Recent Posts

Pages: 1 2 3 [4] 5 6 ... 10
31
Arya Mahayana / Re: Maha Purissa Lakkhana Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:42:25 am »
16) Tujuh tonjolan, yaitu: pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan pada badan.

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia pemberi makanan yang baik, enak, nikmat, keras dan lunak, serta minuman. Karena telah berbuat demikian, ketika Ia meninggal dunia, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali sebagai manusia di alam ini dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:

(16) Tujuh tonjolan, yaitu: Pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan pada badan.

Dengan memiliki Maha Purisa Lakkhana seperti itu, bila Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Ia menerima makanan dan minuman yang baik. Bila Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Beliau menerima yang sama. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.

Mengenai hal ini disebutkan:
'Ia pemberi makanan yang enak
Serta minuman terbaik
Kebaikan ini menyebabkan kelahiran bahagia,
Juga lama Ia hidup di Nandana (surga).
Terlahir kembali di bumi, Ia memiliki
Tujuh tonjolan.
Para ahli menyatakan:
"Ia akan menikmati makanan dan minuman terbaik:
Bukan hanya dalam kehidupan berumah-tangga --
Karena walaupun Ia meninggalkan kehidupan duniawi
Dan memotong kehidupan nafsu indera,
Makanan baik akan Ia terima!"

5) Tangan dan kaki yang halus dan lembut (manu-taluna-hattha-pado).
6) Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia dan dicintai karena empat dasar simpati: Dermawan, bicara yang menyenangkan, melakukan perbuatan berguna dan adil. Karena telah melakukan perbuatan baik seperti itu, ketika Ia meninggal dunia, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali sebagai Manusia di alam ini dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:

(5) Tangan dan kaki-Nya halus dan lembut.
(6) Tangan dan kaki-Nya bagaikan jala.

Dengan memiliki maha purissa lakkhana seperti itu, bila Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Semua pengikut-Nya: brahmana, penduduk, rakyat, bendahara, pengawal, penjaga, menteri, raja-raja lain, tuan tanah dan pelayan teratur dengan baik. Bila Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Semua pengikut-Nya: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, upasika, manusia, dewa, asura, naga dan gandharva teratur dengan baik. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.

Mengenai hal ini disebutkan:
Berdasarkan pada berdana, melakukan pertolongan,
Kata-kata yang menyenangkan, pikiran yang adil,
Bermanfaat untuk semua,
Ketika Ia meninggal terlahir kembali di surga.
Bila Ia terlahir kembali di bumi
Tangan dan kaki-Nya halus lembut,
Jari kaki dan tangan bagaikan jala
Begitulah yang dimiliki bayi.
Sangat menyenangkan melihat-Nya:
Ia akan menjadi pemimpin manusia,
Dikelilingi oleh orang yang yakin.
Ucapan yang menyenangkan, melakukan perbuatan baik,
Perbuatan bermoral dan bijaksana.
Tetapi, jika ia menolak pemuasan nafsu indera,
Sebagai penakluk, ia akan mengajarkan Jalan,
Karena gembira pada kata-kata-Nya
Semua yang mendengar-Nya akan mengikuti-Nya
Dalam jalan dhamma yang besar mau pun yang kecil!"

7) Tumit bulat seperti kerang (ussankha-pado).
14) Rambut pori-pori berwarna biru-hitam tumbuh keriting ke atas.

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia yang menjadi Guru penerang Dhamma dan kesejahteraan untuk banyak orang serta membahagiakan banyak orang, serta pembabar Dhamma. Karena telah melakukan perbuatan baik seperti itu, ketika Ia meninggal dunia, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali sebagai Manusia di alam ini dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:

(7) Tumit bulat seperti kerang,
(14) Rambut pori-pori berwarna biru-hitam tumbuh keriting ke atas.

Dengan memiliki Maha Purisa Lakkhana seperti itu, bila Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Ia menjadi kepala, yang tertinggi, terkemuka, terutama dari semua orang (duniawi). Bila Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Ia menjadi kepala, yang tertinggi, terkemuka terutama dari semua makhluk. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.

Mengenai hal ini disebutkan:
Suatu waktu Ia mengatakan semua yang baik
Dengan nyaring kepada semua manusia
Membawa berkah kepada semua makhluk,
Pemberi dhamma yang terbuka.
Karena tindakan dan perbuatan seperti itu,
Ia terlahir kembali di surga.
Terlahir kembali di bumi, Ia memiliki dua tanda,
Tanda-tanda dari kebahagiaan tertinggi:
Bulu tubuh tumbuh ke atas,
Pergelangan kaki tinggi di atas kaki
Dibentuk di bawah kulit dan daging,
Berbentuk bagus dan indah di atas.
"Jikalau Ia hidup berumah-tangga
Ia akan menjadi kaya raya dan
Tak ada orang lain yang lebih daripada-Nya:
Karena Ia akan menguasai Jambudipa
Jikalau Ia kuat sekali,
Ia meninggalkan kehidupan duniawi
Ia akan menjadi pemimpin semua makhluk hidup dan
Tak ada orang yang melebihi-Nya
Ia menjadi pemimpin dunia."

8) Kaki bagaikan kaki kijang (enijanghi).

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia yang mempunyai: keahlian, tahu cara dan pelaksanaan ilmu pengetahuan, dengan berpikir: "Apa yang dapat saya pelajari dan kuasai dengan cepat serta dapat saya praktekkan dengan cepat, tanpa keletihan?" Karena telah melakukan perbuatan baik seperti itu, ketika Ia meninggal dunia, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali sebagai Manusia di alam ini dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:

(8) Kakinya bagaikan kaki kijang.

Dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana seperti itu, bila Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Ia cepat memiliki potensi-potensi-Nya sebagai Raja, yang sesuai dan menyenangkan-Nya. Bila Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Ia akan memiliki hal-hal yang sama. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.

Mengenai hal ini disebutkan:
Sastra dan ilmu pengetahuan, cara-cara dan
Pelaksanaannya, "Dengan senang hati
Saya pelajari," kata-Nya.
Keahlian yang tidak mengganggu makhluk hidup
Dipelajari dengan cepat dan tanpa susah payah.
Berdasarkan pada perbuatan, keahlian dan kemanisan,
Maka Ia memiliki keagungan dan organ tubuh yang baik
Rambut-Nya berputar ke atas
Dari kulit yang lembut bulu tubuh lurus
Orang seperti Dia berkaki bagaikan kaki kijang:
Dikatakan: Kekayaan akan segera menjadi milik-Nya.
"Setiap bulu membawa keberuntungan,
Jikalau Ia hidup berumah-tangga.
Tetapi, jikalau Ia memilih meninggalkan keduniawian,
Hidup tak berumah-tangga,
Dengan mata-jernih, semua hal cepat Ia temukan
Sesuai dengan cara hidup yang lembut."

12) Kulit sangat licin sehingga debu tak melekat di tubuh.

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia yang sering mendatangi para pertapa dan brahmana untuk bertanya: "Apakah yang baik dan buruk? Apa yang salah dan benar? Apa perbuatan yang patut diikuti dan yang tak patut diikuti? Bilamana Saya melakukan sesuatu, apakah akibatnya penderitaan dan kesedihan atau pahalanya menyenangkan dan membahagiakan? Karena telah melakukan perbuatan baik seperti itu, ketika Ia meninggal dunia, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali sebagai Manusia di alam ini dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:

(12) Kulit sangat halus dan lembut sehingga debu tak melekat ditubuh-Nya.

Dengan memiliki Maha Purisa Lakkhana seperti itu, bila Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Ia akan menjadi amat bijaksana, di antara orang-orang (duniawi) tidak ada yang sama atau lebih tinggi kebijaksanaannya daripada-Nya. Bila Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Beliau: akan memiliki kebijaksanaan yang luas, dalam, menyenangkan, tangkas, menembus dan tajam, di antara semua makhluk: tidak ada yang sama atau lebih tinggi kebijaksanaannya daripada Beliau. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.
32
Arya Mahayana / Maha Purissa Lakkhana Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:41:42 am »
Namo Triratna
Namo Maha Purissa Lakkhana Sarva Arya Cakkravartin SamyakSambuddha

Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, Anathapindika arama, dekat kota Savatthi.
Demikianlah Sabda Sang Bhagava: "Para Bhikkhu,seorang Manusia Agung (Maha Purissa) memiliki 32 Tanda (Lakkhana).
Bagi Maha Purissa yang memiliki 32 lakkhana ini hanya ada dua kemungkinan cara hidup-Nya dan tidak ada yang lain.
Jika Ia hidup sebagai Manusia biasa, maka Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Bilamana Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi tanpa berumah tangga (Pabbaja), maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Para Bhikkhu, apakah 32 Maha Purissa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidup-Nya dan tidak ada yang lain, jika Ia hidup sebagai manusia biasa, maka Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Bilamana Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi tanpa berumah tangga (Pabbaja), maka Ia akan menjadi Arahat Samma SamBuddha, yaitu;
1) Telapak kaki rata (Suppatitthita-pado). Ini merupakan satu Lakkhana dari Maha Purissa.
2) Pada telapak kaki-Nya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
3) Tumit yang bagus (Ayatapanhi).
4) Jari-jari panjang (Digha-angali).
5) Tangan dan kaki yang lembut serta halus (Mudu-taluna).
6) Tangan dan kaki bagaikan jala (Jala-hattha-pado).
7) Pergelangan kaki yang agak tinggi (Ussankha-pado).
8 ) Kaki yang bagaikan kaki kijang (Enijanghi).
9) Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
10) Kemaluan terbungkus selaput (Kosohitavattha-guyho).
11) Kulit-Nya bagaikan perunggu berwarna emas (Suvanna-vanno).
12) Kulit-Nya sangat lembut dan halus sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit-Nya.
13) Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
14) Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
15) Potongan tubuh yang agung (Brahmuiu-gatta).
16) Tujuh tonjolan (Sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu, dan badan.
17) Dada bagaikan dada singa (Sihapubbaddha kayo).
18 ) Pada kedua bahu-Nya tak ada lekukan (Citantaramso).
19) Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigrodah.
20) Dada yang sama lebar-Nya (Samavattakkhandho).
21) Indera perasa sangat pekat ( Rasaggusuggi).
22) Rahang bagaikan rahang singa (Siha-banu).
23) Empat puluh buah gigi (Cattarisa-danto).
24) Gigi-geligi rata(Sama-danto).
25) Antara gigi-gigi tak ada celah (Avivara-danto).
26) Gigi putih bersih (Susukka-datho).
27) Lidah panjang (Pahuta-jivha).
28 ) Suara bagaikan suara Brahma, seperti suara burung kalavinka.
29) Mata biru (Abhinila netto).
30) Bulu mata lentik bagaikan bulu mata sapi (Gapakhumo).
31) Diantara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
32) Kepala bagaikan beserban (Unhisasiso).
Para Bhikkhu, inilah 32 Maha Purissa Lakkhana, yang hanya ada 2 kemungkinan cara hidup-Nya dan tidak ada yang lain.
jika Ia hidup sebagai Manusia biasa, maka Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Bilamana Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi tanpa berumah tangga (Pabbaja), maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha.Maha Purisa lakkhana ini diketahui oleh para pertapa, tetapi mereka tidak tahu karena apa yang menghasilkan Maha Purisa lakkhana itu.

