

BAB 11
Undangan Kepada Sang Buddha
"Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu, menempatkan lutut kanannya ke tanah, menggabungkan tangan-Nya bersama-sama beranjali kearah sang Bhagavān, dan berkata kepada sang Bhagavāta: "Akankah Anda, Bhagavān, dengan belas kasihan (anukampam upadaya), menerima undangan Saya untuk makan malam besok bersama-sama dengan kumpulan Bhiksu?"
Dengan belas kasihan, sang Bhagavān menunjukkan persetujuan-Nya kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan tetap diam (tusnimbhavena).
Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah mengetahui bahwa dengan tetap diam sang Bhagavān telah memberikan persetujuan, bersujud ke kaki sang Bhagavān, berpradaksina kepada-Nya tiga kali, dan menarik diri dari hadapan sang Bhagavān; Dia pergi ke tempat Bhiksuni Mahaprajapati, dan setelah tiba, bersujud ke kaki sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami, lalu duduk di satu sisi. Dan setelah duduk di satu sisi, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami: "Akankah Anda, Arya, dengan belas kasihan, menerima undangan Saya untuk makan malam besok bersama-sama dengan kumpulan Bhiksuni (bhiksuni-sangha)?'
Dengan belas kasihan, sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami menunjukkan persetujuan-Nya kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan tetap diam.
Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah mengetahui bahwa dengan tetap diam sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami telah memberikan persetujuan, bersujud ke kaki sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami, berpradaksina kepadanya tiga kali, dan pergi. Dan setelah pergi, Dia menuju ke tempat sang pemuda Licchavi, Ratnakara, dan setelah tiba, berkata kepada Ratnakara Licchavikumara: "Kerabat (jnati), karena banyak upasaka dari sini di Rajagrha atau yang dari daerah lain yang telah berkumpul di Rajagrha, di hutan bambu, di taman kalandaka, bersama-sama dengan para pengiring mereka, tolong undanglah mereka semua dalam nama Saya (mama vacanena) untuk makan malam besok siang."
Kemudian Ratnakara Licchavikumara berkata kepada semua Upasaka yang telah berkumpul di dalam perkumpulan itu: "Sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala telah mengundang Anda untuk makan malam besok, bersama dengan pengiring Anda."
Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, Ratnakara Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi, Guhagupta Bodhisattva Mahasattva sang anak pedagang, Naradatta Bodhisattva Mahasattva sang pelajar muda, Susima Bodhisattva Mahasattva sang kulaputra, Mahasusarthavaha Bodhisattva Mahasattva sang kepala rumah tangga, Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva Bodhisattva Mahasattva, dan kepala rumah tangga lainnya juga, setelah masing-masing bangkit dari tempat duduknya sendiri, bersujud ke kaki sang Bhagavān, berpradaksina kepada-Nya tiga kali, dan juga bersujud ke kaki perkumpulan Bhiksu; meninggalkan hutan bambu, Mereka menuju ke kota besar Rajagrha, ke rumah Bhadrapala, dan setelah tiba di sana, Mereka menyiapkan pada malam itu juga banyak minuman yang menyenangkan, makanan, sayuran lezat, dan makanan lezat; Mereka menyiapkan dan membuat makanan seratus rasa (sata-rasa-bhojanam) untuk semua, dan bahkan untuk pengemis. Mengapa demikian? Para Bodhisattva Mahasattva didirikan pada kemurahan hati (udarasaya) dan tiada penghinaan, dan telah mencapai keseimbangan batin terhadap semua makhluk.
Kemudian Sakra Deva Indra, Brahma Sahampati, Devaputra Susima, dan Catur Maha Raja, melakukan kemagisan pemunculan (abhinirmaya) banyak orang, membuat diri mereka sendiri dalam penjelmaan untuk membantu dan mematangkan Bodhi dari para perumah tangga itu.
Kemudian sang Bodhisattva Bhadrapala, sang pemuda Licchavi Ratnakara, dan para perumah tangga lainnya, masing-masing dengan kerabatnya sendiri, membersihkan dengan baik apa yang harus dibersihkan di seluruh Rajagrha Mahanagari, menggantung pita sutra (daman), mewangikannya dengan pembakaran dupa, dan menabur bunga yang mekar (mukta-puspa).
Kemudian, setelah Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan para kerabatnya telah dengan baik menghiasi kota besar Rajagrha dan menyiapkan makanan dari seratus rasa, ketika malam itu telah berlalu, Dia berjalan, disertai dan diikuti oleh para kerabatnya, menuju ke tempat sang Bhagavān, dan setelah tiba, bersujud ke kaki sang Bhagavān, berpradaksina kepada-Nya tiga kali, Dia memberitahu kepada-Nya bahwa telah tengah hari, mengatakan: "Bhagavān, waktu untuk makan telah tiba. Bhagavān, sudah saatnya makan, makanan telah disiapkan, dan Saya ingin Anda tahu bahwa waktu untuk itu sekarang telah datang."
Kemudian di awal waktu (purvahna-kala), sang Bhagavān mengenakan jubah-Nya (civara) dan pakaian bagian dalam-Nya (nivasana), mengambil mangkuk, dan disertai dan diikuti oleh kumpulan Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan Upasaka dan Upasika, Dia berjalan menuju ke rumah sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala.
Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berpikir: '"Ini akan baik jika sang Bhagavān melakukan perbuatan pembentukan dari kekuatan ajaib (rddhyabhisamskaram abhisamskr-) bahwa dengan melakukan perbuatan ajaib itu, rumah Saya akan menjadi luas, besar, dan sama seperti permata beryl berwarna biru (Vaidurya), sehingga semua orang di kota bisa melihat dan bahwa kumpulan majelis yang sangat banyak ini juga bisa duduk sesuka hati (yathestam)."
Kemudian sang Bhagavān, mengetahui pikiran dari sang Bodhisattva Mahasattva ini, melakukan perbuatan ajaib seperti itu, dengan perbuatan ajaib-Nya, rumah sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala menjadi luas, besar, dan sama seperti permata beryl berwarna biru, sehingga bahwa semua orang di kota bisa melihat dan semua kumpulan majelis bisa duduk sesuka hati.
Kemudian sang Bhagavān memasuki rumah sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala. Dan setelah masuk, Dia duduk sendiri di kursi yang disiapkan, bersama-sama dengan kumpulan dari para Bhiksu dan Bhiksuni dan kumpulan dari para upasaka dan upasika.
Kemudian sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, sang Licchavikumara Ratnakara, sang grhapati Mahasusarthavaha, sang sresthiputra Guhagupta, sang manavaka Naladatta, sang grhapati Indradatta, dan sang grhapati Varunadeva, memahami bahwa sang Bhagavān telah duduk sendiri, dan memahami bahwa kumpulan Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan upasaka dan upasika juga telah duduk sendiri, dengan tangan sendiri Mereka makan dan terpuaskan dengan banyak minuman yang menyenangkan, makanan, sayuran yang lezat, dan makanan dari seratus rasa, dan kumpulan Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan upasaka dan upasika, dimulai dengan sang Buddha.
Ketika Mereka telah dengan tangan Mereka sendiri makan dan terpuaskan dengan banyak makanan yang menyenangkan, minuman, sayuran yang lezat, dan makanan dari seratus rasa, Mereka melihat bahwa sang Bhagavān telah selesai makan, mencuci tangan dan menepikan mangkuk; Dengan kesesuaian (yathayogam), Mereka duduk di depan sang Bhagavān, di hadapan sang Bhagavān.
Kemudian dengan wacana Dharma (dharma-katha), sang Bhagavān menyenangi, menjiwai, menyemangati, dan menggembirakan sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, sang Licchavikumara Ratnakara, sang grhapati Mahasusarthavaha, sang sresthiputra Guhagupta, sang manavaka Naladatta, sang grhapati Indradatta, dan sang grhapati Varunadeva, dan empat kelompok majelis. Dan setelah Dia menyenangi, menjiwai, menyemangati, dan menggembirakan Mereka dengan wacana Dharma, Dia bangkit, dan diikuti kumpulan para Bhiksu mulai berjalan kembali.
Kemudian, setelah selesai makan (bhaktakrtyam krtva), Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, bersama-sama dengan teman-temannya, kerabatnya, dan sanak saudaranya, dan disertai dan diikuti oleh seratus ribu makhluk, berjalan ke tempat sang Bhagavān, dan setelah tiba, bersujud di kaki sang Bhagavān dan berpradaksina kepada-Nya tiga kali, duduk di satu sisi.
Ratnakara Bodhisattva Mahasattva, Mahasusarthavaha Bodhisattva Mahasattva, Guhagupta Bodhisattva Mahasattva, Naladatta Bodhisattva Mahasattva, Susima Bodhisattva Mahasattva, Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva Bodhisattva Mahasattva, setelah bersujud di kaki sang Bhagavān bersama-sama, dan setelah berpradaksina kepada-Nya tiga kali, duduk di satu sisi.
Kemudian Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, memahami bahwa semua perkumpulan telah duduk, berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, berapa banyak 'kualitas (dharma)' yang harus Bodhisattva Mahasattva miliki untuk mendapatkan Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi, untuk mendengarnya, untuk mengambilnya melalui kebajikan dari pikiran yang tidak terganggu (aviksipta-citta), untuk tidak melupakannya, dan, setelah menerimanya, menguasainya?"
Setelah ini dikatakan, sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Jika, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva memiliki lima dharma, Dia memperoleh Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, mendengarnya, mengambilnya melalui kebajikan dari pikiran yang tidak terganggu, tidak melupakannya, dan setelah menerimanya, menguasainya."
