.... tujuh hari hingga Kami telah menyerahkan tahta Kerajaan kepada Putera-Putera dan saudara-saudara Kami. Dan bila tujuh hari telah berlalu, Kami akan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa, dan ke mana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."

Selanjutnya Brahmana Maha Govinda menemui tujuh orang Brahma kaya dan tujuh ratus siswa, dan berkata: "Sekarang, sebaiknya kamu sekalian mencari Guru lain yang mengajarkan Mantra-Mantra. Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa. Saya mau menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Maha Govinda, sebaiknya jangan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa. Karena hidup sebagai Pertapa hanya memiliki kekuasaan sedikit dan berpenghasilan sedikit saja, tetapi hidup sebagai Brahmana memiliki kekuasaan yang besar dan berpenghasilan banyak."
"Saudara-saudara, jangan berkata begitu mengenai kehidupan Pertapa ataupun kehidupan mengenai sebagai Brahmana. Siapakah yang lebih berkuasa dan kaya dari pada Saya? Saya telah pernah menjadi Raja dari Para Raja, menjadi Brahma dari Para Brahmana, dan menjadi Dewa dari keluarga. Dalam hal ini, semua itu saya tinggalkan untuk menjadi Pertapa. Saya mau menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Jika, Maha Govinda menjadi pertapa, Kami juga akan melakukannya, dan kemana saja Kau pergi Saya akan mengikuti-Mu."

Sesudah itu, Brahmana Maha Govinda menemui ke empat puluh istri-Nya yang semuanya mempunyai Hak yang sama, dan berkata:"Bila di antara kamu ada yang mau, maka Ia dapat kembali ke keluarganya dan kawin lagi. Saya mau jadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi."
"Walaupun Kami mencintai keluarga Kami, tetapi Kau adalah suami yang kami cintai. Jika Kau menjadi Pertapa, Kami juga akan melakukannya, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
52
Arya Mahayana / Re: Maha Govinda Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:26:28 am »
Lalu Raja Disampati memanggil seorang pengawal dan bersabda:"Kemarilah saudara, temuilah Jotipala dan katakan kepadanya:-Semoga keberuntungan selalu bersama Jotipala! Raja Disampati memanggil anda, Jotipala! Raja Disampati mau bertemu dengan anda, Jotipala!"
"Baiklah, Baginda," jawab pengawal tersebut, lalu pergi menemui Jotipala dan menyampaikan pesanan tersebut. "Baik saudara," jawab Jotipala, dan pergi menghadap Raja. Ketika Ia tiba di hadapan Raja, Ia menghormat kepada Raja dan menyapa dengan sopan, lalu duduk di samping. Kemudian
Raja Disampati bersabda:"Kami mau Jotipala membantu Kami. Harap Jotipala tidak menolak untuk melaksanakannya. Saya akan menempatkan Jotipala pada kedudukan ayahmu dan mengangkat menjadi 'pengurus'. "Baiklah, Baginda," jawab Jotipala menyetujui.

Demikian Raja Disampati mengangkat Jotipala menjadi menteri, dan menempatkannya pada kedudukan ayahnya. Setelah diangkat dan ditempatkan, maka tugas apa saja yang dikerjakan oleh ayahnya, semuanya itu dilaksanakan oleh Jotipala, tetapi tugas apa saja yang tidak dikerjakan oleh ayahnya, semuanya itu juga tidak dikerjakannya. Dan pekerjaan apa saja yang telah diurus oleh ayahnya, demikian pula yang diurus oleh Jotipala, dan bukan yang lain. Karena hal inilah maka Jotipala di panggil 'Maha Govinda'.

Setelah berselang beberapa waktu, maka Govinda menemui keenam Kesatria kawannya dan berkata kepada mereka: "Raja Disampati telah tua dan berusia lanjut, masa kehidupannya akan segera berakhir. Siapakah yang dapat mempertahankan kehidupan? Bila mana Raja meninggal, maka pantaslah bagi penobatan-raja, menobatkan Pangeran Ranu menjadi Raja. Saudara-saudara, saya sarankan supaya kamu menemui Pangeran Ranu dan katakan kepadanya:"Kami disayangi, dicintai, dan bersahabat karib dengan junjungan kami Pangeran Ranu. Kami berbahagia bila junjungan kami bahagia, kami tidak bahagia bila beliau tidak bahagia. Raja Disampati junjungan kami telah tua, berusia lanjut dan masa kehidupannya akan segera berakhir. Siapakah yang dapat mempertahankan kehidupan? Bila Raja meninggal, maka pantas bagi penobat-raja menobatkan junjungan kami Pangeran Ranu menjadi Raja. Bila Junjungan kami Pangeran Ranu mendapat anugrah, semoga kami mendapat bagian dari anugrah tersebut pula."

"Baiklah," jawab keenam Kesatria, lalu mereka pergi menemui Pangeran Ranu, dan menyampaikan pesan tersebut."Kawan-kawan, mengapa? Siapakah di samping saya yang akan jaya di kerajaan ini bila bukan kamu? Bila saya mendapat kekuasaan pada kerajaan, saya akan membagikan kepada kamu."

Setelah beberapa waktu berselang, Raja Disampati meninggal. Setelah Beliau meninggal, penobat-raja menobatkan Pangeran Ranu menjadi Raja. Setelah Ia menjadi Raja, Ia tenggelam dalam pemuasan nafsu inderianya. Kemudian Maha Govinda menemui keenam kesatria kawannya dan berkata:"Kawan-kawan, Raja Disampati telah meninggal, dan junjungan Raja Ranu tenggelam dalam pemuasan nafsu inderianya. Kawan-kawan, siapakah yang dapat menjawab? Pemuasan inderia adalah sangat memikat. Saya sarankan Kamu menemui Raja Ranu dan katakan kepadanya:" Raja Disampati telah meninggal, junjunganku Pangeran Ranu telah dinobatkan menjadi raja. Apakah junjunganku, ingat janjinya?"
"Baiklah, kawan" jawab keenam Kesatria, dan pergi menemui Raja Ranu dan berkata:"Raja Disampati telah meninggal, junjunganku Pangeran Ranu telah dinobatkan menjadi raja. Apakah junjunganku, ingat janjinya?"
"Kawan-kawan, saya ingat janjiku. Siapakah di antara kamu yang dapat membagi dengan baik kerajaan yang maha luas ini, yang luas di utara dan berbentuk mulut kereta di selatan, menjadi tujuh bagian yang sama?"
"Baginda, siapakah yang dapat melakukannya kalau bukan Brahmana Maha Govinda?"

Maka Raja Ranu menyuruh seseorang memanggil Maha Govinda dengan bersabda:"Saudara yang baik, ke mari. Pergi temui Maha Govinda dan katakan kepadanya:'Raja memanggil-Mu'".
Maha Govinda diberitahu, menyetujuinya, dan datang menghadap raja, setelah memberi hormat dan saling menyapa dengan hormat, Ia duduk disamping. Kemudian Raja bersabda kepada-Nya:"Maha Govinda, dapatkah kamu pergi membagi tanah kerajaan yang maha luas ini, yang luas di utara dan berbentuk mulut kereta di selatan, menjadi tujuh bagian yang sama?"
"Baiklah, Baginda," jawab Maha Govinda. Dan Ia melakukannya.

Dan hasilnya, kerajaan dari Raja Ranu terletak dibagian tengah, seperti yang dikatakan:
Dantapura bagi Kalinga, Potana bagi Assaka
Mahissati bagi Avanti, Roruka bagi Sovira
Mithila bagi Videha, Campa bagi Anga
Akhirnya Benares dalam kerajaan Kasi: semua ini telah di bagi oleh Maha Govinda dengan baik.
Keenam Kesatria merasa senang dengan bagian Mereka masing-masing, yang sesuai dengan cita-cita Mereka. Karena itu, Mereka berkata:"Apa yang Kami inginkan, apa yang Kami sukai, apa yang Kami maksudkan, apa yang Kami tujui, itulah yang telah Kami dapati."
Dan ketujuh Raja ini dinamakan:
Sattabhu dan Brahmadatta, Vessabhu dengan Bharata
Ranu dan dua Dhatarattha. Inilah ketujuh Bharata.

Kemudian keenam Kesatria itu menemui Maha Govinda, dan berkata kepada-Nya:"Saudara Govinda menyayangi, mencintai dan bersahabat baik dengan Raja Ranu, demikian pula Ia menyayangi, mencintai dan bersahabat baik dengan Kami. Kami mengharapkan Maha Govinda mengurus urusan Kami, Kami harap Ia tidak menolak."
"Baiklah," jawab Maha Govinda. Demikianlah maka Ia menasehati ketujuh Raja yang telah dinobatkan itu tentang cara mengatur pemerintahan, dan Ia pun mengajar mantra-mantra kepada Tujuh Orang Brahmana kaya, dan Tujuh Ratus Siswa.

Tidak lama kemudian, reputasi baik dari Brahmana Maha Govinda tersiar sampai keluar kerajaan, dengan kata-kata pujian sebagai berikut:"Dengan matanya sendiri, Maha Govinda melihat Brahma! Maha Govinda bertemu dengan Brahma, bercakap-cakap dan meminta Bimbingan-Nya!"
Sementara itu, Maha Govinda berpikir:"Berita kepopuleran-Ku telah tersiar sampai keluar kerajaan, dengan kata-kata pujian seperti itu, bahwa 'Saya telah melihat Brahma, Saya telah bertemu dengan Brahma, bercakap-cakap dan meminta Bimbingan-Nya'. Sesungguhnya Saya belum pernah melihat-Nya, belum pernah bertemu dengan-Nya, belum pernah bercakap-cakap atau meminta Bimbingan-Nya. Tetapi Saya telah mendengar dari Orang-Orang Tua, Para Brahmana terhormat, Para Guru dan Para Siswa yang mengatakan bahwa 'Orang yang bersemadi selama empat bulan musim hujan dengan mencapai tingkat-tingkat Jhana, Ia dapat melihat Brahma, bertemu dengan Brahma, bercakap-cakap dan mendapat Bimbingan-Nya. Jika demikian, lebih baik Saya melaksanakan cara itu.

Demikianlah, maka Maha Govinda pergi menghadap Raja, dan memberitahukan tentang berita yang tersiar mengenai diri-Nya, dan tentang keinginan-Nya untuk mempraktekkan samadhi, serta menambahkan:"Baginda, Saya ingin bersamadhi selama empat bulan musim hujan untuk mencapai tingkat-tingkat Jhana. Jangan biarkan siapa pun menemui-Ku, kecuali orang yang membawa makanan untuk-Ku."
"Lakukanlah apa yang Kau inginkan, Maha Govinda."

Selanjutnya Maha Govinda mendatangi setiap kawan-Nya dan mengatakan kepada keenam kawan-Nya tersebut tentang hal yang sama, dan memohon diri dari Mereka pula.

Setelah itu, Ia menemui tujuh orang Brahmana kaya dan tujuh ratus siswa, dan mengatakan kepada Mereka tentang berita yang telah tersiar mengenai diri-Nya, juga tentang keinginan-Nya untuk Bersamadhi, dan berkata:"Saudara-saudara, sesuai dengan Mantra-Mantra yang telah Kamu dengar dan hafalkan, maka ulang-ulangilah itu dengan baik, dan Kamu saling mengajarkan apa yang masing-masing Kamu ketahui. Saudara-saudara, Saya ingin Bersamadhi selama empat bulan musim hujan untuk mencapai tingkat-tingkat Jhana. Jangan biarkan siapa pun datang menemui-Ku, kecuali orang yang membawa makanan untuk-Ku."
"Lakukanlah apa yang Kau inginkan, Maha Govinda."

Setelah itu, Ia pergi menemui empat puluh orang istri-Nya yang semua-Nya mempunyai hak yang sama, dan mengatakan kepada Mereka tentang berita yang telah tersiar mengenai diri-Nya, dan keinginan-Nya untuk Bersamadhi. Dan Mereka pun memberikan jawaban yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Kawan-kawan-Nya.

Kemudian, untuk maksud tersebut, maka sebuah rumah peristirahatan didirikan disebelah timur kota untuk Maha Govinda. Dan di situlah Ia Bersemadhi selama empat bulan musim hujan untuk mencapai tingkat-tingkat Jhana, dan tidak ada seorang pun yang menemui-Nya, kecuali orang yang membawa makanan untuk-Nya. Tetapi, setelah empat musim hujan berlalu, perasaan tidak puas dan kebosanan meliputi diri-Nya ketika Ia berpikir:"Saya telah mendengar dari orang-orang tua, Para Brahmana terhormat, para Guru dan Siswa-Siswa yang berkata bahwa Orang yang bersemadi selama empat bulan musim hujan dengan mencapai tingkat-tingkat Jhana dapat melihat Brahma, bertemu dengan Brahma, bercakap-cakap dan mendapat Bimbingan Brahma." Tetapi Saya tidak melihat Brahma, tidak bertemu dengan Brahma, tidak bercakap-cakap ataupun mendapat Bimbingan dari Brahma."