1)Telapak Kaki Rata (Suppatitthita-pado)

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan besar dengan maksud yang baik; tak tergoncangkan melakukan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan dan pikiran, dermawan, disiplin diri, melaksanakan hari Uposatha; menghormati orang tua, para pertapa, pendeta dan para pemimpin, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat terpuji lainnya. Karena melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti itu, menimbun dan mengumpul kamma-kamma baik, setelah Ia meninggal dunia, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:

(1) Telapak kaki rata (Suppatitthita-pado), sehingga Ia menempatkan telapak kaki-Nya rata di tanah, mengangkat-Nya sama rata, dan menyentuh tanah sama rata dengan semua telapak kaki-Nya.

Dengan memiliki ini, jika Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Ia tidak akan terganggu oleh kemauan jahat manusia. Bilamana Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Ia tidak dapat di ganggu oleh: musuh atau gangguan dari dalam maupun luar, keserakahan, kebencian dan kebodohan, pertapa, brahmana, dewa, mara, brahma atau makhluk apa pun di dunia ini. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.

Mengenai hal ini disebutkan:
"Kejujuran, kebenaran, jinak dan sepi,
Murni dan bermoral (sila, melaksanakan Uposatha sila)
Berdana, tak melukai, selalu damai
Ia melaksanakan tugas maha besar ini
Pada akhir hidup-Nya Ia ke surga
Hidup dengan gembira dan bahagia
Terlahir kembali di bumi
Dengan telapak kaki rata menyentuh tanah
Para ahli menyatakan:
"Bagi Dia yang menapak rata di tanah,
Tak ada gangguan yang dapat menghalangi jalan-Nya,
Jikalau Ia hidup berumah-tangga,
Atau jikalau Ia meninggalkan kehidupan duniawi.
Inilah tanda yang jelas menunjukkan-Nya
Sebagai orang biasa, tidak ada halangan,
Tidak ada lawan yang dapat melawan-Nya.
Tidak ada kekuatan manusia yang dapat
Menghilangkan buah kamma-Nya.
Atau jikalau Ia memilih kehidupan tanpa berumah-tangga
Meninggalkan kehidupan duniawi, dengan pandangan jelas -- Ia akan menjadi pemimpin manusia
Tanpa bandingan, tak akan terlahir kembali:
Inilah Hukum Kesunyataan(dhammata) bagi-Nya."

2)Telapak kaki terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk yang sempurna.

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia yang telah hidup demi kebahagiaan, menghilangkan rasa takut dan ancaman, memberikan perlindungan dan naungan yang benar serta menyediakan kebutuhan orang banyak. Karena melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti itu, ketika Ia meninggal, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:


(2) Telapak kaki-Nya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk yang sempurna.

Dengan memiliki Maha Purisa Lakkhana ini, bila Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Ia memiliki banyak pengikut: brahmana, penduduk, rakyat, bendahara, pengawal, penjaga, menteri, raja-raja lain, tuan tanah dan pelayan. Bila Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Ia memiliki pengikut yang banyak: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, upasika, manusia, dewa, asura, naga dan gandharva. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.

Mengenai hal ini disebutkan:
Dalam perjalanan waktu, dalam kehidupan-kehidupan yang lampau,
Sebagai Manusia melakukan banyak perbuatan baik,
Menghilangkan ketakutan dan kecemasan,
Ia melaksanakan pekerjaan besar ini,
Pada akhir hidupnya, Ia ke surga,
Hidup gembira dan bahagia
Terlahir kembali di bumi, telapak kaki-Nya
Memiliki tanda lingkaran-lingkaran
Masing-masing dengan seribu ruji, sempurna
Melihat banyak tanda pahala ini,
Para ahli menyatakan:
"Pengikut-Nya akan besar,
Semua lawan ditaklukkan-Nya.
Ini jelas ditunjukkan oleh tanda lingkaran.
Jika Ia meninggalkan kehidupan duniawi,
Ia akan memutar Roda dan menguasai dunia.
Para kesatria akan menjadi pengikut-Nya.
Semua pembantu dalam kekuasaan-Nya.
Tetapi, jikalau Ia memilih hidup tanpa berumah tangga:
Meninggalkan kehidupan dunia dengan pandangan jelas --
Para manusia, dewa, asura, sakka, raksasa
Gandharva, naga, garuda dan
Binatang berkaki empat akan melayani-Nya pula,
Tak tertandingi oleh para dewa dan manusia
Demikian pula tentang keagungan-Nya."

3) Tumit yang bagus.
4) Jari-jari panjang.
15) Potongan tubuh yang agung.

Para bhikkhu, pada kehidupan lampau mana pun, pada kelahiran mana pun atau di mana pun Tathagata berada, telah terlahir sebagai Manusia, menolak melakukan pembunuhan dan pantang melakukannya, meletakkan pemukul dan pedang, hidup dengan baik hati dan kasih sayang, rasa persahabatan dan simpati kepada semua makhluk. Karena telah melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti itu, ketika Ia meninggal dunia, Ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, hidup melebihi dewa lain dalam sepuluh hal, yaitu: lamanya kehidupan surga, keindahan, kebahagiaan, kemegahan, pengaruh, penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapnya dan sentuhan (kontak). Setelah meninggal di alam surga, Ia terlahir kembali di alam ini sebagai manusia dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana:

(3) Tumit yang bagus.
(4) Jari-jari kaki dan tangan yang panjang.
(15) Potongan tubuh yang agung.

Dengan memiliki Maha Purissa Lakkhana seperti itu, bila Ia hidup berumah-tangga, Ia akan menjadi Raja Dunia (Cakkavati), Raja berdasarkan Raja-Dhamma, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyat, pemilik tujuh Ratna. Tujuh Ratna itu adalah: Cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang. Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh. Namun Ia akan menaklukkan muka Bumi bukan dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran. Ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencana. Apa manfaat yang didapat-Nya sebagai Cakkavati? Ia berusia panjang, selama hidupnya tidak ada orang lain yang dapat membunuh-Nya. Bila Ia meninggalkan kehidupan duniawi, maka Ia akan menjadi Arahat Samyak SamBuddha. Apa manfaat yang di dapat-Nya sebagai Samyak Sambuddha? Ia berusia panjang, dan tidak ada lawan pertapa, brahmana, dewa, mara, brahma atau seorang pun yang dapat membunuh-Nya. Itulah manfaat-Nya sebagai Buddha. Inilah yang dinyatakan oleh Sang Bhagava.

Mengenai hal ini disebutkan:
Mengetahui dengan baik tentang ketakutan akan kematian
Ia menolak membunuh makhluk
Kebaikan ini menyebabkan kelahiran di surga,
Tempat Ia bergembira karena pahala.
kemudian Ia terlahir kembali di bumi
Pada tubuh-Nya terdapat tiga tanda:
Tumit-Nya penuh dan panjang
Tubuh-Nya tegap bagaikan Brahma
Menarik dilihat, potongan tubuh sempurna
Jari-jari halus, lembut dan panjang.
Dengan tiga tanda yang terbaik ini
Diketahui bahwa anak akan berumur panjang.
Panjang kehidupan-Nya bila berumah-tangga
Lebih panjang kehidupan-Nya bila tak berumah-tangga
Dengan mengembangkan iddhi (iddhi bhavana)
Demikianlah makna dari tiga tanda."
33
Arya Mahayana / Re: Cakravartin Simhanada Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:40:31 am »
Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan Kebajikan: tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak berzinah, tidak berdusta, tidak memfitnah, tidak mengucapkan kata-kata kasar, tidak membual, tidak serakah, tidak membenci, tidak berpandangan sesat, berbakti kepada ke dua orang tua, menghormati Para Samana dan Pertapa serta patuh kepada Pemimpin masyarakat. Karena mereka melaksanakan Kebajikan-Kebajikan itu, maka batas usia kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 80 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 160 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 160 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 320 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 320 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 640 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 640 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 2.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 4.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 8.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 20.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 20.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun.

Para Bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 80.000 tahun, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini, hanya akan ada tiga macam penyakit-- keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, Jambudvipa akan makmur dan jaya, desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan orang-orang ini, Jambudvipa -- bagaikan avici -- akan penuh dengan penduduk bagaikan hutan yang di penuhi semak belukar. Pada masa kehidupan orang-orang ini, Kota Baranasi yang kita kenal sekarang akan bernama Ketumati yang merupakan kota Kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup. Pada masa kehidupan orang-orang ini, di Jambudvipa akan terdapat 84.000 kota dengan Ketumati sebagai Ibu Kota.

Para Bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati, Ibu Kota Kerajaan, akan muncul Seorang Cakkavatti bernama Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan Kebenaran, Penguasa Empat Penjuru Dunia, Penakluk, Pelindung Rakyat-Nya, dan Pemilik Tujuh Macam Permata, yaitu:"Cakka, Gajah, Kuda, Permata, Wanita (istri), Kepala Rumah Tangga dan Panglima Perang. Ia akan memiliki keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan Ksatriya-Ksatriya digjaya, Penakluk musuh-musuh. Ia akan menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, tetapi Ia menguasai dunia ini bukan dengan kekerasan atau dengan pedang, melainkan dengan Kebenaran.

