Recent Posts

Pages: 1 [2] 3 4 ... 10
11
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on December 08, 2018, 12:49:13 am »

Arya Avalokita Isvara



Padmakula

Bab 15
Dasavasa parivartah

Kemudian pada saat itu, Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, di 'berdayakan (adhisthana)' oleh sang Buddha, memasuki 'konsentrasi yang bernama Teknik Tanpa Batas Dari Bodhisattva (Bodhisattvanantopayakosalya nama samadhim)'; Melalui kekuatan Samadhi itu, ada muncul di hadapannya para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu dari seribu Buddhaksetra dari setiap sepuluh penjuru, melewati sistem dunia yang banyaknya seperti butiran debu dari seribu Buddhaksetra. Semua Buddha itu memiliki nama yang sama, yaitu Dharmaprajna. Mereka dimana-mana muncul dihadapannya, berkata kepada Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva : "Sadhu, Sadhu, Kulaputra, tentu sangat baik bahwa Anda bisa memasuki Bodhisattvanantopayakosalya Samadhi! Di setiap sepuluh penjuru, Kulaputra, para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu dari seribu Buddhaksetra bersama-sama meng-adhisthana Anda dengan kekuatan batin Mereka, dan ini juga oleh kekuatan pranidhana masa lampau dari Vairocana Tathagata, juga oleh kekuatan akar kebajikan yang telah Anda praktekkan, bahwa Anda memasuki Samadhi ini, membisakan Anda mebabarkan Dharma, demi meningkatkan pengetahuan Buddha, memasuki dharmadhatu secara mendalam, memahami dengan baik alam-alam para makhluk hidup, tanpa rintangan memasuki apapun, tanpa halangan dalam semua kegiatan, mencapai upaya-kausalya yang tiada bandingan, memasuki intisari Sarvajnajnana, menyadari semua gejala kejadian, mengetahui semua indera, mampu mempertahankan dan menjelaskan semua Dharma, yaitu, menghasilkan 'sepuluh kediaman dari Bodhisattva (Bodhisattvadasavasa)'. Anda, Kulaputra, harus menerima kekuatan batin yang menakjubkan dari para Buddha untuk membabarkan Dharma ini!"

Kemudian pada saat itu, para Buddha memberikan kepada Dharmaprajna Bodhisattva pengetahuan yang tidak terhalang, pengetahuan yang tidak melekat, pengetahuan tidak terputus, pengetahuan yang tidak terperdaya, pengetahuan yang tidak membedakan, pengetahuan yang tanpa kesalahan, pengetahuan yang tidak terbatas, pengetahuan yang tiada tanding, pengetahuan yang tiada lalai, dan pengetahuan yang tidak bisa diambil. Mengapa begitu? Karena melalui kekuatan Samadhi ini, Dharma adalah seperti itu.

Kemudian pada saat itu, semua Buddha mengulurkan tangan kanan dan mengusap kepala Dharmaprajna Bodhisattva; Kemudian Dharmaprajna Bodhisattva bangkit dari Samadhi dan mengumumkan kepada para Bodhisattva, dengan berkata : "Kulaputra, tempat kediaman dari Bodhisattva sangatlah luas, luasnya seperti dharmadhatu dan ruang angkasa. Kulaputra, Bodhisattva tinggal berdiam di dalam rumah para Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Sekarang, Saya akan membabarkan tempat kediaman Bodhisattva. Ada, Kulaputra, sepuluh jenis tempat kediaman dari Bodhisattva yang para Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan telah jelaskan, sedang jelaskan, dan akan jelaskan. Apakah sepuluh itu?   Yaitu :

Kediaman dari pertama kali menghasilkan tekad.
Kediaman dari mempersiapkan dasar.
Kediaman dari praktek.
Kediaman dari kelahiran mulia.
Kediaman dari pencapaian upaya-kausalya.
Kediaman dari keadaan pikiran yang benar.
Kediaman dari yang tanpa kemunduran.
Kediaman dari usia muda yang murni.
Kediaman dari pangeran Dharma.
Kediaman dari abhiseka mahkota.

"Inilah yang dinamakan sepuluh kediaman dari Bodhisattva yang dijelaskan oleh para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan masa depan."

"Kulaputra, apakah kediaman dari pertama kali menghasilkan tekad dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva melihat Bhagavan Buddha yang bentuk-rupa-Nya agung, yang tanda-tanda tubuh-Nya sempurna dan menyenangkan untuk dilihat, yang sulit di jumpai, dan yang kekuatan-Nya sangat besar; Atau melihat kekuatan batin-Nya, atau mendengar ramalan mencapai Bodhi, atau mendengar ajaran Dharma-Nya, atau melihat makhluk hidup yang mengalami penderitaan parah, atau mendengar Maha Vaipulya Buddhadharma dari sang Tathagata, lalu menghasilkan 'Pikiran Bodhi (Bodhicitta)' dan mencari 'Pengetahuan Yang Mengetahui Semua (Sarvajnajnana)'. "

“Bodhisattva membangkitkan tekad yang dikondisikan oleh sepuluh Dharma yang sulit didapatkan. Apakah sepuluh itu? Yaitu: pengetahuan tentang apa yang demikian dan yang bukan demikian; pengetahuan tentang akibat dari karma baik dan buruk; pengetahuan tentang indera yang unggul atau yang lebih rendah; pengetahuan tentang perbedaan dari berbagai jenis alam; pengetahuan tentang berbagai jenis pemahaman yang berbeda; pengetahuan tentang tujuan dari semua jalan; pengetahuan tentang semua dhyana, vimoksa, dan samadhi; pengetahuan tentang kehidupan masa lalu; pengetahuan tentang Mata Surga yang tanpa halangan; dan pengetahuan tentang seluruhnya mengakhiri arus keluar di tiga masa waktu. Inilah sepuluh itu.”

"Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: rajin memberikan persembahan kepada para Buddha; senang tinggal berdiam di dalam dunia; membimbing para orang duniawi untuk melenyapkan karma buruk; terus-menerus mengajar dengan menggunakan Saddharma; memuji Dharma yang tiada tanding; mempelajari kebajikan Buddha; terlahir di hadapan para Buddha dan selalu diterima dalam perkumpulan majelis-Nya; dengan upaya-kausalya mengumumkan Samadhi yang hening-tenang; memuji pelepasan dari perputaran kelahiran dan kematian; menjadi tempat perlindungan bagi para makhluk yang menderita; Mengapa begitu? Demi memperluas pikiran Bodhisattva dalam Buddhadharma dan agar mampu memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari mempersiapkan dasar dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva menghasilkan sepuluh jenis pikiran terhadap semua makhluk hidup. Apakah sepuluh itu? Yaitu: Pikiran memberi manfaat; pikiran belas kasih yang besar; pikiran memberi kebahagiaan; pikiran memberi tempat tinggal yang damai; pikiran mengasihani; pikiran peduli; pikiran memberi perlindungan; pikiran mengenali ciri; pikiran bertindak sebagai guru; dan pikiran menjadi pemandu. Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: belajar dan mempraktekkan pengetahuan; senang dalam keheningan-tenang; berteman dekat dengan para bijaksana; berbicara halus dan menyenangkan; berbicara pada waktu yang tepat; tiada takut; memahami Dharma secara menyeluruh; bertindak sesuai dengan Dharma; menjauhi kebodohan dan khayalan; dan tinggal berdiam dengan damai dan tidak bergerak. Mengapa begitu? Demi meningkatkan belas kasih besar Bodhisattva terhadap semua makhluk hidup dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari praktek dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva merenungkan semua gejala kejadian melalui sepuluh jenis praktek. Apakah sepuluh itu? Yaitu: Merenungkan semua gejala kejadian sebagai yang tidak abadi; semua gejala kejadian sebagai penderitaan; semua gejala kejadian sebagai yang kosong; semua gejala kejadian adalah yang tanpa diri; semua gejala kejadian tanpa ciptaan; semua gejala kejadian tanpa rasa; semua gejala kejadian tidak bisa disamakan dengan nama; semua gejala kejadian tanpa lokasi; semua gejala kejadian terpisah dari pembedaan; dan semua gejala kejadian tiada keberadaan. Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: merenungkan alam makhluk hidup, dharmadhatu, alam duniawi; merenungkan alam tanah, alam air, alam api, alam angin; merenungkan kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Mengapa begitu? Demi menyebabkan pengetahuan Bodhisattva bersinar terang dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari kelahiran mulia dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva lahir dari ajaran yang bijaksana dan menyempurnakan sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: Tiada kemunduran; secara mendalam menghasilkan keyakinan murni di hadapan para Buddha; merenungkan gejala kejadian dengan teliti; secara menyeluruh mengetahui semua makhluk hidup, negara, dunia, perbuatan, ganjaran, kelahiran dan kematian, dan Nirvana. Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mengetahui semua Dharma dari para Buddha masa lampau - masa depan - masa sekarang; mempraktekkan dan mengumpulkan semua Dharma dari para Buddha masa lampau - masa depan - masa sekarang; menyempurnakan semua Dharma  dari para Buddha masa lampau - masa depan - masa sekarang; dan mengetahui kesamaan semua Buddha. Mengapa begitu? Demi membuat kemajuan dalam masa lampau - masa depan - masa sekarang dan mendapatkan kesamaan pikiran (dengan Tathagata) dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari pencapaian upaya-kausalya dari Bodhisattva? Semua akar kebajikan yang diolah oleh Bodhisattva adalah demi menyelamatkan semua makhluk hidup; menguntungkan semua makhluk hidup; membuat semua makhluk hidup bahagia; berbelas kasihan kepada semua makhluk hidup; membebaskan semua makhluk hidup; menyebabkan semua makhluk hidup terpisah dari semua bencana; menyebabkan semua makhluk hidup lolos dari penderitaan kelahiran dan kematian; menyebabkan semua makhluk hidup menghasilkan keyakinan murni; menaklukkan semua makhluk hidup; dan menyebabkan semua makhluk hidup masuk ke Nirvana.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mengetahui makhluk hidup yang tidak terbatas; mengetahui makhluk hidup yang tidak terhingga; mengetahui makhluk hidup yang tidak terhitung banyaknya; mengetahui makhluk hidup yang tidak terbayangkan; mengetahui bentuk-rupa makhluk hidup yang tanpa batas; mengetahui makhluk hidup yang tidak terukur; mengetahui makhluk hidup adalah yang kosong; mengetahui makhluk hidup tidak menciptakan apapun; mengetahui makhluk hidup tiada keberadaan; dan mengetahui makhluk hidup tiada sifat alami. Mengapa begitu? Demi menyebabkan pikiran meningkat dalam kebebasan, tanpa kemelekatan dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari keadaan pikiran yang benar dari Bodhisattva? Pikiran Bodhisattva setelah mendengar sepuluh jenis gejala kejadian, berada dalam samadhi dan tidak bergerak. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mendengar sang Buddha dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar Dharma dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar Bodhisattva dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar Praktek Bodhisattva dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa makhluk hidup adalah yang terbatas atau tidak terbatas, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa makhluk hidup adalah yang kotor atau bersih, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa makhluk hidup mudah dibebaskan atau sulit dibebaskan, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa dharmadhatu memiliki batas atau tanpa batas, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan tentang pembentukan atau peluruhan dharmadhatu, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa dharmadhatu ada atau tidak ada, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: semua gejala kejadian adalah yang tiada tanda; semua gejala kejadian adalah yang tidak memiliki intisari; semua gejala kejadian adalah yang tidak bisa diolah; semua gejala kejadian adalah yang tiada keberadaan; semua gejala kejadian adalah yang tiada kenyataan yang sesungguhnya; semua gejala kejadian adalah yang kosong; semua gejala kejadian tiada sifat alami diri; semua gejala kejadian seperti khayalan; semua gejala kejadian seperti mimpi; semua gejala kejadian tiada perbedaan; Mengapa begitu? Demi menyebabkan pikiran meningkat dalam keadaan tanpa kemunduran dari anutpattikadharmaksanti dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari yang tanpa kemunduran dari Bodhisattva? Pikiran Bodhisattva setelah mendengar sepuluh jenis gejala kejadian, teguh dan tidak mundur. Apakah sepuluh itu? Yaitu:  Mendengar bahwa ada atau tiada sang Buddha, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada Dharma, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada Bodhisattva, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada praktek Bodhisattva, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa para Bodhisattva melalui prakteknya mencapai atau tidak mencapai pembebasan, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada Buddha di masa lalu, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa akan ada atau tidak akan ada Buddha di masa depan, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tidak ada Buddha di masa sekarang, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa pengetahuan Buddha adalah yang terbatas atau yang tidak terbatas, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa masa lalu - masa sekarang - masa depan adalah yang sama atau yang tidak sama, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Maha Vaipulya Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: menjelaskan bahwa satu adalah banyak; menjelaskan bahwa banyak adalah satu; tulisan sesuai dengan makna; makna sesuai dengan tulisan; ketidakberadaan adalah keberadaan; keberadaan adalah ketidakberadaan; tiada bentuk adalah bentuk; bentuk adalah tiada bentuk; tiada sifat alami adalah sifat alami; sifat alami adalah tiada sifat alami. Mengapa begitu? Demi meningkat maju hingga mampu terbebas dari semua gejala kejadian dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari usia muda yang murni dari Bodhisattva? Bodhisattva tinggal berdiam di dalam sepuluh jenis 'perbuatan (karma)'. Apakah sepuluh itu? Yaitu: perbuatan tubuh yang tanpa kesalahan; perbuatan ucapan yang tanpa kesalahan; perbuatan pikiran yang tanpa kesalahan; mengambil kelahiran sesuai keinginan; mengetahui berbagai macam kecenderungan makhluk hidup; mengetahui berbagai macam pemahaman makhluk hidup; mengetahui berbagai macam alam makhluk hidup; mengetahui berbagai macam karma makhluk hidup; mengetahui pembentukan dan peluruhan dunia; pergi kemanapun dengan bebas melalui kekuatan batin; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mengetahui semua Buddhaksetra; menggerakkan semua Buddhaksetra; mempertahankan semua Buddhaksetra; mengamati semua Buddhaksetra; mengunjungi semua Buddhaksetra; bepergian melalui dunia-dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menerima Buddhadharma yang tidak terhitung jumlahnya; menampilkan tubuh dengan perubahan wujud yang bebas; memancarkan suara yang besar dan meliputi semua; dan dalam satu 'kshana (kecepatan kilat)', melayani dan memberikan persembahan kepada para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya. Mengapa begitu? Demi meningkat maju dalam upaya-kausalya dengan semua Dharma dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari sebagai pangeran Dharma dari Bodhisattva? Bodhisattva dengan mahir mengetahui sepuluh jenis gejala kejadian. Apakah sepuluh itu? Yaitu: dengan terampil mengetahui bagaimana makhluk hidup mengalami kelahiran kembali; dengan terampil mengetahui asal mula dari penderitaan; dengan terampil mengetahui kekuatan kebiasaan yang berkelanjutan; dengan terampil mengetahui praktek upaya-kausalya; dengan terampil mengetahui Dharma yang tanpa batas; dengan terampil mengetahui semua sikap yang mulia; dengan terampil mengetahui perbedaan dunia; dengan terampil mengetahui peristiwa masa lalu dan masa depan; dengan terampil mengetahui bagaimana menjelaskan makna dari kebenaran biasa; dan dengan terampil mengetahui bagaimana menjelaskan makna dari kebenaran tertinggi; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: upaya-kausalya dalam kedudukan sebagai Dharmaraja; aturan dari kedudukan sebagai Dharmaraja; tempat tinggal dari Dharmaraja; usaha dari Dharmaraja; perenungan Dharmaraja; abhiseka Dharmaraja; pemeliharaan dengan kekuatan Dharmaraja; keberanian Dharmaraja; ketenangan Dharmaraja; dan pujian Dharmaraja. Mengapa begitu? Demi meningkat maju dalam pikiran yang tanpa hambatan dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari abhiseka mahkota dari Bodhisattva? Bodhisattva menyempurnakan sepuluh jenis pengetahuan. Apakah sepuluh itu? Yaitu: menggoncang dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menyinari dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menyokong dunia yang tidak terhitung jumlahnya; pergi ke dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menghiasi dan memurnikan dunia yang tidak terhitung jumlahnya; mengajar makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; mengamati makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; mengetahui indera makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; menyebabkan makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya berjuang memasuki Bodhi; menjinakkan dan menundukkan makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, tubuh Bodhisattva ini dan perbuatan tubuh-Nya, tampilan dari berbagai perubahan wujud dari kekuatan batin-Nya, pengetahuan masa lalu - masa depan - masa kini-Nya, pengembangan Buddhaksetra-Nya, keadaan pikiran-Nya, alam pengetahuan-Nya, semuanya itu tidak dapat diketahui. Bahkan Bodhisattva di tingkat Dharmaraja tidak dapat mengetahuinya.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh jenis pengetahuan Buddha. Apakah sepuluh itu? Yaitu: pengetahuan masa lampau - masa depan - masa sekarang; pengetahuan Buddhadharma; pengetahuan dharmadhatu yang tanpa halangan; pengetahuan dharmadhatu yang tanpa batas; pengetahuan yang memenuhi semua dunia; pengetahuan yang menyinari semua dunia; pengetahuan yang menyokong semua dunia; pengetahuan yang mengetahui semua makhluk hidup; pengetahuan yang mengetahui semua gejala kejadian; pengetahuan yang mengetahui semua Buddha yang tanpa batas; Mengapa begitu? Demi meningkat maju dalam pengetahuan tentang semua cara khusus pembebasan dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

Kemudian pada saat itu, disebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, disetiap sepuluh penjuru arah banyak dunia yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra bergoncang dalam enam cara, yaitu : bergetar, bergetar di semua wilayah, bergetar di semua wilayah di semua penjuru. Menaik, menaik di semua wilayah, menaik di semua wilayah di semua penjuru. Bergelombang, bergelombang di semua wilayah, bergelombang di semua wilayah di semua penjuru. Berguncang, berguncang di semua wilayah, berguncang di semua wilayah di semua penjuru. Bergemuruh, bergemuruh di semua wilayah, bergemuruh di semua wilayah di semua penjuru. Berdentam, berdentam di semua wilayah, berdentam di semua wilayah di semua penjuru.

Ada turun hujan bunga surga, bubuk candana surga, karangan bunga surga, wewangian surga, pakaian permata surga, dan perhiasan surga; Musik surga bermain spontan tanpa henti, dengan pancaran cahaya dan suara yang indah. Sama seperti di dunia ini diatas puncak gunung Sumeru di dalam istana Devendra, sepuluh tempat kediaman dijelaskan dengan menampilkan perubahan wujud ajaib, begitu juga hal yang sama terjadi di semua dunia.

Lagi, disebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru arah, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra, ada datang para Bodhisattva yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra ke tempat ini, memenuhi sepuluh penjuru, Mereka berkata: “Sadhu, Sadhu, Kulaputra, sangat baik Anda membabarkan Dharma ini! Kami semua juga memiliki nama yang sama, Kebijaksanaan Dharma, dan ksetra tempat Kami berasal semuanya memiliki nama yang sama, Megha Dharma. Para Tathagata dari ksetra itu semuanya bernama Saddharma. Di dalam semua Buddhaksetra tempat kami berasal, Sepuluh Tempat Kediaman juga dibabarkan, dan perkumpulan majelis dan pengiringnya, kata dan ungkapannya semuanya juga sama seperti ini, tanpa tambahan atau pengurangan.”

"Kami, Kulaputra, menerima kekuatan batin sang Buddha, telah datang dan memasuki perkumpulan majelis ini untuk memberikan Anda kesaksian. Sama seperti yang ada di perkumpulan majelis ini, di semua dunia di seluruh sepuluh penjuru arah adalah juga begitu."

Kemudian Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru di seluruh dharmadhatu, mengucapkan syair-gatha ini :

Melihat tubuh yang indah dari sang Bijaksana Tertinggi,
Yang dilengkapi dengan hiasan tanda dan kemurnian,
Yang sangat terhormat dan jarang dijumpai,
Para Bodhisattva dengan berani membuat tekad pertama kali.

Melihat kekuatan batin besar yang tiada bandingnya,
Mendengar ramalan, dan mengingat Dharma,
Dan karena penderitaan yang tidak terbatas dari makhluk hidup,
Para Bodhisattva untuk pertama kali membuat tekad.

Mendengar para Tathagata dimana-mana dimuliakan tertinggi,
Yang telah menyempurnakan semua kualitas kebajikan,
Yang sama seperti ruang angkasa, tiada perbedaan,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Sebab dan akibat dari masa lalu - sekarang - masa depan dinamakan tempat.
Sifat alami diri dan gejala kejadian adalah yang tanpa tempat.
Ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dari masa lalu, masa depan, dan masa sekarang,
Semua karma yang baik atau buruk.
Ingin mengetahui selengkapnya yang tiada habisnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua Dhyana, Vimoksa, dan Samadhi,
Yang kotor, yang murni, dan yang tidak terbatas jenisnya.
Ingin mengetahui semuanya, memasukinya, tinggal berdiam, dan keluar,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Sesuai dengan ketajaman atau ketumpulan indera para makhluk,
Kekuatan semangat mereka juga beranekaragam.
Ingin memahami dan mengetahui semua keanekaragamannya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Pemahaman makhluk hidup adalah yang beranekaragam,
Kecenderungan pikiran mereka masing-masing berbeda.
Ingin mengetahui semua kecenderungan yang tidak terbatas ini,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Alam makhluk hidup adalah yang berbeda-beda,
Dan semua dunia adalah yang tidak terbatas.
Ingin mengetahui zat dan sifat alaminya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Jalan dari semua perbuatan yang berkondisi,
Masing-masing memiliki tujuannya.
Ingin mengetahui sifat alaminya yang sesungguhnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Para makhluk hidup di semua dunia,
Mengalir menurut karma mereka tanpa henti.
Ingin mencapai Mata Surga untuk melihat semuanya dengan jelas,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dari semua yang ada di alam masa lalu,
Zatnya, sifat alaminya, dan tandanya sebagaimana apa adanya.
Ingin mengetahui kehidupan mereka sebelumnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Kemunculan yang berkelanjutan dan kekuatan kebiasaan
Dari belenggu angan-angan khayalan dari semua makhluk hidup.
Ingin mengetahui sepenuhnya pada akhirnya menghabiskannya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dari semua berbagai macam ajaran dan percakapan
Yang dibentuk oleh para makhluk hidup.
Ingin mengetahui kebenaran duniawi seperti itu,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua gejala kejadian melampaui ucapan.
Sifat alaminya adalah yang kosong, diam tenang, nirvana, tidak dihasilkan.
Ingin sepenuhnya memahami dan menembus maknanya yang sesungguhnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin mengguncang dunia-dunia di sepuluh penjuru,
Dan menggulingkan semua lautan besar,
Diberkahi dengan Maha Abhijna Bala dari semua Buddha,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin memancarkan cahaya dari satu pori,
Yang menyeluruh menerangi ksetra yang tidak terhitung di sepuluh penjuru,
Dan oleh setiap sinar cahaya itu semuanya menjadi terbangkitkan,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan,
Dibawa ditelapak tangan namun tanpa bergerak,
Mengetahui ini sama seperti khayalan ilusi,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin para makhluk hidup dari ksetra yang tidak terbatas,
Meletakkannya di ujung rambut namun tidak terbatasi,
Mengetahui semua perwujudan tubuh dan tiada diri,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin dengan sehelai rambut mengambil air laut,
Sampai semua Maha Samudra sepenuhnya kering,
Dan mengetahui dengan tepat berapa banyak tetes yang diperlukan.
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Mengurangi semua hingga menjadi butiran debu,
Dunia-dunia yang banyaknya tidak terbayangkan,
Ingin benar-benar jelas mengetahui jumlahnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dalam kalpa yang tidak terbatas di masa lalu dan masa depan,
Tanda-tanda pembentukan dan peluruhan semua dunia.
Ingin benar-benar memahami dan menghabiskan batas-batasnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dalam tiga masa waktu, semua Tathagata,
Semua Pratyekabuddha dan semua Sravakabuddha.
Ingin mengetahui Dharma mereka sepenuhnya tanpa terkecuali,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua dunia yang tanpa batas dan tidak terhitung,
Ingin dengan satu helai rambut mengangkat mereka,
Sepenuhnya memahami zat dan tanda mereka sebagaimana apa adanya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Lingkaran pegunungan yang tidak terbatas dan tidak terhitung jumlahnya
Ingin membuatnya masuk sepenuhnya ke dalam satu pori rambut,
Mengetahui besarnya mereka sebagaimana apa adanya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dengan satu suara halus yang hening-tenang dan damai
Ingin berkhotbah sesuai dengan semua jenis  makhluk di sepuluh penjuru,
Dan menyebabkan semua memahami dengan jelas dan murni,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Segala sesuatu yang diucapkan oleh semua makhluk hidup
Mengungkapkannya dalam satu kata,
Ingin mengetahui sifat alami diri mereka,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Menghasilkan semua ucapan suara dunia
Menyebabkan semua orang menyadari kedamaian nirvana,
Ingin mencapai lidah yang menakjubkan seperti itu,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua dunia di sepuluh penjuru arah,
Dengan tanda-tanda pembentukan dan peluruhannya,
Ingin semua bisa melihat dan mengetahui bahwa itu dihasilkan dari gagasan pikiran,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua dunia di sepuluh penjuru arah,
Dipenuhi dengan para Tathagata.
Ingin mengetahui semua Dharma dari para Buddha itu,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Tubuh yang tidak terhitung dari perubahan wujud yang bervariasi,
Setara dengan banyaknya butiran debu di semua dunia,
Ingin sepenuhnya memahaminya bahwa itu muncul dari pikiran,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Di masa lalu, masa depan, dan sekarang,
Ada para Tathagata yang tidak terbatas, tidak terhitung jumlah-Nya,
Ingin dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua-Nya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin menjelaskan satu ucapan Dharma,
Selama asamkhyeya kalpa tanpa habis-habisnya,
Dan namun setiap ungkapan dan artinya tidak sama,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua makhluk hidup di sepuluh penjuru,
Memiliki tanda perputaran kelahiran dan kematian,
Ingin dalam sekejap satu pikiran mengetahui semuanya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin dengan perbuatan dari tubuh, ucapan, dan pikiran,
Pergi ke mana pun di sepuluh penjuru tanpa halangan,
Dan memahami bahwa tiga masa waktu adalah yang kosong dan tiada,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Setelah membangkitkan tekad Bodhi,
Mereka harus pergi ke semua ksetra di sepuluh penjuru,
Untuk memuliakan dan memberikan persembahan kepada semua Tathagata,
Oleh sebab itu mecapai Avaivartika.

Bodhisattva dengan berani mencari Jalan Buddha,
Tinggal berdiam dalam kelahiran dan kematian tanpa lelah,
Dan berkhotbah kepada orang lain agar mengikuti Dharma,
Oleh sebab itu mecapai Avaivartika.

Di dalam ksetra yang tanpa batas di sepuluh penjuru,
Di setiap itu bertindak sebagai Pemimpin Yang Terhormat.
Mengajarkan seperti ini kepada semua Bodhisattva,
Oleh sebab itu mecapai Avaivartika.

Yang Tertinggi, paling mulia, dan paling utama,   
Yang Mendalam, Dharma yang halus dan murni,   
Mendorong para Bodhisattva untuk mengajarkannya kepada orang-orang,                                                                 
Oleh sebab itu, menjadi terpisah dari penderitaan.

Alam kemenangan yang tidak tergoyahkan,
Tiada bandingan di semua dunia,
Selalu memuji itu kepada para Bodhisattva,
Oleh sebab itu, menyebabkan mereka mencapai Avaivartika.

Buddha, sang Lokanatha yang berkekuatan besar,
Dipenuhi dengan semua kualitas kebajikan,
Membuat para Bodhisattva tinggal berdiam disini,
Dengan cara itu mengajar Mereka menjadi Yang Unggul.

Tempat para Buddha yang tidak terbatas dan tidak terhitung berdiam,
Berangkat ke sana mengunjungi-Nya.
Selalu bergabung dalam perkumpulan majelis para Buddha,
Oleh sebab itu mencapai Avaivartika.

Semua samadhi yang hening-tenang,
Dijelaskan sepenuhnya tanpa pengecualian,
Membabarkannya kepada para Bodhisattva,
Oleh sebab itu mencapai Avaivartika.

Menghancurkan roda kelahiran dan kematian,
Memutar roda Dharma yang murni dan indah,
Tidak melekati semua dunia,
Yang seperti ini adalah ajaran untuk Bodhisattva.

Semua makhluk hidup jatuh ke jalan jahat,
Terikat dan tertekan oleh penderitaan yang tidak terbatas.
Menjadi tempat perlindungan dan penyelamat mereka:
Adalah ajaran untuk Bodhisattva.

Demikianlah Kediaman dari pertama kali menghasilkan tekad dari Bodhisattva,
Dengan satu pikiran mencari Jalan Yang Tiada Tanding.
Sama seperti Dharma yang saya ucapkan,
Begitu juga Dharma dari semua Buddha.

Dalam kediaman kedua dari mempersiapkan dasar,
Para Bodhisattva harus memunculkan pikiran seperti ini:
"Semoga semua makhluk hidup yang di sepuluh penjuru arah,
Mengikuti Dharma dari para Tathagata.”

Pikiran memberi manfaat, menyayangi, menentramkan,
Pikiran mendirikan mereka dengan damai, mengasihi, dan menerima,
Pikiran melindungi makhluk hidup, menganggapnya sama dengan diri sendiri,
Pikiran tentang sebagai Guru Pembimbing.

Setelah tinggal berdiam dalam keadaan pikiran yang unggul ini,
Kemudian Mereka diarahkan belajar dan berlatih,
Selalu senang dalam meditasi yang benar dan hening-tenang,
Dan mendekati semua teman yang berkebajikan.

Berbicara halus dan menyenangkan, tanpa kasar.
Selalu berbicara pada waktu yang tepat dan juga tanpa takut.
Memahami makna dari Dharma dan bertindak dengan sesuai,
Menjauh dari ketidaktahuan dan kebingungan, pikiran tidak bergerak.

Begitulah pembelajaran awal dari Bodhisattvacarya.
Mereka yang dapat mempraktikkan perilaku ini adalah putra Buddha sejati.
Sekarang saya sudah menjelaskan apa yang harus dipraktekkan,
Para putra Buddha harus rajin belajar dengan cara ini.

Bodhisattva di Kediaman ketiga dari praktek,
Harus mengandalkan ajaran Sang Buddha untuk merenungkan dengan tekun
Semua gejala kejadian sebagai yang tidak abadi, penderitaan, dan yang kosong,
Tanpa diri atau perwujudan tubuh (pudgala), dan tanpa ciptaan.

Semua gejala kejadian tidak bisa dinikmati;
Mereka tidak memiliki nama seperti itu, dan tiada lokasi.
Mereka tanpa pembedaan, dan tidak nyata.
Orang yang merenungkan dalam cara ini disebut Bodhisattva.

Kemudian Mereka dibuat merenungkan alam makhluk hidup
Dan didorong untuk merenungkan dharmadhatu;
Semua perbedaan dunia yang beranekaragam,
Semua ini Mereka harus didorong untuk merenungkannya.

Di dunia sepuluh penjuru, dan ruang angkasa,
Seluruh tanah, air, api, dan angin,
Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu,
Mereka harus didorong untuk merenungkan semua ini.

Memeriksa setiap perbedaan dari alam-alam itu.
Zat dan sifat alaminya hingga menyeluruh.
Memperoleh ajaran seperti ini dan rajin mengolahnya,
Mereka kemudian disebut putra Buddha sejati.

Bodhisattva di kediaman keempat dari kelahiran mulia,
Terlahir dari semua ajaran yang bijaksana.
Sepenuhnya memahami semua keberadaan sebagai yang tiada,
Dia melampaui gejala kejadian dan lahir di dharmadhatu.

Keyakinannya pada Buddha adalah yang kukuh dan tidak dapat dihancurkan.
Merenungkan gejala kejadian sebagai yang diam dan nirvana, pikirannya damai.
Terhadap semua makhluk hidup, Dia sepenuhnya mengerti,
Bahwa sifat alami mereka kosong, dan tidak nyata.

Dunia, ksetra, karma, dan ganjaran,
Kelahiran, kematian, dan nirvana, adalah yang juga begitu.
Para putra Buddha yang merenungkan gejala kejadian dalam cara ini,
Adalah yang lahir dari Buddha dan disebut putra Buddha.

Semua Buddhadharma dari masa lalu,
Masa depan, dan masa sekarang,
Memahaminya, mengumpulkannya dan menyempurnakannya.
Dalam cara ini, pembelajarannya menjadi yang tertinggi.

Semua Tathagata dari masa lalu, masa depan, dan sekarang,
Bisa merenungkan semua-Nya sebagai yang sama,
Berbagai macam perbedaan tidak dapat ditemukan.
Orang yang merenungkan dalam cara itu, menembus tiga masa waktu.

Seperti sekarang Saya menyatakan dan memuji
Semua kualitas kebajikan dari kediaman keempat,
Jika orang mengandalkan Dharma dengan rajin mempraktekkannya,
Maka akan cepat menyelesaikan Anuttara Samyaksambodhi.

Selanjutnya, kediaman Kelima dari Bodhisattva,
Disebut Kediaman dari pencapaian upaya-kausalya.
Secara mendalam memasuki upaya-kausalya yang tanpa batas,
Dan menghasilkan karma kualitas kebajikan tertinggi.

Himpunan kualitas kebajikan yang dikembangkan oleh para Bodhisattva,
Adalah untuk menyelamatkan semua makhluk hidup.
Dengan pikiran terkonsentrasi, membantu dan melimpahkan kebahagiaan,
Dengan satu tujuan, oleh belas-kasihan, membebaskan mereka.

Demi semua makhluk, menghilangkan banyak kesulitan,
Memimpin mereka semua keluar dari keberadaan dan membahagiakan mereka,
Menaklukkan mereka semua tanpa kehilangan satupun,
Menyebabkan mereka dipenuhi kebajikan menuju Nirvana.

Semua makhluk hidup tidak terbatas,
Tidak terhingga, tidak terhitung, dan tak terbayangkan banyaknya.
juga tidak dapat diukur, atau dibandingkan.
Para Bodhisattva menerima Dharma ini dari Tathagata.

Para putra Buddha di Kediaman Kelima ini,
Menyempurnakan upaya-kausalya untuk menyelamatkan makhluk hidup.
Sang Bhagavan yang berpengetahuan besar, dengan semua kebajikan,
Membangkitkan Mereka dengan Dharma ini.

Kediaman keenam dari penyempurnaan pikiran yang benar.
Tiada kebingungan tentang sifat alami diri dari gejala kejadian.
Bermeditasi dengan perhatian yang benar dan terpisah dari pembedaan.
Semua dewa dan manusia tidak dapat mengganggunya.

Mendengar pujian atau fitnah kepada Buddha atau Buddhadharma,
Atau kepada para Bodhisattva dan perilaku yang Mereka praktekkan,
Atau bahwa makhluk hidup adalah yang terbatas atau tanpa batas,
Atau tercemar atau tidak tercemar, sulit atau mudah diselamatkan,
Atau dharmadhatu itu besar atau kecil, diciptakan atau dihancurkan,
Atau itu ada atau tidak ada, pikiran Mereka tidak bergerak.
Di masa lalu, masa depan, dan masa sekarang,
Pikiran Mereka yang cermat selalu pasti.

Bahwa semua gejala kejadian adalah yang tanpa ciri-ciri,
Tanpa zat, tanpa sifat alami diri, kosong dan tidak nyata,
Seperti ilusi, seperti mimpi, melampaui gagasan pikiran:
Mereka selalu senang mendengar ajaran seperti itu.

Para Bodhisattva di kediaman ketujuh dari yang tanpa kemunduran,
Tidak pernah mundur walaupun mendengar apapun,
Tentang Buddha, Dharma, atau Bodhisattva,
Apakah Mereka ada atau tidak, meloloskan diri atau tidak meloloskan diri,
Apakah ada atau tidak ada para Buddha,
Di masa lalu, masa depan, masa sekarang,
Apakah pengetahuan Buddha terbatas atau tidak terbatas,
Apakah masa lalu - masa depan - masa sekarang memiliki satu tanda atau beranekaragam,
Satu adalah banyak, banyak adalah satu,
Ungkapan sesuai dengan makna, makna sesuai dengan ungkapan;
Demikianlah itu terjadi secara saling bergantungan:
Inilah yang harus dijelaskan oleh Mereka yang tanpa kemunduran.

Apakah gejala kejadian memiliki tanda atau tidak,
Apakah gejala kejadian memiliki sifat alami atau tidak;
Berbagai macam perbedaan saling menggolongkannya:
Orang begitu mendengar ini, mencapai yang tertinggi.

Para Bodhisattva di Kediaman kedelapan dari usia muda yang murni,
Menyelesaikan tindakan dari tubuh, ucapan, dan pikiran,
Semuanya murni, dan tanpa kesalahan.
Mereka bebas mengambil kelahiran sesuai yang dikehendaki,
Dan mengetahui kecenderungan pikiran makhluk hidup,
Berbagai macam pemahaman mereka, yang masing-masing berbeda,
Dan setiap kualitas yang mereka miliki,
Dan Tanda-tanda penciptaan dan penghancuran ksetra di sepuluh penjuru,
Hingga dengan cepat memperoleh kekuatan batin yang menakjubkan,
Pergi ke mana saja sesuai dengan pikiran dalam sekejap,
Mendengar Dharma di hadapan para Buddha,
Dan memuji praktek Mereka tanpa lelah.
Memahami semua Buddhaksetra,
Menggoncang, menyokong, merenungkannya,
Pergi melampaui Buddhaksetra yang tidak terhitung,
Berkelana di dunia-dunia yang tidak terbatas,
Demi memeriksa Dharma yang tidak terhitung banyaknya;
Dengan bebas mengambil perwujudan tubuh sesuai keinginan,
Keterampilan berbicaranya meliputi semua tempat,
Saat melayani semua Buddha yang tidak terhitung jumlah-Nya.

Para Bodhisattva di Kediaman kesembilan dari pangeran Dharma,
Bisa melihat kelahiran berbeda-beda yang dialami para makhluk hidup;
Memahami penderitaan dan kebiasaan mereka,
Mengetahui Upaya-kausalya yang cocok untuk diterapkan.

Semua Dharma yang berbeda-beda, dan cara sikapnya,
Perbedaan dunia, masa lampau dan masa depan,
Kebenaran biasa dan tertinggi dari itu,
Semuanya diketahui tanpa kecuali.

Pendirian upaya-kausalya dari Dharmaraja,
Dan Dharma yang dibuat-Nya sesuai dengan posisi itu,
Istana Dharmaraja dan pintu masuknya,
Dan juga yang terlihat didalamnya,
Dharma abhiseka Mahkota Dharmaraja,
Dan kekuatan batin-Nya, adhisthana-Nya, keberanian-Nya,
Tempat istirahat-Nya, dan pujian kepada-Nya,
Dengan ini Mereka menggunakannya untuk mengajar para Dharmaputra.

Menjelaskan semua ini kepada mereka, yang tidak habis-habisnya,
Dan menyebabkan pikiran mereka menjadi tanpa kemelekatan.
Dengan memahami ini, dan mengolah perhatian yang benar,
Semua Buddha muncul di hadapan mereka.

Para putra Buddha sejati di Kediaman kesepuluh dari abhiseka mahkota,
Menyempurnakan Dharma yang paling tinggi.
Semua dunia yang tak terhitung jumlahnya di sepuluh penjuru,
Bisa dibuatnya berguncang, dan memancarkan cahaya yang menyinari seluruhnya.

Menyokong dan menjelajahi semuanya tanpa kecuali.
Sepenuhnya memurnikan dan menghiasi semuanya.
Mereka mengajar para makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya,
Mengamati dan mengetahui indera mereka dengan lengkap.

Juga, membangunkan dan menundukkan para makhluk yang tidak terbatas.
Menyebabkan mereka semua cenderung menuju Maha Bodhi.
Mengamati seluruh dharmadhatu,
Pergi ke semua ksetra di sepuluh penjuru.

Perwujudan tubuh dan perbuatan Mereka disana,
Kekuatan batin dan perubahan wujud Mereka adalah yang tidak terukur.
Semua sulit dipahami.
Semua keadaan Buddhaksetra diseluruh tiga masa waktu,
Bahkan Pangeran Dharma tidak bisa mengerti.

Pengetahuan tiga masa waktu dari Dia Yang Melihat Semua,
Pengetahuan yang memahami semua Buddhadharma,
Pengetahuan Dharmadhatu yang tidak terhalang dan tidak terbatas,
Pengetahuan yang sepenuhnya mengisi semua dunia,
Pengetahuan yang menerangi dan menopang dunia,
Pengetahuan yang mengetahui semua kualitas makhluk hidup,
Dan Pengetahuan yang mengetahui Samyaksambodhi yang tanpa batas.
Sang Tathagata menjelaskannya terperinci penuh kepada mereka semua.
Dalam cara ini, semua Bodhisattva di Kediaman kesepuluh
Dilahirkan dari perubahan wujud dari Dharma sang Tathagata.
Praktek yang sesuai dengan kualitas kebajikan Mereka,
Tidak dapat dipahami oleh para dewa dn manusia.

Di masa lalu, masa depan, dan saat ini,
Tekad Mereka untuk mencari KeBuddhaan tidak memiliki batas.
Memenuhi semua ksetra di sepuluh penjuru,
Semuanya bertekad mencapai Sarvajnajnana.

Semua ksetra tidak memiliki batas;
Keadaan dari dunia dan makhluk hidup adalah juga begitu.
Ketidaktahuan, perbuatan, dan kecenderungannya masing-masing berbeda.
Berdasarkan itu, Mereka memunculkan niat untuk Bodhi.

Pikiran saat untuk pertama kali mencari Jalan Buddha,
Para makhluk biasa yang duniawi dan,
Bahkan yang dari dua kendaraan tidak bisa tahu seperti apa,
Apalagi praktek kebajikan yang lainnya!

Jika bisa mengangkat dengan sehelai rambut,
Semua dunia yang ada di sepuluh penjuru,
Orang bisa mengetahui para Putra Buddha ini,
Kemajuan Mereka pada kebijaksanaan Tathagata.

Jika bisa menghabiskan tetesan dengan sehelai rambut,
Air dari semua lautan besar di sepuluh penjuru,
Orang bisa mengetahui para Putra Buddha ini,
Praktek kebajikan Mereka dalam sekejap pikiran.

Jika bisa menghaluskan semua dunia menjadi debu,
Mengetahui jumlah setiap butirnya,
Orang seperti itu bisa melihat,
Jalan yang dilalui oleh para Putra Buddha ini.

Para Buddha dari masa lalu, masa depan, dan masa kini di sepuluh penjuru,
Semua Pratyekabuddha, dan Sravakabuddha,
Sepenuhnya dengan berbagai macam 'kekuatan kefasihan (pratibhanabala)',
Mengajarkan tentang pertama kali menghasilkan pikiran Bodhi.

Kebajikan dari menghasilkan tekad ini tidak dapat diukur;
Sepenuhnya mengisi semua alam makhluk hidup,
Kebijaksanaan yang sangat banyak, tidak bisa menghabiskannya dalam kata,
Apalagi semua praktek menakjubkan yang dilaksanakannya!”
12
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on November 18, 2018, 01:35:23 am »

Aryavalokitesvara



Usnisa Vijaya Dharani

Bab 13
Sumerukutarohana-parivartah

Kemudian pada saat itu, melalui kekuatan sang Tathagata, di dalam benua Jambudvipa dari semua sistem dunia di sepuluh penjuru, terlihat sang Tathagata sedang duduk di bawah pohon Bodhi, di setiap tempat itu ada para Bodhisattva yang menerima kekuatan sang Buddha, sedang menjelaskan Dharma, semuanya berpikir hanya Mereka yang sedang berhadapan dengan sang Buddha di saat itu.