Ketika Dewa Brahma Sanamkumara mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Maha Govinda, Ia lenyap dari alam Brahma bagaikan Seorang yang gagah perkasa merentangkan kedua tangan-Nya atau merapatkan tangan-Nya, Ia muncul didepan Maha Govinda. Ketika Maha Govinda melihat keadaan yang belum pernah dilihat-Nya ini, Ia takut, gemetar dan bulu romanya berdiri berkata kepada Dewa Brahma Sanamkumara dengan Syair-Syair ini: "Siapakah Anda yang nampak indah menarik dan gemilang. Kami bertanya karena tidak mengenal-Mu, dengan bertanya Kami akan mengetahui-Mu." "Di Alam Brahma, Saya dikenal sebagai Sanamkumara, semua Dewa mengenal-Ku, demikian pula dengan Govinda."
"Seandainya air untuk mencuci kaki, bawalah madu, kue dan minuman untuk Brahma. Kami menanyakan apa yang baik dan diperlukan oleh-Mu. Semoga itu dinyatakan kepada Kami." "Dengan ini, Kami menerima pemberian-Mu yang seperti Kamu katakan Govinda. Tanyakanlah apa yang Kamu butuhkan untuk Kesejahteraan dan Kebahagiaan pada sekarang ini atau untuk masa yang akan datang."
53
Arya Mahayana / Re: Maha Govinda Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:25:45 am »
Bhante, kemudian, suatu cahaya gemilang memancar dari sebelah utara. Suatu cahaya gemilang yang melampaui kemegahan Para Dewa. Lalu, Raja Dewa Sakka berkata pada Para Dewa Tavatimsa:"Kawan-Kawan, sesuai dengan tanda-tanda yang nampak, sesuai dengan cahaya sinar, sesuai dengan kegemilangan yang kelihatan, itu menandakan Dewa Brahma akan tiba. Karena ini adalah tanda-tanda pendahuluan akan tiba Dewa Brahma, yaitu munculnya sinar dan terlihatnya cahaya gemilang."
"Sekarang tanda-tanda terlihat, maka Dewa Brahma akan tiba. Karena ini adalah tanda-tanda pendahuluan akan tiba Dewa Brahma, yaitu kemegahan yang gemilang sekali."
Bhante, kemudian Para Dewa Tavatimsa dengan duduk di tempat Mereka masing-masing berkata:"Kami akan dapat memastikan apa yang menyebabkan sinar ini, bila Kami telah membuktikannya, maka Kami akan pergi menemui-Nya."
Keempat Maharaja pun dengan duduk di tempat Mereka menyatakan hal yang sama. Ketika Mereka telah mendengar hal ini. Para Dewa Tavatimsa semuanya setuju:" Kami akan dapat memastikan apa yang menyebabkan sinar ini, bila Kami telah membuktikannya, maka Kami akan pergi menemui-Nya."

Bhante, ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di depan Dewa Tavatimsa, Ia nampak dengan tubuh yang agak keras sesuai dengan apa yang diciptakan-Nya. Karena biasanya, Dewa Brahma nampak tidak cukup bermateri bila dilihat oleh Para Dewa Tavatimsa. Ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di depan Para Dewa Tavatimsa, Cahaya dan Kemegahan-Nya melampaui Dewa lainnya. Bagaikan patung yang dibuat dari emas yang melampaui warna tubuh manusia, demikian pula, ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di depan Para Dewa Tavatimsa, cahaya-Nya melampaui cahaya Para Dewa Tavatimsa. Bhante, dan ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di depan Dewa Tavatimsa, tidak ada di antara semua yang hadir menghormat, berdiri dari duduk, atau mempersilahkan Dia duduk. Mereka semua duduk dengan diam, dengan kedua tangan dirangkapkan beranjali, duduk bersila dan berpikir:"Bila mana Dewa Brahma Sanamkumara ingin sesuatu, maka Ia akan duduk di tempat duduk Dewa.
Dan tempat duduk Dewa manapun yang diduduki-Nya, maka Dewa pemilik tempat duduk tersebut akan merasa senang sekali, bagaikan seorang kesatria yang baru dimahkotai dan dinobatkan, Ia merasa bangga dan senang sekali."

Bhante, kemudian, setelah Dewa Brahma Sanamkumara mengetahui betapa senangnya Para Dewa Tavatimsa tersebut, maka Ia menyatakan rasa senang-Nya dalam Syair ini:"Para Dewa dan Penguasa Tavatimsa semuanya gembira, semuanya menghormat Sang Tathagata dan Dhamma-Kebenaran. Disini Mereka telah melakukan Penghidupan Suci yang diajarkan Sang Sugata. Mereka sebagai Siswa yang telah merealisasikan Kebenaran datang kemari, dengan penuh kemegahan melampaui Kegemilangan Dewa yang lain. Karena melihat hal ini, maka Para Dewa Tavatimsa dan Penguasa-Nya bergembira. Semuanya menghormat Sang Tathagata dan Dhamma-Kebenaran."

Inilah yang dikatakan oleh Dewa Brahma Sanamkumara. Ia menyatakan Syair itu dengan delapan macam sifat suara. Suara-Nya lancar, jelas, merdu, nyaring, mengalun, dapat dimengerti, dalam dan bergetar. Bhante, ketika Dewa Brahma Sanamkumara berkata kepada Para Dewa yang hadir, suara-Nya tidak dapat didengar di luar gedung pertemuan tersebut. Dia yang memiliki suara dengan delapan sifat tersebut dinyatakan memiliki suara Brahma.

Bhante, kemudian Para Dewa Tavatimsa berkata kepada Dewa Brahma Sanamkumara:"O, Brahma! Baik sekali! Kami gembira dengan apa yang Kami saksikan ini. Lagi pula, Raja Dewa Sakka telah memberitahukan kepada Kami Delapan Fakta Kebenaran dari Sang Bhagava, dan Kami telah memperhatikan pula hal-hal itu, dan Kami bergembira pula dengan-Nya." Bhante, lalu Dewa Brahma Sanamkumara berkata kepada Raja Dewa Sakka sebagai berikut:"O, Raja Dewa Sakka, Baik sekali. Kami juga mau mendengarkan Delapan Fakta Kebenaran dari Sang Bhagava yang terpuji."
"O, Maha Brahma, baiklah," jawab Sakka.

Dan selanjutnya Ia mulai.
"Maha Brahma, bagaimana pendapat-Mu?" Begitu lama Sang Bhagava telah melakukan banyak Perbuatan untuk kesejahteraan orang banyak, karena kasih sayang-Nya kepada dunia, untuk kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan Para Dewa dan manusia. Kita tidak akan dapat menemukan Guru seperti Sang Bhagava atau semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa lampau maupun dimasa yang akan datang.

Demikian pula dengan Dhamma, telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava, dapat dilihat, tidak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun kedalam batin, dan dapat diselami oleh Para Bijaksana dalam batin masing-masing. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan pengajar Dhamma kebenaran yang membimbing Kita itu atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

'Ini baik, itu buruk', hal ini telah di babarkan dengan jelas oleh Sang Bhagava. Beliau telah membabarkan dengan jelas tentang; 'ini salah, itu benar, itu perlu dituruti, itu dihindari, ini kasar, ini halus, ini kebahagiaan yang meragukan'. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan pembabar Dhamma, Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Sang Bhagava telah membabarkan dengan sempurna Jalan Ke Nibbana kepada Siswa-Siswa-Nya, dan Mereka mengikuti Jalan dan mencapai Nibbana. Bagaikan air Sungai Gangga dan Yamuna yang mengalir bersama-sama dan bersatu, demikian pula dengan Jalan yang menuju Nibbana yang telah dibabarkan dengan Sempurna, yaitu dilaksanakan bersama-sama dan menjadi satu. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan pembabar Jalan Ke Nibbana seperti Dia, walau pun Kita mencari di masa lampau maupun di masa yang akan datang.

Sang Bhagava telah menerima Siswa-Siswa, dan Mereka telah mengikuti Jalan, dan Para Arahat yang telah hidup dengan 'memanfaatkan kehidupan'. Beliau tidak berpisah dengan Mereka, karena tetap bersama dengan Mereka dalam batin yang bersatu. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan Guru yang seperti Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Telah sempurna apa yang didapat Sang Bhagava, Kemasyuran-Nya telah tersebar, demikian pula menurut Pendapat-Ku, banyak Kesatria yang berkecendrungan baik kepada Beliau. Namun demikian, Sang Bhagava tidak terpengaruh sedikit pun dengan segala Pujian. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan Guru yang tidak terpengaruh seperti Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Perbuatan Sang Bhagava adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya, ucapan-Nya adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan orang yang melaksanakan Dhamma dari yang mudah sampai sulit sekali dengan hasil seperti Dia atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Sang Bhagava telah menyeberangi lautan keragu-raguan, demikian pula semua yang perlu diketahui telah diketahui, segala sesuatu yang perlu dikerjakan telah diselesaikan dengan sempurna berdasarkan tekad-Nya yang teguh dan Penghidupan Suci-Nya. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan guru yang telah mencapai Pencapaian seperti Dia, atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang. Bhante, setelah mendengar hal tersebut, Dewa Brahma Sanamkumara merasa senang, gembira, penuh kegiuran, dan bahagia.

Bhante, demikianlah, Dewa Brahma Sanamkumara menciptakan Diri-Nya dengan tubuh yang agak keras sehingga nampak seperti pemuda Pancasikha, dan dengan bentuk seperti itu Ia muncul di depan Para Dewa Tavatimsa. Dengan melayang ke angkasa, ia duduk bersila di angkasa. Bhante, bagaikan seorang yang gagah perkasa yang duduk bersila di angkasa. Dan Ia berkata kepada Para Dewa Tavatimsa:

"O, Para Dewa Tavatimsa, bagaimanakah pendapat Kamu? sudah berapa lamakah Sang Bhagava memiliki Maha Panna (Maha Bijaksana)?"
Tersebutlah, pada suatu ketika ada seorang Raja bernama Disampati, dan mentri dari Raja Disampati adalah Seorang Brahmana bernama Govinda.
Putera Raja Disampati bernama Pangeran Ranu, dan Putera dari Mentri Govinda bernama Jotipala. Pangeran Ranu, Jotipala dan enam Pemuda Kesatria lainnya, jadi delapan Pemuda yang bersahabat. Demikianlah beberapa waktu kemudian Brahmana Govinda meninggal. Karena berduka cita atas kematiannya, maka Raja Disampati berkata:"O, baru saja Kami mempercayakan semua tugas-tugas Kami kepada Brahmana Govinda, dan selagi Kami memuaskan inderia-inderia kami, Govinda meninggal!" Lalu Pangeran Ranu berkata kepada Raja:"Baginda, janganlah bersedih, begitu bagi Brahmana Govinda. Govinda mempunyai seorang Putera bernama Jotipala yang lebih bijaksana dari pada ayahnya, lebih baik. Lihatlah, apa yang lebih menguntungkan dari pada ayahnya. Biarkanlah Jotipala melaksanakan semua tugas yang dipercayakan kepada ayahnya."
"Kau berpendapat demikian, 'Nak'?"
"Ya, Baginda."
54
Arya Mahayana / Maha Govinda Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:25:08 am »
Namo Bhagavate Mahabijnagiriraja Tathagata SamyakSambuddhassa

Namo Arya Jnanabhadra Bodhisattva Mahasattva

Namo Arya BoddhiCittam Nagajuna Bodhisattva Mahasattva

Anirodham anutpadam anucchedam ashvasatam
anekartham ananartham anagmamam anirgamam
yah Pratityasamutpadam praponchopasham shivam
deshyamas sambuddhastam vandevadatavaran

Namo Buddhaya guruve namo Dharmaya tayine namah Sanghaya mahatte tribhyopisatatam namah ratnatryam me sharanam sarvam pratidishayamgam anumode jagatpunyam Buddha Baudho dadhe manah abodhe sharanamyami Buddham Dharmam ganottaman Baudhociitam karomyesh svaparthaprasiddhaye utpadayami var Bodhiciitam nimantryam sarvasattvan ishtam carishye var Bodhicarikam Buddho bhaveyam jagatohitaya deshana sarvapapanam punyanam ca anumodana kritopvasam carishyami Arya Ashtangika poshadam.

Maha Govinda Sutta

Demikianlah telah ku dengar,
Pada suatu ketika, Sang Bhagava berada di bukit Gridhakuta di Rajagaha. Dan pada suatu hari, ketika malam semakin larut, Pancasikha Gandhabbaputto yang perkasa menyinari seluruh Gridhakuta, datang menemui Sang Bhagava:"Bhante, ada hal yang telah saya lihat dan dengar sendiri dari para Dewa Tavatimsa, dan saya akan menceritakannya kepada Sang Bhagava."
"Ceritakanlah kepada-Ku, Pancasikha," jawab Sang Bhagava.