Para Bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul Seorang Buddha yang bernama Maitreya, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagiah, Maha Tahu Dunia, Sang Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia, Yang sama seperti Saya sekarang. Ia dengan Diri-Nya Sendiri akan mengetahui dengan Sempurna dan melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan para Dewa, Brahma, mara, serta Para Samana, Para Pertapa, Para Pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang Saya tahu dengan Sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma Kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan dalam Kata-Kata dan Semangat, Kehidupan Suci akan dibina dan dipaparkan dengan Sempurna, dengan penuh Kesuciaan, seperti yang Saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu Bhikkhu Sangha, seperti Saya sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus Bhikkhu Sangha.

Para Bhikkhu, Raja Sankha akan membangun kembali Tempat Suci yang pernah dibangun oleh Raja Maha Panada. Raja Sankha akan tinggal di Tempat Suci itu, tetapi Tempat itu akan diberikan-Nya sebagai Dana kepada Para Samana, Para Pertapa, Para Pengembara, Para Pengemis, dan Mereka Yang Membutuhkan. Ia Sendiri akan mencukur Rambut dan Janggut, mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan Kehidupan berumah tangga dan menjadi Siswa dari Sang Bhagava Arahat SamyakSamBuddha Maitreya. Setelah Raja Sankha meninggalkan kehidupan duniawi, Ia akan hidup menyendiri dan dengan usaha sungguh-sungguh, tekad, penuh kewaspadaan berusaha menguasai Diri-Nya. Tidak lama kemudian, Ia akan mencapai Tujuan Yang Merupakan Cita-Cita dari Mereka yang meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai Pertapa. Masih dalam kehidupan dalam dunia ini, Ia akan mencapai, mengetahui dan merealisasi Tujuan Akhir dari Penghidupan Suci.

Para Bhikkhu, jadikanlah Diri-Mu sebagai Pelita, berlindunglah pada Diri-Mu Sendiri dan jangan berlindung pada orang lain. Hiduplah dalam Dhamma Kebenaran yang sebagai Pelita-Mu, dengan Dhamma sebagai Pelindung-Mu dan jangan berlindung pada yang lain.

Para Bhikkhu, tetapi bagaimana Seorang Bhikkhu menjadi Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain?

Para Bhikkhu, dalam hal ini, Seorang Bhikkhu mengamati tubuh (kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang Bhikkhu mengamati perasaan (vedana) sebagai perasaan dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang Bhikkhu mengamati kesadaran (citta) sebagai kesadaran dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia dan mengamati Dhamma sebagai Dhamma dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidak senangan dalam dunia.

Para Bhikkhu, beginilah Seorang Bhikkhu menjadikan Diri-Nya sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, menjadikan Diri-Nya sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada hal yang lain. Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain.

Para Bhikkhu, jalanlah di lingkungan-Mu (gocara) Sendiri, dimana Para Pendahulu-Mu berjalan. Jikalau Kamu Sekalian berjalan di Tempat Itu, maka Usia akan bertambah, Kecantikan akan bertambah, Kebahagiaan akan bertambah, Kekayaan akan bertambah dan Kekuatan akan bertambah.

Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Usia? Dalam hal ini, Seorang Bhikkhu mengembangkan Empat Dasar Kemampuan Batin (iddhipada) dengan membangkitkan kegemaran (chanda), semangat (viriya), kesadaran (citta), dan penyelidikan (vimamsa) tentang pelaksanaan, usaha dan meditasi. Dengan dikembangkannya Empat Iddhipada ini, maka bila Ia menginginkan, Ia dapat hidup selama satu Kalpa (Kappa) di mana Ia hidup. Inilah yang dimaksud dengan Usia.

Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kecantikan? Dalam hal ini, Seorang Bhikkhu melaksanakan Peraturan-Peraturan Moral (Sila), mengendalikan Diri-Nya sesuai dengan Patimokha, sempurna dalam sikap dan tingkah laku; Ia melihat bahaya sekalipun itu hanya kesalahan kecil dan Ia menghindarkan Diri dari kesalahan itu. Ia melatih diri dengan melaksanakan Sila. Inilah yang dimaksud dengan Kecantikan.

Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kebahagiaan? Dalam hal ini, Seorang Bhikkhu menjauhkan Diri dari pemuasan nafsu, bebas dari pikiran-pikiran jahat, mencapai dan tetap berada dalam Jhana 1 dengan memiliki usaha untuk menangkap objek (vitakka), objek dikuasai (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) dan ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan vitakka dan vicara, Ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana 2 dengan diliputi kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) dan ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan piti, Ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana 3 dengan diliputi kebahagiaan (sukha) dan ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan kebahagiaan (sukha), Ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana 4 dengan pikiran terpusat dan penuh dengan ketenangan batin.

Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kekayaan? Dalam hal ini, Seorang Bhikkhu membiarkan Batin-Nya diliputi oleh cinta kasih (metta) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh penjuru dunia dipancarkan cinta kasih-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati, Ia pun membiarkan Diri-Nya diliputi dengan kasih sayang atau welas asih (karuna) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh penjuru dunia dipancarkan kasih sayang atau welas asih-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati, Ia pun membiarkan Diri-Nya diliputi dengan simpati (mudita) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh penjuru dunia dipancarkan simpati-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati, dan Ia pun membiarkan Diri-Nya diliputi dengan keseimbangan batin (upekkha) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh dunia dipancarkan keseimbangan batin-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati. Inilah yang dimaksud dengan Kekayaan.

Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kekuatan?

Dalam hal ini, Seorang Bhikkhu melenyapkan kekotoran batin (asava) sehingga pada kehidupan sekarang ini Ia akan mencapai dan tetap berada dalam Keadaan Batin Yang Suci dan Kebijaksanaan Yang Suci.
Inilah yang dimaksud dengan Kekuatan.

Para Bhikkhu, tidak ada kekuatan yang sulit sekali ditaklukkan selain kekuatan mara. Tetapi Perbuatan Baik (Kusala) yang dikembangkan Sendiri (hingga mencapai kearahatan) akan merupakan cara yang paling baik untuk menaklukkannya.

Demikianlah yang diucapkan oleh Sang Buddha. Para Bhikkhu menjadi gembira setelah mendengar Uraian Sang Bhagava.

Om Maha Maitri Maitreya Svaha
34
Arya Mahayana / Re: Cakravartin Simhanada Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:39:55 am »
Demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan... pembunuhan... hingga berdusta menjadi biasa. Karena berdusta telah menjadi biasa maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 40.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 20.000 tahun.

Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan 20.000 tahun ada orang yang tidak mencuri tetapi ada orang tertentu yang melaporkan hal ini kepada Raja:"Raja, ada orang yang mencuri", demikianlah ia mengatakan kata-kata jahat tentang orang itu.

Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah berkembang. Karena memfitnah berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 20.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000 tahun.

Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan 10.000 tahun ada yang cantik dan ada yang buruk, sehingga mereka yang berparas buruk merasa iri terhadap yang berparas cantik. Akibatnya orang-orang yang berparas buruk ini berzinah dengan istri-istri tetangga mereka.

Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah... berzinah berkembang. Karena perzinahan berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 10.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 5.000 tahun.

Pada masa kehidupan dari orang-orang yang batas usia kehidupan mereka hanya 5.000 tahun berkembang dua hal yaitu kata-kata kasar dan membual. Karena ke dua hal ini berkembang, maka batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 5.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang hanya 2.500 tahun dan ada yang hanya 2.000 tahun.

Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 2.500 tahun, iri hati dan dendam berkembang. Karena ke dua hal ini berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 2.500 tahun dan 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 1.000 tahun.

Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 1.000 tahun, pandangan sesat (miccha ditthi) muncul dan berkembang. Karena pandangan sesat ini berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan dan kecantikan pada masa itu adalah 1.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 500 tahun.

Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 500 tahun, ada tiga hal yang berkembang, yaitu: berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu. Karena tiga hal ini berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 500 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang 250 tahun dan ada yang hanya 200 tahun.

Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 250 tahun, hal sebagai berikut ini berkembang-- kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada Para Samana dan Pertapa dan kurang patuh kepada kepada Pemimpin masyarakat.

Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah... perzinahan... kata-kata kasar dan membual... iri hati dan dendam... pandangan sesat... berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu... hingga kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada Para Samana dan Pertapa dan kurang patuh kepada Pemimpin masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal-hal ini berkembang dan meluas, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 100 tahun.

Para Bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur lima tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka ini, biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik. Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik-- Siapa yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada Para Samana dan Pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan
kepada Para Pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada Para Samana dan Pertapa serta patuh kepada Para Pemimpin, namun pada masa orang-orang yang batas usia kehidupan mereka hanya 10 tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.

Para Bhikkhu, diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah yang merupakan istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan kambing, domba, burung, babi, anjing dan serigala.

Diantara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan menjadi hukum, perasaan yang benci hebat, dendam yang kuat serta keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya... Hal ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.

Para Bhikkhu, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka 10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini, mereka akan melihat setiap orang lain sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir:"Orang ini adalah binatang liar". Dengan pedang mereka saling membunuh.

Sementara itu, ada orang-orang tertentu yang berpikir:"Sebaiknya kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam belukar, ke dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam gua gunung dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan". Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan gua, mereka saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan berkata:"O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih hidup!"

Para Bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan-keinginan sebagai berikut:"Karena kita melakukan cara-cara yang jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara. Marilah kita berbuat Kebajikan-Kebajikan. Sekarang, Kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan Perbuatan Baik yang dapat kita lakukan". Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan Kebajikan ini, maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 20 tahun.

Para Bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun:"Sekarang, karena kita mengikuti dan melaksanakan Kebajikan, maka batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan Kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak memfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan sesat, kita berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut, yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada orang tua kita, kita menghormati Para Samana dan Pertapa serta kita patuh kepada Pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan Kebajikan-Kebajikan ini".
35
Arya Mahayana / Re: Cakravartin Simhanada Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:39:14 am »
Para Bhikkhu, kemudian Cakka Ratana terjun ke dalam lautan timur dan muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah bagian selatan dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja pergi bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah dan Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di Tempat itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah bagian selatan datang menemui Cakkavatti dengan berkata :"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk, jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah, jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan musuh di daerah bagian selatan menjadi takklukkan Raja Cakkavatti.