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan, tanpa melangkahkan kaki-Nya meninggalkan pohon Bodhi, naik keatas gunung Sumeru dan menuju ke istana Sakra Dewa Indra. Kemudian Sakra Devendra, didepan gedung Sudharma, melihat sang Buddha sedang datang dari jauh, menghiasi istana melalui kekuatan batinnya sendiri. Dia meletakkan tahta singa dari tumpukan cahaya terang, seluruhnya terbuat dari permata yang sangat indah, dengan sepuluh ribu tingkat perhiasan yang berkilau, sepuluh ribu jaring emas yang menutupinya, sepuluh ribu jenis tirai, sepuluh ribu tingkat dari kanopi yang tersusun di sekeliling, sepuluh ribu sulaman sutera seperti pita tirai, sepuluh ribu untaian permata mani terhubung bersama-sama, sepuluh ribu jubah tersebar di tahta itu, sepuluh ribu dewata dan sepuluh ribu Raja Brahma mengelilinginya di depan dan di belakang, sepuluh ribu sinar cahaya menyinarinya.

Kemudian Sakra Devendra, setelah mengatur tahta ini untuk sang Tathagata, membungkukkan diri dan beranjali, dengan hormat menghadap sang Buddha, dan berkata : "Sadhu, Bhagavan, Sadhu, Sugata, Sadhu, Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Tolong berbelas-kasih untuk singgah di Istana ini."

Kemudian sang Buddha, menerima undangannya, memasuki gedung Sudharma. Hal ini juga terjadi ditempat yang sama di semua dunia di sepuluh penjuru. Kemudian, melalui kekuatan batin sang Buddha, semua musik di istana dalam sekejap berhenti, dan Indra mengingat bagaimana dirinya menanam 'akar kebajikan (kusala-mula)' kepada para Buddha di masa lampau, lalu mengucapkan syair-gatha ini :

Kashyapa Tathagata memiliki Maha Karuna,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Penglihatan Kanakamuni tanpa halangan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Krakucchanda sama seperti gunung emas,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Vishvabhu Buddha adalah yang murni tanpa noda,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Shikhin Tathagata adalah yang bebas dari pembedaan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Vipashin Buddha sama seperti bulan purnama,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Pushya dengan jelas menyadari 'Makna Tertinggi (Paramartha)',
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Kefasihan Tishya (Tirnabhasya) Tathagata adalah yang tanpa halangan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Padma Buddha sepenuhnya murni,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Dipankara Buddha berkilau cemerlang,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Sama seperti di dalam dunia ini, Sakra Devendra di surga Trayastimsa, melalui kekuatan sang Buddha, memuji kebajikan dari sepuluh Buddha, begitu juga dengan semua Sakra Dewa Indra di dunia-dunia dari sepuluh penjuru yang juga memuji kebajikan para Buddha. Kemudian sang Bhagavan Buddha memasuki gedung Sudharma dan duduk dengan sikap bunga teratai. Gedung ini tiba-tiba menjadi sangat luas, sama seperti tempat tinggal dari semua rombongan para dewa. Hal yang sama ini juga terjadi di semua dunia di sepuluh penjuru.

 




Aryavalokitesvara



Om Amogha Vairocana Maha Mudra Mani Padma Jvala Pravartaya Hum (Om Putaran Api Dari Bunga Teratai Mutiara Dari Segel Yang Besar Dari Vairocana Yang Tiada Gagal Hum)

Bab 14
Sumerustava-parivartah


Kemudian pada saat itu, melalui kekuatan batin sang Buddha, ada datang berkumpul para Maha Bodhisattva dari setiap sepuluh penjuru arah, masing-masing didampingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di Buddhaksetra, datang dari dunia-dunia yang jauh, melampaui ksetra yang banyaknya seperti butiran debu di dalam seratus Buddhaksetra. Nama-nama Mereka yaitu : Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, Samantaprajna Bodhisattva Mahasattva, Paramaprajna Bodhisattva Mahasattva, Punyaprajna Bodhisattva Mahasattva, Viryaprajna Bodhisattva Mahasattva, Hitaprajna Bodhisattva Mahasattva, Jnanaprajna Bodhisattva Mahasattva, Satyaprajna Bodhisattva Mahasattva, Anuttaraprajna Bodhisattva Mahasattva, dan Acalaprajna Bodhisattva Mahasattva. Nama-nama dunia asal Mereka yaitu : Indrapuspa, Padma, Ratnapuspa, Utpala, Vajrapuspa, Gandhapuspa, Anandapuspa, Arunakamalapuspa, Naradharapuspa, dan Akasapuspa. Mereka semua telah mengolah brahmacarya yang murni dihadapan para Buddha; Nama-nama para Buddha itu adalah : Aticandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Anantacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Aksobhyacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vayucandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Jalacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimukticandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Anuttaracandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha,
Naksatracandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vijnanacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Ketika para Bodhisattva itu tiba di tempat sang Bhagavan, Mereka berlutut ke Kaki sang Bhagavan, dan lalu Masing-masing, di setiap penjuru asal Mereka, menciptakan Simhasana Permata Vairocana, duduk dalam sikap bunga teratai.

Sama seperti para Bodhisattva itu berkumpul diatas puncak gunung Sumeru di dalam dunia ini, begitu juga hal yang sama terjadi di semua dunia. Nama-nama dari para Bodhisattva-nya, dunia-nya, Buddha-nya semuanya sama seperti ini.

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan memancarkan ratusan ribu miliar sinar cahaya yang berwarna indah dari ujung jari kaki-Nya, yang menerangi semua dunia di sepuluh penjuru, sehingga para Buddha dan perkumpulan majelis di dalam istana Sakra Devendra di atas puncak gunung Sumeru semuanya bisa terlihat.

Kemudian Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Buddha memancarkan sinar murni,
Memperlihatkan semua Pembimbing Dunia,
Yang singgah di gedung Sudharma,
Di atas puncak gunung Sumeru.
 
Semua Sakra Deva Indra,
Mengundang sang Buddha kedalam istana.
Mereka semua dengan sepuluh syair-gatha yang indah,
Memuji para Tathagata.

Diantara perkumpulan majelis yang besar itu,
Ada kelompok para Bodhisattva,
Datang dari sepuluh penjuru,
Duduk dengan tenang di tahta yang diciptakannya.

Para Bodhisattva di dalam perkumpulan itu,
Semua namanya sama seperti Kami,
Dan nama ksetra asal Mereka,
Juga sama namanya.

Para Bhagavan dari ksetra Mereka,
Memiliki nama yang sama juga.
Masing-masing dengan Buddha-nya,
Mengolah praktek murni yang tiada tanding.

Anda, Kulaputra, harus merenungkan,
Kekuatan bebas dari para Tathagata.
Di dalam semua jambudvipa,
Semuanya berpikir sang Buddha ada disana.

Sekarang kita melihat sang Buddha,
Ada diatas puncak gunung Sumeru,
Adalah yang sama dengan yang ada di sepuluh penjuru,
Dikarenakan oleh kekuatan bebas dari sang Tathagata.

Di dalam semua dunia,
Mereka bertekad mencari jalan keBuddhaan,
Dengan mengandalkan ikrar ini,
Mengolah Bodhisattvacarya.

Sang Buddha, dengan berbagai jenis Tubuh,
Menjelajah di semua dunia,
Tanpa halangan di Dharmadhatu,
Melampaui pemahaman semua orang.

Cahaya kebijaksanaan-Nya terus menyinari semua,
Melenyapkan semua kegelapan di dunia;
Sama sekali tiada bandingannya,
Bagaimana bisa dipahami?

Kemudian Samantaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Bahkan jika orang selalu melihat sang Tathagata,
Selama ratusan ribu kalpa,
Namun tidak mengandalkan kebenaran sejati,
Dalam melihat sang Penyelamat Dunia,
Orang seperti ini mencengkram bentuk-rupa,
Dan meningkatkan jaring ketidaktahuan dan khayalan,
Terbelenggu dalam penjara kelahiran dan kematian,
Buta, tidak bisa melihat sang Buddha.

Mengamati semua gejala kejadian,
Sebagai yang tanpa keberadaan diri.
Hal yang sama juga berlaku bagi kemunculan dan peluruhannya,
Yang hanyalah penamaan sementara.
Semua gejala kejadian tidak dilahirkan,
Semua gejala kejadian adalah yang abadi;
Bagi orang yang memahami ini,
Sang Buddha akan selalu tampil.

Sifat alami dari gejala kejadian pada dasarnya kosong dan diam tenang,
Tiada cengkraman dan tiada penglihatan.
Kekosongan dari sifat alami diri adalah sang Buddha;
Itu tidak bisa dinilai dalam pikiran.
Jika orang mengetahui sifat alami diri
Dari semua gejala kejadian adalah yang seperti ini,
Orang ini tidak akan tercemar
Oleh penderitaan.

Orang awam melihat segala sesuatu,
Hanya mengejar bentuk-rupa,
Dan tidak menyadari gejala kejadian tiada bentuk-rupa;
Oleh sebab ini, mereka tidak melihat sang Buddha.

Sang Muni telah melampaui tiga masa waktu,
Dipenuhi dengan tanda-tanda besar,
Tinggal berdiam dalam tiada hunian,
Ada meliputi dimana-mana tanpa berpindah.

Saya mengamati semua gejala kejadian,
Dan dengan jelas memahaminya;
Sekarang Saya melihat sang Tathagata,
Dengan kepastian, terbebas dari keraguan.

Dharmaprajna telah menjelaskan,
Sifat alami yang sesungguhnya dari Tathagata;
Darinya Saya telah mengerti,
Bodhi adalah yang tidak terbayangkan.

Kemudian Paramaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Kebijaksanaan Besar dari sang Tathagata,
Adalah yang langka, melampaui perbandingan;
Semua makhluk di dalam dunia,
Tidak bisa mencapainya dalam pikiran.

Orang awam yang pandangannya terperdaya,
Mencengkram bentuk-rupa dan tidak benar.
Sang Buddha melampaui semua bentuk-rupa,
Jadi, tidak dalam pandangan mereka.

Orang bodoh yang terperdaya,
Dengan salah mencengkram 'lima kumpulan (panca-skandha)',
Tidak memahami sifat alaminya yang sesungguhnya;
Orang seperti ini tidak melihat sang Buddha.

Mengetahui bahwa semua gejala kejadian
Tidak memiliki sifat alami keberadaan diri;
Memahami sifat alami gejala kejadian dalam cara ini,
Akan segera melihat sang Nishyanda.

Disebabkan oleh panca-skandha yang mendahului,
Skandha lain yang mengikuti terus timbul;
Memahami sifat alami ini,
Akan melihat sang Buddha yang tidak terbayangkan.

Sama seperti permata di dalam kegelapan,
Tidak bisa dilihat jika tiada lampu.
Demgan tiada yang menjelaskan Buddhadharma,
Bahkan yang pandai tidak akan memahaminya.

Dan sama seperti mata yang kabur,
Tidak bisa melihat warna murni yang indah.
Begitu juga dengan pikiran yang tidak murni,
Tidak bisa melihat Buddhadharma.

Dan sama seperti matahari terang yang jelas,
Tidak bisa dilihat oleh yang buta.
Mereka yang tanpa kebijaksanaan,
Tidak akan pernah bisa melihat sang Buddha.

Jika bisa menghilangkan kekaburan mata,
Dan membuang gagasan tentang bentuk-rupa,
Dan tidak melihat dalam hal gejala kejadian,
Maka bisa melihat sang Tathagata.

Samantaprajna telah menjelaskan,
Kualitas Bodhi dari sang Buddha.
Darinya Saya telah mendengar,
Dan bisa melihat sang Nishyanda.

Kemudian Punyaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Gejala kejadian tanpa kenyataan yang sesungguhnya;
Karena dengan salah melekatinya sebagai yang nyata,
Oleh sebab itu para orang awam,
Berputar dalam penjara kelahiran dan kematian.

Gejala kejadian yang diungkapkan dengan kata,
Mereka yang sedikit kebijaksanaan salah membedakan.
Dan oleh sebab itu menciptakan rintangan,
Tidak memahami pikirannya sendiri.

Jika tidak memahami pikiran sendiri,
Bagaimana bisa mengetahui jalan yang benar?
Berdasarkan pikiran yang terbingungkan,
Semua pandangan jahat meningkat.

Tidak melihat semua gejala kejadian sebagai yang kosong,
Selalu menderita kesakitan dari lahir dan mati,
Ini disebabkan oleh orang seperti itu,
Masih belum bisa menggunakan Mata Dharma yang murni.

Di masa lampau, Saya mengalami penderitaan,
Karena Saya tidak melihat Buddha.
Jadi, orang harus memurnikan Mata Dharma,
Dan melihat yang harus dilihat.

Jika orang bisa melihat sang Buddha,
Pikiran akan tanpa kemelekatan;
Orang seperti ini lalu bisa melihat,
Dharma yang diketahui sang Buddha.

Jika orang bisa melihat Satya-Dharma sang Buddha,
Maka dia dikatakan yang memiliki kebijaksanaan besar;
Orang ini memiliki mata yang murni,
Dan bisa mengamati dunia.

Tiada pandangan yang melihat,
Yang bisa melihat semua gejala kejadian;
Jika orang memiliki pandangan tentang gejala kejadian,
Ini tidak melihat apapun.

Sifat alami dari semua gejala kejadian,
Tiada asal mula dan tiada akhir.
Alangkah menakjubkan sang Maha Nayaka,
Yang telah terbangkitkan, dan membangkitkan yang lain.

Paramaprajna telah menjelaskan,
Dharma yang dicapai sang Tathagata.
Karena sekarang Kami telah mendengar darinya,
Bisa mengetahui sifat alami Buddha yang sesungguhnya.

Kemudian Viryaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Jika tinggal berdiam pada pembedaan,
Akan menghancurkan kemurnian mata;
Kebodohan, pandangan salah, meningkat,
Dan orang tidak akan pernah melihat Buddha.

Jika bisa mengerti yang salah,
Sebagaimana apa adanya, tanpa khayalan,
Dan mengetahui asal dari khayalan adalah kenyataannya sendiri,
Penglihatan orang pada sang Buddha akan menjadi murni.

Jika ada pandangan, ini adalah kekotoran
Karena ini bukanlah melihat yang sesungguhnya.
Melalui melenyapkan semua pandangan
Maka orang bisa melihat sang Buddha.

Menyebut gejala kejadian dalam penamaan duniawi
Orang secara salah menanggapi;
Dengan mengetahui dunia adalah yang seluruhnya tiada lahir,
Maka orang melihat dunia sebagaimana yang sesungguhnya.

Jika orang melihat dunia melalui penglihatan itu,
Kemudian merasakan bahwa cirinya bersifat duniawi,
Namun ciri-ciri itu tidak berbeda dari kenyataan yang sesungguhnya.
Ini dinamakan penglihatan yang sesungguhnya.

Jika orang melihat semua objek sebagai yang sama, tidak berbeda,
Dan tidak melakukan pembedaan di antaranya,
Penglihatan seperti ini terbebas dari khayalan;
Tanpa arus keluar, mencapai pembebasan.

Semua gejala kejadian yang berbeda,
Yang diungkapkan oleh Buddha,
Tidaklah mungkin dipahami,
Karena sifat alaminya adalah yang murni.

Sifat alami gejala kejadian adalah yang pada dasarnya murni,
Seperti ruang angkasa, tiada tanda.
Tiada apapun yang bisa dijelaskan dalam kata.
Begitulah orang bijaksana merenungkannya.

Berpisah dari pikiran tentang gejala kejadian,
Tidak bersenang-senang dalam semua gejala kejadian,
Tiada apapun yang untuk dikerjakan,
Maka orang bisa melihat sang Maha Muni.

Seperti yang dijelaskan Punyaprajna,
Inilah yang dinamakan Dia Yang Melihat Buddha.
Semua praktek adalah yang,
Kosong oleh sifat alaminya.

Kemudian Hitaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Sungguh langka sang Maha Vira,
Para Tathagata yang tidak terhitung,
Tanpa noda, pikiran-Nya bebas;
Terbebaskan sendiri, membebaskan yang lain.

Saya melihat sang Lampu Dunia,
Sebagaimana apa adanya, tanpa khayalan,
Karena yang telah menghimpun kebijaksanaan
Selama kalpa bisa melihat-Nya.

Perbuatan orang awam,
Seluruhnya cepat lenyap;
Namun Sifat alaminya seperti ruang angkasa,
Jadi dikatakan yang tanpa akhir.

Saat orang bijak mengatakan tentang yang tanpa akhir,
Ini masih tidak mengatakan apapun.
Karena sifat alami diri adalah yang tanpa akhir,
Keadaan seperti itu adalah yang tidak terbayangkan.

Di dalam yang dikatakan tanpa akhir,
Tiada makhluk hidup;
Memahami sifat alami gejala kejadian seperti ini,
Orang bisa melihat sang Maha Yasas.

Tiada pandangan adalah yang dinamakan penglihatan,
Tiada lahir adalah yang dinamakan makhluk;
Apakah pandangan atau makhluk,
Mengetahui itu adalah yang tiada sifat alami yang nyata,
Sang Resi membuang semua
Penglihatan dan objek penglihatan;

Melalui tidak menghancurkan kenyataan,
Orang seperti ini memahami sang Buddha.

Jika orang memahami sang Buddha,
Dan Dharma yang diucapkan sang Buddha,
Maka bisa menyinari dunia,
Seperti yang dilakukan sang Nishyanda Buddha.

Sang Samyaksambuddha dengan baik menunjukkan,
Jalan yang murni dari satu kebenaran;
Sang Viryaprajna Mahasattva,
Menjelaskan gejala kejadian yang tidak terhitung.
Apakah keberadaan atau tiada keberadaan,
Semua gagasan pikiran seperti itu dibuang.
Dengan begitu bisa melihat sang Buddha,
Dan tinggal berdiam di dharmadhatu.

Kemudian Jnanaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Setelah mendengar Dharma terunggul,
Saya menghasilkan cahaya kebijaksanaan,
Menyinari semua alam di sepuluh penjuru,
Melihat semua Buddha.

Tiada sesuatu sekecil apa pun yang ada;
Yang ada hanya nama sementara.
Dengan berpikir ada diri dan orang
Adalah memasuki jalan yang berbahaya.

Orang awam dengan cengkraman kemelekatannya,
Berpikir bahwa tubuh itu sungguh ada.
Sang Tathagata tidak melekat pada apapun;
Oleh karena itu mereka tidak pernah melihat-Nya.

Orang-orang seperti itu tidak memiliki mata kebijaksanaan;
Mereka tidak dapat melihat sang Buddha.
Berputar dalam lautan kelahiran-kematian,
Selama kalpa yang tidak terhitung jumlahnya.

Gagasan pikiran dikatakan kelahiran-kematian,
Sedangkan ketiadaan gagasan pikiran adalah Nirvana.
Kelahiran-kematian dan Nirvana
Tidaklah bisa dipahami.

Orang yang mengejar nama sementara,
Dan melekat pada dua gejala kejadian ini,
Tidak sesuai dengan kenyataan,
Tidak tahu jalan yang menakjubkan dari sang Muni.

Orang yang menghasilkan gagasan pikiran:
"Inilah Buddha, inilah yang paling unggul,"
Tertipu, ini bukanlah kebenaran yang sesungguhnya;
Oleh sebab itu, tidak bisa melihat sang Samyaksambuddha.

Orang yang memahami 'tubuh instisari sesungguhnya (Dharmakaya)',
Ciri diam-tenang dari 'kebenaran apa adanya (tathata)',
Maka bisa melihat sang Samyaksambuddha,
Melampaui ranah ucapan bahasa.

Gejala kejadian yang diungkapkan dalam kata,
Tidak bisa mengungkapkan ciri kenyataan yang sesungguhnya.
Hanya melalui 'meditasi ketenangan yang sunyi (śamatha)' orang bisa melihat,
Gejala kejadian, dan juga sang Buddha.

Para Samyaksambuddha dari masa lalu,
sekarang dan masa depan,
Memotong putus selamanya akar pembedaan,
Oleh karena itu, Mereka dikenal sebagai Buddha.

Kemudian Satyaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Lebih baik saya menderita di neraka,
Dan bisa mendengar nama Buddha,
Daripada menikmati kebahagiaan tanpa batas
Namun tidak mendengar nama Buddha.

Selama kalpa yang tak terhitung jumlahnya di masa lalu,
Menderita kesengsaraan dan celaka,
Berputar dalam kelahiran dan kematian,
Karena tidak mendengar nama Buddha.

Tidak tertipu oleh gejala kejadian,
Menyadarinya sebagaimana apa adanya,
Berpisah dari semua gejala kejadian yang berkondisi,
Inilah yang dinamakan Anuttara Samyaksambodhi.

Tidak berkondisi di masa sekarang,
Tidak juga di masa lampau dan masa depan;
Semua gejala kejadian tiada tanda;
Inilah Dharmakaya sang Buddha.

Jika dalam cara ini orang merenungkan,
Makna yang mendalam dari gejala kejadian,
Maka bisa melihat semua Buddha,
Dan tampilan yang sesungguhnya dari Dharmakaya.

Melihat apa yang sesungguhnya sebagai yang sesungguhnya,
Dan apa yang tidak sesungguhnya sebagai yang tidak sesungguhnya,
Pemahaman yang tertinggi seperti itu,
Adalah alasan untuk nama Buddha.

Buddhadharma tidak bisa disadari.
Memahami ini dinamakan menyadari Dharma.
Para Buddha mempraktekkan cara ini:
Tiada satupun gejala kejadian yang bisa dipahami.

Mengetahui yang satu menghasilkan yang banyak,
Dan yang banyak menghasilkan yang satu,
Menyadari semua gejala kejadian tiada dasar,
Dan hanya timbul dari percampuran.

Tiada pencipta atau ciptaan,
Gejala kejadian timbul dari gagasan pikiran.
Bagaimana bisa mengetahui itu begitu?
Karena selain ini tiada.

Semua gejala kejadian tiada menghuni,
Tanpa tempat tinggal yang tetap.
Para Buddha tinggal berdiam dalam keadaan ini,
Pada yang tertinggi, tidak tergoyahkan.

Kemudian Anuttaraprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Mahasattva yang tiada tanding,
Melenyapkan gagasan pikiran tentang makhluk hidup.
Tiada yang melampauinya;
Oleh sebab itu, Dia dinamakan Anuttara.

Keadaan yang dicapai oleh para Buddha
Diperoleh tanpa pembuatan dan tanpa pembedaan.
Yang kasar tiada keberadaan,
Dan begitu juga yang halus.

Keadaan dari praktik para Buddha
Melampaui bilangan.
Samyaksambodhi terpisah dari bilangan:
Inilah Dharma sejati dari para Buddha.

Cahaya sang Tathagata menyinari semua,
Menghilangkan kesuraman dan kegelapan.
Namun, cahaya ini tidak bersinar
Juga tidak tanpa sinar.

Tidak melekat pada gejala kejadian,
Tiada pikiran dan tiada noda.
Tiada menghuni, tiada tempat tinggal,
Yang tanpa rintangan adalah sifat alami gejala kejadian.

Dalam semua itu, tiada dua,
Juga tidak ada satupun.
Sang Bijaksana Besar yang melihat dengan baik,
Tinggal berdiam sesuai dalam kebenaran ini.

Dalam ketidakberadaan, tiada dua,
Juga tidak ada ketiadaan dua.
Triloka sepenuhnya kosong:
Ini adalah pemahaman para Buddha.

Orang awam, bingung dan tidak tercerahkan,
Atas bimbingan Buddha, datang tinggal di dalam Dharma.
Semua gejala kejadian tiada tempat tinggal.
Memahami ini, melihat dirinya sendiri.

Tidak ada tubuh, namun tubuh dibicarakan.
Tidak ada yang muncul, namun kemunculan diwujudkan.
ketiadaan tubuh dan penglihatan
Adalah tubuh Buddha yang tiada tanding.

Satyaprajna telah menjelaskan
Sifat alami dari Buddhadharma yang halus.
Orang yang mendengar Dharma ini
Akan mencapai mata yang murni.

Kemudian Acalaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Luar biasa pancaran sinar yang besar,
Dari sang Vira yang berani dan tiada tanding.
Dia muncul di dunia,
Demi menyelamatkan yang terperdaya.

Sang Buddha mengamati semua makhluk,
Dengan hati penuh belas kasih besar,
Melihat mereka yang di triloka,
Menderita berulang-ulang.

Kecuali sang Samyaksambuddha,
Sang guru yang dihormati, yang penuh kebajikan,
Tidak ada yang bisa menyelamatkan
Semua manusia dan dewa.

Jika para Buddha dan para Bodhisattva
Tidak muncul di dunia,
Tidak satu pun makhluk hidup
Akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan.

Sang Bhagavan, sang Tathagata,
Sang Arhan Samyaksambuddha,
Muncul di dalam dunia,
Memberikan kebahagiaan kepada makhluk hidup.

Jika orang melihat sang Tathagata,
Itu adalah mendapatkan keuntungan besar;
Mendengar nama Buddha dan mengembangkan keyakinan,
Adalah menara bagi dunia.

Kami melihat para Bhagavan,
Sehingga memperoleh keuntungan yang besar;
Mendengar Dharma yang luar biasa ini,
Akan mencapai Bodhi.

Di masa lalu, para Bodhisattva,
Melalui kekuatan batin sang Buddha,
Mencapai mata kebijaksanaan yang murni,
Dan memahami keadaan para Buddha.

Sekarang kita melihat sang Nishyanda,
Dan keyakinan murni telah berlipat ganda.
Kebijaksanaan Buddha yang tidak terbatas
Tidak pernah bisa sepenuhnya diungkapkan.

Bahkan jika para Bodhisattva,
Seperti Paramaprajna, dan Saya, Acalaprajna,
Membabarkannya selama kalpa yang tidak terhitung,
Tidak pernah bisa sepenuhnya mengungkapkannya.




____________________________________________________________________
Lima Kumpulan (pañca-skandha). Makhluk hidup tersusun dari lima kumpulan: rūpa (bentuk), vedanā (perasaan), saṁjñā (tanggapan penglihatan/gagasan), saṁskāra (pembentukan pikiran), dan vijñāna (kesadaran). Yang pertama adalah benda berwujud dan empat lainnya adalah pikiran. Karena empat ini bukan benda berwujud, hanya ditampilkan dalam bahasa penamaan, pañca-skandha diringkas sebagai Nama dan Rupa. Skandha juga berarti yang menutupi atau menyembunyikan, dan pekerjaan tetap dari pañca-skandha adalah menyembunyikan Tathatā (kenyataan yang sesungguhnya) dari makhluk hidup.
13
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on October 11, 2018, 08:18:49 am »

Aryavalokitesvara



Arya Sariputra

Bab 12
Sattvottara-bodhisattva-upadesa-parivartah


Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva, setelah menjelaskan kualitas kebajikan besar dari karma murni yang tidak menyimpang dan tidak tercemar, ingin menimbulkan kualitas kebajikan dari cita-cita mencapai Bodhi, berkata kepada Sattvottara Bodhisattva Mahasattva :

Karena sekarang, Saya, demi para Bodhisattva,
telah menjelaskan pemurnian karma yang diolah oleh para Tathagata di masa lampau;
Anda juga, Maitri, di dalam perkumpulan majelis ini 
Agar menjelaskan dengan lengkap kualitas kebajikan tertinggi dari penerapan karma.

Kemudian Sattvottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sadhu, Maitri, dengarlah dengan jelas.
Kualitas kebajikan itu tidak bisa diukur:
Sekarang Saya akan menguraikan sedapatnya,
Namun itu hanyalah setetes dari lautan saja.

Ketika pertama kali Bodhisattva menetapkan sang Jalan,
Berikrar untuk mencari dan mencapai Bodhi sang Buddha,
Kebajikan itu adalah yang tidak terbatas,
Tidak bisa diukur, melampaui perbandingan.

Lebih banyak lagi, melewati kalpa tanpa batas yang tidak terhitung,
Sepenuhnya mempraktekkan kualitas kebajikan dari Bhumi dan Paramita;
Bahkan semua Buddha dari sepuluh penjuru,
Bersama-sama tidak bisa sepenuhnya menjelaskannya semua.

Untuk kualitas kebajikan yang tanpa batas ini,
Sekarang Saya akan membabarkannya sedikit,
Seperti angkasa yang di langkahi oleh kaki seekor burung,
Atau seperti sebutir debu di prthivi.

Ketika Bodhisattva menetapkan untuk mencari Bodhi,
Ini bukanlah yang tanpa sebab atau yang tanpa kondisi;
Dengan membangkitkan keyakinan murni dalam Buddha-Dharma-Sangha,
Ini menghasilkan pikiran dermawan yang luas.

Bukan mencari objek nafsu keinginan atau jabatan,
Kekayaan, kesenangan pribadi, atau ketenaran,
Itu hanya demi menghapuskan kesengsaraan makhluk,
Dan menguntungkan dunia, maka Mereka membangkitkan tekad.

Selalu ingin menguntungkan dan menggembirakan semua makhluk,
Menghiasi ksetra dan membuat pemujaan kepada para Buddha,
Menerima Dharma, mempraktekkan kebijaksanaannya,
Untuk mencapai keBuddhaan, Mereka membangkitkan tekad.

Keyakinan mendalam, percaya, dan keteguhan yang selalu murni,
Memuja dan mengormati semua Buddha,
Dan juga Dharma dan Sangha-Nya,
Membuat persembahan dengan ketulusan tertinggi, Mereka membangkitkan tekad.

Keyakinan mendalam kepada Buddhadharma,
Juga meyakini Jalan yang ditempuh oleh para Tathagata,
Dan percaya kepada Maha Bodhi yang tiada tandingan;
Dengan begitu, para Bodhisattva membangkitkan tekad.

Keyakinan adalah landasan jalan, ibu dari kebajikan,
Memelihara dan menumbuhkan semua jalan kebaikan,
Memotong jauh jaring keraguan, membebaskan dari arus nafsu keinginan,
Memperlihatkan jalan kedamaian tertinggi yang tiada tanding.

Ketika keyakinan tidak ternoda, pikiran menjadi murni;
Melenyapkan kebanggaan, adalah akar dari penghormatan,
Dan adalah kekayaan terutama dalam permata keyakinan,
Adalah tangan yang murni untuk menerima praktek.

'Keyakinan (sraddha)' adalah senang memberi, pikiran tidak menyesal;
Keyakinan bisa dengan gembira memasuki Buddhadharma;
Keyakinan bisa meningkatkan pengetahuan dan kebajikan;
Keyakinan bisa menjamin ketibaan di Bodhi.

Keyakinan membuat indera menjadi murni, terang, dan tajam;
Kekuatan dari keyakinan adalah yang kuat dan tidak bisa hancur.
Keyakinan bisa melenyapkan akar penderitaan,
Keyakinan bisa merubah orang seluruhnya menuju kebajikan Buddha.

Keyakinan tiada kemelekatan pada objek,
Melampaui kesusahan, mencapai kebebasan dari masalah.
Keyakinan bisa pergi melampaui jalan Mara,
Dan memperlihatkan jalan pembebasan yang tiada tanding.

Keyakinan adalah benih kebajikan yang murni,
Keyakinan bisa menumbuhkan benih Bodhi.
Keyakinan bisa meningkatkan pengetahuan tertinggi,
Keyakinan bisa menampakkan semua Buddha.

Oleh karena itu, Saya akan menjelaskan tahap praktek yang sesuai:
Keyakinan adalah yang paling kuat, sangat sulit dimiliki;
Itu adalah sama seperti di dalam semua dunia memiliki
Permata Cintamani yang menakjubkan.

Jika Orang bisa selalu penuh keyakinan melayani para Buddha,
Maka bisa menjaga Sila dan mempraktekkan pembelajaran.
Jika Orang selalu menjaga Sila dan mempraktekkan yang dipelajari,
Maka bisa mewujudkan semua kualitas kebajikan. 

Sila bisa mengembangkan landasan Bodhi,
Pembelajaran dasar dari mengolah kebajikan.
Selalu bertindak sesuai dengan Sila dan pembelajarannya,
Orang akan dipuji sebagai yang unggul oleh semua Tathagata.

Jika selalu setia melayani para Buddha,
Maka dapat menghimpun pemujaan yang besar.
Jika bisa menghimpun pemujaan yang besar,
Keyakinan pada buddha akan tidak terbayangkan.

Jika selalu setia melayani Dharma yang luhur,
Maka tidak akan pernah bosan mendengar Buddhadharma.
Jika mendengar Buddhadharma tanpa bosan,
Keyakinan pada Dharma akan tidak terbayangkan.

Jika selalu setia melayani Sangha yang murni,
Maka keyakinan tidak akan pernah surut.
Jika keyakinan tidak pernah surut,
Kekuatan keyakinan tidak akan tergoyahkan.

Jika tiada yang bisa mengoyahkan kekuatan keyakinan,
Maka memperoleh kemurnian, kejelasan, dan ketajaman indera.
Jika memiliki indera yang murni, jelas dan tajam,
Maka bisa menghindar dari pergaulan yang jahat.

Jika bisa menghindari pergaulan yang jahat,
Maka bisa mendekati pertemanan yang baik.
Jika bisa bersama dengan 'teman yang baik (kalyanamitra)',
Maka bisa mengolah kebaikan besar.

Jika bisa mengolah kebaikan besar,
Maka bisa menyempurnakan 'kekuatan sebab yang besar (maha-hetu-bala)'.
Jika menyempurnakan maha-hetu-bala,
Maka bisa mencapai pemahaman pasti yang tertinggi.

Jika mencapai pemahaman pasti yang tertinggi,
Maka akan dilindungi oleh para Buddha.
Jika dilindungi oleh para Buddha,
Maka bisa membangkitkan 'tekad mencapai kebangkitan (Bodhicitta)'.

Jika bisa membangkitkan Bodhicitta,
Maka bisa dengan rajin mengolah kebajikan keBuddhaan.
Jika rajin mengolah kebajikan keBuddhaan,
Maka bisa telahir di dalam 'keluarga Buddha (Buddhakula)'.

Jika dilahirkan di dalam Buddhakula,
Maka bisa mempraktekkan keterampilan pembebasan.
Jika bisa mengembangkan keterampilan pembebasan dengan baik,
Maka bisa mencapai kemurnian pikiran yang penuh keyakinan.

Jika memperoleh kemurnian pikiran yang penuh keyakinan,
Maka bisa meningkatkan tekad tertinggi.
Jika bisa meningkatkan tekad tertinggi,
Maka bisa selalu mempraktekkan 'pencapaian pantai seberang (Paramita)'.

Jika selalu mempraktekkan Paramita,
Maka bisa menunaikan 'kendaraan besar (Mahayana)'.
Jika bisa menunaikan Mahayana,
Maka bisa memberikan pemujaan kepada para Buddha dalam cara yang benar.

Jika bisa memuja para Buddha dalam cara yang benar,
Maka bisa mengingat sang Buddha dengan pikiran yang teguh.
Jika bisa mengingat sang Buddha dengan pikiran yang teguh,
Maka bisa selalu melihat para Buddha yang tidak terbatas.

Jika selalu melihat para Buddha yang tidak terbatas,
Maka melihat intisari 'kebangkitan (Bodhi)' adalah yang abadi.
Jika melihat intisari Bodhi adalah yang abadi,
Maka bisa memahami bahwa gejala kejadian tidak pernah punah.

Jika bisa memahami bahwa gejala kejadian tidak pernah punah,
Maka mencapai kekuatan penjelasan yang tidak terhalang.
Jika mencapai kekuatan penjelasan yang tidak terhalang,
Maka bisa membabarkan Dharma yang tanpa batas.

Jika bisa membabarkan Dharma yang tanpa batas,
Maka bisa dengan belas kasihan membebaskan makhluk hidup.
Jika bisa dengan belas kasihan membebaskan makhluk hidup,
Maka bisa mencapai pikiran belas kasihan yang tidak tergoyahkan.

Jika bisa mencapai pikiran belas kasihan yang tidak tergoyahkan,
Maka bisa memahami Dharma yang paling mendalam.
Jika bisa memahami Dharma yang paling mendalam,
Maka bisa membuang kesalahan dari 'pembentukan berkondisi (samskara)'.

Jika bisa membuang kesalahan dari samskara,
Maka bisa menyingkirkan kesombongan serta pemanjaan diri.
Jika bisa menyingkirkan kesombongan serta pemanjaan diri,
Maka bisa menguntungkan semua mahkluk bersama-sama.

Jika bisa menguntungkan semua makhluk,
Maka bisa tidak lelah dalam kelahiran dan kematian.
Jika bisa tidak lelah dalam kelahiran dan kematian,
Maka bisa menjadi berani dan kuat tidak terkalahkan.

Jika bisa menjadi berani dan kuat tidak terkalahkan,
Maka bisa menghasilkan 'kekuatan batin yang besar (Maha-abhijna-bala)'.
Jika bisa menghasilkan Maha-abhijna-bala,
Maka akan mengetahui semua karma makhluk hidup.
 
Jika mengetahui semua karma makhluk hidup,
Maka bisa mematangkan dan menyempurnakan makhluk hidup.
Jika bisa mematangkan dan menyempurnakan makhluk hidup,
Maka bisa mencapai pengetahuan untuk menyelamatkan semua makhuk.

Jika mencapai pengetahuan untuk menyelamatkan semua makhuk,
Maka bisa menyempurnakan cara penyelamatan.
Jika bisa menyempurnakan cara penyelamatan,
Maka akan memberikan keuntungan yang tanpa batas kepada para makhluk.

Jika memberikan keuntungan yang tanpa batas kepada para makhluk,
Maka akan menunaikan teknik dari pengetahuan tertinggi.
Jika menunaikan teknik dari pengetahuan tertinggi,
Maka akan tetap tinggal di jalan Vira yang tidak terkalahkan.

Jika tetap tinggal di jalan Vira yang tidak terkalahkan,
Maka bisa menghancurkan kekuatan semua Mara.
Jika bisa menghancurkan kekuatan semua Mara,
Maka bisa pergi melampaui alam empat Mara.

Jika bisa pergi melampaui alam empat Mara,
Maka bisa mencapai 'tingkat tanpa kemunduran (Avaivartika-bhumi)'.
Jika bisa mencapai Avaivartika-bhumi,
Maka akan mencapai 'kesabaran menerima gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan (Anutpattikadharmaksanti)'.

Jika mencapai Anutpattikadharmaksanti,
Maka akan menerima 'ramalan (vyakarana)' pencapaian Bodhi dari para Buddha.
Jika menerima vyakarana pencapaian Bodhi dari para Buddha,
Maka semua Buddha akan muncul dihadapan.

Jika semua Buddha muncul dihadapan,
Maka akan memahami kegunaan kekuatan batin yang ajaib dan mendalam.
Jika memahami kegunaan kekuatan batin yang ajaib dan mendalam,
Maka akan diingat oleh semua Buddha.

Jika diingat oleh semua Buddha,
Maka akan menghiasi diri sendiri dengan kualitas 'keBuddhaan (Buddhatva)'.
Jika menghiasi diri sendiri dengan kualitas Buddhatva,
Maka akan mencapai 'tubuh kebahagiaan (Sambhogakaya)'.

Jika mencapai Sambhogakaya,
Maka tubuh akan memancarkan sinar seperti gunung emas.
Jika tubuh memancarkan sinar seperti gunung emas,
Maka akan terhiasi dengan tiga puluh dua tanda.

Jika terhiasi dengan tiga puluh dua tanda,
Maka akan terhiasi dengan kemurnian yang mendampingi.
Jika terhiasi dengan kemurnian yang mendampingi,
Maka lingkaran cahayanya akan menjadi tanpa batas.

Jika lingkaran cahayanya menjadi tanpa batas,
Maka akan terhiasi dengan cahaya yang tidak terbayangkan.
Jika terhiasi dengan cahaya yang tidak terbayangkan,
Maka cahaya itu akan menghasilkan kumpulan bunga teratai.

Jika cahaya itu menghasilkan kumpulan bunga teratai,
Para Buddha yang tidak terhitung akan duduk di bunga teratai itu,
Muncul dimana-mana di sepuluh penjuru,
Mampu menenangkan semua makhluk hidup.

Jika mampu menyelaraskan para makhluk dalam cara ini,
Maka akan mewujudkan 'kekuatan magis (rddhi-bala)' yang tidak terbatas.
Jika mewujudkan rddhi-bala yang tidak terbatas,
Maka akan tinggal berdiam di ksetra yang tidak terbayangkan, menjelaskan Dharma yang tidak terbayangkan, menggembirakan banyak makhluk yang tidak terbayangkan.

Jika menjelaskan Dharma yang tidak terbayangkan,
Menggembirakan banyak makhluk yang tidak terbayangkan,
Maka dengan kebijaksanaan dan kekuatan penjelasan,
Membimbing sesuai dengan pikiran para makhluk.

Jika menggunakan 'kebijaksanaan (prajna)' dan 'kekuatan penjelasan (pratibodhana)',
Membimbing sesuai dengan pikiran para makhluk,
Maka orang tidak akan pernah kehilangan,
Perbuatan yang dituntun oleh kebijaksanaan.

Jika tidak pernah kehilangan
Perbuatan yang dituntun oleh kebijaksanaan,
Maka kekuatan kehendak akan berdaulat,
Dan orang akan mewujudkan tubuh di setiap alam para makhluk.

Jika kekuatan kehendak mencapai kebebasan,
Mewujudkan tubuh di setiap alam para makhluk,
Maka orang akan bisa, ketika mengajar,
Menyesuaikan dengan semua bahasa yang tidak terbayangkan.

Jika bisa, ketika mengajar,
Menyesuaikan dengan semua bahasa, sesuai kumpulan majelis,
Maka orang akan sekejap mengetahui
Pikiran dari semua makhluk hidup.

Jika bisa sekejap mengetahui
Pikiran dari semua makhluk hidup,
Maka akan mengetahui penderitaan tidak timbul dari manapun
Dan tidak akan tenggelam di dalam kelahiran dan kematian.

Jika orang mengetahui penderitaan tidak timbul dari manapun
Dan tidak akan pernah tenggelam di dalam kelahiran dan kematian,
Maka akan mencapai 'tubuh intisari kebenaran (Dharmakaya)'
Dan muncul di dunia melalui kekuatan Dharma.

Jika orang mencapai kualitas kebajikan Dharmakaya
Dan muncul di dunia melalui kekuatan Dharma,
Maka akan mencapai semua Bhumi dan Pembebasan dari Bodhi,
Mempraktekkan paramita dan pembebasan tertinggi.

Jika orang mencapai Bhumi dan Pembebasan dari Bodhi
Mempraktekkan paramita dan pembebasan tertinggi,
Maka akan mencapai kekuatan penyucian yang besar (Maha-Abhiseka-bala)
Dan tinggal berdiam di dalam meditasi tertinggi.

Jika mencapai Maha-Abhiseka-bala
Dan tinggal berdiam di dalam meditasi tertinggi,
Maka di hadapan para Buddha,
Orang itu  akan di Abhiseka dan naik peringkat;
Orang itu akan di Abhiseka dengan 'nektar abadi (Amrta)'
Oleh semua Buddha di sepuluh penjuru.

Jika Orang di Abhiseka dengan Amrta
Oleh semua Buddha di sepuluh penjuru,
Tubuh akan meliputi semua seperti ruang angkasa,
Tinggal berdiam dengan tenang, tidak bergerak, memenuhi sepuluh penjuru.

Jika tubuh meliputi semua seperti ruang angkasa,
Tinggal berdiam dengan tenang, tidak bergerak, memenuhi sepuluh penjuru,
Karma akan melampaui perbandingan,
Tidak diketahui oleh dewa dan manusia.

Para Bodisattva mempraktekkan perbuatan belas-kasih besar,
Berikrar membebaskan semua dengan berhasil;
Mereka yang melihat dan mendengar, menerimanya, memuja,
Mereka menyebabkan semua mencapai kedamaian dan kebahagiaan.

