Recent Posts

Pages: 1 ... 3 4 [5] 6 7 ... 10
41
Arya Mahayana / Re: Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:34:13 am »
"Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpendapat dan hanya didasarkan pada pikiran dan logika. Mereka menyatakan pendapat mereka yang didasarkan pada argumentasi mereka dan hanya dilandaskan pada kesanggupan mereka saja, sebagai berikut, 'dunia ini adalah bukan terbatas ataupun bukan tidak terbatas'. Para pertapa dan brahmana yang menyatakan pendapat pertama, kedua dan ketiga adalah salah. Karena 'dunia ini bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas'. Para bhikkhu, inilah pandangan keempat".

"Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang dianut oleh beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan "Ekstensionis" yang berpendapat dan menyatakan bahwa 'dunia adalah terbatas'. Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dan berdasarkan pada pengetahuan itu ia tidak terpikat dan tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang 'berpandangan dan bersikap berbelit-belit', bila ditanya suatu hal maka mereka akan menjawab dengan berberlit-belit sehingga membingungkan. Pandangan ini ada empat. Apakah asal mula dan dasar mereka sehingga berpendapat atau berkesimpulan demikian?"

"Pandangan pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk. Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut saya akan salah, dan kesalahanku tersebut menyebabkan saya menyesal, dan perasaan menyesal ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan disebabkan menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu". "Para bhikkhu, inilah pandangan yang pertama".

Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk', Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut maka saya akan terikat pada keadaan batin yang menyebabkan kelahiran kembali, karena ikatanku itu menyebabkan saya menyesal, dan dengan adanya perasaan ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan yang kedua".

Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk'. Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Tetapi ada pertapa dan brahmana yang pandai, cerdik, berpengalaman dalam perdebatan, pintar mencari kesalahan, pandai mengelak, yang menurut pendapatku dapat menolak spekulasi orang lain dengan kebijaksanaan mereka. Maka bilamana saya menyatakan ini baik atau itu buruk, mereka datang menghadap padaku, memintakan pendapatku, dan menunjukkan kesalahan-kesalahanku. Karena mereka bersikap demikian kepadaku, maka saya tidak sanggup memberikan jawaban. Dan hal ini akan menyebabkan saya menyesal, rasa penyesalanku ini menjadi suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga".

"Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang bodoh dan dungu. Dan karena kebodohan atau kedunguannya, maka bila ada pertanyaan yang ditanyakan kepadanya, ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan 'Bila kamu bertanya kepadaku :

Apakah ada 'loka' lain? Jikalau saya berpikir ada, saya akan menjawab begitu. Tetapi saya tidak mengatakan demikian. Dan saya tidak berpendapat begini atau begitu. Dan saya juga tidak berpendapat 'bukan kedua-duanya'. Saya tidak membantahnya. Saya tidak mengatakan ada atau tidak ada dunia lain. Demikianlah ia bersikap berbelit-belit. Begitu pula sikap dan jawaban bila ditanya masalah sebagai berikut :

1. Tidak ada dunia lain,
2. Ada dan tidak ada dunia lain,
3. Bukan ada atau pun bukan tidak ada dunia lain.

Ada makhluk yang terlahir secara opapatika tanpa melalui rahim ibu.
2. Tidak ada makhluk opapatika,
3. Ada dan tidak ada makhluk terlahir secara opapatika,
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada makhluk yang terlahir secara opapatika,

Ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
2. Tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
3. Ada dan tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.

Setelah meninggal Tathagata tetap ada.
2. Setelah meninggal Tathagata tidak ada.
3. Setelah meninggal Tathagata ada dan tidak ada.
4. Setelah meninggal Tathagata bukan ada atau pun bukan tidak ada.
Para bhikkhu inilah pandangan keempat".

"Para bhikkhu, inilah pendapat atau cara yang berbelit-belit dari beberapa pertapa dan brahmana yang bila ditanya sebuah pertanyaan, maka dengan empat cara mereka menjawab berbelit-belit sehingga orang yang bertanya menjadi bingung. Demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan bersikap begitu dalam empat cara, atau menggunakan salah satu dari cara-cara tersebut. Karena tidak ada cara lain lagi yang dapat mereka lakukan".

"Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan mengenai 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan' dan menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' terjadi atau berbentuk tanpa sebab. Dalam hal ini ada dua pandangan".

"Para bhikkhu, ada beberapa dewa di alam 'Asaññasatta' yang pada saat ada pikiran yang muncul pada diri mereka, mereka meninggal atau lenyap dari alam tersebut. Demikianlah para bhikkhu, ada makhluk yang meninggal dari alam tersebut dan terlahir kembali di bumi ini. Karena hidup di bumi ini, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali bagaimana pikiran muncul dalam dirinya (ketika ia hidup sebagai makhluk Asaññasatta) pada satu kehidupannya yang lampau. Ia berkata, 'atta dan loka' ini terjadi secara kebetulan saja. Mengapa demikian? Karena dahulu saya tidak ada, tetapi sekarang saya ada. Dahulu tidak ada, sekarang ada!'. Inilah para bhikkhu, pandangan atau paham pertama yang merupakan asal mula dan dasar dari para pertapa atau brahmana yang menyatakan 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan', dan berpendapat bahwa 'atta dan loka' terjadi tanpa adanya sebab".
42
Arya Mahayana / Re: Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:33:31 am »
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan 'ekacca-sassatika ekacca-asassatika' (pandangan yang mengarah pada Semi-Eternalis) pada hal-hal tertentu, dengan empat cara mereka berpendapatan bahwa 'atta' dan 'loka' ada bagian yang kekal dan ada bagian yang tidak kekal. Apakah asal mula dan dasar mereka berpandangan demikian?

Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, bumi ini belum ada. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara (Alam dewa Brahma yang dicapai dengan meditasi Jhana II), di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang masa hidupnya atau pahala karma baiknya untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu keinginan, 'O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : "Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Semua makhluk ini adalah ciptaanku". Mengapa demikian? Baru saja saya berpikir, 'semoga mereka datang', dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul. Makhluk-makhluk itu pun berpikir, 'dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya".

"Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.
Mereka berkata : "Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas."
"Para bhikkhu, inilah pandangan pertama tentang asal mula dan dasar dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan - Semi-Eternalis pada hal-hal tertentu, yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian tidak kekal".

"Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Pandangan ini bersumber pada dewa-dewa tertentu yang dinamakan Khiddapadosika.
Mereka menghabiskan masa hidup mereka dengan 'mencari kesenangan dan memuaskan indria' mereka.
Diakibatkan oleh sifat mereka yang buruk itu dan juga karena tidak dapat mengendalikan diri lagi, maka mereka meninggal di alam tersebut".

"Para bhikkhu, demikianlah maka ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir di bumi. Setelah berada di bumi ini, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa, dengan semangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupan mereka yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.

Mereka berkata : "Dewa-dewa yang tidak ternoda oleh kesenangan adalah tetap kekal abadi selamanya. Tetapi kita yang terjatuh dari alam tersebut, tidak dapat mengendalikan diri karena terpikat pada kesenangan, kita yang terlahir di sini adalah tidak kekal, berubah, dan usia kita pun terbatas".
Inilah pada bhikkhu, pandangan kedua".

"Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Pandangan ini bersumber pada dewa-dewa tertentu yang dinamakan 'Manopadosika' . Mereka selalu diliputi oleh 'perasaan iri kepada yang lain', karena sifat buruk ini maka mereka cemburu atau tidak menyukai dewa yang lain. Akibat dari pikiran yang buruk tersebut maka tubuh mereka menjadi lemah dan bodoh, dan dewa-dewa tersebut meninggal di alam itu".

"Para bhikkhu, demikianlah maka beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut terlahir kembali di bumi ini, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan semangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupan yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu".

Kemudian mereka berkata : "Para dewa yang pikiran mereka tidak ternoda dan tidak diliputi perasaan iri hati kepada yang lain, maka mereka tidak merasa cemburu kepada dewa yang lain, dengan demikian mereka kuat cerdas dan pandai. Maka dengan demikian mereka tidak meninggal atau jatuh dari alam tersebut, mereka tetap kekal abadi, tidak berubah sampai selama-lamanya. Tetapi kita yang memiliki pikiran yang ternoda, selalu diliputi perasaan iri hati kepada yang lain. Karena rasa iri dan cemburu tersebut, maka tubuh kami menjadi lemah, mati dan terlahir ke sini (bumi) sebagai makhluk yang tidak kekal, berubah, dan memiliki usia yang terbatas. Para bhikkhu, inilah pandangan yang ketiga".

Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Tetapi dalam hal ini mereka mendasarkan pandangan mereka pada pikiran dan logika. Mereka menyatakan pendapat mereka yang didasarkan pada argumentasi dan dilandaskan pada kesanggupan mereka saja sebagai berikut : 'yang disebut mata, telinga, hidung, lidah dan jasmani adalah 'atta' yang bersifat tidak kekal, tidak tetap, tidak abadi, selalu berubah. Tetapi apa yang dinamakan batin, pikiran atau kesadaran adalah 'atta' yang bersifat kekal, tetap abadi dan tidak akan berubah.
Para bhikkhu, inilah pandangan keempat tentang asal mula dan dasar dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis, yang mempertahankan pendapat mereka bahwa 'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian tidak kekal".

"Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian tidak kekal dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadarinya dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dan berdasarkan pada pengetahuanNya itu Ia tidak terpikat dan tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan itu. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmat, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Antanantika vada, dengan empat cara mereka berpendapat dan menyatakan bahwa 'loka' adalah terbatas dan tidak terbatas. Apakah asal mula dan dasar mereka sehingga berpendapat atau berkesimpulan demikian?"