Demikian pula Cakka Ratana terjun ke dalam lautan selatan dan muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah bagian utara dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja pergi bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah dan Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di Tempat itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah bagian utara datang menemui Cakkavatti dengan berkata :"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk, jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah, jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan musuh di daerah bagian utara menjadi takklukkan Raja Cakkavatti.

Setelah Cakka Ratana menaklukkan seluruh dunia hingga ke batas lautan, Cakka Ratana kembali ke Kota Kerajaan dan diam, sehingga orang-orang berpikir bahwa Cakka Ratana telah tetap tidak akan bergerak di depan Gedung Pengadilan di Gerbang Istana Raja Cakkavatti. Cakka Ratana menambah KeAgungan Istana dengan berada di depan Gerbang Istana Raja Cakkavatti.

Para Bhikkhu, demikian pula Raja Cakkavatti kedua... Raja Cakkavatti ketiga... Raja Cakkavatti keempat... Raja Cakkavatti kelima... Raja Cakkavatti keenam... dan Raja Cakkavatti ketujuh setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun dan setelah ribuan tahun, Beliau memerintah Seseorang dengan berkata:"Bilamana Kau melihat Cakka Permata Surgawi (Dibba Cakka Ratana) telah terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya, maka beritahukanlah Hal itu kepada-Ku".

"Baiklah, Raja," jawab Orang itu.

Setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun dan setelah ribuan tahun, Orang itu melihat bahwa Cakka Ratana Surgawi telah terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Ketika melihat Kejadian ini, Ia pergi menghadap Raja Cakkavatti dan melaporkan apa yang telah dilihat-Nya.

Para Bhikkhu, Raja Cakkavatti memanggil Putra-Nya Yang Tertua dan berkata :"Anak-Ku, dengarkanlah, Cakka Ratana Surgawi telah terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Juga telah diberitahukan kepada-Ku:'Bilamana Cakka Ratana Surgawi telah terbenam dan bergeser dari tempat-Nya, maka Raja Cakkavatti tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati kenikmatan duniawi, tibalah saatnya bagi-Ku untuk mencari Kebahagiaan Surgawi. Anak-Ku, pimpinlah dunia ini yang sampai di batas lautan. Karena Saya akan mencukur rambut serta janggut-Ku, mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa".

Demikianlah setelah Raja Cakkavatti menyerahkan Tahta Kerajaan kepada Putra-Nya, Ia mencukur rambut dan janggut-Nya, mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa. Pada Hari Ke-Tujuh, Cakka Ratana Surgawi lenyap.

Kemudian Seseorang menghadap Raja dan melapor kepada Beliau dengan berkata :"Raja, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka Ratana Surgawi telah lenyap !" ketika Raja mendengar berita ini, Ia menjadi sedih dan berdukacita, tetapi Ia tidak pergi menemui Pertapa Raja untuk menanyakan Roda Kewajiban Maha Raja Yang Suci. Dengan idenya dan caranya sendiri Ia memerintah rakyatnya dan rakyatnya diperintah seperti itu, yaitu cara yang berbeda dengan apa yang mereka ikuti dahulu, menjadi tidak sukses seperti apa yang mereka biasa capai di masa Raja-Raja Terdahulu yang melaksanakan Kewajiban Maha Raja Yang Suci dari Seorang Raja Cakkavatti.

Para Bhikkhu, kemudian Para Menteri, Para Pegawai Istana, Para Pejabat Keuangan, Para Pengawal dan Penjaga serta Orang-Orang yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantra pergi menemui Raja dan berkata:"Wahai Raja, rakyatmu yang Raja perintah berdasarkan ide-Mu dan cara-Mu sendiri, yang berbeda dengan cara-cara yang mereka ikuti dahulu tidak sukses seperti apa yang mereka biasa capai di masa Raja-Raja Terdahulu yang melaksanakan Kewajiban Maha Raja Yang Suci. Dalam Kerajaan ini ada Para Menteri, Para Pegawai Istana, Para Pejabat Keuangan, Para Pengawal dan Penjaga serta Orang-Orang yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantra-- Semua Kami ini dan yang lain-lain-- memiliki Pengetahuan tentang Kewajiban Maha Raja Yang Suci dari Raja Cakkavatti, apabila Raja menanyakan hal itu kepada Kami, maka Kami akan menerangkan-Nya".

Para Bhikkhu, kemudian Raja mempersilakan Para Menteri dan Orang-Orang lainnya duduk, setelah itu Raja bertanya kepada Mereka tentang Kewajiban Maha Raja Yang Suci dari Raja Cakkavatti. Mereka menerangkan Hal itu kepada Beliau. Ketika Raja telah mendengar hal itu, Beliau memperhatikan, menjaga dan melindungi rakyat-Nya dengan baik, tetapi Ia tidak memberikan dana kepada orang-orang miskin. Karena Ia tidak berdana kepada orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah.

Ketika kemiskinan telah meluas, seorang tertentu mengambil barang yang tidak diberikan kepadanya, perbuatan ini disebut mencuri. Ia ditangkap orang-orang dan ia dihadapkan kepada Raja dan mereka berkata:"Raja, orang ini telah mengambil barang yang tidak diberikan kepadanya, perbuatan itu adalah mencuri".

Lalu Raja bertanya sebagai berikut kepada orang itu:"Apakah benar bahwa kau telah mengambil barang yang tidak diberikan kepadamu, dan dengan demikian kamu telah melakukan perbuatan yang disebut mencuri?" "Benar, Raja". "Mengapa Kau melakukannya?" "Raja, saya tak memiliki sesuatu untuk mempertahankan hidupku".

Kemudian Raja memberikan dana kepada orang itu dengan berkata:"Dengan dana ini, kau dapat menyambung hidupmu, peliharalah orang tuamu, anak-anakmu dan istrimu. Kerjakanlah pekerjaanmu dan berdanalah selalu kepada Para Samana dan Pertapa, karena perbuatan ini berpahala untuk terlahir kembali di alam surga".

"Baiklah, Raja", jawab orang itu.

Para Bhikkhu, kemudian ada orang lain mencuri. Ia ditangkap orang-orang dan mereka membawanya menghadap kepada Raja, mereka berkata:"Raja, orang ini telah mencuri". Raja bertanya kepada orang itu dan Beliau melakukan perbuatan yang sama seperti yang Beliau lakukan kepada pencuri yang lalu, dengan memberikan dana kepada orang itu.

Para Bhikkhu, orang-orang mendengar bahwa bagi mereka yang mencuri mendapat dana dari Raja. Karena mendengar hal ini, mereka berpikir:"Marilah kita mencuri". Di antara mereka itu ada orang tertentu yang melakukannya. Orang ini ditangkap dan dibawa kehadapan Raja. Raja bertanya kepada orang tersebut:"Apa sebab kau mencuri?"

"Saya mencuri sebab tak dapat mempertahankan hidupku."

Namun Raja berpikir:"Jika saya memberikan dana kepada setiap orang yang mencuri maka pencuri akan bertambah banyak. Saya harus menghentikan perbuatan ini, ia harus diganjar dengan hukuman berat, yaitu kepalanya dipancung". Selanjutnya Raja memerintah bawahannya dengan berkata:"Perhatikanlah, ikatlah tangan orang ini kebelakang tubuhnya dan ikatlah dengan kencang. Gunduli kepalanya dan bawalah dia berkeliling di sertai genderang yang nyaring ke jalan-jalan, kepersimpangan-persimpangan jalan. Bawalah dia keluar melalui gerbang selatan dan berhentilah di selatan kota. Ganjarlah dia dengan hukuman terberat, yaitu kepalanya dipancung".

"Baiklah, Raja", jawab orang-orang itu dan mereka melaksanakan perintah itu.

Para Bhikkhu, pada waktu itu telah banyak orang yang mendengar bahwa orang yang mencuri dihukum mati. Karena telah mendengar hal ini, maka beberapa orang tertentu berpikir:"Sekarang kitapun harus menyediakan pedang tajam dan orang-orang yang barangnya kita ambil dengan tanpa mereka berikan-- perbuatan yang disebut mencuri-- kita hentikan mereka dengan kepala mereka kita pancung".

Selanjutnya, mereka mempersenjatai diri mereka dengan pedang-pedang tajam, lalu mereka pergi merampok di desa-desa, di kampung-kampung dan di kota-kota serta di jalan-jalan. Orang-orang yang mereka rampoki mereka bunuh dengan kepala dipancung.

Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan kepada orang yang miskin maka kemelaratan meluas. Karena kemelaratan bertambah, maka pencuri bertambah. Karena pencuri bertambah, maka kekerasan berkembang dengan cepat. Di sebabkan adanya kekerasan yang meluas, maka pembunuhan menjadi biasa. Karena pembunuhan terjadi, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 80.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 40.000 tahun.

Selanjutnya, diantara orang-orang yang batas usia kehidupan 40.000 tahun ada yang mencuri. Pencuri ditangkap oleh orang-orang dan dia dihadapkan kepada Raja. Orang-orang itu memberitahukan kepada Raja dengan berkata:"Raja, orang ini telah mencuri".

Raja bertanya kepada orang itu:"Apakah benar bahwa kau telah mencuri?"

"Tidak, Raja", jawabnya. Dengan jawaban ini, orang itu telah berdusta dengan sengaja.
36
Arya Mahayana / Cakravartin Simhanada Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:38:38 am »
CAKKAVATTI SIHANADA SUTTA
Sutta Auman Singa Raja Pemutar Roda Dharma

Om Vajrasattva Hum
Om Ah Hum Benza Guru Padma sambhava Sarva Siddhi Hum
Om Ratna Sambhava Tram

Demikian yang telah Kami dengar :

Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di Matula dalam Kerajaan Magadha. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada Para Bhikkhu :"Para Bhikkhu". Para Bhikkhu menjawab:"Ya, Bhante". Kemudian Sang Bhagava berkata :

"Para Bhikkhu, jadikanlah Diri-Mu sebagai Pelita, berlindunglah pada Diri-Mu Sendiri dan jangan berlindung pada yang lain; hiduplah dalam Dhamma sebagai Pelita-Mu, Dhamma sebagai Pelindung-Mu dan jangan berlindung pada yang lain".