Para Bodhisattva itu memiliki kekuatan batin yang menakjubkan;
Mata Dharma Mereka selalu sempurna tanpa kekurangan;
Jalan praktek kebajikan yang sangat hebat, dan jalan lainnya yang seperti itu,
Adalah permata tertinggi yang Mereka munculkan.

Sama seperti kelompok berlian di lautan,
Melalui kekuatan ajaib, Mereka menghasilkan banyak permata;
Tanpa berkurang atau bertambah, dan tidak habis-habisnya:
Seperti itulah kumpulan besar kebajikan Bodhisattva.

Dimana ada ksetra yang tanpa Buddha,
Disana Mereka muncul mencapai Bodhi;
Dimana ada ksetra yang tidak mengenal Dharma,
Mereka membabarkannya disana permata Dharma yang mulia.

Tanpa membeda-bedakan, tanpa usaha,
Dalam sekejap, Mereka mencapai dimana-mana,
Seperti cahaya bulan membentang dimana-mana,
Mengajar para makhluk dengan teknik yang tidak terhitung.

Di dunia-dunia dari sepuluh penjuru,
Terus-menerus Mereka memperlihatkan jalan Buddhatva:
Memutar Dharmacakra dan memasuki nirvana,
Hingga pembagian relik Mereka.

Kadang-kadang, Mereka memperlihatkan jalan Sravaka atau Pratyekabuddha;
Kadang-kadang, Mereka memperlihatkan seluruh hiasan dari Samyaksambuddha;
Jadi, Mereka membuka Dharma tentang tiga kendaraan,
Dengan luas membebaskan para makhluk selama kalpa yang tanpa batas.

Mereka mungkin mewujudkan bentuk Anak Naga perempuan atau laki-laki,
Atau dewa naga, atau Asura juga,
Hingga Mahoraga dan seterusnya;
Mereka membuat setiap orang melihat sesuai yang diinginkan.

Bentuk rupa dan ciri-ciri para makhluk hidup tidaklah sama,
Tingkah laku dan suara Mereka adalah juga tidak terhitung;
Semua ini, Bodhisattva bisa memunculkannya
Melalui kekuatan ajaib dari lautan Dhyana dan Samadhi.

Secara indah memurnikan ksetra yang tidak terbayangkan,
Membuat persembahan kepada semua Bodhisattva,
Memancarkan cahaya besar yang tanpa batas,
Mereka membebaskan para makhluk hidup yang juga tanpa batas.

Pengetahuan dan kebijaksanaan Mereka bebas dan tidak terbayangkan,
Ucapan Mereka dalam menjelaskan Dharma adalah yang tanpa halangan,
Dana, Sila, Ksanti, Virya, Dhyana, Prajna, Upaya-kausalya, dan Abhijna-bala Mereka seluruhnya juga bebas,
Oleh kekuatan Avatamsaka Samadhi dari Buddha.

Mereka memasuki Samadhi pada satu butir debu
Dan menyelesaikan Samadhi pada semua butiran debu,
Namun butiran itu tidak bertambah;
Di dalam satu butir mewujudkan ksetra yang tidak terbayangkan.

Dari banyak ksetra di dalam satu butir debu,
Beberapa memiliki Buddha, beberapa tidak;
Beberapa tercemar, beberapa murni;
Beberapa besar, beberapa kecil;
Beberapa membentuk, beberapa meluruh;
Beberapa tegak, beberapa miring;
Beberapa seperti ilusi udara panas di dataran yang luas,
Beberapa seperti jaring Indra di surga.

Apa yang diwujudkan di dalam satu butir debu
Juga diwujudkan di dalam semua butiran debu;
Ini adalah kekuatan ajaib dari 'konsentrasi (samadhi)' dan 'pembebasan (vimukti)',
Dari para Resi ini yang 'terkenal luas (Maha-yasa)'.

Jika Mereka mau membuat persembahan kepada semua Buddha,
Mereka memasuki samadhi dan menghasilkan 'perubahan wujud ajaib (vikurvana)',
Mampu mencapai seluruh dharmadhatu dengan satu tangan
Untuk memberikan persembahan kepada semua Tathagata.

Bunga-bunga yang paling indah dalam semua dunia,
Wewangian, dupa, dan permata yang tidak ternilai harganya;
Yang seperti ini semuanya muncul dari tangan Mereka
Untuk di persembahkan kepada sang 'Pemenang (Jina)' yang ada dibawah pohon Bodhi.

Pakaian permata yang tidak ternilai harganya, dengan campuran wewangian,
Bendera permata dan kanopi, semuanya terhias dengan indah,
Dengan bunga emas dan tirai permata;
Semua ini berhujanan dari telapak tangan Mereka.

Benda indah apapun yang ada di dalam semua alam
Yang mungkin layak untuk dipersembahkan kepada sang Bhagavan,
Semuanya berhujanan dari telapak tangan Mereka, lengkap semua,
Dan Mereka membawanya ke pohon Bodhi untuk dipersembahkan kepada sang Buddha.

Semua musik yang indah dari sepuluh penjuru:
Lonceng dan gendang, kecapi dan harpa, yang beraneka jenis,
Semuanya dimainkan secara serasi, dengan nada yang indah,
Semuanya muncul dari telapak tangan para Bodhisattva.

Semua pujian yang ada di sepuluh penjuru,
Yang memuji kebajikan dari para Tathagata,
Semua ucapan menakjubkan yang beranekaragam
Dilantunkan dari dalam telapak tangan Mereka.

Tangan kanan para Bodhisattva memancarkan cahaya yang murni:
Di dalam cahaya itu ada air wangi berhujanan dari langit,
Menaburi Buddhaksetra dari sepuluh penjuru arah,
Sebagai persembahan kepada semua sang Lampu Yang Menerangi Dunia.

Juga, Mereka memancarkan susunan sinar cahaya yang menakjubkan
Menghasilkan bunga teratai permata yang tidak terhitung;
Warna dan bentuk dari bunga teratai itu semuanya unggul,
Ini Mereka persembahkan kepada para Buddha.

Mereka juga memancarkan karangan bunga dari cahaya
Dengan semua jenis bunga menyatu menjadi tirai,
Menyebar di seluruh ksetra dimana-mana
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan bubuk candana,
Berbagai macam dupa dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan pakaian,
Berbagai macam jubah yang indah dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan permata,
Berbagai macam permata yang indah dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.
 
Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan bunga teratai,
Berbagai macam bunga teratai dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan kalung,
Berbagai macam kalung yang indah dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan bendera,
Bersinar dengan berbagai macam pola yang berwarna-warni,
Dari semua jenis, yang tidak terhitung, semuanya sangat indah;
Dengan ini, Mereka menghiasi Buddhaksetra.

Kanopi yang terhiasi dengan campuran permata,
Terbungkus dengan sulaman bendera yang sangat indah,
Dan lonceng permata mani melantunkan suara Buddha;
Ini Mereka bawa sebagai persembahan kepada para Tathagata.

Tangan Mereka menghasilkan Dana seperti itu yang tidak terbayangkan,
Mereka mempersembahkannya kepada sang Nayaka,
Dan melakukan hal yang sama kepada semua Buddha,
Dengan kekuatan batin yang besar dari Samadhi.

Para Bodhisattva tinggal berdiam di dalam Samadhi,
Berhubungan dengan para makhluk melalui berbagai macam keahlian,
Semuanya membimbing melalui cara yang tidak terhitung,
Dengan dasar kebajikan sebagai praktek Mereka.

Beberapa menggunakan pendekatan dari Pemujaan kepada Buddha,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Dana yang tidak terbayangkan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Sila pertapaan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Ksanti yang tidak tergoyahkan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Virya pertapa,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Dhyana yang hening-tenang,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Pengetahuan yang lengkap dan pasti,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Upaya-kausalya,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Tempat tinggal yang murni dan kekuatan batin,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Keuntungan cara penyelamatan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Penghiasan pengetahuan dan kebajikan,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Yang Berkondisi dan Pembebasan,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Indera, kekuatan dan jalan yang benar,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Pembebasan dari Sravaka,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Kemurnian dari Pratyekabuddha,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Pembebasan dari Mahayana,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Penderitaan dari ketidak abadian,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Tiada Diri dan Tiada Hidup,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Kekotoran dan berpisah dari nafsu keinginan,
Beberapa menggunakan Pendekatan dari Samadhi dan nirvana.

Sesuai dengan penyakit para makhluk yang berbeda-beda,
Mereka semua menggunakan obat Dharma untuk menyembuhkannya.
Sesuai dengan kecenderungan pikiran para makhluk,
Mereka semua menggunakan upaya-kausalya untuk memuaskannya.

Sesuai dengan perbedaan tingkah laku para makhluk hidup,
Mereka semua menggunakan keterampilan yang sesuai untuk menyempurnakannya,
Ciri-ciri dari kekuatan Samadhi seperti ini,
Tidak bisa diukur oleh para dewa dan manusia.

Memiliki Samadhi yang menakjubkan yang bernama 'Sesuai dengan Karma (Karmanurupa)',
Para Bodhisattva tinggal berdiam dalam ini dan mengamati semua,
Muncul dengan sesuai untuk membebaskan para makhluk hidup,
Menyebabkan mereka dengan senang berubah sesuai dengan Dharma.

Dimana ada kelaparan dan bencana dalam jaman,
Mereka memberikan hiburan kepada semua di dunia,
Menyebabkan mereka puas sesuai dengan keinginan,
Membuat keuntungan kepada semua makhluk hidup.
Mereka mungkin memberikan makanan dan minuman yang baik,
Pakaian yang mewah, karangan bunga permata,
Dan bahkan tahta kerajaan,
Untuk menyebabkan mereka yang menyukai Dana menjadi sesuai dengan Dharma.

Terhiasi dengan karangan bunga, diminyaki dengan wewangian,
Dengan tingkah-laku terhormat, Mereka membebaskan para makhluk,
Disukai dan dimuliakan oleh semua di dunia.
Penampilan dan pakaian Mereka,
Disesuaikan dengan yang patut disukai
Dan menyebabkan Mereka yang menyukai bentuk-rupa mengikuti sang Jalan.

Dengan suara yang sangat indah seperti nyanyian burung,
Nada-nada yang menakjubkan dalam keselarasan,
Dilengkapi dengan semua jenis suara yang murni,
Mereka berkhotbah kepada para makhluk sesuai dengan yang disukai.

Delapan puluh empat ribu pintu gerbang Dharma,
Digunakan para Buddha untuk membebaskan para makhluk;
Dan sesuai dengan Dharma yang berbeda-beda,
Mereka menggunakan yang sesuai untuk membebaskan.

Kesenangan dan kesakitan makhluk hidup, pendapatan dan kehilangan, dan sebagainya,
Apapun hal yang dikerjakan oleh para makhluk di dunia,
Para Bodhisattva bisa muncul untuk melakukan hal yang sama,
Dalam rangka membebaskan semua makhluk hidup.

Penderitaan dari semua makhluk duniawi,
Yang dalam, luas, dan tanpa batas seperti lautan;
Para Bodhisattva membagi tugas, bisa menghadapinya semua,
Demi menyebabkan mereka beruntung memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.

Jika tidak tahu jalan menuju pembebasan,
Dan tidak mencari pembebasan, pergi dari kekacauan,
Para Bodhisattva memperlihatkan pelepasan kekuasaan dan kekayaan,
Kepuasan dalam pelepasan dan kedamaian pikiran.

Jika rumah adalah tempat belenggu kemelekatan,
Demi menyebabkan semua makhluk hidup terlepas dari masalah,
Mereka memperlihatkan meninggalkan rumah dan mencapai pembebasan,
Tanpa mendambakan kesenangan apapun.

Para Bodhisattva mewujudkan praktek sepuluh jenis perbuatan,
Dan juga mempraktekkan jalan Maha Purusa,
Termasuk praktek Resi dan Muni,
Karena Mereka ingin menguntungkan para makhluk hidup.

Jika ada para makhluk hidup yang usianya tidak terukur,
Yang sedikit penderitaan dan lengkap kesenangannya,
Para Bodhisattva, yang terbebas di tengah-tengahnya,
Memperlihatkan penderitaan dari usia tua, penyakit, dan kematian.

Bagi mereka yang serakah, pendendam, dan bodoh,
Kobaran api dari penderitaan ini yang selalu menyala,
Para Bodhisattva mewujudkan usia tua, penyakit, dan kematian kepada mereka,
Untuk menyebabkan semua makhluk hidup itu dijinakkan.

Sepuluh kekuatan dan keberanian para Buddha,
Dan juga delapan belas kualitas Mereka yang unik,
Semua kebajikan Mereka yang tidak terhitung,
Diwujudkan untuk membebaskan para makhluk.

Mengetahui pikiran orang, Dharma yang sesuai, dan kemampuan muncul dimana-mana,
Adalah semua pekerjaan pembebasan dari para Bodhisattva;
Para Bodhisattva Mahasattva mewujudkannya semua,
Mampu menyebabkan semua makhluk hidup dijinakkan.

Berbagai jenis teknik dari para Bodhisattva,
Menyesuaikan dengan kondisi duniawi untuk membebaskan para makhluk;
Sama seperti bunga teratai yang tidak ditempeli air,
Dengan cara yang sama Mereka didunia membangkitkan keyakinan mendalam.

Dengan pikiran luar biasa dan bakat mendalam sebagai Raja,
Nyanyian dan tarian, dan percakapan yang dikagumi orang banyak,
Semua berbagai jenis seni dan kerajinan di dunia,
Mereka wujudkan layaknya seperti pesulap.

Beberapa menjadi bangsawan, walikota,
Beberapa menjadi saudagar, pemimpin pedagang,
Beberapa menjadi dokter dan ilmuwan,
Beberapa menjadi raja dan menteri.

Beberapa menjadi pohon besar di dataran,
Beberapa menjadi obat atau tambang permata;
Beberapa menjadi 'Permata Pengabul Keinginan (Cintamani)',
Beberapa menjadi memperlihatkan jalan yang benar kepada para makhluk hidup.

Jika Mereka melihat dunia yang baru saja terbentuk,
Dimana para makhluk tidak memiliki peralatan penghidupan,
Para Bodhisattva menjadi Ahli Kerajinan,
Dan mengajarkan mereka berbagai keterampilan.

Mereka tidak membuat apapun yang akan menindas atau menyakiti makhluk hidup;
Mereka hanya menjelaskan hal yang menguntungkan dunia;
Berbagai lapangan pengetahuan seperti seni mantra dan tanaman obat,
Dan semua yang terkandung di dalamnya, mereka bisa jelaskan.

Praktek yang unggul dari semua Muni,
Dengan setia dihormati oleh para Dewa dan Manusia.
Praktek pertapaan yang sulit seperti ini,
Para Bodhisattva bisa laksanakan sesuai kebutuhan.

Beberapa menjadi kaum pengemis tirthika,
Beberapa mempraktekkan pertapaan sendiri di hutan,
Beberapa telanjang tanpa pakaian apapun,
Menjadi guru dan pemimpin dari kelompok seperti ini.

Beberapa memperlihatkan berbagai praktek penghidupan yang salah,
Mempraktekkan sila yang salah sebagai yang tertinggi;
Beberapa mewujudkan sikap pertapa brahma,
Menjadi guru dan pemimpin dari kelompok seperti ini.

Beberapa menelanjangi diri di panas api dan matahari,
Beberapa mempraktekkan pemujaan yang meniru binatang,
Beberapa memakai pakaian kotor dan memuja api;
Demi mengubah pemujaan seperti ini, Mereka menjadi gurunya.

Beberapa memperlihatkan pertunjukan mengunjungi kuil dari berbagai dewa,
Beberapa memperlihatkan pertunjukan memasuki air sungai gangga,
Beberapa makan akar dan buah-buahan, semua membuat pertunjukkan dari praktek-praktek ini,
Sambil selalu merenungkan kebenaran yang melampaui mereka.

Beberapa memperlihatkan sedang berlutut atau berdiri di satu kaki,
Beberapa berbaring di atas duri, atau di debu dan kotoran;
Beberapa berbaring di atas batu pukul, mencari pembebasan
Menjadi guru dan pemimpin dari kelompok seperti ini.

Untuk para pengikut jalan tirthika seperti ini,
Mereka mengamati pikiran dan pemahaman, dan melakukan hal yang sama;
Praktek pertapaan yang Mereka perihatkan, para duniawi tidak bisa pikul;
Menyebabkan mereka terjinakkan setelah melihatnya.

Para makhluk hidup tertipu dan menerima ajaran salah;
Melekat pada pandangan salah, mereka menderita banyak kesakitan;
Kepada mereka diajarkan dengan bijaksana sila-sila yang menakjubkan
Menyebabkan mereka memahami Dharma yang asli.

'Empat Kebenaran Mulia (Catur-arya-satya)' mungkin diajarkan dalam ucapan magis lokal,
Atau, Empat Kebenaran Mulia mungkin diberitakan dalam ucapan rahasia yang terampil,
Atau, Empat Kebenaran Mulia mungkin diucapkan dalam percakapan manusia langsung,
Atau, Empat Kebenaran Mulia mungkin diberitakan dalam ucapan rahasia dewa;
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan melalui pemeriksaan kata-kata,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan melalui pemastian sila,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan dengan terampil menyangkal yang lain,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan tanpa gangguan luar,
Empat Kebenaran Mulia mungkin dijelaskan dalam beberapa bahasa,
Atau, itu mungkin dijelaskan dalam semua bahasa.
Dalam bahasa apapun yang dimengerti oleh para makhluk,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan untuk membebaskan mereka.
Semua Buddhadharma,
Dijelaskan dengan tidak habis-habisnya,
Memahami alam dari ucapan adalah yang tidak terbayangkan;
Ini dinamakan 'Kekuatan Dari Konsentrasi Menjelaskan Kebenaran (Dharmapravacanasamadhi-bala).'

Ada Samadhi tertinggi yang bernama 'Kedamaian Dan Kebahagiaan (Santananda)',
Yang mampu menyeluruh menyelamatkan dan membebaskan semua makhluk hidup,
Memancarkan cahaya yang besar, yang tidak terbayangkan,
Menyebabkan mereka semua yang melihatnya menjadi tenang.
Pancaran cahaya ini bernama 'Perwujudan Yang Baik (Subhavyuha)'.
Jika setiap makhluk hidup bertemu cahaya ini,
Itu akan menguntungkan mereka, tanpa kegagalan;
Melalui cara ini, mereka bisa mencapai pengetahuan yang tiada tanding;
Pertama, itu memperlihatkan para Buddha,
Memperlihatkan Dharma, memperlihatkan Sangha, memperlihatkan Jalan Kebenaran,
Dan juga memperlihatkan Caitya para Buddha dan gambar-Nya;
Oleh inilah cahaya itu dibentuk.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Bersinar (Prabhasa)"
Yang terangnya melampaui cahaya dari semua dewa,
Yang melenyapkan semua hambatan kegelapan,
Yang menguntungkan semua makhluk hidup.
Cahaya ini membangkitkan semua makhluk hidup,
Menyebabkan mereka mempersembahkan lampu kepada para Buddha;
Karena mempersembahkan lampu kepada para Buddha,
Mereka bisa menjadi lampu tertinggi di dunia.
Lampu minyak yang menyala, lampu mentega,
Dan juga berbagai jenis obor yang cemerlang,
Dan lampu dari permata terindah dengan tanaman wangi,
Dengan mempersembahkan ini kepada para Buddha, akan mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Pembebasan (Vimoksa)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Dan menyebabkan mereka mengembangkan 'Ikrar Besar (Maha Pranidhana)',
Untuk menyelamatkan makhluk hidup dari lautan nafsu keinginan.
Jika orang bisa menyeluruh menghasilkan Pranidhana ini,
Demi menyelamatkan makhluk hidup dari lautan nafsu keinginan,
Maka bisa menyeberangi arus penderitaan,
Dan memimpin jalan menuju ke benteng kebebasan yang tanpa kesedihan.
Dengan membangun jembatan dan rakit,
Ditempat perairan pada jalan,
Mencela 'Pembentukan Berkondisi (Samskara)' dan memuji ' Ketenangan Yang Sunyi(Samatha)',
Oleh sebab itu, akan mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Melenyapkan Kemelekatan (Ragapraksina)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka membuang objek nafsu keinginan
Dan berkonsentrasi pada rasa Dharma pembebasan yang indah.
Jika orang bisa membuang objek nafsu keinginan
Dan berkonsentrasi pada rasa Dharma pembebasan yang indah,
Maka bisa, dengan hujan embun manis dari Buddha,
Memadamkan semua kemelekatan di dunia.
Melalui murah hati menyumbang kolam, sumur, dan mata air,
Hanya mencari Anuttara Samyaksambodhi,
Mencela 'Nafsu Keinginan (trsna)' dan memuji 'Meditasi (Dhyana)'
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kegembiraan (Mudita)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka merindukan Samyaksambodhi
Dan menetapkan untuk mencapai jalan tanpa guru.
Membuat patung Buddha yang Maha Karuna,
Terhiasi dengan semua tanda-tanda unik, duduk di atas bunga teratai,
Dan melalui selalu memuji kebajikan tertinggi sang Buddha,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kesadaran (Smrti)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka merenungkan para Buddha,
Dan juga Dharma dan Sangha-Nya.
Jika mereka selalu merenungkan para Buddha,
Dharma dan Sangha-Nya,
Maka di dalam perkumpulan majelis dari para Buddha,
Mereka akan mencapai penerimaan dari kebenaran yang mendalam dari kekosongan gejala kejadian.
Para Bodhisattva yang jumlahnya tidak terhitung,
Membuatnya selalu mengingat Buddha, Dharma, dan Sangha,
Bisa mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kumpulan Kebajikan (Gunasamcaya)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Mendorong mereka mempraktekkan memberi tanpa batas dalam berbagai bentuk,
Bercita-cita menuju jalan tiada tanding.
Mendirikan pekerjaan murah hati besar tanpa menentukan batas,
Memuaskan kebutuhan dari semua yang datang,
Tidak membiarkan pikiran mereka merasa kekurangan,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Pengetahuan Penuh (Purnajnana)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka dalam sekejap, dalam satu ajaran,
Memahami ajaran yang tidak terhitung banyaknya.
Menguraikan ajaran kepada para makhluk hidup
Dan menetapkan makna sejati yang sesungguhnya,
Dengan terampil menjelaskan makna dari ajaran, tanpa kurang,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Lampu Kebijaksanaan (Prajnadipa)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Dan menyebabkan mereka mengetahui makhluk hidup adalah kosong oleh sifat alaminya (svabhava-sunya) dan hening-tenang,
Dan semua gejala kejadian adalah yang tanpa keberadaan.
Dengan menjelaskan bahwa semua gejala kejadian adalah kosong, tanpa pengendali, tanpa diri,
Sama seperti khayalan-ilusi, seperti api, seperti bulan yang tercermin di air,
Dan juga seperti mimpi atau pantulan gambar,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Penguasaan Ajaran (Dharmapatya)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Dan menyebabkan mereka mencapai kekuatan ingatan yang tidak habis-habisnya,
Untuk mempertahankan semua Buddhadharma.
Dengan memuliakan dan menyokong para penjaga Dharma,
Melayani dan melindungi para Resi dan Muni,
Meneruskan berbagai macam Dharma kepada para makhluk,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Mampu Melepaskan (Vimucyati)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang yang kikir,
Membuat mereka menyadari semua kekayaan adalah yang tidak abadi,
Dan senang memberi, tanpa kemelekatan.
Dengan mampu menaklukkan kekikiran yang keras,
Memahami kekayaan adalah seperti mimpi atau awan yang melayang,
Menyebabkan pikiran kedermawanan yang murni bertumbuh,
Bisa mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Menghapuskan Panas (Usmavinaza)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua orang jahat,
Dan menyebabkan mereka menegakkan sila yang murni,
Dan menetapkan untuk mencapai jalan tanpa guru.
Membujuk para makhluk hidup menerima ajaran sila,
Dan memurnikan praktek dari 'Perbuatan Baik (Kusala Karma)',
Dan menyebabkan mereka bertekad mencari Bodhi,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Kesabaran (Ksantivyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para makhluk pemarah,
Menyebabkan mereka menyingkirkan kebencian dan berpisah dari keangkuhan,
Dan dengan senang menjadi sabar dan harmonis.
Ketika keganasan para makhluk sulit di tahan,
Maka dengan pikiran yang tidak goyah, demi Bodhi,
Selalu bergembira membabarkan kebajikan dari kesabaran,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Semangat (Virya)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang malas,
Menyebabkan mereka selalu hormat dan menyokong
Buddha, Dharma, dan Sangha tanpa kenal lelah.
Jika mereka selalu hormat dan menyokong
Buddha, Dharma, dan Sangha,
Maka bisa keluar dari alam empat Mara,
Dan dengan cepat mencapai Anuttara Samyaksambodhi.
Mendorong para makhluk hidup untuk maju,
Selalu rajin menyokong Buddha, Dharma, dan Sangha,
Dengan sepenuh hati menjaga Dharma ketika akan lenyap,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hening-tenang (Santi)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang yang berpikiran kacau,
Menyebabkan mereka lepas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan,
Dengan pikiran yang tanpa ragu dan sangat tenang.
Menjauhi semua teman yang jahat,
Perbincangan yang tidak berguna dan karma yang tidak murni,
Memuji meditasi dan kesunyian,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Kebijaksanaan (Prajnavyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang bodoh yang tertipu,
Menyebabkan mereka menyadari kebenaran dan memahami 'Asal mula ketergantungan (Pratityasamutpada)',
Indera, pengetahuan, dan kebijaksanaan mereka menembus sepenuhnya.
Jika bisa menyadari kebenaran dan memahami Pratityasamutpada,
Indera, pengetahuan, dan kebijaksanaannya menembus,
Maka akan mencapai keadaan dari Samadhi yang bernama Lampu Matahari,
Dengan cahaya kebijaksanaan menyempurnakan buah keBuddhaan.
Mampu memberikan kerajaan dan kekayaan,
Demi Bodhi, mencari ajaran yang benar,
Lalu, setelah mendengarnya, dengan satu pikiran menerapkannya dan menjelaskannya kepada orang,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kebijaksanaan Buddha (Buddhaprajna)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk yang sadar,
Menyebabkan mereka melihat para Buddha yang tanpa batas dan tidak terhitung,
Masing-masing duduk di atas Bunga Teratai Permata.
Memuji kekuatan pembebasan para Buddha,
Menceritakan kebebasan Buddha yang tanpa batas,
Mewujudkan kekuatan ajaib para Buddha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Keberanian (Abhaya)"
Cahaya ini menyinari mereka yang sedang ketakutan,
Menyebabkan penghapusan yang sangat cepat,
Semua gangguan yang berbahaya.
Dengan mampu membuat para makhluk terbebas dari ketakutan,
Mendorong penghentian dari semua penderitaan dan pengalaman sakit,
Menolong mereka yang dalam bahaya, yatim piatu dan yang tidak berdaya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kedamaian (Ksema)"
Cahaya ini bisa menyinari yang sakit,
Dan menyebabkan semua penyakit menjadi sembuh,
Sehingga semua bisa memperoleh kebahagiaan dari 'Konsentrasi Yang Benar (Samyak-samadhi)'.
Memberikan obat untuk menyembuhkan penyakit,
Men-abhiseka dengan wewangian panjang umur yang berharga,
Memberikan mentega, minyak, madu, dan susu untuk makanan orang,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Melihat Buddha (Buddhadarsin)"
Cahaya ini bisa membangkitkan orang yang akan mati,
Menyebabkan mereka melihat setiap Buddha yang dipikirkannya,
Sehingga ketika hidup mereka berakhir, bisa dilahirkan di dalam Buddhaksetra yang murni itu.
Mendorong mereka yang akan mati untuk mengingat Buddha,
Dan memperlihatkan kepada mereka bentuk Buddha untuk dilihat,
Menyebabkan mereka untuk berlindung dalam Buddha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Bergembira Pada Dharma (Dharmaharsa)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka selalu bergembira dalam Saddharma,
Mendengarnya, Menjelaskannya, Menulisnya dan Memperbanyaknya.
Dengan mampu menjelaskan Dharma saat akan berakhir,
Menyebabkan mereka yang mencari Dharma terpenuhi,
Memahami Dharma dan berjuang mempraktekkannya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Suara Yang Menakjubkan (Adbhutasvara)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para Bodhisattva,
Dan menyebabkan semua suara terdengar di dunia,
Untuk menjadi pendengar suara Buddha.
Memuji Buddha dengan kuat,
Dan mempersembahkan musik seperti lonceng dan genta,
Dan menyebabkan semua makhluk mendengar suara Buddha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Menghasilkan Nektar Abadi (Amrtakara)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka membuang semua pemuasan diri,
Dan sepenuhnya mempraktekkan semua kebajikan.
Dengan menjelaskan ketidakkekalan dari pembentukan yang berkondisi,
Dan itu yang dipenuhi dengan gangguan yang tidak terhitung,
Selalu bergembira memuji kebahagiaan dari keheningan tenang yang sunyi,
Bisa membuat Cahaya ini.
   
Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Tertinggi (Parama)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka mendengar dari para Buddha,
Dharma tertinggi tentang Sila, Samadhi dan Prajna.
Selalu bergembira memuji semua Buddha,
Sila-Nya yang tertinggi, Samadhi-Nya, dan Prajna-Nya,
Dalam cara ini mencari jalan tiada tanding,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Permata (Ratnavyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka mencapai gudang permata yang tidak habis-habisnya,
Untuk dipersembahkan kepada para Buddha.
Dengan mempersembahkan berbagai macam permata,
Kepada para Buddha dan Caitya-Nya,
Juga bermurah hati menyumbangkan kepada yang miskin,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Wewangian (Gandhavyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka yang merasakannya menjadi senang,
Dan pasti memenuhi kebajikan Buddha.
Menebari permukaan dengan dupa yang sangat indah,
Untuk dipersembahkan kepada para Nayaka Tertinggi,
Dan juga dengan itu membuat Caitya dan Rupang,
Bisa membuat Cahaya ini.
 
Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Yang Beranekaragam (Nanavyuha)"
Dengan bendera permata dan kanopi yang tidak terhitung banyaknya,
Dupa yang menyala, sebaran Bunga-bunga, musik yang dimainkan,
Memenuhi kota di bagian dalam dan luar.
Dengan mula-mula mempersembahkan kepada para Buddha dengan hiasan yang beranekaragam:
Tarian dan musik yang menakjubkan,
Wewangian, bunga-bunga, bendera, kanopi, dan seterusnya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Parisodhana (Pemurnian)"
Yang menyebabkan permukaan menjadi serata telapak tangan.
Dengan menghiasi Caitya para Buddha dan sekelilingnya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Awan Besar (Maha Megha)
Yang bisa menghasilkan awan wangi dan menurunkan hujan air wangi.
Dengan memercikkan Caitya dan daerah sekitarnya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan (Vyuha)"
Yang bisa menyebabkan yang telanjang menjadi berpakaian.
Dengan menyumbangkan benda yang halus untuk menghiasi tubuh,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Rasa Terunggul (Uttamarasa)"
Yang bisa menyebabkan yang kelaparan mendapat makanan enak.
Dengan menyumbang berbagai jenis makanan enak,
Bisa membuat Cahaya ini.
 
Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kekayaan Besar (Maha Vibhu)"
Yang menyebabkan mereka yang miskin memperoleh harta.
Dengan menyumbangkan benda-benda yang tanpa batas kepada Buddha, Dharma, dan Sangha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Mata Yang Murni (Vimalanetra)"
Yang bisa menyebabkan mereka yang buta melihat semua bentuk dan warna.
Dengan menyumbangkan lampu kepada para Buddha atau Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Telinga Yang Murni (Vimalasrotra)"
Yang bisa menyebabkan mereka yang tuli mampu mendengar.
Dengan memainkan musik kepada para Buddha atau di Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hidung Yang Murni (Vimalaghrana)"
Yang bisa menyebabkan orang mencium harum yang sampai sekarang yang tidak diketahui.
Dengan menyumbang dupa kepada para Buddha dan Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Lidah Yang Murni (Vimalajihva)"
Yang mampu memuji para Buddha dalam suara yang indah.
Dengan selamanya menghentikan ucapan yang kasar dan yang tidak baik,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Tubuh Yang Murni (Vimalakaya)"
Yang menyebabkan yang cacat menjadi sepenuhnya pulih.
Dengan mensujudkan tubuh kepada para Buddha dan Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Pikiran Yang Murni (Vimalacitta)"
Yang menyebabkan pikiran yang mengembara memperoleh 'perhatian yang benar (Samyaksmrti)'.
Dengan mempraktekkan konsentrasi hingga sepenuhnya menguasai,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Bentuk Yang Murni (Vimalarupa)"
Yang menyebabkan orang melihat bentuk para Buddha yang tidak terbayangkan.
Dengan menghiasi Caitya dalam berbagai macam bentuk yang indah,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Suara Yang Murni (Vimalasvara)"
Yang menyebabkan pengetahuan tentang kekosongan utama dari sifat alami suara.
Dengan merenungkan asal mula ketergantungan dari suara, sama seperti gema di dalam lembah,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Wewangian Yang Murni (Vimalagandha)"
Yang menyebabkan semua bau yang buruk termurnikan dengan wangi.
Dengan membersihkan Caitya dan pohon Bodhi menggunakan air wangi,
Bisa membuat Cahaya ini.
 
Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Rasa Yang Murni (Vimalarasa)"
Yang bisa melenyapkan semua racun dalam makanan.
Dengan terus menyokong Buddha, Sangha, dan Ayah-Ibu,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Sentuhan Yang Murni (Vimalasparsa)"
Yang mampu melembutkan apapun yang tidak menyenangkan untuk disentuh.
Walaupun tombak dan pedang berhujanan dari langit,
Itu bisa mengubahnya semua menjadi karangan bunga.
Dengan pernah dimasa lampau menebarkan di jalan,
Dengan wewangian, bunga-bunga, dan jubah-jubah,
Kepada para Buddha yang sedang berjalan,
Bisa mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Gejala Kejadian Yang Murni (Vimaladharma)"
Yang mampu menyebabkan semua pori-pori membabarkan,
Dharma yang menakjubkan dan yang tidak terbayangkan,
Sehingga semua yang mendengar, memahami dengan gembira.
Apa yang berawal dari sebab dan kondisi tidak memiliki asal-mula;
Dharmakaya dari para Buddha bukanlah tubuh;
Sifat alami dari gejala kejadian selalu sama seperti ruang angkasa;
Dengan menjelaskan makna ini bisa memunculkan cahaya ini.

Pintu Gerbang Cahaya yang tidak terbayangkan seperti ini,
Adalah yang tidak terhitung, seperti butiran pasir di sungai Gangga;
Semuanya muncul dari pori-pori sang Maha Muni,
Masing-masing melakukan fungsi yang berbeda-beda.
Sama seperti cahaya yang dipancarkan dari satu pori-Nya,
Adalah yang tidak terhitung, tidak terkira banyaknya seperti butiran pasir di sungai Gangga,
Begitu juga dengan setiap pori-pori-Nya;
Ini adalah kekuatan Samadhi dari sang Muni.
Sesuai dengan Cahaya yang dicapai melalui praktek masa lampau,
Mereka yang mempraktekkan begitu juga, sesuai dengan pemahaman,
Oleh sebab itu, sekarang memancarkan cahaya seperti ini;
Ini adalah pembebasan dari pengetahuan Muni.
Mereka yang mempraktekkan perbuatan kebajikan seperti sang Buddha,
Dan memiliki pemahaman dan bersukacita dengan sesuai,
Yang melihat apa yang dikerjakan-Nya dan lalu mengerjakannya juga,
Mereka semua bisa melihat Cahaya ini.
Jika ada yang mempraktekkan perbuatan kebajikan,
Dan membuat persembahan kepada para Buddha yang tidak terhitung,
Selalu bercita-cita menuju kebajikan 'keBuddhaan (Buddhatva)',
Mereka akan terbangkitkan oleh Cahaya ini.

Sama seperti orang yang terlahir buta tidak melihat matahari,
Itu bukan karena tidak ada matahari yang muncul di dunia;
Semua orang yang matanya baik bisa melihatnya dengan jelas,
Masing-masing melakukan pekerjaan sesuai dengan kedudukan;
Jadi, begitu juga dengan Cahaya dari 'sang Makhluk Besar (Mahasattva)',
Semua orang yang memiliki kebijaksanaan bisa melihat,
Sementara orang yang awam dengan kepercayaan yang salah dan pemahaman yang rendah,
Tidak bisa melihat Cahaya ini;
Istana Mani dan kereta kuda,
Yang diwarnai dengan wewangian halus yang indah,
Adalah yang secara alami diberikan kepada mereka yang berkebajikan;
Itu tidak bisa dihuni oleh orang yang tidak berkebajikan;
Jadi, begitu juga dengan Cahaya dari sang Mahasattva,
Mereka yang berpengetahuan dalam semuanya disinari,
Sementara orang bodoh, yang dengan kepercayaan salah dan pemahaman yang rendah,
Tidak bisa melihat Cahaya ini;

Jika ada orang yang mendengar keanekaragaman dari Cahaya ini
Bisa mengembangkan keyakinan dan tekad yang murni dan mendalam,
Mereka akan membelah jaring dari semua keraguan selamanya,
Dan dengan cepat melengkapi bendera kebajikan.

Ada Samadhi tertinggi yang bisa menghasilkan
Susunan dari rombongan, yang semuanya bebas,
Perkumpulan majelis para putra Buddha yang tiada bandingan,
Yang dari semua Buddhaksetra di sepuluh penjuru;
Ada bunga teratai yang terhiasi dengan cahaya,
Yang sebanding dengan luasnya Maha Sahassra Lokadhatu,
Yang mana para Bodhisattva duduk, sepenuhnya mengisinya;
Ini adalah kekuatan ajaib dari Samadhi ini.
Ada juga bunga teratai yang ada di sekeliling,
Yang banyaknya seperti butiran debu di sepuluh Buddhaksetra,
Yang mana rombongan para putra Buddha duduk,
Tinggal berdiam di dalam kekuatan batin dari Samadhi ini.
Setelah sepenuhnya mengembangkan sebab yang baik di masa lampau,
Dan sepenuhnya mempraktekkan kebajikan Buddhatva,
Orang-orang seperti ini mengelilingi sang Bodhisattva,
Semuanya ber-anjali dan menatap-Nya tanpa bosan.
Seperti bulan yang terang diantara bintang,
Adalah sang Bodhisattva yang ada di tengah-tengah perkumpulan majelis.
Seperti inilah praktek dari sang Mahasattva,
Memasuki kekuatan batin dari Samadhi ini.
Sama seperti yang diwujudkan di dalam satu wilayah,
Dikelilingi oleh rombongan putra Buddha,
Begitu juga di dalam semua wilayah,
Tinggal berdiam di dalam kekuatan batin dari Samadhi ini.

Ada Samadhi tertinggi yang bernama Jaring-Jaring Tempat,
Sang Bodhisattva tinggal berdiam di dalam ini dan mengajar secara luas,
Memunculkan wujud di semua penjuru,
Kadang memasuki Samadhi, kadang timbul;
Kadang memasuki Samyak-samadhi di penjuru timur
Dan timbul dari Samadhi di penjuru barat,
Kadang memasuki Samyak-samadhi di penjuru barat
Dan timbul dari Samadhi di penjuru timur,
Kadang memasuki Samyak-samadhi di penjuru lain
Dan timbul dari Samadhi di penjuru yang lainnya lagi,
Kadang masuk dan timbul meliputi seluruh sepuluh penjuru:
Ini dinamakan kekuatan Samadhi Bodhisattva.

Muncul dihadapan dan berhubungan dengan
Semua Buddha yang tidak terhitung
Dalam ksetra-ksetra di seluruh penjuru timur,
Sambil tinggal berdiam dalam Samadhi ini, diam tidak bergerak,
Dan timbul dari Samadhi
Di hadapan semua Buddha
Dari dunia-dunia di penjuru barat,
Membuat persembahan yang tidak terbatas kepada Mereka semua;
Muncul dihadapan dan berhubungan dengan
Semua Buddha yang tidak terhitung
Dalam ksetra-ksetra di seluruh penjuru barat,
Sambil tinggal berdiam dalam Samadhi ini, diam tidak bergerak,
Dan timbul dari Samadhi
Di hadapan semua Buddha
Dari dunia-dunia di penjuru timur,
Membuat persembahan yang tidak terbatas kepada Mereka semua;
Begitulah sang Bodhisattva memasuki
Semua dunia di sepuluh penjuru,
Kadang mewujudkan Samadhi, diam tidak bergerak,
Kadang mewujudkan pemujaan secara hormat kepada para Buddha.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera mata,
Timbul dari Samadhi dalam bidang bentuk-rupa,
Memperlihatkan yang tidak terbayangkan dari sifat alami bentuk-rupa,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang bentuk-rupa,
Dan Timbul dari Samadhi dalam mata, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera mata adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera telinga,
Timbul dari Samadhi dalam bidang suara,
Membedakan suara dari semua bahasa,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang suara,
Dan Timbul dari Samadhi dalam telinga, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera telinga adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera hidung,
Timbul dari Samadhi dalam bidang aroma,
Menemukan semua wewangian yang paling unggul,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang aroma,
Dan Timbul dari Samadhi dalam hidung, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera hidung adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera lidah,
Timbul dari Samadhi dalam bidang rasa,
Menemukan semua rasa yang paling istimewa,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang rasa,
Dan Timbul dari Samadhi dalam lidah, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera lidah adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera tubuh,
Timbul dari Samadhi dalam bidang sentuhan,
Mampu dengan jelas membedakan semua permukaan,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang sentuhan,
Dan Timbul dari Samadhi dalam tubuh, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera tubuh adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera pikiran,
Timbul dari Samadhi dalam bidang gejala kejadian,
Melihat ciri-ciri dari semua gejala kejadian,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang gejala kejadian,
Dan Timbul dari Samadhi dalam pikiran, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera pikiran adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang yang muda,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang yang dewasa,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang yang dewasa,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang yang tua,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang yang tua,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Upasika,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Upasika,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Upasaka,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Upasaka,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Bhiksuni,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Bhiksuni,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Bhiksu,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Bhiksu,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang 'Pelajar (Saiksatin)' atau 'Bukan Pelajar (Asaiksatin)',
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Saiksatin atau Asaiksatin,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Pratyekabuddha,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Pratyekabuddha,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Samyaksambuddha,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Samyaksambuddha,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Deva,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Deva,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Naga,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Naga,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Yaksha,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Yaksha,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Bhuta,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Bhuta,
Timbul dari Samadhi dalam satu pori-pori rambut,
Memasuki Samyak-samadhi dalam satu pori-pori rambut,
Timbul dari Samadhi dalam semua pori-pori rambut,
Memasuki Samyak-samadhi dalam semua pori-pori rambut,
Timbul dari Samadhi di sehelai ujung rambut,
Memasuki Samyak-samadhi di sehelai ujung rambut,
Timbul dari Samadhi di satu butir debu,
Memasuki Samyak-samadhi di satu butir debu,
Timbul dari Samadhi di semua butiran debu,
Memasuki Samyak-samadhi di semua butiran debu,
Timbul dari Samadhi di permukaan Vajra,
Memasuki Samyak-samadhi di permukaan Vajra,
Timbul dari Samadhi di Pohon Mani,
Memasuki Samyak-samadhi di Pohon Mani,
Timbul dari Samadhi di dalam lingkaran cahaya Buddha,
Memasuki Samyak-samadhi di dalam lingkaran cahaya Buddha,
Timbul dari Samadhi di sungai dan laut,
Memasuki Samyak-samadhi di sungai dan laut,
Timbul dari Samadhi di unsur api,
Memasuki Samyak-samadhi di unsur api,
Timbul dari Samadhi di unsur angin, dengan pikiran tidak terganggu,
Memasuki Samyak-samadhi di unsur angin,
Timbul dari Samadhi di unsur tanah,
Memasuki Samyak-samadhi di unsur tanah,
Timbul dari Samadhi di istana surga,
Memasuki Samyak-samadhi di istana surga,
Timbul dari Samadhi di ruang angkasa, dengan pikiran tidak terganggu,
Ini dinamakan kebebasan yang tidak terbayangkan dari samadhi dari Dia Yang Berkebajikan Tanpa Batas,
Yang semua Buddha dari sepuluh penjuru
Tidak bisa sepenuhnya menjelaskannya bahkan dalam kalpa yang tidak terhitung.