'Pandangan pertama para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang karena bersemangat, bertekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin mereka menjadi tenang dan berada dalam keadaan membayangkan Antasanni lokasmim (dunia ini terbatas). Maka mereka berkata : "Dunia ini terbatas, jalan dapat dibuat mengelilinginya'. mengapa demikian? Karena didasarkan pada semangat, tekad, kewaspadaan dan kesungguhan bermeditasi, maka pikiran kami terpusat, batin kami menjadi tenang, dan kami berada dalam 'dunia yang nampak terbatas'
Para bhikkhu, inilah pandangan pertama".

"Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang karena bersemangat bertekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin mereka menjadi tenang dan berada dalam keadaan 'membayangkan dunia ini tidak terbatas' . Maka mereka berkata : "Para pertapa dan brahmana yang menyatakan bahwa dunia ini terbatas sehingga jalan dapat dibuat mengelilinginya adalah salah".

"Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang karena bersemangat bertekad, waspada dan sungguh-sungguh, bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin mereka menjadi tenang dan berada dalam keadaan 'membayangkan dunia ini ada yang terbatas dan ada yang tidak terbatas . Maka mereka berkata : "Para pertapa dan brahmana yang menyatakan bahwa 'dunia ini terbatas', dan 'dunia ini tidak terbatas' adalah salah".
43
Arya Mahayana / Re: Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:32:50 am »
Maha Sila
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, yaitu dengan cara yang rendah seperti: meramal nasib orang dengan melihat garis-garis telapak tangan untuk mengetahui umur dan kebahagiaan dan seterusnya; meramal dan melihat untuk mengetahui alamat yang baik dengan mendengarkan halilintar; meramal mimpi; meramal tanda-tanda yang diakibatkan oleh gigitan tikus; melakukan persembahan dengan sekam, bekatul, beras, mentega dan minyak untuk dewa; mempersembahkan biji sesame dengan cara menyembahkannya dari mulut ke api; mengeluarkan darah dari lutut untuk dipersembahkan kepada dewa; melihat pada ruas jari-jari dan lain-lain sesudah itu membaca mantra dan meramalkan apakah orang itu mujur atau sial; menentukan lokasi rumah supaya baik; menasehati cara-cara untuk mengerjakan ladang; mengusir hantu atau setan di kuburan; mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah; mantra ular, mantra tikus; mantra burung; mantra gagak; meramal untuk panjang umur; mantra melepaskan panah; atau membicarakan kehidupan rusa. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah seperti: membicarakan tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dengan benda-benda, dan alamat-alamat dan tanda-tanda yang berkenaan dengan kesehatan atau keberuntungan bagi mereka yang memiliki: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, gendewa, senjata-senjata lainnya; wanita, pria, anak pria, anak perempuan, budak pria atau wanita, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan atau betina, biri-biri, biawak, kura-kura, itik, burung dan binatang-binatang lainnya, atau anting-anting. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara yang rendah yaitu meramalkan akibat dari: keberangkatan pemimpin, akan tibanya pemimpin, rumah pemimpin akan diserang dan musuh akan menyerang dan kita akan mundur; pemimpin kita akan menang, musuh kalah, pemimpin kita akan kalah, musuh menang, salah satu pihak akan menang dan pihak lain kalah. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih tetap mencari pendapatan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah, yaitu meramalkan: adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari dan bulan akan menyimpang dari orbitnya, matahari dan bintang akan kembali pada orbitnya, bintang-bintang akan menyimpang dari orbitnya, bintang-bintang akan kembali pada orbitnya, meteor akan jatuh, hutan akan terbakar, akan terjadi gempa bumi, dewa akan membuat halilintar, matahari, bulan dan bintang-bintang akan terbit atau terbenam, bersinar; kurang bercahaya; atau meramalkan lima belas hal tersebut akan terjadi dan akan mengakibatkan sesuatu. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah, yaitu meramalkan: akan ada hujan yang lebat, kurang hujan, panen akan baik atau akan buruk, akan ada kedamaian, akan terjadi kekacauan, akan ada penyakit sampar, akan ada musim yang baik, meramal dengan menghitung-hitung jari, meramal tanpa cara menjumlah dengan cepat; menyusun lagu sanjak, atau membuat masalah menjadi kabur. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut: menentukan hari baik untuk perkawinan, menentukan hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk pergi, menentukan hari baik untuk keharmonisan, menentukan hari baik untuk perpisahan, menentukan hari baik untuk menagih hutang, menentukan hari baik untuk memberikan pinjaman, menggunakan mantra untuk keberuntungan, menggunakan mantra untuk kesialan, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk menyebabkan orang lain menjadi bisu, menggunakan mantra untuk menghentikan gerak rahang orang lain, menggunakan mantra untuk menggoyang-goyangkan lengan orang lain, menggunakan mantra untuk menyebabkan orang lain menjadi tuli, mencari inspirasi dengan melihat kaca, mencari inspirasi dengan melihat gadis, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari, memuja maha ibu (siri avhayanam), mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewa atau dewi keberuntungan. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari pendapatan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut: berjanji akan berdana bila keinginannya terkabul, melaksanakan janji itu, mengucapkan mantra dalam rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menambah kejantanan laki-laki, mengucapkan mantra untuk membuat laki-laki menjadi impoten, menentukan tempat yang tepat untuk dijadikan tempat tinggal, mensucikan tempat, melakukan upacara suci mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, melakukan cara untuk menyebabkan orang muntah dan mengosongkan perut, melakukan suatu cara untuk mengurangi sakit kepala, meminyaki telinga orang, merawat mata orang lain, memberikan obat ke hidung orang lain, memberikan collyrium di mata orang lain, memberikan obat ke mata orang lain, berpraktek seperti ocultis, berpraktek seperti dokter bedah, berpraktek seperti dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari akar-akaran, atau membuat obat-obatan. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Para bhikkhu, inilah hal-hal kecil yang diuraikan dengan terperinci yang berkenaan dengan peraturan-peraturan yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada 'hal-hal lain' (anna dhamma), yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas, dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata. Apakah yang dimaksudkan dengan hal-hal lain itu, para bhikkhu?"

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajarannya berpedoman pada 'hal-hal yang telah lampau (pubbantakappika), mendasarkan pandangan atau spekulasi mereka pada hal-hal yang lampau (pubbantanuditthino), mereka mendasarkan ajaran tersebut dalam delapan belas pandangan. Apakah asal mula dan dasar maka mereka berpandangan demikian?"

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan sassata vada, dan mereka menyatakan bahwa 'atta' (zat yang kekal dan tidak bersyarat, yang terdapat dalam makhluk atau yang mendasari alam semesta, yang sering diterjemahkan dengan 'aku'.) dan 'loka' (alam, bumi, dunia, semesta, jagad.) adalah kekal, pandangan ini diuraikan dalam empat cara. Apakah asal mula dan dasar maka mereka berpendapat demikian?"

"Pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupan yang lampau pada1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupannya yang lampau, dan berpendapat bahwa, 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu, mengalami kesenangan dan penderitaan, hidup dengan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini.' Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa begitu? Karena dengan usaha, semangat, tekad kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, pikiran menjadi tenang, sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai tempat kehidupanku yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah maka saya mengetahui bahwa 'atta' adalah kekal dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang, atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap kekal selamanya.
Para bhikkhu, inilah pandangan pertama yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".

"Kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10 kali samvattavivatta (masa 'bumi terbentuk dan hancur, terbentuk lagi dan hancur lagi), dan berpendapat bahwa 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu, mengalami kesenangan dan penderitaan, dan hidup dengan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini'. Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa demikian? Karena dengan semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, batin menjadi tenang, sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupan yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah saya mengetahui bahwa 'atta' adalah kekal, dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Para bhikkhu, inilah pandangan kedua yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".

"Ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau 10, 20, 30, sampai 40 kali masa 'bumi berevolusi', dan berpendapat bahwa, 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu mengalami kesenangan dan penderitaan, dan hidup dan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini'. Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata kepada diri sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya! Mengapa demikian? Karena dengan semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, batin menjadi tenang, sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupanku yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah saya mengetahui bahwa 'atta adalah kekal', dan loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan tiang yang kokoh, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya.
Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".

"Keempat, para bhikkhu, apakah asal mula dan dasar pandangan yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari para Eternalis? Para bhikkhu, dalam hal ini ada beberapa pertapa dan brahmana yang mendasarkan pandangannya pada pikiran dan logika saja. Ia menyatakan pendapatnya yang didasarkan pada argumentasinya dan dilandaskan pada kesanggupannya saja dan menyatakan bahwa 'atta' adalah kekal dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka tetap, kekal selamanya".
Para bhikkhu, inilah pandangan keempat yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".

Para bhikkhu, inilah empat pandangan yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan brahmana. Demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan pandangan mereka dengan empat cara ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan itu tidak ada lagi pandangan lain".

Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan tersebut pada waktu akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisasikan jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
44
Arya Mahayana / Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:32:12 am »
BRAHMAJALA SUTTA

Demikianlah yang telah kami dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berjalan di jalan antara kota Rajagaha dan Nalanda, diikuti oleh 500 orang Bhikkhu. Pada saat itu pula Pertapa Suppiya paribbajaka bersama muridnya seorang pemuda bernama Brahmadatta sedang dalam perjalanan antara Rajagaha dan Nalanda. Ketika itu Suppiya paribbajaka mengucapkan bermacam-macam kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Tetapi sebaliknya muridnya Brahmadatta memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikianlah antara guru dan murid masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, sambil berjalan mengikuti rombongan Sang Bhagava.

Kemudian Sang Bhagava bersama-sama dengan para bhikkhu berhenti dan bermalam di Ambalatthika, tempat peristirahatan raja. Demikian pula Suppiya paribbajaka dan muridnya Brahmadatta berhenti di Ambalatthika. Di tempat itu pula mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka tadi.