"Apa lima itu? Bhadrapala, jika di sini Bodhisattva Mahasattva memiliki penerimaan kesabaran pada dharma yang mendalam (gambhira-dharmaksanti), jika Dia memiliki kesabaran menerima gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan (anutpattika-dharma-ksanti), yang tidak bisa hancur (aksaya), yang tiada kerusakan (ksayapagata), yang tidak bisa binasa, yang sepenuhnya tidak bisa binasa, yang tanpa noda (anavila), yang melampaui noda (avila-samatikranta), yang tidak kotor (vimala), yang tanpa kotoran (vigata-mala), yang tanpa debu (araja), yang murni (viraja), yang melampaui debu , yang bebas dari semua debu -- jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma pertama ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini. "
'Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva merendahkan segala pembentukan yang berkondisi (samskara), dan, kecuali sebagai dasar untuk Kebangkitan, tidak menginginkan setiap kesempatan untuk kelahiran kembali (jati-sthana); jika Dia ingin melihat para Bhagavān Buddha dan tidak bergantung pada setiap hal yang para tirthika tergantung (tirthyayatana) atau pada setiap Mantra dari tirthika; jika Dia tidak menginginkan kenikmatan nafsu keinginan (kama-bhoga); jika Dia bersuka cita dalam kehidupan suci dan telah menghentikan hubungan seksual (maithuna-dharma), menjadi tidak melekat pada nafsu keinginan bahkan di dalam pikirannya; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kedua ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini.
"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva telah mengembangkan pikiran ketidakterbatasan (apramana-citta), dan, setelah dengan baik mengkonsentrasikan (susamgrah-) pikirannya, memiliki pikiran yang bebas dari niat jahat (vyapada); jika Dia memiliki pikiran dari kesamaan (sama-citta) untuk semua makhluk dan menarik semua makhluk dengan empat cara penarikan (catur-samgraha-vastu) - apa empat itu? Adalah memberi (dana), ucapan yang ramah (priya-vacana), perbuatan yang menguntungkan (artha-carya), dan kesamaan derajat (samanarthata); jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma ketiga ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki cinta kasih yang besar (mahamaitri), mengembangkan kasih sayang yang besar (mahakaruna), kegembiraan simpatik yang besar (mahamudita), dan keseimbangan batin yang besar (mahopeksa); jika Dia tidak memaksa (codayati) Bhiksu atau Bhiksuni yang telah melakukan kesalahan (apanna apattim), tetapi menerima mereka dengan sabar melalui sifat alami yang menerima (adhivasana-svabhava); jika Dia dengan penuh hormat terhadap penasehatnya (upadhyaya) dan gurunya (acarya) dan menganggapnya mereka sebagai Guru; jika Dia bukan penuntut (vadin) 'Aku' dan 'Milikku', bukan penuntut 'Keberadaan', bukan penuntut 'Hidup (jiva)', bukan penuntut 'Perwujudan diri (pudgala)', bukan penuntut 'Kekayaan (posa)', bukan penuntut 'Makhluk (purusa)', bukan penuntut 'Perempuan (manuja)', bukan penuntut 'Laki-laki (manava), dan menasehati orang lain tentang dharma ini; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma keempat ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva mempraktekkan (pratipadyate) kualitas yang sesuai dengan Dharma (dharmanudharma); jika Dia murni dalam kegiatan tubuh, murni dalam kegiatan ucapan, murni dalam kegiatan pikiran, murni dalam penglihatan (drsti), murni dalam penghidupan (ajiva), dan sangat terpelajar (bahusruta); jika, sama dengan para Bhagavān Buddha, Dia terampil dalam pidato penyatuan (samdha-bhasya); jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kelima ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
"Jika Dia, Bhadrapala, memiliki lima dharma ini, sang Bodhisattva Mahasattva itu memperoleh Samadhi ini."
"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki lima dharma lainnya, Dia memperoleh Samadhi ini. Apakah lima itu? Jika, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva memberikan pemberian sama seperti Penguasa pemberi (danapati), adalah tidak kikir dan tidak pelit dalam pikirannya, dengan kebebasan yang berlimpah, dengan tangan terisi (pratata-pani), bersukacita dalam memberikan pemberian, memberikan segala kekayaannya tanpa mengharapkan balasan apapun (vipakapratikanksin), penyayang yang bermurah hati (anukampin) terhadap para makhluk, bebas dari penyesalan (avipratisarin), dan tidak menyesal setelah memberikan pemberian; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma pertama ini, maka Bodhisattva Mahasattva berhasil dengan yang terkecil pasti mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini."
"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memberikan pemberian sama seperti danapati, yaitu, jika Dia memberikan Dharma tertinggi, jika Dia telah mendirikan dirinya sendiri dalam memberikan pemberian tertinggi dari Dharma yang diucapkan oleh Tathagata, ajaran bijaksana (naya) dari kebenaran tertinggi yang mendalam (gambiraparamartha) dengan kata dan hurufnya yang diucapkan dengan baik (sunirukta-padaksara), dengan kata dan huruf yang tidak terhalang (apratihata-padaksara), dan asal mula kata (nirukti) yang jelas; jika Dia sempurna dalam kesabaran (ksanti-sampanna) dan sempurna dalam kelembutan (sauratya-sampanna); jika, meskipun diusir (utpatita) dan dicaci maki oleh orang lain, Dia tidak marah, atau mencerca mereka, juga tidak menyakiti mereka, atau menjadi bingung, atau putus asa, atau menjadi murka, namun tetap penuh pengendalian diri (visarada); jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kedua ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini.