Semua Buddha bersama-sama menjelaskan
Bahwa akibat dari karma para makhluk adalah yang banyaknya tidak terbayangkan.
Tampilan perubahan wujud dari para Naga, keahlian dari para Buddha,
Dan kekuatan batin dari para Bodhisattva adalah juga yang tidak terbayangkan.
Walaupun mencoba menjelaskannya dengan persamaan,
Bagaimanapun juga tidak ada persamaan yang bisa seperti ini;
Namun, orang yang bijaksana dan cerdas,
Memahami maknanya melalui cara persamaan.

Pikiran dari para pengikut Buddha tinggal berdiam di dalam 'Delapan Pembebasan (Asta Vimoksa)'
Dan perubahan wujud yang dilakukan semuanya terlaksana dengan bebas;

Mereka bisa mewujudkan banyak tubuh melalui satu tubuh
Dan bisa membuat satu tubuh dari banyak tubuh.
Mereka bisa memasuki samadhi api di ruang angkasa,
Berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring, seluruhnya di langit,
Menghasilkan air dari tubuh bagian atas dan api dari tubuh bagian bawah,
Atau api dari tubuh bagian atas dan air dari tubuh bagian bawah.
Dalam cara ini, dalam sekejap satu pikiran,
Mereka bisa berubah wujud secara bebas dalam banyak cara yang tidak terhitung.
Mereka tidak sepenuhnya memiliki Maha-karuna,
Dan tidak mencari Buddhatva demi semua makhluk,
Namun Mereka masih bisa mewujudkan hal-hal yang tidak terbayangkan seperti ini.
Apalagi bagi para Bodhisattva yang dermawan, kekuatannya akan jauh lebih besar;

Sama seperti matahari dan bulan mengitari ruang angkasa,
Pantulan cahayanya muncul di semua tempat,
Di mata air, kolam, waduk, dan air di bejana,
Di sungai dan laut yang seperti permata - itu terpantulkan di mana-mana;
Begitu juga dengan bentuk-rupa para Bodhisattva,
Mereka muncul dimana-mana, tidak terbayangkan;
Semua ini adalah kebebasan dari Samadhi,
Yang hanya bisa dicapai oleh Yang Terbangkitkan.

Sama seperti gambar dari empat tentara di air lautan,
Masing-masing berbeda, tidak menyatu, tidak bercampur,
Pedang, tombak, busur dan panahnya banyak dan berbeda-beda,
Perisai, topi baja, dan kereta tempurnya tidaklah sama;
Perbedaan bentuk apapun yang ada,
Semuanya tercermin di air,
Namun air itu sendiri tidak membeda-bedakan;
Samadhi dari para Bodhisattva adalah juga seperti ini.

Di lautan ada sura yang bernama 'Susvara (Suara Yang Bagus)'
Yang suaranya secara menyeluruh menyesuaikan dengan semua makhluk laut,
Dan yang sepenuhnya memahami semua bahasa mereka,
Dan membuat mereka semua bahagia dan bergembira;
Sura itu memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun ia masih bisa memahami semua suara;
Apalagi bagi para Bodhisattva yang pikirannya terkendali, kekuatannya akan jauh lebih besar;
Mana mungkin Mereka tidak bisa menggembirakan semua makhluk?

Ada perempuan yang bernama 'Pratibhanakusala (Keahlian Berbicara)',
Yang terlahir dari doa orang tuanya ke surga;
Jika orag bisa menyingkirkan kejahatan dan senang dalam Dharma,
Maka bisa memasuki tubuhnya dan membangkitkan kefasihan yang menakjubkan.
Dia memiliki nafsu keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan,
Namun masih bisa menganugerahkan kekuatan kefasihan sesuai dengan praktek.
Apalagi bagi para Bodhisattva yang penuh kebijaksanaan,
Bisa menganugerahkan keuntungan kepada para makhluk hidup.

Sama seperti ahli sulap yang mengetahui kemagisan,
Bisa menghasilkan beranekaragam hal yang banyak,
Membuat dalam seketika seperti sehari, sebulan, setahun,
Menghasilkan kota yang kaya dan sangat bahagia;
Ahli sulap itu memiliki nafsu keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan,
Namun masih bisa menggembirakan dunia dengan kemampuan magisnya.
Apalagi dengan kekuatan dari 'Konsentrasi (Samadhi)' dan 'Pembebasan (Vimoksa)',
Bisa mendatangkan kebahagiaan kepada semua makhluk.

Ketika para Deva dan Asura berperang,
Asura kalah dan melarikan diri;
Senjata, kereta tempur, dan tentaranya,
Mereka menyembunyikannya dalam sekejap tiada yang bisa melihat.
Mereka memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa melakukan perubahan wujud yang tidak terbayangkan;
Apalagi dengan tinggal berdiam dalam keberanian dari kekuatan Abhijna,
Sekarang mewujudkan kebebasan yang berdaulat.

Sakra devendra memiliki gajah kerajaan,
Ketika ia tahu bahwa Devendra ingin pergi kesuatu tempat,
Ia mengubah dirinya sendiri, menciptakan tiga puluh tiga kepala,
Masing-masing kepala ada enam gading,
Dengan tujuh kolam air di setiap gading,
Yang bersih dan wangi, murni, tenang dan penuh.
Dalam air dari setiap kolam yang murni itu,
Ada tujuh bunga teratai dalam susunan yang indah;
Di setiap hiasan bunga teratai itu,
Ada tujuh Dewi yang seperti permata,
Dengan mahir menari dan memainkan musik,
Menghibur Sakra Devendra.
Gajah itu juga bisa menghilangkan bentuk aslinya,
Dan mengubah tubuhnya menjadi yang seperti para Dewa,
Yang sepenuhnya sama dalam sikap dan tindakan.
Ia memiliki kekuatan perubahan wujud ajaib ini.
Ia memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa mewujudkan kekuatan ajaib seperti ini.
Apalagi bagi Dia yang dipenuhi dengan Upaya-kausalya dan Pengetahuan,
Bebas dalam semua keadaan dari Samadhi.

Sama seperti perubahan wujud tubuh ilusi dari Asura,
Sedang berjalan di lapisan vajra, sedang berdiri dilautan,
Bagian paling dalam dari air lautan hanya mencapai perutnya,
Sedangkan kepalanya sama tingginya dengan gunung Sumeru.
Ia memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa menampilkan keajaiban besar seperti ini.
Apalagi bagi sang Lampu Penumpas Mara yang menerangi dunia,
Memiliki kekuatan ajaib yang menakjubkan.

Ketika para Dewa dan Asura berperang,
Kekuatan ajaib Sakra Devendra adalah yang tidak terbayangkan,
Seberapa banyakpun tentara Asura yang ada,
Devendra mewujudkan tubuh yang sama banyaknya untuk melawan.
Para Asura berpikir,
"Indra sedang datang ke kami,
Dan pasti akan menangkap dan mengikat kami,"
Jadi, mereka semua gelisah dan takut.
Indra mewujudkan tubuh dengan ribuan mata,
Yang memegang Halilintar Vajra, dan melempar api,
Berbaju perisai, bersenjata, dan dengan kemuliaan yang menakjubkan;
Para Asura yang melihat ini, semuanya mundur.
Indra, melalui kekuatan dari kebajikan yang sedikit,
Masih bisa mengalahkan musuh yang berjumlah besar.
Apalagi bagi sang Penyelamat Semua,
Yang dipenuhi dengan semua kebajikan.

Di surga Trayastrimsa, ada 'Genderang Surga (Divyadundubhir)'
Yang dihasilkan sebagai akibat dari karma para dewa;
Itu diketahui saat para dewa sedang memanjakan diri,
Dan dengan sendirinya mengumumkan suara ini di ruang angkasa :
"Semua objek nafsu keinginan adalah yang tidak tetap,
Seperti gelembung air, busa, yang kosong, tidak nyata;
Semua keberadaan seperti mimpi, seperti khayalan,
Seperti awan yang mengambang, bulan di air.
Pemuasan nafsu adalah musuh, siksaan dan penderitaan.
Itu bukanlah jalan keabadian, namun jalan kelahiran dan kematian.
Dan orang yang bertindak memuaskan nafsu
Akan memasuki mulut ikan kematian.
Karena itu adalah akar dari semua penderitaan dunia,
Semua orang bijak menghindarinya.
Kualitas dari objek nafsu keinginan adalah yang tidak bertahan lama.
Anda harus bergembira dalam apa yang nyata dan sesungguhnya."
Ketika para dewa surga Trayastrimsa mendengar suara ini,
Mereka semua berangkat ke gedung Sudharma,
Dan Dewa Indra mengkhotbahkan kepada mereka Dharma yang halus,
Membuat mereka patuh dan hening-tenang, menyingkirkan ketamakan dan pendambaan.
Suara itu tanpa bentuk-rupa dan tidak bisa dilihat,
Namun itu dapat menguntungkan para dewa.
Apalagi bagi tubuh yang diwujudkan sesuai dengan kecenderungan,
Bisa digunakan para Bodhisattva untuk menyelamatkan dan membebaskan para makhluk.

Ketika para Dewa dan Asura berperang,
Melalui kekuatan kebajikan dari para dewa yang unggul,
Genderang surga berbunyi, memberitahukan kepada rombongan,
"Anda jangan khawatir atau takut,"
Dan para Dewa, setelah mendengar pengumuman ini,
Terbebas dari ketakutan dan meningkat kekuatan.
Kemudian pikiran para Asura terguncang dengan rasa takut,
Dan tentara mereka semuanya mundur dan melarikan diri.
Samadhi yang wangi dan menakjubkan adalah yang seperti Genderang surga:
Itu selalu menghasilkan suara tanpa nafsu, menaklukkan mara;
Maha-karuna dengan murah hati menolong semua,
Menyebabkan semua makhluk mengakhiri penderitaan.

Indra telah bersetubuh dengan semua dewi,
Sembilan puluh dua koti-nayuta banyaknya,
Menyebabkan masing-masing mereka berpikir,
Bahwa sang Indra hanya menghibur dia satu-satunya saja.
Sama seperti dia menanggapi tubuh semua dewi,
Begitu juga dengan di dalam gedung Sudharma,
Dia bisa dalam sekejap mewujudkan kekuatan ajaib,
Dan pergi ke masing-masing orang untuk berkhotbah.
Indra memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa menyebabkan semua rombongannya bahagiah.
Apalagi dengan kekuatan batin dari upaya-kausalya,
Mampu menyebabkan semua bergembira.

Raja surga Paranirmitavasavarti,
Berkuasa di dalam 'alam nafsu (kamadhatu)';
Dengan kebiasaan yang keliru untuk menjerat,
Dia menangkap dan mengikat semua orang awam.
Dia memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun memiliki penguasaan atas para makhluk hidup.
Apalagi bagi Dia yang memiliki Dasabala yang berdaulat,
Mampu menyebabkan para makhluk bertindak dengan sesuai.

Raja Maha Brahma penguasa Trisahasra Mahā sahasra loka-dhātu,
Bisa muncul di dalam semua tempat kediaman,
Dari para dewa brahma dan duduk dengan mereka,
Berbicara dalam suara Brahma yang murni dan halus.
Dia tinggal berdiam dalam jalan brahma duniawi,
Namun masih memiliki Samadhi dan kekuatan ajaib.
Apalagi bagi Dia Yang Melampaui Duniawi, Yang Tiada Tanding,
Memiliki penguasaan atas Samadhi dan Pembebasan.

Pengetahuan dari Dewa Maha Isvara adalah yang berkuasa;
Ketika para Naga laut menurunkan hujan,
Dia bisa menghitung dengan jelas setiap tetes,
Melihatnya semua dalam sekejap;
Jika orang secara rajin paktek dan belajar selama kalpa yang tidak terhitung,
Dan mencapai pengetahuan tertinggi dari Bodhi,
Tidaklah mungkin orang seperti itu tidak bisa,
Dalam sekejap mengetahui pikiran semua makhluk.

Akibat dari karma para makhluk hidup adalah yang tidak terbayangkan banyaknya.
Makhluk seperti Mahavayubala (kekuatan angin yang besar), menghasilkan yang ada di dunia:
Lautan yang luas, pegunungan, istana dewa,
Cahaya permata, dan semua jenis gejala-kejadian;
Itu juga bisa menghasilkan awan dan mendatangkan hujan,
Dan bisa membubarkan dan menghilangkan semua mendung,
Dan bisa mematangkan semua gandum,
Dan bisa menghibur makhluk hidup.
Vayu itu tidak bisa mempelajari Prajna-paramita,
Atau mempelajari kualitas dari Buddhatva,
Namun masih bisa melaksanakan perbuatan yang tidak terbayangkan.
Apalagi bagi Dia Yang Menepati Semua Pranidhana-nya.

Berbagai macam suara laki-laki dan perempuan,
Suara burung dan binatang,
Suara lautan, sungai, dan halilintar,
Semuanya bisa menggembirakan pikiran para makhluk hidup,
Apalagi bagi Orang Yang Mengetahui Sifat Alami Suara Yang Adalah Seperti Gema,
Yang mencapai kefasihan yang menakjubkan dan tidak terhalang,
Dan mengajar Dharma dengan sesuai kepada semua,
Adalah yang mampu menggembirakan para makhluk dunia.

Lautan memiliki kualitas luar biasa istimewa,
Itu bisa menjadi pencermin yang sama untuk semua;
Para makhluk hidup, permata, sungai dan arus,
Semua itu dikandungnya, tidak menghalangi apapun.
Dia yang dengan 'meditasi (Dhyana)', 'konsentrasi (Samadhi)', dan 'pembebasan (Vimoksa)' yang tidak habis-habisnya,
Juga bisa menjadi Mudra dari kesamaan, yang mencermin dengan sama, seperti ini;
Praktek yang menakjubkan dari kebajikan dan pengetahuan
Dia mengolah semuanya tanpa kenal lelah.
Ketika para Raja Naga laut mengembara,
Mereka bebas dimanapun berada,
Menghasilkan awan yang menutupi bumi,
Awan-awan ini menghiasi dengan beranekaragam warna;
Di surga keenam, Paranirmitavasavarti,
Awannya berwarna emas;
Di surga Nirmanarati, warnanya seperti mutiara merah;
Di surga Tusita, warnanya seperti kristal salju;
Di surga Yama, warnanya seperti lapis lazuli;
Di surga Trayastimsa, warnanya seperti Vaidurya;
Di surga Catur-maharajika, warnanya seperti Mani;
Di atas laut, warnanya seperti Vajra;
Di alam Kinnara, warnanya seperti dupa;
Di tempat tinggal Naga, warnanya seperti bunga teratai;
Di tempat tinggal Yaksha, warnanya seperti angsa putih;
Di antara para Asura, warnanya seperti batu pegunungan;
Di Uttarakuru, warnanya seperti api emas;
Di Jambudvipa, warnanya seperti Nilamani;
Di benua yang lainnya, hiasannya bercampur;
Ini ditentukan sesuai dengan kecenderungan para makhluk.

Juga, di surga Paranirmitavasavarti,
Petirnya berwarna seperti sinar matahari;
Di surga Nirmanarati, warnanya seperti cahaya bulan;
Di surga Tusita, warnanya seperti emas jambunada;
Di surga Yama, warnanya seperti permata salju;
Di surga Trayastimsa, warnanya seperti api keemasan;
Di surga Catur-maharajika, warnanya seperti semua permata;
Di atas laut, warnanya seperti mutiara merah;
Di alam Kinnara, warnanya seperti lapis lazuli;
Di tempat tinggal Naga, warnanya seperti tambang permata;
Di tempat tinggal Yaksha, warnanya seperti permata mani;
Di antara para Asura, warnanya seperti batu permata;
Di Uttarakuru, warnanya seperti mutiara api;
Di Jambudvipa, warnanya seperti Nilamani;
Di benua yang lainnya, hiasannya bercampur;
Sama seperti warna awannya, begitu juga dengan petirnya.

Di surga Paranirmitavasavarti,
Gunturnya seperti suara Brahma;
Di surga Nirmanarati, suaranya seperti genderang besar;
Di surga Tusita, suaranya seperti nyanyian;
Di surga Yama, suaranya seperti suara para dewi;
Di surga Trayastimsa, suaranya seperti bernekaragam suara para kinnara;
Di surga Catur-maharajika, suaranya seperti yang dihasilkan dari para gandharva;
Di atas laut, suaranya seperti pegunungan yang saling bertabrakkan;
Di alam Kinnara, suaranya seperti seruling;
Di tempat tinggal Naga, suaranya seperti suara burung kalavinka;
Di tempat tinggal Yaksha, suaranya seperti suara para gadis naga;
Di antara para Asura, suaranya seperti genderang surga;
Di antara para Manusia, suaranya seperti suara hantaman ombak;

Di surga Paranirmitavasavarti, turun hujan wewangian
Dengan beranekaragam campuran bunga sebagai hiasan;
Di surga Nirmanarati, turun hujan bunga kapas,
bunga mandarava, dan beranekaragam wewangian;
Di surga Tusita, turun hujan permata mani
Lengkap dengan hiasan dari berbagai jenis permata;
Disana, permata di atas jambul sama seperti cahaya bulan,
Pakaian indah yang dipakai disana berwarna emas;
Di surga Yama, turun hujan bendera dan kanopi,
Kalung karangan bunga, wewangian, dan hiasan yang indah,
Dan juga pakaian unggul yang berwarna permata mani,
Dan beranekaragam musik;
Di surga Trayastimsa, turun hujan permata Cintamani,
Gaharu hitam dan wewangian candana,
Berbagai wewangian dari bunga-bunga surga,
Berhujanan turun satu sama lain;
Di surga Catur-maharajika, turun hujan makanan lezat
Dengan warna, wangi, dan rasa yang meningkatkan kekuatan;
Itu juga menurunkan hujan permata-permata indah yang tidak terbayangkan,
Semuanya dibuat oleh para Raja Naga.
Juga, di laut,
Hujannya terus meningkat, seperti putaran,
Dan menurunkan hujan gudang permata yang tidak habis-habisnya,
Dan juga menurunkan hujan beranekaragam perhiasan permata;
Di alam Kinnara, turun hujan kalung,
Bunga teratai yang berwarna-warni, jubah, dan permata,
Bunga-bunga yang tumbuh dalam hujan, dan bunga berwarna emas,
Dengan berbagai jenis musik semuanya tercakup didalamnya;
Di tempat tinggal Naga, turun hujan mutiara merah;
Di antara para Asura, turun hujan senjata
Yang menaklukkan semua musuh;
Di benua Uttarakuru, turun hujan kalung
Dan juga turun hujan bunga-bunga indah yang tidak terhitung;
Di benua Purvavideha dan Aparagodaniya
Turun hujan perhiasan;
Di Jambudvipa, turun hujan air murni,
Sangat baik, menyegarkan, selalu disaat yang tepat,
Memelihara bunga, buah, dan tanaman,
Mematangkan semua panen.
Hiasan indah yang tidak terhitung seperti ini,
Berbagai jenis awan, petir, guntur, dan hujan,
Para Raja Naga bisa dengan bebas membuatnya.
Tanpa menggerakkan tubuh mereka, tanpa pembedaan,
Di dalam dunianya, di lautan tempat mereka tinggal,
Masih bisa mewujudkan kekuatan yang tidak terbayangkan seperti ini.
Apalagi bagi Dia yang memasuki lautan Dharma dan mewujudkan kebajikan,
Bisa menghasilkan 'Perubahan Wujud Ajaib Yang Besar (Maha-vikurvana)'.

Pintu pembebasan dari para Bodhisattva
Tidak bisa diungkapkan melalui kiasan apapun,
Namun Saya telah, dengan persamaan ini,
Mengumumkan kekuatan pembebasan Mereka.
 
Pengetahuan yang terutama, kebijaksanaan yang luas,
Pengetahuan yang sesungguhnya, kebijaksanaan yang tanpa batas,
Kebijaksanaan yang luar biasa, kebijaksanaan tertinggi,
Sekarang Dharma seperti ini telah dijelaskan.
Dharma ini adalah yang langka dan paling luar biasa;
Jika orang setelah mendengar bisa menerimanya,
Mempercayainya, menyerapnya, memujinya, dan menjelaskannya,
Pencapaian ini dianggap sebagai yang paling sulit.
Dari semua orang awam di dunia,
Adalah yang paling sulit untuk menemukan yang mempercayai Dharma ini.
Jika ada yang rajin mengolah kebajikan yang murni,
Melalui kekuatan sebab masa lampau, mereka bisa percaya.
Diantara para makhluk dari semua dunia,
Sedikit yang mau mencari Sravakayana;
Mereka yang mencari Pratyekabuddhayana bahkan lebih sedikit,
Dan Mereka yang bertujuan pada Mahayana sangatlah sulit ditemukan.
Namun berjuang untuk Mahayana adalah yang masih mudah,
Dibandingkan dengan kesulitan yang lebih besar dari mempercayai Dharma ini.
Bahkan lebih sulit lagi untuk memelihara, membaca dan menjelaskannya kepada orang lain,
Mempraktekkan sesuai dengan Dharma ini dan sungguh memahaminya.
Menggenggam Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu di satu tangan,
Dengan tanpa bergerak selama satu kalpa,
Bukanlah hal yang sulit,
Dibandingkan mempercayai Dharma ini.
Jika orang menyediakan kesenangan selama satu kalpa,
Di tempat tinggal para makhluk yang banyaknya seperti butiran debu di sepuluh Buddhaksetra,
Kebajikannya tidaklah dianggap sebagai yang tertinggi,
Orang yang mempercayai Dharma ini adalah yang paling unggul.
Bahkan dengan menghabiskan waktu selama satu kalpa melayani
Para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu di sepuluh Buddhaksetra,
Kebajikan akan menjadi jauh lebih besar, tertinggi,
Jika Orang bisa membaca dan mempertahankan Dharma ini.

Ketika Sattvottara Bodhisattva Mahasattva telah mengucapkan syair-gatha ini, dunia-dunia di sepuluh penjuru berguncang dalam enam cara, istana Mara menjadi tertutup, alam penyakit menjadi berhenti; Para Buddha dari sepuluh penjuru muncul dihadapannya dan Masing-Masing menepuk kepalanya dengan tangan kanan Mereka dan memujinya dengan berkata : "Sadhu, Kulaputra, Sadhu, Anda telah dengan tepat menjelaskan Dharma ini, dan Kami semua oleh sebab itu bergembira!"

_________________________________________________________________________________________________
Asta - Vimoksa : adalah praktek meditasi yang mengarah kepada pelepasan dari penampilan di dalam delapan tingkat berikut,
[1] perenungan pada semua bentuk penampilan dan kerusakannya.
[2] perenungan pada ketidakmurnian dari bentuk-bentuk di luar.
[3] perenungan pada meninggalkan penampilan cantik.
[4] perenungan pada ketidakterbatasan dari ruang angkasa.
[5] perenungan pada ketidakterbatasan dari kesadaran.
[6] perenungan pada ketiadaan.
[7] perenungan pada pergi melampaui tanggapan penglihatan ataupun yang bukan tanggapan penglihatan.
[8] perenungan pada penghentian tanggapan penglihatan dan perasaan (nirodha-samapatti).
14
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on September 30, 2018, 08:22:15 am »

Vajrambhuja (Amitayus)



Vajradharma (Aryavalokitesvara)

Bab 11
Karmaparisodhana parivartah

Kemudian pada saat itu, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Manjushri Bodhisattva Mahasattva dengan berkata : "Bagaimanakah, kulaputra, para Bodhisattva mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa cacat? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak melukai? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak tercela? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak bisa dihancurkan? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa kemunduran? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak tergoyahkan? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang unggul? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang murni? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa noda? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang dipimpin oleh kebijaksanaan? Bagaimanakah Mereka mencapai kelahiran di tempat yang baik, silsilah yang baik, keluarga yang baik, penampilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, praktek yang sempurna, keberanian yang sempurna, dan tercerahkan sempurna? Bagaimanakah Mereka mencapai kebijaksanaan yang unggul, kebijaksanaan yang terutama, kebijaksanaan tertinggi, kebijaksanaan yang tidak terukur, kebijaksanaan yang tidak terhitung, kebijaksanaan yang tidak terbayangkan, kebijaksanaan yang tiada bandingan, kebijaksanaan yang tidak terduga, kebijaksanaan yang tidak terkatakan? Bagaimanakah Mereka mencapai kekuatan 'sebab (hetu)', kekuatan semangat, kekuatan 'keterampilan (upaya)', kekuatan kondisi, kekuatan dari objek yang dikondisikan, kekuatan indera, kekuatan pengamatan, kekuatan 'konsentrasi menghentikan pikiran (samatha)', kekuatan 'wawasan yang memeriksa kenyataan (vipashyana)', kekuatan perenungan? Bagaimanakah Mereka mencapai keahlian menganalisa 'kumpulan (skandha)', keahlian menganalisa unsur, keahlian menganalisa tempat, keahlian menganalisa 'kemunculan yang saling bergantungan (pratityasamutpada)', keahlian menganalisa 'alam nafsu keinginan (kamadhatu)', keahlian menganalisa 'alam bentuk-rupa (rupadhatu)', keahlian menganalisa 'alam yang tiada bentuk-rupa (arupadhatu)', keahlian memahami masa lampau, keahlian memahami masa sekarang, keahlian memahami masa depan? Bagaimanakah Mereka mengolah dengan baik 'bagian dari pencerahan dari perhatian penuh (smrti-bodhyanga)', 'bagian dari pencerahan dari memeriksa kebenaran (dharmavicaya-bodhyanga)', 'bagian dari pencerahan dari semangat (virya-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari kegembiraan (priti-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari kedamaian tubuh dan pikiran (prasrabdhi-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari konsentrasi (samadhi-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari pelepasan (upeksha-bodhyanga)? Bagaimanakah Mereka mencapai kekosongan, ketiadaan ciri-ciri, ketiadaan keinginan?  Bagaimanakah Mereka mencapai kesempurnaan 'Menyumbang Yang Melampaui (dana-paramita)', 'Pengendalian Diri Yang Melampaui (sila-paramita)', 'Kesabaran Yang Melampaui (ksanti-paramita)', 'Semangat Yang Melampaui (virya-paramita)', 'Meditasi Yang Melampaui (dhyana-paramita)', 'Kebijaksanaan Yang Melampaui (prajna-paramita)'? Bagaimanakah Mereka mencapai kesempurnaan 'Kebaikan (Maitri)', 'Belas-kasihan (Karuna)', 'Kegembiraan (Mudita)', 'Pelepasan (Upeksha)'? Bagaimanakah Mereka mencapai kekuatan pengetahuan tentang apa yang dasar dan apa yang bukan, kekuatan pengetahuan tentang akibat dari karma masa lampau - sekarang - masa depan, kekuatan pengetahuan tentang indera yang lebih tinggi dan lebih rendah, kekuatan pengetahuan tentang berbagai jenis alam, kekuatan pengetahuan tentang berbagai jenis pemahaman, kekuatan pengetahuan tentang tujuan dari semua jalan, kekuatan pengetahuan tentang kekotoran atau kemurnian dari Dhyana - 'pembebasan (vimoksa)' - Samadhi, kekuatan pengetahuan tentang kehidupan masa lampau, kekuatan pengetahuan tentang mata surga yang tidak terhalang, kekuatan pengetahuan tentang memotong putus semua noda? Bagaimanakah Mereka selalu mendapat perlindungan, hormat, dan pemujaan dari para Raja Dewa, Raja Naga, Raja Yaksha, Raja Gandharva, Raja Asura, Raja Garuda, Raja Kinnara, Raja Mahoraga, Raja Manusia, Raja Brahma? Bagaimanakah Mereka menjadi andalan, penyelamat, tempat berlindung, tujuan, obor, cahaya, penyinar, pembimbing, pemimpin tertinggi atas semua bagi seluruh makhluk hidup? Bagaimanakah Mereka menjadi yang terutama, terbesar, unggul, tertinggi, mulia, menakjubkan, melebihi, tidak terkalahkan, tiada bandingan, tiada tanding diantara semua makhluk hidup?"

Kemudian Manjushri Bodhisattva Mahasattva berkata kepada Jnanottara Bodhisattva Mahasattva : "Sadhu, Kulaputra, Sadhu ! Anda telah menanyakan ini demi keuntungan orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, para dewa dan manusia. Jika, Kulaputra, para Bodhisattva menggunakan pikiran dengan tepat, Mereka bisa mencapai semua kualitas kebajikan tertinggi, pikiran Mereka bisa tanpa hambatan terhadap semua Buddhadharma, Mereka bisa tetap tinggal di jalan dari para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan, tetap tinggal ditengah-tengah menyesuaikan dengan para makhluk hidup tidak pernah meninggalkannya, bisa memahami ciri-ciri dari semua gejala kejadian, memotong putus semua kejahatan dan menyempurnakan semua kebaikan. Mereka akan memiliki tubuh yang paling unggul, sama seperti Samantabhadra; Semua praktek pranidhana Mereka akan terpenuhi, dan akan bebas tanpa usaha dalam semua gejala kejadian, dan akan menjadi pembimbing semua makhluk hidup. Bagaimanakah, Kulaputra, Mereka menggunakan pikiran untuk mencapai semua kualitas kebajikan yang unggul ini?

Bodhisattva yang berkehidupan rumah,
Harus berpikir ingin semua makhluk
Menyadari sifat alami kekosongan dari kehidupan rumah,
Dan terlepas dari tekanannya.

Ketika sedang melayani orang tuanya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Melayani sang Buddha,
Meindungi dan menyokong semuanya.

Ketika sedang bersama dengan istri dan anaknya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memperlakukan sama terhadap semua orang,
Dan selamanya meninggalkan kemelekatan.

Ketika memperoleh lima nafsu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencabut keluar panah nafsu,
Dan menyadari kebahagiaan tertinggi.

Ketika sedang di kesenangan pesta musik meriah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menghibur diri dengan Dharma,
Dan menyadari kesenangan itu adalah yang tidak nyata.

Ketika sedang di dalam istana,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki keadaan dari Resi,
Selamanya melenyapkan nafsu mengidam yang kotor.

Ketika memakai kalung permata berharga,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan semua perhiasan yang salah,
Dan mencapai tempat tinggal Dharma.

Ketika naik keatas menara,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Naik keatas menara Dharma,
Dengan jelas melihat semuanya.

Ketika sedang menyumbang,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mampu melepaskan segalanya,
Dengan pikiran yang terbebas dari kemelekatan.

Ketika dalam pertemuan orang banyak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan gejala kejadian yang berkondisi,
Dan mencapai 'Pengetahuan Yang Mengetahui Semua (Sarvajnajnana)'.

Ketika dalam bahaya dan kesulitan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai tujuan dengan mudah,
Dan tidak menemui halangan dalam usahanya.

Ketika meninggalkan kehidupan rumah tangga,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan kehidupan rumah tanpa halangan apapun,
Dan pikiran menjadi terbebaskan.

Ketika masuk ke 'biara Buddha (sangha-arama)',
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membabarkan semua jenis Dharma
Yang bebas dari kesalahan dan pertengkaran.

Ketika mengunjungi pengajar dan guru,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan terampil melayani gurunya,
Dan mempraktikkan Dharma kebajikan.

Ketika meminta 'meninggalkan kehidupan duniawi (pravrajita)',
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai tingkat tanpa kemunduran,
Pikiran terbebas dari rintangan.

Ketika membuang pakaian duniawi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan tekun mengolah akar kebajikan,
Dan meninggalkan semua pelanggaran penghancur.

Ketika mencukur rambut kepala,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya bercerai dari semua penderitaan,
Dan mencapai keheningan-tenang tertinggi.

Ketika mengenakan jubah kasaya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki pikiran yang tanpa noda,
Dan memikirkan 'ikrar tiada tanding (anuttara-pranidhana)'.

Ketika benar-benar meninggalkan kehidupan rumah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Bersama Buddha meninggalkan kehidupan rumah,
Dan menyelamatkan semua makhluk.

Ketika berlindung pada Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meneruskan silsilah para Buddha,
Dan menghasilkan ikrar tiada tanding.

Ketika berlindung pada Dharma,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Masuk mendalam ke dalam 'permata Dharma (Dharma-ratna)',
Dan memiliki kebijaksanaan sedalam lautan.

Dalam berlindung pada Sangha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Bersatu dalam tata-tertib Maha-sangha,
Semuanya tanpa halangan.

Ketika menerima ajaran sila,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan terampil mempelajari sila
Dan menghindari semua perbuatan salah.

Ketika menerima ajaran Acarya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki kemuliaan yang menakjubkan
Dan jujur dengan apa yang diperbuat.

Ketika menerima ajaran Bhiksu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki kebijaksanaan Anutpattikadharmaksanti
Dan mencapai tahap pembebasan.

Ketika menerima sila yang lengkap,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyelesaikan semua cara pembebasan,
Dan mencapai Dharma yang terunggul.

Ketika memasuki balai-ruangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Naik ke Caitya yang tak tertandingi,
Dan tinggal berdiam dengan damai tanpa goyah.

Ketika mempersiapkan tempat duduk,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyebabkan dharma kebajikan menjadi mekar,
Dan melihat ciri-cirinya yang sesungguhnya.

Ketika duduk tegak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Duduk diatas Bodhimanda
Dengan pikiran tanpa kemelekatan.

Ketika duduk dalam sikap bunga teratai penuh (duduk bersila),
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki akar kebajikan yang kuat
Dan mencapai tingkat yang tidak tergoyahkan.

Ketika mengolah samadhi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menaklukkan pikiran dengan samadhi,
Dan pada akhirnya, tiada sisa kebiasaan.

Ketika mempraktekkan perenungan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Melihat kenyataan yang sesungguhnya,
Dan selamanya meninggalkan pertentangan.

Ketika keluar dari sikap duduk teratai,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengamati semua karma dan gejala kejadian,
Yang kembali bubar dan lenyap.

Ketika menurunkan kaki,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai pembebasan pikiran,
Dan dengan damai tinggal berdiam tidak bergerak.

Ketika mengangkat kaki,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan lautan kelahiran dan kematian,
Dan menyempurnakan semua kualitas kebaikan.

Ketika memakai pakaian bawah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memakai akar kebaikan,
Dan memiliki rasa malu dan sadar.

Ketika memakai sabuk pinggang,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menghimpun akar kebaikan,
Dan jangan membiarkannya menjadi hilang.

Ketika memakai pakaian luar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai landasan akar kebaikan terunggul,
Dan mencapai pantai seberang dari Dharma.

Ketika memakai 'jubah biara (sanghati)',
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki posisi terkemuka,
Dan mencapai ketenangan Dharma.

Ketika memegang sikat gigi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai Dharma yang menakjubkan
Dan pada akhirnya menjadi murni.

Ketika menyikat gigi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Harmonis dan murni dalam pikiran,
Dan menggigit semua penderitaan.

Ketika pergi ke kamar mandi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengusir keserakahan, kebencian, dan kebodohan,
Dan membersihkan diri dari hal-hal yang jahat.

Ketika menggunakan air,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan cepat berangkat,
menuju ke dharma yang melampaui duniawi.

Ketika membersihkan kotoran tubuh,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi murni dan harmonis,
Dan pada akhirnya tanpa kekotoran.

Ketika memakai air untuk mencuci tangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki tangan yang murni,
Untuk menerima dan menegakkan Buddhadharma.

Ketika memakai air untuk mencuci muka,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai pintu Dharma yang murni
Dan selamanya terbebas dari kekotoran.

Ketika memegang tongkat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mendirikan pekerjaan besar dari berdana,
Dan mengungkapkan jalan menuju kebenaran.

Ketika memegang mangkok,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyempurnakan kapal Dharma,
Dan menerima persembahan para dewa dan manusia.

Ketika berangkat ke Jalan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Pergi ke tempat sang Buddha pergi,
Ke dalam alam tanpa ketergantungan.

Ketika bepergian di jalan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Berjalan di Jalan Buddha
Dan maju menuju Dharma yang tanpa sisa.

Ketika berjalan di jalan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menapak di dharmadhatu yang murni,
Dengan pikiran tanpa hambatan.

Ketika melihat jalan yang menanjak naik,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya melampaui triloka,
Dengan pikiran bebas dari takut.

Ketika melihat jalan yang menurun,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Berpikiran yang rendah hati,
Dan menumbuhkan akar kebajikan Buddha.

Ketika melihat jalan yang berliku,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan jalan yang salah,
Dan selamanya menyingkirkan pandangan jahat.

Ketika melihat jalan yang lurus,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki pikiran yang lurus dan benar,
Tanpa sanjungan dan tipu daya.

Ketika melihat jalan yang berdebu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyingkirkan debu dan kotoran,
Dan mencapai gejala kejadian yang murni.

Ketika melihat jalan yang bebas dari debu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu mempraktekkan belas kasih yang besar,
Pikirannya bersinar dan terpelihara.

Ketika melihat jalan yang berbahaya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tinggal berdiam di dharmadhatu,
Dan menghindari masalah dari pelanggaran.

Ketika melihat perkumpulan orang banyak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membabarkan Dharma yang paling mendalam,
Dan bersikap harmonis dengan semua.

Ketika melihat pohon yang besar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan pemikiran egois dan pertengkaran,
Dan bebas dari kebencian dan dendam.

Ketika melihat hutan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi yang layak dihormati,
Oleh dewa dan manusia.

Ketika melihat gunung yang tinggi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki akar kebaikan yang luar biasa,
Tidak ada yang bisa mencapai puncaknya.

Ketika melihat semak berduri,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan cepat memotong putus,
Duri dari tiga racun.

Ketika melihat dedaunan lebat di pohon,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Terbebaskan melalui konsentrasi,
Dan bertindak sebagai tempat berlindung.

Ketika saya melihat bunga mekar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kekuatan batin dan dharma yang serupa,
Sama seperti bunga yang mekar penuh.

Ketika melihat pohon mekar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai ciri-ciri yang menyerupai bunga,
Dan diberkati dengan tiga puluh dua tanda.

Ketika melihat buah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai Dharma yang tertinggi,
Dan menyadari Jalan Bodhi.

Ketika melihat sungai yang besar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki aliran Dharma,
Dan memasuki lautan pengetahuan Buddha.

Ketika melihat rawa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan cepat terbangkitkan pada,
Rasa tunggal Dharma dari Buddha.

Ketika melihat kolam,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyempurnakan karma ucapan,
Dan menjadi terampil dalam berkhotbah.

Ketika melihat sumur,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki kekuatan penuh dari kefasihan
Untuk membabarkan semua dharma.

Ketika melihat mata air,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengembangkan Upaya-kausalya,
Dan akar kebaikan yang tidak habis-habisnya.

Ketika melihat jembatan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyeberangkan semua menuju pembebasan,
Dengan bertindak sebagai jembatan.

Ketika melihat air yang mengalir,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengembangkan cita-cita yang baik,
Dan membersihkan kotoran dari ketidaktahuan.

Ketika melihat kebun yang terolah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencabut rumput nafsu mengidam,
Dari taman lima nafsu indera.

Ketika melihat hutan yang tanpa kesedihan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya terpisah dari keserakahan dan nafsu birahi,
Dan terbebas dari kesedihan dan ketakutan.

Ketika melihat taman,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan tekun mengolah praktik,
Yang menuju ke Bodhi sang Buddha.

Ketika melihat orang yang memakai perhiasan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengambil tiga puluh dua ciri
Sebagai perhiasannya yang luar biasa.

Ketika melihat yang tidak terhiasi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan semua perhiasan,
Dan menyempurnakan praktik pertapaan.

Ketika melihat orang yang melekat pada kesenangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengambil Dharma sebagai kebahagiaannya,
Bergembira dan tidak pernah meninggalkannya.

Ketika melihat orang yang tidak terikat dengan kesenangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi tiada peduli pada,
Gejala kejadian yang berkondisi.

Ketika melihat orang yang bahagia,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu menemukan kedamaian dan kebahagiaan,
Dan senang dalam memberikan persembahan kepada para Buddha.

Ketika melihat orang dalam kesulitan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kebijaksanaan dasar,
Untuk memadamkan semua penderitaan.

Ketika melihat orang yang sehat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki kebijaksanaan sejati,
Dan selamanya bebas dari penyakit dan penderitaan.

Ketika melihat orang yang sakit,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyadari tubuh sebagai yang kosong dan tiada,
Dan meninggalkan pertikaian.

Ketika melihat orang yang tampan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu menimbulkan keyakinan yang murni
Kepada para Buddha dan Bodhisattva.

Ketika melihat orang yang jelek,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak melekati,
Apapun yang tidak baik.

Ketika melihat orang yang berterima kasih,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mampu mengerti kebajikan,
Dari para Buddha dan Bodhisattva.

Ketika melihat orang yang tidak tahu berterima kasih,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan meningkatkan balas-dendam,
Pada orang yang jahat.

Ketika melihat Shramana,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi harmonis dan hening-tenang,
Dan pada akhirnya menaklukkan diri sendiri.

Ketika melihat Brahmana,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu mempertahankan tingkah-laku yang murni,
Dan menyingkirkan semua kejahatan.

Ketika melihat pertapa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Melalui praktik pertapaan,
Mencapai keadaan tertinggi.

Ketika melihat orang yang mengendalikan diri,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan kuat mempertahankan tekad dalam praktek,
Dan tidak meninggalkan Jalan Buddha.

Ketika melihat orang yang memakai baju perisai,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu memakai baju perisai kebajikan,
Dan menuju ke tingkat yang tanpa guru.

Ketika melihat orang yang tanpa baju perisai,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya berpisah dari,
Semua karma yang tidak baik.

Ketika melihat orang yang berdebat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mampu membantah,
Semua jenis ajaran tirtika.

Ketika melihat orang yang berpenghidupan benar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Berhasil dalam mata pencaharian yang murni,
Dan tanpa tingkah-laku yang salah.

Ketika melihat seorang raja,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Akan menjadi Raja Dharma,
Dan selalu menyebarkan Dharma yang tepat.

Ketika melihat seorang pangeran
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dilahirkan oleh perwujudan dari Dharma,
Dan menjadi murid sang Buddha.

Ketika melihat seorang tetua,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membuat penilaian yang terampil,
Dan menahan diri dari keadaan jahat.

Ketika melihat mentri besar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu menjaga perhatian penuh,
Dan mempraktekkan semua perbuatan baik.

Ketika melihat kota dan bentengnya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki tubuh yang kuat dan kukuh,
Dan pikiran yang tidak mengenal lelah.

Ketika melihat ibu kota,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengumpulkan semua kualitas kebajikan
Dan selalu bersukacita bergembira.

Ketika melihat orang dalam hutan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
menjadi yang layak dipuji dan dihormati,
Oleh dewa dan manusia.

Ketika memasuki desa untuk ber-pindapatra,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki dharmadhatu yang mendalam,
Dan pikirannya tanpa halangan.

Ketika mencapai pintu tempat tinggal,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki pintu,
Dari Buddhadharma.

Ketika memasuki tempat tinggal,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki Kendaraan Buddha,
Yang sama dengan tiga masa waktu.

Ketika melihat orang yang tidak memberi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan pernah menyerah,
Dari jalan kebajikan tertinggi.

Ketika melihat orang yang memberi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya meninggalkan,
Penderitaan dari tiga jalan jahat.

Ketika melihat mangkuk kosong,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Murni dalam pikiran,
Kosong tanpa penderitaan.

Ketika melihat mangkuk penuh,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Sepenuhnya menyempurnakan,
Semua dharma kebajikan.

Ketika menerima penghormatan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan hormat mempraktekkan,
Semua Buddhadharma.

Ketika tidak menerima penghormatan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak bertindak dalam jalan apapun,
Yang tidak baik.