Para Bhikkhu, tetapi bagaimanakah Seorang Bhikkhu menjadi Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain ? Bagaimana Ia hidup dalam Dhamma yang sebagai Pelita bagi Diri-Nya dan tidak berlindung pada yang lain ?

Para Bhikkhu, dalam hal ini Seorang Bhikkhu mengamati tubuh (kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang Bhikkhu mengamati perasaan (vedana) sebagai perasaan dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang Bhikkhu mengamati kesadaran (citta) sebagai kesadaran dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia dan Seorang Bhikkhu mengamati Dhamma sebagai Dhamma dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidak senangan dalam dunia.

Para Bhikkhu, beginilah Seorang Bhikkhu menjadikan Diri-Nya sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, menjadikan Diri-Nya sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada hal yang lain. Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain.

Para Bhikkhu, jalanlah di lingkungan-Mu (gocara) Sendiri, yang pernah dijalani oleh Para Pendahulu-Mu. Jikalau Kamu Sekalian berjalan di Tempat Itu, maka mara tidak akan mendapat tempat untuk di tempati dan tidak ada tempat untuk dihancurkan. Sesungguhnya dengan mengembangkan Kebaikan, maka Jasa-Jasa bertambah-tambah.

Para Bhikkhu, pada zaman dahulu, ada Seorang Maha Raja Dunia (Cakkavatti) yang bernama Dalhanemi, Yang Jujur, Memerintah Berdasarkan Kebenaran, Raja Dari Empat Penjuru Dunia, Penakluk, Pelindung Rakyat-Nya, Pemilik Tujuh Macam Permata. Ke Tujuh Macam Permata itu adalah Cakka (Cakra), Gajah, Kuda, Permata, Wanita, Kepala Rumah Tangga, dan Penasehat. Ia memiliki Keturunan lebih dari Seribu Orang yang merupakan Ksatriya-Ksatriya Perkasa Penakluk musuh. Ia menguasai seluruh dunia sampai ke batas lautan, yang ditaklukkan-Nya bukan dengan kekerasan atau dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran (Dhamma).

Para Bhikkhu, setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan tahun, Raja Dalhanemi memerintah Seseorang dengan berkata:"Bilamana Kau melihat Cakka Permata Surgawi (Dibba Cakka Ratana) telah terbenam sedikit dan telah bergeser dari tempat-Nya, maka beritahukanlah Hal itu kepada-Ku".

"Baiklah, Raja," jawab Orang itu.

Setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan tahun, Orang itu melihat bahwa Cakka Ratana Surgawi telah terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Setelah Ia melihat Kejadian ini, Ia pergi menghadap Raja Dalhanemi dan melapor:"Maha Raja, ketahuilah bahwa Cakka Ratana Surgawi telah terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya".

Para Bhikkhu, Raja Dalhanemi memanggil Putra Tertua dan berkata :"Anak-Ku, dengarkanlah, Cakka Ratana Surgawi telah terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Juga telah diberitahukan kepada-Ku:'Bilamana Cakka Ratana Surgawi dari Maha Raja Dunia (Cakkavatti) terbenam dan bergeser dari tempat-Nya, maka Raja itu tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati kenikmatan duniawi. Anak-Ku, pimpinlah dunia ini sampai di batas lautan. Karena Saya akan mencukur rambut serta janggut-Ku, mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa".

Para Bhikkhu, demikianlah setelah Raja Dalhanemi menyerahkan Tahta Kerajaan kepada Putra-Nya, Ia mencukur rambut serta janggut-Nya, mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa. Pada Hari Ke-Tujuh, Cakka Ratana Surgawi lenyap.

Kemudian Seseorang menghadap Raja dan melapor kepada Beliau dengan berkata :"Raja, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka Ratana Surgawi telah lenyap !"

Para Bhikkhu, ketika Raja mendengar kabar itu, Ia menjadi sedih dan berdukacita. Lalu Ia pergi menemui Pertapa Raja dan berkata:"Tuan-Ku, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka Ratana Surgawi telah lenyap".

Setelah Raja berkata demikian, Pertapa Raja menjawab:"Anak-Ku, janganlah bersedih dan berdukacita karena tidak ada hubungan keluarga antara Kau dan Cakka Ratana Surgawi. Tetapi, Anak-Ku, putarlah Roda Kewajiban Maha Raja Yang Suci dan pada hari Uposatha di bulan purnama, Kau membasuh Kepala-Mu serta melaksanakan Uposatha di Teras utama pada tingkat atas Istana, maka Cakka Ratana Surgawi akan muncul lengkap dengan seribu ruji, roda dan as serta bagian-bagian lain".

"Tetapi, Tuan-Ku, apakah yang dimaksud dengan Roda Kewajiban Maha Raja Yang Suci itu ?"

"Anak-Ku, hiduplah dalam Kebenaran; berbakti, hormati dan bersujudlah pada Kebenaran, pujalah Kebenaran, sucikanlah Diri-Mu dengan Kebenaran, jadikanlah Diri-Mu Panji Kebenaran dan Tanda Kebenaran, jadikanlah Kebenaran sebagai Tuan-Mu. Perhatikan, jaga dan lindungilah dengan baik Keluarga-Mu, Tentara, Para Bangsawan, Para Menteri, Para Rohaniawan Berumah Tangga, Para Penduduk kota dan desa, Para Samana dan Pertapa, serta Binatang-Binatang. Jangan biarkan kejahatan terjadi di dalam Kerajaan-Mu. Bila dalam Kerajaan-Mu ada orang yang miskin, berilah dia dana. Anak-Ku, apabila Para Samana dan Pertapa dalam Kerajaan-Mu meninggalkan minuman keras yang menyebabkan kekurang waspadaan dan Mereka sabar serta lemah lembut, menguasai Diri, menenangkan Diri serta menyempurnakan Diri Mereka masing-masing, lalu selalu datang menemui-Mu untuk menanyakan kepada-Mu apa yang baik dan apa yang buruk, perbuatan yang pantas dilakukan, perbuatan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat di masa yang akan datang; Kau harus mendengar apa yang akan Mereka katakan dan Kau harus menghalangi Mereka berbuat jahat serta anjurkanlah Mereka berbuat baik. Anak-Ku, inilah Roda Kewajiban Maha Raja Yang Suci".

"Baiklah, Tuan-Ku," jawab Raja. Ia patuh melaksanakan Roda Kewajiban Maha Raja Yang Suci. Pada Hari Uposatha, Raja membasuh Kepala-Nya dan melaksanakan Uposatha di Teras utama pada tingkat atas Istana. Kemudian Cakka Ratana Surgawi muncul lengkap dengan seribu ruji, roda, as serta bagian-bagian lain. Ketika Raja melihat Kejadian ini, Ia berpikir :"Telah diberitahukan kepada-Ku bahwa Raja yang melihat
Cakka Ratana Surgawi yang muncul, maka Ia menjadi Cakkavatti (Maha Raja Dunia Pemutar Roda Agung). Semoga Saya menjadi Penguasa dunia !"

Para Bhikkhu, kemudian Raja bangkit dari tempat duduk-Nya, membuka jubah dari bagian salah satu bahu-Nya, dengan Tangan kiri Ia mengambil sebuah kendi dan dengan Tangan Kanan-Nya Ia memercikkan air pada Cakka Ratana Surgawi dengan berkata:"Berputarlah Cakka Ratana. Maju dan Taklukkanlah, Cakka Ratana".

Para Bhikkhu, kemudian Cakka Ratana berputar maju ke arah daerah timur dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja pergi bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah dan Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di Tempat itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah bagian timur datang menemui Cakkavatti dengan berkata :"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk, jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah, jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan musuh di daerah bagian timur menjadi takklukkan Raja Cakkavatti.
37
Arya Mahayana / Maha Samaya Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:37:32 am »
Namo Sang Hyang Adi Buddhaya
Namo Dharmakaya Vajradhara Adi Buddhaya
Namo Dharmakaya Samantabhadra Adi Buddhaya
Namo Dharmakaya Maha Vairocana Adi Buddhaya
Namo Dharmakaya Ruchira Buddhaya
Namo Dharmakaya Purushottama Buddhaya
Namo Dharmakaya Ashvamedha Buddhaya
Namo Paramadvaita Buddhaya
Namo Padampa Sangye Buddhaya

"Semoga semua Sarira Sang Sakyamuni Buddha dilindungi oleh semua Bodhisattva Mahasatta Dharmapala Deva."

"Semoga semua Sarira Sang Sakyamuni Buddha tetap ada dan menetap di dunia ini hingga Kedatangan Sang Ajita Maitreya seperti Stupa Sarira Sang Kasyapa Buddha yang Telah di Agungkan oleh Sang Sakyamuni Buddha."

"Semoga semua mahluk memperoleh Kebijaksanaan untuk menghormati Sarira Buddha."

"Semoga semua bencana yang akan menimpa Negara China dan Negara Thailand musnah dengan Kebijaksanaan Mahayana Puja ini.

Na Mo Yao Chi Jin Mu (瑤池金母)

Maha Samaya Sutta

Demikianlah telah kudengar, Pada suatu ketika, Sang Bhagava bersama sekelompok besar Bhikkhu Sangha yang berjumlah lima ratus Bhikkhu, Yang Semua-Nya Arahat, berada di Mahavana, di daerah Suku Sakya di Kapilavatthu. Dan Para Dewa dari sepuluh ribu tata-surya datang kesana mengunjungi Sang Bhagava dan Bhikkhu Sangha.

Ketika itu, ada empat Dewa alam Suddhavasa berpikir:"Sekarang, Sang Bhagava dengan sekelompok besar Bhikkhu Sangha yang berjumlah lima ratus Bhikkhu , Yang Semua-Nya Arahat, berada di Mahavana, di daerah Suku Sakya di Kapilavatthu. Dan Para Dewa dari sepuluh ribu tata-surya datang kesana untuk mengunjungi Sang Bhagava dan Bhikkhu Sangha. Bukankah sebaiknya Kita juga mengunjungi Beliau, dan masing-masing Kita mengucapkan sebuah syair di depan-Nya?"