Bhante, pada waktu lampau, setelah berselang masa yang lama, pada malam yang kelimabelas di bulan purnama sempurna, di hari Uposatha, di hari Pavarana, para dewa Tavatimsa berkumpul dan duduk di gedung pertemuan Sudhamma. Dan mereka pun disertai oleh mahluk-mahluk surga yang telah duduk, dan diempat penjuru didiami oleh Empat Maharaja Langit. Di sebelah timur, Raja Dhatarattho dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke barat. Disebelah selatan, Raja Virudhaka dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke utara. Disebelah barat, Raja Virupakkha dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke timur. Disebelah utara, Raja Vaisravana dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke selatan. Bhante, ketika para Dewa Tavatimsa telah berkumpul di gedung pertemuan Sudhamma, dengan dikelilingi oleh semua mahluk surga lainnya yang telah duduk pula, dan diempat penjuru Empat Maharaja Langit telah duduk sesuai dengan urutan susunan kedudukan Mereka masing-masing. Selanjutnya, barulah urutan tempat duduk Kami. Bhante, para dewa yang baru saja lahir di alam dewa Tavatimsa, yang terlahir disitu karena Mereka telah hidup sesuai dengan Penghidupan Suci, yang telah dibabarkan oleh Sang Bhagava, maka cahaya tubuh Mereka melampaui cahaya tubuh dewa lainnya. Kemudian terdengar kata-kata dari para Dewa Tavatimsa yang sedang diliputi kegembiraan, kegiuran dan kesenangan:"O, cahaya tubuh mahluk surga bertambah gemilang, sedangkan cahaya tubuh para asura memudar!

Bhante, ketika Raja dewa Sakka melihat kepuasan yang diperlihatkan oleh para Dewa Tavatimsa, Ia menyatakan kata-kata simpatinya sebagai berikut:
"Para Dewa dan penguasa Surga Tavatimsa, semuanya gembira, semuanya menghormat Sang Tathagata dan Dhamma (Hukum Kebenaran Sang Buddha). Di sini Mereka melihat Para Dewa yang baru lahir, indah dan bercahaya, karena Mereka telah melaksanakan Penghidupan Suci yang dibabarkan oleh Sang Sugata, datang kemari dengan penuh kemegahan melampaui kegemilangan para Dewa yang lain. Karena melihat hal ini, maka Para Dewa Tavatimsa dan Penguasanya bergembira. Semua menghormat Sang Tathagata dan Dhamma-kebenaran."

Bhante, berdasarkan hal ini, Para Dewa Tavatimsa bertambah gembira, senang dan penuh kegiuran, berkata:"Cahaya tubuh mahluk surga bertambah gemilang, sedangkan tubuh para asura memudar.!" Bhante, ketika Raja Dewa Sakka menyaksikan kepuasan Para Dewa Tavatimsa, Ia bertanya pada Mereka:"Apakah Kamu mau mendengarkan delapan fakta kebenaran dari Sang Bhagava Yang Terpuji?"
"Kami mau mendengar hal-hal itu."
Bhante, kemudian Raja Dewa Sakka memberitahukan kepada Para Dewa Tavatimsa tentang Delapan Fakta Kebenaran dari Sang Bhagava Yang Terpuji:

"O, Para Dewa Tavatimsa, bagaimanakah pendapat Kamu? Begitu lama Sang Bhagava telah melakukan banyak Perbuatan untuk kesejahteraan orang banyak, karena kasih sayang-Nya kepada dunia, untuk kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan Para Dewa dan manusia. Kita tidak akan dapat menemukan Guru seperti Sang Bhagava atau semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa lampau maupun dimasa yang akan datang.

Demikian pula dengan Dhamma, telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava, dapat dilihat, tidak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun kedalam batin, dan dapat diselami oleh Para Bijaksana dalam batin masing-masing. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan pengajar Dhamma kebenaran yang membimbing Kita itu atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

'Ini baik, itu buruk', hal ini telah di babarkan dengan jelas oleh Sang Bhagava. Beliau telah membabarkan dengan jelas tentang; 'ini salah, itu benar, itu perlu dituruti, itu dihindari, ini kasar, ini halus, ini kebahagiaan yang meragukan'. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan pembabar Dhamma, Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Sang Bhagava telah membabarkan dengan sempurna Jalan Ke Nibbana kepada Siswa-Siswa-Nya, dan Mereka mengikuti Jalan dan mencapai Nibbana. Bagaikan air Sungai Gangga dan Yamuna yang mengalir bersama-sama dan bersatu, demikian pula dengan Jalan yang menuju Nibbana yang telah dibabarkan dengan Sempurna, yaitu dilaksanakan bersama-sama dan menjadi satu. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan pembabar Jalan Ke Nibbana seperti Dia, walau pun Kita mencari di masa lampau maupun di masa yang akan datang.

Sang Bhagava telah menerima Siswa-Siswa, dan Mereka telah mengikuti Jalan, dan Para Arahat yang telah hidup dengan 'memanfaatkan kehidupan'. Beliau tidak berpisah dengan Mereka, karena tetap bersama dengan Mereka dalam batin yang bersatu. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan Guru yang seperti Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Telah sempurna apa yang didapat Sang Bhagava, Kemasyuran-Nya telah tersebar, demikian pula menurut Pendapat-Ku, banyak Kesatria yang berkecendrungan baik kepada Beliau. Namun demikian, Sang Bhagava tidak terpengaruh sedikit pun dengan segala Pujian. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan Guru yang tidak terpengaruh seperti Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Perbuatan Sang Bhagava adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya, ucapan-Nya adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan orang yang melaksanakan Dhamma dari yang mudah sampai sulit sekali dengan hasil seperti Dia atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.

Sang Bhagava telah menyeberangi lautan keragu-raguan, demikian pula semua yang perlu diketahui telah diketahui, segala sesuatu yang perlu dikerjakan telah diselesaikan dengan sempurna berdasarkan tekad-Nya yang teguh dan Penghidupan Suci-Nya. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan guru yang telah mencapai Pencapaian seperti Dia, atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang. Bhante, Kedelapan Fakta Kebenaran Sang Bhagava Yang Terpuji ini, telah dikatakan oleh Raja Dewa Sakka kepada Para Dewa Tavatimsa. Setelah mendengar hal ini, Para Dewa Tavatimsa bertambah gembira, senang penuh kegiuran dan bahagia.

Bhante, kemudian Para Dewa tertentu berkata:"O! Andaikata ada Empat Samma SamBuddha muncul di dunia dan mengajarkan Dhamma seperti Sang Bhagava! Mereka akan menyebabkan Kesejahteraan orang banyak, Kebahagiaan orang banyak, karena kasih sayang kepada dunia, untuk Kemajuan, Kesejahteraan dan Kebahagiaan Para Dewa dan manusia."
'Dan Para Dewa tertentu lain berkata:"Cukup, apabila ada tiga Samma SamBuddha yang muncul di dunia."
'Dan Para Dewa tertentu lain berkata:"Cukup, apabila ada Samma SamBuddha dua yang muncul di dunia dan mengajarkan Dhamma seperti Sang Bhagava! Mereka akan menyebabkan Kebahagiaan orang banyak, Kesejahteraan orang banyak, demi kasih sayang kepada dunia, untuk Kemajuan, Kesejahteraan dan Kebahagiaan Para Dewa dan manusia."

Kemudian Raja Dewa Sakka berkata kepada Para Dewa Tavatimsa: "Kawan-Kawan, tidak akan pernah dan tidak mungkin dalam satu tata surya ada dua Arahat Samma SamBuddha muncul bersama-sama, hal ini tidak pernah ada di masa yang lampau maupun di masa yang akan datang. Hal ini tidak akan pernah terjadi. O, Kawan-Kawan, namun, bila Sang Bhagava dapat hidup umur panjang, bebas dari penyakit dan kesakitan, hal ini yang dapat menyebabkan Kesejahteraan orang banyak, Kebahagiaan orang banyak, karena kasih sayang-Nya kepada dunia, untuk Kemajuan, Kesejahteraan dan Kebahagiaan Para Dewa dan manusia!" Bhante, setelah Para Dewa Tavatimsa selesai merundingkan dan membicarakan bersama-sama pokok persoalan sehingga Mereka berkumpul dan duduk di gedung Pertemuan Sudhamma, dan berkenaan dengan maksud tertentu, maka Keempat Maharaja menerima pembicaraan tersebut, dan dengan berdiri dari tempat duduk, Keempat Maharaja menerima nasehat.
"Kata-kata pemberitahuan dan nasehat diterima oleh Para Raja tersebut di situ, dengan Pikiran Mereka yang terpusat dan tenang Mereka berdiri di tempatnya masing-masing."
55
Arya Mahayana / Amitabha Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:24:24 am »
Namo Bhagavate Dharmakaya Lokesvararaja Buddhaya
Namo Bhagavate Dharmakaya Amitabha Buddhaya
Namo Bhagavate Dharmakaya Maha Vairocana Buddhaya
Namo Bhagavate Dharmakaya Amoghasiddhi Buddhaya
Namo Bhagavate Dharmakaya Aksobhya Buddhaya
Namo Bhagavate Dharmakaya Ratna Sambhava Buddhaya
Namo Bhagavate Dasa Bhumaya Mega Dharma Mahastamaprapta Bodhisattvaya Mahasattvaya
Namo Bhagavate Dasa Bhumaya Mega Dharma Avalokitesvara Bodhisattvaya Mahasattvaya

Terpujilah para Buddha dan Bodhisattva dalam persamuan agung kolam terata[3x]