Ketika melihat orang yang memiliki malu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Bertindak dengan rasa malu,
Dan berhati-hati melindungi indera.

Ketika melihat orang yang tanpa rasa malu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan keadaan tidak tahu malu,
Dan tinggal berdiam di jalan kebaikan.

Ketika mendapatkan makanan enak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menepati ikrar mereka,
Dan terbebas dari rasa iri dan pendambaan.

Ketika mendapatkan makanan yang tidak enak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan gagal mencapai,
Rasa dari semua samadhi.

Ketika mendapatkan makanan lunak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Diliputi oleh belas kasihan yang besar,
Jadi pikirannya menjadi lembut.

Ketika mendapatkan makanan yang kasar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak memiliki kemelekatan,
Dan memotong putus dambaan duniawi.

Ketika makan makanan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengambil kebahagiaan Dhyana sebagai makanan,
Dan dipuaskan dengan sukacita Dharma.

Ketika merasakan rasa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai rasa tertinggi dari keBuddhaan,
Dan dipenuhi dengan obat keabadian.

Ketika selesai makan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyelesaikan semua tugas,
Dan menyempurnakan semua Buddhadharma.

Ketika menjelaskan Dharma,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kefasihan tanpa batas,
Dan secara luas mengumumkan Dharma yang penting.

Ketika keluar dari rumah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan mendalam memasuki pengetahuan Buddha,
Selamanya meninggalkan triloka.

Ketika memasuki air,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki Sarvajnajnana,
Mengetahui kesamaan masa lampau, sekarang, masa depan.

Ketika memandikan tubuh,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tanpa noda dalam tubuh dan pikiran,
Murni cemerlang di dalam dan luar.

Selama musim panas yang terik,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membuang semua kesengsaraan,
Dan sepenuhnya mengakhirinya.

Ketika musim panas berakhir dan mulai sejuk,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mewujudkan Dharma yang tiada tanding,
Dan pada akhirnya menjadi sejuk.

Ketika membaca Sutra,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Sesuai dengan apa yang sang Buddha katakan,
Dan mengingat semuanya tanpa melupakannya.

Ketika mengarahkan pandangan ke sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai penglihatan tanpa hambatan,
Dan melihat semua Buddha.

Ketika menatap sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Seluruhnya mirip sang Samantabhadra,
Tampan dan terhiasi dengan indah.

Ketika melihat Stupa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dihormati seperti Stupa itu,
Dan menerima persembahan dari dewa dan manusia.

Ketika merenungkan Stupa dengan pikiran penuh hormat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Ditatap oleh semua,
Para dewa dan manusia.

Ketika mensujudkan kepala di hadapan Stupa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai puncak yang tidak bisa dilihat,
Oleh dewa atau manusia.

Ketika ber-pradaksina pada Stupa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan menentang Dharma dalam prakteknya,
Dan mencapai Sarvajnajnana.

Ketika berputar mengelilingi stupa sebanyak tiga kali,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan tekun mencari Jalan Buddha,
Tanpa memikirkan kemalasan.

Ketika memuji kualitas kebajikan sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dipenuhi dengan sangat banyak kebajikan,
Yang dipuji tanpa akhir.

Ketika memuji ciri-ciri sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai tubuh Buddha,
Dan menyadari Dharma yang tanpa ciri-ciri.

Ketika mencuci kaki,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menunaikan 'dasar kekuatan batin (rddhipada)',
Dan bepergian dengan bebas tanpa halangan.

Ketika waktunya tidur,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kedamaian tubuh,
Dan pikrian yang tidak terganggu.

Ketika bangun dari tidur,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membangkitkan Sarvajnajnana,
Dan melihat sepuluh penjuru arah.

Jika, Kulaputra, para Bodhisattva menggunakan pikiran Mereka dengan cara-cara ini, Mereka akan mencapai semua jenis kualitas kebajikan yang sangat baik, yang tidak bisa dihalau oleh para Dewa, Mara, Brahma, Shramana, Brahmana, Gandharva, Asura, dan seterusnya, atau oleh Sravaka dan Pratyekabuddha di semua dunia."
15
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on September 08, 2018, 08:52:04 am »

Amoghasiddhi Buddha



Vajrankusa Bodhisattva

Bab 10
Bodhisattvopadesapariprrcha

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Buddhottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, sifat alami dari pikiran adalah yang satu, lalu mengapa terlihat ada berbagai jenis perbedaan, seperti pergi ke kecenderungan yang baik atau buruk, memiliki indera yang lengkap atau indera yang kurang, perbedaan dalam kelahiran, cantik dan jelek, sakit dan puas, menderita dan bahagia? Mengapa 'perbuatan (karma)' tidak mengetahui pikiran, pikiran tidak mengetahui karma, penerimaan tidak mengetahui akibat, akibat tidak mengetahui penerimaan, pikiran tidak mengetahui penerimaan, penerimaan tidak mengetahui pikiran, sebab tidak mengetahui kondisi, kondisi tidak mengetahui sebab, pengetahuan tidak mengetahui objek, objek tidak mengetahui pikiran?"
 
Kemudian Buddhottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Maitri, Anda menanyakan makna ini,
Agar membangunkan semua yang tidak tahu.
Saya akan menjawab sesuai dengan intisari:
Dengarlah dengan jelas, Maitri.

Gejala kejadian tiada fungsi
Dan tidak ada sifat alami diri;
Oleh karena itu, semuanya
Tidak saling mengenal.

Sama seperti air di sungai,
Aliran arus derasnya berpacu lewat,
Masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Juga sama seperti api besar,
Berkobar naik keatas secara serentak,
Masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Juga sama seperti hembusan angin yang terus,
Yang menghantam apapun yang dijumpai,
Masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Juga sama seperti beranekaragam tingkat bumi,
Masing-masing berlandaskan pada yang lain,
Namun masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh,
Pikiran, kecerdasan, indera:
Terus menerus berputar dalam samsara,
Namun tiada siapapun yang membuatnya berputar.
 
Sifat alami dari gejala kejadian pada dasarnya tidak dilahirkan,
Namun mereka mewujud menjadi ada:
Namun tiada apapun yang membuatnya mewujud,
Juga tiada yang diwujudkan.

Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh,
Pikiran, kecerdasan, indera:
Semuanya adalah kosong dan tanpa intisari;
Namun pikiran yang salah memahaminya sebagai yang ada.

Melihatnya sebagaimana yang sesungguhnya apa adanya,
Semuanya adalah tanpa sifat alami diri.
Mata Dharma bukanlah gagasan pikiran:
Penglihatan ini tidak salah.

Yang nyata atau tidak nyata,
Yang salah atau yang tidak salah,
Yang duniawi atau yang melampaui duniawi:
Itu adalah yang tidak ada, namun hanyalah nama.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, semua makhluk hidup adalah yang tiada, lalu mengapa sang Tathagata muncul di tengah-tengah, demi mereka, mengajar sesuai dengan waktu, sesuai dengan hidup mereka, sesuai dengan jenis mereka, sesuai dengan karma mereka, sesuai dengan pemahaman mereka, sesuai dengan bahasa mereka, sesuai dengan kecenderungan mereka, sesuai dengan kebijaksanaan mereka, sesuai dengan pikiran mereka, sesuai dengan peninjauan mereka?"
 
Kemudian Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :
   
Yang senang dalam keheningan-tenang,
Sang Bahusruta,
Saya akan menjelaskannya untuk Anda,
Sekarang, dengarlah dengan penuh perhatian!

Amatilah tubuh di dalam:
Yang manakah yang adalah 'Diri'?
Orang yang memahami cara ini,
Akan mengerti tiada Diri yang ditemukan.

Tubuh ini adalah pengadaan sementara,
Dan tiada tempat kediaman miliknya.
Orang yang mengerti tubuh ini,
Tidak akan melekatinya.

Dengan teliti amatilah tubuh,
Segala sesuatunya akan jelas terlihat.
Dengan mengetahui semua gejala kejadian adalah yang tidak nyata,
Orang tidak akan menciptakan pikiran yang membeda-bedakan.

Berdasarkan apa hidup timbul,
Dan berdasarkan apa itu lenyap?
Sama seperti roda api yang berputar,
Awal dan akhirnya tidak bisa diketahui.

Orang bijaksana bisa mengamati dengan wawasan,
Ketidakabadian dari semua keberadaan.
Semua gejala kejadian adalah yang kosong dan tanpa diri,
Selamanya terpisah dari semua ciri.

Semua akibat dilahirkan dari perbuatan.
Sama seperti mimpi, mereka tidak sungguh nyata.
Dari waktu ke waktu terus-menerus lenyap,
Hal yang sama juga pada sebelum dan sesudah.

Segala sesuatu yang terlihat di dunia,
Hanyalah pikiran sebagai tuan rumahnya.
Dengan mencengkram bentuk-rupa mengikuti gagasan,
Itu adalah pembalikan sesat, bukanlah kenyataan yang sesungguhnya.

Semua teori bahasa duniawi,
Adalah pembuatan pikiran.
Tiada satupun ajaran diantara mereka,
Yang bisa memasuki 'Dharmata (sifat alami dari gejala kejadian)'.

Melalui kekuatan dari penglihatan dan yang diketahui,
Semua jenis dari gejala kejadian menjadi ada.
Mereka dengan segera lenyap, tidak tinggal,
Mati dari waktu ke waktu.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Ratnottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, semua makhluk hidup sama tersusun dari empat unsur, yang tanpa diri dan tiada apapun yang berhubungan dengan diri, lalu mengapa ada pengalaman dari sakit dan puas, cantik dan jelek, baik didalam dan baik diluar, sedikit rasa dan banyak rasa? Mengapa ada yang mengalami ganjaran sekarang dan ada yang di masa depan? Sedangkan di dharmadhatu tidak ada yang baik atau buruk.

Kemudian Ratnottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sesuai dengan yang dilakukan,
Hasil akibat menjadi ada;
Namun pelakunya tiada keberadaan:
Inilah yang diajarkan Buddha.

Sama seperti cermin yang jelas,
Sesuai dengan yang datang kehadapannya,
Memantulkan bentuk dengan perbedaannya;
Seperti itulah sifat alami karma.

Atau, sama seperti benih yang ditabur di tanah,
Masing-masing saling tidak menyadari,
Namun mampu bertunas serentak;
Seperti itulah sifat alami karma.

Atau, sama seperti ahli sihir,
Berdiri di persimpangan jalan,
Menyebabkan banyak bentuk muncul;
Seperti itulah sifat alami karma.

Sama seperti manusia rakitan,
Mampu menyuarakan berbagai jenis suara,
Namun tanpa diri ataupun bukan yang tanpa diri;
Seperti itulah sifat alami karma.

Dan, sama seperti beranekaragam jenis burung,
Semuanya muncul dari telur,
Namun suara mereka tidak sama;
Seperti itulah sifat alami karma.

Sama seperti di dalam rahim,
Semua indera terbentuk,
Namun ciri zatnya tiada asal;
Seperti itulah sifat alami karma.

Juga, sama seperti makhluk di neraka,
Berbagai jenis hal yang menyakitkan,
Semuanya tidak datang dari manapun;
Seperti itulah sifat alami karma.

Juga, sama seperti Cakravarti,
Dengan tujuh permata mulianya,
Yang asal mulanya tidak bisa ditemukan;
Seperti itulah sifat alami karma.

Dan saat semua dunia,
Terbakar oleh api yang besar,
Api ini tidak datang dari manapun;
Seperti itulah sifat alami karma.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Gunottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, semua Tathagata terbangkitkan hanya pada satu Dharma, lalu mengapa Mereka menjelaskan Dharma yang tidak terhitung, muncul di dalam Buddhaksetra yang tidak terhitung, mengubah para makhluk hidup yang tidak terhitung, berbicara dalam suara yang tidak terhitung, mewujudkan tubuh yang tidak terhitung? Bagaimana Mereka mengetahui pikiran yang tidak terhitung, mempertunjukkan abhijna yang tidak terhitung, mengguncang dunia yang tidak terhitung, menampilkan hiasan yang sangat indah yang tidak terhitung, mengungkapkan berbagai macam alam para makhluk yang tidak terhitung? Sedangkan di dalam sifat alami gejala kejadian, semua ciri yang berbeda-beda ini tidak ditemukan.

Kemudian Gunottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Kulaputra, makna yang Anda tanyakan,
Sangat mendalam, sulit diukur.
Orang Bijaksana mampu mengetahuinya,
Selalu bergembira dalam kebajikan Buddha.

Sama seperti sifat alami dari bumi adalah satu,
Sedangkan setiap makhluk hidup tersendiri,
Dan bumi tidak memiliki pikiran satu atau berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti sifat alami dari api adalah satu,
Sambil mampu membakar semua,
Api itu tidak membeda-bedakan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti sifat alami dari laut adalah satu,
Dengan jutaan ombak yang berbeda,
Namun air itu tidak berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.
 
Sama seperti sifat alami dari angin adalah satu,
Sambil mampu menghembus semua,
Angin itu tidak memiliki pikiran satu atau berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti awan guntur yang besar,
Menghujani seluruh bumi,
Namun rintik hujan itu tidak membeda-bedakan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti unsur tanah, walau satu,
Bisa menghasilkan berbagai jenis tumbuhan,
Namun, bukan tanah itu yang berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.
 
Sama seperti matahari tanpa halangan awan,
Bersinar diseluruh sepuluh penjuru,
Sinar cahayanya tidak ada perbedaan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Dan sama seperti bulan di langit,
Yang terlihat dimana-mana di bumi,
Namun bulan itu tidak pergi kesana,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti Raja Maha Brahma,
Muncul di seluruh trisahassra,
Namun tubuhnya tanpa perubahan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, para Tathagata sebagai lapangan kebajikan adalah yang satu dan semuanya sama, lalu mengapa para makhluk hidup yang menyumbang kepada Mereka hasil pahalanya tidak sama? Ada yang beranekaragam bentuk-rupa, beranekaragam keluarga, beranekaragam indera, beranekaragam kekayaan, beranekaragam kekuasaan, beranekaragam pengikut, beranekaragam jabatan, beranekaragam kualitas kebajikan, beranekaragam pengetahuan. Dan, namun para Buddha tidak memihak terhadap mereka, tidak berpikir mereka berbeda-beda?

Kemudian Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sama seperti maha-prthivi adalah yang satu,
Namun menghasilkan tumbuhan sesuai benih,
Tanpa keberpihakan terhadap setiap itu,
Seperti itulah 'lapangan kebajikan Buddha (Buddhapunyaksetra)'.

Sama seperti air adalah yang satu-ragam,
Namun berbeda bentuk sesuai dengan bejana,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Berbeda hanya disebabkan oleh pikiran makhluk.

Atau, sama seperti ahli sulap,
Bisa membuat orang menjadi bahagia,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Menyebabkan para makhluk hidup bergembira.

Sama seperti Raja dengan kekayaan dan pengetahuan,
Bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada semua.

Sama seperti cermin yang jelas,
Memantulkan gambar sesuai dengan bentuk,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Pahala diperoleh sesuai dengan pikiran makhluk.

Sama seperti herbal agada,
Bisa menyembuhkan semua racun,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Melenyapkan semua penderitaan.

Dan sama seperti matahari terbit,
Menyinari dunia,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Menghilangkan semua kegelapan.

Sama seperti bulan purnama yang jelas,
Menyinari 'bumi yang besar (maha-prthivi)',
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Membentang ke semua tempat dengan sama-rata.

Sama seperti kobaran api yang besar,
Mampu membakar segala sesuatu,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Membakar habis semua yang berkondisi.

Sama seperti badai vairambha,
Bisa menyebabkan seluruh bumi bergetar,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Menggerakkan triloka para makhluk hidup.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Viryottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, ajaran Buddha adalah satu, yang semua makhluk bisa melihatnya, lalu mengapa mereka semua tidak segera memotong putus semua belenggu penderitaan dan memperoleh pembebasan? Lagi, walaupun tiada perbedaan dalam 'himpunan bentuk (rupa-skandha)', 'himpunan perasaan (vedana-skandha)', 'himpunan gagasan (samjna-skandha)', 'himpunan pembentukan pikiran (sankhara-skandha)', 'himpunan kesadaran (vijnana-skandha)' di seluruh 'alam nafsu (kamadhatu)', 'alam berwujud (rupadhatu)', dan 'alam tanpa wujud (arupadhatu)', dan juga tiada perbedaan dalam ketidaktahuan, keserakahan, dan nafsu mereka, namun mengapa beberapa memperoleh keuntungan dari ajaran Buddha dan yang lainnya tidak?     

Kemudian Viryottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Dengarlah dengan baik Kulaputra,
Dan Saya akan jujur menjawabnya.
Beberapa dengan cepat mendapat pembebasan,
Dan yang lainnya sulit melepaskan diri.

Jika ingin melenyapkan,
Kesalahan dan kesusahan yang tidak terhitung,
Orang harus bekerja dengan rajin,
Pada 'ajaran Buddha (Buddhadharma)'.

Sebagai contoh, api yang sangat kecil,
Batang yang basah akan memadamkannya.
Pada Dharma yang diajarkan Buddha,
Begitulah mereka yang malas.

Sama seperti saat menggerek membuat api,
Dan berhenti sebelum api itu muncul,
Panas akan segera menghilang,
Begitulah mereka yang malas.

Jika orang dengan kaca kristal,
Tidak menfokuskan sinar matahari pada apapun,
Api tidak akan pernah diperoleh,
Begitulah mereka yang malas.

Misalkan ketika matahari bersinar menyilaukan
Anak kecil menutup matanya,
Dan mengeluh, "Mengapa saya tidak bisa lihat?"
Begitulah mereka yang malas.

Seperti orang yang tiada tangan dan kaki,
Ingin menggunakan panah dari alang-alang,
Untuk menembak seluruh permukaan tanah,
Begitulah mereka yang malas.
 
Sama seperti menggunakan sehelai rambut,
Untuk mengambil air samudra,
Mencoba mengeringkan lautan,
Begitulah mereka yang malas.

Seperti saat api kalpa menyala,
Mencoba memadamkannya dengan sedikit air,
Pada Dharma yang diajarkan Buddha,
Begitulah mereka yang malas.

Sama seperti orang yang menatap ruang angkasa,
Sementara sedang duduk diam tidak berpindah,
Dia berkata bahwa sedang menjelajahinya,
Begitulah mereka yang malas.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Dharmottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, sang Buddha telah berkata bahwa jika ada makhluk hidup yang menerima dan mempertahankan Saddharma maka bisa memotong putus semua penderitaan, lalu mengapa ada mereka yang menerima dan mempertahankan Saddharma namun tidak memotong putus penderitaan? Bahkan menjadi serakah, dendam, menghayal, sombong, menutupi, marah, benci, cemburu, kikir, menipu, merendahkan diri. Terdorong oleh kekuatan penderitaan ini, tidak bermaksud untuk berpisah dari itu. Jika mereka mampu menerima dan mempertahankan Saddharma, lalu mengapa masih menghasilkan penderitaan di dalam kegiatan pikiran?

Kemudian Dharmottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Dengarlah dengan baik Kulaputra,
Makna sesungguhnya dari yang Anda tanyakan.
Itu bukan hanya melalui banyak belajar,
Bahwa orang bisa memasuki Dharma sang Tathagata.

Sama seperti orang yang mengambang di air,
Mati kehausan karena takut tenggelam.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang mempersiapkan pesta mewah,
Dirinya lapar, namun tidak makan.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang ahli obat,
Namun tidak bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang menghitung kekayaan orang lain,
Namun tiada setengahpun harta miliknya.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama sepeti orang yang terlahir di istana raja,
Namun kedinginan dan kelaparan,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti ahli musik yang tuli,
Yang menggembirakan orang lain, namun dirinya tidak mendengar,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti ahli sulam yang buta,
Yang mempertunjukkan ke orang lain, namun dirinya tidak melihat,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti kapten kapal,
Mati di lautan,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang berdiri di sudut,
Mengatakan semua jenis kebajikan,
Namun dirinya tidak memiliki kebajikan yang nyata,
Begitu juga bagi orang yang tidak mempraktekkan Dharma.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Jnanottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, di dalam Buddhadharma, 'pengetahuan (Jnana)' adalah yang terutama, lalu mengapa sang Tathagata, demi para makhluk hidup, kadang-kadang membabarkan 'memberi (Dana)', kadang-kadang membabarkan 'pengendalian diri (Sila)', kadang-kadang membabarkan 'kesabaran (Ksanti), kadang-kadang membabarkan 'semangat (Virya)', kadang-kadang membabarkan 'Konsentrasi (Dhyana)', kadang-kadang membabarkan 'Kebijaksanaan (Prajna)'? Atau lagi, kadang-kadang membabarkan 'Kebaikan (Maitri)', kadang-kadang membabarkan 'Belas-kasihan (Karuna)', kadang-kadang membabarkan 'Kegembiraan (Mudita)', kadang-kadang membabarkan 'Pelepasan (Upeksha)', namun, selama ini pada akhirnya cuma 'satu kebenaran (eka-dharma)' yang untuk mencapai pembebasan Anuttara-Samyaksambodhi.   

Kemudian Jnanottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sungguh jarang, Kulaputra,
Yang mengetahui pikiran makhluk hidup.
Untuk yang Anda tanyakan, Maitri,
Dengarlah dengan jelas yang akan Saya jelaskan.

Di masa lampau, masa depan,
Dan juga masa sekarang dari para Nayaka,
Tiada satupun yang menjelaskan hanya satu cara,
Untuk mencapai Bodhi.

Sang Buddha mengetahui pikiran para makhluk hidup,
Sifat alami mereka yang berbeda-beda;
Sesuai dengan yang dibutuhkan mereka untuk terbebas,
Dia mengajarkan Dharma dengan cocok.

Untuk yang kikir, Dia membabarkan Dana.
Untuk yang melanggar, Dia membabarkan Sila.
Untuk yang pemarah, Dia membabarkan Ksanti.
Untuk yang malas, Dia membabarkan Virya.

Untuk yang pikirannya cerai-berai, Dia membabarkan Dhyana.
Untuk yang bodoh, Dia membabarkan Prajna.
Untuk yang kejam, Dia membabarkan Maitri.
Untuk yang pembenci, Dia membabarkan Karuna.

Untuk yang bersedih, Dia membabarkan Mudita,
Untuk yang tidak jujur, Dia membabarkan Upeksha.
Dengan berturut-turut mempraktekkan ini,
Setahap demi setahap menyempurnakan semua Buddhadharma.

Sama seperti pertama membangun dasar,
Lalu membangun istana,
Begitu juga Dana dan Sila,
Adalah dasar dari praktek Bodhisattva.

Sama seperti dinding kota dibangun,
Untuk melindungi semua rakyat,
Begitu juga Ksanti dan Virya,
Melindungi Bodhisattva.

Sama seperti Maha Raja yang berkuasa,
Dihormati oleh seluruh negara,
Begitu juga Samadhi dan Prajna,
Yang adalah andalan Bodhisattva.

Sama seperti Cakravartin,
Yang bisa melimpahkan kebahagiaan mutlak,
Begitu juga Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksha,
Memberikan kebahagiaan kepada Bodhisattva.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Sattvottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, para Bhagavan Buddha mencapai pembebasan melalui satu jalan, lalu mengapa kualitas Buddhaksetra yang kita lihat beranekaragam dan tidak sama? Yaitu, dunianya, makhluk hidupnya, Dharma untuk menjinakkan, jangka usianya, pancaran cahayanya, kekuatan batinnya, perkumpulan majelisnya, cara yang diajarkan, dan lama Dharmanya semuanya berbeda-beda. Namun semuanya itu mencakup semua Buddhadharma yang mana Anuttarasamyaksambodhi tercapai.     

Kemudian Sattvottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Manjushri, Dharma adalah selalu begini,
Dharmaraja menyeberang dengan satu Dharma;
Orang yang tidak terhambat oleh apapun,
Lolos dari kelahiran dan kematian melalui satu jalan.

Semua tubuh Buddha,
Adalah satu 'Tubuh Dharma (Dharmakaya)',
Satu pikiran, dan satu kebijaksanaan,
Kekuatan dan keberaniannya sama.

Berdasarkan keinginan awal mencari Bodhi,
Sesuai dengan pengabdian Mereka,
Mengembangkan ksetra seperti itu,
Dengan perkumpulan majelisnya dan Dharmanya.

Hiasan dari semua Buddhaksetra,
Sepenuhnya terlengkapi.
Sesuai dengan karma para makhluk yang berbeda-beda,
Itu terlihat tidak sama.

Buddhaksetra dan tubuh Buddha,
Perkumpulan majelis-Nya dan yang diucapkan-Nya,
Buddhadharma yang seperti ini,
Tiada makhluk hidup yang bisa melihat.

Ketika pikiran termurnikan,
Dan ikrar tersempurnakan,
Maka orang yang mencapai Bodhi ini,
Akan bisa melihat.

Sesuai dengan kecenderungan pikiran para makhluk,
Dan kekuatan buah hasil dari karma mereka,
Mereka melihatnya berbeda-beda,
Ini disebabkan oleh kekuatan batin Buddha.

Buddhaksetra tiada perbedaan,
Tiada kebencian dan tiada kemelekatan;
Namun sesuai dengan pikiran para makhluk,
Itu tampak berbeda-beda.

Disebabkan ini, di dalam dunia,
Apa yang terlihat adalah berbeda-beda,
Semua Tathagata,
Maha Muni, tidak disalahkan oleh ini.

Di dalam semua dunia,
Mereka yang cocok menerima ajaran,
Selalu melihat sang Vira diantara Manusia,
Inilah Buddhadharma.

Kemudian pada saat itu, semua Bodisattva Mahasattva itu berkata kepada Manjushri Bodhisattva Mahasattva : "Kami, Kulaputra, masing-masing telah mengucapkan pemahaman kami. Kami hanya berharap, Maitri, menggunakan kefasihannya yang menakjubkan untuk menjelaskan secara luas tingkat dari Tathagata. Seperti apakah tingkat Buddha? Seperti apakah penyebab dari tingkat Buddha? Seperti apakah cara pembebasan dari tingkat Buddha? Seperti apakah jalan masuk ke tingkat Buddha? Seperti apakah kebijaksanaan dari tingkat Buddha? Seperti apakah dharma dari tingkat Buddha? Seperti apakah kata-kata dari tingkat Buddha? Seperti apakah pengetahuan dari tingkat Buddha? Seperti apakah pencapaian dari tingkat Buddha? Seperti apakah perwujudan dari tingkat Buddha? Seperti apakah luas-bentangan dari tingkat Buddha?"
 
Kemudian Manjushri Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Tingkat Tathagata yang mendalam,
Sama seperti luas-bentangan ruang angkasa.
Semua makhluk hidup memasukinya,
Namun sesungguhnya tiada yang dimasuki.

Tingkat Tathagata yang mendalam,
Hasil dari penyebab yang mulia.
Menjelaskannya tanpa henti selama jutaan kalpa,
Masih tidak akan teruraikan semuanya.

Sesuai dengan pikiran dan kebijaksanaan para makhluk,
Para Buddha memimpin dan membantu mereka;
Dalam cara ini menyelamatkan makhluk hidup,
Inilah tingkat dari Buddha.

Dalam semua ksetra di semua dunia,
Para Buddha memasukinya sesuai dengan para makhluk disana.
Namun para makhluk itu tidak bisa melihat,
Tubuh kebijaksanaan Buddha yang tanpa bentuk.

Pengetahuan Buddha adalah yang bebas,
Tidak terintangi di triloka.
Tingkat kebijaksanaan ini,
Adalah yang sama dengan ruang angkasa.

Alam makhluk hidup dari dharmadhatu,
Pada yang tertinggi tanpa perbedaan.
Sepenuhnya mengetahui semua itu,
Adalah tingkat dari Tathagata.

Semua bahasa dan suara,
Yang ada di dalam dunia,
Pengetahuan Buddha bisa memahami,
Tanpa membeda-bedakan.

Tidak terlihat oleh indera kesadaran,
Dan bukanlah bidang pikiran,
Sifat alaminya sendiri pada dasarnya murni,
Pengetahuan Buddha mengajar makhluk hidup.

Tanpa karma, tanpa penderitaan,
Tiada apapun, dan tiada tempat tinggal,
Tiada penglihatan dan tiada objek,
Pencapaian Mereka sama di seluruh dunia.

Pikiran dari semua makhluk hidup,
Yang di masa lampau, sekarang dan masa depan,
Para Tathagata, dalam sekejap satu pikiran,
Bisa seluruhnya memahami.

Kemudian pada saat itu, dalam Sahaloka ini, semua gejala kejadian yang berbeda-beda dari semua makhluk hidup, karma yang berbeda-beda, alam yang berbeda-beda, tubuh yang berbeda-beda, indera yang berbeda-beda, kelahiran yang berbeda-beda, hasil yang berbeda-beda dari menjaga sila, hasil yang berbeda-beda dari melanggar sila, dan hasil yang berbeda-beda dari ksetra, secara jelas di tampilkan melalui kekuatan batin sang Buddha.

Sama seperti di penjuru timur, ada ratusan dari ribuan dari miliaran yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan di banyak dunia, di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu, semua gejala kejadian yang berbeda-beda dari semua makhluk hidup, karma yang berbeda-beda, alam yang berbeda-beda, tubuh yang berbeda-beda, indera yang berbeda-beda, kelahiran yang berbeda-beda, hasil yang berbeda-beda dari menjaga sila, hasil yang berbeda-beda dari melanggar sila, dan hasil yang berbeda-beda dari ksetra, secara jelas di tampilkan melalui kekuatan batin sang Buddha. Sama halnya juga dengan di sebelah selatan, barat, dan utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah.

16
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on August 25, 2018, 09:09:25 am »

Samantabhadra Vajrapani Droje Chang



Arya Avalokitesvara Chenrezig

Bab 9
Prabhabodhita parivartah

Kemudian pada saat itu, dari tanda roda di bawah kaki sang Bhagavan, ada memancarkan ratusan juta sinar cahaya yang menerangi Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu. juga, itu menerangi miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Jika ada yang melihat Samyaksambuddha,
Yang terbebaskan dan terpisah dari noda,
Dan tidak melekati dunia apapun,
Dia belumlah menyadari Dharmacaksu.

Jika ada yang mengenal Tathagata,
Tubuh-Nya dan tanda-Nya adalah yang tiada,
Dan dengan pengolahan mendapat pemahaman yang jelas,
Dia akan dengan cepat menjadi Buddha.

Dia yang bisa melihat dunia ini,
Dengan pikiran yang kukuh tak berpindah,
Begitu juga dengan tubuh Buddha,
Akan mencapai pengetahuan tertinggi.

Jika dalam memandang Buddha dan Dharma,
Orang memahaminya sebagai yang sama,
Dengan pikiran yang tidak mendua,
Dia akan berjalan di tingkat yang tidak terbayangkan.

Jika orang melihat Buddha dan dirinya sendiri,
Tinggal berdiam dalam kesamaan,
Tanpa tempat tinggal, tidak masuk kemanapun,
Dia akan menjadi Yang Langka.

Bentuk-rupa dan perasaan tanpa kumpulan:
Begitu juga tanggapan penglihatan, perbuatan, kesadaran;
Dia yang bisa mengetahui hal ini,
Akan menjadi Maha Muni.

Pandangan duniawi ataupun yang diluar dunia,
Setelah melampauinya semua,
Sambil dengan baik mampu mengenal Dharma,
Dia akan menjadi Yang Maha Terang.

Jika menuju ke Sarvajnajnana,
Orang membangkitkan pengabdian,
Melihat pikiran yang tanpa asal-mula,
Dia akan memperoleh Nama Terbesar.

Para Makhluk hidup tanpa kelahiran,
Dan juga tanpa peluruhan;
Jika orang mencapai pengetahuan ini,
Dia akan menyadari Jalan Yang Tiada Tanding.

Dalam satu memahami yang tidak terbatas,
Dalam yang tidak terbatas, yang satu:
Dengan menyadari asal-mula ketergantungannya,
Dia akan mencapai 'Abhaya (Keberanian Tanpa Takut)'.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati dunia ini dan menyinari sepuluh Buddhaksetra di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Para makhluk hidup yang tanpa kebijaksanaan,
Terluka dan teracun oleh duri nafsu keinginan;
Demi kepentingan mereka, mencari Bodhi:
Seperti itulah Buddhadharma.

Mengamati semua gejala kejadian,
Meninggalkan yang berlebihan,
Setelah menyelesaikan Bodhi, tidak pernah kemunduran,
Memutar Dharmacakra yang tiada banding.

Selama kalpa yang tidak terbayangkan
Mengolah berbagai praktek dengan semangat,
Demi membebaskan para makhluk:
Inilah kekuatan Maha Muni.

Sang Nayaka menaklukkan Mara.
Sang Pemberani yang tidak terkalahkan,
Mengkhotbahkan Dharma yang halus dalam cahaya-Nya,
Dikarenakan oleh sayang dan belas-kasihan.

Dengan pengetahuan dan kebijaksanaan,
Menghancurkan rintangan dari penderitaan,
Dalam sekejap melihat semua:
Inilah kekuatan batin sang Buddha.

Memukul genderang dari Maha Dharma,
Membangkitkan semua ksetra di sepuluh penjuru,
Menyebabkan semua pergi menuju Bodhi:
'Vimuktibala (kekuatan pembebasan)' bisa melakukan ini.

Tidak bisa hancur dan tiada batas,
Berkelana ke seluruh miliaran ksetra
Tanpa melekat pada keberadaan apapun:
Kebebasan ini adalah yang seperti para Buddha.

Buddha sama seperti ruang angkasa,
Pada yang tertinggi selamanya murni;
Mereka yang bergembira dalam mengingat ini,
Akan memenuhi semua ikrar mereka.

Di dalam setiap neraka,
Dia melewati kalpa yang tidak terhitung;
Demi membebaskan para makhluk hidup
Dia mampu menanggung kesakitan ini.

Tanpa menganggap tubuh-Nya dan hidup-Nya,
Selalu melindungi semua Buddhadharma,
Dengan pikiran tidak mementingkan diri dan harmonis,
Dia bisa mencapai jalan Tathagata.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sepuluh dunia dan menyinari seratus dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Buddha memahami gejala kejadian seperti khayalan-ilusi
Dan menembusnya dengan tanpa halangan.
Pikiran-Nya murni dan terbebas dari kemelekatan;
Dia megakurkan dan menaklukkan semua makhluk.

Beberapa melihat Dia pertama kali dilahirkan,
Warna-Nya sama seperti gunung emas;
Hidup dalam tubuh terakhir-Nya,
Dia selamanya Bulan diantara manusia.

Beberapa melihat-Nya sedang berjalan,
Dipenuhi dengan kebajikan yang tanpa batas;
Perhatian dan kecerdasan-Nya sangat terampil,
Sang Maha Purusa berjalan seperti Singa.

Beberapa melihat mata-Nya yang berwarna biru-ungu,
Sedang menatap sepuluh penjuru;
Kadang-kadang Dia memperlihatkan senyum,
Agar menyesuaikan dengan keinginan para makhluk.

Beberapa melihat auman singa-Nya,
Tubuh-nya yang tertinggi dan tiada bandingannya,
Mewujudkan kelahiran terakhir-Nya,
Membicarakan tiada apapun selain kebenaran.

Beberapa melihat-Nya meninggalkan rumah,
Melenyapkan semua ikatan,
Mempraktekkan perbuatan para Buddha,
Selalu merenungkan kepunahan.

Beberapa melihat-Nya sedang duduk di Bodhimanda,
Membangkitkan pengetahuan atas segala sesuatu,
Mencapai pantai seberang dari semua kebajikan,
Ketidaktahuan dan Noda batin menjadi berakhir.

Beberapa melihat sang Lelaki Tertinggi,
Penuh dengan Belas-kasihan yang besar,
Memutar Dharmacakra,
Memebabaskan para makhluk yang tidak terhitung.

Beberapa melihat sang Simhanada,
Cahaya-Nya yang menakjubkan dan unik,
Melampaui semua dunia,
Dengan Abhijnabala yang tiada tanding.

Beberapa melihat pikiran-Nya yang damai,
Seperti lampu yang padam selamanya;
Mewujudkan berbagai jenis kekuatan batin,
Sang dasa-bala bisa seperti ini.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati seratus dunia dan menyinari seribu dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Buddha menembus yang tiada tanding,
Dharma yang paling mendalam;
Para makhuk hidup tidak bisa mengerti,
Jadi Dia mengungkapkannya tahap demi tahap.

Sifat alami diri tidak pernah ada,
Dan kepemilikan diri jugalah kosong;
Jadi bagaimana para Tathagata,
Bisa memiliki tubuh mereka?

Yang terbebaskan, pengetahuan dan perbuatan-Nya,
Adalah yang melampaui kelompok dan perbandingan;
Semua pemikiran dan penalaran duniawi,
Tidak bisa menemukan kesalahan di dalamnya.

Para Buddha bukanlah 'loka-skandha (kumpulan duniawi)',
Bukan juga unsur, indera, kelahiran dan kematian;
Kumpulan gejala kejadian tidak bisa menghasilkannya,
Oleh karena itu, Mereka di juluki Singa diantara manusia.

Sifat alami-Nya pada dasarnya kosong dan diam;
Dia terbebaskan di dalam dan diluar,
Terpisah dari semua pikiran salah,
Kualitas yang tiada tanding seperti ini.

Zat dan sifat alami-Nya tidak pernah bergerak,
Tanpa diri, tidak datang dan tidak pergi;
Namun Dia bisa mencerahkan dunia,
Menaklukkan semua tanpa batas.

Dia selalu senang merenungkan kepunahan,
Yang satu, tiada duanya;
Pikiran-Nya tidak bertambah atau berkurang,
Namun mewujudkan kekuatan yang tanpa batas.

Mereka tidak melakukan perbuatan
Yang menyebabkan hasil pada para makhluk,
Namun bisa memahaminya tanpa rintangan,
Begitulah Dharma sang Tathagata.

Semua jenis dari makhluk hidup,
Berpindah melalui semua alam;
Sang Tathagata tidak membedakan,
Menyelamatkan jenis yang tanpa batas.

Warna emas sang Buddha,
Bukanlah keberadaan, namun meliputi semua keberadaan;
Sesuai dengan kecenderungan semua makhluk,
Mengajarkan mereka Dharma dari keheningan-tenang.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati seribu dunia dan menyinari sepuluh ribu dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Mengembangkan 'Maha-karuna (belas-kasihan yang besar)',
Demi menyelamatkan dan melindungi semua makhluk,
Selamanya meninggalkan alam manusia dan dewa:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Selalu meyakini sang Buddha,
Pikiran tidak pernah mundur,
Mendekati semua Tathagata:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Bertujuan pada kebajikan dari keBuddhaan,
Tekad tidak pernah mundur,
Tinggal di dalam kebijaksanaan murni yang menakjubkan:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Dalam semua sikap kegiatan,
Selalu mengingat kebajikan Buddha
Tanpa henti siang dan malam:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Mengamati masa lalu, sekarang, masa depan yang tanpa batas,
Mempelajari kebajikan Buddha
Dengan pikiran tanpa kenal lelah :
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Mengamati ciri-ciri yang sesungguhnya dari tubuh,
Semuanya kosong dan tiada,
Terpisah dari diri, dengan tanpa diri:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Pikiran melihat para makhluk sebagai yang sama,
Tidak menciptakan pembedaan,
Memasuki alam dari kenyataan yang sesungguhnya:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Mengangkat dunia yang tanpa batas,
Meminum habis semua samudra,
Kekuatan pengetahuan dari pencapaian batin ini:
Adalah karma yang harus dikerjakan.

Merenungkan berbagai macam ksetra,
Yang berbentuk dan yang tanpa bentuk,
Mampu mengetahuinya semua:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Butiran debu di semua ksetra dimana-mana,
Ada, di dalam setiapnya, seorang Buddha;
Mampu mengetahui jumlah Mereka:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sepuluh ribu dunia dan menyinari seratus ribu dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Jika orang melihat sang Penjinak Manusia,
Dalam hal bentuk rupa atau keluarga,
Ini adalah mata yang sakit, pandangan sesat:
Mereka tidak bisa mengetahui Dharma tertinggi.

Berbagai macam ciri-ciri dari sang Tathagata,
Tidak bisa diukur oleh setiap makhluk;
Jika melalui sepuluh juta nayuta kalpa menghitungnya bersama,
Ciri-ciri kualitas kebajikan itu masih lebih tanpa batas.

Sang Tathagata tidak mengambil bentuk-rupa sebagai zat,
Itu hanyalah ketiadaan bentuk, keadaan yang hening-tenang:
Namun bentuk tubuh dan tingkah-lakunya sempurna,
Dilihat oleh para duniawi sesuai dengan keinginan mereka.

Kualitas Buddha adalah yang halus, sulit diukur;
Tiada kata atau ucapan yang bisa mencapainya.
Itu bukanlah yang berkondisi atau yang tidak tanpa kondisi;
Sifat alami intisarinya kosong dan tanpa bentuk.

Tubuh sang Buddha tidak dilahirkan, melampaui pemikiran;
Itu bukanlah kumpulan dari unsur yang berbeda.
Memiliki kekuatan pembebasan dan penglihatan pasti,
Dia menjelajahi jalan keberanian yang tidak terkatakan.

Tubuh dan pikiran-Nya sama,
Terbebaskan di dalam dan diluar,
Selamanya tinggal didalam kesadaran sejati,
Tiada kemelekatan, tanpa belenggu.

Sang Tercerahkan dengan pikiran yang murni,
Perbuatan-Nya tanpa kebiasaan;
Dengan mata pengetahuan yang mencapai semua,
Dia adalah bantuan besar para makhluk hidup.

Satu tubuh tidak terbatas,
Dan tidak terbatas adalah yang satu;
Dengan memahami semua dunia,
Dia mewujudkan bentuk-rupa dimana-mana.

Tubuh ini tidak datang dari manapun,
Dan bukan himpunan apapun juga;
Disebabkan oleh pembedaan para makhluk
sehingga melihat berbagai jenis tubuh Buddha.

Pikiran membedakan dunia,
Namun pikiran tanpa keberadaan;
Sang Tathagata mengetahui kebenaran ini,
Jadi dalam cara ini melihat tubuh Buddha.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati seratus ribu dunia dan menyinari sejuta dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Tathagata yang paling bebas,
Melampaui dunia, tidak bergantung pada apapun,
Dipenuhi dengan semua kebajikan,
Membebaskan makhluk dari semua alam keberadaan.

Tidak terkotori, tanpa kemelekatan,
Tanpa tanggapan penglihatan, tidak menghuni,
Zat dan intisari tidak terukur:
Mereka yang melihat-Nya semua memuji.

Cahaya yang meliputi semua, terang dan murni,
Membersihkan kotoran duniawi,
Tidak bergerak, melampaui yang berlebihan.
Inilah pengetahuan sang Tathagata.

Jika orang melihat sang Tathagata,
Dengan tubuh dan pikiran terpisah dari pembedaan,
Maka terhadap semua gejala kejadian,
Selamanya tidak akan ragu.

Di semua dunia, dimana-mana,
Memutar Dharmacakra;
Namun tanpa sifat alami, tiada yang diputar,
Sang Nayaka menjelaskan dengan Upaya-kausalya.

Tanpa keraguan terhadap Dharma,
Selamanya mengakhiri pembentukan pikiran,
Tidak menghasilkan pikiran yang membeda-bedakan:
Inilah kesadaran Bodhi.

Memahami gejala kejadian yang berbeda,
Tidak melekat pada ucapan kata,
Dengan tiada satu atau banyak:
Inilah mengikuti ajaran Buddha.

Di dalam yang banyak tiada kesatuan,
Juga yang satu tiada yang banyak:
Dengan meninggalkan kedua ini,
Adalah secara menyeluruh memasuki kualitas Buddha.

Para makhluk hidup dan ksetranya,
Adalah yang seluruhnya kosong.
Dengan tanpa ketergantungan atau pembedaan,
Orang mampu memasuki Bodhi sang Buddha.