Maka Para Dewa itu, bagaikan Seorang yang gagah perkasa merentangkan tanganNya atau merapatkan tanganNya yang telah direntangkan, lenyap dari alam Suddhavasa dan muncul didepan Sang Bhagava. Mereka menghormat Beliau dan berdiri disamping. Dan dengan berdiri demikian, salah seorang Dewa dari Para Dewa itu mengucapkan Syair ini kepada Sang Bhagava:"Pertemuan Besar di Hutan! Para Dewapun datang berkumpul, Kamipun datang untuk menyaksikan Pertemuan Agung dari Bhikkhu Sangha Yang Tidak Terkalahkan." Dan Dewa yang lain mengucapkan Syair ini kepada Sang Bhagava:"Disana Para Bhikkhu memusatkan Pikiran Mereka, meluruskan Batin Mereka. Pandai bagaikan Kusir yang memegang tali-kekang, Mereka menjaga inderanya." Dewa yang lain mengucapkan Syair ini kepada Sang Bhagava:"Semua rintangan dan penghalang telah dihancurkan, tiangpun dicabut, Mereka berjalan dalam Kesucian, tanpa noda, dengan mata yang terang, bagaikan gajah-gajah yang telah terlatih baik." Lalu, Dewa yang lain mengucapkan Syair ini kepada Sang Bhagava:"Mereka yang terlindung pada Buddha tidak akan terlahir dialam yang menyedihkan, setelah meninggalkan kehidupan manusia, Mereka akan terlahir kembali dialam Surga."

Kemudian Sang Bhagava bersabda kepada Para Bhikkhu:"Para Bhikkhu, hampir semua Dewa dari sepuluh ribu tata-surya datang kesini untuk melihat Sang Tathagata dan Bhikkhu Sangha. Di masa yang lampau, Para Dewa sebanyak ini pun mengunjungi Para Arahat Samma Sambuddha yang muncul pada masa yang akan datang. Para Bhikkhu, Aku akan menerangkan kepada kamu, nama dari Para Dewa, Saya akan uraikan nama Mereka, Saya akan nyatakan nama Mereka. Dengarkanlah dan perhatikan sungguh-sungguh kata-kata-Ku." "Baiklah Bhante", jawab Para Bhikkhu, Dan Sang Bhagava Bersabda:

Saya akan mengucapkan seloka; dialam manapun Kamu akan bertemu dengan Para Dewa, tetapi Mereka akan tinggal di lereng-lereng gunung, duduk dengan Batin Bersih dan Terlatih. Bagaikan Singa-Singa yang terbaring dengan tenang, telah menaklukkan ketakutan yang mencekam, dengan Pikiran Yang Jernih, Luhur, Tenang, dan Suci. Lebih dari 500 Bhikkhu yang diketahui berada di Hutan dekat Kapilavatthu. Kepada Siswa-Siswa yang menyenangi kata-kata-Nya, Sang Guru bersabda:"Para Bhikkhu, ketahuilah; Para Dewa tenang. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendengar Buddha Sasana.

Dalam Diri Mereka muncul Pengetahuan yang tak nampak oleh manusia biasa. Ada yang dapat melihat seratus Dewa, seribu Dewa, dan ada yang dapat melihat tujuh puluh ribu Dewa, dan ada pula yang dapat melihat jumlah Dewa yang tidak dapat dihitung banyakNya disekelilingNya. Setelah diundang oleh Cakkhuma, Mereka semua melihat dan mengerti.
Kepada Siswa-Siswa yang menyenangi kata-kata-Nya, Sang Guru bersabda:"Para Bhikkhu, ketahuilah, Para Dewa datang!" Seperi apa yang telah Saya uraikan, uraikanlah Itu dengan teratur.

Tujuh ribu Yakkha dari Bhumi Kapilavatthu, Yang Sakti, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Enam ribu Yakkha dari Himalaya dengan bentuk tubuh Yang indah, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Tiga ribu Yakkha dari Satagiri dengan bentuk tubuh Yang indah, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Jadi, ada enam belas ribu Yakkha dengan bentuk tubuh Yang indah, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Lima ratus Yakkha dari Vessamitta dengan bentuk tubuh Yang indah, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Kumbhiro yang tinggal di Gunung Vepulla di Rajagaha dengan disertai seratus ribu pengikutNya. Mereka datang semua ke Hutan.
Raja Dhratarasttra, Penguasa Penjuru Timur, Maha Raja Pemimpin Para Gandharva, disertai Para PengikutNya Yang Terpuji, Yang memiliki Putera banyak dan perkasa, Yang SemuaNya bernama Inda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Raja Virudhaka, Penguasa Penjuru Selatan, Maha Raja Pemimpin Para Khumbanda, disertai Para PengikutNya Yang Terpuji, Yang memiliki Putera banyak dan perkasa, Yang SemuaNya bernama Inda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Raja Virupaksa, Penguasa Penjuru Barat, Maha Raja Pemimpin Para Naga, disertai Para PengikutNya Yang Terpuji, Yang memiliki Putera banyak dan perkasa, Yang SemuaNya bernama Inda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Raja Kuvera, Penguasa Penjuru Utara, Maha Raja Pemimpin Para Yakkha, disertai Para PengikutNya Yang Terpuji, Yang memiliki Putera banyak dan perkasa, Yang SemuaNya bernama Inda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Empat Maha Raja menerangi alam sekeliling dengan sinar Tubuh Mereka, Berdiri di empat penjuru di Hutan Kapilavatthu.
Raja Dhratarasttra menyinari sebelah timur, Raja Virudhaka menyinari sebelah Selatan, Raja Virupaksa menyinari sebelah Barat, Raja Kuvera menyinari sebelah Utara.
Bersama Mereka ikut pula Para Pengikut mereka Yang Ahli Tenaga Sakti, dan pintar berperan, yaitu: Maya, Kutendu, Vetendu, Vitu, Vitucca, Candana, Kamasettha, Kinnughandu, Nighandu, Panado Opamanna, dan Matali Kusir Dewa. Cittaseno, Gandharva, Nalo, Raja Janesabho. Selanjutnya Pancasikha dan Suryavaccasa, Puteri Timbaru. Bersama Mereka, ada pula Para Pemimpin dan Para Gandharva. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Selanjutnya, Para Naga datang dari Nabhasa, Vesala, Taccahka, Kambalassatera, Payaga bersama Keluarga Mereka, Pranaga dari Yamuna dan Dhratarasttra Yang Termashur, Dan Maha Naga Eravana. Datang ke Hutan belukar.
Raja Naga Yang Menakutkan dan Burung-Burung Surgawi Dija Yang Bermata Tajam, Yang masing-masing bernama Citta dan Supanna telah terbang ke Hutan.
Raja Naga Yang Baik, Burung Supanna terlindung karena Sang Buddha. Dengan kata-kata yang lemah lembut, Naga dan Supanna beriringan berlindung Pada Sang Buddha.
Vajira Si Tangan Penakluk, Para Asura dari Samudera Vesavassa dan Bhataro Yang Sakti dan Terpuji. Para Kalakanjaka Yang Berbentuk Menakutkan, Para Asura Danaveghasa, Vepacitti, Paharado dan Namuci. Seratus Putera Bali Yang SemuaNya bernama Veroca, Yang merupakan Prajurit Yang Gagah Perkasa, Yang sesuai dengan leluhur Mereka.
Dan Rahu berkata:"Semoga Semua Yang Berkumpul Di Hutan Berbahagiah Karena AdaNya Pertemuan Para Bhikkhu."
Para Dewa Apo, Pathavi, Tejo, dan Vayo datang disitu. Dewa Soma, Yasasa dan Varuna yang disertai Para Varuni. Dewa yang terlahir karena Metta dan Karuna nan Terpuji.
Mereka semua dalam sepuluh kelompok dengan tubuh yang berbeda-beda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Para Dewa Venhu, Sahali, Asama, Yama Kembar, Dewa Canda dan Penghuni Bulan, Dewa Surya dan Para Penghuni Matahari, Dewa Nakkhatta dan Para Penghuni Planit-Planit, Dewa Manda dan Para Penghuni Awan, Dewa Sakka Purindada, Dewa Vesu disertai Vasuna PengikutNya. Mereka semua dalam sepuluh kelompok dengan tubuh yang berbeda-beda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Selanjutnya, Dewa Sahabhu dengan sinar menyala bagaikan api membara. Dewa Aritthaka, Raja yang bagaikan Bunga Umma. Dewa Accuta, Anejaka, Varuna dan Sahadhamma.
Dewa Suleyya, Rucira dan Vasavanesino juga datang. Mereka semua dalam sepuluh kelompok dengan tubuh yang berbeda-beda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Para Dewa Samana, Para Dewa Maha Samana, Para Dewa Manusa, Para Dewa Manusuttama, Para Dewa Khiddapadusika, Para Dewa Mano-padusika, Para Dewa Lohita-Vasino, Para Dewa Harayo, Para Dewa Paraya, dan Para Dewa Maha Paraya Yang Terpuji. Mereka semua dalam sepuluh kelompok dengan tubuh yang berbeda-beda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Para Dewa Sukka, Karumha, Aruna, Veghanasa, Odata gayha, Dewa Vicakkhana sebagai Pemimpin, dan Sadamatta, Haragaja, dan Misaka, Pajjuno yang menggelegar datang dan menghujani empat penjuru. Mereka semua dalam sepuluh kelompok dengan tubuh yang berbeda-beda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Para Dewa Khemiya, Tusita, Yama, Katthaka Yang Terpuji. Para Dewa Lambitaka, Lamasettha, Joti-nama dan Asava. Para Dewa Nimmanarati dan Paranimmitavasavati. Mereka semua dalam sepuluh kelompok dengan tubuh yang berbeda-beda, Sakti, perkasa, menarik dilihat dan gemilang. Datang dengan gembira ke Hutan belukar untuk menyaksikan Pertemuan Para Bhikkhu.
Keenam puluh Kelompok Para Dewa ini datang dengan bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan nama dan kedudukan Mereka.Dan Mereka disertai yang lain-lain, dengan bentuk Mereka masing-masing berkata:"Dia Yang Telah Terbebas Dari Kelahiran, Yang Telah Menghancurkan Semua Penghalang, Yang Telah Melintasi Arus (Kehidupan), Yang Tanpa Kekotoran Batin, Kepada-Nya Kami Datang. Dia Yang Berada Di Atas Arus Dan Nan Suci, Bagaikan Bulan Yang Menyinari Kegelapan."
Lebih lanjut, Dewa Subrahma, Paramatto dan Putera-Putera Yang Sakti dan Tisa Sanamkumara datang ke-tempat Pertemuan di Hutan.
Maha Brahma dari Seribu Alam Brahma, muncul disitu dengan sangat Gagah Perkasa dan Cemerlang, Cakap Sekali, Gemilang dan Termashur.
Sepuluh Pemimpin-PemimpinNya yang menguasai Alam Brahma juga datang, disertai oleh Harito yang berpakaian lengkap di tengah-tengah Mereka. Mereka Semua datang disertai Dewa Sakra Indra dan Brahma. Pasukan Mara pun datang, juga kanha yang bodoh:"Marilah, tangkap dan ikatkan ini untukku, biarkanlah Mereka Semua dikuasai nafsu indera! Kepunglah Mereka semua dari berbagai penjuru dan jangan biarkan siapapun yang terlepas!" Demikianlah panglima memerintahkan pasukan hitamnya. Dan dengan telapak tangannya yang dipukulkan ke tanah menyebabkan tanah bergetar bagaikan halilintar bergelegar bersama kilat dan hujan lebat. Kemudian ia mundur dengan gusar, tapi tanpa tenaga dan tak sanggup berreaksi lagi.
Dan Sang Cakkhuma, dengan Penglihatan-Nya Yang Terang, mengetahui dan mengerti semua apa yang terjadi. Lalu Sang Guru bersabda kepada Siswa-Siswa Yang Menyenangi Kata-Kata-Nya:"Para Bhikkhu, ketahuilah, pasukan mara datang!" Mereka telah mendengar Buddha Sasana, Semuanya waspada! si jahat mundur karena Mereka telah melenyapkan nafsu inderia dan tidak ada sehelai rambut pun berdiri di Tubuh Mereka." (lalu mara berkata); "Mereka semua menang dalam pertempuran, karena tidak ada ketakutan lagi yang menguasai Mereka, dan telah melenyapkan semuanya. Pengikut-Nya Yang Termashur, terkenal sampai jauh dan luas. Sekarang Mereka bergembira dengan segala sesuatu yang ada."