Sabda Sang Buddha tentang AMITABHA SUTTA. Demikianlah telah kudengar : Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Sravasti pertapaan Jeta Taman Anthapindaka bersama serombongan Bhiksu yang berjumlah 1.250 semuanya Arahat yang namanya telah dikenal semua orang seperti : Arahato Sariputra, Arahato Mahamaudgalyayana, Arahato Mahakasyapa, Arahato Mahakatyayana, Arahato Mahakausthila, Arahato Revata, ArahatoSuddhipanthaka, Arahato Nanda, Arahato Ananda, Arahato Rahula, Arahato Gavampati, Arahato Pindolabharadvaja, Arahato Kalodayin, Arahato Mahakaphina, Arahato Vakula, Arahato Aniruddha dan beserta Siswa-siswa terkemuka lainnya ; dan para
Bodhisattva Mahasattva, Sang Pangeran Dharma Manjusri Bodhisattva Mahasattva, Ajita Bodhisattva Mahasattva, Gandhastin Bodhisattva Mahasattva, Nityodyukta Bodhisattva Mahasattva,dengan para Bodhisattva Mahasattva lainnya ; dan hadir pula Sakra Devanam Indra atau raja para dewata yang tak terhingga jumlahnya. Pada saat itu,Sang Buddha bersabda kepada sesepuh Sariputra. Sebelah Barat dari sini melewati ratusan ribu koti negeri Buddha, terdapat sebuah alam yang bernama Sukhavati. Ada seorang Tathagata yang bernama Amitabha. Kini beliau sedang mengajarkan Dharma. Sariputra,apakah sebabnya alam itu disebut Sukhavati? Dan lagi,oh,Sariputra! Di surga Sukhavati terdapat tujuh tingkat Veranda dengan tujuh tirai rajutan, tujuh baris jajaran pohon semua terbentuk dari empat macam mustika, karenanya negeri itu disebut kebahagiaan sempurna. Lagi pula Sariputra,di alam Sukhavati terdapat tujuh kolam permata berisi air yang memiliki delapan sifat kebaikan, dasar kolam penuh dengan hamparan pasir emas, keempat sisinya terdapat tangga yang terbuat dari : emas, perak, batu lazuardi dan batu kristal, diatas terdapat pagoda-pagoda yang terhias emas, perak, beryl, kristal, Musaragarbha batu-batu akik ,indung mutiara. Dikolam-kolam terdapat bunga teratai sebesar roda pedati, berwarna hijau dengan kemilau hijaunya, berwarna kuning dengan kemilau kuningnya, berwarna merah dengan kemilau merahnya dan berwarna putih dengan kemilau putihnya, lembut, menakjubkan, indah dan murni.
O Sariputra, demikianlah negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan yang indah, megah dan agung, lagi pula Sariputra,di negeri Buddha ini senantiasa terdengar musik surga dan tanahnya kuning emas. Dalam enam periode sehari semalam, turun hujan bunga-bunga Mandarawa. Tiap mahluk di negeri ini sepanjang pagi yang cerah dengan jubahnya mengumpulkan bunga dan mempersembahkannya kepada beratus ribu koti Buddha dari penjuru lain.
Pada waktu makan, mereka kembali ke negerinya masing-masing dan selesai makan, mereka istirahat. O Sariputra,di negeri kebahagiaan sempurna dengan pahala dan kebajikan terhias indah,megah dan agung. Lagi pula Sariputra, di negeri ini selalu ada burung-burung beraneka warna nan indah dan langka. Burung seriap putih, merak, kakatua, bangau putih kecil, kalavinka dan burung berkepala dua. Kumpulan burung ini bernyanyi dalam enam periode sehari semalam dengan suara merdu dan harmonis. Suara mereka yang jernih dan riang membabarkan lima akar kebajikan, tujuh bagian Bodhi, delapan jalan suci dan Dharma-Dharma lain. Bila mahluk di negeri itu mendengar suara-suara ini,mereka bersama-sama ingat akan Buddha, ingat akan Dharma dan ingat akan Sangha.
O Sariputra, jangan mengira bahwa burung-burung ini lahir akibat pelanggaran karma mereka, karena alasan apakah? Di negeri ini tidak ada tiga jenis kelahiran sesat. O Sariputra, di negeri Buddha ini bahkan nama-nama tiga jenis kelahiran sesat tidak ada. Bagaimana sebenarnya? Kumpulan burung ini semuanya diciptakan melalui penjelmaan oleh Amitabha Buddha agar suara Dharma tersiar luas. O Sariputra,di negeri Buddha itu, ketika semilir angin berhembus,barisan pohon-pohon permata dan tirai-tirai permata menimbulkan suara-suara lembut dan indah laksana seratus ribu jenis musik dialunkan pada saat yang sama. Mereka yang mendengar suara ini dengan sendirinya ingat akan Buddha, ingat akan Dharma,ingat akan Sangha. O Sariputra, negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung. O Sariputra,apa yang kau pikirkan? Mengapa Buddha ini disebut Amitabha? O Sariputra, kemilau cahaya Buddha ini tak terhingga menerangi sepuluh penjuru dunia,tanpa halangan. Oleh karenanya disebut Amitabha. Lagipula O Sariputra, kehidupan Buddha ini dan rakyatnya mencapai kalpa Asankhyeya tiada terbatas tiada terhingga. Oleh karenanya disebut Amitabha.
O Sariputra, sejak Amitabha mencapai tingkat kebuddhaan, sepuluh kalpa telah berlalu. Lagipula Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna mahluk hidup yang lahir semuanya Avaivartika. Diantara mereka banyak yang dalam kehidupan ini mencapai tingkat kebuddhaan. Jumlah mereka sangat banyak, tidak dapat dihitung dan hanya dapat disebut dalam kalpa Asankhyeya yang tiada terbatas, tiada terhingga. O Sariputra, mahluk hidup yang mendengar ini seyogyanya berikrar agar dilahirkan di negeri itu, mengapa demikian? Agar mereka yang berhasil adalah orang suci dan baik semua berkumpul bersama-sama di satu tempat. O Sariputra,seorang tidak boleh kurang dalam perbuatan-perbuatan baik, berkah, kebajikan dan hubungan penyebab untuk mencapai kelahiran di negeri itu. Sariputra, kalau ada seorang lelaki berbudi dan wanita berbudi mendengar nama Amita Buddha dan memanjatkan nama itu baik selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, dengan sepenuh hati dan tanpa ganguan,bila orang itu mendekati akhir hayatnya,Amita Buddha beserta para orang suci akan muncul dihadapannya. Ketika akhir hayatnya tiba,hatinya tidak goyah. Ia akan terlahir di negeri kebahagiaan sempurna Amitabha Buddha.Sariputra, karena aku melihat manfaatnya, maka Ku-ucapkan kata-kata ini. Jika mahluk hidup mendengar ucapan ini,mereka seharusnya berikrar untuk lahir di negeri itu.
O Sariputra, sebagaimana aku sekarang memuji manfaat yang tak terkira dari jasa dan kebajikan Amita Buddha, demikian juga di Timur ada Aksobhya Buddha, Merudhvaja Buddha, Mahameru Buddha, Meruprabhasa Buddha, Sughosa Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negeriNya masing-masing mengemukakan penampilan lidah Maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra Mahasahasra loka datu. Dengan kata-kata tulus dan nyata,semua mahluk hidup patut percaya,memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan tak terkira dari sutta yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.
O Sariputra, di dunia sebelah Selatan ada Candrasuryapradipa Buddha, Yasahprabha Buddha, Maharciskamdha Buddha, Merupradipa Buddha, Arantavirya Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah Maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra Mahasahasra loka datu. Dengan kata-kata tulus dan nyata,semua mahluk hidup patut percaya,memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan tak terkira dari sutta yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini. O Sariputra,di dunia sebelah Barat ada Amitayus Buddha, Amitaskamdha Buddha, Amitadhavaja Buddha, Mahaprabha Buddha, Maharasmiprabha Buddha, Maharatnaketu Buddha, Suddharasmi Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah Maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra Mahasahasra loka datu. Dengan kata-kata tulus dan nyata,semua mahluk hidup patut percaya,memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan tak terkira dari sutta yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini. O Sariputra,di dunia sebelah Utara ada Maharciskamdha Buddha, Dumdubhisvaranirghosa Buddha, Duspradharsa Buddha, Adityasambhava Buddha, Jalemiprabha Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah Maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra Mahasahasra loka datu.
Dengan kata-kata tulus dan nyata, semua mahluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan yang tak terkira dari sutta yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini. Sariputra,di dunia sebelah Bawah ada Simha Buddha, Yasas Buddha, Yasahprabha Buddha, Dharma Buddha, Dharmadhvaja Buddha, Dharmadhara Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah Maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra Mahasahasra loka datu.
Dengan kata-kata tulus dan nyata, semua mahluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan yang tak terkira dari sutta yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.
O Sariputra, di dunia sebelah Atas ada Brahmaghosa Buddha, Naksatraraja Buddha, Gamdhottama Buddha, Gamdhaprabhasa Buddha, Maharciskamdha Buddha, Ratnakusumasampuspitagatra Buddha, Salendraraja Buddha, Ratnotpalasri Buddha, Sarvarthadarsa Buddha, Sumerukalpa Buddha dan Buddha-Buddha lainnya Yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah Maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra Mahasahasra loka datu. Dengan kata-kata tulus dan nyata, semua mahluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan yang tak terkira dari sutta yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini. O Sariputra, apa yang kau pikirkan? Mengapa sutta ini disebut sutta yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha?
O Sariputra, kalau seorang lelaki berbudi dan wanita berbudi mendengar sutta ini dan mengucapkan nama-nama semua Buddha ini, lelaki berbudi atau wanita berbudi ini akan menjadi orang yang ingat akan Buddha dan dilindungi oleh semua Buddha dan tidak akan gagal mencapai Anuttara Samyak Sambodhi. Sebab itu Sariputra, kalian semua patut percaya dan menerima kata-kataKu dan ucapan semua Buddha.Sariputra, kalau ada orang yang telah berikrar yang sedang berikrar atau yang akan berikrar, ”aku berhasrat lahir di negeri Amitabha.” Orang-orang ini semua tidak akan gagal mencapai Anuttara Samyak Sambodhi apakah dia lahir pada masa lampau, sekarang atau pada masa mendatang. Sebab itu Sariputra, semua laki-laki berbudi dan wanita berbudi jika mereka orang-orang yang memiliki keyakinan, seyogyanya berikrar untuk lahir di negeri ini.
O Sariputra, sebagaimana sekarang Aku memuji jasa dan kebajikan semua Buddha,semua Buddha juga memuji jasa dan kebajikanKu yang tak terkirakan, dengan mengucapkan kata-kata : “Sakyamuni Buddha dapat melaksanakan secara luar biasa perbuatan-perbuatan yang sulit di dunia Saha, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan, diantara kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan,kekeruhan penderitaan, kekeruhan mahluk hidup dan kekeruhan kehidupan. ”Ia dapat mencapai Anuttara Samyak Sambodhi demi mahluk hidup, membabarkan Dharma ini yang diseluruh dunia sulit dipercaya.” Sariputra,kamu seharusnya mengerti bahwa Aku,dikurun kejahatan dari lima kekeruhan, mempraktekkan perbuatan yang sulit ini. Mencapai Anuttara Samyak Sambodhi.Demi semua mahluk Ku-ucapkan Dharma yang sulit dipercaya ini, benar-benar sulit dipercaya. Setelah Sang Buddha mengucapkan sutta ini, Sariputra dan semua Bhiksu, semua dewa dan manusia dan para asura dan yang lain-lain dari dunia, mendengar apa yang telah Sang Buddha sabdakan,menyambut dengan suka cita, menyembah dengan sujud dan mohon diri.
Sabda Sang Buddha tentang Amitabha Sutta. Dharani untuk menghapus semua karma buruk penghalang-penghalang untuk lahir di tanah suci Surga Sukhavati.

NAMO SUKHAVATI VYUHA DHARANI

NAMO RATNA TRAYAYA, NAMAH ARYA AMITABHAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA! TADYATHA : OM AMRTA AMRTOD BHAVE, AMRTA SAMBHAVE, AMRTA GARBHE, AMRTA SIDDHE, AMRTA TEJE , AMRTA VIKRANTE , AMRTA VIKRANTA GAMINI , AMRTA GAGANA KIRTI KARE ,
AMRTA DUNDUBHI SVARE, SARVATHA SADHANE. SARVA KARMA KLESA KSAYAM KARE SVAHA !

(Mantra Hrdaya /Mantra Hati Amitabha Tathagata)
om amrta teje hara hum

TERPUJILAH DHARANI PENGHIASAN TANAH KEBAHAGIAAN TERBAIK

TERPUJILAH SANG TIGA PERMATA, TERPUJILAH SANG CAHAYA TANPA BATAS, YANG TELAH DATANG, SANG ARAHAT, YANG TELAH MENCAPAI PENERANGAN SEMPURNA, YAKNI :O! NEKTAR, TERCIPTALAH NEKTAR, MENINGKATLAH NEKTAR, TERSIMPANLAH NEKTAR DIDALAM KANDUNGAN, TERSEMPURNALAH DENGAN NEKTAR, SANG NEKTAR YANG CEMERLANG, SANG NEKTAR YANG AJAIB, YANG MELAKUKAN KEAJAIBAN DENGAN NEKTAR, YANG MEMBUAT NEKTAR BERJAYA DI LANGIT, SANG RAJA NEKTAR YANG SANGAT BAGUS, DIDALAM MENDAPATKAN KEUNTUNGAN UNTUK SEMUA, YANG MELAKUKAN PEMUSNAHAN SEMUA KARMA DAN PENDERITAAN, SERUKANLAH!

PA I CHIEH YEH CHANG KEN PEN TE SHEN CING TU TO LO NI

NA MO A MI TO PO YEH, TO THA CHIEH TO YEH, TO TI YEH THA, A MI LI TU PO PI, A MI LI TO, SI TAN PO PI,
A MI LI TO, PI CIA LAN TI, A MI LI TO, PI CIA LAN TO, CHIEH MI NI, CHIEH CHIEH NA, CHIH TO CIA LI, SA PO HO.


namo amitabhaya tathagataya tad-yatha om amitod bhave amrta siddham bhave amrta vikrante amrta vikranta-gamini gagana kirti-kare svaha

Namo AmitoFo
Namo Ta Pei Kwan Shi Yin Pusa Mohosa
Namo Tapei Ta She Che Siek Khai Yi Pusa Mohosa
56
SUTTA BUNGA TERATAI DARI KEGHAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB XXVII


Namo Bhagavate Arya Tara
AKHIR PASAMUAN

Pada saat itu Sang Sakyamuni Buddha bangkit dari tempat duduk Hukum-Nya untuk memperlihatkan Kekuatan Ghaib, dan meletakkan Tangan kanan-Nya diatas kepala-kepala dari Para Bodhisattva-Mahasattva yang tak terhitung jumlah-Nya serta bersabda demikian :
“Selama ratusan ribu koti asamkhyeya kalpa yang tanpa hitungan, Aku telah melaksanakan Hukum Kesunyataan Penerangan Agung yang aneh ini. Sekarang Aku percayakan kepada kalian. Sebar luaskanlah Hukum Kesunyataan ini dengan sepenuh hati Kalian dan tingkatkan serta suburkanlah di seluruh pelosok alam semesta.”

Dengan sikap yang sama, sebanyak tiga kali Beliau meletakkan Tangan-Nya diatas kepala Para Bodhisattva-Mahasattva dan bersabda demikian :”Selama ratusan ribu koti asamkhyeya kalpa yang tanpa hitungan telah Aku jalankan Hukum Kesunyataan Penerangan Agung yang aneh ini. Sekarang Aku percayakan Hukum Kesunyataan itu kepada kalian. Terimalah dan peliharalah, baca dan hafalkanlah serta maklumkanlah Sutra ini secara luas sehingga semua umat seluruhnya dapat mendengar dan mengetahui-Nya. Karena Sang Tathagata adalah Maha Pengasih dan Penyayang, tidak loba dan tidak kikir, Beliau mampu dengan tiada gentar memberikan Kebijaksanaan Sang Buddha, Kebijaksanaan Sang Tathagata, dan Kebijaksanaan Pribadi Diri kepada semua mahluk hidup. Ikutilah dan pelajarilah juga contoh-contoh Sang Tathagata untuk tidak menjadi manusia loba dan kikir.

Jika didalam masa-masa yang mendatang terdapat putera maupun puteri yang baik yang mempercayai Kebijaksanaan Tathagata, maka maklumkanlah Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini kepada mereka sehingga mereka dapat mendengar dan mengetahui-Nya supaya mereka semua dapat memperoleh Kebijaksanaan Sang Buddha. Seandainya terdapat para umat yang tidak mempercayai-Nya, kalian perlihatkanlah dan ajarilah, selamatkan dan gembirakanlah mereka dengan Hukum-Hukum Kesunyataan Sang Tathagata lainnya yang penuh Kebijaksanaan. Jika kalian mampu berbuat demikian, maka kalian telah membalas kemarahan Para Buddha.”