Dari para makhluk hidup dan ksetranya,
Kesatuan atau perbedaan tidak bisa ditemukan;
Dengan penuh pemahaman melihat seperti ini,
Dinamakan Yang Mengetahui Makna Ajaran Buddha.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sejuta dunia dan menyinari satu milyar dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Kebijaksanaan tiada tanding, Dharma tanpa batas,
Melampaui lautan keberadaan, mencapai pantai seberang,
Usia dan Cahaya tanpa bandingan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Berkebajikan.

Dengan jelas memahami semua Buddhadharma,
Selalu mengamati tiga masa waktu tanpa lelah,
Bahkan ketika melihat objek, tidak membedakan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Tidak Terbayangkan.

Merenungkan para makhluk hidup tanpa gagasan oleh itu,
Mengamati semua keberadaan tanpa gagasan oleh itu,
Selalu tinggal di keheningan Dhyana, namun tidak mengekang pikiran:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Kebijaksanaan Yang Tanpa Halangan.

Melalui upaya-kausalya memahami semua gejala kejadian,
Melalui perhatian benar dengan rajin mengolah jalan ke Nirvana,
Menikmati pembebasan, berpisah dari ketidaksamaan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Damai Dan Tidak Memihak.

Mendorong orang mencapai Samyaksambodhi,
Menuju Sarvajna dari Dharmadhatu,
Dan mempengaruhi para makhluk untuk memasuki kebenaran:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Tinggal Di Pikiran Buddha.

Mampu memasuki semua Dharma yang diajarkan Buddha,
Dengan pengetahuan luas dan kebijaksanaan yang tanpa halangan,
Mampu tiba di semua tujuan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Pengolahan Pembebasan.

Selalu tinggal di Nirvana, sama seperti ruang angkasa,
Mampu berubah wujud dan muncul dimana-mana sesuai kehendak:
Penciptaan bentuk-rupa yang berdasarkan pada ketiadaan bentuk-rupa ini,
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Mencapai Yang Sulit Dicapai.

Siang dan malam, hari dan bulan, tahun dan kalpa,
Tanda-tanda dari permulaan dan pengakhiran, pembentukan dan penghancuran dunia:
Mengingat dan sepenuhnya mengetahui ini,
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Pengetahuan Mengukur Waktu.

Semua makhluk hidup memiliki kelahiran dan kematian;
Berbentuk atau tiada bentuk, Berpikiran atau tanpa pikiran:
Mengetahui seluruh berbagai jenis sebutan ini,
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Tinggal Berdiam Pada Yang Tidak Terbayangkan.

Dari masa lampau, sekarang, dan masa depan,
Memahami semua yang telah dikatakan,
Namun mengetahui tiga masa waktu adalah yang sama:
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Pemahaman Yang Tiada Banding.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati satu milyar dunia dan menyinari sepuluh milyar dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Telah mengolah praktek yang luas dan sulit,
Dengan rajin bekerja siang dan malam,
Telah menyeberangi yang sulit di seberangi, dengan Simhanada,
Mengajar semua makhluk - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup berputar di dalam lautan pengidaman dan keserakahan,
Terselubung oleh jaring ketidaktahuan, sangat terbeban;
Dia Yang Paling Baik dengan berani mencabut semuanya,
Kami berikrar juga akan melakukannya - Inilah Praktek itu.

Para duniawi tidak terkendali, melekat pada nafsu indera;
Salah membedakan, mereka menderita banyak kesakitan.
Mempraktekkan ajaran Buddha, selalu mengendalikan pikiran,
Berikrar menyeberangkannya - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup, melekati diri, memasuki kelahiran dan kematian;
Mencari batas dari ini, tiada yang bisa ditemukan.
Melayani semua Tathagata untuk memperoleh Saddharma,
Menjelaskannya kepada orang lain - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup tanpa pertolongan, terselimuti oleh penyakit,
Selamanya tenggelam dalam takdir jahat, menghasilkan tiga racun,
Kobaran dahsyat dari api besar selalu membakar mereka;
Dengan pikiran murni menyelamatkan mereka - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup terbingungkan, kehilangan jalan yang benar;
Selalu pergi ke jalan yang salah, masuk ke rumah kegelapan.
Demi mereka, lampu Dharma dinyalakan,
Selamanya menjadi cahaya - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup naik dan tenggelam di lautan keberadaan;
Masalah mereka tanpa batas, tanpa tempat istirahat.
Membuatkan untuk mereka perahu Dharma,
Menyeberangkan mereka - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup tidak tahu, tidak melihat yang mendasar;
Bingung, bodoh, gila di tengah bahaya dan kesulitan.
Sang Buddha mengasihani mereka, membuatkan jembatan Dharma
Dengan kesadaran benar, membuat mereka memanjatnya - Inilah Praktek itu.

Melihat para makhluk di jalan bahaya,
Terbebani oleh penderitaan dari lahir, sakit, dan mati;
Mengembangkan upaya-kausalya yang tidak terbatas,
Berikrar untuk menyelamatkan mereka semua - Inilah Praktek itu.

Mendengar Dharma, percaya tanpa ragu,
Memahami sifat alami kekosongan tanpa takut,
Muncul di semua alam dalam bentuk-rupa yang sesuai,
Mengajar semua yang tersesat - Inilah Praktek itu.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sepuluh milyar dunia dan menyinari ratusan milyar dunia di penjuru timur, menyinari satu triliun dunia, seratus triliun dunia, kuadriliun dunia, seratus kuadriliun dunia, kuintriliun dunia, seratus kuintriliun dunia; Dalam cara ini, menyinari yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan dari banyak dunia yang ada di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini. 

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva. 

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :
 
Dalam satu ksana, mengamati kalpa yang tidak terukur
Tanpa pergi, atau datang, atau tinggal,
Dengan begitu memahami peristiwa masa lampau, sekarang, dan masa depan,
Sang Buddha melampaui upaya-kausalya dan menyelesaikan dasa-bala.

Kemasyhuran kebajikan-Nya tiada bandingan di sepuluh penjuru,
Selamanya bebas dari masalah, selalu bergembira,
Dia pergi ke semua ksetra,
Untuk mengumumkan Dharma ini kepada semua.

Demi keuntungan para makhluk, Dia memuja para Buddha,
Mencapai buah yang sebanding sesuai keinginan-Nya;
Siap menyatakan semua Dharma,
Dia memperlihatkan kekuatan batin di sepuluh penjuru.

Dari pertama kali memuja para Buddha, pikiran-Nya lentur dan sabar;
Dia memasuki samadhi yang mendalam dan mengamati sifat alami gejala kejadian.
Mendorong semua makhluk untuk bercita-cita pada Bodhi,
Melalui cara ini, Dia segera mencapai buah yang tiada tanding.

Siapa yang mencari Dharma dimana-mana dengan pikiran yang tidak terbagi,
Yang mengolah kebajikan hingga sepenuhnya matang,
Melenyapkan semua yang mendua dari keberadaan dan ketidakberadaan:
Orang seperti itu sungguh melihat sang Buddha.

Pergi ke semua ksetra di sepuluh penjuru,
Menjelaskan Saddharma demi kesejahteraan orang banyak,
Tinggal di dalam kenyataan tanpa keraguan:
Kebajikan orang ini sama seperti Buddha.

Saddharmacakra yang diputar sang Tathagata
Adalah semua aspek dari Bodhi;
Jika orang setelah mendengarnya, bisa menyadari sifat alami gejala kejadian,
Orang ini akan selalu melihat sang Buddha.

Jika orang tidak melihat dasa-bala sebagai yang kosong, seperti khayalan,
Maka meskipun melihat, itu tidak melihat, sama seperti buta.
Membedakan dan mengenal pada bentuk-rupa, orang tidak melihat sang Buddha;
Setelah berpisah dari kemelekatan, maka orang bisa melihat.

Para makhluk hidup beranekaragam perbedaannya mengikuti karma;
Di sepuluh penjuru, didalam dan diluar, sulit melihat mereka semua:
Tubuh Buddha tanpa rintangan, meliputi sepuluh penjuru,
Dalam cara yang sama juga tidak bisa sepenuhnya dilihat.

Sama seperti ruang angkasa ada ksetra yang tidak terbatas,
Tidak datang atau pergi, meliputi sepuluh penjuru,
Terbentuk dan hancur tanpa memiliki tempat kediaman,
Sang Buddha meliputi ruang angkasa dalam cara yang sama.
17
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on August 11, 2018, 08:07:27 am »

Vajrapani Sarvatathagatadipati



Samantabhadra Maha Bodhisattva

Bab 8
Caturaryasatya parivartah


Kemudian sang Maha Bodhisattva Manjushri berkata kepada para Bodhisattva : "Kulaputra, kebenaran mulia dari penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan perbuatan salah, atau penindasan, atau perubahan, atau melekat pada objek, atau penghimpunan, atau tusukan duri, atau ketergantungan pada indera, atau penipuan, atau tempat penyakit, atau tindakan dari ketidaktahuan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan ikatan, atau kehancuran, atau kemelekatan, atau kesadaran yang salah, atau pengejaran dan keterlibatan, atau hukuman yang pasti, atau jaring, atau pikiran yang menghayal, atau mengikuti, atau indera yang terbalik."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan tanpa perselisihan, atau terlepas dari kekotoran batin, atau keheningan-tenang dan tanpa nafsu, atau tanpa tanda, atau tanpa kematian, atau ketiadaan sifat alami diri, atau ketiadaan rintangan, atau Nirvana, atau kenyataan intisari, atau tinggal berdiam di dalam intisari."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan ekayana (satu kendaraan), atau maju menuju keheningan-tenang, atau pedoman, atau pada yang tertinggi terbebas dari perbedaan, atau kesamaan, atau melepaskan beban, atau tanpa objek yang dikejar, atau mengikuti maksud para bijaksana, atau praktek dari para Muni, atau sepuluh harta."

"Di dunia saha ini, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Ajaran Rahasia, itu dinamakan indera yang berusaha mengejar, atau tidak terbebas, atau akar dari belenggu, atau melakukan yang seharusnya tidak dilakukan, atau perselisihan dan pertarungan dalam semua keadaan, atau tiada kekuatan untuk menganalisa, atau menjadi ketergantungan, atau kesakitan yang sangat, atau kegiatan yang gelisah, atau objek dengan bentuk-rupa."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Ajaran Rahasia dinamakan mengalir mengikuti kelahiran dan kematian, atau kemelekatan yang terbiasa, atau panas pembakaran, atau terus berputar, atau indera yang rusak, atau keberadaan yang terus-menerus, atau tingkah laku jahat, atau kemelekatan cinta, atau sumber penyakit, atau penggolongan (membeda-bedakan)."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Ajaran Rahasia dinamakan makna tertinggi, atau pembebasan, atau yang layak dipuji, atau kedamaian, atau tempat masuk yang baik, atau penjinakan, atau yang tunggal, atau tanpa kesalahan, atau terbebas dari keserakahan, atau keputusan tetap."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Ajaran Rahasia dinamakan jenderal yang gagah berani, atau perbuatan yang unggul, atau yang melampaui, atau memiliki upaya-kausalya (memiliki cara bijaksana), atau mata yang tidak memihak, atau terpisah dari yang berlebihan, atau pemahaman yang menyeluruh, atau pemasukan, atau mata tertinggi, atau merenungkan Catur-Satya (Memikirkan Empat Kebenaran Mulia)."

"Di dunia Ajaran Rahasia, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Melimpah, itu dinamakan ketakutan, atau kematian, atau menjijikkan, atau yang mendesak perhatian, atau perubahan, atau musuh yang memerangkap, atau perampas yang penuh tipu daya, atau yang sulit dikerjakan, atau pembedaan yang keliru, atau pemilik kekuatan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Melimpah dinamakan kerusakan, atau ketidaktahuan, atau musuh besar, atau pedang yang tajam, atau rasa yang menghancurkan, atau balas dendam, atau yang bukan milik anda, atau bimbingan yang buruk, atau kegelapan yang meningkat, atau kebajikan yang rusak."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Melimpah dinamakan makna yang besar, atau keuntungan, atau tujuan dari semua tujuan, atau tanpa batas, atau yang seharusnya dilihat, atau terpisah dari pembedaan, atau penaklukkan tertinggi, atau kesamaan yang tetap, atau yang layak hidup bersama, atau yang tidak berkondisi."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Melimpah dinamakan pembakaran, atau tingkat tertinggi, atau kepastian, atau yang tidak bisa hancur, atau teknik yang mendalam, atau pembebasan, atau tidak rendah, atau keahlian penembusan, atau intisari pembebasan, atau yang mampu membebaskan."

"Di dunia Melimpah, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Tanpa Noda, itu dinamakan penyesalan, atau ketergantungan, atau gangguan, atau tinggal di dalam dinding-dinding, atau satu rasa, atau kebohongan, atau tinggal di rumah, atau tempat kediaman dari kemelekatan yang menipu, atau pandangan yang salah, atau yang tidak terhitung banyaknya."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Tanpa Noda dinamakan tiada yang sesungguhnya, atau hanya perkataan, atau tidak murni, atau tempat kelahiran, atau ketamakan, atau yang direndahkan, atau yang meningkat, atau beban berat, atau penghasil, atau kasar."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Tanpa Noda dinamakan tiada bandingan, atau sepenuhnya dihapuskan, atau menghilangkan kotoran, atau indera tertinggi, atau kesesuaian, atau tanpa ketergantungan, atau melenyapkan kebingungan, atau yang paling unggul, atau yang tertinggi, atau menghancurkan segel."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Tanpa Noda dinamakan yang tidak bisa dihancurkan, atau bagian dari cara bijaksana, atau landasan dari pembebasan, atau kenyataan dari sifat alami yang mendasar, atau tanpa cela, atau yang paling murni, atau batas dari semua keberadaan, atau menjaga yang diterima sepenuhnya, atau menghasilkan yang tertinggi, atau pemahaman yang murni."

"Di dunia Tanpa Noda, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Kegembiraan Besar, itu dinamakan tempat kemelekatan cinta, atau akar dari bahaya dan celaka, atau bagian dari lautan keberadaan, atau terbuat dari pengumpulan, atau indera yang membeda-bedakan, atau bertambah, atau permulaan dan kehancuran, atau rintangan, atau landasan pedang dan pisau, atau terbuat dari kumpulan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Kegembiraan Besar dinamakan menjijikkan, atau nama, atau tanpa akhir, atau kumpulan yang berbeda, atau yang tidak dicintai, atau merampas dan melahap, atau buruk, atau kemelekatan cinta, atau wadah, atau mengaduk."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kegembiraan Besar dinamakan akhir dari kelanjutan, atau pengungkapan, atau tanpa nama, atau tiada yang dipraktekkan, atau tiada objek penglihatan, atau tiada yang untuk dikerjakan, atau nirvana, atau terbakar habis, atau melepaskan beban berat, atau menghapuskan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kegembiraan Besar dinamakan tindakan yang hening-tenang, atau tindakan pembebasan, atau praktek yang rajin dan pengalaman, atau berangkat menuju ke hening-tenang, atau kehidupan yang tanpa batas, atau pengetahuan yang cepat memahami, atau jalan tertinggi, atau sulit dipraktekkan, atau paramita (mencapai pantai seberang), atau yang tiada tanding."

"Di dunia Kegembiraan Besar, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Perkumpulan, itu dinamakan mampu merampok dan menjarah, atau teman yang jahat, atau dipenuhi ketakutan, atau berbagai macam khayalan, atau sifat alami dari neraka, atau kebohongan, atau beban dari keserakahan, atau akar dari berat yang mendalam, atau berubah dengan keadaan pikiran, atau pada dasarnya tidak berguna."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Perkumpulan dinamakan kemelekatan yang serakah, atau
penyelesaian yang salah, atau pelanggaran jahat, atau yang cepat, atau mencengkram, atau pikiran, atau buah dari keberadaan, atau yang tidak dapat dijelaskan, atau yang tidak dapat dipahami, atau terus berputar dalam lingkaran."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Perkumpulan dinamakan tanpa kemunduran, atau melampaui perkataan, atau tanpa bentuk-rupa, atau yang menggembirakan, atau kestabilan, atau keajaiban tertinggi, atau terbebas dari kebodohan, atau nirvana, atau terlepas dari kejahatan, atau terbebas."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Perkumpulan dinamakan melampaui perkataan, atau tanpa pertikaian, atau ajaran dan bimbingan, atau pengabdian kebajikan, atau upaya-kausalya yang besar, atau cara bijaksana yang beranekaragam, atau seperti ruang angkasa, atau tindakan yang hening-tenang, atau pengetahuan tertinggi, atau mampu memahami kebenaran."

"Di dunia Perkumpulan, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Menguntungkan, itu dinamakan beban yang berat, atau tidak stabil, atau seperti pencuri, atau usia tua dan kematian, atau terbentuk dari pendambaan, atau perpindahan, atau kelelahan, atau kondisi yang buruk, atau pertumbuhan, atau pedang yang tajam."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Menguntungkan dinamakan peluruhan, atau kebingungan, atau kemunduran, atau tanpa kekuatan, atau kehilangan, atau pertentangan, atau perselisihan, atau pekerjaan, atau ketamakan, atau keinginan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Menguntungkan dinamakan terbebas dari penjara, atau kebenaran yang sesungguhnya, atau terhindar dari bencana, atau perlindungan, atau terlepas dari sakit, atau penaklukkan, atau yang utama, atau meninggalkan penyebab, atau tanpa kegiatan, atau tanpa kelanjutan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Menguntungkan dinamakan tiba di ketiadaan dari keberadaan, atau segel dari semua, atau gudang samadhi, atau pencapaian cahaya, atau Avaivartikadharma (keadaan tanpa kemunduran), atau mampu mengakhiri keberadaan, atau jalan besar yang lebar, atau mampu menjinakkan, atau kedamaian, atau indera yang tidak beredar."

"Di dunia Menguntungkan, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Keunikan Yang Jarang, itu dinamakan nafsu keinginan yang berbahaya, atau tempat belenggu, atau tindakan yang menyimpang, atau penangkapan, atau tanpa malu, atau akar dari keserakahan, atau seperti aliran sungai gangga, atau kerusakan yang terus, atau sifat alami dari api, atau penuh kecemasan dan gangguan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Keunikan Yang Jarang dinamakan permukaan yang luas, atau hasrat kecenderungan, atau jauh dari kebijaksanaan, atau halangan, atau ketakutan, atau kelalaian, atau mencengkram, atau kemelekatan, atau tidak tahu menjadi tuan rumah, atau terus terikat."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Keunikan Yang Jarang dinamakan pemenuhan, atau keabadian, atau tanpa diri, atau tanpa sifat alami diri, atau akhir dari pembedaan, atau tempat tinggal dari kedamaian dan kebahagiaan, atau yang tanpa batas, atau memotong putus perpindahan, atau memotong putus kegiatan dari dorongan pikiran, atau tiada duanya."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Keunikan Yang Jarang dinamakan cahaya besar, atau lautan dari penjelasan, atau menyelidiki makna, atau jalan dari kesesuaian, atau terbebas dari kemelekatan, atau menghancurkan keberlanjutan, atau jalan yang lebar, atau landasan dari kesamaan, atau cara bijaksana yang murni, atau kebijaksanaan tertinggi."

"Di dunia Keunikan Yang Jarang, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Kebahagiaan, itu dinamakan perputaran, atau kelahiran, atau kehilangan keuntungan, atau kemelekatan kebiasaan, atau muatan yang berat, atau pembedaan, atau bahaya dari dalam, atau perkumpulan, atau tempat tinggal yang salah, atau sifat alami dari kesedihan dan penderitaan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Kebahagiaan dinamakan permukaan, atau kemudahan, atau waktu yang salah, atau ketidakbenaran, atau tanpa dasar, atau mencengkram kepemilikan, atau pergi dari sila, atau penderitaan, atau pandangan yang sempit, atau himpunan dari kotoran."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kebahagiaan dinamakan menghancurkan ketergantungan, atau tidak lalai, atau kebenaran, atau kesamaan, atau kemurnian, atau terbebas dari penyakit, atau tidak terputarbalikkan, atau tanpa bentuk-rupa, atau bebas, atau tidak dilahirkan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kebahagiaan dinamakan memasuki alam tertinggi, atau memotong putus pengumpulan, atau melampaui perbandingan, atau sifat alami yang luas, atau akhir dari pembedaan, atau jalan dari kekuatan batin, atau upaya-kausalya yang sangat banyak, atau praktek dari perhatian yang benar, atau jalan yang tetap tenang, atau menganut pembebasan."

"Di dunia Kebahagiaan, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Kunci, itu dinamakan bentuk-rupa yang membusuk, atau seperti bejana yang hancur, atau hasil dari diri, atau perwujudan dari berbagai kecenderungan, atau putaran yang sangat banyak, atau pintu dari penyakit yang sangat banyak, atau sifat alami kesakitan, atau yang harus ditinggalkan, atau yang hambar, atau datang dan pergi."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Kunci dinamakan kegiatan, atau racun kemarahan, atau pencampuran, atau perasaan, atau mementingkan diri, atau racun yang bercampur, atau nama yang kosong, atau perlawanan, atau peniruan, atau terkejut."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kunci dinamakan tanpa pengumpulan, atau yang tidak bisa digenggam, atau obat yang menakjubkan, atau yang tidak bisa hancur, atau tanpa kemelekatan, atau yang tidak terukur, atau yang luas, atau bidang dari Bodhi, atau terbebas dari kecanduan, atau tiada rintangan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kunci dinamakan tindakan yang penuh damai, atau meninggalkan nafsu mengidam, atau kenyataan tertinggi, atau jalan masuk kedalam kebenaran, atau sifat alami tertinggi, atau perwujudan yang murni, atau konsentrasi, atau mengarah ke pembebasan, atau keselamatan, atau perbuatan tertinggi."

"Di dunia Kunci, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Suara Bergemuruh, itu dinamakan penyakit yang tersembunyi, atau duniawi, atau tempat tinggal, atau kesombongan, atau sifat alami dari kemelekatan kebiasaan, atau arus deras, atau yang tidak menyenangkan, atau kepura-puraan, atau yang cepat berlalu, atau yang sulit dikendalikan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Suara Bergemuruh dinamakan yang harus dikendalikan, atau kecenderungan pikiran, atau yang membelenggu, atau muncul di setiap pikiran, atau meluas hingga ke masa depan, atau pencampuran, atau pembedaan, atau pintu masuk, atau dilempar oleh angin, atau penyembunyian."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Suara Bergemuruh dinamakan tiada ketergantungan, atau yang tidak bisa di genggam, atau kembali, atau terbebas dari perselisihan, atau yang kecil, atau yang besar, atau yang murni, atau yang tidak habis-habisnya, atau yang luas, atau yang tidak ternilai."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Suara Bergemuruh dinamakan pengamatan yang menyelidiki, atau kemampuan menghancurkan musuh, atau segel dari pengetahuan, atau kemampuan memasuki intisari, atau yang tidak bisa di tentang, atau makna tanpa batas, atau mampu memasuki pengetahuan, atau jalan keharmonisan, atau keheningan-tenang yang abadi, atau kebenaran tertinggi."

"Di dunia Suara Bergemuruh, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."   

"Kulaputra, sama seperti di dunia Saha ini ada empat puluh triliun nama untuk mengungkapkan Empat Kebenaran Mulia, begitu juga di penjuru timur ada ratusan dari ribuan dari jutaan yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan dari banyak dunia yang ada di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu, di mana masing-masing dunia itu juga ada empat puluh triliun nama untuk mengungkapkan Empat Kebenaran Mulia, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan. Sama seperti di penjuru timur, begitu juga di sebelah selatan, barat, dan utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah."   
 
"Kulaputra, sama seperti di Saha Lokadhatu dimana kebenaran mulia dari penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, begitu juga di dalam sistem dunia di sepuluh penjuru, di masing-masing lokadhatu itu, kebenaran mulia dari penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."
18
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on July 13, 2018, 10:28:53 pm »

Vajradhara Tathagata


Gyuto Vidyadhara


Manohara Vasudhara Vajrankusa

Bab 7
Tathagatanama parivartah

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan yang baru saja mencapai Abhisambuddhah di dalam hutan Bodhimanda di negara Magadha, Sedang duduk diatas Simhasana tumpukan bunga teratai di dalam Paviliun Samantaprabha, Dia menyempurnakan Samyaksambodhi yang tidak terbayangkan, telah selamanya memotong putus gagasan duniawi tentang perpindahan dan kepunahan, mencapai gejala kejadian yang tiada tanda; Dia tinggal berdiam di dalam tempat Buddhatva, mencapai Samaya dari para Buddha, mencapai gejala kejadian yang abadi di dalam alam yang tanpa rintangan; Perbuatan-Nya tanpa halangan; Dia mendirikan yang tidak terbayangkan, melihat semua di masa lampau - sekarang - masa depan. Dia bersama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, yang semuanya adalah 'ekajati (satu kelahiran lagi)' untuk mencapai Buddhatva. Mereka semua yang telah berkumpul disini datang dari wilayah yang berbeda-beda. Mereka ahli dalam mengamati alam para makhluk hidup, alam dharmadhatu, alam nirvana, ganjaran dari semua karma, proses bekerjanya pikiran, arti dari semua kata, yang duniawi dan yang melampaui duniawi, yang berkondisi dan yang tidak berkondisi, masa lampau - sekarang - masa depan.

Kemudian pada waktu itu, para Bodhisattva itu memiliki pikiran demikian : "Jika sang Bhagavan menatap kami dengan belas-kasihan, semoga, sesuai dengan kecenderungan kami, memperlihatkan kepada kami Buddhaksetra, tempat tinggal para Buddha, hiasan dari Buddhaksetra, sifat alami dari Buddhatva, kemurnian dari Buddhaksetra, Dharma yang dijelaskan para Buddha, zat dan sifat alami dari Buddhaksetra, kualitas kebajikan para Buddha, pembentukan Buddhaksetra, dan Maha Bodhi dari para Buddha. Sama seperti para Bhagavan Buddha dari semua dunia di sepuluh penjuru, demi mengembangkan semua Bodhisattva, demi menyebabkan keluarga Tathagata terus berlanjut tanpa henti, demi menyelamatkan semua makhluk hidup, demi menyebabkan semua makhluk hidup selamanya terbebas dari semua penderitaan, demi memahami semua praktek, demi menjelaskan semua Dharma, demi membersihkan semua 'kotoran batin (klesa)', demi selamanya memotong putus semua jaring keraguan, demi membuang semua nafsu keinginan, demi melenyapkan semua kemelekatan, maka menjelaskan sepuluh tempat tinggal Bodhisattva, sepuluh praktek, sepuluh pembaktian, sepuluh gudang harta, sepuluh tingkat, sepuluh ikrar, sepuluh samadhi, sepuluh kekuatan, dan sepuluh puncak, dan menjelaskan tingkat Tathagata, keadaan Tathagata, kekuatan magis Tathagata, perbuatan Tathagata, kekuatan Tathagata, keberanian Tathagata, samadhi Tathagata, kemampuan batin Tathagata, kebebasan Tathagata, Ketiadaan rintangan Tathagata, mata Tathagata, telinga Tathagata, hidung Tathagata, lidah Tathagata, tubuh Tathagata, tujuan Tathagata, kefasihan Tathagata, kebijaksanaan Tathagata, dan keunggulan Tathagata, begitu juga, semoga Bhagavan Buddha menjelaskan ini kepada kami."
 
Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan, mengetahui yang dipikirkan oleh para Bodhisattva itu, mewujudkan kekuatan magis yang sesuai dengan setiap jenis Mereka. Ketika Dia telah selesai mewujudkan kekuatan magis, ada datang dari dunia yang bernama Warna Emas, yang Buddha-nya bernama Acalajnana, di sebelah timur melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, seorang Bodisattva yang tinggal di dunia itu yang bernama Manjushri, bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra. Ketika tiba di tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah timur dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah selatan, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Yang Menakjubkan, dengan Buddha-nya bernama Apratihatajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Buddhanayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah selatan dan duduk bersila diatasnya.
 
Di sebelah barat, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Bunga Teratai, dengan Buddha-nya bernama Tamapramardanajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Dharmavibhavanayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah barat dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah utara, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Bunga Campaka, dengan Buddha-nya bernama Tejovrttajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Ratnanayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah utara dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah timur laut, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Bunga Utpala, dengan Buddha-nya bernama Laksanajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Gunanayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah timur laut dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah tenggara, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Suvarna, dengan Buddha-nya bernama Paramajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Drstinayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah tenggara dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah barat daya, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Permata, dengan Buddha-nya bernama Agrajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Viryanayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah barat daya dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah barat laut, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Vajra, dengan Buddha-nya bernama Ksemajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Dharmanayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah barat laut dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah bawah, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Mani, dengan Buddha-nya bernama Vimalajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Jnananayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah bawah dan duduk bersila diatasnya.

Di sebelah atas, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Warna Yang Sama, dengan Buddha-nya bernama Avalokanajnana. Disana, ada Bodhisattva yang bernama Sattvatanayaka, yang bersama-sama dengan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra datang ke tempat sang Buddha berada, Mereka membungkuk dan lalu menghasilkan simhasana dari tumpukan bunga teratai di arah atas dan duduk bersila diatasnya.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva, di adhisthana oleh sang Buddha, mengamati seluruh perkumpulan para Bodhisattva, dan mengucapkan kata ini : "Para Bodhisattva ini adalah yang paling langka, Kulaputra ! Buddhaksetra adalah yang tidak terbayangkan. Tempat tinggal Buddha, hiasan Buddhaksetra, sifat alami Buddhadharma, kemurnian Buddhaksetra, Dharma yang diucapkan oleh Buddha, perwujudan Buddha, pembentukan Buddhaksetra, dan Anuttara-Samyaksambodhi dari Buddha, semua itu adalah yang tidak terbayangkan. Mengapa? Karena, Kulaputra, semua Buddha yang ada di dunia di sepuluh penjuru mengetahui bahwa kecenderungan dari para makhluk hidup adalah yang tidak sama, dan jadi, Mereka mengajar dan melatih mereka sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Jangkauan dari kegiatan ini sebanding dengan ruang angkasa dari dharmadhatu."

"Kulaputra, di dalam empat penjuru dari 'dunia ketahanan (sahaloka)' ini, sang Tathagata, dengan berbagai macam tubuh, nama, bentuk-rupa, ukuran, usia hidup, lokasi, indera, tempat kelahiran, bahasa, dan pemandangan, menyebabkan semua makhluk hidup masing-masing melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di dalam empat penjuru ini, sang Tathagata mungkin bernama 'Sarvārthasiddha (tercapai semua tujuan)', atau bernama 'Purnima (bulan purnama)', atau bernama 'Simhanada (Auman Singa)', atau bernama 'Sakyamuni (Pertapa Bijak dari Sakya)', atau bernama 'Saptamuni (Pertapa Bijak Yang Ke Tujuh)', atau bernama Vairocana, atau bernama Gautama, atau bernama 'Mahasramana (Sramana Yang Besar)', atau bernama 'Parama (Tertinggi)', atau bernama 'Nayaka (Pembimbing)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah timur dari empat benua, ada dunia yang bernama 'Perlindungan Yang Baik (Suraksa)'. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama Vajra, atau bernama 'Asamga (Yang Bebas)', atau bernama 'Prajnajnanadhara (Pemilik Pengetahuan Dan Kebijaksanaan)', atau bernama 'Ajita (Yang Tidak Terkalahkan)', atau bernama 'Muniraja (Raja Pertapa Bijak)', atau bernama 'Avivada (Tanpa Perselisihan)', atau bernama 'Kusalanayaka (Pemimpin Yang Mampu)', atau bernama 'Prasancitta (Batin Yang Bahagia)', atau bernama 'Apratimana (Tiada Bandingan)', atau bernama 'Vacatikranta (Melampaui Kata)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah selatan dari empat benua, ada dunia yang bernama Sulit Di Tanggung. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Devendra (Raja Dewa)', atau bernama 'Ratnakirti (Kemasyhuran Permata)', atau bernama 'Vimala (Tanpa Noda)', atau bernama 'Satyavaca (Perkataan Benar)', atau bernama 'Damaka (Penjinak)', atau bernama 'Ananda (Bahagia)', atau bernama 'Mahayasas (Ketenaran Yang Besar)', atau bernama 'Upakarin (Dermawan)', atau bernama 'Ananta (Tanpa Batas)', atau bernama 'Parama (Tertinggi)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah barat dari empat benua, ada dunia yang bernama Kebijaksanaan Pribadi. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Varunadeva (Dewa Air)', atau bernama 'Anandadarsa (Terlihat Menyenangkan)', atau bernama 'Paramaraja (Raja Tertinggi)', atau bernama 'Devadamana (Penjinak Dewa)', atau bernama 'Satyaprajna (Kebijaksanaan Yang Sebenarnya)', atau bernama 'Paramagata (Tiba Di Yang Tertinggi)', atau bernama 'Ananda (Bahagia)', atau bernama 'Dharmajnana (Pengetahuan Dharma)', atau bernama 'Sarvakartvanispadana (Menyelesaikan Semua Tugas)', atau bernama 'Hitavasa (Tinggal Dalam Kebaikan)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah utara dari empat benua, ada dunia yang bernama Keberadaan Singa. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Mahamuni (Sang Bijaksana Besar)', atau bernama 'Duskaracarya (Pertapaan Yang Sulit)', atau bernama 'Bhagavan (Yang Dihormati Dunia)', atau bernama 'Paramaksetra (Lapangan Tertinggi)', atau bernama 'Sarvajna (Yang Mengetahui Semua)', atau bernama 'Satcitta (Pikiran Yang Baik)', atau bernama 'Vimala (Murni)', atau bernama 'Isvaravana (Suara Penguasa Tertinggi)', atau bernama 'Paramadatra (Sang Pemberi Tertinggi)', atau bernama 'Duskaracaryasiddhi (Pencapaian Dari Pertapaan Yang Sulit)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah timur laut dari empat benua, ada dunia yang bernama Perenungan Yang Halus. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Marapramardaka (Penumpas Mara)', atau bernama 'Siddhi (Penyelesaian)', atau bernama 'Vimukta (Terbebaskan)', atau bernama 'Devapunya (Kebajikan Dewa)', atau bernama 'Alobha (Tiada Keserakahan)', atau bernama 'Paramaprajna (Kebijaksanaan Tertinggi)', atau bernama 'Samacitta (Pikiran Yang Seimbang)', atau bernama 'Aparajita (Yang Tidak Bisa Dikalahkan)', atau bernama 'Prajnasvara (Suara Kebijaksanaan)', atau bernama 'Viralasamdarsana (Kemunculan Yang Langka)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah tenggara dari empat benua, ada dunia yang bernama Kegembiraan dan Bahagia (Sukhananda). Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Paramasri (Kemuliaan Tertinggi)', atau bernama 'Kumpulan Cahaya Api (Prabhajvalavyuha)', atau bernama 'Pengetahuan Yang Meliputi Semua (Samantajnana)', atau bernama 'Sang Rahasia (Guhyaka)', atau bernama 'Pembebasan (Vimoksha)',  atau bernama 'Sifat Alami Yang Aman (Nihsamkasvabhava)', atau bernama 'Bertindak Sesuai Dharma (Dharmatisthati)', atau bernama 'Raja Mata Murni (Vimalanetraraja)', atau bernama 'Keberanian Besar (Mahavira)', atau bernama 'Kekuatan Semangat (Viryabala)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah barat daya dari empat benua, ada dunia yang bernama Sangat Kukuh. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Tinggal Berdiam Penuh Damai (Santavasa)', atau bernama 'Raja Pengetahuan (Jnanaraja)', atau bernama 'Sepenuhnya Sempurna (Paripurna)', atau bernama 'Tidak Berpindah (Acala)', atau bernama 'Mata Yang Indah (Suksmanetra)', atau bernama 'Raja Tertinggi (Paramaraja)', atau bernama 'Suara Pembebasan (Vimuktisvara)', atau bernama 'Pemberi Semua (Sarvadatra)', atau bernama 'Resinya Orang Banyak (Samgharesi)', atau bernama 'Puncak Sumeru (Merukuta)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah barat laut dari empat benua, ada dunia yang bernama Permukaan Yang Menakjubkan. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Samanta (Meliputi Semua)', atau bernama 'Jvalaprabha (Cahaya Api)', atau bernama 'Manisikha (Jambul Permata)', atau bernama 'Smararha (Layak Diingat)', atau bernama 'Anuttarartha (Makna Tiada Tanding)', atau bernama 'Nityananda (Selalu Gembira)', atau bernama 'Svabhavasuddha (Kemurnian Dari Sifat Alami)', atau bernama 'Prabhamandala (Lingkaran Cahaya)', atau bernama 'Dirghabhuja (Lengan Panjang)', atau bernama 'Saravasa (Tinggal Berdiam di Intisari)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah bawah dari empat benua, ada dunia yang bernama Kebijaksanaan Yang Bercahaya. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Kusalamulacaya (Mengumpulkan Akar Kebajikan)', atau bernama 'Simhika (Seperti Singa)', atau bernama 'Kusagrabuddhi (Kecerdasan Yang Tajam)', atau bernama 'Suvarnajvala (Api Keemasan)', atau bernama 'Sarvavidya (Semua Pengetahuan)', atau bernama 'Paramasvara (Suara Tertinggi)', atau bernama 'Upakarin (Dermawan)', atau bernama 'Paramagata (Tiba Di Yang Tertinggi)', atau bernama 'Satyadeva (Tuhan Kebenaran)', atau bernama 'Samantavijayin (Pemenang Atas Semua)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah atas dari empat benua, ada dunia yang bernama Menyokong Permukaan. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Prajnajnanadhara (Pemilik Pengetahuan Dan Kebijaksanaan)', atau bernama 'Vimalamukha (Wajah Yang Murni)', atau bernama 'Bodhiprajna (Kebijaksanaan Dari Kebangkitan)', atau bernama 'Nayaka (Pemimpin)', atau bernama 'Acaravyuha (Hiasan Perbuatan)', atau bernama 'Harsana (Pembawa Kegembiraan)', atau bernama 'Siddhartha (Tujuan Terselesaikan)', atau bernama 'Jvalitika (Seperti Cahaya Api)', atau bernama 'Sila (Moralitas)', atau bernama 'Ekayani (Satu Jalan)'; Ada sepuluh ribu nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Di dunia Saha, Kulaputra, ada ratusan milyar kelompok empat benua, dimana sang Tathagata disana memiliki jutaan milyar nama yang berbeda-beda, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah timur dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Ajaran Rahasia. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Samata (Kesamaan)', atau bernama 'Uttama (Terunggul)', atau bernama 'Santvana (Menghibur)', atau bernama 'Bodhicitta (Pikiran Yang Terbangkitkan)', atau bernama 'Satyavaca (Perkataan Benar)', atau bernama 'Vimokshaprapta (Mencapai Pembebasan)', atau bernama 'Paramakaya (Tubuh Tertinggi)', atau bernama 'Mahavira (Keberanian Besar)', atau bernama 'Anuttarajnana (Pengetahuan Yang Tiada Tanding)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah selatan dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Melimpah. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Muladharma (Sifat Alami Asli)', atau bernama 'Kamistamati (Kecerdasan Yang Tekun)', atau bernama 'Anuttara Bhagavan (Bhagavan Yang Tanpa Tandingan)', atau bernama 'Mahajnanolka (Obor Pengetahuan Besar)', atau bernama 'Anirvedita (Tanpa Ketergantungan)', atau bernama 'Prabhakosa (Gudang Cahaya)', atau bernama 'Prajnakosa (Gudang Kebijaksanaan)', atau bernama 'Gunakosa (Gudang Kebajikan)', atau bernama 'Devatideva (Tuhannya tuhan)', atau bernama 'Mahasvarajya (Penguasa Besar Yang Bebas)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah barat dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Tanpa Noda. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama Siddhartha (Tujuan Tercapai)', atau bernama 'Margavid (Mengetahui Jalan)', atau bernama 'Saravasa (Tinggal Berdiam di Intisari)', atau bernama 'Vipasa (Membuka Belenggu)', atau bernama 'Satyacetatin (Merenungkan Kebenaran)', atau bernama 'Suvivecaka (Memahami Dengan Mudah)', atau bernama 'Paramabuddhi (Wawasan Tertinggi)', atau bernama 'Damakarin (Perbuatan Penaklukkan)', atau bernama 'Tapascarya (Praktek Pertapaan)', atau bernama 'Sampurnabala (Dipenuhi Kekuatan)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah utara dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Kegembiraan Besar. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Champakavarna (Warna Bunga Campaka)', atau bernama 'Suryakosa (Gudang Matahari)', atau bernama 'Gunavasa (Tempat Kebajikan)', atau bernama 'Abhijnakara (Mewujudkan Kekuatan Penembusan Batin)', atau bernama 'Vikrantabhava (Sifat Alami Dari Langkah Yang Melampaui)', atau bernama 'Prajnaditya (Matahari Kebijaksanaan)', atau bernama 'Aniruddha (Tidak Terhalang)', atau bernama 'Candranirbhasa (Tampil Seperti Bulan)', atau bernama 'Veganila (Angin Cepat)', atau bernama 'Visuddhakaya (Tubuh Yang Murni)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah timur laut dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Perkumpulan (Samgraha). Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Nityavigataduhkha (Selamanya Terbebas Dari Penderitaan)', atau bernama 'Samantavimocana (Pembebasan Menyeluruh)', atau bernama 'Mahaguptakosa (Gudang Harta Tersembunyi Yang Besar)', atau bernama 'Vimuktijnana (Pengetahuan Pembebasan)', atau bernama 'Atitakosa (Gudang Penyimpan Masa Lampau)', atau bernama 'Ratnaprabha (Cahaya Permata)', atau bernama 'Nihsamga (Tidak Melekati Duniawi)', atau bernama 'Apratihatabhumi (Tingkat Tanpa Halangan)', atau bernama 'Vimalasraddhakosa (Gudang Keyakinan Murni)', atau bernama 'Aksobhyacitta (Pikiran Yang Tidak Dapat Terganggu)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah tenggara dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Menguntungkan. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Prabhakara (Mewujudkan Cahaya)', atau bernama 'Gambhiraprajna (Kebijaksanaan Mendalam)', atau bernama 'Subhasvara (Suara Yang Menakjubkan)', atau bernama 'Varendriya (Indera Terunggul)', atau bernama 'Vitanavyuha (Hiasan Susunan Kanopi)', atau bernama 'Viryamula (Ajar Semangat)', atau bernama 'Prajnaparamita (Mencapai Pantai Seberang Kebijksanaan)', atau bernama 'Paramasamadhi (Konsentrasi Tertinggi)', atau bernama 'Vimalavaca (Perkataan Yang Jelas)', atau bernama 'Prajnasagara (Lautan Kebijaksanaan)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah barat daya dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Keunikan Yang Jarang. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Munisvara (Tuannya Para Bijaksana)', atau bernama 'Sarvavasudhara (Pemilik Semua Kekayaan)', atau bernama 'Lokavimuktika (Terbebaskan Dari Dunia)', atau bernama 'Samantajnanendriya (Indera Dari Pengetahuan Yang Mencakup Semua)', atau bernama 'Paramavaca (Ucapan Tertinggi)', atau bernama 'Vimaladarsin (Pemahaman Yang Jelas)', atau bernama 'Vasendriya (Indera Yang Terkendali)', atau bernama 'Mahamrtasasta (Guru Abadi Yang Besar)', atau bernama 'Vinayakarma (Perbuatan Membimbing)', atau bernama 'Vajrasimha (Singa Yang Tidak Bisa Hancur)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah barat laut dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Kebahagiaan. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Sundarapuspaguccha (Karangan Bunga Yang Indah)', atau bernama 'Candanavitana (Kanopi Dari Candana)', atau bernama 'Padmakosa (Gudang Bunga Teratai)', atau bernama 'Sarvadharmatikranta (Melampaui Segala Sesuatu)', atau bernama 'Dharmaratna (Permata Kebenaran)', atau bernama 'Punarjati (Kelahiran Kembali)', atau bernama 'Vimalasuvitana (Kanopi Yang Sangat Indah Dan Murni)', atau bernama 'Mahavipulanetra (Mata Yang Luas Dan Besar)', atau bernama 'Kusaladharmadharin (Pemilik Kualitas Yang Baik)', atau bernama 'Dharmasamadhi (Konsentrasi Dharma)', atau bernama 'Jalakosa (Gudang Jaring)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah bawah dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Kunci. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Jvalakara (Menghasilkan Api)', atau bernama 'Prasantavisa (Melenyapkan Racun)', atau bernama 'Devendradhanu (Panah Dari Sakra)', atau bernama 'Apratishthita (Tiada Tempat Menetap)', atau bernama ' (Tercerahkan Pada Sumber)', atau bernama 'Asrayabodhi (Menyadari Sumber Yang Mendasar)', atau bernama 'Samucchranirodha (Menghentikan Kenaikan)', atau bernama 'Mahavega (Kecepatan Besar)', atau bernama 'Nityadanananda (Selalu Senang Memberi)', atau bernama 'Vivekitamarga (Memahami Sang Jalan)', atau bernama 'Bendera Kemenangan (Vijayadhvaja)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, di sebelah atas dari dunia Saha, ada dunia yang bernama Suara Bergemuruh. Di sana, sang Tathagata mungkin bernama 'Viradhvaja (Bendera Pemberani)', atau bernama 'Anantanidhi (Harta Tanpa Batas)', atau bernama 'Mahadananandi (Senang Menyumbang Besar)', atau bernama 'Divyaprabha (Cahaya Surga)', atau bernama 'Mangalabhava (Munculnya Pertanda Baik)', atau bernama 'Paramita (Yang Melampaui)', atau bernama 'Sarvadhipati (Tuan Atas Semua)', atau bernama 'Avaivarticakra (Roda Yang Tanpa Kemunduran)', atau bernama 'Sarvapapatikranta (Diluar Dari Semua Kejahatan)', atau bernama 'Sarvajna (Semua Pengetahuan)'; Ada sejuta milyar nama seperti ini, yang mana membuat setiap makhluk melihat dan mengenal-Nya berbeda-beda."