"Selanjutnya, Bhadrapala, saat mendengar Samadhi ini, Bodhisattva Mahasattva harus, dalam rangka untuk mengabadikan dan menyebarkan Saddharma, menerimanya, menguasainya, mempertahankannya, dan membacanya, Dia harus menjelaskannya secara penuh kepada orang lain, menyalinnya dalam bentuk buku dan melestarikannya, dan tidak kikir dengan Dharma; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma ketiga ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva terbebas dari iri hati, terbebas dari kegelisahan, terbebas dari kemalasan dan kelesuan (styana-middha), terbebas dari penghalang (nivarana), dan tidak memuji dirinya sendiri atau merendahkan orang lain; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma keempat ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki keyakinan, penuh keyakinan; jika Dia penuh hormat terhadap orang tua, orang-orang dari usia menengah, dan orang-orang muda; jika Dia berterimakasih dan menghargai, dan menghargai bahkan tindakan terkecil, apa lagi yang lebih besar; jika Dia terdirikan dalam ucapan yang jujur, dan mengatakan tanpa ada kesalahan; jika, Bhadrapala, Dia memiliki lima dharma ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:
"Dia yang membangkitkan kesabaran dari Dharma yang mendalam,
Menjauhi (vijugupsate) semua perpindahan keberadaan (gati),
Dan tidak menginginkan salah satu dari enam perpindahan keberadaan,
Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.
Dia yang tidak mematuhi setiap guru penentang (parapravadin),
Dan tidak mendengarkan mantra mereka, jauh lebih tidak lagi (kutas) untuk menerimanya;
Dan menolak lima jenis nafsu (panca-kama-guna: nafsu keinginan, percintaan, kesenangan, kecantikan, penggodaan),
Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.
Dia yang murni dalam sila, berdiam di dalam kehidupan suci,
Tidak pernah berpikir tentang wanita,
Telah menolak nafsu keinginan, dan menjadi anak dari sang Sugata,
Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.
Memberikan pemberian tanpa mengharapkan imbalan,
Setelah memberi tanpa kemelekatan, Dia tidak gelisah;
Dalam memberikan pemberian, Dia tidak memiliki keinginan sedikit pun,
Terlepas dari mengalami pengetahuan Buddha.
Dalam memberikan pemberian dengan belas kasih kepada makhluk,
Dia tidak menderita atau menyesal;
Dia selalu terdirikan pada pemberian, pengendalian diri, dan pengekangan nafsu (dana-dama-samvara),
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
Dia yang memberi sama seperti Danapati tanpa kekikiran
Memberikan pemberian yang sangat baik (pranita) dan menyenangkan;
Saat memberi, Dia juga bergembira (attamanas),
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
Mereka yang adalah Penguasa pemberi Dharma (dharma-danapati),
Yang menjelaskan Sutra ini yang sangat baik,
Yang mendalam dan damai, yang diucapkan oleh sang Sugata,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
Diberkahi dengan Sadparamita, dan merangkul semua makhluk,
Memiliki empat pikiran kesamaan dari maitri, karuna, mudita, dan upeksa,
Dengan upayakaulsalya menyelamatkan para makhluk,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
Dia yang telah mendirikan dirinya sendiri selalu di dalam Dharma,
Yang, terbebas dari rasa iri, terdirikan dalam kesabaran dan kelembutan,
Dan tidak marah jika orang lain marah,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
Mereka yang membaca Samadhi ini
Dan, demi meneruskan Dharma ini,
Mengajarkannya kepada orang lain dan, setelah menyalinnya, melestarikannya,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
Tidak pernah kikir dengan Dharma,
Tidak menjelaskannya untuk setiap keuntungan atau kehormatan,
Kecuali untuk menjadi anak dari sang Sugata,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
Terbebas dari iri hati, penghalang (nivarana) dilenyapkan;
Terbebas dari ngantuk, terbebas dari kesusahan (samtapa);
Tidak memuji dirinya sendiri atau meremehkan orang lain,
Dia dengan mudah memperoleh tanggapan penglihatan ketiadaan diri (anatma-samjna).
Setia, jujur, dan tidak tergoyahkan,
Dia percaya kepada Buddha, Dharma, dan Sangha;
Dia berterimakasih dan menghargai,
Baginya tidak ada kesulitan sedikitpun dalam memperoleh itu.
Dia selalu berbicara kata-kata kebenaran,
Apakah yang kecil atau yang sedikit, yang banyak atau yang baik,
Kelakuan baiknya tidak pernah bisa rusak,
Untuk Pencinta Dharma ini, tidaklah sulit untuk memperoleh itu.
Dengan pikiran tenang yang terkonsentrasi, gagasan tidak muncul,
Maka Dia dapat memahami kebijaksanaan dari Samadhi ini.
Dengan menyingkirkan ketidakjujuran, pikirannya murni,
Oleh karena itu, Dia cepat mencapai anutpattikadharmaksānti.
Murni di dalam sila, berterimakasih.
Dia yang mempertahankan Dharma ini
Tidak akan menemui kesulitan dalam memperoleh Kebangkitan,
Paling sedikit, Samadhi yang damai ini.
