41
Arya Mahayana / Re: Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:34:13 am »"Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpendapat dan hanya didasarkan pada pikiran dan logika. Mereka menyatakan pendapat mereka yang didasarkan pada argumentasi mereka dan hanya dilandaskan pada kesanggupan mereka saja, sebagai berikut, 'dunia ini adalah bukan terbatas ataupun bukan tidak terbatas'. Para pertapa dan brahmana yang menyatakan pendapat pertama, kedua dan ketiga adalah salah. Karena 'dunia ini bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas'. Para bhikkhu, inilah pandangan keempat".
"Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang dianut oleh beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan "Ekstensionis" yang berpendapat dan menyatakan bahwa 'dunia adalah terbatas'. Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dan berdasarkan pada pengetahuan itu ia tidak terpikat dan tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang 'berpandangan dan bersikap berbelit-belit', bila ditanya suatu hal maka mereka akan menjawab dengan berberlit-belit sehingga membingungkan. Pandangan ini ada empat. Apakah asal mula dan dasar mereka sehingga berpendapat atau berkesimpulan demikian?"
"Pandangan pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk. Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut saya akan salah, dan kesalahanku tersebut menyebabkan saya menyesal, dan perasaan menyesal ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan disebabkan menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu". "Para bhikkhu, inilah pandangan yang pertama".
Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk', Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut maka saya akan terikat pada keadaan batin yang menyebabkan kelahiran kembali, karena ikatanku itu menyebabkan saya menyesal, dan dengan adanya perasaan ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan yang kedua".
Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk'. Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Tetapi ada pertapa dan brahmana yang pandai, cerdik, berpengalaman dalam perdebatan, pintar mencari kesalahan, pandai mengelak, yang menurut pendapatku dapat menolak spekulasi orang lain dengan kebijaksanaan mereka. Maka bilamana saya menyatakan ini baik atau itu buruk, mereka datang menghadap padaku, memintakan pendapatku, dan menunjukkan kesalahan-kesalahanku. Karena mereka bersikap demikian kepadaku, maka saya tidak sanggup memberikan jawaban. Dan hal ini akan menyebabkan saya menyesal, rasa penyesalanku ini menjadi suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga".
"Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang bodoh dan dungu. Dan karena kebodohan atau kedunguannya, maka bila ada pertanyaan yang ditanyakan kepadanya, ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan 'Bila kamu bertanya kepadaku :
Apakah ada 'loka' lain? Jikalau saya berpikir ada, saya akan menjawab begitu. Tetapi saya tidak mengatakan demikian. Dan saya tidak berpendapat begini atau begitu. Dan saya juga tidak berpendapat 'bukan kedua-duanya'. Saya tidak membantahnya. Saya tidak mengatakan ada atau tidak ada dunia lain. Demikianlah ia bersikap berbelit-belit. Begitu pula sikap dan jawaban bila ditanya masalah sebagai berikut :
1. Tidak ada dunia lain,
2. Ada dan tidak ada dunia lain,
3. Bukan ada atau pun bukan tidak ada dunia lain.
Ada makhluk yang terlahir secara opapatika tanpa melalui rahim ibu.
2. Tidak ada makhluk opapatika,
3. Ada dan tidak ada makhluk terlahir secara opapatika,
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada makhluk yang terlahir secara opapatika,
Ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
2. Tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
3. Ada dan tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
Setelah meninggal Tathagata tetap ada.
2. Setelah meninggal Tathagata tidak ada.
3. Setelah meninggal Tathagata ada dan tidak ada.
4. Setelah meninggal Tathagata bukan ada atau pun bukan tidak ada.
Para bhikkhu inilah pandangan keempat".
"Para bhikkhu, inilah pendapat atau cara yang berbelit-belit dari beberapa pertapa dan brahmana yang bila ditanya sebuah pertanyaan, maka dengan empat cara mereka menjawab berbelit-belit sehingga orang yang bertanya menjadi bingung. Demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan bersikap begitu dalam empat cara, atau menggunakan salah satu dari cara-cara tersebut. Karena tidak ada cara lain lagi yang dapat mereka lakukan".
"Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan mengenai 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan' dan menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' terjadi atau berbentuk tanpa sebab. Dalam hal ini ada dua pandangan".
"Para bhikkhu, ada beberapa dewa di alam 'Asaññasatta' yang pada saat ada pikiran yang muncul pada diri mereka, mereka meninggal atau lenyap dari alam tersebut. Demikianlah para bhikkhu, ada makhluk yang meninggal dari alam tersebut dan terlahir kembali di bumi ini. Karena hidup di bumi ini, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali bagaimana pikiran muncul dalam dirinya (ketika ia hidup sebagai makhluk Asaññasatta) pada satu kehidupannya yang lampau. Ia berkata, 'atta dan loka' ini terjadi secara kebetulan saja. Mengapa demikian? Karena dahulu saya tidak ada, tetapi sekarang saya ada. Dahulu tidak ada, sekarang ada!'. Inilah para bhikkhu, pandangan atau paham pertama yang merupakan asal mula dan dasar dari para pertapa atau brahmana yang menyatakan 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan', dan berpendapat bahwa 'atta dan loka' terjadi tanpa adanya sebab".
"Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang dianut oleh beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan "Ekstensionis" yang berpendapat dan menyatakan bahwa 'dunia adalah terbatas'. Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dan berdasarkan pada pengetahuan itu ia tidak terpikat dan tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang 'berpandangan dan bersikap berbelit-belit', bila ditanya suatu hal maka mereka akan menjawab dengan berberlit-belit sehingga membingungkan. Pandangan ini ada empat. Apakah asal mula dan dasar mereka sehingga berpendapat atau berkesimpulan demikian?"
"Pandangan pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk. Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut saya akan salah, dan kesalahanku tersebut menyebabkan saya menyesal, dan perasaan menyesal ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan disebabkan menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu". "Para bhikkhu, inilah pandangan yang pertama".
Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk', Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut maka saya akan terikat pada keadaan batin yang menyebabkan kelahiran kembali, karena ikatanku itu menyebabkan saya menyesal, dan dengan adanya perasaan ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan yang kedua".
Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan 'baik atau buruk'. Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'. Tetapi ada pertapa dan brahmana yang pandai, cerdik, berpengalaman dalam perdebatan, pintar mencari kesalahan, pandai mengelak, yang menurut pendapatku dapat menolak spekulasi orang lain dengan kebijaksanaan mereka. Maka bilamana saya menyatakan ini baik atau itu buruk, mereka datang menghadap padaku, memintakan pendapatku, dan menunjukkan kesalahan-kesalahanku. Karena mereka bersikap demikian kepadaku, maka saya tidak sanggup memberikan jawaban. Dan hal ini akan menyebabkan saya menyesal, rasa penyesalanku ini menjadi suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik tidak akan mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga".
"Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang bodoh dan dungu. Dan karena kebodohan atau kedunguannya, maka bila ada pertanyaan yang ditanyakan kepadanya, ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan 'Bila kamu bertanya kepadaku :
Apakah ada 'loka' lain? Jikalau saya berpikir ada, saya akan menjawab begitu. Tetapi saya tidak mengatakan demikian. Dan saya tidak berpendapat begini atau begitu. Dan saya juga tidak berpendapat 'bukan kedua-duanya'. Saya tidak membantahnya. Saya tidak mengatakan ada atau tidak ada dunia lain. Demikianlah ia bersikap berbelit-belit. Begitu pula sikap dan jawaban bila ditanya masalah sebagai berikut :
1. Tidak ada dunia lain,
2. Ada dan tidak ada dunia lain,
3. Bukan ada atau pun bukan tidak ada dunia lain.
Ada makhluk yang terlahir secara opapatika tanpa melalui rahim ibu.
2. Tidak ada makhluk opapatika,
3. Ada dan tidak ada makhluk terlahir secara opapatika,
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada makhluk yang terlahir secara opapatika,
Ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
2. Tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
3. Ada dan tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
Setelah meninggal Tathagata tetap ada.
2. Setelah meninggal Tathagata tidak ada.
3. Setelah meninggal Tathagata ada dan tidak ada.
4. Setelah meninggal Tathagata bukan ada atau pun bukan tidak ada.
Para bhikkhu inilah pandangan keempat".
"Para bhikkhu, inilah pendapat atau cara yang berbelit-belit dari beberapa pertapa dan brahmana yang bila ditanya sebuah pertanyaan, maka dengan empat cara mereka menjawab berbelit-belit sehingga orang yang bertanya menjadi bingung. Demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan bersikap begitu dalam empat cara, atau menggunakan salah satu dari cara-cara tersebut. Karena tidak ada cara lain lagi yang dapat mereka lakukan".
"Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan mengenai 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan' dan menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' terjadi atau berbentuk tanpa sebab. Dalam hal ini ada dua pandangan".
"Para bhikkhu, ada beberapa dewa di alam 'Asaññasatta' yang pada saat ada pikiran yang muncul pada diri mereka, mereka meninggal atau lenyap dari alam tersebut. Demikianlah para bhikkhu, ada makhluk yang meninggal dari alam tersebut dan terlahir kembali di bumi ini. Karena hidup di bumi ini, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali bagaimana pikiran muncul dalam dirinya (ketika ia hidup sebagai makhluk Asaññasatta) pada satu kehidupannya yang lampau. Ia berkata, 'atta dan loka' ini terjadi secara kebetulan saja. Mengapa demikian? Karena dahulu saya tidak ada, tetapi sekarang saya ada. Dahulu tidak ada, sekarang ada!'. Inilah para bhikkhu, pandangan atau paham pertama yang merupakan asal mula dan dasar dari para pertapa atau brahmana yang menyatakan 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan', dan berpendapat bahwa 'atta dan loka' terjadi tanpa adanya sebab".
Recent Posts