Pagi harinya, sekelompok bhikkhu berkumpul di Paviliyun Mandalamale sambil membicarakan beberapa hal sebagai berikut: "Avuso, aneh dan sungguh mengherankan bukankah Sang bhagava sebagai seorang Arahat, Sammasambuddha telah melihat dan menyadari serta telah melihat dengan jelas kecenderungan yang beraneka ragam yang ada di dalam diri manusia. Bukankah Beliau mengetahui bagaimana Suppiya paribbajaka merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikian pula bukankah Sang Bhagava mengetahui pula pandangan yang berbeda antara guru dan murid yang berjalan mengikuti rombongan Beliau.

Ketika Sang Bhagava mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan, beliau lalu pergi ke Mandalamale, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Setelah duduk beliau bertanya: "Apakah yang kalian sedang bicarakan dan apakah yang menjadi pokok pembicaraan dalam pertemuan ini?" Mereka lalu menceritakan masalah yang mereka bicarakan.

"Para Bhikkhu, bilamana orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Saya Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal itu kamu membenci, dendam atau memusuhinya. Bilamana karena hal tersebut kalian marah atau merasa tersinggung, maka hal itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian, dan mengakibatkan kalian marah dan tidak senang. Apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka itu baik atau buruk?"
"Tidak demikian, Bhante".
"Tetapi bilamana ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan saya, Dhamma dan Sangha, maka kalian harus menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar, atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami, dan bukan kami".

Tetapi para bhikkhu, bilamana orang lain memuji Saya, Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga, gembira dan bersuka cita. Bila kamu bersikap demikian maka hal itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian. Bilamana orang lain memuji Saya, Dhamma dan Sangha, maka kamu harus menyatakan apa yang benar dan menunjukkan faktanya dengan mengatakan bahwa, 'berdasarkan hal ini atau itu, ini benar, itu memang begitu, hal demikian ada pada kami, dan benar pada kami".

Walaupun hanya hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga, atau pun karena sila (Peraturan Sangha), maka orang-orang memuji Sang Tathagata. Apakah hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga atau pun sila yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata?

Cula Sila
'Tidak membunuh makhluk, Samana Gotama menjauhkan diri dari membunuh makhluk. Ia telah membuang alat pemukul dan pedang, ia malu melakukan kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang dan kebaikan hatinya kepada semua makhluk, menyebabkan semua orang memuji Sang Tathagata.'
Atau ia berkata: "Tidak mengambil apa yang tidak diberikan, Samana Gotama tidak mau memiliki apa yang bukan kepunyaan-Nya. Ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian. Ia hidup dengan jujur dan suci (puthujjano)". Atau ia berkata: "Tidak melakukan hubungan kelamin (abrahma cariya), Samana Gotama menjalani hidup brahmacari (membujang). Ia menjauhkan diri dari perbuatan yang ternoda dan tidak melakukan hubungan kelamin".

Atau ia berkata: "Tidak berdusta, Samana Gotama telah menjauhkan diri dari dusta. Ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, dan tidak mengingkari kata-kataNya di dunia".
Atau ia berkata: "Tidak memfitnah, Samana Gotama menjauhkan diri dari fitnah. Apa yang Ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain yang dapat menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat ini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakan-Nya di sini sehingga tidak menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat lain. Dalam hidupnya Ia menyatukan mereka yang berlawanan, mengembangkan persahabatan di antara mereka, pemersatu, mencintai persatuan, menyenangi persatuan, membicarakan kesatuan (Samagga). Atau ia berkata: "Tidak mengucapkan kata-kata kasar, Samana Gotama menjauhkan diri dari ucapan-ucapan kasar. Ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, yang menyenangkan, menarik, mengena di hati, sopan, menggembirakan orang dan disukai orang".

Atau ia berkata: "Tidak menghabiskan waktu dengan ceritera yang tidak berguna, Samana Gotama menjauhkan diri dari obrolan tentang hal-hal yang tidak berguna. Ia berbicara pada waktu yang tepat, sesuai dengan kenyataan, bermanfaat, yang berhubungan dengan Dhamma dan Vinaya. Ia berbicara pada saat yang tepat dengan kata-kata yang bermanfaat bagi pendengar dan dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tepat".

Atau ia berkata: "Samana Gotama tidak merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak tumbuh-tumbuhan. Ia makan sekali sehari, tidak makan setelah tengah hari atau tidak makan di malam hari. Ia tidak menyaksikan pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
Ia tidak menggunakan alat-alat merias, bunga-bunga, wangi-wangian dan perhiasan. Ia tidak menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah. Ia tidak menerima: emas, perak, padi, daging mentah, wanita, budak, biri-biri atau kambing, babi, gajah, sapi, kuda dan unggas. Ia tidak bertani. Ia tidak melakukan perdagangan, penipuan dengan timbangan atau dengan ukuran, penyogokan, penipuan atau pemalsuan, melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.
Demikianlah para bhikkhu, yang menyebabkan orang-orang memuji sang Tathagata.

Majjhima Sila
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap merusak : biji-bijian yang masih dapat tumbuh, akar yang masih dapat tumbuh, potongan, ruas, tunas yang masih dapat tumbuh. Tetapi Samana Gotama hidup dengan tanpa merusak biji-bijian maupun tumbuh-tumbuhan".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap melakukan penimbunan makanan, minuman, jubah, alat-alat tidur, alat-alat lainnya, wangi-wangian, bumbu makanan. Tetapi Samana Gotama sama sekali tidak mau menimbun barang-barang demikian".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mengunjungi pertunjukan-pertunjukan seperti: tari-tarian, nyanyi-nyanyian, musik tontonan, nyanyian epis, musik, pelafalan syair, permainan tam-tam, drama, akrobat yang dimainkan oleh orang-orang mengadu gajah, kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, ayam dan burung; pertandingan dengan menggunakan pemukul, tinju, gulat; perang-perangan, pawai dan parade. Tetapi Samana Gotama sama sekali tidak mau melihat pertunjukan demikian".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap malakukan permainan-permainan atau rekreasi sebagai berikut: permainan dengan papan yang berpetak-petak delapan atau sepuluh baris, permainan dengan melangkah pada diagram yang digariskan di tanah dengan cara hanya melangkah sekali; permainan dengan cara memindahkan benda atau orang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tanpa melepaskan benda atau orang tersebut; main dadu, kayu pendek dipukul dengan kayu panjang, mencelupkan tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, main bola, meniup pipa yang dibuat dari daun, menggali dengan alat mainan, bersalto, main kincir angin yang dibuat dari daun palem, main kereta-keretaan atau panah-panahan, menebak tulisan di udara atau di punggung seseorang, menebak pikiran orang lain, atau bertingkah laku seperti orang cacad. Tetapi Samana Gotama tidak pernah melakukan permainan-permainan tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah sebagai berikut: dipan yang tinggi, panjang enam kaki dan dapat dipindah-pindahkan; dipan dengan tiang-tiangnya diukir bergambar binatang; menggunakan selimut yang berwarna-warni; menggunakan selimut putih; menggunakan seprei disulam dengan motif bunga-bungaan; menggunakan selimut dari wol dan kapas; menggunakan seprei yang disulam dengan gambar singa atau harimau; menggunakan seprei dengan bulu binatang di kedua tepinya; menggunakan seprei dengan bulu binatang di salah satu tepinya; menggunakan seprei dari sutra; menggunakan selimut yang dapat digunakan oleh enam belas orang; menggunakan selimut gajah, kuda atau kereta; menggunakan selimut antelope yang dijahit; menggunakan selimut dari kulit sebangsa kijang; menggunakan permadani yang berpenutup di atasnya; menggunakan tempat duduk dengan bantal merah untuk kepala dan kaki. Tetapi Samana Gotama tidak menggunakan barang-barang tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap menggunakan perhiasan dan mempercantik diri dengan cara: menggunakan bedak harum, shampoo, mandi dengan bunga-bungaan; tubuh dipukul-pukul secara perlahan dengan tongkat seperti tukang gulat; menggunakan cermin meminyak diri (bukan untuk obat); menggunakan bunga-bungaan, pemerah pipi, kosmetik, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya saja), kotak bulu untuk obat, pedang, penahan sinar matahari, sandal bersulam, turban, perhiasan di dahi, alat mengkebut dibuat dari ekor yak, jubah putih berumbai. Tetapi Samana Gotama tidak menggunakan benda-benda tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap membicarakan hal-hal yang rendah seperti berikut: ceritera tentang kepala negara, menteri, pencuri, peperangan, terror, makanan dan minuman, pakaian, tempat tidur, bunga kalung, wangi-wangian, keluarga, kendaraan, desa, kampung, kota, negara, pertempuran, pahlawan, gosip jalanan, ditempat pengambilah air, setan, yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan dan lautan atau tentang eksistensi dan non eksistensi. Tetapi Samana Gotama tidak membicarakan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap menggunakan kata-kata bantahan, seperti:
"Kamu tidak mengerti dhamma vinaya ini, seperti apa yang saya ketahui. Bagaimanakah kamu dapat mengetahui dhamma vinaya ini? Kamu berpandangan salah. Saya benar". "Saya bicara langsung ke pokok persoalan, kamu tidak".
"Kamu membicarakan bagian akhir lebih dahulu daripada bagian permulaan".
"Apa yang telah kamu persiapkan untuk dibicarakan, itu telah usang". "Kata-kata bantahanmu diterima". "Kamu terbukti salah". "Bebaskanlah dirimu bila kau sanggup". Tetapi Samana Gotama tidak melakukan bantahan-bantahan seperti itu".