"Saya ingat (abhijanati), Bhadrapala, di masa lalu, Saya memperoleh Samadhi ini dari Dipamkara Tathagata saat seketika melihat-Nya. Segera setelah Saya memperoleh Samadhi ini, pada saat itu juga, para Bhagavān Buddha yang tidak terhitung dan tidak terbatas jumlahnya muncul pada penglihatan Saya (darsana-patha). Saya mendengar Saddharma yang Mereka jelaskan dan mempertahankannya semua sama seperti yang Saya dengar. Para Bhagavān Buddha itu juga memberikan ramalan kepada Saya: "Manavaka, di masa depan, Anda akan menjadi Tathagata Arhan Samyaksambuddha bernama Sakyamuni, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan, Penguasa Tertinggi.'"
"Oleh karena itu, Bhadrapala, Anda harus berlatih di dalam Dharma ini, yang suci, yang ditolak oleh orang-orang bodoh, dan yang tanpa semua tanda (nimitta). Sehingga tidak akan sulit bagi Anda yang terdirikan pada Samadhi ini untuk mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi."
Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:
Setelah melihat sang Buddha Dipamkara,
Saya mengembangkan Samadhi juga;
Dan setelah melihat banyak Buddha,
Saya memperoleh Dharma tertinggi juga.
Sama seperti orang yang berbuat kebajikan (punyakrt),
Memenuhi tekad yang baik,
Anda juga harus belajar di dalam Dharma,
Dan Anda akan mendapatkan Kebangkitan Tertinggi.
Yang tanpa ujung, tidak terbatas,
Tidak terbayangkan adalah para koti Buddha,
Yang dimasa lalu saya puja,
Mencari Kebangkitan yang damai.
Memperoleh Kebangkitan itu,
Saya memutar Roda Dharma;
Banyak para koti makhluk,
Yang Saya dirikan pada Kebangkitan.
Para Deva, Naga, Yaksa,
Gandharva dan Kinnara,
Menyembah Saya dengan puja,
Mengatakan: "Ah! Sang Buddha sungguh tidak terbayangkan."
Para orang bijaksana,
Yang ingin mengolah Buddhadharma,
Harus mengajar dengan semangat
Demi menjadi yang sangat terpelajar (bahusrutya).
Tiga puluh koti adalah banyaknya para Buddha,
Yang Saya, sang Sakyasimha, sang Narottama,
Di masa lalu menyembah,
Saat sedang mencari Kebangkitan yang damai.
Jika para Buddha yang tidak terbayangkan itu,
Tidak membuat ramalan untuk Saya,
Maka Saya tidak akan menjadi terdirikan,
Di dalam pengetahuan yang tanpa kemelekatan.
Secara ringkas (samksiptena) hal ini diumumkan,
Para Bhagavān Buddha, Lokanatha,
Yang nayuta koti banyaknya Mereka,
Yang di masa lalu Saya sembah.
Bahkan saat para Tathagata, mengetahui tekad Saya,
Telah membuat ramalan itu,
Saya masih belum terdirikan,
Di dalam pengetahuan Buddha yang tidak terbayangkan.
Oleh karena itu, orang harus membuat
Usaha yang baik untuk kebenaran tertinggi,
Dan juga harus berlatih di dalam pengetahuan tertinggi,
Dari para Buddha yang tidak terbayangkan.
Setelah berlatih di dalam Sutra ini,
Dalam wilayah (gocara) dari Lokanatha,
Orang akan memahami yang tertinggi,
Pengetahuan tertinggi yang tidak terbayangkan.
Berpikir: "Ah! Sungguh tidak terbayangkan,
Pengetahuan tertinggi, pengetahuan dari Buddha."
Pikiran Bhadrapala sangat bergembira,
Dan Dia telah menjadi yang penuh hormat.
Berpikir: "Di masa depan, Kami juga,
Akan menjadi pembawa Dharma itu di jaman terakhir."
Lima ratus itu juga begitu,
Sangat bergembira di dalam pikiran Mereka dan penuh hormat."
Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, bagaimana Bodhisattva mengembangkan Samadhi ini?"
Sang Bhagavān berkata: "Jika, Bhadrapala, ada kulaputra atau kuladuhitrā yang ingin mengembangkan Samadhi ini, Dia harus tidak melekat pada bentuk (rupa); Dia harus tidak melekat pada suara (śabda); Dia harus tidak melekat pada bau (gandhaih); Dia harus tidak melekat pada rasa; Dia harus tidak melekat pada sentuhan (sparśa); Dia harus tidak melekat pada semua gejala kejadian (sarva-dharma); Dia harus tidak melekat pada kelahiran (jati); Dia harus tinggal berdiam di dalam kekosongan (shunya); Dia harus tinggal berdiam di dalam ketiadaan tanda; Dia harus tinggal berdiam di dalam ketiadaan nafsu keinginan; Dia harus tinggal berdiam di dalam cinta kebaikan yang besar (mahamaitri). Lalu apa, Bhadrapala, Samadhi itu? Itu adalah memperoleh kualitas ini (etesu dharmesu pratipatti), dan bukan yang salah (vipratipatti)."