Setelah Para Bodhisattva-Mahasattva ini mendengar Wejangan yang diberikan oleh Sang Buddha itu, Mereka diliputi kegembiraan yang meluap-luap serta menghormati-Nya dengan membungkukkan tubuh dan menundukkan kepala, dan dengan tangan terkatup Mereka memuji Sang Buddha dengan berbareng :” Kami semua akan melaksanakan apa yang Engkau Titahkan. Wahai Yang Maha Agung ! Janganlah Engkau khawatir.” Dengan sikap yang sama, Para Bodhisattva-Mahasattva ini berkata dengan suara bulat sebanyak tiga kali:” Kami akan melaksanakan apa yang Engkau Titahkan. Wahai Yang Maha Agung ! Janganlah Engkau khawatir.”

Kemudian Sang Sakyamuni Tathagata Arhan SamyakSamBuddha menitahkan Semua Tathagata Arhat SamyakSamBuddha yang telah datang dari segala penjuru agar masing-masing kembali keTanah-Nya Sendiri-Sendiri seraya bersabda : “Wahai Para Tathagata ! Sejahteralah Kalian. Biarlah Stupa dari Prabhutaratna berlimpah kembali seperti semula.”

Ketika kata-kata ini terucapkan, Ribuan Para Buddha yang telah datang dari segala penjuru yang sedang duduk diatas Tahta-Tahta Singa dibawah Pepohonan Permata begitu juga Sang Buddha Prabhutaratna, kelompok para Bodhisatva yang jumlah-Nya sebanyak asamkhyeya yang tak terbatas, Sang Visishtakaritra serta asamkhyeya Bodhisattva Mahasattva lain-Nya, juga Para Maha Sravaka dan keempat Kelompok Pendengar, Sang Sariputra dan lain-lain-Nya, serta seluruh dunia para dewa, manusia, asura dan sebagainya, demi mendengar khotbah Sang Buddha itu, semua-Nya sangat bersuka-cita.

Demikianlah Yang Maha Suci  Sutra Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Akhir Pesamuan, Bab 27.
57
SUTTA BUNGA TERATAI DARI KESAKTIAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB 26


NASEHAT SANG BODHISATTVA SAMANTABHADRA
Pada saat itu, Sang Bodhisattva Samanta Bhadra dengan kekuatan saktiNya yang sempurna,agung dan tenar,dengan ditemani oleh para Bodhisattva yang terkemuka,yang tak terbatas,tak terhingga, dan tak terhitung jumlahNya,datang dari kawasan sebelah timur.Negeri-negeri yang Ia lalui semuanya bergoncangan,bunga-bunga teratai berhias manikam bertaburan turun dan ratusan ribu koti jenis musik teralunkan.Ia tiba di Gunung Grdhrakuta di dunia Saha ini dengan dikelilingi pula oleh kelompok para deva,naga,yaksha,gandharva,asura,garuda,kinnara,ma horaga,manusia,dan yang bukan manusia serta lain-lainnya yang seluruhnya memperlihatkan kesaktian Mereka yang sempurna. Setelah merendahkan diri dihadapan Sang Sakyamuni Buddha,kemudian Ia berarak mengitariNya kearah kanan sebanyak 7 kali dan menyapa Sang Buddha seraya berkata:"Yang Maha Agung! Kami yang berada didalam kawasan Sang Buddha Ratnatejobhyudgataraja yang ketika mendengar dari jauh bahwa Hukum Sutta Bunga Teratai sedang dikhotbahkan didalam dunia Saha ini,telah datang bersama ratusan ribu koti para Bodhisattva untuk mendengar dan menerimaNya.Yang Maha Agung, berkenanlah Engkau kiranya untuk mengkhotbahkanNya kepada Kami dan beritahukanlah pula bagaimana jalannya agar para putera-puteri yang baik dapat memperoleh Hukum Sutta Bunga Teratai ini sesudah kemokshaan Sang Tathagata nanti."

Sang Buddha menjawab Sang Bodhisattva Samanta Bhadra :"Seandainya terdapat putera maupun puteri yang baik,yang melaksanakan keempat kewajiban,maka Ia akan memperoleh Hukum Sutta Bunga Teratai ini sesudah kemokshaan Sang Tathagata nanti. Pertama, Ia harus berada dibawah asuhan Para Buddha. Kedua, Ia harus menanam akar-akar kebajikan. Ketiga, Ia harus menguasai tingkat konsentrasi yang benar, dan keempat, Ia harus berusaha menyelamatkan para umat. Putera-puteri yang baik,yang melaksanakan keempat kewajiban itu pastilah akan memperoleh Sutta ini sesudah kemokshaan Sang Tathagata nanti."

Kemudian Sang Bodhisattva Samanta Bhadra berkata pada Sang Buddha:"Yang Maha Agung! Didalam 500 tahun terakhir dari masa yang penuh kejahatan dan keangkaraan nanti, siapapun juga yang menerima dan memelihara Sutta ini selalu akan Aku jaga dan Aku lindungi, serta akan Aku musnahkan kecemasan hatinya dan Aku tentramkan hati mereka sehingga tidak ada satupun godaan yang beroleh peluang.Tidak juga mara ataupun anak-anak mara, tidak juga puteri-puteri mara ataupun orang-orang mara, dan tidak juga pengikut-pengikut mara, tidak pula yaksha,rakshasa,kumbhandas,pisacaka,kritya,putana, vetada dan pengganggu manusia lainnya.Semuanya ini tidak akan mendapatkan kesempatan sedetikpun jua. Dimanapun orang ini berjalan atau berdiri, sedang membaca atau menghafalkan Sutta ini, Aku akan segera meniti seekor Raja Gajah putih bergading enam dan pergi bersama sekelompok Para Bodhisattva Agung ke tempat itu serta menunjukkan diri bahwa Aku akan menjaga dan melindunginya dengan menghibur hatinya dan dengan cara itu pulalah Aku memelihara Hukum Sutta Bunga Teratai. Dimanapun juga orang ini duduk merenungkan Sutta,maka dengan segera Aku akan meniti lagi Raja Gajah putih itu dan menampakkan diri kepadanya.Seandainya Ia lupa meskipun hanya sepatah kata ataupun seuntai syair dari Sutta Bunga Hukum ini, maka Aku akan mengajarkanNya kepadanya,membaca dan menghafalkanNya bersamanya serta membuat dia menguasaiNya kembali.Kemudian Ia yang menerima dan memelihara,membaca dan menghafalkan Hukum Sutta Bunga Teratai ini akan sangat bersuka-cita dan memperbaharui semangatnya ketika Ia melihatku. Dengan melihatKu, ia akan memperoleh Perenungan dan Dharani yang disebut Dharani tentang Perubahan, Dharani dari Ratusan Ribu Koti Perubahan, dan Dharani dari Keahlian Ajaran Dharma. Dharani-Dharani seperti inilah yang akan Ia dapatkan.

"Yang Maha Agung! Seandainya didalam ujung masa yaitu didalam 500 tahun terakhir dari masa yang penuh kedurhakaan dan keangkaraan nanti, para bhiksu,bhiksuni,upasaka,dan upasika,para pencahari,penerima dan pemelihara,pembaca dan penghafal serta penurun yang berhasrat menjalankan Hukum Sutta Bunga Teratai ini,maka mereka harus dengan sepenuh hati mencurahkan diri pada Sutta itu selama 3 minggu.Setelah 3 minggu itu terlaksana, barulah Aku akan meniti Gajah Putih Bergading Enam dan bersama-sama dengan ribuan Para Bodhisattva yang mengelilingiKu, muncul dihadapan orang-orang itu dalam wujud yang semua orang akan memandangnya serta Aku akan berkhotbah kepada mereka itu dengan memaparkan, memberi mereka petunjuk, menyelamatkan dan membuat mereka semua bersukaria.Lebih-lebih lagi akan Aku berikan Dharani kepada mereka.Dan dengan memperoleh Dharani ini, tidak ada satupun manusia maupun yang bukan manusia yang dapat menyakitinya, serta tidak ada lagi seorang wanitapun yang dapat menggodanya.Aku sendiri juga akan selalu melindunginya. Berkenanlah Engkau, Yang Maha Agung, untuk mengizinkan Aku membacakan Mantra Dharani ini."