Atau ia berkata: "Sementara pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh, sebagai perantara sebagai berikut: perantara raja-raja, menteri, kesatria, brahmana, atau pemuda dengan berkata, 'pergilah kesana, kesitu, bawalah ini, dan bawalah itu dari sana. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap melakukan penipuan dengan cara: berkomat-kamit dengan kata-kata tertentu berlaku seperti orang suci, mengusir setan atau kesialan, dan kehausan untuk menambah keuntungan karena serakah. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
45
Arya Mahayana / Re: Usnisa Vijaya Dharani Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:31:32 am »
Bhagavan Buddha menasihati Dewaraja Sakra lagi, "Raja Surga, Tathagata menggunakan pendekatan yang mudah ini untuk menyelamatkan makhluk yang sepatutnya terjerumus ke dalam neraka, untuk menyucikan semua haluan buruk, dan juga untuk melanjutkan usia makhluk yang mengamalkan Dharani ini. Raja Surga, kembalilah kamu sekarang dan maklumkanlah Dharani ini kepada Dewaputra Tusita. Selepas tempoh tujuh hari, datanglah bersamanya menghadap Tathagata".

Pada masa itu, di tempat penginapan Bhagavan Buddha, Raja Surga menerima amalan Dharani ini dengan penuh penghormatan, dan kembali ke istana surganya untuk memaklumkannya kepada Dewaputra Tusita.

Setelah menerima Dharani ini, Dewaputra Tusita mulai mengamalkannya sebagaimana yang ditunjuk selama enam hari dan enam malam. Selepas tempoh itu, segala permintaannya telah ditunaikan. Karmanya yang sepatutnya menyebabkannya menderita dalam segala haluan buruk telah dihapuskan. la akan berkekalan pada haluan Bodhi dan hidupnya akan dipanjangkan untuk waktu yang tidak terhingga. Dengan demikian, Dewaputra Tusita pun sangat sukacita, lalu berseru dan memuji, "Tathagata yang Agung! Dharma yang Istimewa! Keberkesanannya terbukti dengan jelas! Jarang sekali! Sesungguhnya hamba telah diselamatkan dengan cara ini!"

Sehabisnya tempoh tujuh hari itu, Dewaraja Sakra bersama Dewaputra Tusita dan makhluk-makhluk surga yang lain membawa bunga malai, wangi-wangian, kemenyan, panji-panji permata, lelangit yang dihiasi batu-batu permata, pakaian dewa dan kalungan permata, menghadap tempat penginapan Bhagavan Buddha dengan penuh penghormatan untuk membentangkan penyembahan yang agung ini. Setelah membuat penyembahan kepada Bhagavan Buddha, mereka pun mengelilingi Bhagavan Buddha seratus ribu kali sebagai tanda memberi hormat. Selepas menghadap dengan penuh takzim di hadapan Bhagavan Buddha, mereka mengambil tempat masing-masing untuk mendengar khutbah Dharma daripada Bhagavan Buddha dengan sukacitanya.

Kemudian Bhagavan Buddha mengulurkan tangan keemasan-Nya dan menyentuh puncak silara Dewaputra Tusita. Sang Sugata bukan saja berkhutbah Dharma kepadanya, tetapi juga mengaruniakan penetapan pencapaian Dewaputra Tusita ke Bodhi. Akhirnya Bhagavan Buddha bertitah, "Sutra ini akan dikenali sebagai Usnisa Vijaya Dharani yang Menyucikan Segala Haluan Buruk. Haruslah anda gigih berpegang kepada amalan ini." Setelah mendengar demikian, semua yang berhimpun di situ merasa sangat sukacita. Mereka mempercayai, menerima dan mengamalkan Dharani ini dengan setia dan penuh penghormatan.


NAMO SIDDHARTA GOTAMA SAKYAMUNI BUDDHAYA
NAMO MAHA VAIROCANA TATHAGATA
NAMO VIPASYIN TATHAGATA
46
Arya Mahayana / Re: Usnisa Vijaya Dharani Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:31:00 am »
Bhagavan Buddha mengingatkan Dewaraja Sakra sekali lagi, "Tathagata kini menitahkan Dharani sakti ini kepadamu. Haruslah engkau memaklumkannya kepada Dewaputra Tusita. Di samping itu, haruslah engkau menerima dan berpegang kepadanya, membaca dan menglafalkannya, menghayatinya secara mendalam, menghargainya, menghafal dan menghormatinya. Mudra Dharani ini juga harus diumumkan secara meluas kepada semua makhluk di dalam dunia Jambu-dvipa. Tathagata juga mengamanahkan kepadamu, demi kebahagiaan semua makhluk surga, Mudra Dharani ini patut disebarkan. Raja Surga, engkau harus tekun melindungi dan berpegang kepadanya. Jangan biarkan Dharani ini hilang atau dilupakan."

"Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Dharani ini walau hanya untuk seketika, ia tidak akan mengalami karma daripada karma buruk dan kesalahan berat yang terkumpul dari ribuan kalpa dahulu yang sepatutnya menyebabkannya berada dalam kitaran kelahiran-kematian - dalam segala rupa hidup haluan buruk - alam neraka, ' hantu-lapar', binatang, dunia Raja Yama, Asura, Yaksa, Raksasa, Putana, Kataputana, Apasmara, hantu dan roh-roh, dalam rupa nyamuk dan agas, kura-kura, anjing, ular sawa, burung, binatang liar, hewan-hewan merangkak maupun semut dan bentuk kehidupan yang lain. Hasil daripada manfaat mendengar Dharani ini walau hanya seketika, selepas hidup ini, ia akan dilahirkan semula serta-merta di Tanah-Tanah Suci Buddha bersama dengan semua Buddha dan Ekajati-Pratibaddha Bodhisattva, atau di dalam keluarga Brahmin atau Ksatriya yang terkemuka, atau keluarga yang kaya dan berpengaruh yang lain. Raja Surga, disebabkan ia berkebajikan mendengar Dharani ini, ia akan dilahirkan semula dalam keluarga yang mewah dan dihormati, dan setelah itu, dilahirkan semula di tempat yang suci."

"Raja Surga, apabila memperoleh Bodhimanda terhormat dan mulia juga adalah akibat yang dibawa semata-mata oleh pemujian kebaikan Dharani ini. Raja Surga, maka Dharani ini dikenal sebagai Dharani yang Membawa Berkah, yang boleh menyucikan segala haluan buruk. Usnisa Vijaya Dharani ini menyerupai Mutiara Mani yang terang bersinar - suci dan sempurna, jernih bagaikan langit dan kegemilangannya menyinar dan memancar ke seluruh pelosok dunia. Sekiranya makhluk-makhluk berpegang kepada Dharani ini, mereka akan turut menjadi suci dan terang. Dharani ini menyerupai emas Jambunada - terang, bersih dan lembut, tidak tercemar oleh kotoran, dan siapa saja yang melihatnya turut berkenan olehnya. Raja Surga, makhluk yang berpegang kepada Dharani ini juga demikian suci dan murni. Mereka ini akan lahir semula dalam haluan suci berdasarkan kesucian dan amalan Dharani yang mengagumkan."

"Raja Surga, di mana Dharani ini hadir, sekiranya Dharani ini boleh dicetak untuk kebahagiaan mahluk, disebarluaskan, diterima dan diamalkan, dibaca serta dilafalkan, didengar dan dihormati, hal ini akan menyucikan segala haluan buruk; penderitaan dan kesengsaraan di neraka-neraka akan hilang dengan sepenuhnya."

Bhagavan Buddha bersabda dengan teliti kepada Dewaraja Sakra sekali lagi, "Sekiranya ada yang dapat menulis Dharani ini dan memaparkannya di atas panji-panji yang tinggi, gunung yang tinggi, bangunan yang tinggi ataupun menyimpannya di dalam stupa; Raja Surga, kalau ada Bhiksu atau Bhiksuni, Upasaka atau Upasika, kaum lelaki atau perempuan yang melihat Dharani sakti ini terbentang di atas struktur-struktur tersebut, atau struktur ini membayangi mereka yang menghampirinya, atau abu dari Dharani itu tertiup mengenai badan mereka; Raja Surga, menurut pengumpulan dosa dan karma buruk mereka, walaupun makhluk-makhluk ini sepatutnya jatuh ke dalam alam neraka, alam binatang, alam ' hantu-lapar', alam Raja Yama, Asura dan sebagainya untuk menderita dalam haluan buruk, namun mereka tidak akan menanggung dosa-dosa ini dan juga tidak akan dicemari oleh keburukan moral. Raja Surga! Sebaliknya, semua Bhagavan Buddha akan mengaruniakan Vyakarana (penetapan) kepada makhluk- makhluk ini, yang mereka akan menuju ke arah Anuttara-samyak-sambodhi (Penerangan Sempurna) dan tidak akan luntur keyakinannya."

"Raja Syurga, malah kalau seseorang membuat berbagai penyembahan berbentuk kalungan bunga, wangi-wangian, panji-panji dan sepanduk, langit yang dihiasi permata, pakaian, kalungan permata dan sebagainya untuk menghiasi dan menghormati Dharani ini; dan sekiranya ada yang membangun stupa khusus untuk menyimpan Dharani ini di simpang jalan utama, dan kemudian berjalan mengelilingi stupa tersebut sambil menyusun kedua tapak tangan dalam tanda memberi hormat, serta bersujud menerima petunjuk ajaran Buddha, Dharma, dan Sangha; Raja Surga, mereka yang membuat penyembahan sedemikian akan digelari Mahasattva Agung, pengikut Bhagavan yang setia dan penyokong Dharma. Stupa-stupa sedemikian akan dianggap sebagai stupa sharira seluruh-jasad Tathagata."