"Kulaputra, sama seperti di dunia Saha ini, demikian juga di penjuru timur, ada ratusan dari ribuan dari miliaran yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan di banyak dunia, di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu, nama-nama dan julukan dari Tathagata yang beranekaragam perbedaannya. Sama halnya juga dengan di sebelah selatan, barat, dan utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Sama seperti ketika sang Bhagavan masih seorang Bodhisattva yang melalui berbagai macam percakapan, berbagai macam ucapan bahasa, berbagai macam suara, berbagai macam perbuatan, berbagai macam akibat, berbagai macam tempat, berbagai macam upaya-kausalya, berbagai macam indera, berbagai macam keyakinan pemahaman, dan berbagai macam posisi mencapai kematangan, jadi, demikian juga Dia membabarkan Dharma yang menyebabkan para makhluk hidup mencapai pengetahuan dan penglihatan seperti ini."
19
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on June 02, 2018, 10:25:23 am »

Vairocana Vajra Tathagata


25 Kereta

Vajrapani Guhyakadipati

Bab 6
Vairocana parivartah

Kemudian Samantabhadra Bodhisattva lebih lanjut berkata kepada Maha Samaya : "Putra Buddha, di masa lampau, melewati kalpa yang banyaknya seperti butiran debu halus di dalam lokadhatu, dan bahkan dua kali lipat dari jumlah itu, ada lautan lokadhatu yang bernama Pintu Semesta Dari Cahaya Yang Murni. Di dalam lautan lokadhatu itu, ada dunia yang bernama Suara Tertinggi, yang ditopang oleh lautan jaring dari bunga permata mani, dan memiliki dunia yang banyaknya seperti butiran debu halus di gunung Sumeru sebagai pengiringnya. Bentuknya sepenuhnya bulat, dan permukaannya dipenuhi dengan hiasan yang tidak terhitung banyaknya. Itu memiliki disekelilingnya tiga ratus lingkaran dari pegunungan yang melingkarinya dengan hutan pohon permata yang sangat banyak. Itu diselimuti oleh awan dari semua jenis permata. Itu disinari dengan cahaya terang yang murni. Kota dan istananya seperti gunung Sumeru tingginya. Makanan dan pakaian muncul kapanpun dipikirkan. Kalpa itu bernama Terhiasi Dengan Berbagai Cara."

"Di dalam dunia Suara Tertinggi itu, Putra Buddha, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Yang Murni. Dari tengah-tengah lautan itu, berdiri Gunung Sumeru yang besar dari bunga teratai, yang bernama Bendera Yang Seluruhnya Terhiasi Dengan Bunga Yang Menyala. Itu dikelilingi oleh birai yang terbuat dari sepuluh jenis permata. Diatas gunung itu ada hutan besar yang bernama Lingkaran Cabang Bunga Permata Mani. Ada tersusun di seluruh sekelilingnya menara bunga dan teras permata. Dimana-mana secara mewah terhiasi dengan jumlah yang tidak terhitung dari bendera dengan wewangian yang sangat indah, bendera gunung permata, dan bunga teratai permata. Jumlah yang tidak terhitung dari jaring bunga teratai permata mani yang wangi menggantung di seluruh sekeliling. Ada musik yang harmonis dan menyenangkan, juga awan wangi yang berkilau terang. Semua ini adalah yang tidak terhitung, tidak mungkin sepenuhnya di jelaskan."

"Ada jutaan koti nayuta kota di seluruh sekeliling hutan itu, dengan berbagai macam makhluk yang hidup disana. Di sebelah timur dari hutan ini, Putra Buddha, ada kota besar yang bernama Cahaya Api, ibu kota dari raja manusia, dikelilingi oleh jutaan koti nayuta kota, semuanya terbuat dari permata indah yang murni, masing-masing tujuh ribu yojana tingginya dan tujuh ribu yojana lebarnya, dengan dinding yang terbuat dari tujuh jenis permata. Menara untuk mengusir penyerang semuanya tinggi dan terhiasi secara indah, dengan parit yang terbuat dari permata dan logam mulia terisi penuh dengan air wangi, dengan bunga utpala (teratai biru), bunga padma (teratai merah jambu), bunga kumuda (teratai merah), dan bunga pundarika (teratai putih), semuanya terbuat dari permata, menyebar luas sebagai hiasan. Tujuh lapis pohon tala permata juga mengelilingi kota. Istana dan gedung semuanya terhiasi dengan permata, ditutupi dengan berbagai macam jaring yang indah, dan dihiasi didalamnya dengan wewangian dan taburan bunga-bunga. Ada jutaan koti nayuta pintu gerbang, semuanya dihiasi dengan permata, dengan empat puluh sembilan bendera permata di depan setiap pintu gerbang, tersusun dalam barisan. Lagi, ada jutaan koti taman dan hutan yang sepenuhnya melingkarinya, dengan berbagai macam campuran parfum dan wewangian dari pohon permata mani yang menghembus melewatinya dan mewangikan segala sesuatu. Jumlah besar burung bernyanyi dalam harmoni, menyenangi para pendengar."

"Para penduduk dari kota besar ini telah semuanya menyempurnakan landasan kekuatan magis (rddhipada) sebagai hasil dari karma mereka. Mereka bisa bepergian melalui langit seperti para dewa. Apapun yang mereka inginkan datang kepada mereka ketika dipikirkan."

"Di sebelah selatan dari kota itu, ada kota Dewa yang bernama Terhiasi Dengan Bunga-Bunga Pohon. Ke sebelah kanan dari kota itu, ada kota Maha Naga yang bernama Tertinggi. Di sampingnya ada kota Yaksha yang bernama Bendera Tertinggi Dari Vajra. Di sampingnya ada kota Gandharva yang bernama Istana Yang Indah. Di sampingnya ada kota Asura yang bernama Roda Permata. Di sampingnya ada kota Garuda yang bernama Susunan Dari Permata Yang Indah. Di sampingnya ada kota Kinnara yang bernama Mengembara Dengan Permainan Yang Menyenangkan. Di sampingnya ada kota Mahoraga yang bernama Tirai Vajra. Di sampingnya ada kota Surga Raja Brahma yang bernama Anekaragam Hiasan Yang Menakjubkan. Ada jutaan koti nayuta kota yang seperti itu, yang masing-masing dikelilingi oleh jutaan koti nayuta istana, masing-masing memiliki hiasan yang tidak terhitung banyaknya."

"Di dalam Hutan Besar Dari Lingkaran Cabang Bunga Permata Mani, Putra Buddha, ada Caitya yang bernama Bunga Permata Yang Bersinar Dimana-mana, yang tersusun dengan banyak permata yang sangat besar, dengan kalung bunga permata mani yang bermekaran dimana-mana, menyala dengan lampu yang wangi, diselimuti dengan awan api yang mengandung warna dari semua permata, dengan jaring cahaya yang bersinar dimana-mana. Semua perhiasan itu terus-menerus menghasilkan permata yang sangat indah, dan semua jenis musik dimainkan dengan suara yang indah. Dari permata maniraja memperlihatkan tubuh para Bodhisattva. Ada berbagai macam bunga yang sangat indah tersebar di seluruh sepuluh penjuru."

"Di depan Caitya itu, ada lautan yang bernama Vajra Permata Mani Yang Wangi, yang menghasilkan Bunga Teratai yang sangat besar yang bernama Lingkaran Api Dari Putik Bunga. Bunga yang besar dan menakjubkan itu berukuran ratusan koti yojana. Batangnya, daunnya, putiknya, dan kuncupnya semuanya dari permata yang menakjubkan. Itu dikelilingi oleh sepuluh gugusan yang tidak terbayangkan dari ratusan ribu koti nayuta bunga teratai, yang terus-menerus memancarkan sinar dan suara yang indah yang memenuhi sepuluh penjuru."

"Dalam kalpa pertama dari dunia yang bernama Suara Tertinggi itu, Putra Buddha, ada banyak para Tathagata yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam sepuluh gunung Sumeru muncul di dunia. Buddha yang pertama bernama Sarvagunasumeruparamamegha. Ketahuilah, Putra Buddha, seratus tahun sebelum sang Buddha itu akan muncul di dunia, semua hiasan di dalam hutan besar Lingkaran Cabang Bunga Permata Mani seluruhnya menjadi murni. Yaitu, itu menghasilkan yang tidak terbayangkan banyaknya dari awan api permata yang memancarkan suara yang memuji kebajikan para Buddha; Jaring sinar cahaya yang melantunkan suara dari para Buddha yang tidak terhitung banyaknya meliputi sepuluh penjuru; Istana dan gedung saling mencerminkan dalam kilauannya; Cahaya yang terang dari bunga permata berkumpul menjadi awan dan menghasilkan suara agung yang memberitakan akar kebajikan yang luas yang dipraktekkan oleh semua makhluk hidup di masa lampau, memberitakan nama-nama dari para Buddha dari masa lampau - sekarang - masa depan, memberitakan jalan tertinggi dari ikrar dan perbuatan yang dilaksanakan oleh semua Bodhisattva, memberitakan pemutaran roda Saddharma dari para Tathagata. Dalam cara ini, perwujudan dari tanda-tanda yang indah ini mengungkapkan bahwa sang Buddha akan muncul di dunia."

"Karena para raja di dunia itu melihat pertanda ini, akar kebajikan mereka menjadi matang dan mereka semua pergi ke Caitya dengan keinginan untuk melihat sang Buddha. Kemudian sang Buddha Sarvagunasumeruparamamegha tiba-tiba muncul diatas bunga teratai permata yang besar di dalam Caitya itu. Tubuh-Nya ada dimana-mana, sama dengan dharmadhatu, muncul dilahirkan di dalam semua Buddhaksetra, pergi kesemua Bodhimanda. Bentuk-Nya yang tanpa batas seluruhnya murni dan kecemerlangan-Nya tidak bisa dilampaui oleh makhluk apapun di dunia, dipenuhi dengan semua ciri-ciri mulia, yang setiapnya berbeda dan jelas. Wujud-Nya muncul di dalam semua istana, dan semua makhluk hidup bisa melihat-Nya dengan mata mereka sendiri. Perwujudan para Buddha yang tanpa batas terpancar keluar dari tubuh-Nya, dengan cahaya yang beranekaragam warna memenuhi alam semesta."

"Sama seperti diatas puncak bendera gunung sumeru yang terhiasi dengan bunga yang menyala, di lautan air wangi Cahaya Yang Murni, di tengah-tengah hutan besar Lingkaran Cabang Bunga Permata Mani, sang Buddha itu mewujudkan tubuh-Nya dan duduk disana, begitu juga Dia mewujudkan tubuh-Nya dan duduk diatas masing-masing dari enam puluh delapan ribu koti puncak gunung sumeru dari dunia Suara Tertinggi."

"Kemudian pada saat itu, sang Buddha itu memancarkan sinar cahaya besar dari antara alis mata-Nya. Sinar cahaya itu bernama Menghasilkan Suara Dari Semua Akar Kebajikan, dan diiringi dengan sinar cahaya yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra. Cahaya itu memenuhi semua ksetra di sepuluh penjuru, dan jika ada makhluk hidup yang siap untuk diselaraskan, cahaya itu menyentuh mereka dengan sinarnya dan mereka segera terbangkitkan sendiri, mengakhiri semua ketidaktahuan yang membakar, membelah jaring penghalang, menghancurkan gunung rintangan, membersihkan semua ketidakmurnian yang keruh, mengembangkan keyakinan besar dan keteguhan hati, menghasilkan akar kebajikan yang unggul, selamanya terpisah dari ketakutan pada berbagai kesulitan, melenyapkan semua penderitaan dari pikiran dan tubuh, memikirkan ingin melihat sang Buddha dan menuju ke 'Sarvajnajnana (Pengetahuan Yang Mengetahui Semua)'. Pada waktu itu, semua pemimpin dunia dan rombongan pengiring mereka, sebanyak ratusan ribu yang tidak terhitung, terbangkitkan oleh cahaya sang Buddha, semuanya pergi kepada sang Buddha dan bersujud di kaki-Nya."

"Di dalam kota besar Cahaya Api itu, Putra Buddha, ada seorang raja yang bernama Sukhadarsaparahitabuddhi, yang memerintah jutaan koti nayuta kota, yang memiliki tiga puluh tujuh ribu istri dan selir dengan pemimpinnya bernama Punyasubhalaksana, yang memiliki lima ratus putera dengan yang tertua bernama Mahabalaprabha yang dirinya memiliki sepuluh ribu istri dengan pemimpinnya bernama Atiramadarsa. Pada saat itu, sang pangeran Mahabalaprabha, setelah melihat cahaya sang Buddha, disebabkan oleh kekuatan akar kebajikan yang telah diolahnya, seketika itu juga mencapai sepuluh jenis pintu Dharma, yaitu : Dia mencapai samadhi dari roda kebajikan dari semua Buddha, mencapai pintu dharani semesta dari semua Buddhadharma (pintu mengingat ajaran Buddha), mencapai prajna-paramita yang mengandung gudang upaya-kausalya yang besar, mencapai penghiasan yang besar dari menggunakan kebaikan untuk menenangkan semua makhluk hidup, mencapai kasih sayang besar yang gema suaranya seperti awan membentang dimana-mana, mencapai kegembiraan besar dari pikiran tertinggi yang melahirkan kebajikan yang tanpa batas, mencapai kesabaran besar yang menyadari semua gejala kejadian sebagaimana apa adanya, mencapai kekuatan batin besar dari gudang yang sama dari maha-upaya-kausalya dari pembebasan, mencapai maha-pranidhana yang meningkatkan kekuatan keyakinan, mencapai pintu pratibhana (kefasihan) untuk masuk kedalam Sarvajnajnana (pengetahuan yang mengetahui semua)."

Kemudian pangeran Mahabalaprabha, setelah mencapai cahaya Dharma ini, dengan menerima kekuatan sang Buddha, mengamati Maha Samaya, dan mengucapkan syair-gatha ini, berkata :

Sang Bhagavan duduk di Bodhimanda;
Murni dan terang Maha-Rasmi-Prabha-Nya,
Seperti seribu matahari muncul,
Menyinari seluruh ruang angkasa.

Setelah koti kalpa yang tidak terbatas
Sang Nayaka muncul;
Sekarang sang Buddha datang ke dunia,
Di tatap dan diikuti semua.

Amatilah cahaya sang Buddha,
Perwujudan para Buddha yang tidak terbayangkan,
Di dalam setiap istana
Diam di dalam samadhi yang sejati.

Lihatlah kekuatan guhya sang Buddha,
Menghasilkan awan api dari pori-pori-Nya,
Yang menyinari dunia,
Dengan cahaya yang tanpa akhir.

Lihatlah tubuh sang Buddha,
Dengan jaring cahaya-Nya yang paling murni,
Mewujudkan bentuk yang sebanding dengan jumlah semua makhluk,
Memenuhi sepuluh penjuru.

Suara-Nya yang menakjubkan meliputi dunia,
Dan semua yang mendengarnya menjadi gembira;
Dalam bahasa dari semua makhluk hidup,
Itu memuji kebajikan sang Buddha.

Disinari dengan cahaya sang Bhagavan,
Semua makhluk penuh damai dan bahagia;
Semua penderitaan dari keberadaan menjadi lenyap,
Pikiran mereka dipenuhi dengan kegembiraan.

Lihatlah rombongan para Bodhisattva
Berkumpul dari sepuluh pejuru,
Semuanya memancarkan awan permata mani,
Melantunkan pujian kepada sang Buddha.

Bodhimanda menghasilkan suara yang menakjubkan,
Yang paling mendalam dan menjangkau jauh,
Mampu melenyapkan penderitaan para makhluk hidup;
Inilah kekuatan batin sang Buddha.

Setiap orang memuja-Nya dengan penuh hormat,
Semuanya memiliki kegembiraan besar di dalam hati,
Bersama-sama dihadapan sang Bhagavan,
Menatap sang Dharma-raja.

"Pada saat itu, Putra Buddha, ketika pangeran Mahabalaprabha mengucapkan syair-gatha ini, suara-nya meliputi dunia Suara Tertinggi melalui kekuatan batin sang Buddha. Sang Raja Sukhadarsaparahitabuddhi setelah mendengar syair-gatha ini, dipenuhi dengan kegembiraan besar; Dia menatap seluruh rombongan pengiringnya dan mengucapkan syair-gatha ini, berkata :

Cepatlah anda kumpulkan,
Semua para raja,
Pangerannya dan menteri besarnya,
Para pejabatnya dan sisanya.

Umumkanlah disemua kota,
Mereka harus memukul genderang besar,
Mengumpulkan semua orang,
Untuk menemui dan melihat sang Buddha.

Di setiap persimpangan jalan
Lonceng permata harus dibunyikan:
Biarkan istri, anak, perumah-tangga,
Bersama-sama pergi melihat sang Tathagata.

Semua istana kota,
Harus dibuat bersih:
Berdirikan bendera yang indah dimana-mana
Hiasi dengan permata mani.

Banyak jaring tirai permata,
Alat musik melayang seperti awan,
Dengan indah tersusun di langit:
Biarkan dimana-mana dipenuhi dengan itu.

Berihkan setiap jalan,
Hujani dengan kain yang indah;
Hiasi kereta permata anda
Dan lihatlah sang Buddha dengan saya.

Masing-masing sesuai dengan kekuasaannya
Hujani dengan perhiasan dimana-mana,
Semuanya sama seperti awan yang menyebar,
Memenuhi seluruh langit.

Kanopi Teratai dengan api wangi,
Kalung permata bulan sabit,
Dan banyak kain indah yang tidak terhitung:
Semuanya itu anda harus bagikan.

Lautan wewangian terbesar,
Roda permata mani terbaik,
Dan juga candana yang paling murni:
Semuanya harus memenuhi langit.

Karangan bunga dari banyak permata,
Hiasan yang murni dan tanpa cacat,
Dan juga lampu permata mani:
Aturlah semua itu berada di langit.

Bawalah itu semua kepada sang Buddha
Dengan hati yang dipenuhi kegembiraan;
Istri, anak, pengiring, semuanya,
Pergilah melihat sang Bhagavan.

"Kemudian pada saat itu, sang Raja bersama dengan tiga puluh tujuh ribu istri dan selir dengan Punyasubhalaksana pemimpinnya, lima ratus putra dengan Mahabalaprabha pemimpinnya, enam puluh ribu menteri besar dengan Prajnabala pemimpinnya, dan juga yang lainnya, rombongan yang berjumlah tujuh puluh tujuh ratus ribu koti nayuta keluar dari 'kota besar Cahaya Api (Jvalaprabamahanagara)', mereka semua melintas di langit melalui kekuatan sang Raja, semua persembahan mereka yang beranekaragam memenuhi langit. Pergi ke tempat dimana sang Buddha berada, mereka bersujud di kaki-Nya, lalu duduk di satu sisi."

"Lagi, ada Raja Dewa yang bernama Hitavikaradhvaja datang dari kota yang bernama Bunga Yang Indah, bersama dengan rombongan yang berjumlah sepuluh koti nayuta."

"Lagi, ada Raja Naga yang bernama Vimalaprabha datang dari kota yang bernama Tertinggi, bersama dengan rombongan yang berjumlah dua puluh lima koti."

"Lagi, ada Raja Yaksha yang bernama Ugrabala datang dari kota yang bernama Bendera Vajra Tertinggi, bersama dengan rombongan yang berjumlah tujuh puluh tujuh koti."

"Lagi, ada Raja Gandharva yang bernama Anandadarsin datang dari kota yang bernama Tanpa Noda, bersama dengan rombongan yang berjumlah sembilan puluh tujuh koti."

"Lagi, ada Raja Asura yang bernama Vimalarupabhavana datang dari kota yang bernama Roda Yang Indah, bersama dengan rombongan yang berjumlah Lima puluh delapan koti."

"Lagi, ada Raja Garuda yang bernama Dasabalacara datang dari kota yang bernama Susunan Hiasan Yang Menakjubkan, bersama dengan rombongan yang berjumlah sembilan puluh sembilan koti."

"Lagi, ada Raja Kinnara yang bernama Vajraguna datang dari kota yang bernama Kenikmatan Yang Menyenangkan, bersama dengan rombongan yang berjumlah delapan belas koti."

"Lagi, ada Raja Mahoraga yang bernama Ratnakirtidhvaja datang dari kota yang bernama Bendera Vajra, bersama dengan rombongan yang berjumlah tiga koti ratus ribu nayuta."

"Lagi, ada Raja Brahma yang bernama Paramavijaya datang dari kota yang bernama Hiasan Yang Murni, bersama dengan rombongan yang berjumlah delapan belas koti. Para Raja dari ratusan yang tidak terhitung dari koti nayuta kota, bersama dengan rombongan pengiring mereka, semuanya datang bersama-sama menemui sang Sarvagunasumeruparamamegha Tathagata, bersujud di kaki-Nya, lalu duduk di satu sisi."

"Kemudian sang Tathagata itu, ingin menenangkan jumlah besar makhluk hidup di dalam lautan perkumpulan majelis di Bodhimanda-Nya, mengucapkan Sutra yang bernama Semua Kumpulan Dari Cara Pembebasan Dari Semua Buddha Dari Masa Lampau-Sekarang-Masa Depan, bersama dengan Sutra tambahan yang banyaknya seperti butiran debu di dalam lokadhatu, menyebabkan semua makhluk menerima manfaat sesuai dengan kecenderungan pikiran mereka."

"Pada saat itu, sang Mahabalaprabha Bodhisattva, setelah mendengar Dharma ini, mencapai Cahaya Dari lautan Dharma Yang Dikumpulkan Di Masa Lampau Oleh Sarvagunasumeruparamamegha Buddha. Yaitu : Dia mencapai Cahaya Pengetahuan Samadhi Pada Kesamaan Dari Semua Gejala Kejadian; Cahaya Pengetahuan Semua Dharma Yang Memasuki Dan Tinggal Berdiam Di dalam Pikiran Dari Tekad Awal Untuk Bodhi; Cahaya Pengetahuan Mata Murni Dari Gudang Cahaya Yang Ada Dimana-mana Yang Meliputi Seluruh Dharmadhatu Di Sepuluh Penjuru; Cahaya Pengetahuan Yang Merenungkan Lautan Dari Maha Pranidhana Dari Semua Buddha; Cahaya Pengetahuan Karma Yang Murni Dari Memasuki Lautan Kebajikan Yang Tanpa Batas; Cahaya Pengetahuan Gudang Kekuatan Besar Dan Kecepatan Menuju Ke Avaivartika-bhumi; Cahaya Pengetahuan Roda Pembebasan Dengan Kekuatan Untuk Muncul Dalam Semua Bentuk-rupa Dimana-mana Dalam Dharmadhatu; Cahaya Pengetahuan Yang Pasti Masuk Kedalam Lautan Dari Pemenuhan Semua Kualitas Kebajikan; Cahaya Pengetahuan Lautan Penyempurnaan Dari Hiasan Pemahaman Yang Pasti Dari Semua Buddha; Cahaya Pengetahuan Lautan Kekuatan Batin Dimana Para Buddha Yang Banyak-Nya Tidak Terbatas Dari Dharmadhatu Muncul Dihapadan Semua Makhluk Hidup; Cahaya Pengetahuan Keadaan Dari Kekuatan Dan Keberanian Dari Semua Buddha."

Kemudian Mahabalaprabha Bodhisattva, setelah mencapai Cahaya Pengetahuan Yang Tidak Terbatas seperti itu, melalui kekuatan sang Buddha, mengucapkan syair-gatha ini :

Setelah mendengar Saddharma sang Buddha,
Dan mencapai Cahaya Pengetahuan;
Oleh karena itu Saya melihat sang Bhagavan,
Perbuatan-Nya di masa lampau.

Semua tempat kelahiran-Nya,
Nama-Nya yang berbeda dan bentuk-rupa-Nya,
Dan persembahan-Nya kepada semua Buddha:
Semua ini Saya lihat.

Di masa lampau Dia melayani,
Semua Bhagavan Buddha,
Mengolah praktek selama kalpa tanpa batas,
Memurnikan lautan dunia.

Menyerahkan tubuh-Nya
Tanpa batas dan tidak habis-habisnya,
Mengolah perbuatan tertinggi,
Dia memurnikan lautan ksetra.

Telinga, hidung, kepala, dan badan,
Dan juga tempat tinggal-Nya:
Semuanya Dia serahkan tidak terhitung jumlahnya,
Demi memurnikan semua dunia.

Mampu di semua ksetra
Melalui kalpa yang tidak terbayangkan
Untuk mempraktekkan perbuatan Bodhi,
Dia memurnikan lautan ksetra.

Melalui kekuatan pranidhana dari Samantabhadra
Di dalam semua lautan para Buddha,
Dia mengolah praktek yang tanpa batas
Memurnikan lautan dunia.

Sama seperti melalui cahaya matahari
Orang bisa melihat lingkaran surya,
Melalui Cahaya Pengetahuan Buddha Saya melihat
Jalan yang di tempuh oleh sang Buddha.

Saya melihat Cahaya Murni Besar
Dari lautan Buddhaksetra
Dengan tenang menyadari Bodhi
Meliputi seluruh Dharmadhatu.

Saya akan seperti sang Bhagavan,
Memurnikan lautan ksetra,
Dan melalui kekuatan batin sang Buddha
Mempraktekkan perbuatan Bodhi.

"Pada waktu itu Kulaputra, karena Mahabalaprabha Bodhisattva telah melihat Sarvagunasumeruparamamegha Buddha, telah melayani-Nya dan memberikan persembahan kepada-Nya, maka mencapai pencerahan disana, dan, demi kepentingan semua makhluk hidup, memperlihatkan lautan praktek dari sang Tathagata di masa lampau, memperlihatkan upaya-kausalya yang Dia lakukan di masa lampau saat sebagai Bodhisattva, memperlihatkan lautan kebajikan dari semua Buddha, memperlihatkan kekuatan pembebasan dari mencapai Buddhatva di semua Bodhimanda, memperlihatkan pengetahuan murni yang memasuki semua gejala kejadian, memperlihatkan pengetahuan yang tidak membeda-bedakan dari kekuatan dan keberanian dari para Buddha, memperlihatkan perwujudan yang ada dimana-mana dari sang Tathagata, memperlihatkan perubahan wujud ajaib yang tidak terbayangkan dari sang Buddha, memperlihatkan hiasan dari Buddhaksetra yang tidak terhitung banyaknya, memperlihatkan semua praktek pranidhana dari Samantabhadra Bodhisattva, menyebabkan para makhluk hidup yang banyaknya seperti butiran debu di gunung sumeru membangkitkan Bodhicitta, menyebabkan para makhluk hidup yang banyaknya seperti butiran debu di Buddhaksetra menyempurnakan ksetra yang murni dari para Tathagata."

"Kemudian Sarvagunasumeruparamamegha Buddha mengucapkan syair-gatha ini kepada Mahabalaprabha Bodhisattva :

Sangat unggul, Mahabalaprabha!
Tambang kebajikan, Maha Terkenal!
Demi menolong semua makhluk
Anda berangkat ke jalan Bodhi.

Anda telah mencapai cahaya pengetahuan
Memenuhi dharmadhatu;
Kebajikan dan kebijaksanaan Anda besar,
Anda akan mencapai lautan pengetahuan yang dalam.

Mengolah praktek di satu ksetra
Selama kalpa yang banyaknya seperti butiran debu:
Karena Anda telah melihat Saya begitu,
Jadi Anda akan mencapai pengetahuan seperti itu.

Bukan mereka yang dengan tindakan dasar,
Yang bisa mengetahui Upaya-kausalya ini:
Hanya melalui usaha yang tekun
Orang bisa memurnikan lautan ksetra.

Di dalam setiap butiran debu,
Mengolah selama kalpa yang tidak terhitung,
Hanya Orang seperti ini yang mampu
Menghiasi Buddhaksetra.

Menghabiskan kalpa dalam roda perpindahan
Demi kepentingan semua makhluk
Tanpa pikiran lelah,
Maka Orang akan menjadi Pembimbing dunia.

Memberikan persembahan kepada semua Buddha
Hingga batas dari waktu,
Tidak pernah lelah oleh itu,
Orang akan mencapai Jalan Tertinggi.

Semua Buddha dari tiga masa waktu
Akan bersama mengabulkan harapan Anda;
Diri Anda akan menghadiri
Perkumpulan dari semua Buddha.

Yang tanpa batas adalah pranidhana
Dari semua Tathagata;
Mereka yang memiliki pengetahuan besar
Mampu mengetahui maknanya.

Anda, Mahabalaprabha telah memberikan persembahan kepada Saya
Oleh karena itu, mencapai kekuatan besar,
Menyebabkan para makhluk yang sebanyak butiran debu
Menjadi matang dan mengarah ke Bodhi.

Para Bodhisattva Mahasattva
Yang mengolah praktek Samantabhadra
Menghiasi lautan Buddhaksetra
Di seluruh dharmadhatu.

"Di dalam kalpa hiasan yang besar, Kulaputra, ada banyak kalpa kecil yang jumlahnya seperti butiran debu di sungai gangga; rentang usia manusianya selama dua kalpa kecil. Kulaputra, Sarvagunasumeruparamamegha Buddha hidup selama lima puluh koti tahun; Setelah Parinirvana-Nya, ada muncul di dunia Buddha lainnya, yang bernama Suprajnanetravyuharaja, yang juga mencapai Samyaksambodhi di dalam hutan besar Lingkaran Cabang Bunga Permata Mani."

"Pada saat itu, sang kumara Mahabalaprabha melihat sang Tathagata itu mencapai Anuttara Samyaksambodhi Abhisambuddha dan mewujudkan kekuatan kesadaran batin, oleh karena itu, mencapai Dhyana dari mengingat Buddha (Buddhanusmrti) yang bernama Pintu Gerbang Dari Lautan Harta Yang Tanpa Batas, mencapai Samadhi dari Dharani yang bernama Kedalaman Kebenaran Dari Kekuatan Pengetahuan Yang Besar, mencapai Cinta Kasih Besar (Maha Maitri) yang bernama Dengan Kebijaksanaan Menenangkan Dan Membebaskan Semua Makhluk Hidup, mencapai Belas Kasihan Yang Besar (Maha Karuna) yang bernama Awan Yang Menyelimuti Semua Alam, mencapai Kegembiraan Yang Besar (Maha Sukha) yang bernama Gudang Kekuatan Dari Lautan Kebajikan Semua Buddha, mencapai Keseimbangan Yang Besar (Maha Samata) yang bernama Kesamaan Dan Kemurnian Seperti Angkasa Dari Intisari Yang Sesungguhnya Dari Segala Sesuatu, mencapai Kebijaksanaan Yang Melampaui (Prajna-paramita) yang bernama Tubuh Yang Murni Dari Dharmadhatu Yang Sifat Alaminya Terbebas Dari Kotoran, mencapai Kekuatan Pengetahuan Langsung (Abhijna) yang bernama Cahaya Tidak Terhalang Yang Muncul Dimana-mana, mencapai Kefasihan (Pratibhana) yang bernama Memasuki Kedalaman Yang Murni, dan mencapai Cahaya Pengetahuan (Jnanaprabha) yang bernama Gudang Yang Murni Dari Semua Buddhadharma. Dia memahami ribuan Pintu Gerbang Dharma yang seperti ini.

Kemudian sang kumara Mahabalaprabha, melalui kekuatan sang Buddha, demi keuntungan rombongannya mengucapkan syair-gatha ini :

Bahkan dalam banyak koti kalpa yang tidak terbayangkan
Seorang Buddha Pembimbing Dunia sulit ditemukan;
Para makhluk hidup di ksetra ini sangat beruntung
Karena sekarang mereka melihat Buddha yang kedua.

Tubuh sang Buddha memancarkan cahaya yang besar
Dengan bentuk rupa yang tanpa batas dan sepenuhnya murni,
Memenuhi semua ksetra sama seperti awan,
Dimana-mana memuji kebajikan Buddha.

Semua yang disinari oleh cahaya itu bergembira,
Para makhluk yang menderita semuanya terbebaskan,
Semua dibuat memberi hormat dan menjadi baik hati:
Inilah pekerjaan dari kekuatan sang Buddha.

Menghasilkan awan perubahan wujud yang tidak terbayangkan,
Memancarkan jaring cahaya yang berwarna tanpa batas
Memenuhi semua ksetra di sepuluh penjuru:
Inilah perwujudan dari kekuatan batin sang Buddha.

Dari setiap pori-pori-Nya memancarkan awan cahaya
Memenuhi seluruh ruang angkasa, memancarkan suara yang besar :
Semua tempat gelap diterangi,
Menyebabkan penderitaan di neraka menjadi lenyap.

Suara Buddha yang menakjubkan meliputi dimana-mana,
Sepenuhnya menghasilkan semua suara bahasa,
Sesuai dengan kekuatan kebajikan para makhluk:
Inilah pekerjaan dari kekuatan ajaib sang Guru.

Tidak terukur, tanpa batas lautan dari perkumpulan majelis:
Sang Buddha muncul diantara mereka semua,
Menjelaskan Dharma yang tidak habis-habisnya kepada mereka semua,
Dengan sesuai menenangkan semua makhluk hidup.

Kekuatan ajaib sang Buddha tanpa akhir,
Muncul di dalam setiap ksetra;
Inilah pengetahuan Tathagata yang tidak terhalang,
Dia mencapai Samyaksambodhi untuk menguntungkan semua makhluk.

Kalian semua harus bergembira;
Menari, bersukaria, dan memberi hormat.
Saya akan pergi bersama kalian ke sana:
Jika orang melihat sang Buddha, semua penderitaan akan berhenti.

Bangkitkan pikiran mencari 'Penerangan (Bodhi)',
Berbaikhatilah mempedulikan semua makhluk hidup,
Dengan tinggal berdiam di Maha Pranidhana dari Samantabhadra,
Anda akan mencapai pembebasan seperti sang Dharmaraja.

"Kulaputra, ketika sang kumara Mahabalaprabha mengucapkan syair-gatha ini, melalui kekuatan sang Buddha, suaranya tidak terhalang dan bisa terdengar di semua dunia; Para makhluk hidup yang tidak terhitung banyaknya membangkitkan tekad untuk Bodhi. Kemudian sang kumara Mahabalaprabha bersama dengan orang tuanya dan rombongannya, dikelilingi oleh yang tidak terhitung ratusan ribu koti nayuta makhluk hidup, dengan kanopi permata yang seperti awan memenuhi langit, berangkat bersama-sama menuju ke tempat Suprajnanetravyuharaja Buddha berada. Kemudian, sang Buddha itu membabarkan kepada mereka Sutra Hiasan Yang Murni Dari Sifat Alami Zat Dari Dharmadhatu, bersama dengan Sutra tambahan yang banyaknya seperti butiran debu di dalam lautan dunia."
 
"Setelah mendengar Sutra ini, perkumpulan majelis yang besar itu mencapai pengetahuan yang murni yang bernama Jalan Masuk Kedalam Semua Teknik Dari Bodhi, mencapai bhumi yang bernama Cahaya Yang Tanpa Noda, mencapai roda dari paramita yang bernama Memperlihatkan Hiasan Yang Menyenangkan Dalam Semua Dunia, mencapai roda dari perbuatan yang meluas yang bernama Penglihatan Murni Dengan Cahaya Tanpa Batas Yang Memasuki Semua Buddhaksetra, mencapai roda dari kegiatan yang bertujuan yang bernama Bendera Cahaya Dari Awan Kebajikan Yang Murni, mencapai roda dari pencapaian tetap yang bernama Cahaya Luas Dari Lautan Dari Semua Kebenaran, mencapai praktek kemajuan yang sungguh mendalam yang bernama Hiasan Dari Pengetahuan Yang Besar, mencapai Lautan Pengetahuan Dari Pentahbisan Yang Tinggi yang bernama Penglihatan Tanpa Usaha Yang Sangat Murni, mencapai Cahaya Besar Yang Jelas yang bernama Cahaya Yang Bersinar Dimana-mana Yang Dicirikan Oleh Lautan Kebajikan Buddha, dan mencapai pengetahuan murni yang menghasilkan kekuatan pranidhana yang bernama Gudang Keyakinan Dan Tekad dari kekuatan pranidhana yang tidak terukur."

Kemudian sang Buddha itu, demi kepentingan Mahabalaprabha Bodhisattva, mengucapkan syair-gatha ini :

Sangat unggul, lautan kebajikan dan kebijaksanaan,
Tekad Anda untuk Maha Bodhi;
Anda akan mencapai Buddhatva yang tidak terbayangkan
Dan menjadi kepercayaan dari semua makhluk hidup.

Anda telah menghasilkan lautan pengetahuan yang luas
Mampu sepenuhnya memahami segala sesuatu;
Dengan Upaya-kausalya yang tidak terbayangkan
Memasuki alam Buddhatva yang tanpa batas.

Setelah melihat awan kebajikan para Buddha
Dan memasuki bhumi dari kebijaksanaan yang tanpa batas,
Lautan dari semua Upaya Paramita
Anda yang Maha Terkenal, akan menyempurnakannya.

Setelah mencapai pintu gerbang Dharani
Dan pintu gerbang Pratibhana yang tidak habis-habisnya,
Mengolah berbagai macam praktek Pranidhana
Anda akan menyadari pengetahuan yang tiada tanding.

Setelah menghasilkan lautan Pranidhana
Dan memasuki lautan Samadhi,
Anda akan menyempurnakan kekuatan batin yang besar
Dan semua kualitas Buddha yang tidak terbayangkan.

Meliputi dharmadhatu yang tidak terbayangkan;
Pikiran Anda yang luas dan mendalam telah murni;
Anda melihat lautan ksetra, menghiasinya dengan murni,
Yang dari semua Buddha di sepuluh penjuru.

Anda telah memasuki praktek Bodhi Saya,
Lautan upaya-kausalya yang saya lakukan di masa lampau,
Mengolah semua sila yang murni,
Perbuatan yang unggul ini Anda telah capai.

Saya memberikan berbagai persembahan kepada lautan para Buddha
Di dalam semua ksetra yang tidak terhitung;
Seperti buah yang dicapai oleh praktek itu
Hiasan seperti itu semuanya Anda lihat.

Melampaui lautan kalpa besar yang tidak habis-habisnya
Mengolah praktek yang murni dalam semua ksetra
Dengan Pranidhana yang kuat, yang tidak terbayangkan,
Anda akan mencapai kekuatan batin dari para Buddha ini.

Memberikan persembahan kepada semua Buddha,
Menghiasi ksetra, memurnikan semua,
Mengolah praktek rddhi dalam semua kalpa,
Anda akan menyempurnakan kebajikan besar para Buddha.

"Kulaputra, setelah Suprajnanetravyuharaja Tathagata memasuki Nirvana, sang raja Sukhadarsaparahitabuddhi juga sesudah itu meninggal, dan putranya Mahabalaprabha mewarisi posisi Cakravartin. Dan kemudian, di dalam hutan besar Lingkaran Cabang Bunga Permata Mani itu, Tathagata yang ketiga muncul di dunia, dengan nama Paramagunasagara. Pada waktu itu, ketika Mahabalaprabha Cakravartin melihat tanda-tanda dari sang Tathagata itu mencapai Samyaksambodhi, Dia berangkat bersama dengan keluarganya dan rombongannya, tentaranya, dan para penduduk dari kota besar, kota kecil, dan desa, semuanya membawa tujuh jenis permata dan logam mulia untuk sang Buddha itu dan mempersembahkan paviliun besar yang terhiasi dengan semua jenis permata mani yang wangi. Kemudian sang Tathagata, di dalam tengah hutan itu, menjelaskan Sutra Cahaya Kegiatan Dari Bodhisattva Samantanetra, bersama dengan Sutra tambahan yang banyaknya seperti butiran debu di dalam dunia. Kemudian sang Bodhisattva Mahabalaprabha, setelah mendengar Dharma ini, mencapai Samadhi yang bernama Cahaya Semesta Dari Kebajikan Besar. Dan karena telah mencapai Samadhi itu, Dia mampu mengetahui masa lampau - sekarang - masa depan dari nasib baik dan buruk dari semua Bodhisattva dan semua makhluk hidup."

Kemudian sang Buddha itu, demi kepentingan Mahabalaprabha Bodhisattva, mengucapkan syair-gatha ini :

Unggul! Mahabalaprabha yang berkebajikan,
Anda semua telah datang kepada Saya;
Dengan belas kasihan kepada semua makhluk hidup
Anda telah membangkitkan tekad tertinggi untuk Bodhi.

Demi kepentingan semua makhluk yang menderita,
Anda melakukan belas kasih besar untuk membebaskan mereka.
Anda akan menjadi andalan bagi semua yang tersesat;
Inilah yang dinamakan upaya-kausalya dari perbuatan Bodhisattva.

Jika Bodhisattva bisa dengan kekuatan yang kukuh,
Melaksanakan praktek tertinggi tanpa mengendur,
Kebebasan tertinggi, paling menang, dan tanpa terhalang
Dan pengetahuan yang halus, akan mereka capai.

Cahaya kebajikan, bendera kebajikan,
Tempat tinggal dari kebajikan, lautan kebajikan.
Semua Pranidhana dari Samantabhadra Bodhisattva
Anda, Mahabalaprabha, dapat memasukinya.

Dengan Pranidhana yang besar ini, Anda bisa memasuki
Lautan para Buddha yang tidak terbayangkan.
Lautan kebajikan para Buddha tidak memiliki batas:
Anda bisa melihatnya semua melalui pembebasan yang menakjubkan.

Di dalam ksetra di sepuluh penjuru,
Anda melihat para Buddha yang tanpa batas dan tidak terhitung;
Lautan praktek masa lampau yang luas dari para Buddha itu
Anda bisa lihat seluruhnya sebagaimana apa adanya.

Orang yang tinggal di dalam lautan Upaya ini
Memasuki bhumi dari pengetahuan;
Dengan mengikuti semua Buddha dalam belajar,
Pasti akan mengarah ke Sarvajnajnana.