Kemudian Ia mengucapkan Mantra Dharani itu dihadapan Sang Buddha,yakni:
"adande dandapati dandavartani dandakusale dandasudhari sudharapati buddhapasyane sarvadharani avartani samvartani samghaparīksite samghanirghatani dharmaparīksite sarvasattvarutakausalyanugate simhavikrīdite anuvarte vartani vartali svaha."
"Yang Maha Agung! Jika terdapat Bodhisattva-Bodhisattva yang mendengar Dharani-Dharani ini,maka Mereka akan sadar akan daya sakti dari Sang Samantabhadra.Jika khotbah Sutta Bunga Hukum ini sedang berlangsung diseluruh Jambudvipa dan disitu terdapat orang-orang yang menerima serta memeliharaNya, maka biarlah Mereka berpikir demikian:"Ini semua karena Kekuatan Yang Agung dari Sang Samantabhadra."Seandainya ada yang menerima serta memelihara,membaca dan menghafalkanNya,mengingatNya dengan benar, memahami maknaNya dan bertindak seperti apa yang telah dikhotbahkan, maka ketahuilah bahwa orang-orang ini sedang melaksanakan perbuatan Sang Samantabhadra dan telah menanam dengan dalam akar-akar kebajikan dibawah naungan Ribuan Buddha yang tanpa hitungan jumlahNya dan kepala-kepala Mereka akan dibelai dengan penuh kasih sayang oleh tangan-tangan Para Tathagata.Jika orang-orang ini hanya menurunNya,maka Mereka akan terlahir didalam Surga Tavatimsa ketika hidup Mereka berakhir nanti, dimana pada kesempatan itu 84 ribu betari dengan mengalunkan dendang lagu akan datang untuk menyambutnya dan Mereka dengan mengenakan Mahkota-Mahkota yang berhias 7 benda berharga akan bergembira dan bersuka-cita ditengah-tengah betari-betari yang Anggun itu.Betapa banyaknya orang-orang yang menerima, memelihara, membaca, dan menghafalkanNya, mengingatNya dengan benar, memahami maknaNya serta melaksanakanNya seperti apa yang telah dikhotbahkan!
Seandainya terdapat orang-orang yang menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkanNya serta memahami maknaNya, maka setelah hidup mereka berakhir, tangan-tangan dari ribuan Para Buddha akan terulur sehingga Mereka tidak akan merasa takut terjatuh dalam nasib yang buruk.Mereka akan langsung menuju kearah Sang Bodhisattva Maitreya didalam Surga Tusita dimana Sang Boldhisattva Maitreya yang memiliki 32 tanda itu sedang dikelilingi oleh sekelompok Bodhisattva-Bodhisattva Agung dan Beliau memiliki pula ratusan pengikut betari.Diantara Mereka itulah Orang-Orang tadi akan terlahir. Demikianlah pahala dan karunia Mereka.Oleh karenanya, Para Orang Bijak harus dengan sepenuh hati menurunNya atau membuat orang lain menurunNya, menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkanNya, mengingat-ingatNya dengan benar serta melaksanakanNya seperti apa yang telah dikhotbahkan.Yang Maha Agung! Aku akan menjaga dan melindungi Sutta ini dengan kekuatan saktiKu sehingga sesudah kemokshaan Sang Tathagata nanti,Sutta ini akan tersebar luas tanpa henti-hentinya didalam Jambudvipa."
Kemudian Sang Sakyamuni Buddha memujiNya dengan bersabda:"Bagus,bagus,Sang Samantabhadra,bahwa engkau mampu melindungi dan membantu Sutta ini serta membawa kebahagiaan dan ketentraman kepada para umat dibanyak tempat.Engkau telah mencapai jasa-jasa yang tak terlukiskan lagi dan telah mencapai kebajikan serta kasih sayang yang sangat begitu dalam.Semenjak dahulu Engkau telah berusaha untuk mencapai Penerangan Agung dan telah mampu membuat Prasetya Sakti untuk menjaga dan melindungi Sutta ini dan Aku dengan Kekuatan SaktiKu, akan melindungi dan menjaga Mereka yang dapat menerima serta memelihara nama dari Sang Bodhisattva Samantabhadra.
Wahai Samantabhadra! Jika terdapat Orang-Orang yang menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan, mengingat-ingatNya dengan benar,melaksanakan serta menurun Hukum Sutta Bunga Teratai ini,maka ketahuilah bahwa Orang-Orang ini sedang berada dihadapan Sang Sakyamuni Buddha dan seakan-akan Mereka sedang mendengarkan Sutta ini dari Mulut Sang Sakyamuni Buddha sendiri.ketahuilah pula bahwa Mereka sedang memuliakan Sang Sakyamuni Buddha. ketahuilah pula bahwa Sang Buddha itu sedang memuji Mereka"Bagus Sekali".ketahuilah pula bahwa kepala Mereka sedang dibelai oleh Tangan -Tangan Sang Sakyamuni Buddha. ketahuilah pula bahwa Mereka itu diselimuti Jubah Sang Sakyamuni Buddha. Orang-Orang seperti ini tidak lagi akan tertarik oleh kesenangan duniawi ataupun senang akan kitab-kitab serta tulisan-tulisan yang kolot ataupun menyukai lagi persahabatan akrab dengan orang-orang semacam itu maupun orang-orang angkara lainnya, baik mereka para tukang jagal ataupun pengembala babi hutan,domba,unggas,dan anjing, ataupun pemburu maupun orang-orang bawahannya.Tetapi Orang semacam ini akan selalu Berpikiran Benar, Bertujuan Benar serta Agung. Orang-Orang seperti itu tidak akan terhinggapi 3 racun ataupun terhinggapi oleh rasa dengki,sombong,tinggi hati dan congkak. Mereka akan berpuas hanya dengan beberapa keinginan saja dan mampu melaksanakan Titah-Titah Sang Keluhuran Semesta.
Wahai Samantabhadra! Sesudah Kemokshaan Sang Tathagata, seandainya terdapat Seseorang yang menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan Hukum Sutta Bunga Teratai ini didalam 500 tahun yang terakhir nanti, maka Ia harus berpikir begini:"Orang ini akan segera menuju ke tingkat Kebijaksanaan untuk menghancur-leburkan kelompok mara dan mencapai Penerangan Agung serta memutar Roda Hukum, menabuh genderang, meniup nafiri Hukum dan mencurahkan hujan Hukum serta akan duduk diatas Tathta Singa Hukum ditengah-tengah persidangan para deva dan manusia."
Wahai Samantabhadra! Siapapun juga yang didalam masa-masa mendatang menerima dan memelihara,membaca dan menghafalkan Sutta ini ,maka Mereka tidak akan tergila-gila pada pakaian, perabot-perabot tidur, makanan dan minuman serta segala benda-benda lainnya untuk penunjang hidup.Apapun yang Mereka ingini akan selalu tercapai dan didalam kehidupannya sekarang ini Mereka akan memperoleh karunia pahalaNya. Seandainya ada seseorang yang menghina dan menfitnahnya dengan berkata:"Kalian hanyalah orang-orang gila yang melakukan semuanya ini dengan sia-sia belaka tanpa sesuatupun yang dapat diperoleh." Maka Hukuman bagi Kejahatan ini ialah kebutaan yang turun temurun.
Jika terdapat seseorang yang membuat persembahan dan memuliakan Mereka, maka Ia akan memperoleh pahala yang dapat terlihat didalam dunia ini.Lagi, jika terdapat seseorang melihat Mereka yang menerima dan memelihara Sutta ini, kemudian ia memaklumkan salah dan dosa Mereka, maka benar ataupun salah, orang ini akan terjangkiti penyakit lepra didalam masa hidupnya yang sekarang. Jika ia kurang ajar terhadap Mereka, maka turun temurun giginya akan menjadi jarang dan hilang, bibirnya buruk, hidungnya rata, tangan dan kakinya pengkor, matanya pedet, tubuhnya berbau busuk dan terkotori dengan bopeng-bopeng yang menjijikkan serta bernanah darah, bernapas berat dan pendek serta terjangkiti oleh penyakit-penyakit mengerikan lainnya.
Oleh karenanya Wahai Samanta Bhadra, jika terdapat seseorang melihat Mereka yang menerima dan memelihara Sutta ini, maka Ia harus berdiri dan menyapaNya dari kejauhan seakan-akan Ia sedang menghormati Sang Buddha sendiri."
Pada saat bab tentang Pembesaran hati dari Sang Bodhisattva Samanta Bhadra sedang dikhotbahkan, sejumlah Bodhisattva yang tak terhitung jumlahNya, yang banyakNya seperti pasir Sungai Gangga, semuaNya telah mencapai Dharani dari Ratusan Ribu Koti Perubahan dan Para Bodhisattva yang jumlahNya seperti atom-atom dari jutaan dunia, semuaNya menjadi sempurna didalam jalan Agung dari Sang Keluhuran Semesta.
Tatkala Sang Buddha selesai menkhotbahkan Sutta ini, Sang Samanta Bhadra dengan Para Bodhisattva lainNya, Sang Sariputra dengan Para Sravaka lainNya, serta seluruh Para deva,naga,manusia dan yang bukan manusia dan mahluk-mahluk lainnya yang berada didalam Persidangan Agung itu, semuanya bersuka cita bersama dan setelah mendapatkan ajaran-ajaran Sang Buddha itu, kemudian Mereka membuat Penghormatan KepadaNya serta sesudahnya Mereka semua mengundurkan diri.
Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kesaktian Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, Tentang Nasehat Sang Bodhisattva Samantabhadra, Bab 26.
58
SUTTA BUNGA TERATAI DARI KEGHAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB XXV

KISAH RAJA CAHAYA GEMILANG

Pada saat itu Sang Buddha menyapa Persidangan Agung :"Konon, didalam suatu masa lampau yang terdahulu pada sekian asamkhyeya kalpa yang tak terbatas, tak terhitung dan tak dapat dibayangkan yang telah lalu, adalah Seorang Buddha yang bernama Jaladharagarjitaghosasusvaranaksatrarajasamkusumit abhijna (Raja Kumpulan Suara Awan dan Petir Bunga Kebijaksanaan), Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia, Yang Kalpa-Nya disebut Priyadarsana dan Kawasan-Nya disebut Vairocanarasmipratimandita. Di bawah Ajaran KeAgamaan dari Buddha itu, terdapatlah Seorang Raja yang bernama Vimaladatta yang berPutra dua orang, yang satu bernama Vimalagarbha dan yang satu lagi bernama Vimalanetra. Kedua Putera itu memiliki Daya Ghaib Yang Agung, memiliki Karunia dan Kebijaksanaan dan telah sekian lama mencurahkan Diri pada Jalan dimana Para Bodhisattva bertindak, yaitu
Dana Paramita, Sila Paramita, Ksanti Paramita, Virya Paramita, Dhyana Paramita, Prajna Paramita, Keluhuran Budi, Ramah Tamah, Welas Asih, Gembira, Tiada membeda-bedakan dan ke 37 Jenis Pertolongan Pada Jalan Agung. Semuanya ini Mereka benar-benar paham. Mereka juga telah mencapai Perenungan Bodhisattva, yaitu Vimala Samadhi, Naksatrarajaditya Samadhi, Vimalanirbhasa Samadhi, Vimalabhasa Samadhi, Alamkarasubha Samadhi, Mahatejogarbha Samadhi. Mereka benar-benar telah sempurna dalam Perenungan-Perenungan ini.

"Kemudian Buddha itu yang ingin membimbing Raja Subhavyuha dan ingin mengasihi semua umat, Beliau mengkhotbahkan Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ini. Pada saat itu, kedua Putera yaitu Vimalagarbha dan Vimalanetra, pergi menghadap Ibu-Nya dan dengan mengatupkan kesepuluh Jari-Nya, Mereka berkata kepada-Nya:"Ibu, Kami mohon kepada-Mu agar pergi dan mengunjungi Sang Buddha Jaladharagarjitaghosasusvaranaksatrarajasamkusumit abhijna. Kami juga suka melayani-Nya, mendekati, memuja dan memuliakan-Nya. Karena Buddha itu mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan di tengah-tengah kelompok para dewa dan manusia, dan Kami harus mendengar-Nya." Sang Ibu menjawab Putera-Putera-Nya : "Ayah Kalian percaya pada hukum-hukum kolot dan sangat terpancang pada hukum Brahman. Kalian pergilah dan bicaralah pada Ayah Kalian agar suka pergi bersama Kita." Sang Vimalagarbha dan Sang Vimalanetra bersama-sama mengatupkan sepuluh Jari-Nya serta berkata pada Sang Ibu : "Kami adalah Putera-Putera Sang Raja Hukum meskipun dilahirkan didalam rumah yang berpandangan kolot ini."

"Karena demi Sang Ayah, Kedua Putera ini meloncat keatas langit setinggi tujuh pohon tala serta mempertunjukkan aneka ragam perbuatan-perbuatan ghaib dengan berjalan, berdiri, duduk atau berbaring di langit itu. Tubuh-Nya bagian atas memancarkan air dan yang bawah memancarkan api, atau bagian bawah memancarkan air dan yang atas memancarkan api. Ataupun membesarkan Diri-Nya sampai memenuhi langit dan kembali mengecil, atau mengecil kemudian membesar lagi. Kemudian Mereka menghilang dari langit itu dan dengan tiba-tiba muncul diatas Bumi atau memasuki Bumi seperti menyelam kedalam air, atau berjalan diatas air seperti diatas Bumi. Dengan mempertunjukkan berbagai Perbuatan-Perbuatan Ghaib itu, Mereka membimbing Sang Ayah untuk mensucikan Hati-Nya agar percaya dan meyakini.

"Ketika Sang Ayah melihat Kedua Putera-Nya memiliki Kekuatan Ghaib seperti itu, Ia sangat gembira karena hal-hal yang belum pernah Ia ketahui dan dengan mengatupkan Tangan-Nya Ia menghormat Kedua Putera-Nya seraya berkata : "Siapakah Guru Kalian? Murid Siapakah Kalian?" Kedua Putera-Nya menjawab :"Sang Raja Agung! Yaitu Sang Buddha Jaladharagarjitaghosasusvaranaksatrarajasamkusumit abhijna yang sekarang sedang berada dibawah Pohon Bodhi 7 Permata dan duduk diatas Tahta Hukum Kesunyataan, sedang menyiarkan Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan ditengah-tengah dunia para dewa dan manusia. Beliaulah Guru Kami dan Kami adalah Murid Beliau." Kemudian Sang Ayah berkata kepada Putera-Nya :"Aku sekarang juga suka sekali menjumpai Guru-Mu dan marilah Kita pergi bersama."

"Karenanya, Kedua Putera itu turun dari langit dan menghadap Sang Ibu, serta dengan tangan terkatup berkata kepada-Nya :"Ayah Kita, Sang Raja, sekarang telah percaya dan sadar hati serta telah mampu berketetapan untuk mencapai Penerangan Agung. Kami telah melaksanakan Perbuatan Buddha kepada Ayah Kami. Ibu, berkenanlah Engkau mengizinkan Kami meninggalkan rumah dan menjalankan Jalan Agung dibawah Sang Buddha itu."

"Kemudian Kedua Putera itu yang ingin memaklumkan kembali keinginan-Nya berkata kepada Sang Ibu dalam Syair:

"Ibu, berkenanlah Engkau melepas Kami
Untuk meninggalkan rumah dan menjadi Sramanera.
Alangkah sulitnya bertemu dengan Para Buddha
Dan Kami ingin menjadi Pengikut Seorang Buddha.
Seperti Bunga Udumbara,
Lebih sulitlah lagi bertemu dengan Seorang Buddha,
Berkenanlah Engkau melepas Kami untuk
meninggalkan rumah."

"Kemudian Sang Ibu berkata :"Aku izinkan Kalian meninggalkan rumah karena sesungguhnyalah Seorang Buddha sulit ditemui."

"Karena hal ini, kemudian Kedua Putera itu berkata kepada Ibu-Bapa-Nya :"Bagus, Ayah dan Ibu ! Kami mohon agar Ayah dan Ibu sekarang ini pergi pada Sang Buddha Jaladharagarjitaghosasusvaranaksatrarajasamkusumit abhijna untuk mendekati dan memuliakan-Nya. Karena Seorang Buddha sangat sulit sekali dijumpai seperti Bunga Udumbara, ataupun seperti seekor kura-kura bermata satu menjumpai lubang pada sebuah balok yang terapung. Tetapi Kita yang memiliki banyak sekali berkah selama Kehidupan yang terdahulu, telah menjumpai Seorang Buddha didalam Hidup ini. Oleh karena-Nya, duhai Ayah dan Ibu, dengarkanlah Kami dan marilah Kita berangkat. Karena Para Buddha sulit sekali dijumpai dan kesempatan-Nya pun sulit pula ditemui."

"Pada saat itu 84 Ribu Prameswari-Prameswari Istana dan Sang Raja Subhavyuha semua-Nya mendapatkan Kemampuan untuk menerima dan memelihara Hukum Kesunyataan Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Yang Menakjubkan ini. Sang Bodhisattva Vimalanetra telah sekian lama menguasai Perenungan Bunga Hukum Kesunyataan (Dharmaparyaya). Sang Bodhisattva Vimalagarbha selama ratusan ribu koti kalpa yang tanpa batasan, telah sempurna didalam Perenungan Sarvasattvapapajahana, yang berguna untuk membimbing Umat menjauhi segala Perwujudan yang buruk. Ratu dari Raja itu telah mencapai Perenungan Kumpulan Para Buddha dan dapat mengetahui sumber-sumber rahasia dari Para Buddha. Demikianlah dengan cara yang Bijaksana, Kedua Putera itu mentakbiskan Ayah-Nya serta membuat Hati-Nya percaya, yakin dan senang didalam Hukum Kesunyataan Buddha.