Pada saat itu, raja alam neraka, Raja Yama tiba di tempat penginapan Bhagavan Buddha pada awal malam. Mula-mula, dengan menggunakan pakaian dewa, bunga-bungaan yang cantik, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan lain, baginda telah memberi penghormatan dan membuat penyembahan kepada Bhagavan Buddha, sebelum berjalan mengelilingi Bhagavan Buddha sebanyak tujuh kali. Sambil bersujud penuh, baginda telah memeluk tapak kaki Bhagavan sebagai tanda hormat, kemudiannya berkata, "Hamba mendengar bahwa Tathagata sedang berkhutbah memuji amalan Dharani berkuasa ini; hamba datang karena ingin belajar dan seterusnya mengamalkannya. Hamba akan selalu melindungi makhluk yang menerima, membaca, melafazkan, dan mempraktikkan amalan Dharani berkuasa inl, dan menghalangi mereka dari terjatuh ke dalam alam neraka karena mereka telah mengikuti ajaran Tathagata." Pada masa itu, keempat-Maha Raja Langit Pelindung Dunia - Catur-maharaja (Empat Raja Surga), telah mengelilingi Bhagavan Buddha tiga kali, lantas memohon dengan penuh hormat, "Bhagavan Buddha, sudilah Tathagata dapat menjelaskan dengan teliti cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini."

Bhagavan Buddha pun berucap kepada Empat Raja Surga itu, "Dengarlah dengan penuh perhatian! Demi kepentinganmu dan juga kepentingan makhluk-makhluk berusia pendek, Tathagata akan berkhutbah tentang cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini."

"Mula-mula, seseorang itu harus memandikan diri dan memakai pakaian bersih yang baru, mematuhi dan mengamalkan petua-petua 'precept' dan melafalkan Dharani ini seribu kali pada hari bulan purnama - hari ke-15 bulan lunar. Ini akan membolehkan orang itu melanjutkan usianya dan sentiasa bebas daripada penderitaan akibat sakit. Semua halangan karmanya, termasuk yang boleh menyebabkannya menderita di alam neraka, akan dibasmikan kesemuanya. Jika burung, binatang dan makhluk lain mendengar Dharani ini walaupun sekali, selepas tamatnya hayat ini, mereka tidak akan lahir lagi dalam rupa badan yang kotor dan kasar begitu."

Bhagavan Buddha meneruskan lagi, "Sekiranya ada yang menderita akibat penyakit tenat terdengar Dharani ini, ia akan senantiasa bebas dari penyakit tersebut. Semua penyakit yang lain turut dibasmi bersama dengan karma buruk yang sepatutnya menyebabkannya terjerumus ke haluan buruk. Selepas akhir hayat ini, ia akan lahir semula dalam Dunia Kebahagiaan Tertinggi. Dari hayat tersebut seterusnya, tidak akan ia lahir semula dari rahim. Sebaliknya, di mana jua ia lahir semula, ia akan menjelma dari bunga teratai. Ia akan selalu mengingat dan mengamalkan Dharani ini di samping mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan silamnya tidak kira mana ia dilahirkan."

Bhagavan Buddha menambah kata, "Sekiranya ada yang telah melakukan berbagai kegiatan buruk dan dosa berat sebelum meninggal dunia, ia sudah tentunya akan terjerumus ke alam neraka, binatang atau ' hantu-lapar', ataupun ke dalam Neraka Avici besar, atau lahir semula sebagai hewan air, atau dalam rupa burung dan binatang berdasarkan dosa-dosa yang dilakukannya selepas akhir hidupnya. Sekiranya ada orang yang kemudian mengambil sebahagian daripada tulang rangka mendiang, dan sambil memegang segenggam tanah, melafalkan Dharani ini 21 kali dan selepas itu ditaburkan pada tulang-tulang itu. Ini akan membolehkan mendiang lahir semula di surga."

Bhagavan Buddha berucap lagi, "Sekiranya seseorang itu boleh melafalkan Dharani ini 21 kali sehari, ia berhak menerima segala pahala alam dunia, dan akan dilahirkan semula dalam Dunia Kebahagiaan Tertinggi selepas meninggal dunia. Sekiranya ia sering melafalkan Dharani ini, ia akan mencapai Maha Parinirvana dan berupaya melanjutkan usianya di samping menikmati hidup yang amat bahagia. Selepas hidup ini berakhir, ia akan lahir semula di salah satu Tanah Suci Buddha yang mengagumkan dan selalu didampingi oleh para Bhagavan Buddha. Kesemua Tathagata akan senantiasa berkhutbah tentang kebenaran mendalam Dharma yang mengagumkan, dan kesemua Bhagavan Buddha akan mengaruniakan penetapan Kesadaran Mulia kepadanya. Cahaya yang memancar dari tubuhnya akan menyinari seluruh penjuru Tanah Suci Buddha"

Bhagavan Buddha menjelaskan lagi, "Untuk melafalkan Dharani ini, pada mulanya, seseorang itu harus menggunakan tanah yang bersih dan suci untuk membina tempat pemujaan empat segi yang saiznya mengikut kemampuan masing-masing di hadapan Rupang Bhagavan Buddha. Setelah itu, orang itu harus menaburkan berbagai rumput- rampai dan bunga di atas tempat pemujaan itu, dan membakar berbagai jenis kemenyan bermutu. Kemudian, sambil berlutut dengan meletakkan lutut kanan di atas lantai, melafalkan nama Buddha dengan penuh konsentrasi dalam hati, dan meletakkan kedua belah tangan dalam bentuk simbol Mudrani (yaitu dengan membengkokkan jari penunjuk dan menekannya ke bawah menggunakan ibu jari; kedua belah tapak tangan dihadap dan diposisikan di hadapan dada) dengan penuh penghormatan, seseorang itu harus melafalkan Dharani tersebut sebanyak 108 kali. Kemudian, bunga-bungaan akan menghujani tempat pemujaan itu dari awan dan akan seterusnya dijadikan penyembahan universal kepada para Bhagavan Buddha sebanyak butiran pasir yang terdapat dalam delapan puluh delapan ratus ribu koti nayuta Sungai Gangga. Para Bhagavan Buddha akan memuji dengan serentak, "Unggul! Jarang sekali! Sesungguhnya beliau seorang pengikut Bhagavan Buddha yang setia!" Pada masa yang sama, dia akan mencapai Samadhi. Kebijaksanaan Yang Tidak Terhalang, dan Samadhi Yang Dihiasi Minda Maha Bodhi dengan serta-merta. Demikianlah cara untuk menepati amalan Dharani ini."
47
Arya Mahayana / Re: Usnisa Vijaya Dharani Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:30:22 am »
Raja Surga! Kamu harus sadar bahwa karma-karma buruk begini pasti akan menerima pembalasan akibat kelakuan buruknya. Dosa ini tidak mungkin luntur atau dihapuskan. Yang keduanya, Raja Surga! Kebahagiaan hidup di surga yang dinikmati Dewaputra Tusita adalah disebabkan ia pernah membuat persembahan kepada Pratyekabuddha, menyediakan tempat duduk, mempersembahkan bunga, mendermakan makanannya dengan penuh hormat dan pernah mendengar Dharma Buddha. Setelah kalpa yang tidak terkira banyaknya berlalu, dia masih dapat mengecapi kebahagiaan yang agung dan tiada ada tandingannya. Di samping itu, sewaktu Pratyekabuddha terbang melintasi langit, dia telah memandang ke atas dan melahirkan perasaan penuh hormat lalu bersujud penuh. Disebabkan kebaktian dan jasa ini, dia telah diberitahu terlebih dahulu akan pembalasannya oleh suara dewa dari langit. Dewa itu sebenarnya ialah Dewa Istana Dewaputra Tusita!" "Raja Surga, ada sekarang Dharani yang dikenal sebagai “Usnisa Vijaya Dharani”. Dharani ini dapat mensucikan segala karma buruk dan menghapus segala sengsara kelahiran dan kematian. Di samping itu, Dharani ini boleh membebaskan segala makhluk dari alam neraka, alam Raja Yama dan alam binatang daripada mengalami kesengsaraan, memusnahkan semua alam neraka dan membolehkan makhluk-makhluk berubah haluan ke haluan suci.

"Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Usnisa Vijaya Dharani ini walaupun hanya sekali, segala karma buruk dari kehidupan dahulunya (yang patut menyebabkannya terjerumus ke alam neraka) akan dimusnahkan semuanya. Sebaliknya, ia juga akan memperoleh badan yang suci dan halus. Tidak kira di mana ia lahir semula, ia akan mengingat Dharani ini dengan jelas dari satu Tanah Suci Buddha ke Tanah Suci Buddha yang lain, dari satu alam surga ke alam surga yang lain. Sesungguhnya, di seluruh Surga Trayastrimsa, di manapun ia lahir semula, tidak akan ia lupakan Dharani ini."

"Raja Surga, sckiranya ada yang mengingati Dharani ini saat ia hampir meninggal dunia, walau hanya untuk seketika, umurnya akan dipanjangkan dan ia akan mengalami penyucian badan, ucapan dan pikiran.Ia akan menikmati kesejahteraan yang merata bersesuaian dengan jasanya, dan ia tidak akan sakit menderita. Sambil menerima pahala dari semua Tathagata, dilindungi semua dewa surga dan Bodhisattva, ia akan dihormati serta dimuliakan oleh semua orang dan segala karma buruknya musnah."