"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva yang tinggal berdiam harus mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan tubuh (dhyatmakaye kayanudarsi viharati, na ca kayasahagatan vitarkan vitarkayati), Dia harus mengamati perasaan di dalam perasaan, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan perasaan. Dia harus mengamati pikiran di dalam pikiran, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan pikiran. Dia harus mengamati gejala kejadian (dharma) di dalam dharma, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan dharma. Dengan begitu, Bodhisattva memperoleh Samadhi ini. Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu: Jika Bodhisattva Mahasattva tinggal berdiam mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan tubuh; Dan jika mengamati perasaan di dalam perasaan, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan perasaan; Dan jika mengamati pikiran di dalam pikiran, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan pikiran; Dan jika mengamati dharma di dalam dharma, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan dharma, maka Dia tidak memperoleh (upalabhate) semua gejala kejadian (sarva-dharma). Dia yang tidak memperoleh semua dharma adalah yang tidak menebak atau tidak berpikir (na tarkayati na vitarkayati). Bhadrapala, Dia yang tidak menebak atau tidak berpikir adalah yang tidak melihat dharma apapun. Bhadrapala, ketika orang tidak melihat dharma apapun, itu disebut pengetahuan yang tidak terhalang (anavarana-jnana). Pengetahuan yang tidak terhalang, Bhadrapala, adalah yang disebut Samadhi."
"Bhadrapala, Bodhisattva yang memiliki Samadhi ini melihat para Buddha yang tidak terukur dan yang tidak terhitung, dan Dia juga mendengar Saddharma. Saat mendengarnya, Dia menguasainya, juga memperoleh pengetahuan dan penglihatan yang terbebaskan (vimukti-jnana-darsana) dan pengetahuan yang tidak terhalang (apratihata-jnana) dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha itu."
"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva tinggal berdiam mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, dengan demikian tinggal berdiam Dia tidak melihat dharma apapun. Dengan tidak melihatnya, Dia tidak menebak atau berpikiran yang berubah-rubah, meskipun Dia tidak buta atau tuli. Dengan cara yang sama mengamati perasaan, pikiran, dan dharma, Dia tinggal berdiam mengamati dharma, dengan demikian tinggal berdiam Dia tidak melihat dharma apapun. Dengan tidak melihatnya, Dia tidak bergantung; Dengan tidak bergantung, Dia mengembangkan Jalan (marga); Dengan kebajikan dari telah mengembangkan Jalan, Dia tidak memiliki keraguan berkaitan dengan dharma; Dan dengan menjadi tanpa keraguan, Dia melihat para Buddha. Dan ketika Dia telah melihat para Buddha, 'pembebasan (vimoksa)' dihasilkan berdasarkan kenyataan bahwa 'yang tidak dihasilkan adalah semua dharma (sarvadharmanutpada)."
"Mengapa demikian, Bhadrapala? Jika bodhisattva harus menyetujui tanggapan penglihatan dharma (dharma-samjna), itu sendiri akan menjadi baginya pandangan yang salah dari penangkapan landasan (upalambha-drsti). Itu sendiri akan menjadi pandangan keberadaan, pandangan diri, pandangan makhluk, pandangan kehidupan, dan pandangan perwujudan diri (pudgala). Itu sendiri akan menjadi pandangan 'kumpulan (skandha)', pandangan unsur, pandangan bidang indera, pandangan tanda-tanda (nimitta), pandangan keberadaan (bhava), pandangan penyebab (hetu), pandangan kondisi ketergantungan (pratyaya), dan mengenggam pada penangkapan landasan."
"Mengapa demikian, Bhadrapala? Para Bodhisattva melihat semua dharma sebagai yang kosong oleh sifat alaminya (svabhavena sunya), semua dharma sebagai yang tiada tanda (animitta), yang tidak diperoleh (agrhita), yang tidak digenggam (agrahya), dan Mereka tidak menangkap semua dharma, tidak berpikir sia-sia tentangnya (na manyante), dan tidak melihatnya. Bagaimana, Bhadrapala, bahwa Mereka tidak menangkapnya, atau berpikir sia-sia tentangnya, atau melihatnya? Sama seperti, misalnya, kaum sesat (paratirthika) atau murid dari kaum sesat yang terdirikan pada tanggapan penglihatan diri, yang terdirikan pada tanggapan penglihatan makhluk, tanggapan penglihatan kehidupan, tanggapan penglihatan pudgala, dan yang terdirikan dalam tanggapan penglihatan semua dharma, menangkap, berpikir sia-sia tentangnya, dan melihat 'gejala kejadian (dharma)'; Dalam hal itu, Bhadrapala, Bodhisattva tidak melihatnya."
"Lalu bagaimana, Bhadrapala, cara Bodhisattva melihat? Sama seperti, Bhadrapala, misalnya, para Tathagata, Bodhisattva yang avaivartika, Pratyekabuddha, dan Arhat Sravaka melihat semua dharma, dengan cara itu, Bhadrapala, harus Bodhisattva menganggap semua dharma. Dengan melihatnya, Dia harus tidak bersenang-senang di dalamnya. Bodhisattva yang, dengan terbebas dari kesenangan, tidak mengambil kesenangan, yang tanpa kesenangan dan dengan telah menghilangkan kesenangan, mengembangkan Samadhi ini."