Simhamukha Mantra 獅面空行母心咒

ah-kah-sah-mah, la-dza-sah-dah, la-sah-mah-la-yah, pei

阿加薩嘛。拉雜沙達。拉薩嘛拉耶。呸。
38
Arya Mahayana / Re: Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:36:25 am »
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, atta seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan karena telah diliputi oleh kenikmatan kepuasan lima inderia berarti atta telah mencapai Nibbana. Mengapa demikian? Karena kepuasan inderia itu tidak kekal, itu masih diliputi penderitaan sebab bersifat berubah-ubah maka dukacita, sedih, kesakitan, derita dan kebosanan muncul. Tetapi bilamana atta bebas dari 'kesenangan inderia maupun hal-hal buruk (akusala dhamma)', mencapai dan tetap berada dalam Jhana Pertama (keadaan dimana pikiran terpusat pada waktu meditasi), keadaan yang menggiurkan, 'savittaka savicara (disertai perhatian, dan penyelidikan)', maka dengan ini atta mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam kehidupan sekarang ini". Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak - Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.

"Orang lain berkata kepadanya : "Saudara 'atta' seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi oleh proses berpikir atau perhatian dan menyelidik, berarti itu masih kasar. Tetapi bilamana 'atta' terbebas dari perhatian dan menyelidik, mencapai dan berada dalam Jhana II, keadaan pikiran terpusat dan seimbang, penuh kegiuran dan bahagia (cetaso ekodi-bhava, vupasamo, piti, sukha). Maka dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak. Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi oleh kegiuran dan kenikmatan, itu berarti masih kasar. Tetapi bilamana 'atta' terbebas dari keinginan dan kegiuran; pikiran terpusat, seimbang, penuh perhatian, berpengertian jelas (sato ca sampajano), dan tubuh mengalami kebahagiaan yang dikatakan oleh para ariya sebagai keseimbangan yang disertai perhatian dan pengertian jelas, mencapai dan berada dalam Jhana III. Maka dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini".

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara atta seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi rasa kebahagiaan, itu berarti masih kasar. Tetapi bilamana 'atta' terbebas dari rasa kebahagiaan dan derita (sukhassa ca pahana dukkhassa ca pahana) setelah lebih dahulu melenyapkan kesenangan dan kesedihan (somanassa domanassa) mencapai dan berada dalam Jhana IV disertai pikiran terpusat dan seimbang, tanpa adanya kebahagiaan atau pun penderitaan (adukkha asukham). Maka dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini".

Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang terpaham ajaran Ditta dhamma nibbana vada yang menyatakan ajaran mereka dalam lima pandangan, bahwa 'kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini' oleh semua makhluk.
Demikianlah, para bhikkhu, para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan menyatakan ajaran mereka dalam tujuh pandangan ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut, tidak ada lagi pandangan lain.

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang ajaran mereka berkenaan dengan 'aparantakappika (masa akan datang)', berspekulasi mengenai masa yang akan datang. Mereka menyatakan bermacam-macam ajaran mengenai 'Keadaan masa yang akan datang' dalam empatpuluh empat pandangan.
Demikianlah para bhikkhu, para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat serta menyatakan pandangan mereka dalam empatpuluh empat pandangan tersebut atau menggunakan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut. Dan berpendapat bahwa selain pandangan mereka tidak ada lagi pandangan lainnya.

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang berpandangan, berpaham atau berspekulasi mengenai 'masa yang lampau (pubbantanuditthino)' dan yang berpandangan, berpaham atau berspekulasi mengenai 'aparantakappika (masa yang akan datang)', dalam enampuluh dua pandangan kedua kelompok paham tersebut menguraikan spekulasi mereka mengenai masa yang telah lampau dan masa yang akan datang".
"Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat serta menyatakan pandangan mereka mengenai keadaan yang lampau dan yang akan datang dalam enampuluh dua pandangan atau menggunakan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut. Dan mereka berpendapat selain pandangan mereka tidak ada lagi pandangan lainnya.

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, dari semua pandangan tersebut, ada para pertapa dan brahmana yang berpaham :
1. Eternalis (sassata vada) yang menyatakan bahwa 'atta (diri pribadi)' dan 'loka (dunia)' adalah kekal dengan empat pandangan.
2. Semi-Eternalis (sassata-asassata vada) yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah sebagian kekal dan sebagian tidak kekal, dengan empat pandangan.
3. Ekstensionis (antanantika) yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah terbatas dan tak terbatas, dengan empat pandangan.
4. Berbelit-belit (amaravikkhepika), yang bilamana sebuah pertanyaan ditanyakan kepada mereka, mereka akan menjawabnya dengan cara yang berbelit-belit, sehingga membingungkan, dengan empat pandangan.
5. Asal mula sesuatu terjadi adalah secara kebetulan (adhiccasamuppanika), yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' terjadi tanpa adanya suatu sebab, dengan dua pandangan.
Mereka semua itulah yang berpaham pada 'keadaan masa yang lampau'!

6. Setelah meninggal kesadaran tetap ada (uddhamaghatanikasaññavada) yang menyatakan bahwa 'atta' tetap hidup terus setelah meninggal, dengan enam belas pandangan.
7. Setelah meninggal tanpa kesadaran (uddhamaghatanika asaññi vada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal 'atta' adalah tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.
8. Setelah meninggal 'ada kesadaran dan tanpa kesadaran' (uddhamaghatanika n'evasaññi nasaññi vada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal 'atta' adalah memiliki kesadaran dan tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.
9. Annihilasi (ucchedavada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal makhluk binasa, hancur dan lenyap, dengan tujuh pandangan.
10. Mencapai kebahagiaan mutlak dalam kehidupan sekarang ini (ditthadhammanibbanavada) yang menyatakan bahwa Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini, dengan lima pandangan.


Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada perasaan sendiri yang disebabkan oleh kekhawatiran dan ragu-ragu akan akibatnya, karena para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui, tidak melihat dan masih diliputi oleh bermacam-macam keinginan (tanha).
Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada kontak inderia saja.
Bilamana mereka mengalami perasaan tertentu tanpa adanya kontak dengan inderia maka keadaan demikian itu tidak ada.

Mereka semua menerima perasaan-perasaan tersebut melalui kontak yang berlangsung terus menerus dengan (saraf) penerima (dari inderia-inderia). Berdasarkan pada perasaan-perasaan (vedana) muncul keinginan (tanha), karena adanya, keinginan muncul kemelekatan (upadana) karena adanya kemelekatan muncul proses menjadi (bhava), karena adanya proses menjadi muncul kelahiran (jati), karena kelahiran terjadi kematian (marana), kesedihan, ratap tangis, kesakitan, kesusahan dan putus asa (soka parideva dukkha domanassa upayasa).
Bilamana seorang bhikkhu mengerti hal itu sebagaimana hakikatnya, asal mula dan akhirnya, kenikmatan, bahaya dan cara membebaskan diri dari pemuasan enam inderianya, maka ia dapat mengetahui apa yang termulia dan tertinggi dari kesemuanya itu.

"Para bhikkhu, siapa pun, apakah ia pertapa dan brahmana yang ajaran atau paham mereka berkenaan dengan keadaan masa yang lampau atau berkenaan dengan keadaan masa yang akan datang, atau pun berpaham kedua-duanya berspekulasi mengenai keadaan yang lampau dan yang akan datang, yang dengan bermacam-macam dalil menerangkan tentang keadaan yang lampau dan keadaan yang akan datang, mereka semua terjerat di dalam jala enampuluh dua pandangan ini. Dengan bermacam-macam keadaan mereka tercemplung dan berada di dalamnya, dan dengan bermacam-macam cara mereka melakukan usaha untuk melepaskan diri, tetapi sia-sia karena mereka terjerat di dalamnya. Para bhikkhu, bagaikan penjala ikan yang pandai akan menjala di sebuah kolam kecil dengan sebuah jala yang baik, berpikir: Ikan apa pun yang berada dalam kolam ini, walaupun ikan-ikan itu berusaha untuk melepaskan diri, tetap semuanya akan terperangkap di dalam jala ini".