"Raja Surga, sekiranya ada yang dapat membaca atau menlafalkan Dharani ini dengan ikhlas walaupun untuk masa yang amat pendek, segala karma buruknya yang sepatutnya membawa penderitaan ke alam-alam neraka, alam Raja Yama, binatang, dan hantu kelaparan akan dimusnahkan sepenuhnya tanpa meninggalkan walaupun hanya sedikit karma buruk. la akan bebas untuk pergi ke mana-mana Tanah Suci Buddha dan istana-istana surga dan semua pintu kediaman Bodhisattva akan terbuka untuknya tanpa adanya halangan."

Selepas mendengar khutbah tersebut, Dewaraja Sakra lantas memohon kepada Bhagavan Buddha, "Demi kepentingan segala makhluk, sudilah Bhagavan Buddha memberikan khutbah tentang cara-cara melanjutkan usia seseorang."
Bhagavan Buddha mengetahui permohonan dan keinginan Dewaraja Sakra untuk mendengar khutbah-Nya tentang Dharani ini, lalu mengucapkan Mantra tersebut, seperti demikian:
"NAMO BHAGAVATE TRAILOKYA PRATIVISISTAYA BUDDHAYA BHAGAVATE. TADYATHA, OM, VISUDDHAYA-VISUDDHAYA, ASAMA-SAMA SAMANTAVABHASA- SPHARANA GATI GAHANA SVABHAVA VISUDDHE, ABHISINCATU MAM. SUGATA VARA VACANA AMRTA ABHISEKAI MAHA MANTRA-PADAI. AHARA-AHARA AYUH SAM-DHARANI. SODHAYA-SODHAYA, GAGANA VISUDDHE. USNISA VIJAYA VISUDDHE. SAHASRA-RASMI,
SAMCODITE, SARVA TATHAGATA AVALOKANI, SAT-PARAMITA, PARIPURANI, SARVA TATHAGATA MATI DASA-BHUMI, PRATI-STHITE, SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE. VAJRA KAYA, SAM-HATANA VISUDDHE. SARVAVARANA APAYA DURGATI, PARI-VISUDDHE, PRATI-NIVARTAYA AYUH SUDDHE. SAMAYA ADHISTHITE. MANI-MANI MAHA MANI. TATHATA BHUTAKOTI PARISUDDHE. VISPHUTA BUDDHI SUDDHE.
JAYA-JAYA, VIJAYA-VIJAYA, SMARA-SMARA. SARVA BUDDHA ADHISTHITA SUDDHE. VAJRI VAJRAGARBHE, VAJRAM BHAVATU MAMA SARIRAM. SARVA SATTVANAM CA KAYA PARI VISUDDHE. SARVA GATI PARISUDDHE. SARVA TATHAGATA SINCA ME SAMASVASAYANTU. SARVA TATHAGATA SAMASVASA ADHISTHITE, BUDDHYA-BUDDHYA, VIBUDDHYA-VIBUDDHYA, BODHAYA-BODHAYA, VIBODHAYA-VIBODHAYA. SAMANTA PARISUDDHE. SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE SVAHA.
Kemudian Bhagavan Buddha mengisytihar kepada Dewaraja Sakra, "Mantra di atas dikenali sebagai ' Usnisa Vijaya Dharani yang Menyucikan Segala Haluan Buruk'. Dharani ini berupaya mengatasi segala rintangan karma buruk dan menghapuskan semua derita haluan buruk."

"Raja Surga, Dharani agung ini dikhutbahkan serentak oleh semua Buddha, sebanyak butiran pasir di dalam delapan puluh delapan ratus ribu koti Sungai Gangga. Semua Buddha menerima dan mengamalkan Dharani ini, yang telah diuji kebenarannya oleh Mohor Kearifbijaksanaan Maha Vairocana Tathagata, dengan hati yang sukacita. Dharani ini diumumkan dengan tujuan menghilangkan segala penderitaan yang ditanggung oleh makhluk yang berada di dalam haluan buruk, untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan di alam neraka, alam binatang dan alam Raja Yama; untuk menyelamatkan makhluk yang sedang menghadapi bahaya terjerumus ke dalam kitaran kelahiran-kematian (samsara); untuk membantu makhluk yang tidak berdaya, yang mempunyai usia yang pendek, dan yang bernasib malang serta untuk menyelamatkan makhluk yang suka melakukan segala jenis perbuatan jahat. Ada lagi, kuasa yang menjelma akibat pengamalan Dharani ini dalam dunia Jambu-dvipa membolehkan makhluk di dalam alam neraka dan alam-alam buruk lain, yang bernasib malang dan berputar dalam kitaran kelahiran-kematian, yang tidak percaya akan wujud perbuatan baik dan buruk, dan yang menyimpang dari jalan benar, akan semuanya dibebaskan."
48
Arya Mahayana / Usnisa Vijaya Dharani Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:29:28 am »
Dharani Mahkota kemenangan Buddha
(Usnisa Vijaya Dharani)

Namo Bhagavate Adi Tathagata Arhate SamyakSamBuddha
Terpujilah Sang Maha suci yang terunggul didalam tiga dunia!
Terpujilah Sang Tercerahkan, untuk Sang Penolong!
yaitu:
Om!mensucikan, mensucikan! O Yang Selalu Adil! O Sang Penguasa yang meliputi semuanya,
semua cahaya penerangan, adalah murni kealamianNya,
mensucikan kegelapan pada lima bagian dari kehidupan!
Abhisekakan kami dengan nectar,O Yang Terbahagiah, dengan sebuah abhiseka abadi yang terdiri dari
kata-kata terbaik, ungkapan kebenaran yang Maha Agung!
hilangkan bencana, hilangkan bencana, O Sang Pemilik Keabadian!
sucikan kami, sucikan kami, O Yang Murni seperti langit!
O Yang murni bagaikan Mahkota Kemenangan Buddha!
O Yang bergelora dengan ribuan sinar cahaya!
O Semua Tathagata yang memeriksa dunia sempurna dalam enam Paramita!
O Sang Pemilik Materai yang diberi kuasa dengan tenaga batin yang berasal dari hati setiap Tathagata!
O Sang Pemilik Tubuh sekeras dan semurni Vajra!
O Yang sepenuhnya bersih,suci dari semua rintangan, semua ketakutan, dan semua bagian kejahatan!
Jauhkanlah kami semua dari kejahatan O Yang menikmati kehidupan suci!
O Yang memberikan kuasa kepada kami dengan perjanjian asli!
O Permata, Permata, Permata Agung! O Bagaikan yang sungguh terbatas dan sangat murni!
O Yang Suci didalam Pencerahan terkembang!
Jadilah Kemenangan,Jadilah Kemenangan, Jadilah Yang Telah Menang,Jadilah Yang Telah Menang!
Pertahankan didalam pikiran,pertahankan didalam pikiran!
O Sang Maha Suci Yang telah mendapat Kuasa dari Semua Buddha!
O Sang Vajragarbha yang memegang Vajra! Izinkan tubuh saya seperti Vajra!
Izinkan tubuh semua makhluk bagaikan Vajra juga!
O Sang Pemilik Tubuh yang Maha Suci!
O Yang Tersuci dari semua bagian kehidupan! Dan biarlah saya dihibur oleh Semua Tathagata!
O Yang mendapat kuasa dengan Tenaga Yang Menghibur dari Semua Yang Telah Datang!
Jadilah Tercerahkan, Jadilah Tercerahkan,Jadilah Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna,
Jadilah Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna!
Cerahkanlah mereka, Cerahkanlah mereka,tercerahkanlah mereka,tercerahkanlah mereka!
O Yang Tersuci didalam Jalan Yang Paling Sempurna!
O Sang Pemilik Materai yang diberi kuasa dengan tenaga batin yang berasal dari hati setiap Tathagata!
serukanlah!

om amrta tejovati svaha (Mantra Hati Usnisa Vijaya Dharani)


NAMO USNISA VIJAYA DHARANI
NAMO SARVA TATHAGATA

NAMO MAHAKARUNIKAYA SARVA TATHAGATA TRAILOKA PUJITO
TADYATHA:"OM AMILIDA DEKA FADI SVAHA"!

Sutra ini telah saya, Ananda, mendengar sendiri daripada Bhagavan Buddha.

Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, Bhagavan Buddha berdiam di Shravasti di Jetavana, dalam Taman Anathapindaka (orang yang berkebajikan terhadap anak yatim piatu dan mereka yang tinggal berseorangan), bersama pengikut-pengikut tetap-Nya yang terdiri daripada seribu dua ratus lima puluh Maha Bhiksu dan dua belas ribu Sangha Maha Bodhisattva kesemuanya.

Ketika itu juga, dewa-dewa Surga Trayastrimsa telah mengadakan perhimpunan di Dewan Dharma Sempurna. Di antara mereka yang hadir ialah Dewaputra Tusita. Bersama dewaputra-dewaputra lain, Dewaputra Tusita turut bersuka ria di dalam dewan serta di luar, di halaman, taman bunga dan menara, asyik menikmati kebahagiaan hidup surga. Mereka sangat gembira, menyanyi-nyanyi, menari-nari menghibur diri bersama dewi-dewi surga.

Sejurus malam menjelma, Dewaputra Tusita tiba-tiba mendengar suara di angkasa yang berkata, "Dewaputra Tusita, engkau hanya akan hidup selama tujuh hari lagi. Selepas mangkat, engkau akan dilahir semula di Jambu-dvipa (Bumi), sebagai binatang selama tujuh hayat berturut-turut. Kemudian, akan jatuhlah kamu ke alam neraka untuk
menderita lagi. Hanya setelah menerima karmamu, barulah akan engkau lahir semula dalam dunia manusia, tetapi ke dalam keluarga terhina dan miskin. Semasa dalam kandungan ibu, engkau tidak akan mempunyai mata, dan buta apabila lahir."