"Sama seperti, misalnya, Bhadrapala, ruang angkasa (akasa) adalah yang tidak berbentuk (arupin), yang tidak terlihat (anidarsana), yang tidak menghuni (aniketa), yang murni sempurna (suvisuddha), dan yang tanpa noda (nihklesa), demikian juga Bodhisattva menganggap semua dharma, dan yang berkenaan dengan dharma yang terbentuk oleh kondisi dan yang tidak berkondisi (samskrtasamskrta-dharma), penglihatannya menjadi tanpa hambatan."
"Bodhisattva dengan penglihatan yang tanpa hambatan melihat dharma yang segera menjadi jelas terwujud (amukhi-bhu-), dan jika Dia merenungkan dengan saksama padanya, Dia melihat Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang seperti Pilar emas terhiasi; yang seperti Matahari (rasmi-raja) terbit; seperti Bulan purnama yang dikelilingi oleh bintang-bintang; seperti Raja pemutar roda (cakravarti-raja) yang dikelilingi oleh rombongan orang yang kuat; seperti Sakra sang Raja Deva yang dikelilingi oleh para dewa dari surga Tiga puluh tiga; seperti Brahma yang duduk di atas takhta Brahma di alam-Brahma; seperti Api menyala pada puncak gunung; seperti Raja penyembuh (vaidya-raja) yang sedang membagikan obat; seperti Singa bersurai, sang raja binatang buas yang tanpa rasa takut menakuti semua serigala; seperti Pemimpin angsa yang dalam penerbangan melalui langit; seperti Salju menumpuk di gunung yang tinggi di bawah bulan musim dingin, terlihat jelas di keempat sisinya; seperti Gunung Vajra sang batas langit dan bumi, yang menangkal ketidakmurnian; seperti Sumeru, sang raja gunung yang naik dari laut; seperti Himalaya, sang raja gunung yang penuh dengan bunga dan tanaman obat (osadhi); seperti Pegunungan Cakravada yang didukung oleh tiupan angin (maruta-suta); seperti massa air (vari-rasi) yang didukung oleh massa udara; seperti massa tanah yang didukung oleh massa air."
Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:
Puncak yang indah dari gunung Sumeru,
Yang tidak bernoda, bersih, dan murni,
Sama seperti ruang angkasa,
Terhiasi dengan baik oleh para Deva.
"Dengan cara itu, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva, setelah mengambil sebagai objek perenungannya (arambanikrtya) para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang cemerlang (vasanta), yang bercahaya (tapanti), yang menyinari (virocanti) dengan kemuliaan dan kemegahan di seluruh trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu, melihat Mereka dan mendengar Dharma yang Mereka jelaskan. Setelah mendengarnya, Dia menerima, menguasai, dan menyimpannya. Dan saat bangun dari Samadhi ini, sang Bodhisattva mengajarkan dan menjelaskan kepada orang lain secara penuh Dharma yang Dia telah dengar, yang Dia telah terima, dan yang Dia telah kuasai itu."
Dengan demikian, Bhadrapala, Samadhi ini memberikan manfaat besar bagi para Bodhisattva. Artinya, itu menghasilkan banyak kualitas dari dharma baik yang duniawi maupun yang melampaui duniawi (loka-lokottara-dharma). Oleh karena itu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā yang menginginkan Kebangkitan harus menerima, menguasai, menyimpan, membaca, dan menyalin Samadhi ini; Harus menjelaskan, mengajar, dan mengumumkan itu secara penuh kepada orang lain; Dan harus mengerahkan dirinya dalam usaha untuk mengembangkannya.
Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:
Bersih, tanpa noda, dan murni adalah para Buddha,
Tidak melekat dan disembah oleh banyak makhluk;
Para Dermawan itu harus dihormati oleh ratusan alat musik,
Dengan pemukulan genderang, dan dengan suara gong dan alat musik surgawi.
Setelah menaburi Mereka dengan bunga yang mekar (mukti-puspa),
Banyak orang menyembah Stupa relik (dhatu-stupa);
Dalam mencari Samadhi ini, mengundang Mereka datang (prajnapayanti),
Dengan karangan bunga surgawi, wewangin, dan payung.
Dia yang, setelah mendirikan diri di dalam kebenaran umum (samvrti-satya),
Meneliti Dharma yang luas (vaipulya-dharma), yang unggul dan sulit dilihat,
Dia merenungkan Jina, yang pengetahuannya tidak melekat,
Dan tidak pernah jatuh dari kekosongan.
Dengan pikiran yang murni, Dia menvisualisasikan para Jina
Yang seperti bulan bersih, matahari terbit,
Atau Brahma yang bertahta di alam Brahma;
Dan Dia tidak pernah menolak kekosongan.
Seperti Raja Deva dari surga Tiga puluh tiga
Melampaui surga Tiga puluh tiga dengan penampilannya,
Demikian juga Jina melampaui dunia,
Yang cemerlang, bercahaya, dan bersinar dengan kemuliaan.