"Kemudian Sang Raja Subhavyuha dengan ditemani oleh menteri dan rombongan-Nya, dan Sang Ratu Vimaladatta dengan ditemani oleh para puteri-puteri istana-Nya yang cantik-cantik bersama rombongan-Nya, serta Kedua Putera Raja dengan ditemani oleh 42 Ribu Orang, Semua-Nya dengan segera berangkat bersama untuk mengunjungi Sang Buddha itu. Setelah tiba disana, Mereka bersujud pada Kaki-Nya dan membuat pawai mengelilingi Buddha itu sebanyak tiga kali, dan sesudahnya Mereka menarik Diri kesatu sisi.

"Kemudian Sang Buddha itu berkhotbah pada Sang Raja dengan mempertunjukkan, mengajar, menyelamatkan dan membuat-Nya gembira sehingga Sang Raja sangat suka-cita. Kemudian Sang Raja Subhavyuha dan Sang Ratu Vimaladatta melepas kalung-kalung mutiara berharga ratusan ribu dari leher Mereka dan melemparkannya keatas Buddha itu, yang diangkasa berubah menjadi sebuah Menara Permata Berpilar Empat dan di Menara itu terdapat sebuah Depan Permata Yang Besar, yang diselimuti dengan ratusan ribu selimut-selimut kasurgan dimana Sang Buddha itu Duduk Bersila memancarkan Cahaya Yang Bergemerlapan.

Kemudian Sang Raja Subhavyuha berpikir :"Aneh, Agung dan Luar Biasa Tubuh Buddha ini, Sempurna KeAgungan-Nya dan Berwarna Bagus sekali !

"Kemudian Sang Buddha Jaladharagarjitaghosasusvaranaksatrarajasamkusumit abhijna menyapa Keempat Kelompok seraya berkata :"Melihatkah Kalian akan Sang Raja Subhavyuha yang sedang berdiri dihadapan-Ku dengan Tangan terkatup ? Raja ini setelah menjadi Seorang Bhiksu dibawah Ajaran-Ku dan menjadi bersemangat di dalam mempelajari Hukum Kesunyataan Yang Membantu Jalan KeBuddhaan, akan menjadi Seorang Buddha dengan gelar Salendraraja, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia, Yang Kawasan-Nya disebut Cahaya Agung (Vistirnavatya), dan Kalpa-Nya disebut Abhyudgataraja. Sang Buddha Salendraraja ini akan memiliki Para Bodhisattva dan Para Sravaka yang tak terhitung jumlah-Nya dan Kawasan-Nya akan datar dan lurus. Demikianlah Pahala-Pahala-Nya."

"Seketika itu, Sang Raja memasrahkan Kawasan-Nya kepada Saudara muda-Nya dan Sang Raja bersama Ratu-Nya, Kedua Putera-Nya dan Rombongan-Nya, meninggalkan rumah-Nya dan mengikuti Jalan dibawah Ajaran Buddha itu. Setelah meninggalkan Rumah-Nya, selama 84 ribu tahun Sang Raja selalu rajin dan bersemangat di dalam mempelajari Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan, dan sesudah waktu ini berlalu, Ia mencapai Tingkat Samadhi Sarvagunalamkaravyuha.

"Kemudian Ia membumbung ke angkasa setinggi 7 Pohon tala dan berkata pada Buddha itu :"Yang Maha Agung ! Kedua Putera-Ku ini telah melakukan Perbuatan Seorang Buddha yang dengan Penjelmaan Ghaib Mereka, telah merubah pikiran kolot-Ku, menyadarkan Aku kedalam Jalan Buddha dan menyebabkan Aku melihat Yang Maha Agung. Kedua Putera ini adalah Sahabat-Ku yang baik, karena dengan setulusnya telah membina akar-akar Kebajikan yang ditanam di dalam Kehidupan-Ku yang lampau dan menyelamatkan Aku, Mereka datang dan terlahir di Rumah-Ku.

Kemudian Sang Buddha Jaladharagarjitaghosasusvaranaksatrarajasamkusumit abhijna menyapa Sang Raja Subhavyuha seraya berkata :"Begitulah, begitulah, begitulah seperti apa yang telah Engkau katakan. Seorang Putera maupun Seorang Puteri dengan menanam Akar-Akar Kebajikan akan memperoleh Teman-Teman Baik di setiap generasi yang Teman-Teman Baik itu akan mampu melakukan Perbuatan Seorang Buddha dengan menunjukkan, mengajar, menyelamatkan dan membuat-Nya bahagia serta menyebabkan-Nya masuk kedalam Penerangan Agung. Ketahuilah, Wahai Raja Agung ! Seorang Teman Yang Baik adalah sebab Yang Agung dengan mana manusia ditakbiskan dan dibimbing untuk melihat Sang Buddha dan menuju kearah Penerangan Agung. Wahai Raja Agung ! Melihatkah Engkau akan Kedua Putera ini? Kedua Putera ini telah memuliakan Para Buddha yang jumlah-Nya sebanyak 65 kali ratusan ribu koti nayuta pasir Sungai Gangga, Dia telah menerima dan memelihara Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan. Dia mengasihi semua umat yang berpandangan palsu dan menyadarkan mereka kedalam Pandangan Yang Benar."

"Kemudian Sang Raja Subhavyuha turun dari atas langit dan berkata kepada Sang Buddha itu: "Yang Maha Agung ! Aneh benar Pandangan dari Sang Tathagata, dengan Jasa dan Kebijaksanaan-Nya, Tonjolan pada Kepala-Nya bersinar cemerlang, Mata-Nya terbuka lebar dan berwarna biru tua, Rambut diantara kedua Alis Mata-Nya Putih seperti Bulan Purnama, Gigi-Nya putih, rata, rapat dan selalu bersinar, Bibir-Nya merah dan indah seperti Buah Bimba." Setelah Raja Subhavyuha memuji Jasa-Jasa yang beratus ribu koti jumlah-Nya dari Sang Buddha itu, kemudian dengan sepenuh Hati-Nya Ia mengatupkan Tangan-Nya di hadapan Sang Tathagata dan kembali Ia menyapa Sang Buddha seraya berkata :"Yang Maha Agung sangat begitu Sempurna. Ajaran Sang Tathagata sangat Paripurna didalam Berkah-Nya yang mengagumkan dan tak dapat dibayangkan. Ajaran Moral yang Ia ajarkan sangat menggembirakan dan menggairahkan. Mulai hari ini, Aku tidak akan mengikuti jalan pikiran-Ku Sendiri, ataupun menaruh pikiran yang palsu, atau menaruh kesombongan, kemarahan ataupun jiwa yang penuh dosa lainnya." Setelah mengucapkan Kata-Kata ini, kemudian Ia menghormat Buddha itu dan berjalan ke muka."

Kemudian Sang Sakyamuni Buddha bersabda kepada Persidangan Agung itu :"Bagaimanakah pendapat Kalian ? Sang Raja Subhavyuha ini apakah Orang lain adanya ? Sesungguhnyalah Ia itu Sang Padmasri Bodhisattva Mahasattva adanya. Bagaimanakah pendapat Kalian ? Sang Ratu Vimaladatta ini apakah Orang lain adanya ? Sesungguhnyalah Ratu Vimaladatta adalah Sang Vairocanarasmipratimanditadhvajaraja Bodhisattva Mahasattva yang sekarang berada dihadapan Sang Buddha yang mengasihi Sang Raja Subhavyuha dan Orang-Orang-Nya akan terlahir diantara Mereka. Dan Kedua Putera-Nya, apakah Orang lain adanya ? Kedua Putera ini ialah Sang Bhaisajyaraja Bodhisattva Mahasattva dan Sang Bhaisajyasamundata Bodhisattva Mahasattva. Sang Bhaisajyaraja Bodhisattva Mahasattva dan Sang Bhaisajyasamundata Bodhisattva Mahasattva ini yang setelah menyempurnakan Jasa yang sedemikian besar itu dibawah Naungan Ratusan Ribu Koti Buddha, telah menanam Akar-Akar Keluhuran dan dengan sempurna telah mencapai Kebajikan Yang Tak Dapat Dibayangkan lagi. Jika terdapat seseorang yang mengenal Nama dari Kedua Bodhisattva Mahasattva ini, maka para dewa dan manusia di seluruh dunia akan memuliakan-Nya."

Pada saat Sang Buddha mengkhotbahkan Bab ini yaitu tentang "KISAH SANG RAJA SUBHAVYUHA", 84 Ribu Orang lepas dari ketidak sucian Mereka dan memisahkan Diri dari hal-hal yang kotor, dan memperoleh mata hati yang suci yang berkenaan dengan hal-hal kebatinan.

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan, Tentang Sang Raja Subhavyuha, Bab 25.
59
Sang Bodhisattva Akshayamati berkata pada Sang Buddha:"Yang Maha Agung! Baiklah, Aku sekarang membuat persembahan kepada Sang Bodhisattva Avalokitesvara."

Kemudian Ia melepas sebuah kalung mutiara dari lehernya yang berharga ratusan ribu tail emas dan mempersembahkannya kepada-Nya seraya berkata: "Tuan Yang Baik! Terimalah persembahan dana suci dari kalung mutiara ini." Tetapi Sang Bodhisattva Avalokitesvara tidak menerimanya. Kembali Sang Bodhisattva Akshayamati menyapa Sang Bodhisattva Avalokitesvara:"Tuan Yang Baik! Sayangilah Kami, terimalah kalung mutiara ini." Kemudian Sang Buddha bersabda kepada Sang Bodhisattva Avalokitesvara:"Kasihanilah Sang Bodhisattva Akshayamati dan keempat kelompok ini, dan kasihanilah juga para dewa, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia dan yang bukan manusia serta yang lain-lainnya, terimalah kalung itu."Kemudian Sang Bodhisattva Avalokitesvara yang karena mengasihi semua keempat kelompok dan para dewa, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia dan mahluk bukan manusia dan lainnya, menerima kalung itu dan membaginya menjadi 2 potong, yang satu Ia persembahkan kepada Sang Sakyamuni Buddha dan yang lainnya Ia persembahkan kepada Stupa Sang Buddha Prabhutaratna.

"Wahai Akshayamati! Dengan daya Vikurvanabala yang sempurna itulah Sang Bodhisattva Avalokitesvara mengembara didalam dunia saha ini."

Kemudian Sang Bodhisattva Akshayamati bertanya dalam syair ini:
"Yang Maha Agung dengan segala tanda-tanda ghaib-Nya!
Biarlah sekarang Aku bertanya tentang-Nya lagi:
Karena alasan apakah maka Putera Buddha ini dinamakan Sang Avalokitesvara?"

Sang Buddha dengan seluruh tanda-tanda ghaib-Nya menjawab Sang Akshayamati dalam syair:

"Dengarkanlah jasa-jasa dari Sang Avalokitesvara,
yang menanggapi setiap kawasan dengan baik;
Prasetya-Nya Yang Agung sangat begitu dalam seperti samudera,
Berkalpa-kalpapun sulit diperkirakan,
Dengan melayani ribuan koti Para Buddha,
Ia telah mengucapkan Prasetya Agung Yang Suci.
Baiklah, Aku ceritakan kepada-Mu secara singkat.
Dia yang mendengar nama-Nya dan melihat-Nya,
Dan mengingat-ingat-Nya tanpa henti-henti-Nya didalam hatinya,
Akan dapat mengakhiri kesengsaraan duniawi.
Meskipun orang lain dengan niat yang jahat
Melemparkannya kedalam lubang api,
Biarlah Ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Dan lubang api itu akan menjadi sebuah kolam.
Ataupun hanyut diapungkan disepanjang samudra,
Didalam bahaya akan para ikan ganas, naga ganas dan mahluk jahat,
Biarlah Ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Dan gelombang tidak akan dapat menenggelamkannya.
Atau jika dari puncak Sumeru,
Seseorang melemparkannya ke bawah,
Biarlah Ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Dan seperti matahari, ia akan berdiri kokoh di angkasa.
Atau jika dianiaya oleh orang-orang jahat,
Dilemparkan kebawah dari Gunung Permata,
Ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Tidak seujung rambutpun akan terluka.
Atau terkepung musuh,
Masing-masing dengan pedang terhunus menyerangnya,
Ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Hati mereka semua akan berubah menjadi lemah lembut.
Ataupun menderita karena perintah raja,
Hidupnya harus berakhir didalam hukuman mati,
Ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Pedang Sang Algojo akan hancur berantakan.
Ataupun dipenjara, dibelenggu dan dirantai,
Tangan dan kaki dalam belenggu dan pancangan,
Ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Dengan bebas ia akan dilepaskan dan selamat.
Atau jika dengan guna-guna dan ramuan racun,
Seseorang berniat menyakiti tubuhnya,
Dan ia berpikir tentang daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Semuanya akan membalik pada yang berbuat.
Ataupun bertemu dengan rakshasa jahat,
Naga berbisa dan mahluk jahat,
Dia ingat daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Seketika itu tiada seorang pun yang berani menyakitinya.
Jika dikepung oleh binatang-binatang buas,
Taring-taring tajam dan cakar-cakar yang menakutkan,
Dia ingat akan daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Mereka akan lari cerai-berai.
Atau jika bertemu ular boa, ular berbisa dan kalajengking
Nafas berbisa seperti nyala api yang membakar hangus,
Dan dia ingat akan daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Mendengar suaranya mereka akan mundur seketika.
Awan mengguntur dan kilat bersambaran,
Hujan es turun dan hujan mengalir deras,
Ia ingat akan daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Dan semuanya cerai-berai seketika.
Para mahluk berjejal-jejalan dan berhimpit-himpitan,
Tertekan oleh penderitaan yang tiada tara,
Sang Avalokitesvara dengan Kebijaksanaan-Nya Yang Ghaib
Dapat menyelamatkan dunia yang penuh derita itu.
Sempurna dalam Vikurvanabala-Nya,
Secara luas melaksanakan Kebijaksanaan dan Kebajikan,
Didalam negeri dari 10 penjuru alam semesta ini tidak ada satu tempatpun
Dimana Ia tidak menampakkan Diri-Nya.
Segala keadaan jahat dari seluruh perwujudan,
Neraka, Hantu kelaparan dan binatang,
Duka akan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian,
Setingkat demi setingkat diakhiri oleh-Nya,
Rasa yang benar, rasa yang sempurna,
Rasa Kebijaksanaan yang luas,
Rasa kasihan, rasa welas asih,
Selalu dirindukan, senantiasa dicari!
Kegemerlapan yang suci dan sempurna,
Kebijaksanaan Sang matahari menyirnakan kegelapan,
Pemusnah penderitaan dari bencana badai dan api,
Yang menerangi seluruh dunia!
Hukum kasih sayang yang mencegah guntur bergelagar,
Kasih sayang yang menakjubkan seperti gumpalan awan besar,
Mencurahkan hujan Dharma seperti makanan Para Dewa,
Memadamkan api kesengsaraan!
Didalam perdebatan dimuka seorang hakim,
Atau ketakutan di dalam kesatuan tempur,
Jika ingat akan daya ghaib Sang Avalokitesvara,
Seluruh musuh-musuh-Nya akan mundur kacau balau.
Suara-Nya adalah Suara yang mengagumkan, Suara pengaruh dunia,
Suara Brahma, Suara deburan pasang,
Suara yang melampaui segala suara alam semesta,
Oleh karenanya harus senantiasa disimpan dalam hati
Dengan hati yang tiada pernah ragu.
Sang Avalokitesvara, suci dan sempurna,
Didalam penderitaan, kesengsaraan, kematian, bencana,
Mampu bertahan dengan baik,
Sempurna segala jasa-Nya,
Dengan mata yang penuh welas asih memandang semuanya,
Samudra karunia yang tak terbatas!
Marilah Kita bersujud memuliakan-Nya."

Kemudian Sang Bodhisattva Dharanidhara bangkit dari tempat duduk-Nya, pergi menghadap Sang Buddha dan berkata:"Yang Maha Agung! Jika para umat mendengar tentang hasil kerja yang sempurna serta mendengar tentang daya ghaib yang sempurna yang diperlihatkan didalam bab tentang Sang Bodhisattva Avalokitesvara, maka ternyatalah bahwa jasa orang ini tidaklah sedikit.

Pada saat Sang Buddha mengkhotbahkan bab dari Yang Maha Sempurna ini, 84 ribu mahluk hidup didalam persidangan itu semuanya berketetapan untuk mencapai Penerangan Agung yang dengan mana tiada sesuatupun lagi yang mampu menandingi.

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan, Tentang Sang Bodhisattva Avalokitevara, Bab 24.
60
Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan

Bab 24


Samanta mukha parivartah

Pada saat itu, Sang Bodhisattva Akshayamati bangkit dari tempat duduk-Nya dan dengan menutup bahu kanan-Nya serta merangkapkan Tangan-Nya ke arah Sang Buddha, Ia berkata:"Yang Maha Agung! Karena alasan apakah maka Sang Bodhisattva Avalokitesvara di sebut Sang Avalokitesvara?"

Sang Buddha menjawab Sang Bodhisattva Akshayamati:"Wahai Putera Yang Baik! Jika terdapat ratusan ribu koti mahluk yang sengsara karena penderitaan dan kenestapaan, maka mereka yang mendengar tentang Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini dan dengan sepenuh hatinya menyebut Nama-Nya, maka dengan segera Sang Bodhisattva Avalokitesvara akan memperhatikan jeritan mereka dan semuanya akan terbebas dari segala penderitaan mereka."

Jika terdapat orang yang memelihara Nama dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini, maka meskipun mereka terjatuh ke dalam api yang besar, api itu tidak akan mampu membakarnya karena daya kekuatan ghaib dari Keagungan Bodhisattva itu. Jika terdapat orang yang hanyut terbawa banjir dan mereka menyebut Nama-Nya, maka mereka akan segera mencapai tempat yang dangkal. Jika terdapat ratusan ribu koti mahluk yang bertolak ke samudra untuk mencari emas, perak, lapis lazuli, batu-batu bulan, batu mulia, coral, amber, mutiara dan harta kekayaan yang lain dan seandainya ada badai hitam yang meniup perahu mereka sehingga terdampar di negeri para rakshasa dan jika salah satu dari mereka itu menyebut Nama dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara, maka semua orang-orang itu akan selamat dari aniaya sang rakshasa itu. Karena sebab inilah Ia disebut Sang Avalokitevara.

Lagi, seandainya ada seorang yang sedang berada di ambang maut yang menyebut Nama dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini, maka pedang dari si penyerang itu akan berderak hancur dan ia pun akan selamat. Bahkan seandainya jutaan dunia terpenuhi oleh para yaksha dan rakshasa yang berkeliaran untuk menggoda manusia maka mahluk jahat ini ketika mendengar para manusia itu menyebut Nama dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara tidak akan berani melihat mereka dengan matanya yang kejam bahwa betapa akan sia-sia untuk menggoda mereka.

Lebih-lebih lagi jika terdapat seseorang yang bersalah maupun yang tidak bersalah, yang dibebani dengan belenggu, ikatan, balok atau rantai, menyebut Nama dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara maka segala beban itu akan berderak dan patah dan ia pun akan selamat.

Seandainya saja jutaan dunia penuh dengan musuh serta penyamun dan disitu terdapat seorang ketua pedagang yang memimpin banyak saudagar-saudagar yang sedang membawa permata-permata berharga melewati sebuah jalanan yang berbahaya, kemudian seseorang diantara mereka berkata:"Putera-putera yang baik! Janganlah takut. Dengan sepenuh hati serukanlah gelar Sang Bodhisattva Avalokitesvara, karena Bodhisattva ini mampu memberi keberanian (Daya Abhayanda) pada semua umat. Jika kalian menyerukan Nama-Nya maka kalian akan selamat dari musuh dan penyamun-penyamun ini.

Ketika mendengar hal ini dan jika seluruh pedagang-pedagang itu secara serempak berteriak:"Namo Avalokitesvara Bodhisattvaya Mahasattvaya !" kemudian dengan menyeru-nyerukan Nama-Nya, maka mereka akan selamat. Wahai Akshayamati! Sedemikianlah daya ghaib yang membangkitkan rasa hormat dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini.

Jika para umat yang memanjakan nafsu birahinya memelihara didalam hatinya serta memuliakan Sang Bodhisattva Avalokitesvara, maka mereka akan terbebaskan dari belenggu kenafsuannya. Jika ada orang memanjakan rasa kebencian, memelihara didalam hatinya dan memuliakan Sang Bodhisattva Avalokitesvara, maka mereka akan terbebaskan dari belenggu kebenciannya. Jika ada orang yang diliputi oleh kebodohan batin, memelihara di dalam hatinya serta memuliakan Sang Bodhisattva Avalokitesvara, maka mereka akan terbebaskan dari kebodohan batin. Wahai Akshayamati! Sedemikianlah yang dianugerahkan oleh Sang Bodhisattva Avalokitesvara, Pemilik Vikurvanabala yang sedemikian besar manfaat-Nya. Oleh karenanya, biarlah semua umat selalu memelihara-Nya didalam hati.

Jika terdapat seorang wanita yang menginginkan seorang putera, memuliakan Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini, maka ia akan melahirkan seorang putera yang bahagia, luhur dan bijak. Jika ia menginginkan seorang puteri, maka ia akan melahirkan seorang puteri yang berkelakuan baik dan berwajah cantik yang pada masa lampau telah menanam akar-akar kebajikan, dicintai dan dihormati oleh semua orang. Wahai Akshayamati! Sedemikianlah kekuatan ghaib dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara. Jika ada orang yang memuliakan dan menghormati Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini, maka ia akan mendapat berkah.

"Oleh karenanya biarlah semua umat memelihara gelar dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara. Wahai Akshayamati! Bayangkanlah seandainya ada seseorang yang memelihara Nama dari Para Bodhisattva yang banyak-Nya seperti pasir-pasir Sungai Gangga, yang selama hidupnya membuat persembahan-persembahan makanan, minuman, pakaian-pakaian, perabot-perabot tidur dan obat-obatan, maka bagaimanakah pendapat-Mu? Apakah jasa dari putera maupun puteri yang baik itu sangat banyak?" Sang Akshayamati menjawab-Nya:"Sangat banyak sekali !" Sang Buddha, Yang Maha Agung melanjutkan lagi:"Tetapi jika seseorang selalu memelihara Gelar dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara ataupun memuja dan memuliakan-Nya meskipun hanya sekejap, maka pahala dari kedua orang ini akan benar-benar sama tanpa perbedaan sedikitpun jua dan tidak dapat habis selama ratusan ribu koti kalpa. Wahai Akshayamati ! Sedemikianlah tingkat karunia yang tak terhingga dan tak terbatas itu, yang akan didapatkan oleh dia yang senantiasa memelihara Nama dari Sang Bodhisattva Avalokitesvara."

Sang Bodhisattva Akshayamati berkata lagi pada Sang Buddha:"Yang Maha Agung! Bagaimana dapat Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini berkelana di dalam alam semesta? Bagaimana Ia mengkhotbahkan Hukum Kebenaran kepada para umat? Bagaimanakah sifat dari kebijaksanaan-Nya?

Sang Buddha menjawab Sang Bodhisattva Akshayamati:"Putera yang baik! Jika para umat yang berada di dalam dunia manapun yang harus Ia selamatkan dalam tubuh Seorang Buddha, maka Sang Bodhisattva ini akan muncul sebagai Seorang Buddha dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan itu kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam tubuh Seorang PratyekaBuddha, maka Ia muncul sebagai Seorang PratyekaBuddha dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan itu kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Sravaka, maka Ia muncul sebagai Seorang Sravaka dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Brahma, maka Ia muncul sebagai Brahma dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Sakra, maka Ia muncul sebagai seorang Sakra dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Isvara, maka Ia muncul sebagai Isvara dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Mahesvara, maka Ia muncul sebagai Mahesvara dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Jenderal Besar Yang Agung (Senapati), maka Ia muncul sebagai seorang Senapati dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Vaisravana, maka Ia muncul sebagai Vaisravana dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam bentuk tubuh Seorang Raja Kecil (Culla Cakravarti), maka Ia muncul sebagai Culla Cakravarti dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang kaya (Sresthi), maka Ia muncul sebagai seorang Sresthi dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang Petua (Ghra Pati), maka Ia muncul sebagai seorang Ghra Pati dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang menteri agama (Naigama), maka Ia muncul sebagai seorang Naigama dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang Brahmana, maka Ia muncul sebagai seorang Brahmana dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang Bhiksu-Bhiksuni, upasaka, upasika, maka Ia muncul sebagai seorang Bhiksu, Bhiksuni, upasaka maupun upasika dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang istri dari Ghra Pati, Kula Pati (Penduduk), Naigama atau Brahmana, maka Ia muncul sebagai seorang wanita dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang perjaka (kumara) ataupun seorang perawan (kumari), maka Ia muncul sebagai seorang kumara atau seorang kumari dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang dewa, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia ataupun mahluk bukan manusia, maka Ia muncul dalam wujud dan seorang dewa, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia ataupun mahluk bukan manusia dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka. Kepada mereka yang harus Ia selamatkan dalam wujud seorang dewa pemegang permata (Vajra Pani), maka Ia muncul sebagai seorang Dewa Vajra Pani dan mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan kepada mereka.
Wahai Akshayamati! Sedemikianlah karunia yang telah diperoleh Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini dan dengan berbagai wujud Ia mengembara di banyak negeri untuk menyelamatkan para umat. Oleh karenanya, muliakanlah Sang Bodhisattva Avalokitesvara ini dengan sepenuh hati-Mu. Bodhisattva Mahasattva Avalokitesvara ini mampu membuat para umat yang berada dalam kesengsaraan dan penderitaan menjadi berani. Karena sebab inilah maka semua mahluk didalam dunia saha ini memberi-Nya gelar 'Penganugerah Keberanian' (Abhayandah).
Pages: 1 ... 4 5 [6] 7 8 ... 10