Setelah mendengar kata-kata tersebut, Dewaputra Tusita begitu takut sehingga tegak bulu romanya. Dengan hati yang diselubungi risau dan derita, Dewaputra Tusita lantas berkejar ke istana Dewaraja Sakra (Raja Dewata di Surga Trayastrimsa), Sambil menangis sekuat hati karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya, Dewaputra Tusita pun bersujud di kaki Dewaraja Sakra lalu memberitahu Dewaraja Sakra tentang apa yang telah berlaku.

"Sewaktu hamba asyik menghayati lagu dan tarian bersama dewi-dewi surga, tiba-tiba hamba mendengar suara di angkasa yang berkata bahwa hidup hamba tinggal tujuh hari saja, dan kemudian hamba akan lahir semula sebagai binatang dalam dunia Jambu-dvipa selama tujuh hayat berturut-turut. Setelah itu, hamba akan terjerumus ke alam neraka untuk menderita lagi. Setelah penghukuman karma hamba selesai, barulah hamba akan lahir semula dalam dunia manusia. Walau demikian, hamba akan lahir cacat tanpa mata dalam keluarga miskin dan terhina. Raja Surga, bagaimanakah dapat hamba melepaskan diri daripada penderitaan ini? "

Dewaraja Sakra merasa sungguh heran dan terkejut atas penjelasan dan ratapan Dewaputra Tusita itu. Hati kecilnya berfikir, "Dalam tujuh haluan buruk dan rupa buruk manakah akan Dewaputra Tusita ini dilahirkan semula berturut-turut?"

Dewaraja Sakra dengan serta-merta menenangkan mindanya untuk memasuki keadaan Samadhi lalu membuat pemerhatian teliti. Dengan segera, Dewaraja Sakra mendapati bahawa Dewaputra Tusita akan dilahir semula tujuh kali berturut-turut dalam haluan buruk berupa babi, anjing, musang, monyet, ular sawa, gagak serta burung nasar, kesemuanya yang hidup memakan makanan kotor dan busuk. Setelah memperhatikan bakal keadaan tujuh rupa lahir semula Dewaputra Tusita, hati Dewaraja Sakra hancur dan penuh duka, tetapi Dewaraja Sakra tiada ikhtiar untuk menolong Dewaputra Tusita. Raja Sakra berpendapat bahwa hanya Tathagata, Arhat, Samyak-sambuddha sajalah yang dapat menyelamatkan Dewaputra Tusita dari penderitaan haluan buruk yang bakal menimpanya.

Maka, awal malam hari itu, Dewaraja Sakra telah menyediakan
berbagai jenis bunga malai serta wangi-wangian. Selepas menjubahi diri dengan pakaian dewa yang halus, Dewaraja Sakra membawa barang pemujaannya ke Taman Anathapindaka, tempat penginapan Bhagawan Buddha. Sesampainya di sana, Dewaraja Sakra mula-mula bersujud di kaki Bhagavan Buddha sebagai tanda memberi hormat, kemudian memuja Bhagavan dengan berjalan perlahan-lahan mengelilingi-Nya tujuh kali mengikut arah jam, sebelum membentangkan puja (barang-barang penyembahan) Dewaraja Sakra yang mewah itu. Sambil berlutut di hadapan Bhagavan, Dewaraja Sakra telah menerangkan dan menguraikan nasib Dewaputra Tusita yang bakal terjerumus ke haluan buruk, dengan tujuh hayat lahir-semula berturut-turut dalam rupa binatang, dan hal yang akan menimpanya selepas kesemua itu.

Dengan serta-merta, dari usnisa (puncak silara) Tathagata, berbagai sinaran cahaya memancar dan menerangi seluruh penjuru dunia dalam kesemua sepuluh arah, lalu memantul mengelilingi Bhagavan Buddha tiga kali sebelum kembali ke mulut-Nya. Selepas itu, Bhagavan Buddha tersenyum dan bersabda kepada Dewaraja Sakra, "Raja Surga, dengarlah dengan penuh perhatian. Pada waktu asamkhyeya eon yang tidak terkira dahulu, terdapat seorang Buddha yang bergelar Vipasyin, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah
Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna,
Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia,
Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang
Dihormati Dunia, lengkap dengan sepuluh gelaran bagi seorang Buddha. Selepas afiniti untuk menyelamatkan makhluk-makhluk di dunia ini berakhir, Vipasyin Buddha telah memasuki Maha Parinirvana. Pada Zaman Dharma Imej Buddha itu, terdapat sebuah negara yang dikenali sebagai Varanasi. Di dalam negara tersebut, terdapat seorang Brahmin yang telah meninggal dunia sejurus selepas isterinya melahirkan seorang cahaya mata lelaki. Anak yatim ini dibesarkan sepenuhnya oleh ibunya. Setelah dewasa, dia bersawah untuk memenuhi hidup. Namun, disebabkan mereka amat miskin, ibunya terpaksa mengemis merata-rata untuk mendapatkan makanan bagi anaknya.

Pada suatu hari, ibunya gagal mendapatkan makanan dan waktu makan juga telah berlalu. Anaknya menjadi marah lalu mendendami ibunya disebabkan kelaparan dan kehausan. Dengan api kemarahan yang marak, dia tidak henti-hentinya menyalahkan ibunya, "Mengapakah ibu belum mengantarkan makanan ke sini pada hari ini?"

Lantas, dia mengutuk lagi, "Cis! Ibu saya tidak pun layak dibandingkan dengan binatang. Saya melihat babi, anjing, musang, monyet, ular sawa, gagak serta burung nesar semuanya menjaga dan membesarkan anak-anak dengan begitu penuh belas kasihan. Anak-anak tidak dibiarkan kelaparan atau kehausan, malah tidak seketika pun ditinggalkan. Mengapakah ibu saya masih belum datang? Saya sudah merasa amat lapar dan haus sedangkan ibu masih belum mengantarkan makanan ke sini!"

Tidak lama selepas hatinya menaruh dendam, ibunya segera memohon makanan lantas bergegas ke sawah sambil mebujuk anaknya supaya ia tidak marah. Mereka baru saja mau duduk dan makan, tiba-tiba, seorang Pratyekabuddha muncul dalam rupa seorang Bhiksu, dan terbang di angkasa dari arah selatan ke utara. Anak yatim ini melihat fenomena yang ganjil tersebut lalu merasa hormat dan kagum. Dia dengan segera bangun dan menyusunkan kedua telapak tangannya bersama lalu bersujud penuh sambil menjemput Pratyekabuddha itu turun. Pada masa itu, Pratyekabuddha itu telah menerima jemputannya. Dia amat gembira dan giat menyediakan tempat duduk dengan lalang putih. Selain itu, dengan penuh hormat, dia telah mempersembahkan bunga yang bersih dan suci, serta sebagian makanannya kepada Pratyekabuddha itu dengan dua belah tangan. Selepas makan, Bhiksu itu menkhutbahkan ajaran penting Dharma Buddha kepadanya agar dia merasa sukacita. Atas sebab dan afiniti ini, anak yatim tersebut kemudian menjadi Sramanera dan juga dilantik sebagai Bhiksu yang menguruskan urusan dalam Vihara.

Pada waktu itu, seorang Brahmin telah mendirikan sebuah Vihara untuk penginapan para Sangha. Seorang lagi penderma pula menghadiahkan banyak mentega dan makanan kepada mereka. Secara kebetulan, terdapat banyak Bhiksu mengembara yang menetap di situ dan sedang makan pada masa itu, Bhiksu yang mengurus urusan Vihara itu setelah melihat keadaan tersebut lalu timbul perasaan benci dan tamak. Dia menganggap para Bhiksu yang mengembara itu sebagai orang yang amat menyusahkan dan menimbulkan masalah. Oleh karena itu, dia telah menyimpan semua mentega dan makanan yang dihadiahkan lalu tidak membenarkan mereka makan. Karena hal demikian, Bhiksu yang mengembara itu telah mempersoalkannya, "Penyembahan ini telah dimaksudkan untuk semua ahli Sangha yang berada di dalam Vihara. Mengapa kamu menyimpan penyembahan makanan tersebut dan tidak membenarkan semua orang memakannya? "

Bhiksu yang mengurus urusan Vihara itu merasa benci dan melepaskan kemarahannya, "Kamu semua, Bhiksu yang mengembara, mengapa kamu tidak makan saja najis dan kencing? Kenapa kamu mau meminta mentega? Sudahkah mata kamu menjadi buta? Apakah kamu melihat saya menyembunyikan mentega itu?" Bhagavan Buddha memberitahu Dewaraja Sakra, "Anak yatim lelaki Brahmin pada waktu itu ialah Dewaputra Tusita sekarang. Disebabkan dia mendendami dan membandingkan ibunya dengan binatang, kini dia akan menerima pembalasan dalam rupa hewan untuk tujuh hayat berturut-turut. Ada lagi, sewaktu dia menjadi Bhiksu yang mengurus urusan Vihara, dia telah mengeluarkan ucapan-ucapan memakan najis dan kencing yang kotor. Pada pembalasan karmanya ialah dia akan selalu makan makanan yang tidak bersih. Karena tamak dan tidak mau memberi makanan yang disembahkan kepada para Sangha, dia akan menderita di alam neraka. Sebagai pembalasan memarahi Sangha,dia akan buta, dia tidak akan mempunyai mata. Untuk tujuh ratus hayat, dia akan sentiasa buta dan hidup dalam kegelapan serta mengalami kesengsaraan yang amat.
49
Arya Mahayana / Re: Maha Govinda Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:28:51 am »
Adalah Seseorang (Maha Moggalana Thera) yang berpikiran untuk mengajukan pada Dewa Brahma pertanyaan ini Di Gedung Pertemuan Para Dewa, Sudhamma di Surga: 'Apakah masih ada dalam dirimu, 'Sobat, pandangan yang pernah muncul? 'Apakah gemerlapnya Surga 'Dengan jelas terlihat olehmu berlalu?' Brahma memberi jawaban Secara jujur terhadap pertanyaan bagi Saya: 'Tidaklah lagi terdapat dalam diriku, 'Tuan, pandangan yang pernah muncul; 'Semua gemerlap Surga 'Saya sekarang dengan jelas melihatnya berlalu; 'Saya mengutuk pernyataan saya yang dulu 'Sebagai yang permanen, kekal,.
<Majjhima Nikaya No. 50>