Seperti Api yang menyebar melalui hutan terbesar,
Seperti Lampu yang menyala, seperti Api yang naik,
Seperti naiknya ratusan matahari (sata-rasmi),
Jadi lihatlah para Jina sebagai yang agung dalam tanda-tanda.
Seperti para ahli kesembuhan, para penyembuh penyakit,
Mengobati penyakit dari orang yang sakit,
Demikian juga para Jina, sang Narasimha, sang Vaidyottama,
Mengumumkan ajaran dari Sugata dengan sesuai.
Mengumumkan auman singa dalam perkumpulan majelis,
Para Banteng, para Buddha tanpa takut di dunia;
Mereka menundukkan semua guru penentang,
Seperti Singa yang tinggal di hutan menaklukkan serigala.
Seperti raja angsa yang unggul
Berwarna putih, murni dan indah dalam penerbangannya melalui udara,
Demikian juga para anak tertua dari Sugata merenungkan,
Para Sugata yang berwarna emas.
Seperti raja gunung, Himalaya, atau seperti raja ksatriya,
Yang cemerlang dan bercahaya,
Dan seperti pilar yang dihiasi dengan berbagai macam permata,
Demikian juga melihat para Jina yang terhiasi dengan tanda-tanda.
Seperti vajra, yang tidak bisa dipindahkan dan tidak bisa dihancurkan,
Seperti Cakravada, yang didukung oleh tiupan angin,
Demikian juga para Sugata menggunakan kalpa,
Dermawan, baik hati, dan mulia di dalam Dharma.
Seperti tanah bumi yang bertumpu pada air,
Seperti air yang bertumpu pada udara,
Seperti udara yang bertumpu pada ruang angkasa kosong,
Demikian juga para Jina terdirikan di dalam semua kualitas.
Seperti di dalam surga tiga puluh tiga, raja gunung sumeru,
Membayangi segala sesuatu, bersinar dan berseri-seri,
Demikian juga para Sugata, seperti gunung Sumeru,
Indah, duduk di tengah-tengah kumpulan permata.
Jika orang merenungkan para Jina, yang pikirannya tidak melekat,
Samadhi itu, yang terbebas dari ketidakjelasan dan kegelapan,
Yang bersih, dan murni, menjadi mata;
Tanpa tanggapan penglihatan dari semua keberadaan (sarvabhava-samjna).
Jika orang merenungkan para Jina, yang pikirannya murni,
Orang terbebas dari noda atau kotoran, dan melenyapkan kemarahan;
Terbebas dari kebodohan, pengetahuannya menjadi murni;
Padanya, pengetahuan yang sempurna akan timbul.
Jika orang merenungkan para Jina, yang silanya murni,
Pengetahuannya akan hening tenang (vitimira) dan murni;
Padanya, tidak ada lagi pandangan yang salah dari Aku dan Milikku;
Juga tanggapan penglihatan dari keberadaan tidak akan pernah muncul.
Dia terbebas dari pandangan salah tentang perputaran keberadaan (bhava-samtati);
Terbebas dari keraguan, murni dalam pengetahuan,
Tidak pernah memiliki tanggapan penglihatan bentuk (rupa-samjna),
Dan mendengarkan Dharma kesejukan (sitibhava) dan jalan kedamaian.
Tanah bumi, air, api dan udara
Tanpa diri, semuanya kosong;
Ketika Dia telah mendengar ajaran terbaik dari para Jina,
Tanggapan penglihatan keberadaan tidak terjadi padanya.
Melenyapkan semua gagasan tentang landasan objek tujuan (vastu),
Dan mengetahui bahwa semua perpindahan keberadaan (gati) adalah kosong,
Seperti burung yang tidak melekat di langit,
Pikirannya tidak pernah melekat.
Dia yang telah memuja para Jina yang terbaik,
Dengan terdirikan pada kekuatan ajaib (rddhi-bala) dan pikiran yang tajam,
Menerangi dunia di mana-mana di sepuluh penjuru,
Dan memiliki semua kualitas yang beragam.
Meskipun Dia menyerahkan tangan, kaki, juga kepala dan mata,
Seluruh kerajaannya, kudanya, dan sapinya,
Dan semua hal yang berharga di dunia,
Dia tidak membuang kelompok moralitas (sila-skandha).
Dengan belas kasihan, demi seluruh dunia,
Dia mengungkapkan permata yang paling penting dari Dharma (dharma-pradhana-ratna);
Meskipun Dia meninggalkan semua hal yang berkondisi, tanpa sisa,
Dia tidak membuang pikiran kebangkitan (bodhicitta).
Para Bhiksu dan Anak-anak dari Jina yang telah memulai dengan baik,
Demikian juga para Bhiksuni, Upasaka,
Dan Upasika yang memiliki keyakinan dan bebas dari kemelekatan,
Jika Mereka telah melakukan perenungan itu, Mereka mendapatkan keadaan ini.
Siapapun yang menjelaskan Samadhi yang damai ini,
Untuk anak dari Sugata, yang terampil dalam Samadhi,
Kualitas yang banyak itu akan bertambah,
Keadaan unggul yang sangat banyak akan bertambah. "