Anda telah di tengah-tengah lautan semua dunia,
Dan melewati lautan kalpa yang sebanyak butiran debu,
Mempelajari lautan praktek dari semua Tathagata.
Anda pasti akan mencapai Buddhatva.

Seperti yang Anda lihat di sepuluh penjuru
Semua lautan ksetra sangatlah murni;
Ksetra Anda juga akan murni seperti itu:
Yang dicapai oleh Orang yang dengan Pranidhana tanpa batas.

Lautan majelis besar di Bodhimanda ini,
Setelah mendengar Pranidhana Anda, semuanya bergembira.
Semua memasuki Mahayana dari Samantabhadra,
Dan membangkitkan tekad menuju Bodhi.

Dalam setiap ksetra yang tanpa batas,
melalui lautan kalpa, memasuki semua praktek.
Sekarang, dengan kekuatan Pranidhana Anda,
Menyempurnakan praktek Samantabhadra Bodhisattva.

“Kulaputra, di dalam hutan besar Lingkaran Cabang Bunga Permata Mani itu, masih ada Buddha lainnya yang muncul di dunia. Namanya adalah Samantayasaspadmanetradhvaja. Pada waktu itu adalah masa ketika Mahabalaprabha meninggal dunia dan dilahirkan kembali di dalam kota surga yang bernama Istana Permata Yang Hening-Tenang, yang ada di atas puncak gunung Sumeru, dimana Dia menjadi Raja Dewa yang bernama Vimalagunadhvaja. Dan bersama dengan rombongan para dewa, Dia tiba di tempat sang Buddha itu, di mana mereka menurunkan hujan awan bunga permata sebagai persembahan.”

“Kemudian sang Tathagata itu membabarkan kepada mereka Sutra Upaya-Kausalya Yang Luas Dari Pembebasan Pintu Semesta Yang Menyinari Semua, bersama dengan Sutra tambahan yang banyaknya seperti butiran debu di dalam lautan dunia. Ketika Devendra itu dan para dewa mendengar Sutra itu, mereka mencapai samadhi yang bernama Gudang Pintu Semesta Dari Kebahagiaan, dan melalui kekuatan dari samadhi itu, mereka dapat memasuki lautan dari ciri-ciri yang sesungguhnya dari semua gejala kejadian. Setelah mendapatkan manfaat seperti itu, mereka berangkat dari tempat itu dan kembali ke tempat asal mereka.”
20
Arya Mahayana / Re: Mahā Vaipulya Buddhāvatamsaka Nāma Mahāyāna Sūtra
« Last post by ajita on May 17, 2018, 12:18:56 am »
"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Hiasan Gunung Sumeru; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvagunameghaparirajati."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Bentuk Pohon Yang Tidak Terhitung Banyaknya; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Ratnapuspavimalacandrajnana."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Tiada Takut; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Paramasuvarnaprabholka."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Bendera Raja Naga Yang Maha Terkenal; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvadharmasamadarsana."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Menampilkan Warna Permata Mani; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Vikurvanakaraditya."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Susunan Dari Lampu Cahaya Api; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Ratnavitanaprabhaparirajati."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Awan Bercahaya Wangi; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Dhyanaprajna."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Tiada Permusuhan; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Paramaviryamatisagara."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Bendera Cahaya Dari Semua Hiasan; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvanandapadmakaradhipati."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Hiasan Rambut Melingkar, berbentuk bulan sabit, bertumpu diatas lautan dari bunga permata mani dari gunung sumeru, di selimuti oleh awan dari vajra yang bercahaya dari semua jenis hiasan, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam dua puluh Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Vimalanetra."

"Menghadap ke kanan dari Lautan Air Wangi Kumpulan Banyak Vajra ini, ada lautan air wangi yang bernama Dinding Permata Dari Kota Surga, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Api Lampu, tersusun dari suara dari Dharma yang yang tidak memihak. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Lingkaran Bunga Permata Yang Bercahaya Bulan, berbentuk seperti semua jenis perhiasan, bertumpu diatas lautan dari bunga yang diperindah dengan semua jenis permata, diselimuti oleh awan dari simhasana yang berwarna vaidurya, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam Buddhaksetra. Ada di dunia ini, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Candrasuryamuktaprabha."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Cahaya Permata Gunung Sumeru; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Dharmaksayaratnaketu."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Bendera Sinar Cahaya Indah Yang Tidak Terhitung; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Mahaganapuspa."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Bunga Cahaya Permata Mani; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Uttamanayattapurusa."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Suara Semesta; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvajnaparirajati."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Pohon Besar Bersuara Kinnara; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Anantagunanayattanaga."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Cahaya Murni Yang Tanpa Batas; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Gunaratnapuspaprabha."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Suara Tertinggi; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvajnanavyuha."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Terhiasi Dengan Banyak Permata; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sumeruratnajvala."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Suara Tinggi Murni Yang Menakjubkan; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvacaryaprabhasamdarsana."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Kanopi Yang Wangi; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvaparamitavaritasagara."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Jaring Bunga Singa; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Ratnajvalaketu."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Lampu Dari Bunga Vajra Yang Indah; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvamahapranidhanaprabha."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Tingkat Penyinaran Dari Segala Sesuatu; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvadharmaparomatrasatyartha."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Hiasan Butiran Debu Mutiara Yang Rata; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Paramaprajnaprabhajala."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Bunga Vaidurya; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Ratnoccayaketu."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Bola Dunia Dari Cahaya Halus Yang Tidak Terukur; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Mahodbalajnanasamudrakosa."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Dengan Jelas Melihat Sepuluh Penjuru; Ada di sana Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvagunavimalabhavanadhvaja."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam Buddhaksetra, ada dunia yang bernama Suara Murni Yang Menyenangkan, berbentuk seperti tangan Buddha, bertumpu diatas lautan dari jaring cahaya permata, di selimuti oleh awan dari semua hiasan dari tubuh Bodhisattva, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam dua puluh Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Samantadharmadhatovaritaprabhasana."

Kemudian Samantabhadra Bodhisattva berkata kepada Maha Samaya : "Di sebelah timur dari Lautan Air Wangi Gudang Sinar Yang Tanpa Noda ini, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Tubuh Halus Yang Muncul Secara Guhya. Di lautan ini, ada Lokadhatu yang bertumpu padanya, bernama Penjuru Berbeda Yang Tersusun Dengan Baik. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bendera Mata Vajra, dengan Lokadhatu yang bernama Jembatan Yang Menghiasi Alam Semesta. Disampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Susunan Hiasan Indah Dari Bunga Teratai Yang Beranekaragam, dengan Lokadhatu yang bernama Terus-menerus Menghasilkan Perwujudan Di Sepuluh Penjuru. Disampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Roda Vajra Yang Tanpa Celah, dengan Lokadhatu yang bernama Awan Yang Tebal Dari Batang Bunga Teratai Permata. Disampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Api Dari Wewangian Yang Menakjubkan Yang Menghiasi Semua, dengan Lokadhatu yang bernama Perbuatan Perubahan Wujud Dan Pancaran Dari Vairocana. Disampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bendera Emas Dari Butiran Debu Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Alam Yang Dilindungi Buddha. Disampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Kilauan Cahaya Dengan Semua Warna, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Tertinggi Yang Menyinari Semua. Disampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Alam Dari Semua Perhiasan, dengan Lokadhatu yang bernama Lampu Api Permata. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada (gunung yang melingkari) bernama Permukaan Mani, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Yang Selalu Bersinar, tersusun dari suara dari kalpa yang murni dari lautan dunia. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Bendera Dari Cahaya Murni Yang Menyenangkan, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Paramasamadhiviryaprajna."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, di ketinggian yang sama dengan dunia Bendera Vajra, dunia yang berada di tingkat kesepuluh dari Lokadhatu dari lautan air wangi di tengah pusat, adalah dunia yang bernama Bendera Dari Susunan Wewangian, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Dharmadhatovaritadipa."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam tiga Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Gudang Sinar Cahaya, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Dharmadhatuvyapinprajnavaritaprabha."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam tujuh Buddhaksetra, diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Tubuh Wewangian Tertinggi, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam duapuluh Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Bodhyangapuspa."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama dunia dari Cahaya Yang Tidak Habis-habisnya, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Penuh Dengan Cahaya Yang Halus, dengan Lokadhatu yang bernama Semuanya Murni. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Kanopi Cahaya, dengan Lokadhatu yang bernama Hiasan Yang Tanpa Batas. Disampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Susunan Dari Permata Yang Sangat Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Bentuk Parametrik Dari Permata Mani Yang Wangi. Lalu, ada lautan air wangi yang bernama Menghasilkan Suara Ucapan Buddha, dengan Lokadhatu yang bernama Susunan Hiasan Yang Bagus. Lalu, ada lautan air wangi yang bernama Gudang Bendera Wewangian Gunung Sumeru, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Yang Mengisi Semua Tempat. Lalu, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Candana Yang Halus, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Lingkaran Bunga. Lalu, ada lautan air wangi yang bernama Kekuatan Antariksa Yang Menopang, dengan Lokadhatu yang bernama Bendera Awan Api Yang Wangi. Lalu, ada lautan air wangi yang bernama Hiasan Dari Tubuh Devendra, dengan Lokadhatu yang bernama Gudang Mutiara. Lalu, ada lautan air wangi yang bernama Datar Dan Murni, dengan Lokadhatu yang bernama Hiasan Butiran Debu Vaidurya Yang Beranekaragam. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Bunga Pohon Yang Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Menghasilkan Ksetra Yang Luas, tersusun dari Suara dari semua Buddha Yang Mengalahkan Mara. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Bendera Obor Api. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Lokagunasagara."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Menghasilkan Permata. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Anuttarabalaratnamegha."

"Diatasnya, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Bendera Kerajaan, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvajnasagararaja."

"Diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Cahaya Kalung Permata Singa, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Kausalavikurvananirmanapadmaketu."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Cahaya Api Vajra, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Bendera Terang Yang Terhiasi Dengan Semua Hiasan, dengan Lokadhatu yang bernama Terhiasi Dengan Karma Yang Murni. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Lautan Sinar Bunga Dari Semua Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Terhiasi Dengan Ciri-Ciri Kebajikan. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bunga Teratai Mekar, dengan Lokadhatu yang bernama Mahkota Permata Bodhisattva.  Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Kain Permata Yang Sangat Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Bola Mutiara Yang Murni. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bunga Indah Yang Menyinari Semua, dengan Lokadhatu yang bernama Sinar Awan Dari Ratusan Cahaya. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Besar Yang Meliputi Ruang Angkasa, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Permata Yang Menyinari Semua. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bendera Yang Terhiasi Dengan Bunga Yang Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Kalung Mata Bulan Emas. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Gudang Lautan Mutiara Yang Wangi, dengan Lokadhatu yang bernama Lingkaran Cahaya Buddha. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Roda Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Yang Dengan Mudah Menampilkan Alam Buddhatva. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Roda Tanpa Batas Yang Menghiasi Permukaan, dengan Lokadhatu yang bernama Wilayah Unik Yang Tidak Terhitung Banyaknya, tersusun dari Suara dari bahasa dari semua negara. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Kanopi Bunga Vajra. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Samantaksayalaksanaprabhasvara."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Bendera Yang Menghasilkan Kain Permata. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Mahagunameghabala."

"Diatasnya, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Susunan Yang Indah Dari Penerapan Permata Yang Sangat Banyak, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Paramaprajnasagara."

"Diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Bendera Kain Cahaya Matahari, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Jnanadityapadmamegha."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Susunan Hiasan Vaidurya, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Istana Asura, dengan Lokadhatu yang bernama Ditopang Oleh Cahaya Yang Wangi. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Susunan Singa Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Memperlihatkan Semua Permata Di Semua Wilayah. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Awan Berwarna Yang Seperti Istana, dengan Lokadhatu yang bernama Susunan Indah Dari Bola Dunia Permata. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Menghasilkan Bunga Teratai Yang Besar, dengan Lokadhatu yang bernama Perhiasan Indah Yang Menerangi Alam Semesta. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Mata Lampu Api Yang Menakjubkan, dengan Lokadhatu yang bernama Mengawasi Semua Perubahan Wujud Di Sepuluh Penjuru. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bola Dunia Dari Hiasan Yang Tidak Terbayangkan, dengan Lokadhatu yang bernama Kemasyhuran Semesta Dari Cahaya Sepuluh Penjuru. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Hiasan Tumpukan Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Sinar Cahaya Lampu. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Permata Murni, dengan Lokadhatu yang bernama Angin Yang Tidak Terhalang. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Birai Yang Terhiasi Dengan Kain Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Dari Tubuh Buddha. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Bendera Yang Terhiasi Dengan Pohon, dengan Lokadhatu yang bernama Tinggal Dengan Damai Di Jaring Kerajaan, tersusun dari Suara dari tingkat pengetahuan dari semua Bodhisattva. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Suvarna. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Paramagandhajvalatejas"

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Bunga Pohon Permata Mani. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Samantapratihatasamdarsana."

"Diatasnya, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Hiasan Vaidurya Yang Indah, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvadharmavisaradacalamati."

"Diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Susunan Suara Murni Yang Agung, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Padmaprabharaja."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Dasar Yang Terhiasi Dengan Bola Vajra, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Alam Yang Menghasilkan Bunga Teratai Secara Ajaib, dengan Lokadhatu yang bernama Kesamaan Dan Keadilan Di Ksetra. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Permata Mani, dengan Lokadhatu yang bernama Tiada Kebingungan Diseluruh Alam Semesta. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Matahari Mani Dengan Banyak Wewangian Yang Menakjubkan, dengan Lokadhatu yang bernama Muncul Di Semua Penjuru. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Selalu Memuat Sungai Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Suara Ucapan Buddha Yang Mencapai Semua Tempat. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Suara Menakjubkan Yang Mendalam Dan Tanpa Batas, dengan Lokadhatu yang bernama Tempat Yang Perbedaannya Tanpa Batas. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Kumpulan Yang Padat, dengan Lokadhatu yang bernama Perbedaan Di dalam Lokasi Yang Tidak Terhitung. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Suara Murni, dengan Lokadhatu yang bernama Hiasan Murni Dimana-mana. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Gudang Suara Dengan Birai Candana, dengan Lokadhatu yang bernama Bendera Yang Mengerikan. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Hiasan Cahaya Vajra Dari Wewangian Yang Menakjubkan, dengan Lokadhatu yang bernama Kekuatan Cahaya Yang Muncul Dimana-mana."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Jaring Indra Dari Bunga Teratai, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Hiasan Indah Dari Bunga Teratai Perak, dengan Lokadhatu yang bernama Karma Semesta. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Awan Dari Sinar Yang Kuat Dari Bambu Vaidurya, dengan Lokadhatu yang bernama Dimana-mana Menghasilkan Suara Dari Semua Penjuru. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Kumpulan Cahaya Api Dari Sepuluh Penjuru, dengan Lokadhatu yang bernama Selalu Menghasilkan Tampilan Perubahan Wujud Yang Tersebar Diseluruh Sepuluh Penjuru. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bendera Mani Penghasil Emas, dengan Lokadhatu yang bernama Bendera Vajra. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Hiasan Yang Sama Dan Besar, dengan Lokadhatu yang bernama Lingkaran Keberanian. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Tanpa Batas Dari Hutan Bunga Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Murni Yang Tanpa Batas. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bendera Emas, dengan Lokadhatu yang bernama Menjelaskan Rahasia. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Sinar Cahaya Yang Menyinari Semua, dengan Lokadhatu yang bernama Seluruhnya Terhiasi. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Suara Yang Hening-Tenang, dengan Lokadhatu yang bernama Tampil Menggantung. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Bendera Awan Api Yang Sangat Kuat, dengan Lokadhatu-nya bernama Susunan Dari Semua Cahaya, tersusun dari Suara dari para makhluk yang berkumpul di Bodhimanda dari semua Buddha. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Hiasan Mata Yang Murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Dasadiksanurajavajracandra"

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Kualitas Bunga Teratai. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Mahaviryasubhajnanacitta."

"Diatasnya, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Susunan Vajra Yang Padat, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Shalaketuraja."

"Diatas puncak Lokadhatu ini, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam tujuh Buddhaksetra, adalah dunia yang bernama Hiasan Lautan Yang Murni, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Apratimanagunaparajita."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Himpunan Dupa Permata, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Cahaya Dari Semua Permata Yang Menyinari Dimana-mana, dengan Lokadhatu yang bernama Hiasan Dari Nama Baik Yang Murni. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bunga Dari Banyak Permata Bermekaran, dengan Lokadhatu yang bernama Bentuk Ruang Angkasa. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Kemah Kemenangan Yang Bersinar Dimana-mana, dengan Lokadhatu yang bernama Dimana-mana Terhiasi Dengan Cahaya Yang Tanpa Rintangan. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bunga Pohon Candana, dengan Lokadhatu yang bernama Pusaran Berputar Yang Muncul Dimana-mana. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Menghasilkan Permata Yang Berwarna Sangat Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Bendera Tertinggi Yang Menjelajah Dimana-mana. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Dimana-mana Menghasilkan Bunga Vajra, dengan Lokadhatu yang bernama Menampilkan Hiasan Yang Tidak Terbayangkan. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Hiasan Roda Mani Cintaraja, dengan Lokadhatu yang bernama Mewujudakan Cahaya Buddha Yang Tidak Terhalang. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Kalung Permata Yang Sangat Banyak, dengan Lokadhatu yang bernama Melenyapkan Keraguan. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Terhiasi Dengan Lingkaran Mutiara, dengan Lokadhatu yang bernama Mengalir Dari Pranidhana Buddha. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Lingkaran Tambang Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Bendera Suara Semesta, tersusun dari Suara yang mengumumkan Jalan Masuk ke Sarvajnajnana. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Api Putik Bunga. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Viryodarata."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Bendera Cahaya Bunga Teratai. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sarvagunaparamacintaraja."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam tiga Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Sepuluh Penjuru Yang Terhiasi, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Aparimitagunakausaladarsana."

"Diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Bendera Gunung Wewangian Mani, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Samsayaksepamahopakarinetra."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Susunan Permata, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Gudang Cahaya Yang Menopang Gunung Sumeru, dengan Lokadhatu yang bernama Menghasilkan Awan Yang Sangat Besar. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Alam Yang Terhiasi Dengan Berbagai Cara Dari Kekuatan Besar, dengan Lokadhatu yang bernama Hiasan Dari Kemurnian Yang Tidak Terhalang. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Menyebarkan Bunga Teratai Permata Dalam Jumlah Besar, dengan Lokadhatu yang bernama Susunan Lampu Tertinggi. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bertumpu Pada Hiasan Dari Semua Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Gudang Jaring Cahaya Matahari. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bermacam Kebahagiaan, dengan Lokadhatu yang bernama Tempat Istirahat Dari Bunga Permata. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Penggunaan Kecerdasan Yang Sangat Cemerlang, dengan Lokadhatu yang bernama Susunan Dari Bentuk Terunggul. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Puncak Gunung Yang Memiliki Batu Permata Yang Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Gudang Ruang Angkasa Yang Seluruhnya Murni. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Cahaya Besar Yang Menyinari Dimana-mana, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Obor Nilamani. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Dipenuhi Dengan Permata Yang Menyenangkan Dan Yang Bersinar Dimana-mana, dengan Lokadhatu yang bernama Auman Kesemua Tempat. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Menghasilkan Permata Nilamani, dengan Lokadhatu yang bernama Dimana-mana Tanpa Perbedaan, tersusun dari Gemuruh Suara Dari Semua Bodhisattva. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Gudang Yang Sangat Indah. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Paramagunacitta."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Penghiasan. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Mahatikrantaprabha."

"Diatasnya, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Terhiasi Dengan Bola Dunia Vaidurya, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Sumerudipa."

"Diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Lautan Bendera Bunga, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Anantavikriyotpadaprajnamegha."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Kumpulan Besar Vajra, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Dinding Permata Yang Terhiasi Dengan Teliti, dengan Lokadhatu yang bernama Bendera Permata Yang Luar Biasa. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Susunan Bendera Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Mewujudkan Semua Cahaya. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Awan Permata Yang Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Yang Menyinari Semua. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Terhiasi Dengan Bunga Pohon Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Terhiasi Dengan Bunga Yang Indah. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Susunan Kain Permata Yang Menakjubkan, dengan Lokadhatu yang bernama Lautan Cahaya. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Puncak Pohon Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Awan Api Permata. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Tampilan Cahaya, dengan Lokadhatu yang bernama Memasuki Vajra Tanpa Rintangan. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Hiasan Bunga Teratai Dimana-mana, dengan Lokadhatu yang bernama Lautan Dalam Dengan Pantai Yang Tanpa Batas. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Susunan Permata Yang Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Gudang Yang Menampilkan Semua Ksetra. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Lautan Yang Tidak Bisa Dihancurkan, dengan Lokadhatu yang bernama Bunga Teratai Yang Berhiaskan Roda Indah Yang Tersusun Dari Suara Yang Dihasilkan Oleh Kekuatan Semua Buddha, tersusun dari Gemuruh Suara Dari Semua Bodhisattva. Dibawah Lokadhatu ini, ada dunia yang bernama Wewangian Yang Paling Agung. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Aparimitarasmiprabhotpada."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Pintu Gerbang Dengan Hiasan Dari Banyak Keistimewaan Yang Tidak Terbayangkan. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Apramanajnana."

"Diatasnya, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Gudang Bunga Yang Indah Dengan Cahaya Sepuluh Penjuru, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Simhanetrajvalamegha."

"Diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Suara Lautan, Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Jaladivajvaladvara."

"Melewati Lautan Air Wangi yang bernama Dinding Permata Dari Kota Surga, ada lautan air wangi lainnya yang bernama Cahaya Cemerlang Dari Roda Api, dengan Lokadhatu yang bernama Semua Jenis Hiasan Yang Banyak Dan Tidak Terbayangkan. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Jalan Debu Permata, dengan Lokadhatu yang bernama Dimana-mana Memasuki Bentuk Spiral Yang Tidak Terbatas. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Mengandung Semua Perhiasan, dengan Lokadhatu yang bernama Cahaya Permata Yang Menyinari Dimana-mana. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Jaring Permata Yang Menjalar, dengan Lokadhatu yang bernama Susunan Hiasan Yang Dalam Dan Tebal. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Bendera Hiasan Permata Yang Indah, dengan Lokadhatu yang bernama Suara Dari Pemahaman Yang Jelas Tentang Lautan Dunia. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Pantulan Yang Murni Dari Istana Matahari, dengan Lokadhatu yang bernama Masuk Kedalam Seluruh Jaring Indra. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Suara Musik Dari Semua Genderang, dengan Lokadhatu yang bernama Bulat Dan Penuh - Rata Dan Lurus. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Hiasan Indah Yang Beranekaragam, dengan Lokadhatu yang bernama Awan Api Dari Cahaya Kuat Yang Murni. Di sampingnya, ada lautan air wangi yang bernama Lampu Dengan Api Permata Yang Meliputi Semua, dengan Lokadhatu yang bernama Berbagai Bentuk Yang Sesuai Dengan Mula-Pranidhana Dari Semua Buddha. Ada banyak lautan air wangi seperti itu yang jumlahnya seperti butiran debu di dalam banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan. Lautan air wangi yang paling dekat dengan Cakravada bernama Kain Dari Kumpulan Perhiasan, dengan Lokadhatu yang bernama Kain Indah Yang Dihasilkan Secara Ajaib, tersusun dari Suara Ucapan Dari Semua Buddha Masa Lampau - Sekarang - Masa Depan. Dibawah Lokadhatu ini, ada lautan air wangi yang bernama Gudang Bunga Indra, dengan dunia yang bernama Menghasilkan Kebahagiaan, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Avikarabodhijnana.

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Bendera Vajra, adalah dunia yang bernama Terhiasi Dengan Jaring Permata, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Amitasukhaprabha."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam tiga Buddhaksetra, sejajar dengan dunia Ketahanan, adalah dunia yang bernama Tahta Singa Bunga Teratai Permata, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam tiga belas Buddhaksetra. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Suvisuddhavyayazilavidya."

"Diatasnya, melampaui dunia-dunia yang sebanyak butiran debu di dalam tujuh Buddhaksetra, diatas puncak Lokadhatu ini, adalah dunia yang bernama Cahaya Naga Bunga Teratai Permata, dikelilingi oleh dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam dua puluh Buddhaksetra, yang semuanya sama murni. Ada disana, Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Dharmadhatuvibhuvisvaprabha."

"Lautan air wangi ini yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra yang berjumlah besar dan tidak terbayangkan, adalah yang sebanding dengan jumlah lokadhatu, semuanya bertumpu pada bunga teratai yang terhiasi dengan bendera vajra yang dalam bentuk dari semua Bodhisattva, masing-masing dengan perbatasan yang tidak putus-putusnya dari perhiasan, masing-masing memancarkan cahaya yang berwarna permata, masing-masing diselimuti oleh awan cahaya, masing-masing dengan hiasannya yang istimewa, perbedaan masa waktunya yang istimewa, kemunculan Buddha-nya yang istimewa, pemberitaan lautan Dharma-nya yang istimewa, para makhluk tertentu yang memenuhi tempat masuknya yang istimewa di sepuluh penjuru, dukungan kekuatan batin dari semua Buddha yang istimewa. Semua dunia dari masing-masing lokadhatu ini dibangun diatas hiasan yang beranekaragam, saling tersambung, membentuk jaring dunia, susunan dengan perbedaan yang beranekaragam, di seluruh lautan dunia dari susunan tumpukan bunga teratai."

Kemudian Samantabhadra Maha Bodhisattva, dalam rangka menyimpulkannya, menerima kekuatan sang Buddha, mengucapkan syair-gatha ini :

Lautan dunia dari susunan tumpukan bunga,
Adalah yang sama dengan alam semesta.
Hiasannya sangatlah murni,
Berdiam dengan tenang di ruang angkasa.

Di dalam lautan dunia ini,
Ada banyak lokadhatu yang tidak terbayangkan;
Masing-masing berdiri sendiri,
Itu tidak seluruhnya bercampur-aduk.

Di dalam Lautan dunia dari susunan tumpukan bunga,
Lokadhatu tersusun dengan baik,
Dengan bentuk dan hiasan yang berbeda-beda,
Tampilannya beranekaragam.

Suara dari pertunjukkan Buddha,
Adalah zat dari berbagai macam lokadhatu;
Terlihat sesuai dengan kekuatan karma,
Lokadhatu itu terhiasi dengan indah.

Jaring kota gunung Sumeru,
Berbentuk lingkaran pusaran air,
Bunga Teratai besar yang mekar,
Melingkarinya satu sama lain.

Bentuk istana dan bendera gunung,
Bentuk Vajra yang berputar:
Seperti inilah yang tidak terbayangkan,
Lokadhatu yang sangat luas.

Sinar mutiara dari lautan,
Jaring cahaya yang tidak terbayangkan:
Lokadhatu yang seperti ini,
Semuanya bertumpu pada bunga teratai.

Jaring cahaya dari setiap lokadhatu,
Tidak bisa sepenuhnya di jelaskan:
Di dalam cahaya itu muncul semua ksetra
Yang ada di seluruh lautan di sepuluh penjuru.

Kedalam hiasan yang memperindah
Semua lokadhatu
Memasuki semua ksetra,
Membuat semua terlihat dimana-mana.

Lokadhatu tidak terbayangkan,
Dunia tidak terbatas;
Hiasan indahnya yang beranekaragam,
Berasal dari kekuatan Maha Muni.

Di dalam setiap lokadhatu,
Ada dunia yang banyaknya tidak terbayangkan;
Ada yang sedang terbentuk, ada yang sedang rusak,
Ada yang telah hancur lebur.

Seperti daun di hutan,
Ada yang sedang tumbuh, ada yang jatuh,
Begitu juga di dalam lokadhatu ini
Dunia terbentuk dan meluruh.

Sama seperti di dalam hutan
Buah-buah yang beranekaragam berbeda,
Begitu juga di dalam lokadhatu ini
Para makhluk yang beranekaragam hidup.

Sama seperti jika benih berbeda
Begitu juga buah yang dihasilkannya,
Karena perbedaan dalam kekuatan karma
Ksetra para makhluk hidup tidaklah sama.

Sama seperti permata cintaraja
Muncul dalam warna yang berbeda pada pikiran yang berbeda,
Ketika pikiran para makhluk menjadi murni,
Mereka bisa melihat ksetra yang murni.

Seperti Maha Nagaraja,
Menciptakan awan yang memenuhi langit,
Begitu juga kekuatan Pranidhana Buddha
Menghasilkan ksetra yang beranekaragam.

Sama seperti perbuatan ahli magis
Bisa membuat berbagai macam benda muncul,
Disebabkan oleh kekuatan karma makhluk,
Jumlah alam adalah yang tidak terbayangkan.

Sama seperti lukisan
Yang digambar oleh pelukis,
Begitu juga semua dunia
Tercipta oleh pikiran penggambar.

Perbedaan tubuh para makhluk
Timbul dari pembedaan pemikiran;
Begitu juga ksetra berbeda
Semuanya tergantung pada karma.

Sama seperti sang Nayaka terlihat
Dalam beranekaragam bentuk yang berbeda,
Begitu juga para makhluk melihat ksetra
Sesuai dengan pola pikiran mereka.

Perbatasan dari semua dunia
Terhiasi dengan jaring bunga teratai;
Ciri-cirinya yang beranekaragam dan berbeda,
Hiasannya seluruhnya murni.

Di dalam jaring bunga teratai itu
Bertumpu jaring-jaring ksetra
Dengan hiasan yang beranekaragam,
Dihuni oleh berbagai macam makhluk.

Beberapa ksetra
Ada yang berbahaya dan tidak rata;
Disebabkan oleh 'kekotoran batin (kelsa)' para makhluk
Mereka melihatnya dalam cara ini.

Beranekaragam Dunia yang tidak terhitung,
Yang kotor dan juga yang murni,
Terjadi sesuai dengan pikiran para makhluk,
Dipertahankan oleh kekuatan para Bodhisattva.

Dalam beberapa ksetra
Ada yang murni dan juga kotor;
Ini timbul dari kekuatan karma
Di dalam pengaruh dari para Bodhisattva.

Beberapa ksetra terbuat dari permata yang murni
Yang memancarkan cahaya,
Dengan beranekaragam hiasan yang indah
Yang dimurnikan oleh para Buddha.

Di masing-masing lokadhatu,
Ada api kalpa yang tidak terbayangkan;
Walaupun itu muncul membawa bencana,
Tempat itu senantiasa aman.

Melalui kekuatan dari karma para makhluk
Ada banyak ksetra yang dihasilkan,
Yang didukung oleh angin antariksa,
Atau bertumpu diatas bola air.

Gejala kejadian dari dunia
Menjadi terlihat berbagai macam;
Namun itu tidak memiliki asal-mula
Dan juga tanpa peluruhan.

Dalam setiap saat dari pikiran
Kestra yang tidak terhitung dihasilkan;
Melalui kekuatan batin Buddha
Semuanya terlihat murni.

Beberapa ksetra terbuat dari tanah kotor
Zatnya sangat keras;
Gelap, tanpa cahaya yang bersinar,
Itu dihuni oleh para penjahat.

Beberapa ksetra terbuat dari vajra,
Kacau dan mengerikan,
Dengan banyak penderitaan dan sedikit kebahagiaan,
Kediaman ini untuk mereka yang sedikit kebajikan.

Beberapa terbuat dari besi,
Beberapa dari tembaga merah
Dengan pengunungan batu, curam dan menakutkan,
Dipenuhi oleh binatang.

Diantara ksetra ada neraka
Dimana para makhluk tidak bisa diselamatkan dari sakit:
Selalu di dalam kegelapan,
Dibakar oleh lautan api.

Beberapa lagi ada binatang
Dengan berbagai macam bentuk buruk;
Disebabkan oleh karma buruk mereka sendiri
Mereka selalu memikul penderitaan.

Beberapa melihat dunia yang rendah,
Tertekan oleh kelaparan dan kehausan;
Memanjat gunung api yang besar,
Mereka menderita kesakitan yang sangat.

Ada juga beberapa ksetra
Yang tersusun dari unsur permata,
Dengan berbagai macam gedung;
Itu di wujudkan melalui karma yang murni.

Anda harus mengamati dunia-dunia ini,
Para manusia dan dewa yang ada disana:
Terjadi melalui hasil dari karma yang murni,
Mereka merasakan kebahagiaan setiap waktu.

Di dalam setiap pori-pori
Ada banyak ksetra yang tidak terbayangkan,
Yang terhiasi dengan berbagai cara,
Dengan tanpa rintangan apapun.

Melalui karma dari setiap makhluk
Dunia-dunia ini jenisnya tidak terbatas:
Disana melahirkan kemelekatan
Serta penderitaan dan kebahagiaan yang berbeda-beda.

Beberapa ksetra terbuat dari permata
Selalu memancarkan cahaya yang tanpa batas;
Bunga-bunga Teratai Vajra
Menghiasinya, sepenuhnya murni.

Beberapa ksetra terbuat dari cahaya
Juga bertumpu di atas bola cahaya:
Berwarna emas, dengan wewangian candana,
Awan api yang menyinari semua.

Beberapa ksetra terbuat dari lingkaran bulan,
Dibungkus dengan jubah yang wangi,
Di dalam bunga teratai,
Dipenuhi para Bodhisattva.

Beberapa ksetra terbuat dari banyak permata,
Warnanya tanpa kotoran,
Seperti jaring kerajaan dari Indra,
Selalu memancarkan sinar.

Beberapa ksetra terbuat dari wewangian,
Beberapa dari bunga-bunga vajra;
Bentuknya yang dari cahaya permata mani
Adalah yang paling murni dilihat.

Ada juga banyak ksetra yang tidak terbayangkan
Terbuat dari rangkaian lingkaran bunga,
Dipenuhi dengan wujud para Buddha
Dan cahaya dari para Bodhisattva.

Ada beberapa ksetra yang murni
Semuanya dari pohon-pohon bunga,
Cabangnya yang indah menyebar di Caitya,
Dinaungi oleh awan-awan permata mani.

Beberapa ksetra terbuat dari
Bunga-bunga vajra dengan cahaya yang murni;
Beberapa adalah suara dari Buddhadharma,
Membentuk susunan jaring yang tanpa batas.

Beberapa ksetra sama seperti mahkota permata
Yang dari para Bodhisattva;
Beberapa berbentuk seperti takhta
Yang muncul dari cahaya ajaib.

Beberapa adalah bubuk candana
Beberapa seperti pancaran cahaya,
Beberapa suara dalam lingkaran cahaya Buddha
Terbentuk menjadi ksetra yang menakjubkan.

Beberapa melihat ksetra yang murni
Terhiasi dengan cahaya tunggal;
Beberapa melihat banyak perhiasan,
Semuanya Agung dengan berbagai jenis.

Beberapa memiliki hiasan
Benda-benda menakjubkan dari sepuluh penjuru;
Beberapa terhiasi dengan segala sesuatu
Di dalam ribuan ksetra.

Kadang-kadang satu ksetra dihiasi
Dengan benda-benda dari miliaran ksetra,
Ciri-cirinya yang beranekaragam tidak sama,
Semuanya muncul seperti gambar yang dipantulkan.

Benda-benda dari banyak ksetra yang tidak terbayangkan
Menghiasi satu ksetra,
Masing-masing memancarkan cahaya,
Yang dihasilkan oleh Pranidhana Buddha.

Ada beberapa ksetra
Dimurnikan oleh kekuatan pranidhana;
Dalam setiap hiasannya
Terlihat semua lautan dunia.

Ksetra murni yang dicapai oleh Mereka
Yang mempraktekkan Pranidhana dari Samantabhadra
Mewujudkan di dalam diri Mereka sendiri hiasan
Dari ksetra masa lampau, sekarang, dan masa depan.

Anda harus mengamati, Putra Buddha,
Kekuatan batin di dalam lokadhatu:
Dunia dari masa depan, semuanya
Itu akan tampak kepadamu, seperti dalam mimpi.

Dunia dari sepuluh penjuru,
Lautan ksetra dari masa lampau,
Semuanya di dalam satu ksetra
Memperlihatkan wujudnya seperti khayalan.

Semua Buddha dari masa lampau, sekarang, masa depan,
Dan juga ksetra Mereka,
Bisa semuanya diamati
Di dalam satu lokadhatu.

Kekuatan batin dari semua Buddha
Memperlihatkan banyak ksetra dalam satu butiran debu:
Yang berbagai jenis, semuanya terlihat jelas,
Seperti pantulan, itu tanpa kenyataan sejati.

Ada banyak ksetra
Yang bentuknya seperti lautan;
Dan ksetra yang seperti gunung Sumeru
Jumlahnya tidak terbayangkan.

Beberapa ksetra tersusun dengan baik,
Berbentuk seperti jaring Indra;
Beberapa berbentuk seperti hutan,
Dengan para Buddha memenuhinya.

Beberapa berbentuk seperti lingkaran permata,
Beberapa seperti bunga teratai,
Atau bersegi delapan, dengan semua hiasan;
Itu beranekaragam, dan semuanya murni.

Beberapa berbentuk seperti tempat duduk,
Beberapa lagi bersegi tiga;
Beberapa seperti permata yang murni,
Dinding istana, atau tubuh dewa.

Beberapa seperti jambul dewa,
Beberapa seperti bulan sabit;
Beberapa seperti gunung permata mani,
Beberapa seperti bola matahari.

Bentuk dari beberapa dunia
Seperti pusaran di lautan air wangi;
Beberapa bola dunia cahaya,
Yang dimurnikan oleh para Buddha di masa lampau.

Beberapa berbentuk seperti lingkaran roda,
Beberapa berbentuk mandala;
Beberapa seperti rambut melingkar sang Buddha,
Jambul-Nya, atau mata besar-Nya yang luas.

Beberapa seperti Buddhaksetra,
Beberapa seperti vajra,
Beberapa seperti gunung api;
Para Bodhisattva memenuhi itu semua.

Beberapa berbentuk seperti singa,
Beberapa seperti kerang laut;
Dengan warna dan bentuk yang tanpa batas,
Zatnya masing-masing berbeda.

Di dalam satu lokadhatu
Ada bentuk ksetra yang tanpa batas;
Semuanya bergantung pada kekuatan Pranidhana Buddha
Untuk perlindungan dan ketetapan.

Beberapa ksetra berakhir satu kalpa,
Beberapa ada selama sepuluh kalpa,
Atau selama kalpa yang lebih banyak dari butiran debu
Di dalam ratusan ribu ksetra.

Dalam satu kalpa
Ksetra terlihat hancur;
Tidak terukur, tidak terhitung,
Juga tidak terbayangkan banyaknya.

Beberapa ksetra memiliki Buddha,
Dan beberapa ksetra tidak ada;
Beberapa hanya ada satu Buddha,
Dan beberapa ada para Buddha yang tidak terhitung.

Jika ksetra tidak ada Buddha,
Maka Buddha dari dunia yang lain
Akan secara ajaib muncul disana
Untuk mewujudkan pekerjaan para Buddha.

Mangkat dan turun dari surga,
Tinggal di dalam rahim dan dilahirkan,
Mengalahkan Mara dan menjadi Buddha,
Memutar Anuttara-Dharma-Cakra.

Sesuai dengan kecenderungan pikiran mahluk
Sang Buddha mewujudkan beranekaragam bentuk,
Mengajarkan kepada mereka Saddharma
Sesuai dengan indera mereka masing-masing.

Di dalam setiap Buddhaksetra
Sang Buddha muncul di dunia,
Melewati miliaran kalpa
Menjelaskan Dharma yang tiada tanding.

Jika para makhluk bukan bejana Dharma,
Mereka tidak bisa melihat para Buddha;
Jika ada yang memiliki niat,
Mereka melihat Buddha dimana-mana.

Dalam setiap Buddhaksetra
Ada Buddha muncul di dunia;
Para Buddha di semua ksetra
Jumlah-Nya tidak terbayangkan.

Disini, masing-masing Buddha
Memperlihatkan perubahan wujud ajaib,
Meliputi seluruh alam semesta,
Menjinakkan lautan makhluk.

Beberapa ksetra tidak memiliki cahaya;
Gelap dan penuh ketakutan,
Dengan kesakitan dari pisau dan pedang:
Yang melihatnya menderita oleh mereka sendiri.

Beberapa memiliki cahaya surga;
Beberapa cahaya istana;
Beberapa punya cahaya matahari dan bulan:
Tidak terbayangkan jaring-jaring ksetra.

Beberapa ksetra bersinar sendiri,
Dalam beberapa, pohonnya memancarkan sinar murni;
Tidak pernah ada penderitaan disana,
Di sebabkan oleh kekuatan kebajikan para makhluk.

Beberapa memiliki cahaya gunung,
Beberapa memiliki cahaya permata mani,
Beberapa menyala dengan lampu:
Semuanya karena kekuatan karma para makhluk.

Beberapa memiliki lingkaran cahaya Buddha,
Dipenuhi dengan para Bodhisattva;
Beberapa dengan cahaya bunga teratai
Dengan warna menyala yang menakjubkan.

Beberapa ksetra menyala dengan cahaya bunga,
Beberapa dengan kilauan dari air wangi,
Atau dengan wewangian dan dupa yang dibakar;
Semuanya datang dari kekuatan Pranidhana yang murni.

Beberapa menyala dengan cahaya awan,
Beberapa dengan cahaya kerang permata;
Cahaya dari kekuatan guhya Buddha
Bisa melagukan suara yang menyenangkan.

Beberapa menyala dengan cahaya permata,
Beberapa dengan api vajra.
Suaranya yang murni bisa menggoncang alam-alam yang jauh;
Dimanapun itu mencapai, tidak ada kesakitan.

Beberapa memiliki cahaya permata Mani
Atau cahaya dari perhiasan
Atau dari Bodhimanda
Bersinar dalam keramaian.

Sang Buddha memancarkan cahaya besar
Dipenuhi dengan perwujudan para Buddha;
Cahaya itu menyentuh semua dengan sinarnya,
Meliputi seluruh dharmadhatu.

Beberapa ksetra mengerikan,
Dengan raungan rasa sakit yang besar,
Suara itu paling getir dan keras,
Menakuti semua yang mendengarnya.

Alam dari neraka dan binatang buas
Dan juga alam akhirat:
Ini tercemar, dunia penjahat,
Yang selalu mendatangkan tangis kesakitan dan kesedihan.

Ada beberapa ksetra
Yang selalu menghasilkan suara yang menyenangkan,
Yang menggembirakan, sesuai dengan Dharma;
Ini dicapai melalui karma yang murni.

Di dalam beberapa ksetra selalu terdengar
Suara surga dari berbagai macam dewa,
Suara yang murni dari alam angkasa,
Atau suara dari para pemimpin dunia.

Ada beberapa ksetra
Yang menghasilkan suara yang menakjubkan dari awan;
Itu dipenuhi dengan lautan permata,
Pohon permata mani, dan musik.

Di dalam lingkaran cahaya para Buddha
Ada suara ajaib yang tanpa akhir
Dan yang dari para Bodhisattva
Terdengar di semua ksetra.

Suara yang menjelaskan Dharma
Di dalam banyak ksetra yang tidak terbayangkan,
Suara yang dihasilkan dari lautan Pranidhana,
Cerita menakjubkan tentang tindakan yang berguna.

Para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan masa depan,
Terlahir di dalam berbagai macam dunia,
Menunaikan semua julukan Mereka,
Suara Mereka tanpa akhir.

Di dalam beberapa ksetra terdengar
Suara dari kekuatan semua Buddha;
Bhumi, Paramita, dan sedemikian,
Dharma seluruhnya dijelaskan.

Kekuatan Pranidhana dari Samantabhadra
Melagukan perkataan menakjubkan di dalam miliaran dunia,
Suara itu seperti petir yang menggoncang,
Menetap selama kalpa yang tanpa akhir.

Para Buddha di dalam ksetra yang murni
Mewujudkan ucapan yang bebas
Terdengar oleh satu dan semua
Diseluruh dharmadhatu, dimana-mana.

Pages: 1 [2] 3 4 ... 10