"Para bhikkhu, bagi Dia yang di luar jala. Ia telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, yang sedang berada di depan kamu, karena semua belenggu pengikat, penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Selama kehidupan jasmaniahNya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatNya. Tetapi bilamana kehidupan jasmaniahNya terputus di akhir masa kehidupanNya maka para dewa dan manusia tidak akan dapat melihat-Nya lagi. Para bhikkhu, bagaikan sebatang pohon mangga yang ditebang, maka semua buahnya yang ada di pohon tersebut mengikutinya. Demikian pula, walaupun tubuh jasmaniah dari Dia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, masih berada di depan kamu, namun demikian semua belenggu penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Semua kehidupan jasmaniahNya masih ada, maka selama itu pula para dewa dan manusia dapat melihatNya. Tetapi bilamana kehidupan jasmaniah-Nya terputus (meninggal) diakhir masa kehidupan-Nya, maka para dewa dan manusia tidak dapat melihat-Nya lagi".

Setelah Beliau bersabda demikian, lalu bhikkhu Ananda berkata kepada Sang Bhagava : "Bhante, sangat mengagumkan! Sangat mentakjubkan! Apakah nama uraian Dhamma kebenaran ini?" Ananda, kau dapat menamakan uraian ini sebagai Atthajala (jala bermanfaat), Dhammajala (jala kebenaran) Brahmajala (jala agung), Ditthijala (jala pandangan) atau Sangamavijayo (jala kemenangan di medan pertempuran). "(jala dapat disebut sebagai jaring yang artinya menyaring untuk memisahkan antara 'Yang Benar' dengan 'Yang Tidak Benar' untuk diambil 'Yang Benar' sebagai 'Kebenaran (Dharma/Dhamma)')"
Demikianlah khotbah Sang Bhagava, dan para bhikkhu dengan hati yang gembira memuji uraian Sang Bhagava. Di akhir khotbah ini seribu 'sistem dunia' (Loka dhatu) bergetar.

Namo Tassa Bhagavato Arahato SamyaksamBuddhassa
39
Arya Mahayana / Re: Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:35:43 am »
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran mereka didasarkan pada pandangan bahwa 'sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran', pandangan ini berpendapat bahwa sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran, ajaran ini terbagi dalam delapan pandangan.

Mereka menyatakan bahwa 'setelah mati 'atta' tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran' dan
1. berbentuk (rupi)
2. tidak berbentuk (arupi)
3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)
4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'eva rupiu narupi)
5. terbatas (antava)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)
8. bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n'vantava nanantava)

"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang mengajarkan bahwa 'sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran', yang terbagi dalam delapan pandangan.
Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan delapan pandangan atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi pandangan lain".

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran mereka didasarkan pada pandangan bahwa 'sesudah mati 'atta' bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa kesadaran.
Ajaran ini terbagi dalam delapan pandangan.
'Apakah asal mula dan dasar sehingga mereka berpandangan demikian?"

Mereka menyatakan bahwa 'setelah mati 'atta' tidak berubah dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki kesadaran dan
1. berbentuk (rupi)
2. tidak berbentuk (arupi)
3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)
4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'eva rupi narupi)
5. terbatas (antava)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)
8. bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n'evantava nanantava)

"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang mengajarkan bahwa 'sesudah mati' 'atta' bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa kesadaran', yang terbagi dalam delapan pandangan".
"Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan delapan pandangan ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak lagi pandangan lain".

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang mengajarkan paham 'ucchedavada (musnah total).' Mereka menyatakan bahwa 'setelah meninggal dunia 'makhluk' itu musnah dan lenyap'. Ajaran ini diuraikan dalam tujuh pandangan. Apakah dasar dan asal mula sehingga mereka berpandangan demikian?"

"Para bhikkhu, pertama, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpendapat dan berpandangan seperti berikut : "Saudara, karena 'atta' ini mempunyai rupa (tubuh jasmani) yang terdiri dari 'catummahabhutarupa (empat zat)', dan merupakan keturunan dari ayah dan ibu; bila meninggal dunia, tubuh menjadi hancur, musnah dan lenyap, dan tidak ada lagi kehidupan berikutnya. Dengan demikian 'atta' itu lenyap. Demikianlah pandangan yang menyatakan bahwa ketika makhluk meninggal, ia musnah dan lenyap".

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta itu tidak musnah, sekaligus, karena ada 'atta' lain lagi yang luhur, berbentuk, termasuk 'kamavacaro (alat kesenangan inderia)', 'kavalinkaraharabhakkho (hidup dengan makanan material)', yang kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui atau telah melihatnya. Setelah 'atta' tersebut tidak ada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal dunia makhluk itu binasa, musnah dan lenyap".

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta' itu tidak musnah sekaligus, karena ada 'atta' lain lagi yang luhur, berbentuk, dibentuk oleh pikiran (manomaya), semua bagiannya sempurna, inderianya pun lengkap. 'Atta' seperti itu kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya tidak mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, 'atta' ini musnah dan lenyap. Setelah itu 'atta' tersebut tiada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap".

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada 'atta' lain lagi yang melampaui 'rupesanna (pengertian adanya bentuk)' yang telah melenyapkan rasa tidak senang (pathigasanna), tidak memperhatikan penyerapan-penyerapan lain (nanattasanna), menyadari ruang tanpa batas, mencapai 'akasanancayatana (alam ruang tanpa batas)'. 'Atta' ini kamu tidak ketahui atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal dunia 'atta' ini musnah dan lenyap. Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa musnah dan lenyap".

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta' tidak musnah sekaligus. Karena ada 'atta' lain lagi yang melampaui alam Aksanancayatana, menyadari kesadaran tanpa batas, mencapai alam 'vinnanancayatana (Kesadaran tanpa batas)'. Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada lagi dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam Viññanañcayatana, menyadari kekosongan, mencapai 'akincannayatana (alam kekosongan)' Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.

Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, atta yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam Akiñcaññayatana, mencapai alam 'N'evasanna nasannayatana (bukan penyerapan atau pun bukan tidak penyerapan)'. Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, atta tersebut tidak ada lagi, dengan demikian atta musnah sama sekali". Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.

"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang berpaham 'Ucchedavada (musnah total)', yang memiliki tujuh pandangan dengan berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk binasa, musnah dan lenyap sama sekali.
Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan menyatakan ajaran mereka dalam tujuh pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi.

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut, pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang memiliki atau menganut ajaran yang menyatakan bahwa 'ditthadhammanibbanavada (Kebahagiaan Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini)' , yang menyatakannya dalam lima pandangan bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini. Apakah asal mula dan dasar sehingga mereka berpandangan demikian?

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan seperti berikut : "Bilamana 'atta' diliputi oleh kenikmatan, kepuasan lima inderia, maka atta telah mencapai Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Demikianlah pendapat yang mereka nyatakan mengenai makhluk hidup yang dapat mencapai kebahagiaan mutlak - Nibbana dalam kehidupan sekarang ini".
40
Arya Mahayana / Re: Brahma Jala Suttram
« Last post by ajita on June 05, 2017, 08:34:56 am »
Dan bagaimanakah pandangan yang kedua?
"Para bhikkhu, dalam hal ini, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan didasarkan pada pikiran dan logika. Ia menyatakan pendapatnya yang didasarkan pada argumentasinya, dan hanya berlandaskan pada kesanggupannya, sebagai berikut, 'atta dan loka terjadi tanpa adanya sebab'.
Inilah, para bhikkhu, pandangan yang kedua".
"Para bhikkhu, inilah dua paham ajaran yang menyatakan bahwa 'atta dan loka' terjadi secara kebetulan dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Adhiccasmuppanno. Demikianlah ajaran mereka dengan dua pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu dan selain pandangan mereka tersebut tidak ada lagi pandangan yang lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh jangkauannya dari pada pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, inilah ajaran-ajaran yang berpedoman pada 'hal-hal yang telah lampau dari para pertapa dan brahmana yang mendasarkan 'pandangan pada hal-hal yang telah lampau ajaran ini terbagi dalam delapan belas pandangan atau paham. Demikianlah mereka semua berpandangan seperti itu dan hanya menganuti salah satu dari pandangan-pandangan tersebut. Dan berpendapat bahwa tidak ada lagi pandangan lain yang benar selain pandangan mereka.

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadarinya dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran mereka berkenaan dengan 'masa yang akan datang', berspekulasi mengenai keadaan masa yang akan datang. Mereka mendasarkan ajaran tersebut dalam empat puluh empat pandangan. Apakah asal mula dan dasar sehingga mereka berpandangan demikian?"

"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang menganut ajaran bahwa 'sesudah mati kesadaran tetap ada' , pandangan ini berpendapat bahwa sesudah mati 'atta' tetap ada; pandangan ini terbagi dalam enam belas pandangan.
Mereka menyatakan tentang 'atta' sebagai berikut :
"Sesudah mati, 'atta' tetap ada, tidak berubah dan sadar", dan
1. mempunyai bentuk (rupa)
2. tidak berbentuk (arupa)
3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupa dan arupa)
4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'evarupi narupi)
5. terbatas (antava atta hoti)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas dan tidak terbatas (antava caanantavaca)
8. bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n'evantava nanantava)
9. Memiliki semacam bentuk kesadaran (ekattasaññi atta hoti)
10. Memiliki bermacam-macam bentuk kesadaran (nananttasaññi)
11. memiliki kesadaran terbatas (paritta saññi)
12. memiliki kesadaran tidak terbatas (appamana saññi)
13. selalu bahagia (ekanta sukhi)
14. selalu menderita (ekanta dukkhi)
15. bahagia dan menderita (sukha dukkhi)
16. bukan bahagia atau pun bukan menderita (adukkham asukkhi)

"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang memiliki enambelas pandangan yang mengajarkan bahwa 'sesudah mati kesadaran tetap ada'. Demikianlah, para bhikkhu, para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan enambelas pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, dan selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi pandangan lain".

"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
Pages: 1 2 3 [4] 5 6 ... 10