Sekarang muncullah di dunia ini seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan-Nya, Yang Maha Mulia, Pengenal semua Alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, yang patut dimuliakan. Ia lantas mengajarkan Dhamma:"Ini adalah dukkha; ini adalah asal dari dukkha; ini adalah akhir dari dukkha; ini adalah jalan menuju akhir dari dukkha." Dan dewa-dewa itu yang berumur panjang, yang bergemerlapan dengan kecantikan, yang berdiam dengan penuh kesenangan dan untuk waktu yang lama berada dalam rumah-rumah surgawi yang megah, bahkan mereka, setelah mendengar Sang Bhagava mengajarkan Dhamma, tertimpa ketakutan, kegelisahan dan tergetar: "Aduh celaka, kita yang, sebenarnya, tidak permanen, percaya bahwa kita adalah permanen! Kita yang, sebenarnya, rapuh, percaya bahwa kita berkesinambungan! Kita yang, sebenarnya, tidak kekal, percaya bahwa kita kekal adanya!Tetapi, yang benar adalah bahwa, kita adalah tidak permanen, rapuh, tidak kekal, terpikat dalam kepribadian!"
<Anguttara Nikaya, Cattuka nipata, No. 33>

Jika seseorang berubah kepercayaan untuk kemudian percaya pada Sang Buddha, Sang Tathagata tidak akan menipu mereka, karena Beliau tidak memiliki perasaan serakah dan iri, dan Beliau pun bebas dari segala akibat Hukum. Jadi Sang Buddha, di alam semesta, merupakan Manusia yang benar-benar tiada cela.
<Upaya kausalya Parivartah>

Namah Samanta Vajranam He He Kimcirayasi Grhna Grhna Khada Khada Paripuraya Sarva Kimkaranam Svaprativijnam Svaha.

Semoga semua kejadian buruk yang akan menimpa Negara China dan Negara Thailand langsung musnah dengan Kebajikan Mahayana Puja ini.

Namah Samanta Buddhanam Sarva Klesa Nirsudana Sarva Dharma Vasitah Prapta Gagana Sama Asama Svaha.
Semoga semua Rakyat China dan Rakyat Thailand dalam wujud apapun, yang menderita di alam sengsara terbebaskan dan berbahagia bersama Para Tathagata.

Namah Samanta Buddhanam Varade Vara Prapta Hum.

Semoga semua mahluk alam rendah, para ikan, babi, anjing, unggas, ular, serangga, binatang berkaki banyak, sapi, burung, cacing, hantu kelaparan, mahluk neraka avici yang menderita bebas dari semua deritanya dan lahir di Buddhaloka.

Namah Samanta Buddhanam Vam Vam Vam Hum Hum Phat Svaha.

Semoga semua Pemimpin China dan Pemimpin Thailand mencintai Kebajikan, melakukan Kebajikan, menyebarkan Kebajikan dan berlindung pada Buddha Sasana.

Namah Samanta Buddhanam Dhrim Dhrim Rim Rim Jrim Jrim Svaha.

Semoga semua Bhikku mencapai Kesucian Arahat sebelum meninggalkan dunia ini.

Namah Samanta Buddhanam Aparajite Jayamti Tadite Svaha.

Semoga semua Rakyat Di Afrika dihapuskan semua karma buruknya dan memperoleh keyakinan kepada Buddha Sasana dan diakhir kehidupannya langsung lahir di Buddhaloka.

Namah Samanta Buddhanam Om Dhuru Dhuru Prthiviye Svaha.
Semoga tanah China, Thailand dan Benua Afrika menjadi subur bebas dari bencana api, air, angin, penyakit, dan bahaya lainnya.

Namah Samanta Buddhanam Apratihatasasanam Tadyatha Om Kha Kha, Khahi Khahi, Hum Hum, Jvala Jvala, Para Jvala Para Jvala, Tistha Tistha, Sittir Sittir, Saphat Saphat, Santika, Sriye Svaha.

Semoga Maha Tantrayana Bodhisattva Mahasattva Lian Sheng Lu Shen Yen berhasil Mendapatkan Kebijaksanaan Sang Tathagata dan Mencapai Tingkat Kesucian Arahat Patisambhidapato sebelum meninggalkan dunia ini.
50
Arya Mahayana / Re: Maha Govinda Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:28:16 am »
Demikianlah setelah tujuh hari berselang, Brahmana Maha Govinda mencukur rambut kepala-Nya dan janggut-Nya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan duniawi menjadi Pertapa. Setelah Ia berbuat demikian, tujuh Raja Kesatria yang telah dimahkotai, tujuh Brahmana kaya, tujuh ratus siswa, empat puluh istri yang mempunyai hak yang sama, beberapa ribu Kesatria, beberapa ribu Brahmana, beberapa ribu pria dan wanita mencukur rambut Mereka, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan kehidupan duniawi menjadi Pertapa. Dengan disertai rombongan ini, Brahmana Maha Govinda mengembara masuk desa, kampung atau kota, di situ Ia menjadi Raja di Raja, menjadi Brahma dari Para Brahmana, dan menjadi Dewa dari keluarga. Dan pada waktu itu, bila ada orang yang bersin atau tergelincir, Mereka menyebutkan:"Termulialah Brahmana Maha Govinda! Termulialah mentri dari tujuh Raja!"

Pada waktu itu, Brahmana Maha Govinda, selalu memancarkan cinta kasih-Nya, kasih sayang-Nya.... simpati-Nya... dan keseimbangan batinnya ke empat penjuru. Lebih lanjut, dengan batin yang penuh keseimbangan batinnya ke empat penjuru. Lebih lanjut, dengan batin yang penuh keseimbangan yang mendalam, yang luas sekali, tanpa batas, tanpa kebencian, dan tanpa permusuhan, Ia pancarkan keatas, ke bawah, ke sekeliling, ke mana-mana dan keseluruh dunia. Dan Ia mengajarkan kepada murid-muridnya jalan untuk mencapai alam Brahma.

Bagi murid-murid Maha Govinda yang mengerti semua yang diajarkan-Nya, setelah Mereka meninggal, Mereka semua terlahir kembali di alam Surga Brahma. Dan bagi Mereka yang tidak mengerti semua ajaran-Nya, setelah meninggal, ada di antara Mereka yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam Surga Parinimmitavasavatti, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam Surga Nimmanarati, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam Surga Tusita, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam Surga Yama, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam Surga Tavatimsa, dan ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam Surga Catummaharajika, sedangkan Mereka yang pencapaiannya paling rendah, terlahir kembali sebagai Gandharva. Demikianlah Mereka semua yang ikut jadi Pertapa ternyata tidak sia-sia, karena masing-masing menikmati hasil dan mendapat kemajuan."

"Apakah Sang Bhagava mengingat-Nya?"
"Ya, Saya mengingat-Nya, Pancasikha. Pada waktu itu, Saya adalah Maha Govinda. Saya mengajarkan kepada Murid-Murid-Ku 'Jalan untuk mencapai Alam Brahma'. Tetapi, Pancasikha, kehidupan spiritual itu tidak menghasilkan penglihatan, tidak menghasilkan kedamaian, tidak menghasilkan pengertian luhur dan tidak menghasilkan penerangan dan Nibbana. Pancasikha, tetapi sekarang, dengan cara 'Kehidupan Spiritual-Ku' dapat menghasilkan penglihatan, pengertian, kedamaian, pengertian luhur, penerangan dan Nibbana. Cara ini adalah 'Jalan Luhur Berunsur Delapan' , yaitu:
Pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan samadhi benar.

Pancasikha, murid-murid-Ku yang mengerti semua yang diajarkan, setelah Mereka melenyapkan semua kekotoran batin, menembus Kebenaran, merealisasikan dan mencapainya, sehingga pada masa kehidupan ini pun Mereka bebas dari Kekotoran Batin, batin Mereka menjadi Suci, penuh Kebijaksanaan dan Mereka mencapai Kesempurnaan. Dan bagi Mereka yang tidak mengerti semua apa yang Saya Ajarkan, di antara Mereka ada yang telah melenyapkan lima samyojana pertama, setelah Mereka meninggal langsung terlahir kembali dan di alam kelahiran itu, Mereka akan mencapai Nibbana dan tidak akan terlahir di alam kehidupan Kita ini. Diantara Mereka ada yang telah melenyapkan tiga samyojana dan melemahkan rasa ketidaksenangan, nafsu inderia dan kebodohan, Mereka menjadi Sakadagami yang akan terlahir sekali lagi di alam ini dan melenyapkan tiga samyojana dan menjadi Sotapanna, yang tidak akan pernah terlahir lagi di alam yang menyedihkan, dan telah pasti akan mencapai Penerangan Sempurna nanti. Pancasikha, demikianlah, Mereka semua yang meninggalkan kehidupan duniawi ternyata tidak sia-sia, karena masing-masing menikmati hasil dan mendapat kemajuan."

Demikianlah Sabda Sang Bhagava, dan Pancasikha Gandhaba bersuka cita atas Uraian Sang Bhagava, dan dengan kegembiraan dan suka cita Ia menghormat Sang Bhagava, lalu Ia meninggalkan tempat itu dengan berjalan di sebelah kanan.
Pages: 1 ... 3 4 [5] 6 7 ... 10